Januari.
“Index”.
Saat itu tanggal 15 Januari.
Kamijou Touma duduk di tengah ruangan.
Dengan sikap yang serius.
“Kita tidak bisa kalah dari situasi yang keras ini. Kita lapar. Apa pun yang kita pikirkan, fakta tidak akan pernah berubah. Jadi, sudahi melawannya secara mental, kita harus melawannya secara fisik!!”
“Aku tidak bisa… Touma, aku tidak bisa bertarung seperti ini…”
“Jangan bertingkah seperti gadis lemah dan menghilang begitu saja!! Jangan nyerah duluan. Dengar, Index, kita masih punya ketel listrik! Itu artinya kita bisa buat saus pasta yang hanya perlu dipanaskan dengan air panas. Kita memang tidak bisa merebus kari kemasan yang harus dimasak lama karena air panas akan cepat dingin setelah kita mengangkatnya dari ketel. Tapi selama kita bisa memanaskan saus pasta, masih ada harapan dan kemungkinan bagi kita!!”
“Manusia. …Memasak pasta dengan cara begitu itu tidak mungkin!! Itu terlalu sulit bagi kita yang tidak berdaya dan menyedihkan ini. Kompromi saja dengan beberapa biskuit keras yang langsung bisa dimakan ini.”
“Aku kebetulan tahu beberapa informasi penting tentang bertahan hidup di sini, Othinus. Rendam pasta kering dalam air bersuhu ruang selama setengah hari dan kita akan mendapatkan spageti lezat tanpa perlu dipanaskan. Jadi kita sama sekali tidak melakukan kesalahan! Dan aku sudah merendamnya semalaman, jadi lihatlah ini, tada!!”
Sebuah piring raksasa terbentang di hadapan mereka.
Isinya penuh dengan mie.
Saus Genovese, saus mentaiko, dan beberapa variasi saus pasta lainnya dipisahkan ke piring-piring kecil, sehingga tampak seperti versi Barat dari somen atau tsukemen. Mengapa Kamijou Touma, yang ahli dalam makanan irit, mencoba sesuatu yang tampak spesial pada hari ini? Jawabannya karena saus pasta dijual dalam kemasan kecil seperti saus salad!!
Sudah waktunya makan.
Manusia akan mati jika tidak makan. Kita semua akan mati suatu hari nanti.
Jadi mereka harus bersyukur atas makanan yang ada di hadapan mereka dan menikmatinya.
Ketiganya mempersiapkan diri.
Saatnya uji rasa!!
“Ubwoehhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhgwehhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhoghhhhehhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhbjbjbeehhhhhhhhhhhhhhhhhbbhhehhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh?!!”
Ah, mari kita sembunyikan siapa diantara mereka bertiga yang berteriak dengan enek, demi kehormatan mereka☆
Ada satu hal yang bisa mereka pastikan.
“Manusia. Ini bukan spageti. Ini makhluk mengerikan tanpa nama yang dulunya adalah gandum. Ini penghinaan bagi para petani yang menanamnya!!”
“Bhh, bhhhh…”
“Bahkan Index… tidak mau suapan kedua? Tunggu! Tunggu!! Tahukah kau berapa banyak 215g pasta kering mengembang setelah direndam setengah hari? Aku sudah buat cukup untukku, Index, dan Othinus kecil, jadi kita semua harus bekerja sama untuk menghabiskannya! Aku sudah berusaha sebaik mungkin membuat sesuatu yang enak, jadi membiarkanku menghabiskan semuanya adalah suatu bentuk kekerasan. Dan kekerasan itu tindakan yang salah!!”
“Touma… Memaksa seseorang dengan ingatan sempurna untuk memakan gumpalan gluten yang bagian tengahnya keras dan permukaannya licin… adalah bentuk kekerasan yang tak termaafkan dan tak terlupakan…”
“Berhentilah menggunakan kemampuan khususmu sebagai tameng!! Oke, baiklah, aku akui! Bagi orang normal pun ini hal yang berat!”
Hanya kucing belacu yang tampak senang dengan makanan kucingnya yang biasa.
Ia mengeong dan tidak menunjukkan keinginan untuk berdiri membantu pemiliknya di saat dibutuhkan.
…Lalu, mengapa Kamijou dan yang lainnya sampai terlibat dalam pertempuran hidup dan mati saat pagi hari di tanggal 15 Januari?
Ada jawaban sederhana untuk itu.
Ruangan ini tidak memiliki dapur.
Langit di luar jendela cerah. Sebuah pesawat penumpang melintas di langit. Mereka bisa melihat dengan jelas ke luar jendela. Hal itu tidak akan pernah terjadi di asrama putra, di mana kita bisa melompat ke gedung sebelah jika mau.
Mengapa ini bisa terjadi?
Karena mereka tidak berada di asrama putra yang biasa.
Ya.
Asrama putra sekolah tersebut sebagian hancur (sebagian besar akibat serangan Stiyl dan amukan Dewa Sihir Niang-Niang dan Nephthys), sehingga orang-orang tidak memiliki tempat tinggal.
Jadi, lebih dari seratus anak lelaki tunawisma telah dikirim ke sini untuk sementara.
“Oh, ayolah. Kenapa jadi sial begini?! Kehidupan di asrama putri seharusnya seperti mimpi yang menjadi kenyataan, bukan malah begini!”
Di situlah dia berada.
Di asrama putri sekolahnya.
Sebenarnya, dia sudah pindah ke asrama putri beberapa hari sebelumnya.
Itu wajar saja karena perpindahan itu terjadi ketika semester ketiga dimulai.
“Ohhh! Siapa yang menyangka para lelaki yang kehilangan rumahnya akan tinggal di asrama putri? Lalu hanya aku yang tidak kebagian berkah ini karena aku sudah nyewa tempat di toko roti?!”
Aogami Pierce membuat keributan di kelas, tapi itu bukan urusan Kamijou.
Ya, Kamijou Touma berada di ruang kelasnya di sekolah.
Semester ketiga benar-benar telah dimulai.
(Aku sempat khawatir tentang bagaimana nasibku setelah dokumen bukti kalau aku masih hidup milikku hilang.)
“Baiklah, murid-murid bodoh yang masih belum duduk setelah bel berbunyi, dengarkan Ibu. Sudah waktunya kelas pagi.”
Guru mereka yang setinggi 135 cm itu sedang murung pagi ini. Ini situasi yang sangat tidak biasa. Senyum itu seakan ada burung yang buang kotoran di mobilnya di tempat parkir atau semacamnya. Sebaiknya jangan menentang Komoe-sensei saat dia tersenyum muram atau saat dia sedang mabuk. Kalian tahu kan, sebaiknya jangan macam-macam dengan guru yang terkenal punya perubahan suasana hati yang ekstrim? Seperti dia.
“Pertengahan Januari adalah saat Academy City mengadakan ujian masuk umum, yang berarti ini adalah musim ujian masuk untuk sekolah-sekolah di seluruh kota, mulai dari SD hingga universitas. Dan jangan berpikir itu tidak memengaruhi kalian hanya karena kalian baru kelas satu. Kalian perlu mendukung kakak kelas kalian yang sedang ujian dengan semangat saling membantu.”
“Sensei, bagaimana cara kita membantu mereka?” tanya Aogami Pierce. “Memotret buku referensi dan mengirimkannya ke siswi yang lebih tua yang kita sukai? Di tengah ujian berlangsung?”
“Itu bakal dikira mecontek, jadi Anti-Skill pasti akan memarahimu sampai kau tidak akan bisa pulang untuk sementara waktu, jadi ibu tidak merekomendasikannya. Menurut ibu Berbaju Olahraga, mereka bahkan tidak boleh berkeliaran di dekat halaman sekolah sambil bawa-bawa ponsel.”
Komoe-sensei tersenyum.
Bagaimana bisa? Di kota ini kan sekolah hampir ada di mana-mana?
“Lebih spesifiknya, sekolah kita akan menjadi salah satu lokasi ujian, jadi banyak ruang kelas yang tidak akan bisa kita akses. Keterbatasan ruang kemungkinan akan mengacaukan jadwal kelas, jadi kita harus menyesuaikan diri dengan situasi! Pastikan untuk terus memeriksa aplikasi sekolah untuk mendapatkan informasi terbaru.”
Berkat hal ini, kehidupan sekolah Kamijou yang kembali pun menjadi sangat sibuk.
“Laboratorium kimia sedang digunakan untuk ujian, jadi jam pelajaran berikutnya kita akan melakukan simulasi reaksi kimia di lab komputer. Jangan pernah kepikiran untuk mencoba mengintip siswi SMP yang masih muda dan sedang gugup-gugupnya menghadapi ujian mereka ya, para murid lelaki bodoh!!”
“Kita harus bawa meja-meja ini ke mana?”
“Para peserta ujian mendapat prioritas di kantin dan toko sekolah. Kereta juga beroperasi di luar jadwal biasanya untuk para peserta ujian, jadi jangan protes dan terima saja. Kalian akan menjadi kakak kelas mereka, jadi bersabarlah dengan perut kosong untuk sementara waktu!!”
Agak kasihan rasanya melihat siswa kelas tiga SMP yang sedang menghadapi hidup dan mati dalam ujian masuk, tapi suasana di sekolah terasa sangat mirip dengan saat festival budaya. …Meskipun sesekali anggota Anti-Skill atau Judgment berlarian di lorong menunjukkan bahwa ada permainan kucing-dan-tikus yang cukup serius terkait upaya kecurangan yang terjadi di balik layar.
Kamijou menghela napas pelan.
(Nyontek modern menggunakan perangkat elektronik dan peserta ujian pengganti menggunakan paspor palsu, ya? Aku bisa mengerti jika masuk ke salah satu sekolah elit, tapi kenapa sampai repot-repot curang untuk masuk ke sekolah biasa seperti ini sih?)
Kamijou telah kehilangan kenangan pahit ujiannya bersama dengan ingatan-ingatannya yang lain, jadi kesulitan-kesulitan ini adalah hal yang asing baginya. ...Ketakutan akan kehilangan ingatannya masih seperti bekas luka yang tak terhapuskan di benaknya, tapi mungkin ada beberapa hal yang lebih baik dia lupakan?
“Demikian pelajaran untuk hari ini.”
Selama sesi kelas terakhir, Komoe-sensei tersenyum lebar.
Kali ini, bukan malam yang gelap.
…Itu pasti senyum seseorang yang baru saja mengalami hari yang berat tapi kemudian pergi minum-minum setelahnya. Kotoran burung akan merusak lapisan anti air mobil jika tidak dibersihkan, tapi pastinya dia tidak akan membiarkannya begitu saja, kan? Keputusasaan yang terpancar dari tubuhnya yang setinggi 135 cm membuat Kamijou sulit untuk menanyakan detailnya.
“Ingatlah bahwa klub dan komite memiliki jadwal yang dikurangi selama periode ujian. Untuk detailnya, periksa jadwal di masing-masing grup media sosial. Dan ibu akan memberi PR untuk mengganti jadwal kelas yang dipotong, jadi harap diingat. Ini demi kebaikan kalian sendiri, jadi nikmati studi kalian!! Sampai jumpa☆”
Kini Kamijou merasa sedih.
Dia merasa seperti dilempar keluar rumah dalam keadaan dirantai.
Dengan turbin angin tiga bilah yang berputar dan robot keamanan berbentuk drum yang bergerak perlahan, perjalanan pulang terasa damai.
Kamijou merasa tertarik pada toko-toko serba 100 yen dan toko obat di sepanjang jalan. Asrama putri tidak memiliki dapur, jadi makanan apa pun yang hanya membutuhkan air panas untuk dimasak sangat menarik baginya saat ini. Matanya berbinar setiap kali melihat mie instan atau sup miso… tapi tunggu dulu.
(Aku memang bisa membeli sepaket besar, tapi aku punya Index di kamar.)
Dia bisa dengan mudah membayangkan fenomena mistis di mana semuanya lenyap dalam semalam.
Selain itu, semua tutup mie instan cup memiliki sebuah kata-kata. Rupanya semua orang bisa membantu peserta ujian dengan menulis kata-kata dukungan di situ. Stok minuman energi dan minuman kesehatan tampak luar biasa banyak. Alih-alih dijual dalam bentuk satuan seperti di minimarket, minuman tersebut dijual dalam kotak kardus besar. Rupanya itu juga merupakan upaya untuk membantu peserta ujian. Tapi apakah benar-benar aman bagi siswa SD dan SMP untuk meminum banyak minuman seperti itu?
Sebuah suara keras terdengar dari lorong sebelah.
“Cepat, Uiharu. Ambil ini, ini, dan ini juga. Kita perlu membawa beberapa perbekalan untuk Senpai dan kita bisa menunjukkan kepedulian kita lewat seberapa banyak yang kita bawa!”
“Eh? Sekotak-kotaknya?! A-apa kita benar-benar butuh minuman energi sebanyak ini, Shirai-san?”
“Dasar kau ini. Ujian masuk itu ibarat perang. Lebih baik jaga-jaga dari sekarang daripada nanti kena masalah saat ujian. Bahkan Judgment pun harus menganggap ini serius. Oke, hari ini kita bisa beli minuman energi super mahal ini! Yang berwarna emas terang di botol cokelat kecil! Tunggu kami, Konori-senpai yang sedang kelelahan!!”
“Astaga! Aku mulai berpikir komite sekolah adalah jenis pekerjaan eksploitatif terburuk, yang tidak diatur oleh Undang-Undang Standar Ketenagakerjaan atau Undang-Undang Pelayanan Publik Nasional…”
…Rupanya beberapa anggota Judgment meminumnya, tapi Kamijou merasa itu bukan contoh yang baik. Meniru mereka akan membuat kita busuk sampai ke inti.
(Jadi kata-kata aneh yang bertebaran di minimarket tadi juga gara-gara hal ini? Apa barang ini dibentuk segi lima karena segi lima terdengar seperti kata untuk lulus ujian dalam bahasa Jepang? Apa mereka menjual pelampung ini karena pelampung terdengar seperti kata untuk diterima di sekolah?)
Rasanya aneh produk seperti itu dijual di kota sains. Tapi, mungkin juga seperti bagaimana semua orang merayakan Hari Valentine tanpa terlalu memikirkan legenda yang menjadi dasarnya.
Pada akhirnya, Kamijou pergi tanpa membeli apa pun.
Kegilaan ujian masuk juga berlangsung di luar. Karena makan ikan konon bisa membuat lebih pintar — karena DHA? — sebuah restoran memasang begitu banyak spanduk sehingga hampir tidak ada ruang untuk berjalan di trotoar. Jumlah selebaran yang dibagikan sangat banyak, sebagian besar adalah bimbel satu malam di gedung bertingkat tidak jelas kedibilitasnya. Apakah kelompok-kelompok kecil yang berkumpul dalam perjalanan ke karaoke mencoba menghilangkan stres, atau mereka berharap untuk belajar bahasa Inggris dengan musik Barat? Bahkan ponselnya terus memberinya pesan yang mengiklankan "kiat-kiat praktis" untuk ujian. Itu sama sekali tidak berguna bagi Kamijou karena dia bukan peserta ujian, tapi penargetan yang buruk sebenarnya sedikit melegakan karena itu berarti mereka mengumpulkan lebih sedikit data tentang dirinya dari pada yang dia bayangkan.
Kamijou berjalan melewati beberapa siswi SMP.
“Oh, ohhhh. Ohhhhhhh. R-Ratu… Mengapa dunia harus begitu kejam dan tak berperasaan?”
“Siapa coba yang kemakan omong kosong Sindrom Kotatsu dan malah tidak belajar selama persiapan ujian di bulan Januari? Kau harus kembali ke asrama dan mulai belajar!!”
Kamijou mendengar suara meongan tepat sebelum seekor kucing hitam berlari pergi. Misaka Imouto ditinggal dengan wajah tanpa ekspresi namun tampak linglung, berjongkok dengan beberapa katsuoboshi (mungkin produk edisi terbatas yang terkait dengan khasiat peningkat fungsi otak dari DHA) masih tergenggam di antara jari-jarinya.
Bagi kota yang dipenuhi sekolah-sekolah yang tak terhitung jumlahnya, ini bisa dianggap sebagai pertempuran terbesar tahun ini. …Tapi sebagai siswa kelas satu SMA, Kamijou Touma tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.
Kebiasaan membawanya ke jalan yang biasa dia lalui, jadi dia perlu berhenti untuk pergi ke sana.
Karena kembali ke asrama putra yang runtuh itu tidak akan menghasilkan apa-apa.
“Ups.”
Kamijou memastikan untuk memeriksa aplikasi peta di ponselnya untuk mengetahui rute terbaik sebelum berbelok ke jalan lain.
Sebenarnya lebih cepat jika naik kereta ke stasiun berikutnya, tapi seorang pelajar miskin seperti Kamijou pastinya lebih memilih jalan kaki. Setiap perjalanan berharga 150 yen dan dia harus pergi dan pulang, jadi berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk satu bulan penuh di hari kerja? Walau tidak terasa ketika menggunakan kartu IC kereta, tapi sebenarnya jumlahnya cukup signifikan.
Asrama putri ada di depan.
Kamijou mendongak menatap bangunan yang megah itu.
“Sulit dipercaya… Tempat ini dibangun untuk para perempuan, tapi sudah mulai terasa seperti rumah bagiku.”
Mungkin terdengar kurang sopan untuk mengatakan “Setidak enak apa pun rumahmu, lama-lama akan nyaman juga.” terhadap asrama putri, tapi sungguh menakutkan betapa sulitnya beradaptasi dengan lingkungan seperti itu.
Pintu kaca itu terkunci otomatis, tapi ketika Kamijou dengan gugup mengoperasikannya, pintu itu terbuka dengan sendirinya.
“Ohhh…”
Kamijou sudah beberapa kali keluar masuk pintu ini, tapi dia masih merasa takjub. Ini adalah asrama putri. Ini adalah tempat suci. Apakah dia benar-benar diizinkan untuk masuk ke sini? Dia masih belum bisa menghilangkan kecemasan kecil itu. Dan pintu masuknya terkunci otomatis! Pintu masuk bekas asrama putra di distrik yang sama selalu terbuka, jadi si pendeta perokok aneh bisa masuk begitu saja!!
Sekelompok kecil orang berkumpul di dekat lobi lift.
Sebagian besar adalah laki-laki.
…Kamijou sangat bersyukur ada begitu banyak anak lelaki lain di sini. Dia berpikir jantungnya akan berhenti berdetak jika dia harus hidup sebagai satu-satunya anak lelaki di dunia yang hanya dihuni oleh perempuan.
Dia tidak mengenali sebagian besar dari mereka.
Mereka dijejalkan ke kamar mana pun yang tersedia, jadi para anak lelaki dibagi menjadi beberapa kelompok dan kemudian ditempatkan di area yang tersebar di seluruh asrama putri. Para anak lelaki itu tampaknya adalah kelompok di lantai yang berbeda dari Kamijou.
Selain itu, gedung ini hanya menampung murid kelas satu.
Itu berarti dia tidak bisa bertemu beberapa teman perempuannya seperti Kumokawa-senpai di sini, yang mana itu membuatnya merasa sedikit sedih.
Berbicara soal lift, dia ingat lift itu memiliki cermin besar di dalamnya.
Rupanya, alat itu bukan untuk pengecekan terakhir pada penampilan seseorang sebelum keluar. Alat itu dimaksudkan untuk memastikan tidak ada orang yang tidak diinginkan di dalam lift. ...Seluruh gedung dilindungi oleh pintu masuk yang terkunci otomatis, jadi memang ada yang akan bersembunyi di dalam lift?
Meskipun begitu, tidak ada kamera keamanan di lorong atau lobi lift. Apakah itu karena alasan privasi? Segala sesuatu yang akan meninggalkan jejak tampaknya berpusat di sekitar pintu masuk yang terkunci otomatis. Bagi Kamijou, keseimbangan aneh di asrama putri itu terasa seperti sesuatu dari dimensi lain.
Karena ini asrama sekolah, hampir semua orang pulang pada waktu yang sama. Itu berarti lift penuh sesak. Tidak semua orang bisa masuk ketika lift tiba di lantai pertama. Kamijou ragu apakah dia akan menunggu di sini atau menggunakan tangga, tapi akhirnya dia memutuskan untuk menjauh dari antrean.
Dia mendengar beberapa suara yang bersemangat.
Ada area istirahat kecil dengan bangku dan mesin penjual otomatis di tengah lorong panjang, dan beberapa gadis dengan kombinasi seragam sekolah dan pakaian olahraga sedang tertawa di sana sambil memegang minuman dingin dalam botol plastik. Ketika mereka menyadari tatapan ragu Kamijou dari kejauhan, mereka menjerit dan berlari ke suatu tempat. ...Rupanya itu adalah pakaian terlarang yang tidak boleh dilihat oleh anak lelaki. Padahal Misaka Mikoto, yang berasal dari sekolah yang jauh lebih mewah, mengenakan celana pendek di balik roknya sepanjang tahun.
(Hal itu terkadang terjadi di sini. Seperti keluar malam dan berpapasan dengan seorang gadis yang baru mandi yang berjalan di lorong hanya mengenakan pakaian dalam dan memegang secangkir kopi susu.)
Mungkin itu hal yang normal di dunia khusus perempuan ini, tapi Kamijou benar-benar berharap mereka lebih mengingat bahwa kedatangan darurat para lelaki telah mengubahnya menjadi lingkungan dunia nyata. Rasanya sangat kejam ketika dia diperlakukan seperti orang jahat saat ini.
“Kejutan! Waktunya inspeksi!! Dilarang bawa hewan peliharaan, jadi ibu harap tidak ada yang memasukkan hewan ke kamar kalian!”
“Wah, sensei?!”
“Yomikawa-sensei, ibu hanya ingin mencari alasan untuk makan makanan murah di kantin ini, kan?!”
Kamijou mendengar keributan di kejauhan.
Rupanya guru berbaju olahraga dengan tubuh seksi itu melakukan patroli random di asrama putri.
Kerandoman itulah yang bisa menjadi masalah.
Hal itu sulit diprediksi. Tanpa rutinitas yang teratur, Kamijou jadi tidak bisa mempersiapkan diri.
Index dan Othinus (ditambah kucing belacu) tinggal di kamar Kamijou. Tanpa membayar sewa. Dan bagaimanapun juga, dia pasti akan mendapat masalah jika para guru mengetahui bahwa dia telah menyelundupkan seorang biarawati dan sesosok dewa masuk melalui pintu masuk yang terkunci otomatis dengan menyembunyikan mereka di dalam wadah lipat yang dia gunakan saat pindah. Dia harus mengingat hal ini.
Lagipula, inspeksi mendadak guru berbaju olahraga itu tampaknya bukan satu-satunya penyebab keributan. Beberapa atlet putri telah menggunakan tangga darurat untuk latihan setelah jam pelajaran. Dia juga mendengar beberapa alat musik tiup dimainkan dari lantai atas. Dia masih tidak tahu aturan lokal tentang jam berapa seseorang boleh melakukan aktivitas itu. Mungkin mereka berkumpul di atap untuk berlatih.
Rasanya seperti perpanjangan dari berada di sekolah setelah jam pelajaran usai.
Itulah cara terbaik untuk menggambarkan suasananya.
Tapi, suasana itu tampaknya berubah lagi setelah makan malam.
(Mungkin akan lebih cepat jika menggunakan tangga.)
“Hah, kau baru pulang? Kenapa lama sekali, kau kan tidak ikut kegiatan ekskul?”
Wajah yang familiar muncul di dunia yang aneh ini: teman sekelasnya, Fukiyose Seiri. Memangnya siapa dia? Ketua asrama?
“Jam tujuh. Jangan lupa,” kata Fukiyose seolah itu bukan masalah besar. “Harus sudah berada di ruang makan sebelum jam itu. Semua makanan populer sering habis terjual jika kau telat sepuluh menit saja. Mau ngeluh pun kalau habis, tidak ada yang bisa dimakan.”
Ruang makan.
Itulah salah satu aspek unik dari asrama putri.
Tapi, meskipun makan malam pukul 7 malam, mereka masih memiliki waktu luang hingga saat itu.
Jadi Kamijou masih punya banyak waktu.
(Masalahnya adalah Index dan Othinus tidak bisa menggunakan ruang makan.)
“Kamijou-kun.”
Dia menoleh dengan rasa ingin tahu dan mendapati teman sekelasnya, Himegami Aisa.
Dia pasti sudah kembali lebih dulu dari Kamijou karena dia sudah mengenakan pakaian santainya.
Rupanya dia masih memilih untuk mengenakan pakaian gadis kuil sebagai pakaian santainya.
“Kita diberi banyak sekali PR. Apa kau bisa mengerjakannya semua sendiri?”
“Ugh.”
“Terminologi pengembangan esper terus berubah karena perdebatan di kalangan akademisi, jadi kita tidak bisa hanya mengandalkan apa yang telah kita hafal di masa lalu.”
Kamijou tidak boleh menganggap ini sebagai "PR sekolah biasa."
Komoe-sensei menggunakan PR untuk mengganti jam pelajaran yang dipotong karena ujian masuk umum, jadi mungkin akan ada semacam hukuman jika tidak mengerjakan PR dengan baik.
Bagi siswa biasa, itu mungkin hanya akan berujung pada teguran ringan, tapi Kamijou berada dalam situasi yang sulit. Dia berjuang untuk menghindari tinggal kelas. Satu kesalahan saja selama semester ketiga bisa berarti tinggal kelas.
Kamijou Touma gemetar.
“Mengapa ancaman tinggal kelas terus menghantui, tak peduli berapa kali aku berhasil mengatasinya? Apakah aku terjebak dalam semacam konspirasi besar? Mungkinkah guru kecil itu berusaha menahan Kamijou-san di kelasnya selamanya karena kecintaannya yang menyimpang?”
“Mau mengerjakan PR bersama?”
“?! Ya, mau!!”
Maka tibalah saatnya sesi belajar kelompok bersama Himegami Aisa.
Kamijou telah bangkit dari kematian dan kembali bersekolah, tapi risiko mengulang tahun ajaran tetap ada. Dia harus memastikan dirinya tidak terbebani oleh tumpukan PR ini, yang akan menyebabkan lampu merah kembali menyala.
Jadi Kamijou bergegas ke kamarnya.
Dia pikir tidak ada gunanya berganti pakaian. Jadi dia mengeluarkan buku-buku pelajaran, buku referensi, dan buku catatan yang dibutuhkannya untuk mengerjakan PR, lalu melemparkan tas sekolahnya yang berat ke dalam ruangan.
“Touma, aku bosan. Apa kau tidak bisa salam dulu?”
“Bilang dulu 'selamat datang', dasar tukang numpang!! Dan maaf, tapi Kamijou-san harus mengerjakan segudang PR. Sekolah memang sudah libur, tapi bukan berarti aku punya waktu untuk bermain! Kalau aku tidak mengerjakan ini, aku benar-benar akan tinggal kelas!”
“Ehhh? Tapi aku lapar…”
“Kau harus berhenti mengaitkan kebosanan dengan makan. Pola pikir yang merusak itu sangat buruk bagi kesehatanmu, Index.”
Sedangkan Othinus tampak diam.
“…”
Kamijou bergegas keluar dari kamarnya dan berlari menuruni tangga darurat. Ketika tiba di lantai tempat Himegami berada, dia mendapati ada orang lain di sana.
Itu adalah Fukiyose Seiri.
Dia mengenakan seragam sekolah.
“Apa yang kau lakukan di sini, Kamijou?”
“Kenapa kau ada di sini, Fukiyose?”
Kamijou menatap Himegami yang menghela napas pelan dengan ekspresi kosong.
Rupanya Kamijou tertangkap basah dalam perjalanan ke kamar Himegami.
Fukiyose memelototi Kamijou.
“Apa, kau pikir kau bisa menerobos masuk ke kamar seorang gadis dan berduaan dengannya? Apa kau ini bodoh?”
…
Mengapa Fukiyose harus menanyakan hal itu? Pertanyaan itu membuat Kamijou tidak nyaman.
Kamijou hanya tertarik untuk menyelesaikan PR-nya agar tidak tinggal kelas. Hal itu hampir pasti akan terjadi jika dia tidak memperbaiki perilakunya, jadi itu adalah masalah mendesak. Tapi dia merasa pernyataan itu telah menggagalkan upayanya tersebut.
Semua pintu di sepanjang lorong itu identik, tapi tiba-tiba Kamijou merasakan tekanan aneh yang berasal dari pintu yang satu ini.
Kamijou sangat ketakutan.
Bisakah mereka mengunjungi perpustakaan terdekat saja?
Dan tepat setelah si gagah Kamijou Touma gemetar dan bersiap untuk mundur sambil menangis…
“Ayo, kalian berdua. Masuk saja.” kata Himegami.
Himegami mengatakannya dengan cukup tegas.
Dan karena pemilik kamarnya sendiri yang membukakan pintunya, maka tidak ada lagi ruang untuk berdebat.
Saat Kamijou menatap Himegami, Himegami malah memalingkan muka.
Astaga, apa dia jadi malu?
Tolong, seseorang cairkan situasi ini!!
“P-permisi…”
Kamijou merasa harus mengatakan sesuatu, atau tekanan di kamar perempuan itu akan mengalahkannya.
Kamijou mencium aroma manis yang samar.
Ini adalah kamar Himegami Aisa.
Tidak banyak yang ada di dalamnya. Kesan itu mungkin bukan sepenuhnya karena Himegami tidak memiliki hobi. Ketiadaan kasur di kamarnya membuat ruangan tampak lebih besar. Rupanya dia tipe orang yang lebih suka memakai futon.
Lalu Himegami mengajukan sebuah pertanyaan.
Sulit untuk memastikannya karena ekspresinya yang datar, tapi wajahnya tampak sedikit merah.
“Ada apa? Apa ada yang aneh dengan kamarku?”
Fukiyose diam-diam menyikut Kamijou di bagian samping.
Dan mendorongnya maju. Padahal gara-gara kau aku jadi canggung!
Himegami berkata dia akan pergi membeli sesuatu untuk dimakan dan kemudian meninggalkan ruangan.
Karena tidak ada ruang dapur, kamar itu bahkan tidak memiliki fasilitas minimal seperti microwave atau kulkas. Meskipun makanan tersedia di ruang makan, rasanya tetap tidak praktis.
Ditinggal sendirian, Kamijou dan Fukiyose duduk mengelilingi meja teh dan mengeluarkan buku pelajaran serta buku referensi mereka. Tumpukan PR yang diberikan Komoe-sensei begitu tebal hingga menguras semangatnya. Apa tidak bisa dimuat ke dalam ponsel atau semacamnya saja?
Kamijou sudah muak dengan semuanya.
“Aku hanya sekilas membacanya, tapi mengapa pertanyaan Komoe-sensei selalu berbelit-belit? Apa itu pertanyaan jebakan?”
“Aku rasa ini adalah langkah anti-AI. Sebagian besar merupakan cara untuk mencegah agar data tersebut tidak dapat dibaca secara akurat.”
Gadis berdahi lebar itu memiliki penjelasan yang lebih masuk akal.
Pintu terbuka dan Himegami kembali.
Dia membawa kue kering, cokelat, dan beberapa botol teh barli ukuran 500 ml. Padahal saat itu pertengahan musim dingin di bulan Januari.
Dan dengan itu, tibalah saatnya untuk mengambil pensil mekanik dan memulai pertempuran!
“Jelaskan transformasi iblis Maxwell. Fokus pada fenomena informasi data yang secara langsung diubah menjadi energi. Jelaskan siklus konversi energi. Gunakan diagram. …Kita harus menggambar diagram secara manual? Apakah ini lagi-lagi untuk anti-AI?”
“Teori kuantum didasarkan pada pengamatan, tapi telepati dan kewaskitaan memungkinkan seseorang untuk melakukan pengamatan dari berbagai sudut pandang secara bersamaan. Dengan itu, maka jelaskan apa yang terjadi dengan margin kesalahan pada fenomena luar biasa yang diperkirakan akan memengaruhi fungsi gelombang Partikel A ketika diamati secara bersamaan dari berbagai sudut. …Hei, tunggu sebentar. Kurang ajar, Kamijou, apa kau sudah tertidur?”
Tidak, Kamijou berusaha sekuat tenaga untuk tetap terjaga karena dia tahu dia akan mengalami mimpi buruk tentang angka-angka jika dia tertidur sekarang…
Pengamatan adalah hal yang bersifat sensorik, yaitu melihat atau memperhatikan sesuatu, jadi mengapa pengamatan berubah menjadi fungsi gelombang, persamaan Schrödinger, dan kumpulan huruf dan angka lainnya yang terasa seperti bahasa alien begitu muncul di atas kertas ujian? Bahkan ada huruf-huruf di dalamnya yang tidak akan kita temukan di antara A dan Z.
Selain itu.
Meskipun Kamijou sama sekali tidak memahami pusaran gelap pekat benama PR yang telah dilepaskan oleh iblis bernama Tsukuyomi Komoe, Kamijou merasakan rasa pencapaian yang aneh.
Inilah kehidupan sehari-hari di Academy City.
Ini adalah kehidupan sekolah yang normal tanpa ada yang mengancam kelangsungan hidupnya dan tanpa ada yang menjerumuskan dunia ke dalam kehancuran.
Kamijou menatap ke kejauhan, menikmati perasaan hidup ini.
Dan tepat saat itu…
“(Oh? Jadi, ini yang kau alami setelah bangkit dari kubur?)”
Bahu bocah berambut jabrik itu terangkat.
Kamijou mendengar suara berasal dari dalam jaketnya. Ada seseorang di dalam pakaiannya?!
Kamijou Touma tiba-tiba mulai menggeliat.
“(Apa yang kau lakukan di sini, Othinus?!)”
“(Untuk menjaga keselamatanku. Kau hanyalah tamu di asrama putri. Kalian para lelaki hanya diberi tempat di sini karena kebaikan hati para gadis karena kalian tidak punya tempat lain untuk pergi, jadi mereka bisa mengusirmu kapan saja. Satu masalah saja bisa mengakhiri kedamaian sementara ini. Belum lagi ada dewa sepertiku, perpustakaan grimoire, dan kucing yang seharusnya tidak tinggal di asrama putri. Jika kau mendapat masalah yang berhubungan dengan para perempuan, kami akan diusir bersamamu. Aku harus mencegah hal itu terjadi. Jadi bukan berarti aku ikut campur. Ini adalah tindakan keselamatan yang diperlukan.)”
“(Terima kasih atas penjelasan panjangnya, tapi apa yang begitu kau takutka—) shfh?!”
Kedua gadis itu mengalihkan perhatiannya, mereka menatap Kamijou dengan penuh rasa ingin tahu.
Kamijou merasakan sakit yang tajam dari di balik pakaiannya.
Dari kepalan tangan kecil yang menghantam tepat di ketiaknya. Di balik pakaiannya.
Sebuah suara pelan yang mematikan pun terdengar.
“(Kau pikir dewa sepertiku akan takut?)”
“(Cobalah bersikap kalem, nanti Himegami dan Fukiyose bisa tahu.)”
“(Hmph. Harusnya aku yang bilang begitu.)”
“(Masalah yang berhubungan dengan perempuan? Misalnya seperti apa? Kamijou Touma adalah pemilik kesialan yang terkenal di dunia. Tidak mungkin aku mendapatkan keberuntungan diluar nalar yang akan membuatku dekat dengan seorang perempuan.)”
“(Kau bahkan lebih bodoh dari yang kukira, pemahamku. Ya, kau memang dilanda kesialan, tapi ini adalah satu hal di mana bahkan aku pun tidak bisa mempercayaimu. Soal perempuan, kau cenderung berasumsi kearah yang salah. Ingat, kau sekarang sedang belajar di kamar asrama putri. Kenapa kau tidak menyadari bahwa itu saja sudah menempatkanmu di situasi yang sangat berbahaya? Lihat, manusia. Mengerti kan maksudku?)”
Ada sesuatu berwarna putih di bawah meja rendah itu.
Itu terbuat dari kain.
Bentuknya digulung seperti donat.
Kamijou Touma mendengus sambil tertawa.
“(Apa yang kau takutkan, Othinus-san? Ah ha ha. Hanya karena aku berada di kamar perempuan yang wangi bukan berarti aku akan menemukan kancut yang tergeletak. Itu mungkin hanya kaus kaki atau ikat rambut. Aku tahu persis bagaimana kesialan Kamijou-san bekerja.) Hei, Himegami. Apa ini—”
Itu bukan ikat rambut.
Gadis kuil berambut hitam itu tidak membutuhkannya.
Pakaian di tangannya itu memang benar-benar kancut.
Di balik pakaian Kamijou, sebuah kepalan tangan kecil menekan pusarnya. Dia pun menjatuhkan kancut itu ke bawah meja.
“Amyahkancuteeeee!!!”
“?”
Himegami menatapnya dengan bingung.
Kamijou tidak bisa membiarkan gadis itu mengetahuinya.
Dia tidak bisa membiarkan teman-teman sekelasnya yang wangi itu tahu bahwa, selama sesi belajar kelompok di kamar perempuan, dia diam-diam menggeliat sambil bermain-main dengan kancut di bawah meja rendah dan menyembunyikan figur gadis setinggi 15 cm di balik pakaian! Kombinasi itu akan berakibat fatal!!
“(Tuh kan. Jika aku tidak mengawasi manusia bodoh ini, berapa banyak gadis yang akan kau hamili.)”
“(Saking marahnya dirimu sampai membuatku sedikit tenang, tapi kurasa kau tidak perlu semarah itu hanya karena kancut, Othinus. Yang penting adalah orang yang memakai kancut itu! Dan fakta bahwa kancut itu ada di sini berarti dia sering berganti pakaian di sini daripada di ruang ganti. Ah ha ha h—)”
“Hmm?”
Seharusnya tidak ada orang lain di sini.
Tapi Kamijou masih mendengar suara bisikan seorang gadis berkacamata dan berdada besar.
“Aku tidak mengira imajinasimu begitu liar, bahkan dari sehelai kain saja bisa menghadirkan adegan seperti itu dalam pikiranmu… Sampai ke detail yang begitu rinci pula.”
“(Kaza…kiri-san? Apa yang kau lakukan di sini? Tunggu. Apa asrama putri ini semacam bangunan berhantu tempat makhluk supranatural hilang kendali atau semacamnya?!)”
Di sisi lain meja rendah itu, Himegami dan Fukiyose sama-sama memiringkan kepala mereka.
Rupanya mereka tidak menyadari penampakan yang tak terlihat itu.
“Hmmm…”
Tekanannya luar biasa untuk sesuatu yang tidak terlihat. Tiba-tiba, Kamijou mendapati dirinya terjebak di antara gadis-gadis manusia serta gadis dewa dan juga gadis malaikat.
Apakah kiamat akan segera terjadi?
Karena alasan itu, Kamijou tidak bisa membiarkan Himegami dan Fukiyose mengetahui tentang dewa tersebut (yang tingginya 15 cm sehingga bisa bersembunyi di bawah pakaiannya) dan malaikat yang menyaru di sekitarnya. Misi ini semakin menantang dari menit ke menit.
Kamijou perlahan menyembunyikan kancut itu di bawah meja rendah.
Dia merasa semakin terperangkap dari waktu ke waktu.
“(Ehhh? Tunggu, sejak kapan Kazakiri bersuara sedingin dan semenekan ini? Rasanya seperti memasuki dimensi baru.)”
“(Lagian, kenapa nafasmu jadi berat setelah mendengar suara dingin dari gadis berkacamata dan berdada besar yang biasanya pemalu ini?)”
“(Othinus, apa kau mencoba menjadikanku murid teladan? Atau kau adalah kuda Troya yang berencana menghancurkan benteng mentalku dari dalam?)”
Sesi belajar yang dimaksudkan untuk mencegahnya tinggal kelas telah memasuki fase baru.
Sebenarnya, apa yang terjadi? Memiliki sesuatu untuk disembunyikan membuat semuanya menjadi jauh lebih menegangkan!
“Um, baiklah. Soal selanjutnya… Terkait dengan Fisikawan Young, kamera lubang jarum sangat berkontribusi pada pemahaman umat manusia tentang teori gelombang cahaya. Kamera ini bekerja hanya dengan membiarkan cahaya melewati lubang jarum, tapi berapa diameter optimal untuk lubang jarum tersebut? Sialan, Komoe-sensei memang suka sekali membuat soal yang berbelit-belit.”
“Sekilas memang terlihat seperti soal matematika, tapi sebenarnya ini adalah soal sejarah, kan?”
“Jawabannya adalah 0,4 mm. …...Tapi, kau harus menuliskan semua persamaan tentang interferensi dan difraksi untuk membuktikan jawabannya. Kalau tidak, kau tidak akan mendapat poin.”
Langkah-langkah anti-AI ini sangat merepotkan!! Tentu saja, jika kita tidak dapat memahami instruksi tersirat dalam soal itu, maka kita akan dikalahkan oleh AI.
“Ngomong-ngomong, Fukiyose, itu apa? Ada lubang kecil di seragammu? Seperti bekas tusukan peniti?”
“…Apa dari tadi kau menatap dadaku?”
“Biarpun cuma setitik, orang bakal tetap penasaran! Sama penasarannya seperti tahi lalat di payudara yang seksi!!”
Dan begitu hal itu menarik perhatian Kamijou, dia menjadi takut akan apa yang mungkin dilakukan Othinus padanya.
Setelah berteriak putus asa sambil menangis, Fukiyose menghela napas kesal.
“Aku tidak ingat detailnya… tapi itu ada di dadaku, kan? Mungkin aku habis memakai name tag atau semacamnya. Itu hal biasa saat bertugas sebagai panitia acara.”
Himegami memiringkan kepalanya.
Lalu berbicara.
“Lubang jarum berukuran 0,4 mm. Dengan kata lain, meskipun tidak bisa dilihat oleh mata manusia, tapi citra optik dapat diproyeksikan dari dalam? Seperti pakaian dalam di balik pakaianmu?”
Kemudian terjadi keributan besar.
Fukiyose menutupi dirinya dengan kedua tangan. Kamijou mengerti bahwa itu perlu. Tapi dia sangat berharap Fukiyose melakukannya dengan cara yang tidak mencolok seperti meremas payudaranya!
“Dasar Kamijou kurang ajar.”
“Kok aku yang kena?! Lagian, kenapa kau tidak menyundul Himegami, enggak adil banget!!”
“Memang tidak terlihat oleh mata telanjang. Tapi dengan ponsel pintar berspek tinggi, bisa jadi kelihatan.”
“~~~?!!!”
Apakah gadis berdahi lebar itu bereaksi lebih dari biasanya karena itu adalah serangan mendadak dari seseorang yang biasanya tidak mengatakan hal-hal seperti itu? Fukiyose akan lebih tenang jika hanya Kamijou yang ada di sini. Dia adalah tipe orang yang tidak terpengaruh bahkan ketika Kamijou secara tidak sengaja masuk saat dia sedang berganti pakaian. Tentu saja, jika dia mengatakan itu dengan lantang, itu akan menjadi kejutan besar hingga gigi depannya bisa patah karena dahi gadis itu.
Kemudian ponsel Kamijou pun berdering.
“Oh, sayang. Ini ibumu, Touma-san. Apa kau sedang terlibat masalah? Seorang ibu perlu mencegah anaknya berbuat nakal, jadi ibu merasa perlu meneleponmu.”
“…”
Kamijou Touma merasa sangat bingung dengan ponsel di tangannya. Tunggu sebentar. Dia sudah menerima kenyataan bahwa asrama putri ini adalah dimensi misterius yang memiliki efek negatif pada dewa setinggi 15 cm dan malaikat berkacamata pemalu berdada besar, tapi tunggu sebentar. Sejak kapan seorang ibu bisa begitu ilahi dan tak terkalahkan selayaknya dewa dan malaikat?!
Seorang siswa SMA jelas kalah telak kalau berurusan dengan ibu (tak bisa diragukan lagi), jadi Kamijou diam-diam menutup telepon dan menghadapi kenyataan.
“Oke, oke. Semuanya baik-baik saja, Fukiyose, jadi minumlah sesuatu dan tenangkan dirimu. Ini teh barli.”
“Terima kasih…”
“Aku tambah tiga sendok gula, persis seperti yang kau suka.”
“Bfff! Ada apa denganmu?! K-kau tidak bisa menyuntikkan kalori ke dalam tubuh seorang gadis hanya untuk sekedar jahil-jahilan!”
“Seandainya aku jadi dirimu, aku tidak akan membicarakan soal 'menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuh seorang gadis'. itu terdengar sangat tidak senonoh.”
“Dbhhbfbhhhh?!!”
Apakah ini mirip seperti air mancur yang itu? Tahu kan, yang di Singapura yang bentuknya seperti singa tapi bukan singa.
Kamijou menatap ke kejauhan, tapi dia juga merasakan gerakan di dalam jaketnya.
Itu adalah dewa berukuran 15 cm.
“(…)”
“(Wah?! Hei, Othinus, jangan cubit aku di situ! Itu puting kananku! Hentikan, astaga. Kalau kau membuatku berkedut seperti ini, gulungan kain milik Himegami akan keluar dari bawah meja!!)”
Himegami dan Fukiyose sama-sama memiringkan kepala mereka.
Waktu berlalu sementara semua ini terjadi.
“Sudah hampir jam tujuh,” kata Fukiyose, mengakhiri sesi belajar.
Saat itu waktu makan malam.
Ya, asrama putri memiliki ruang makan di lantai pertama.
Mungkin itulah sebabnya kamar-kamar tersebut, meskipun nyaman, tidak memiliki dapur. Karena itu, kamar-kamar tersebut lebih mirip kamar hotel.
…Bagaimana Index dan Othinus bisa makan ketika mereka terjebak di kamar?
Itulah kekhawatiran terbesar Kamijou akhir-akhir ini, tapi dia tidak bisa membiarkan orang lain mengetahuinya.
Tidak seorang pun boleh tahu bahwa dia memiliki seorang biarawati putih, seekor kucing belacu, dan figur dewa setinggi 15 cm yang tinggal di kamarnya!
Maka (setelah mengantar perlengkapan belajarnya dan Othinus ke kamar), Kamijou bergabung dengan kerumunan yang berkumpul di ruang makan lantai pertama.
Ruang makan tersebut beroperasi dengan cara membeli tiket di mesin dan kemudian menerima nampan makanan di konter, tapi mesin itu hanya memiliki satu layar LCD besar. Mesin itu tidak menggunakan tombol.
“Ugh,” erang Kamijou.
Dia tidak terlalu menyukai hal-hal ini.
(Memesan melalui layar sentuh seperti ini sangat merepotkan karena harus mencari melalui beberapa lapisan folder untuk menemukan hidangan yang diinginkan. Jika salah langkah, bisa tersesat selamanya. Tapi, ini masih lebih baik daripada aplikasi ponsel yang mencuri entah berapa banyak data pribadi kita.)
Sebagai seorang borjuis kecil yang takut dengan antrean di belakangnya setiap kali dia terlalu lama menunggu, perhatiannya langsung tertuju pada tab "menu baru" yang ditampilkan dengan jelas di bagian atas halaman.
Sudah diperbarui. Menunya telah berubah sejak kemarin.
Salah satu menu itu pasti masih sangat baru karena bahkan tidak ada fotonya.
Kari telur.
“Tunggu. Itu terlalu umum untuk ditebak. Jadi makanan apa ini? Lagian apa gunanya layar sebesar ini?”
Saat Kamijou berdiri tercengang di depan mesin tiket, Himegami dan Fukiyose bergabung dalam percakapan tepat di belakangnya. Mereka berjinjit dan melompat untuk melihat layar di atas bahu Kamijou. Aksi itu tidak masalah bagi Himegami, tapi cukup berbahaya bagi Fukiyose pada jarak sedekat itu. …Bagaimana Kamijou bisa tahu seberapa dekat wanita itu padahal dia tidak punya mata di belakang kepalanya? Tentu berkat indra lainnya yang dapat mendeteksi tekanan, sentuhan, dan kelembutan!
Othinus (yang masih bersembunyi di dalam pakaiannya) berbisik.
“(Dadanya menempel di punggungmu, kan?)”
Bagaimana mungkin dewa itu tahu, padahal dia tidak mungkin bisa melihat dari dalam seragamnya?
Para siswi SMA (yang terlalu fokus pada menu baru itu sehingga tidak menyadari apa yang telah mereka lakukan) mendiskusikan menu tersebut.
“Mungkin itu nasi kari biasa. Dengan telur goreng di atasnya?”
“Mungkin itu hanya kari yang lebih pedas dengan telur mentah yang ditambahkan di dalamnya. Itu akan membuat rasanya lebih ringan, yang menurutku menjadi nilai tambah. Dan rasanya akan berbeda dari sekadar memesan kari yang tidak pedas.”
…Sekarang, Kamijou sendiri membayangkan nasi kari dengan omelet gulung tebal di atasnya. Tapi mungkin itu lebih tepat disebut kari omelet?
Antrean di belakangnya sudah cukup panjang hingga membuat Kamijou gugup. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia memiliki penyakit di mana jantungnya akan meledak jika ada lebih dari sepuluh orang yang menunggunya, jadi dia langsung membeli kari telur yang saat itu ditampilkan di layar. Membuka kunci ponsel, membuka aplikasi yang tepat, menempelkannya ke layar, dan menunggu nada adalah pekerjaan yang sangat merepotkan! Dia mengerti teknologi semakin maju, tapi apakah teknologi itu membuat bumi menjadi tempat yang lebih nyaman?!
“Hmm. Sepertinya aku akan memesan kari telur.”
“Aku melewatkan makan siang, jadi aku cukup bebas memesan apa pun yang aku mau. Kurasa aku juga akan mencoba kari telur.”
Menoleh ke belakang, Kamijou melihat Himegami, Fukiyose, dan beberapa orang lainnya di belakangnya mengantre memesan kari telur. Apakah mereka mudah terpengaruh, ataukah rasa takut akan antrean di belakang mereka memang sengaja dirancang untuk kepentingan bisnis?
Tapi sebenarnya apa itu kari telur?
Kamijou tidak bisa membayangkan kombinasi itu akan menjadi sesuatu yang buruk, tapi juga tidak terdengar seperti makanan yang mengenyangkan. Itu tidak terdengar seperti pasangan yang sempurna seperti telur goreng di atas steak hamburger. Dia masih belum bisa membayangkan dengan jelas apa yang akan disajikan di piringnya, jadi dia sungguh penasaran.
Seorang wanita muda bercelemek sibuk bekerja di belakang meja kasir.
Saat pertama kali Kamijou melihatnya, dia hampir mati di tempat karena efek "Astaga! Apakah asrama putri punya manajer asrama?!", tapi ternyata dia adalah seorang manajer toko. Rupanya dia bekerja untuk sebuah toko bento. Yang jelas tidak sama dengan manajer asrama. Sama berbedanya dengan pakaian kunoichi dan pakaian maid bergaya Barat era Taisho. Apakah benar-benar tidak ada manajer asrama di dunia ini?!
“Ini dia kari telurnya.”
Cepat sekali.
Kamijou langsung mendapatkan makanannya setelah menyerahkan tiketnya. Kira-kira 1,5 detik kemudian. Tanpa usaha sama sekali.
Selain itu, Kamijou sempat melihat sekilas tangan si wanita bercelemek di balik konter tadi. Wanita itu tampak mengenakan sweter rajut atau turtleneck, tapi Kamijou tidak bisa melihat wajahnya karena adanya penghalang yang hanya memiliki celah kecil seperti yang ada di toko gadai di negara yang melegalkan kepemilikan senjata api. Kuku yang dicat itu tampak seperti kuku wanita dewasa, tapi desainnya lebih bergaya gyaru ketimbang sosialita. Kuku-kuku itu berkilauan dengan taburan glitter dan manik-manik.
Kari buatan gyaru?
Kamijou punya firasat buruk soal ini.
Nasi kari itu diberi telur orak-arik di atasnya. Saking banyaknya, sampai-sampai kuah karinya tertutup sepenuhnya.
Setiap orang yang telah membayar untuk ini memiliki pemikiran yang sama.
“ “ “Bukan ini yang aku inginkan!!” ” ”
Walaupun begitu, ini sudah waktunya makan.
(Sebenarnya tidak seburuk itu. Maksudku, nasi kari dan telur orak-arik sama-sama enak. Jadi kenapa rasanya mengecewakan seperti sisa makanan yang dipanaskan ulang?)
Kamijou mengunyah kari telur yang mungkin lebih tepat disebut "nasi kari dengan topping omelet yang sudah hancur sebelum sempat membukanya dengan sendokmu sendiri".
Dia masih memiliki misi yang harus diselesaikan.
Dia bisa mengisi perutnya sendiri dengan makan makanan di sini, tapi dia masih harus menyediakan makanan untuk Index dan Othinus yang menunggu di kamarnya. Tapi, akan terlalu mencolok jika dia membeli tiket lalu membawa nampan ke kamarnya.
(Sepertinya aku harus melakukan hal yang sama seperti kemarin. Aku hanya takut mereka akan bosan makan makanan yang sama setiap hari.)
Manusia cenderung kembali pada solusi yang pernah berhasil sebelumnya. Asalkan Index dan Othinus tidak protes.
Jadi, dia memusatkan perhatiannya pada salah satu sudut ruang makan.
Untungnya, mereka menjual roti dan sejenisnya di sana secara terpisah dari makanan yang diperuntukkan untuk disantap di ruang makan. Berdasarkan tulisan tangan yang tertera, makanan tersebut dimaksudkan sebagai camilan bagi siapa pun yang belajar hingga larut malam.
Harga setiap barang adalah 100 yen.
Tersedia kotak sumbangan seperti kotak amal, serta alat pembaca pembayaran ponsel.
Semuanya tampak murah jika ditumpuk seperti gunung, tapi mungkin kita harus memilih dengan cermat agar mendapatkan nilai yang sepadan dengan uang kita.
Meskipun begitu, Kamijou senang memiliki makanan yang tidak perlu dimakan di ruang makan karena dia tidak bisa membawa Index dan Othinus ke ruang makan untuk makan. Ada berbagai macam roti, tapi Kamijou memilih yang lebih besar yang terlihat berisi banyak sayuran di dalamnya. Seperti roti tumis daging dan sayuran. ...Dia tidak menganggap tumis daging dan sayuran sebagai sesuatu yang dimakan dengan roti, tapi yakisoba juga sebenarnya bukan sesuatu yang dimakan dengan roti.
Dia merasakan tarikan pada kerahnya dari dalam seragamnya.
Pelakunya adalah Othinus.
“(Ambil roti Prancis dengan krim kocok. Aku ingin makan itu. Bukan roti cokelat atau roti krim. Harus roti Prancis dengan krim kocok!)”
“(Apa yang akan kau lakukan dengan roti sebesar dirimu, Othinus? Memeluknya seperti bantal sambil memakannya? Itu adalah bentuk hiburan dewa yang bahkan tidak akan pernah diimpikan oleh manusia.)”
Tapi sudahlah.
Kamijou juga mengambil roti kroket dan roti kari sebelum menyadari ada yang memperhatikannya.
Dan bukan hanya dari satu orang.
“?”
Seharusnya dia tidak berbalik.
Gadis-gadis itu menatapnya dengan tajam.
Kamijou menyadari ada banyak tekanan, apakah karena dia memborong roti?
Dia menatap kantong roti yang dipegangnya. Dia tahu betul nafsu makan Index yang rakus, jadi dia memasukkan setidaknya lima buah roti ke dalamnya…
Fukiyose Seiri berbicara dengan pelan, mewakili para gadis.
“Berat badan. Apa kau tahu seberapa banyak pengorbanan yang harus kami tanggung demi kata terkutuk itu? Tapi kemudian bocah kurang ajar sepertimu malah muncul dan mulai makan semaumu. Dan yang lebih buruk lagi, kau bahkan tidak ragu-ragu mengambil roti Prancis krim kocok yang ingin kami makan tapi tidak boleh kami makan…”
(Mereka salah paham, tapi aku tidak bisa mengatakan kepada mereka kalau semua ini adalah untuk Index dan Othinus yang ada di kamarku!!)
“Jujur saja, aku memaksa diri untuk mandi berendam lama setiap hari agar bisa mengeluarkan keringat sebanyak mungkin, dan kemudian kau yang sedang masa tumbuh ini malah melakukannya di depanku.”
“Kau cuma seorang wanita seksi yang suka mandi. Apa kau mencoba mengejar kecantikan sampai membuat badanmu keriput mirip jamur shiitake kering? Lagian, apa gunanya menghabiskan waktu berjam-jam telanjang di bak mandi ketika minum segelas air akan membatalkan semuanya?”
Mereka pun mulai melempari Kamijou.
Meski terus kehilangan beberapa poin, Kamijou Touma kembali ke kamarnya sambil membawa beberapa roti.
Tidak ada reaksi apa pun bahkan saat dia membuka pintu.
Seseorang yang setengah kelaparan tergeletak lemas di tengah lantai.
“Oh. Ohhh… T-Touma. Aku lapar…”
“Berhentilah bersikap seperti korban padahal kaulah yang menghabiskan persediaan untuk tiga hari hanya dalam satu hari. Akulah korban yang sebenarnya di sini,” kata Dewa Sihir Othinus setinggi 15 cm dengan nada kesal, sambil menggeliat keluar dari pakaian Kamijou.
Posisi tangan bersilang dan suara meninggi sang dewa menunjukkan bahwa Index benar-benar telah memakan setiap remah terakhir. Dan rupanya dewa itu masih enggan makan makanan kucing meskipun tingginya hanya 15 cm.
Tapi Index mengabaikan hal itu.
“Itu tidak adil, Touma! Aku juga ingin masuk ke dalam dirimu!”
“Jangan memperkeruh keadaan!!”
Roti-roti yang dibeli Kamijou (di bawah tekanan tatapan tajam para gadis yang peduli dengan berat badan) habis dalam waktu singkat.
Cepatnya Index menghabiskan makanan membuat Kamijou khawatir karena dia tidak memiliki solusi jika makanan ini tidak cukup.
Pintu masuk yang terkunci otomatis adalah contoh yang paling jelas, tapi asrama putri ini jauh lebih memperhatikan keamanan daripada asrama putra sebelumnya. Asrama ini memiliki aturan yang jauh lebih ketat.
Termasuk mengatur makanan semua orang melalui kantin, alih-alih membiarkan mereka memasak sendiri.
Menurut peraturan, siapa pun yang gagal mendapatkan nutrisi yang cukup di ruang makan hanya perlu menanggung perut kosong sepanjang malam. Tidak mendapatkan nutrisi yang cukup atau melewatkan makan tidak menjadi pertimbangan. Itu berarti mereka yang suka begadang harus berjuang melawan perut kosong setiap malam. Tentu saja, para guru mungkin hanya akan menyuruh mereka tidur lebih awal.
Tapi sekali lagi…
(Resminya memang begitu. Tapi sekolah kami tidak seketat itu. Apakah mereka benar-benar taat aturan? Aku yakin orang-orang yang tidak mendapat cukup makanan saat makan malam sering kali pergi ke minimarket.)
Tapi, menebak tidak sama dengan memiliki bukti.
Sebenarnya, jika Kamijou tidak sengaja mengatakan ini, Index dan Othinus mungkin akan menyuruhnya keluar, jadi dia lebih memilih diam!
(Membeli banyak roti akan terlalu mencolok, jadi aku perlu mencari cara lain untuk memberi makan mereka. Apa yang bisa aku lakukan?)
Atau justru makananlah yang menjadi masalah sebenarnya di sini?
Apakah tidak ada yang bisa Kamijou lakukan untuk mencegah Index melahap semua makanan di ruangan itu? Seperti menyimpan keripik dan roti kari di brankas besar? Semahal apa harga brankas???
Dia harus menemukan solusi.
“Touma. Rasanya yang kulakukan hari ini hanyalah mandi dan menggosok gigi.”
“Apa salahnya, toh selalu ada hari esok.”
Kamijou mungkin seorang siswa SMA yang terlempar ke dunia asing bernama asrama putri, tapi rutinitasnya terus berlanjut tanpa henti.
Waktu terus berjalan sementara dia makan, mandi, dan sebagainya.
“Sepertinya aku harus tidur,” gumam bocah berambut jabrik itu sambil bersiap tidur.
Pertama, dia merogoh saku celana piyamanya.
“Othinus.”
“Bagaimana kau tahu?”
Mengapa dia berpikir Kamijou tidak akan menyadari ada sesuatu di dalam pakaiannya?
“Kita sudah saling memahami, jadi kenapa kita tidak tidur di ruangan yang sama? Lagipula, kamar mandi jauh lebih aman bagiku selama si karnivora bernama Belacu masih mencoba memakanku setiap kali dia punya kesempatan—ahhh!!”
Kamijou (secara harfiah) mengusir Othinus.
Selain itu, belacu bukanlah nama kucing tersebut.
Ya, Kamijou Touma tidur di bak mandi. Karena pintu kamar mandi terkunci! Ini adalah aturan yang dia ikuti sejak di asrama putra. Jadi setelah memberi Index tempat tidur dan mengeringkan bak mandi yang sudah digunakan, dia naik ke bak mandi dengan selimut di tangan. Mengapa tempat itu masih berbau perempuan? Apakah karena sampo dan sabun mandi yang disediakan di asrama putri? Dia menggunakan barang yang sama, tapi hasilnya benar-benar berbeda karena suatu alasan.
Tapi…
“Aku tidak bisa tidur.”
Ini adalah asrama putri, bukan asrama putra.
Itu berarti ada beberapa hal yang berbeda.
Seperti…
“Bak mandinya lebih kecil. Aku tidak bisa meluruskan kakiku!!”
Dia gelisah dan berguling-guling di dalam bak mandi sempit di kamar mandi yang gelap gulita untuk beberapa saat.
Dia tidak punya kegiatan.
Dia merasa bosan.
Dia merasa seperti membuang-buang waktunya dengan sia-sia.
Dia pernah membaca bahwa persepsi seseorang akan waktu berubah seiring bertambahnya usia.
Batas sabar bagi siswa SMA palingan cuma kurang dari satu jam.
“Ini percuma.”
Kamijou bangkit, tapi dia tidak bisa tidur di kamar yang sama dengan para gadis. Setelah berpikir sejenak, dia berjalan ke pintu depan.
Asrama putri memiliki keamanan yang jauh lebih ketat daripada asrama putra.
Mungkin dia bisa berbaring dan tidur di bangku di samping mesin penjual otomatis di lorong.
Home.
“Sialan, kenapa harus ada anak lelaki di asrama putri? Aku tidak tahan… Sekarang kita harus berdandan hanya untuk keluar ke lorong.”
“Tidak ada yang memintamu melakukan itu. Dan Kamijou-san sama sekali tidak keberatan jika kau memakai riasan atau tidak.”
“Aku tidak meminta pendapatmu! Apa kau pikir menjadi netral membuatmu tak tersentuh? Tidak menunjukkan wajah tanpa riasan pada lelaki itu soal harga diri!!”
“Lalu bisakah kau berhenti mendesah dan bersikap seolah aku yang salah? Itu tidak adil, tahu?!”
***
Dengan itu, Kamijou melarikan diri dengan kecepatan penuh. Dia hampir saja menerima serangan cakaran kucing dari seorang gadis yang bahkan tidak dikenalnya di pagi hari. Pukulan kucing dari seorang siswi berkulit sawo matang terdengar lebih seperti hadiah, tapi tidak jika melibatkan kuku. Dan kuku plastik yang tajam itu cukup panjang sehingga mungkin bisa digunakan untuk bermain gitar! Kamijou Touma belum mencapai level di mana dia bisa menerimanya dengan senang hati.
Ya, tidak ada yang bisa mencegah datangnya pagi.
(Kukira aku akan membeku sampai mati.)
Apakah dia sudah terlalu lama terlibat dalam pertempuran sehingga kehilangan jejak waktu sampai-sampai terkadang lupa bahwa ini adalah bulan Januari? Lupa hari dalam seminggu saja sudah cukup buruk, jadi bahkan dia sendiri merasa sangat mengkhawatirkan jika dia bisa lupa akan bulan.
Dia mendapati selimut biru menutupi tubuhnya ketika bangun tidur.
Seseorang pasti telah memberikan itu kepadanya di malam hari, tapi tanpa selimut itu, dia mungkin tidak akan pernah bangun. Dia akan terjebak dalam mimpi buruk aneh di mana dia terkunci di gudang penyimpanan dingin dan mencoba menahan rasa lapar dengan memakan makanan penutup beku sambil menunggu penyelamatan.
Ini bukanlah solusi.
Tempat tidur akan menjadi masalah yang perlu dipecahkan. Sebuah masalah dengan prioritas cukup tinggi.
Dan ada sesuatu yang harus dia lakukan terlebih dahulu sekarang setelah hari dimulai. Dia tidak punya waktu untuk disia-siakan di tengah keramaian pagi di sekitar lift.
Dia pertama-tama kembali ke kamarnya, kemudian kembali keluar, dan menggunakan tangga darurat untuk turun ke lantai bawah.
“Sial, sial, sial…”
Kamijou membawa kantong sampah tembus pandang yang penuh.
Hari ini adalah hari pembakaran sampah.
Dia menjadi ceroboh karena ini masih Distrik 7. Mungkin itu masalah rute truk sampah, tapi pengumpulan sampah di sini terjadi sedikit lebih awal daripada di asrama putra. Beberapa menit mungkin tampak sepele, tapi jika dia ketinggalan truk, dia akan menghabiskan malam dengan kantong sampah.
(Astaga. Mengapa orang menghasilkan begitu banyak sampah hanya dengan menjalani hidup? Jiwa kreatif manusia telah maju ke arah yang salah!)
Tanpa dapur di dalam kamar dan makanan di ruang makan, asrama putri tidak memiliki hari pengumpulan sampah dapur. Apakah gaya hidup seperti itu menjelaskan mengapa para gadis yang bersekolah di sekolah yang sama dengannya tampak jauh lebih mencolok daripada para lelaki?
Semua orang memasukkan kantong sampah mereka yang penuh ke dalam wadah logam besar tepat di luar asrama putri. Tutupnya yang berat mungkin dimaksudkan untuk mencegah kucing dan burung gagak masuk, tapi gembok putar itu pasti memiliki tujuan lain. Dengan struk belanja dan slip pengiriman belanja online, ada banyak celah di asrama putri. Saatnya untuk menyamarkan diri dengan membuang banyak sampah lelaki ke dalamnya.
Ternyata sudah ada orang di sana.
“Selamat pagi.”
Dengan bunyi gedebuk, Himegami menjatuhkan kantong sampah ke dalam wadah tersebut.
Tampaknya itu adalah… sesuatu yang dulunya adalah bantal besar.
Bantal itu robek di mana-mana, isinya mencuat keluar, dan dijejalkan di dalam kantong sampah transparan.
Kamijou merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya.
“H-Himegami? Um, Himegami-san, sampah apa itu? Kok bisa jadi begitu?”
“?”
Himegami memiringkan kepalanya dengan imut.
Kamijou merasa kamar perempuan menyimpan banyak rahasia.
Untuk saat ini, Kamijou hanya bisa berdoa agar apa yang terjadi kemarin bukanlah penyebabnya.
Kemudian Fukiyose memanggil teman-teman sekelasnya sambil memegang kantong sampah di masing-masing tangan.
“Hei, kau! Memberi makan kucing liar di sekitar sini akan mengajarkan mereka untuk berkeliaran di tempat sampah, jadi berhentilah memberi kucing-kucing itu kebiasaan buruk! Yomikawa-sensei, kenapa kau mengendap-endap di sini?! Kau tidak bisa menyayangi kucing-kucing di sini hanya karena apartemenmu tidak mengizinkan hewan peliharaan!!”
Terdengar suara mengeong setelahnya. Sebuah robot pembersih berbentuk drum muncul dan membersihkan kerumunan kucing. Guru berbaju olahraga dengan tubuh seksi itu pun ikut diusir bersama mereka. Apakah ini alasan mengapa guru itu sering muncul di asrama putri? Dan yang lebih aneh lagi, dia membuka kemasan panjang dan tipis berisi Mule, makanan favorit kucing-kucing itu, yang pasti akan membuat mereka terus datang kembali ke sini.
“Mau sampai kapan si seksi berdada besar itu berhenti membuat masalah?”
“Hah?”
“Jangan bereaksi seperti itu, Fukiyose-san, aku tidak sedang membicarakanmu. Tapi guru yang kabur di sana!!”
…Selain itu, apakah kucing-kucing di sekitar asrama putri bertingkah aneh akhir-akhir ini karena mereka mendeteksi kucing belacunya? Itu mungkin memicu naluri teritorial mereka.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Fukiyose meregangkan badan.
“Ngomong-ngomong, apa kau sudah dengar rumor tentang adanya penyusup di asrama putri, persisnya di kamar siswi kelas 2?”
“Tunggu dulu. Kita mau membahas horor psikologis di pagi hari? Itu menakutkan. Aku tidak mau mendengarnya.”
“Katanya si penyusup membuka pintu masuk otomatis dengan menggunakan kode akses kurir. Ternyata siapa pun bisa mendapatkan kode akses itu, jadi sistem pengunci otomatis sekarang sudah tidak bisa dipercayai lagi.”
Mengapa semuanya tiba-tiba terasa seperti suasana pasca-apokaliptik?
Apakah moralitas dunia sedang runtuh, dimulai dari asrama putri?
“…”
Kamijou Touma berada di ruang makan.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya yang mendesak, dia berharap dapat menikmati sarapan yang santai, tapi kemudian dia langsung merasa kaku.
Saat dia menghadap layar LCD mesin tiket, dia melihat menu baru lainnya di bawah tab baru.
Kari sayur.
“Y-yang benar saja!! Tidak terbayangkan olehku! Sayuran itu kategorinya terlalu luas!”
Ini semua ulah si gadis gyaru. Dia bukan manajer asrama. Ada laporan yang belum terkonfirmasi bahwa dia akan menanggalkan pakaiannya dan mengapung di bak mandi besar asrama ketika dia bosan di siang hari. …Tapi itu tidak menyelesaikan masalah ini.
Ya, bocah berambut jabrik itu tahu cara memasak, jadi dia tidak akan bersikap lembek padanya. Sebenarnya, kalau saja ada dapur di kamarnya, dia akan memasak semuanya sendiri tanpa perlu merepotkan si manajer toko bento itu!
Selain itu, mengapa yang ini juga tidak ada fotonya?
Kari sayur.
Kamijou memiliki cukup banyak pengalaman menganalisis kemampuan penyihir dan esper dalam pertarungan hidup dan mati, tapi dia tidak berdaya di sini. Dia bahkan tidak bisa menebak apa-apa.
Menaruh lobak besar seperti di oden di atas nasi kari secara teknis sudah termasuk sukses! Atau jika kari dengan banyak irisan bawang pengganti nasi, dia tidak berhak mengeluh!! Yang tertulis hanyalah kari sayur, jadi tidak ada jaminan akan ada nasinya. Tentu saja, dia mungkin terlalu memikirkannya. Tapi ingat, ada kari telur yang kemarin. Jika telurnya berupa telur rebus yang diiris, omelet gulung, atau telur mata sapi, mereka semua akan dengan senang hati menerimanya, tapi alih-alih rasa manis atau asin, gadis itu malah memilih telur orak-arik! Dengan selera kuliner yang seperti itu, Kamijou tidak bisa menebak apa yang akan disajikan!!!
Kamijou tidak mampu mengumpulkan keberanian. Dan jika dia tidak bisa memaksakan diri untuk mengambil jalan aman menuju puncak, mundur dengan berani adalah satu-satunya pilihan. Meskipun hidup hanya sekali, bukan berarti kita harus nekat dengan menerima semua tantangan. Pasti ada pilihan lain. Seperti hidangan babi jahe yang aman atau oyakodon!!
Dengan susah payah, Kamijou mencari menu di antara segudang kategori, membacanya sekilas, dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Layarnya gelap sekali. Dan dipenuhi tanda silang merah. Semua menu normal sudah habis terjual?!”
“Mungkin karena semua orang menghindari kari sayur.”
Hal itu melanggar nilai-nilai kapitalisme.
Kamijou hanya sedikit terlambat tapi inilah yang terjadi? Dia punya uang tapi tidak punya kebebasan untuk memilih. Ini lebih buruk daripada sistem penjatahan!!
Dengan Himegami dan Fukiyose yang mengawasinya dari belakang, Kamijou memilih kari sayur dengan jari yang gemetar. Dan kenapa di sini panas sekali?! Melihat gadis-gadis remaja berkumpul begitu dekat hingga bisa merasakan napas mereka di telinga memang sungguh mengejutkan!
Semoga saja ini seperti kari sayuran musim panas yang penuh dengan kentang dan wortel! Kamijou memejamkan mata dan membuat sebuah harapan. Dia baru menyadari bahwa ini kebalikan dari musim panas dan semua harapannya pun hancur.
“Ini dia.”
“Cepat sekali!! Hanya mengucapkan beberapa kata saja sudah membuatku khawatir!”
Makanannya diberikan kepada Kamijou dari balik konter. Sekali lagi, dalam waktu 1,5 detik.
Kamijou tidak bisa memahami apa yang sedang dilihatnya.
“???”
Dia mengikuti arus keramaian, membawa nampannya ke meja, lalu memeriksanya sekali lagi.
Kari sayur.
“Apa… ini? Ini sih mirip rouks.”
|Pengental saus yang dibuat dari campuran tepung terigu dan mentega cair. Wiki>>
“Tunggu. Ada beberapa gumpalan kecil berwarna kuning di dalam kari. Sulit untuk dilihat karena meleleh akibat panas, tapi ini bukan rempah-rempah.”
“Ini kinoa. Ini adalah superfood kinoa!!”
|Kinoa adalah tanaman seperti padi tapi bukan termasuk padi-padian melainkan kerabat dari tanaman bayam dan bit. Kinoa juga dijuluki sebagai superfood (makanan super) karena kandungan nutrisinya yang lengkap. Wiki>>
Detektif Fukiyose mengungkap kebenaran.
Ini pelanggaran. Bukankah salah satu dari Sepuluh Aturan Anu disebutkan bahwa kinoa tidak termasuk sayuran?!
“Tunggu, memang itu bisa dianggap sayuran?! Memang sih tanaman, tapi itu lebih ke millet, lebih tepat jika dikategorikan sebagai biji-bijian ketimbang sayuran? Temannya beras! Meski entah bagaimana kinoa tumbuh!!”
“Kamijou Touma, argumen itu tidak valid. Kinoa juga digunakan dalam salad, jadi kita tidak bisa menyangkal bahwa itu bisa disebut sebagai sayuran!”
“Itu tidak masuk akal. Fukiyose, apa kau mau bilang bahwa salad kentang dan salad makaroni termasuk sayuran hanya karena ada kata saladnya?! Salad ham memang ada, tapi jangan bilang kalau ham itu sayuran. Kali ini deduksimu telah salah!!”
“Tidak, bukan begitu. Lagian ini bukan cerita detektif. Ini dunia nyata. Betapa pun anehnya situasi yang kita hadapi, kita harus menghadapi fakta yang ada di hadapan kita.”
Apa memecahkan misteri tidak membuat siapa pun bahagia? ini terlalu kejam dan terlalu mirip kejahatan-sempurna.
Kamijou menyendok makanannya.
Tidak ada perlawanan.
Dia mencoba segigit.
Rasanya seperti makan kari tanpa isian sama sekali. Kuahnya encer, seperti kari sup, jadi dia merasa seperti tidak makan apa pun. Makanan itu masuk begitu mudah sehingga terasa seperti lewat begitu saja dari perutnya, walau secara anatomi tubuh manusia harusnya tidak begitu.
Bagaimana bisa makanan ini mengandung 800 kalori? Itu terlalu banyak! Kamijou bergidik. Sebenarnya apa sih manfaat kinoa? Apa dialah penyebab obesitas massal?! Ini tidak akan membuatnya kenyang bahkan selama satu jam. Dia yakin dia akan mampir ke minimarket dan ngemil berbagai macam makanan nanti!!
Kamijou menundukkan kepala dan gemetar.
Tapi kemudian dia mengangkat kepalanya dengan keyakinan yang diperbarui.
“Cukup! Biarkan Kamijou-san meminjam dapur itu sebentar saja!! Aku bisa memasak, jadi aku akan menunjukkan padamu bagaimana cara memberi makan siswa-siswi dengan biaya yang murah!!!”
Himegami dan Fukiyose harus menahan Kamijou.
Rupanya, peraturan keselamatan kebakaran dan sanitasi tidak mengizinkan adanya juru masak tamu.
Tapi bukankah si manajer toko bento itu juga tamu di sini?!
“…………………………………………………………………………………………………”
Di sekolah, Aogami Pierce tergeletak mati di mejanya.
Anak lelaki yang sangat menyukai moe dan 2D itu sangat sedih karena tidak bisa bergabung dengan Kamijou dalam kehidupan asrama putri.
Komoe-sensei mengabaikannya.
“Hari ini adalah hari kedua ujian masuk umum. Situs web surat kabar dan penerbit buku teks telah memposting jawaban acuan hari pertama agar orang-orang dapat melihat hasilnya. Setiap tahun, hal ini menyebabkan para pelajar yang mengikuti ujian kehilangan harapan dan mengamuk di jalanan, jadi berhati-hatilah agar kalian terhindar dari mereka. Ketika seorang esper berlevel tinggi menyerang, satu pukulan saja bisa menjadi akhir, jadi berhati-hatilah.”
“Apa ada cara lain untuk mengatasi ini selain harus berhati-hati?”
Jika para pelajar ingin memamerkan kemampuan mereka, seharusnya mereka membengkokkan sendok atau benda apa pun saat tes masuk.
Bakat tidak ada artinya jika tidak digunakan dengan baik.
“Dan aku punya pengingat untuk kalian para siswa kelas satu yang menikmati minggu yang tenang karena kalian pikir ujian bukanlah urusan kalian: jangan lupa ujian semester ketiga akan segera tiba. Februari sudah di depan mata. Jika kalian gagal belajar selama masa tenang ini, bisa jadi kalian malah tinggal kelas.”
Meja-meja berguncang di seluruh ruang kelas. Sejumlah siswa yang sedang menatap ponsel sambil menyelesaikan tugas harian di dalam gim pun mulai berpikir dua kali. Jika mereka berhenti sekarang, mereka masih bisa bangkit.
Dan begitulah dimulainya kehidupan sekolah mereka yang penuh pertaruhan hidup dan mati.
Hari ini ada pelajaran olahraga. Bahkan kompetisi bisbol profesional pun tidak bermain di tengah musim dingin untuk menghindari cedera pemain, jadi apa yang dipikirkan para guru di Academy City?
“Mengapa mereka lebih suka bermain sepak bola dan rugbi di musim dingin? Aku harap ada teori yang mendasarinya dan bukan hanya sekedar firasat saja.”
Kamijou memang banyak mengeluh, tapi itulah yang seharusnya dilakukan oleh siswa kelas satu SMA. Tapi kebanyakan misteri serta masalah yang tidak masuk akal tidak akan terpecahkan dengan sendirinya hanya karena keluhan seorang siswa SMA.
Anak-anak itu akhirnya bermain sepak bola di luar.
Mereka dibagi menjadi dua tim, absen genap dan absen ganjil.
Itu bukan pertandingan serius, jadi posisi mereka agak sembarangan. Guru olahraga tidak akan mengatakan apa pun selama mereka tidak sampai memasang tiga atau empat orang kiper.
“Aku benar-benar tidak ingin suara tendon Achilles-ku putus bergema ke seluruh dunia… Hidup itu panjang, jadi apa salahnya istirahat sejenak? Hei, Aogami Pierce, ayo jadi kaki tanganku☆”
Kamijou dengan santai mengajak temannya ikut serta, tapi tidak mendapat respons.
Kepala Aogami Pierce tertunduk.
Sebuah suara terkutuk menekan Kamijou.
“Kenapa selalu kau, Kami-yan, kenapa selalu kau, kenapa selalu kau? Aku iri sekali denganmu yang menjalani kehidupan impian di asrama putri. Kapan hidupmu memasuki stage bonus ini? Rasanya ingin kupukul dirimuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!”
Kenapa tiba-tiba dia ngajak ribut di tengah-tengah pertandingan sepak bola?!
Kamijou Touma tidak menunjukkan (banyak) belas kasihan.
Manusia cenderung lebih keras jika dirugikan oleh orang lain ketimbang dirugikan oleh dirinya sendiri.
(Bukannya kami diperlakukan secara khusus. Kau saja yang terlalu mengambil inisiatif, Aogami Pierce.)
Kamijou Touma sudah memutuskan bahwa dia membutuhkan sesuatu yang enak untuk makan siang.
Dia memutuskan hal ini sejak saat dia dikejutkan oleh kari sayur sewaktu sarapan.
Dia serasa mau hancur jika dia tidak puas saat makan siang.
Tapi, para peserta ujian mendapat prioritas di kantin dan toko sekolah, jadi dia harus meninggalkan lingkungan sekolah dan mengunjungi minimarket terdekat. Pelanggaran aturan yang terang-terangan itu biasanya akan membuatnya diserang dan ditahan oleh guru berwajah garang atau guru berbaju olahraga, tapi mereka terlalu sibuk mengurus ujian hari ini. Tapi tolong jangan menirunya, calon siswa baru. Kalau kalian menirunya, jiwa kalian bisa rusak.
Jalanan yang dipenuhi turbin angin tiga bilah itu penuh dengan godaan, tapi restoran keluarga dan toko burger yang terlihat di kejauhan dipenuhi antrean panjang. Waktu makan siang adalah hal yang sangat sulit. Alur waktu terasa sedikit berbeda antara sekolah dan dunia luar, jadi mengantre di sana bisa berarti tidak bisa kembali tepat waktu untuk kelas berikutnya. Minimarket terdekat mungkin akan menjadi pilihan terbaik. Bahkan jika ada antrean di kasir, tidak butuh waktu lama untuk melayani setiap pelanggan.
Lalu dia melangkah masuk ke dalam toko.
“Ehhhhhhhhhhhhh?! Ada wanita jahat yang sedang merusak jiwanya di area makan. Senpai, aku rasa kau tidak seharusnya pergi keluar sekolah!”
“Mgh?!”
Kumokawa Seria tersedak, matanya terbelalak, sembari duduk di kursi konter dekat jendela. Siswi senior berambut hitam dan berdahi lebar itu melanggar peraturan sekolah untuk melahap burger ikan. Dan bukankah burger jenis itu mahal kalau dimasak di minimarket?! Parahnya lagi, dia juga punya tiga camilan minimarket. Mau apa coba? Mendaki gunung?!
Kumokawa Seria menyeruput teh panasnya untuk menghindari sesak napas.
“A-apa yang kau inginkan, bocah? Aku bersedia memberimu kentang goreng.”
“Tidak, aku tidak meminta hal seperti itu.”
Artinya, kakak kelas yang cantik itu sebenarnya tidak perlu memegang tangan Kamijou, menatap dengan jijik, dan mencoba bernegosiasi. Tangannya begitu lembut dan halus. Jadi, apakah ini suatu bentuk persuasi? Kamijou telah mempelajari sesuatu yang baru.
Tapi, mengesampingkan hal itu.
Isi nampan Kumokawa tidak terlihat begitu menarik bagi Kamijou. Meskipun masing-masing barangnya masih oke-oke saja.
Kenapa bisa begitu?
“Seleramu buruk sekali, Senpai. Burger dan teh benar-benar tidak cocok, tahu? Apalagi teh hitam panas. Dan aku tidak lihat ada sampah kemasan kecil di sekitarmu, apa kau meminumnya tanpa di campur apa-apa? Kenapa?”
“Hah? Tunggu sebentar. Mereka menjual kopi dan teh di hampir semua toko burger!”
“Itu untuk orang-orang yang ingin tetap minum teh sementara teman-teman mereka makan burger. Kau tidak seharusnya minum teh sambil makan burger.”
“Hah?! Terus kombinasi apa yang cocok untuk burger?!”
Soda.
Kamijou tidak sekaya gadis kaya berambut hitam berdada besar itu, jadi yang bisa dia lakukan hanyalah pergi ke bagian roti, mengambil roti yang bisa disobek kasar dengan tangan, dan menggabungkannya dengan ayam goreng yang dijual di sebelah kasir. Rasa barunya adalah keju nacho dan saus cabai. Dia tidak pernah bisa mengikuti rasa ayam goreng di minimarket karena mereka selalu mengeluarkan rasa baru. Dan terkadang mereka menghadirkan kembali rasa lama, yang benar-benar mengacaukan ingatannya.
Tapi, bahkan kombinasi ini tampak lebih baik daripada kombinasi Kumokawa.
Kelezatan bukanlah soal harga.
Dan gadis bertubuh seksi itu memonyongkan bibirnya seperti anak kecil dan berteriak.
“Kau ini masih anak-anak! Soalnya hanya anak-anak yang suka soda!!”
“Ya, ya. Bukan berarti burger adalah makanan orang dewasa. Kenapa kau pikir kau bisa menang dengan bertingkah seperti orang dewasa?”
“~~~!”
“Cobalah punyaku. Burger ayam goreng adalah pilihan yang lebih baik jika dimakan bersama soda, Senpai.”
“Ghh. K-kau benar…”
Kumokawa Seria selalu menggunakan daya pikatnya untuk mempermainkan si remaja lelaki itu, tapi kali ini dia menggigit bibirnya dan gemetar. Itu pemandangan yang jarang terlihat.
…Kamijou tidak berpikir kalau teh panas adalah sesuatu yang pantas dipesan dalam botol ukuran L dan dia juga tidak berpikir kue yokan dari minimarket cocok dengan burger atau teh hitam… tapi membiarkannya mungkin pilihan yang terbaik. Sebagai siswa kelas satu, Kamijou tidak ingin melihat senior yang biasanya percaya diri ini menangis.
“(Hmm. Agaknya siswi kaya dan cantik ini tidak tahu cara menggunakan minimarket seperti orang biasa? Makanya kombinasi pesanannya bisa serandom ini. Tapi tak kusangka akan separah ini.)”
“Kau tidak perlu menghiburku dengan karanganmu yang tak sesuai fakta itu!!! (Hiks)”
Jika karena stres yang menyerang Kumokawa membuatnya sampai menghabiskan semuanya, maka tidak ada yang bisa Kamijou makan, jadi Kamijou pun menghentikan dia untuk terus makan.
Waktu istirahat makan siang sama bagi mereka berdua. Jika mereka belum kembali ke halaman sekolah saat bel berbunyi, guru berwajah gorila atau guru berbaju olahraga pasti akan menyadari ketidakhadiran mereka.
“Ah, aku sudah makan sebagian, jadi itu ciuman tidak langsung.”
“Bffhbbhf?!!!”
…Tidak, Kamijou tidak akan pernah bisa mengalahkannya!! Kamijou Touma bukanlah tipe orang yang mudah menyerah, tapi di sini dia melakukannya. Itu terlalu berat baginya.
“Smoothie tujuh sayuran ini enak sekali.”
Saat itu menjelang malam.
Shokuhou Misaki berbicara sendiri di bangku dekat sebuah truk makanan. Rupanya itu adalah produk edisi terbatas musim ujian yang dimaksudkan untuk meningkatkan daya pikir.
Dia sedang mengisi ulang energinya.
Dunia diwarnai oranye. Sekolah telah usai. Dia menunggu seseorang yang pasti kelelahan setelah menyelesaikan hari pertama ujian.
(Sindrom Kotatsu Akut, ya? Istilah yang bodoh untuk sebuah fenomena sosial, tapi kita tidak boleh lupa bahwa itu benar-benar memengaruhi kehidupan orang-orang.)
Hokaze Junko, orang nomor 2 di gengnya, adalah siswi kelas tiga SMP, jadi ujian masuk umum berlaku untuknya. Tapi, tampaknya dia menghabiskan bulan Januari dengan mengabaikan studinya dan bersantai. Shokuhou sangat khawatir padanya.
Tapi bukan karena Shokuhou adalah orang baik.
Dia memiliki pandangan yang cukup rasional dalam menilai dirinya sendiri.
(Bisa-bisanya masih sempet mikirin orang lain di musim ujian gini, ya itu merupakan bukti kalau mentalku sedang tenang.)
Shokuhou Misaki adalah esper Level 5 peringkat 5 Academy City, dengan kemampuan Mental Out.
Dia adalah yang terkuat dari para esper psikologis murni. Konon, tidak ada hal yang berhubungan dengan pikiran yang tidak bisa dilakukan oleh monster itu. Jadi, perang ujian masuk tidak ada artinya baginya. Dia memiliki banyak cara untuk lulus setiap mata pelajaran dengan nilai sempurna atau lulus ujian tanpa perlu hadir di tempat ujian. Dia memiliki begitu banyak pilihan sehingga tiga bahkan empat digit pun tidak cukup untuk menghitungnya.
(Jika Junko-san terlihat lesu saat meninggalkan tempat ujian, aku perlu memberinya suntikan energi. Tapi, terlepas dari bagaimana hasilnya di hari pertama, dia bukan tipe orang yang akan langsung tidur tanpa memeriksa jawaban yang diberikan.)
Tepat saat itu, dia merasakan getaran kuat menjalar melalui bangku tersebut.
Seseorang duduk di sebelahnya.
Shokuhou melirik (dengan sedikit rasa jengkel), tapi kemudian terdiam kaku.
Orang itu ada di sebelahnya.
Seorang anak lelaki. Siswa kelas satu SMA. Dengan rambut jabrik?!
(K-k-k-k-kok dia ada di sini?!)
Punggungnya menegang. Wajahnya memerah. Tunggu, tenang dulu. Shokuhou segera mengarahkan remot TV-nya ke beberapa orang yang lewat, mengambil sampel lima sudut pandang, dan memeriksa wajahnya sendiri. Pipinya tidak tampak memerah! Dan matanya juga tidak tampak berputar-putar!!
Bagi Shokuhou, mengambil inisiatif adalah hal yang mudah.
Karena apa pun yang Shokuhou lakukan, Lelaki itu akan melupakannya sesaat kemudian. Hal itu menciptakan rasa percayaan diri yang unik.
Tapi, keadaan berbeda ketika orang itu datang kepadanya.
Tunggu, aku belum siap!!
(Bwah!! Ababwah, apa yang terjadi? Apa ada jebakan mengerikan yang menungguku di sini? Apakah Misaka-san ada di dekat sini? Tidak. Bagaimana dengan anggota geng? Juga tidak. Tapi tunggu, tanpa mereka yang menahanku, aku tidak akan bisa berhenti!!)
Setelah berpikir sejauh itu, Shokuhou Misaki menyadari sesuatu.
Orang itu tidak menatap dirinya.
Shokuhou mengikuti pandangan lelaki itu dan tampaknya lelaki itu tidak memandang sesuatu yang penting. Mobil-mobil yang lewat, beberapa siswa yang berbicara tentang mengambil jalan memutar, robot pembersih berbentuk drum yang menyingkir dari jalan mereka, dan lain sebagainya.
Lalu mengapa anak lelaki berambut jabrik itu duduk di sebelahnya?
Bukan karena dia melihat Shokuhou Misaki dan memutuskan untuk menyapa seorang yang dikenalnya.
Itu tidak akan pernah terjadi.
Lalu apa yang dipikirkan Kamijou Touma saat duduk di bangku ini?
“Permisi.”
Tanpa disadari, Shokuhou dengan ragu-ragu mengajukan sebuah pertanyaan.
Bahkan di antara 2,3 juta penduduk kota itu, dia adalah orang yang sangat langka yang mampu mengubah Level 5 peringkat 5 menjadi tidak lebih dari "seorang gadis". Itu sebabnya Shokuhou bergeser mendekatinya.
Dia tahu ini adalah pertanyaan aneh jika mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
“Tidak ada,” jawab singkat anak lelaki yang lebih tua tanpa menoleh ke arah Shokuhou. “Hanya melihat-lihat kota.”
“…”
Jalan itu tidak diblokir dan tidak ada pawai yang melewatinya.
Pemandangan yang terbentang di hadapannya tak lebih dari sore hari biasa setelah pulang sekolah.
Kamijou Touma menyipitkan matanya dengan lembut dan tidak mengucapkan sepatah kata pun saat dia benar-benar hanya mengamati dunia yang diwarnai oranye. Seolah ingin mengatakan bahwa hari ini dan semua hal yang dibawa setiap hari baru lebih berharga daripada Halloween atau liburan musim dingin.
“Aku tidak bilang bahwa aku telah menjalani hidup yang sempurna.”
Kamijou tidak sedang menatap kosong ke kejauhan.
Suaranya mengandung kelegaan yang tulus karena dapat berbagi dunia ini dengan semua orang.
“Tapi, terlepas dari berapa banyak kesalahan yang aku buat, aku senang aku tidak pernah menyerah.”
Bagi Shokuhou, sepertinya Kamijou sedang menegaskan sesuatu.
Menegaskan kembali bahwa masa-masa membosankan dan hal-hal konyol bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Menegaskan kembali bahwa semuanya bisa hancur jika kita gagal bekerja keras bahkan untuk sesaat. Dan itulah mengapa dia menikmati hari ini yang dibangun di atas fondasi kerja keras tersebut.
Sekolah libur hari ini.
Saat berjalan pulang tanpa kejadian berarti, bahu Kamijou Touma terkulai.
Berita online yang muncul di ponselnya seperti biasa gilanya.
“Berita lalu lintas hari ini: Kemacetan lalu lintas sepanjang 2 km telah terbentuk di jalan utama selatan Distrik 7. Ini adalah akibat dari aktivitas kriminal di dekatnya, sehingga tampaknya tidak akan segera teratasi. Jika terburu-buru, kami sarankan untuk naik kereta.”
“Kami menerima beberapa laporan penampakan sosok misterius di pinggir jalan di hutan pegunungan Distrik 21. Selama musim ujian masuk, cenderung lebih banyak orang mendaki ke puncak untuk berdoa agar teman-teman mereka berhasil dalam ujian, tapi jangan lengah hanya karena gunungnya relatif pendek. Pastikan untuk mengajukan rencana pendakian terlebih dahulu.”
“Tragedi nyata! Ketegangan di dekat stasiun kereta Distrik 7! Waspadai siswa ujian yang mengamuk!!”
“Ugh. Bahkan ada di berita online. Ada seorang pelajar yang mengamuk di depan stasiun dan sendirian merobohkan patung yang biasa dijadikan tempat berkumpul. Kerusakannya sudah melampaui film horor dan mencapai level film bencana. Bisakah aku kembali ke asrama putri di tengah-tengah kaijuu berpendidikan yang berkeliaran?”
Berita yang sama terus bergulir di layar besar kapal udara yang melayang di langit malam. Para reporter jelas menjadi malas jika mereka hanya menyampaikan berita online dan tidak pergi langsung untuk meliputnya.
Tapi karena Kamijou tidak tergabung dalam ekskul apa pun, jadi jika dia terlalu lama berada di sekolah, dia mungkin akan menarik perhatian Anti-Skill atau Judgment. Dia ragu ujian masih berlangsung, tapi mereka mungkin mencurigai dirinya sebagai "teknisi" yang mencoba menyelinap ke ruang kelas yang digunakan untuk ujian besok agar bisa menyembunyikan catatan terlarang atau perangkat mini. Dan kegelisahan tuan kesialan tentang tuduhan palsu semacam itu justru membuat dirinya jadi bertindak aneh dan berujung tertangkap! Jadi sudah waktunya untuk pulang!!
Academy City memiliki sekolah di mana-mana.
Daerah ini terasa begitu sunyi sehingga dia merasa sedikit kesepian. Tidak ada seorang pun di sekitar bahkan setelah sekolah usai.
Apakah itu karena musim ujian masuk?
Kamijou mendengar beberapa suara teriakan di kejauhan. Apakah itu klub olahraga yang sedang jogging di sekitar halaman sekolah? Itu tebakannya, tapi kemudian sekelompok orang yang biasa berada di dalam ruangan membawa banyak peralatan kamera berlari melewatinya dan diikuti oleh Anti-Skill yang mengejar di belakangnya. Mereka berlari dengan kecepatan penuh. Sekilas Kamijou pikir mereka adalah klub manga yang telah memberanikan diri memasuki alam terbuka yang asing untuk mencari foto referensi dan kemudian menyalakan lampu kilat kamera ke arah kabin masinis kereta yang sedang bergerak.
Semua klub ekskul memiliki jadwal yang dipersingkat selama periode ujian masuk, tapi tampaknya beberapa di antaranya melanjutkan kegiatan mereka di luar sekolah. Dan itu bukan hanya klub olahraga.
Kamijou Touma menyadari bahwa dia baru saja menerima kenyataan bahwa ketiadaan klub yang dia ikuti adalah hal yang normal.
Rupanya dia belum pernah berada di tempat seperti itu bahkan sebelum kehilangan ingatan, jadi dia menduga dia memang tipe orang yang tidak bisa bertahan lama dengan sesuatu…
“Bisakah aku kembali ke asrama putri sekarang? Tidak, aku tidak bisa.”
Kamarnya di asrama putri tidak memiliki dapur. Sebuah oven microwave mungkin akan mengubah hidupnya di kamar itu secara signifikan. Tapi pencarian cepat di ponselnya menunjukkan bahwa harga oven microwave telah meroket dengan penambahan fitur-fitur baru seperti memanggang dan membakar roti, jadi membelinya secara impulsif bukanlah pilihan yang bijak.
Begitu sampai di jalan utama, kota itu dipenuhi orang. Mungkin banyak dari mereka yang berkeliaran tanpa tujuan yang jelas seperti dirinya.
“Oh.”
Dia melihat seseorang yang dikenalnya dari belakang di tengah kerumunan.
Seseorang yang sangat dikenalnya sehingga dia tidak perlu melihat wajahnya.
Salah satunya adalah ketua OSIS bertubuh mungil dengan pita berbentuk kelinci di kepalanya. Orang yang berjalan di sebelahnya lebih sulit dikenali dari belakang, tapi kemungkinan besar itu adalah anak lelaki berkacamata.
Mereka berasal dari SMA lain di mana sekolahnya meminjam beberapa ruang kelas yang tidak terpakai ketika sekolah mereka sendiri hancur.
(Sekolah itu juga terasa seperti rumah. Saat aku membayangkannya, rasanya sangat familiar.)
Dia tidak menemukan kesempatan untuk memanggil mereka dan hanya memperhatikan mereka pergi.
Tapi, jika dia perlu berbicara dengan mereka, dia bisa menghubungi mereka melalui ponselnya. Dia tidak memiliki urusan yang cukup mendesak untuk mencari mereka setelah mereka menghilang di tengah kerumunan.
Saat dia memikirkan hal itu, matanya bertemu dengan mata wajah lain yang juga dikenalnya.
Bukan Misaka Mikoto.
Kacamata aneh di kepalanya, ketiadaan ekspresi di matanya, dan perilakunya yang tenang dan kalem membuatnya yakin bahwa dia adalah Misaka Imouto.
Dia adalah kloning militer produksi massal dari Railgun, Level 5 peringkat 3 Academy City. Tapi, para gadis klon itu gagal mencapai daya setingkat dengan originalnya dan terpaksa menjalani kehidupan yang penuh tantangan. Yang satu ini khususnya adalah SISTER dengan Nomor Seri 10032.
Setelah bertatap muka dengannya, Kamijou tidak bisa hanya melihatnya pergi begitu saja seperti yang dia lakukan pada yang lain.
Kamijou kepikiran sesuatu.
Bukankah kemarin Kamijou melihatnya juga di sekitar sini?
“Apa yang sedang kau lakukan?”
“Ini adalah waktu jalan-jalannya si Kuroneko, jelas Misaka.”
“…Sekali lagi, apa yang kau lakukan? Kucing pulang sendiri setelah berpatroli di wilayahnya. Kau tidak perlu mengikatnya dan mengajaknya jalan-jalan.”
“Tapi, dia tidak kembali ke rumah sakit tempat Misaka tinggal, bantah Misaka. Karena dia ini bodoh.”
“Apa itu tanda kasih sayangmu atau cuma penghinaan, Misaka Imouto?”
Kamijou menatap ke kejauhan.
…Apakah gadis ini mengikuti kucing itu saat berjalan melalui gang-gang sempit dan di sepanjang pagar? Kemampuan atletiknya sungguh sia-sia. Mungkin dia memang tidak punya hal lain yang lebih baik untuk dilakukan.
Tapi saat ini…
“Sekarang berdirilah di samping Misaka agar kita bisa berjalan bergandengan tangan, kata Misaka sambil meminta izin dan persetujuan.”
“Mengapa?!”
“Misaka selalu ingin pulang sekolah jalan kaki bersama seorang teman, kata Misaka sambil menjelaskan tujuannya.”
“Baiklah, kalau cuma itu…”
Misaka Imouto mengenakan seragam sekolah, tapi sebenarnya dia tidak bersekolah.
Kamijou mungkin menganggapnya biasa saja, tapi tidak semua orang memiliki kesempatan itu. Jadi Kamijou tidak bisa merampas kesempatan itu darinya ketika kesempatan itu datang.
Tidak semua orang menghargai harta benda dengan cara yang sama.
Tidak semua orang akan merasakan kebahagiaan yang sama ketika diberi berlian raksasa.
Gadis itu ingin pulang sekolah jalan kaki bersama seorang teman.
Beberapa harta memang berbentuk seperti itu. Itu benar.
Kamijou Touma perlu memahami betapa berharganya hal-hal normal, lumrah, dan biasa ini. Karena dia sudah mati untuk melindunginya. Dan kematian itu bukan hanya untuk melindungi jawaban yang sempurna dan tanpa cela.
“Dengan kata lain, ini adalah kencan antara sepasang kekasih, Tidak diragukan lagi.” ucap Misaka Imouto dengan ekspresi tegas.
“Bfff!! Kenapa kau selalu berpikir secara ekstrem?!”
Bocah berambut jabrik itu sangat terguncang, tapi Misaka Imouto tetap bersikap tenang seperti biasanya.
Misaka Imouto merangkul lengan Kamijou dan tidak mau melepaskannya.
Rasanya begitu lembut dan hangat!!
“Kita akan melewati jalan memutar yang mana hari ini? Tak mungkin kita tidak mampir beli jajanan, kan? kata Misaka sambil memeriksa dengan seksama. Hmm, hmm.”
“Apa yang kau maksud 'pulang sekolah jalan kaki' adalah berkeliaran di jalanan selamanya? …Tapi jika kita akan mampir di suatu tempat, mari kita berhenti di toko peralatan rumah. Atau mungkin toko diskon yang menjual barang murah yang fungsinya sudah dikurangi seminimal mungkin.”
“Apa kau mau membeli gadis klon seharga 180 ribu yen?”
“Yang aku maksud itu microwave!!”
Lagipula, siswa kelas satu SMA tidak akan memiliki uang saku sebesar 180 ribu yen.
Untuk melanjutkan hidupnya di asrama putri, Kamijou sangat menginginkan oven microwave di kamarnya untuk memasak makanan kemasan dan makanan beku. Dan sebisa mungkin yang paling murah. Toko mana yang paling bagus untuk dikunjungi?
Saat dia hendak mengubah arah, si kucing hitam itu pun mengeong sambil patuh mengikuti mereka.
Tapi kemudian terjadi ledakan.
Setidaknya begitulah yang terlihat di mata Kamijou.
“Tunggu…”
Kepulan asap membubung di kejauhan.
Tidak, itu mungkin ulah seseorang.
Seorang anak lelaki.
(Kalau dipikir-pikir, bukankah Komoe-sensei pernah menjelaskan bahwa pelajar yang sedang ujian seringkali membuat kekacauan di kota setelah memeriksa jawaban yang dipublikasikan di surat kabar dan online?)
Seseorang mengayunkan tangannya ke sana kemari dan telah membalikkan sebuah truk berukuran sedang yang diparkir secara ilegal di plaza stasiun. Truk itu dihias dengan sangat indah, sehingga kerusakan yang ditimbulkannya memicu keributan yang jauh lebih besar dari yang seharusnya. Inikah ganjaran terhadap truk yang diparkir secara ilegal, orang itu pasti sangat ingin memamerkan rasa keadilannya apa pun yang terjadi. Ketika seorang pria yang tampaknya adalah pengemudi truk keluar dari minimarket, Kamijou menatapnya dengan kaget. Pria itu tidak membawa apa-apa di tangannya. Betapapun mendesaknya, seharusnya pria itu tidak menggunakan kamar mandi toko tanpa membeli apa-apa.
“Hoi, hoi, hoi, hoi, hoi, hoi, hoi!! Apa-apaan ini, dasar pelajar tantrum. Menyerang truk nggak bakal bikin nilaimu naik, tahu?!”
Kemudian Misaka Imouto berbicara, dengan ekspresi tanpa emosi seperti biasanya.
“Jika dia datang ke sini, Misaka akan menembaknya habis-habisan dengan senapan anti-materi 12,7 mm, kata Misaka sambil bersiap membela diri. Menjaga keselamatan kucing adalah prioritas utama Misaka.”
“Itu sudah keterlaluan. Hewan peliharaan mungkin bagian dari keluarga, tapi menurutku hukum tidak mengizinkanmu membunuh seseorang untuk menyelamatkan seekor kucing. Lagipula, merakit senjata ilegal tidak dihitung sebagai pembelaan diri!! Kau sebenarnya tidak punya senjata, kan? Tolong katakan padaku kau tidak membawa senjata ilegal. Tatap mataku dan katakan padaku, Misaka Imouto!”
Lagipula, bukankah ketua osis kelinci dan anak lelaki berkacamata itu berjalan ke arah sana? Dan tepat sebelum kejadian? Mereka tidak terjebak dan mati, kan?!
Sesuatu terbang di atas kepala Kamijou dan menuju ke pusat permasalahan. Mungkin itu adalah drone kamera milik seorang penyiar berita amatir. Mengoperasikannya di daerah padat penduduk itu melanggar aturan, jadi wartawan profesional sebenarnya tidak akan melakukannya. Seseorang yang fokus pada jumlah penonton sampai tak peduli aturan adalah hal yang menakutkan.
Dan lensa kamera yang kurang ajar itu pasti telah membuat marah pelajar yang sedang mengamuk karena suara-suara kehancuran mulai semakin keras.
Semakin besar beritanya, semakin baik bagi penyiar berita, jadi mungkin itu memang disengaja. Kamijou hanya berharap mereka tidak melibatkan orang-orang sekitar.
Kamijou tadinya berharap bisa mampir ke toko diskon terdekat untuk mencari microwave super murah, tapi sekarang dia harus putar balik. Dia tidak ingin mendekati zona bencana yang penuh dengan kematian dan kehancuran. Robot keamanan berbentuk drum sebenarnya tidak lebih dari kamera keamanan bergerak, jadi mereka tidak banyak berguna ketika warga kota terjebak dalam masalah fisik.
(Yah, ini terjadi di dekat stasiun kereta, jadi seharusnya di sana ada kantor Anti-Skill.)
“Ini Anti-Skill!! Angkat tanganmu dan tiarap! Dengan begitu banyak kamera yang mengawasimu, kau tidak akan bisa lolos!”
Kamijou menghela napas lega ketika salah satu penegak keadilan datang berlari dan meninggikan suaranya.
Tapi, esper yang mengamuk itu tiba-tiba mengubah arah.
Tatapan mata Kamijou bertemu dengan tatapan mata anak lelaki Jepang itu.
Dan jika penjahat yang melarikan diri itu menatap langsung ke arahnya… tunggu? Apakah dia akan menghampirinya?!
“Aku tahu kalau area depan stasiun itu berbahaya karena banyak orang… tapi tolonglah, Anti-Skill!! Jalan gang kecil kan ada banyak, kenapa dari sekian banyak pilihan kalian malah mengarahkan penjahatnya ke sini sih?!”
Apakah ini akibat dari kesialan Kamijou?
Anak lelaki yang berlari itu berteriak sambil meludahi Kamijou.
“Hoi, minggir, tolol!!”
Fakta bahwa Kamijo entah bagaimana memahami kata-kata yang tak bermakna itu sungguh ironis dan memilukan. Apakah ini berarti dia sama dengan anak lelaki itu?
Esper yang mengamuk itu mengangkat lengan kanannya dengan kuat. Gerakannya lebih mirip mengayunkan benda tumpul besar daripada melayangkan pukulan.
Poni bocah berambut jabrik itu terangkat.
Karena udara telah bergerak di depannya. …Benarkah itu sesuatu yang bisa diangkat hanya dengan satu lengan?
“Uhh.”
Mata Kamijou terbelalak.
Nyawanya berada dalam bahaya.
(Kemampuan macam apa itu? Dia membalik truk dengan tangan kosong, tapi apa boleh aku asumsikan sebagai peningkatan fisik? Jika kemampuannya benar-benar telekinesis, maka bisa saja dia menggunakannya sebagai proyektil.)
“Tidak?!”
Kamijou mendorong Misaka Imouto menjauh.
Terdengar suara dari atas kepala mereka.
Kamijou berguling-guling di tanah bersama si gadis klon. Ke samping. Saling bergantian posisi.
Kemudian petugas Anti-Skill yang mengejar perusuh itu pun merogoh sarung pistolnya dan mengeluarkan sebuah pistol yang berisi peluru karet.
“Oh, tidak. Aku tidak bisa membiarkan dia melukai warga sipil. Eh heh heh. Aku tidak punya pilihan selain menembaknya!!”
“Bahaya, dasar bodoh!! Kenapa kau malah menembak?! Dan kenapa kau terlihat senang?! Ini seharusnya jadi negara yang damai!!”
Karena ketakutan mendengar suara tembakan, pelajar yang mengamuk itu melompat-lompat dan bergerak ke samping.
Hal itu membawanya langsung menuju Kamijou dan Misaka Imouto.
Berkat tindakan Anti-Skill yang tidak perlu (sambil menikmati tugas resmi ini), esper yang mengamuk itu langsung menuju ke arah mereka walau mereka telah menghindar sebelumnya.
Jangan lompat-lompat segala! Kau itu bukan karakter bertema kelinci, dasar pelajar tantrum!!
Kamijou tidak bisa membiarkan si gadis klon atau si kucing hitam terlibat dalam hal ini!!
Saatnya melakukan hal yang biasa: menempatkan dirinya dalam bahaya untuk memastikan semuanya berjalan lancar.
“Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh, sialnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!”
Waktu sepulang sekolah sama untuk semua orang.
School Garden juga berada di dalam Distrik 7, jadi sama sekali tidak aneh jika siswi SMP bernama Misaka Mikoto berada di sana sambil memegang ponsel.
“Onee-sama,” kata suara di ponselnya. “Sebaiknya kau pulang lebih awal hari ini.”
“Apa yang terjadi, Kuroko? Manajer asrama baru saja melakukan inspeksi dadakan, jadi seharusnya situasinya masih aman untuk sementara waktu.”
“Soalnya tidak ada hal baik yang pernah terjadi saat kau bertemu dengan acara-acara besar seperti Halloween atau kunjungan kuil di Tahun Baru. Dan kebetulan Judgment memiliki tugas untuk mencegah insiden sebelum terjadi.”
“Kalau kau bicara seperti itu, kau pikir aku akan mendengarkan peringatanmu?”
Dia menutup telepon, dengan ekspresi datar.
Dia adalah level 5 peringkat 3 Academy City dan sangat mahir mengoperasikan elektronik. Tidak mungkin Shirai Kuroko bisa menggunakan data GPS untuk melacaknya.
(Ujian masuk, ya?)
Dia memang sempat berpikir demikian saat melihat papan iklan makanan ringan dan minuman olahraga yang tampak seperti jimat keberuntungan aneh untuk ujian. Ujian masuk adalah tentang masa depan. Memikirkannya membuatnya khawatir. Tapi dia tidak punya siapa pun yang bisa diajak berdiskusi soal ini. Shirai memang sesama siswi Tokiwadai, tapi siswi kelas dua dan satu memiliki pandangan yang sangat berbeda.
Dan dia lebih memilih mati daripada curhat tentang sisi lemahnya ini kepada si monster pencuci otak berdada besar.
“Hm.”
Ujian masuk masih relevan untuk siswi kelas dua SMP.
Para siswa-siswi kelas tiga saat ini sedang mengalami masa sulit dan tahun depan akan menjadi gilirannya. Dia akan mendapat masalah jika tidak segera mulai memikirkan rencana masa depannya. ...Dia akan berakhir seperti si gadis berambut ikal dan berdada besar.
Tentu saja, Railgun, Level 5 peringkat 3 Academy City, punya lebih banyak pilihan. Dia mungkin tidak perlu mengikat dirinya ke meja dan belajar berjam-jam. Dia bisa masuk ke sekolah-sekolah terbaik, termasuk Akademi Nagatenjouki dan Akademi Putri Kirigaoka, hanya dengan rekomendasi.
Jadi, bukan itu yang membuatnya khawatir.
Masalah yang paling banyak menyita pikirannya adalah sesuatu yang sama sekali tidak dianggap penting oleh orang lain.
“…”
Dia memikirkan sekolah yang jauh dari pilihan-pilihan elit itu. Dia memikirkan tentang sekolah SMA campuran biasa.
Tentu saja, dia bimbang apakah dia benar-benar boleh menentukan jalan hidupnya berdasarkan hal ini.
Tapi, tanpa memiliki rencana pekerjaan spesifik untuk masa depan, dia tidak bisa mengatakan dengan jelas sekolah mana yang tepat untuknya.
Ini tentang masa depannya.
Apa yang ingin diraih oleh si peringkat 3 Academy City dan ke mana dia ingin pergi?
Dan saat dia merenungkan hal itu, dia mendengar sesuatu.
“Apa sih?! Aku tidak punya masalah denganmu, kenapa kau menghalangi jalanku, dasar tolol?! Hentikan!!”
“Kenapa aku harus disebut tolol oleh penjahat yang membuat masalah hanya karena dia mendapat nilai jelek?! Hanya karena aku sial, apa aku juga harus diejek oleh orang sepertimu?!”
Mikoto tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“A-apa yang sedang dia lakukan?”
Seseorang menerjang dan mulai menarik-narik kaki penjahat yang sedang melarikan diri.
Apa dia pikir dia adalah Youkai bernama Sunekosuri?
|Siluman berbentuk kucing keanjing-anjingan yang suka menahan kaki seseorang.
Jika ini terus berlanjut, dia pasti akan ditendang seperti bola sepak.
Listrik pun mulai menyebar dari poni Mikoto.
“Ahhh, yang benar saja?!”
Cahaya berkedip dan suara menggelegar.
Jauh lebih dahsyat dari kejadian sebelumnya.
“………………………………………………………………………………………Seriusan?”
Kamijou Touma menyaksikan semuanya dengan linglung.
Pelajar yang mengamuk itu telah tumbang.
Si gadis biribiri dari Tokiwadai itu ternyata berhasil menumbangkan pelajar tantrum yang seperti kaijuu! Hanya dengan satu tangan?!
Apa Kamijou berhasil selamat?
Kalau soal memberikan tembakan bantuan, si Peringkat 3 memang benar-benar bisa diandalkan. Walaupun terkadang koin itu tidak selalu terbang untuk membantunya.
Gadis itu berbicara dengan suara yang sangat pelan.
Kedengarannya tidak mengenakkan.
“…Apa yang kau lakukan?”
“Apa maksudmu?”
Kemudian Kamijou pun mulai sadar.
Misaka Imouto tergeletak tak berdaya di trotoar. Terlentang. Dan Kamijou berbaring tepat di atasnya. Gadis klon itu seharusnya terlihat persis seperti yang original dalam segala hal, tapi entah mengapa dia tidak mengenakan celana pendek di balik rok seragam Tokiwadai-nya. Bagaimana Kamijou tahu dia tidak mengenakannya? Karena roknya tersingkap dengan sangat mencolok.
Kepala Misaka Imouto jatuh miring, matanya yang kosong bergerak ke arah yang tak tentu.
Tapi itu bukan karena Kamijou telah melakukan sesuatu yang tidak pantas. Matanya memang tidak pernah bersinar. Tapi, hal itu tetap membuat situasi sangat mudah disalahartikan.
Air mata pun menggenang di mata Kamijou.
“Tunggu. Tunggu, tunggu.”
Um, aku selalu penasaran mengapa rok Tokiwadai sangat pendek padahal itu salah satu sekolah ojou-sama paling bergengsi di Academy City. Yang kulakukan hanyalah mencoba menyelamatkannya, tapi rok itu malah sama sekali tidak menutupi pola garis-garis kain dibaliknya!!
Namun tak satu pun dari pikiran-pikiran itu terucap dari mulut Kamijou.
Seorang gadis dengan wajah yang identik pun gemetaran.
Ya, dia memang 'menyetrum' seperti biasa.
Kamijou menatap ke kejauhan sambil mendengar suara gemerisik yang sangat mirip dengan suara udara yang terbelah.
Ini mungkin jauh lebih kuat daripada saluran listrik yang terbentang di atas rel kereta api.
“Ini sudah keterlaluan. Sebagai kakak perempuannya, aku tidak bisa mengabaikannya…”
“Oh, si kuroneko kabur. Misaka tidak boleh kehilangan jejaknya, Misaka harus mengejarnya, kata Misaka sambil menarik lenganmu dan mulai bergerak. Mencoba menunjukkan daya tarik Misaka dengan banyak melakukan kontak fisik.”
Hewan itu mungkin melarikan diri dari gelombang elektromagnetik yang tersebar di sekitarnya akibat si peringkat 3.
Dan jika mereka pergi sekarang, mungkin pandangannya terhadap Kamijou akan semakin buruk!
“Kalau kau lari, artinya kau memang sadar kau bersalaaaaaaaaaah!!!”
“Bukan begitu, soalnya petir yang diciptakan secara ilmiah sedang mengejarkuuuuuuuuuuuu!!!”
Kejar-kejaran yang menyedihkan pun telah dimulai.
Sama seperti gim horor stealth di mana kita hanya bisa lari dari karakter bos yang tak terkalahkan. Dan itu adalah tipe gim di mana pengejarannya dimulai setelah bos yang tak terkalahkan itu melihatmu! Itu adalah gim dengan banyak adegan berdarah yang menjijikkan!!
Entah bagaimana Kamijou berhasil melarikan diri☆
“Tapi benarkah begitu? Kuharap ini bukan situasi di mana akan muncul sebuah serangan kejutan setelah kita merasa lega.”
….Misaka Mikoto seharusnya adalah seorang siswi SMP, tapi mengapa Kamijou membayangkan situasi ini seperti sebuah adegan dari gim horor? Lebih spesifiknya, gim di mana kita menjelajahi desa terbengkalai tempat semua penduduknya menghilang secara misterius.
Dia menyadari bahwa si Misaka Imouto dan si kucing hitam tidak bersamanya.
Apakah Mikoto juga mengejar mereka?
(Yah, aku yakin dia tidak akan kasar pada adiknya. Atau pada si kucing.)
Meskipun begitu, Kamijou merasa sang monster esper peringkat 3 masih berkeliaran di suatu tempat di dekatnya, tapi tampaknya Kamijou telah masuk ke dalam titik buta yang tak terduga.
Asrama putri.
Itu masuk akal. Jika Mikoto tidak mengetahui keadaan di sekolahnya, bagaimana mungkin dia bisa memprediksi bahwa anak lelaki seperti dia akan melarikan diri ke sini?
(Aku hanya berharap dia tidak memakai kemampuan peretasannya untuk menemukan kebenaran.)
Kamijou berdoa kepada sesuatu yang tak terlihat sambil bersembunyi di depan pintu masuk yang terkunci secara otomatis.
Meskipun dia takut karena harapan tampak begitu rapuh, dia tetap berdoa.
Selain itu, meski asrama putri memiliki pintu masuk otomatis yang berkilauan, tapi rupanya ada lorong rahasia di mana-mana. Misalnya, dia bisa meninggalkan asrama dengan memanjat jendela area istirahat di lorong lantai dua dan menuruni salah satu pohon yang tumbuh di sepanjang trotoar. Mengapa ada rute seperti itu? Karena sejumlah besar gadis tiba-tiba merasa ingin bernyanyi sekeras-kerasnya di tengah malam, jadi mereka membutuhkan cara untuk keluar dan berkaraoke!! tapi jika mereka menggunakan pintu masuk utama, mereka akan meninggalkan jejak berupa catatan keluar-masuk.
(Ternyata, hasrat untuk melanggar aturan bukan hanya ada pada anak lelaki saja.)
Sekolahnya memang sangat berbeda dari sekolah bergengsi seperti Tokiwadai.
Fase pemberontakan tampaknya penting untuk mengembangkan kepribadian, tapi apakah memanjat naik turun pohon seperti monyet setiap malam benar-benar baik untuk kesehatan mental kita? Kayaknya itu sudah sangat menyimpang.
Kamijou membuka pintu masuk otomatis dan masuk ke dalam.
Tidak ada alasan untuk terburu-buru, jadi dia memutuskan untuk memeriksa sesuatu yang selama ini membuatnya penasaran.
Rupanya...
Ada seseorang yang tidur dengan perut terbuka.
“…”
Ingatannya tidak terputus.
Urutan kronologis kejadiannya dapat disusun secara teratur di dalam kepala Kamijou Touma.
Siapakah wanita itu?
Kamijou penasaran seperti apa ruang makan di luar jam makan. Dia tidak melihat tanda "dilarang masuk" di pintu masuk, jadi dia mengintip ke dalam dan tiba-tiba muncul pertanyaan besar.
Seorang wanita muda, mungkin berusia sekitar dua puluhan, berbaring telentang di atas tiga kursi ruang makan yang berjajar rapi.
Dia mengenakan baju turtleneck rajut dan rok pendek. Telinganya dipenuhi tindikan. Dia pasti memasang tindikan sesuka hatinya karena jumlah tindikan di setiap telinga tidak sama.
Dia mengenakan sandal berbulu.
Rambutnya yang lebat tampak seperti telah diwarnai pirang, tapi saat ini diikat ke belakang dengan bandana. Sepertinya dia tertidur di tengah bersih-bersih. Tapi apa yang dilakukan seorang wanita dewasa di asrama anak SMA? Itu membingungkan.
Dia tampak seperti tipe gyaru pucat yang tidak pernah mengunjungi salon tanning kulit.
Mungkin karena pusar yang terlihat dan rok pendeknya, jadi dia agak mengingatkan Kamijou pada seorang pemandu sorak.
Mulutnya terbuka lebar.
Dia sedang menikmati tidur siangnya.
Celemek yang terlipat di atas meja panjang di dekatnya mengingatkan Kamijou pada sesuatu. Begitu pula kain lame dan manik-manik yang berkilauan di kuku yang dicat.
…Apakah dia wanita yang bertugas di ruang makan? Yang biasanya bekerja di toko bento?
Kamijou benar-benar terkejut mendapati kalau wanita itu ternyata tampak seperti ini.
(Itu bukan urusanku.)
Selimut terjatuh ke lantai di sampingnya.
Yang berwarna biru.
Itu tampak familiar. Bukankah itu sama dengan yang Kamijou pakai saat bangun tidur pagi ini?
“Jadi dia yang memberikannya padaku.”
Memang bukan urusannya, tapi Kamijou perlu berterima kasih padanya. Kamijou tidak ingin membangunkannya hanya untuk itu, jadi dia tidak bisa melakukannya kali ini.
Selain itu, sekarang Kamijou tahu bahwa ruang makan tidak buka di luar jam operasional. Rupanya dia tidak bisa begitu saja mampir dan mengambil seporsi kecil soba untuk camilan. Padahal kalau bisa, pasti akan sangat praktis, tapi ya sudahlah, mana mungkin bisa disamakan dengan restoran gyudon atau restoran keluarga yang buka 24 jam.
Kamijou diam-diam keluar dari ruang makan agar tidak membangunkannya.
Lift selalu ramai di malam hari, jadi Kamijou menggunakan tangga darurat sebagai gantinya. ...Dia tidak suka bagaimana hal itu membuatnya merasa terasingkan.
“Dengarin deh. Kalian semua mau makan apa malam ini? Mau bikin menu bareng Maou Mayu-chin?”
Beberapa kelompok telah terbentuk di sudut-sudut lorong.
Mereka mungkin adalah anak lelaki yang mengalami kerusakan parah akibat kekuatan sebenarnya dari para gadis. Suara sopran yang terdengar palsu terdengar dari ponsel mereka yang berorientasi horizontal. Semoga mereka tidak begitu putus asa sehingga mengirimkan banyak uang ke avatar 3D bergaya anime itu.
Dan seseorang mendekat dari tangga darurat.
“Kamijou?”
Fukiyose Seiri memegang ember plastik besar di tangannya. Entah dia sedang mendinginkan sejumlah minuman botol atau kaleng dalam air es atau sedang membuang tumpukan sampah di gang belakang, itu sudah cukup untuk mengungkapkan tipe orang seperti apa dirinya. Intinya adalah ember biru itu memiliki tutup dan cukup besar untuk bersembunyi di dalamnya jika dipaksa.
“Ya, pasti muat sih.” komentar Kamijou tanpa berpikir.
“?”
Fukiyose memiringkan kepalanya dengan bingung, tapi Kamijou tidak mengatakan apa pun lagi karena dia tahu dia akan mendapat masalah jika gadis itu menyadari maksudnya. Memegang ember plastik raksasa rupanya bisa membuat payudara seorang gadis terangkat.
“Jadi apa yang kau lakukan? Kukira kita akan kena masalah kalau meninggalkan sampah di luar sepanjang malam.”
“Ini bukan sampah. Aku sedang membersihkan sesuatu dan butuh pijakan. Ini agak tidak rata, jadi bisakah kau pegangi dari bawah supaya tidak goyang?”
“Membersihkan apa?”
Apakah itu sebabnya tutup ember itu ditutupi kain kering?
Kalau kamarnya sendiri sih masih masuk akal, tapi emang siapa coba yang mau membersihkan lorong? Menurut Kamijou, itu seharusnya menjadi pekerjaan robot pembersih berbentuk drum.
Fukiyose menyesuaikan posisi ember sambil menatap langit-langit dan menghela napas kesal.
“Robot-robot itu hanya membersihkan lantai. Jika kita tidak membersihkan bagian lainnya, debu-debu bisa berjatuhan ke kepala. Memangnya kau mau?”
Maka Fukiyose berniat untuk naik ke atas ember raksasa dan membersihkan langit-langit. Lampu neon adalah prioritas utamanya.
“Aku juga ingin mencoba Ultra Electroduster ini. Alat ini menggunakan listrik statis untuk menciptakan semburan plasma yang akan mengumpulkan semua debu hanya dengan sekali usap. Aku ingin lihat alat ini bekerja.”
“Lagi-lagi beli barang aneh lewat olshop, ya?”
Jika kita harus mencari kesempatan untuk memakainya, sepertinya barang itu memang tidak terlalu berguna dalam kehidupan sehari-hari.
“Lagian, kenapa tidak cari tangga lipat aja sih?” Kamijou tampak sedikit khawatir. “Bagaimana kalau kau terperosok ke dalam ember tipis ini?”
“Kenapa aku harus mengkhawatirkan hal itu?” tanya Fukiyose dengan kebingungan yang jujur.
Kamijou teringat bahwa perempuan itu seringan permen kapas.
Jika Tuan Kesialan yang tegap dan berat mencobanya, dia yakin dia akan langsung terperosok.
“Oke.”
Gadis berambut hitam itu meletakkan tangannya di atas ember dan naik ke atasnya dengan berlutut.
Tapi, itu adalah ember yang ringan.
“Goyang sekali… Kamijou, pegangin.”
“Ehh? Aku tidak akan memeganginya seharian, kan?”
Kamijou tetap menurut meskipun mengeluh, jadi mungkin dia sudah tidak bisa mundur.
Kamijou meletakkan tangannya di atas tutup ember dan menumpukan berat badannya di atasnya.
Hal itu cukup menstabilkan posisi Fukiyose sehingga dia bisa perlahan-lahan meluruskan kakinya. Kamijou secara alami mengikuti gerakan itu dengan matanya, tapi kemudian Kamijou dengan cepat mengalihkan pandangan. Oh, benar. Dia masih mengenakan seragam sekolah, yang berarti dia masih memakai rok.
“Wah, hei. Masih goyang-goyang. Kamijou, pegang lebih kuat— hiik!”
Rupanya bergoyang diatas ember itu itu cukup menakutkan.
Tangisannya terdengar mulai tak karuan.
“Kenapa kau malah memalingkan muka? Makanya jadi tidak stabil. Lihat ke sini dan fokuslah!”
“Tidak bisa, ada alasannya!”
“Aku bilang, lihat sini! Kalau kau tidak fokus, ini akan terus bergoyang. Kau perlu menumpukan berat badanmu, jadi kau harus lihat ke sini!!”
“Baiklah, kalau kau masih bersikeras.”
…Kamijou jadi bertanya-tanya mengapa seorang gadis mau melakukan pekerjaan semacam ini sambil mengenakan rok. Apa karena ini asrama putri?
Kemudian Fukiyose mulai memperhatikan sesuatu.
Kemudian menghentikan kegiatan bersih-bersihnya.
“...Kamijou.”
“Ya?”
“Mengapa kau menatapku?”
“Seorang teman sekelasku akan sangat marah jika aku tidak menuruti perintahnya, jadi aku tidak punya pilihan lain.”
Fukiyose pun menginjak wajah Kamijou.
Dengan sepatu dalam ruangan yang dia kenakan.
Malam telah tiba.
“Hm, hm, hmmm. Waktunya mandi, waktunya mandi, byur!!”
“Hei, berhenti, bodoh! Ombak besarnya hampir membalikkan baskom mandiku!”
Index dan Othinus sedang mandi. Bak mandinya kecil, tapi dewa setinggi 15 cm itu masih bisa tenggelam di dalamnya, jadi dia tampaknya harus berkreasi. Tapi, bisakah dia benar-benar mengatasinya? Dia hanya berharap kecerobohan tidak membuatnya hanyut ke dalam saluran pembuangan.
Kucing belacu itu meringkuk di tempat terbaik di dekat pemanas. Rupanya dia benar-benar telah meninggalkan sisi nokturnalnya.
Kamijou Touma memanfaatkan waktu luangnya untuk berbicara dengan keluarganya melalui ponsel.
Mereka telah menghubunginya.
Mereka sama sekali mengabaikannya ketika dia berada di asrama putra, jadi mengapa tiba-tiba mereka berubah?
“Sebagai ibumu, Ibu sangat khawatir tentangmu yang tinggal di asrama putri, Touma-san. Ibu harap kau tidak menimbulkan banyak kehamilan.”
“…”
Ibunya memang khawatir, hanya saja bukan padanya.
Seperti biasa, gaya pengasuhannya yang sangat acuh tak acuh menunjukkan tidak adanya kepedulian terhadap putranya.
“Mengikuti tren digital memang hal yang bagus, tapi ibu seharusnya tidak mencoba menjadi Maou di usia ibu yang sekarang. Tenggorokan ibu jadi sangat serak… Sebaiknya ibu mulai mengatur nada suara ibu dengan pengatur volume ketimbang meninggikan suara ibu.”
“?”
Setelah berpikir sejenak, rasa dingin menjalari punggung Kamijou. Dia teringat pada Maou Mayu-chin, dengan suara manisnya, tubuh 3D kecilnya, dan kostum succubus-nya yang telah memikat hati para siswa SMA di seluruh dunia… tapi tentu saja dia bukan ibunya sendiri, kan?
Setelah panggilan dari ibu yang tak terkalahkan itu berakhir, Kamijou menutup telepon.
Dia masih bisa mendengar suara pancuran air mengalir.
Menunggu Index dan Othinus keluar dari kamar mandi akan membuang waktu, jadi dia ingin menyelesaikan beberapa PR yang menumpuk. Mengikuti kelas di siang hari dan mengerjakan pekerjaan rumah di malam hari sangat melelahkan.
“Yang bisa kulakukan sekarang… kurasa mencuci pakaian.”
Lalu dia mengambil keranjang yang penuh dengan cucian dan berjalan ke pintu depan.
Kucing yang meringkuk itu melompat. Dia tahu kucing itu sedang merencanakan pelarian, jadi dia menggunakan kakinya untuk menghalangi si kucing saat melangkah sendirian ke lorong.
“Fiuh.”
Sunyi.
Asrama putri memang memiliki jam malam di mana kita tidak diizinkan meninggalkan gedung, tapi pergerakan di dalam gedung relatif tidak terbatas. Jadi Kamijou berjalan diam-diam di tengah kegelapan.
“Ups.”
Dia menahan napas dan perlahan bersembunyi di balik pilar terdekat.
Dia merasakan kehadiran seseorang.
Tidak jauh dari situ dia melihat…
(Ada seorang gyaru dewasa. Yang dari ruang makan. Kukira dia bekerja di toko bento, jadi apa yang dia lakukan di sini selarut ini?)
Dia telah menyelimuti Kamijou di malam hari. ...Kalau dipikir-pikir, itu aneh. Dia juga pernah mendengar desas-desus bahwa wanita itu sering mengapung telanjang di bak mandi besar ketika tidak ada hal lain untuk dilakukan, jadi apakah dia menganggap ini sebagai rumah keduanya? Bisa jadi dia telah pindah ke kamar kosong di suatu tempat.
“Kalau begitu, sebaiknya dia bisa jadi manajer asrama sungguhan. Surga ada di sana, jadi kenapa dia tidak meraihnya?”
Apakah gyaru itu sedang berpatroli di malam hari?
Kamijou lupa mengucapkan terima kasih atas selimutnya saat makan malam, tapi jika dia mendekatinya sekarang, dia mungkin akan memarahinya dan menyuruhnya kembali ke kamar. Membiarkannya lewat dan berterima kasih padanya besok pagi mungkin jadi pilihan terbaik. Tidak ada yang lebih bodoh daripada pergi berterima kasih kepada seseorang yang telah menyelamatkan hidupnya tapi malah membuatnya kesulitan.
(Mereka bahkan menugaskan orang dewasa untuk berpatroli pada malam hari. Asrama putri memang berbeda.)
Atau mungkin kebebasan mutlak di asrama putra itulah yang tidak biasa.
Kamijou mendengar nada elektronik yang lembut.
Itu suara lift yang terbuka dan tertutup.
Setelah menunggu hingga tak lagi merasakan kehadirannya, Kamijou pun lanjut bergerak.
Kamijou tiba di sebuah ruangan yang kedua dindingnya dipenuhi mesin cuci tipe drum. Ruangan itu diterangi seterang rumah sakit. Dan mesin cuci itu terbagi menjadi dua tingkat, ditumpuk di atas yang lainnya.
Layar LCD kecil di sebelah pintu bundar itu menunjukkan bahwa pintu tersebut dapat dikunci dengan kode angka.
Tempat itu mirip dengan tempat loundry umum, hanya saja gratis.
“Ruang cuci, ya?” kata Kamijou setengah kesal sambil membawa sejumlah besar cucian.
Sama seperti ruang makan, asrama putri memiliki berbagai fasilitas yang tidak dimiliki asrama putra. Rasanya tidak adil karena mereka semua bersekolah di sekolah yang sama!!
(Tapi kurasa memang begitulah kehidupan di asrama. Fokusnya adalah melindungi para gadis, jadi asrama putra hanya ada sebagai "tempat untuk menempatkan para lelaki agar mereka terpisah dari para gadis".)
Lagipula, dia tidak familiar dengan mesin cuci buatan pabrikan ini. Itu sedikit menakutkan. Dia tahu dia hanya perlu memasukkan cuciannya ke dalam, menutupnya, dan menekan tombol, tapi matanya tertuju pada label peringatan di mesin itu.
Pertama, dia meletakkan keranjang cuciannya di lantai dan duduk di bangku.
Ada botol deterjen raksasa di lantai… tapi apakah itu untuk isi ulang? Labelnya bertuliskan Miracle Enzyme Z. Dengan tulisan besar dan terang. …Apakah Fukiyose membelinya secara online dengan uangnya sendiri dan meninggalkannya di ruang cuci?
(Enzim katabolik baru yang telah disempurnakan agar mampu menghilangkan noda minyak membandel bahkan pada kipas ventilasi sekalipun… Jika aku menggunakannya pada pakaianku, apakah pakaianku akan menjadi putih bersih?)
Sebuah majalah yang tampak seperti manga tergeletak di salah satu ujung bangku. Seseorang pasti membacanya sembari menunggu lalu meninggalkannya di sini.
“Apa ini?”
Kamijou Touma cukup familiar dengan budaya Jepang jadi dia tahu soal manga… tapi dia belum pernah mendengar tentang majalah manga ini sebelumnya. Daftar judul yang panjang tertera di sampulnya, tapi dia hanya fokus pada judul manga yang tergambar di sampul tersebut.
Yuri—
Kamijou dengan cepat menutupi sampulnya dengan selimut yang ada di dekatnya.
Dia menyembunyikannya.
Tunggu.
Sekadar memastikan, sekarang dia sedang berada di asrama putri, kan?
Jadi, ini mungkin bukan majalah shounen. Dan target pembacanya mungkin sedikit lebih dewasa daripada manga shoujo. Apakah ini benar-benar sesuatu yang pantas dibaca oleh seorang anak lelaki yang belum cukup umur?
“……………………………………………………………………………………………………………………………”
Benda apa itu? Kamijou tergoda untuk menyingkirkan selimut dan melihat isi majalahnya, tapi dia tidak bisa.
Tekanannya terlalu kuat.
Dia merasakan rasa sakit yang menusuk kulitnya.
Tidak, itu hanya sebuah majalah dan tidak memancarkan energi apa pun.
Dia baru menyadari apa yang dirasakannya belakangan.
Dia merasa gugup.
(Tidak mungkin. Kamijou-san punya darah otaku yang mengalir di nadinya… tapi aku terlalu takut untuk melakukannya!)
Jika ini manga 4koma yang ceria tentang sekelompok gadis, dia bisa membacanya, tapi apakah ini benar-benar termasuk dalam kategori ringan seperti itu? …Kamijou rasa tidak. Gadis sungguhan tidak seperti itu. Dia mengharapkan sesuatu yang berbeda. Bagaimana jika ini adalah iklan yang sering muncul saat dia menonton video di ponselnya? Kerusakan psikologis akan terlalu besar jika itu adalah manga di mana seorang wanita kantoran berpenampilan biasa jatuh cinta pada seorang host dan terpuruk ke titik terendah. Meskipun ada kata Yuri di judulnya, bisa jadi isi ceritanya tentang seorang wanita kantoran biasa yang naksir dengan seorang host yang mencolok.
Walau tetap saja ada yuri-nya?
Majalah itu tampaknya hanya memuat jenis manga seperti itu, tapi kenapa bisa ada di sini, di asrama putri?
“…”
Hal berikutnya yang menarik perhatian Kamijou adalah sebuah bau.
Bau itu berasal dari selimut yang dia gunakan untuk menutupi majalah tersebut. Baunya samar namun familiar. Ya, baunya persis seperti selimut biru yang dia pakai saat bangun tidur di pagi yang sangat dingin!
Selain itu, agak aneh menemukan selimut tergeletak di ruang cuci.
Mengapa benda itu ada di sini?
Jika memang tidak seharusnya berada di sini, apakah mungkin benda itu terlupakan di sini oleh orang yang sama dengan orang yang menyimpan majalah tersebut?
“Hm? Kalau begitu… apakah wanita di ruang makan itu yang telah meninggalkannya di sini?”
Sebaiknya kita berhenti memikirkan hal ini.
Nalurinya bergemuruh. Setidaknya begitulah yang dirasakannya. Hal ini mengubah pandangannya terhadap wanita yang katanya sering mengapung di bak mandi besar pada siang hari dan berkeliaran di asrama pada malam hari…
“Tunggu. Tidak, tidak, tunggu.”
Dia harus memikirkan ini secara rasional. Nemu beginian di asrama putri pasti bikin jiwa kepo ngacir secepat kecepatan suara, tapi itu hanyalah darah otaku-nya yang berkecamuk. Dia perlu mundur dan mensimulasikannya. Jika dia meninggalkan majalah itu di sini, pemilik majalah itu jelas tidak berusaha menyembunyikan minatnya. Yang berarti dia tidak terlalu serius soal hal itu. Ha ha ha. Rasanya seperti melihat identitas asli hantu. Jika ini ditujukan untuk pembaca yang lebih kasual, maka tidak ada yang salah jika dia melihat isi majalah Yuri itu—
“Kamijou? Apa yang kau lakukan di sini?”
“Uwah?!”
“?”
Tatapan curiga dari pintu masuk menusuk jantungnya.
Itu adalah Fukiyose Seiri.
Fukiyose tidak membawa keranjang atau tas penuh cucian, jadi apakah dia datang ke sini untuk mengambil cuciannya yang bersih?
Saat itu, Fukiyose mengenakan pakaian olahraga unisex berwarna cerah. Kamijou tidak tahu apakah itu pakaian santai atau pakaian tidur, tapi itu pemandangan baru bagi Kamijou yang selalu melihatnya mengenakan seragam sekolah.
Saat itu pukul 10 malam di hari kerja.
...Bertemu dengan teman sekelas perempuan di saat-saat begini rasanya sudah seperti mimpi.
Tapi, Fukiyose tampaknya tidak terlalu mempermasalahkannya. Baginya, itu hanya seperti orang asing yang masuk ke dalam kehidupannya yang biasa.
Teman sekelas berambut hitam itu memandangi Kamijou seolah dia adalah makhluk aneh.
“Kenapa kau cuma duduk-duduk di ruang cuci? Kan bisa pakai notifikasi untuk tahu kapan cucianmu selesai, jadi kau bisa bersantai di kamar dan mengambilnya dalam dua jam. Apa kau takut ketiduran?”
“Tidak, aku cuma tak sengaja melamun… soalnya tempat ini terlalu mirip tempat loundry.”
“Hm.” Fukiyose mulai menerima kenyataan itu, tapi kemudian dia terdiam kaku. “Eh, apa kau tipe orang yang suka melihat pakaian dan dalaman perempuan berputar-putar di mesin cuci?”
“Hei, kok malah ke situ arahnya? Daripada mencurigaiku, mending jelasin kenapa aku tidak boleh nongkrong di sini?”
Tapi benar juga, setelah disebut, itu malah bikin penasaran! Kamijou justru semakin mempersulit dirinya sendiri. Ketika dia melihat apa yang berputar di dekatnya, dia menyadari ada sebuah kain bercorak macan tutul. Siswa SMA mana yang diam-diam mengenakan itu? Mungkinkah itu milik Himegami?!
“Pokoknya, kalau kau lagi nyuci, cepatlah. Tak ada yang suka orang yang terlalu lama menggunakan mesin cuci.”
Sejujurnya, Kamijou merasa ada yang aneh.
Dia menatap dua tingkat mesin cuci tipe drum yang berjajar di kedua dinding.
“Lebai amat. Di sini kan ada banyak mesin cuci, masa masih belum cukup?”
“Tentu saja. Kau kira ada berapa ratus siswi yang ada di sekolah kita? Asrama putri terbagi menjadi beberapa gedung berbeda, tapi tetap tidak cukup. Banyak siswi yang lelah menunggu dan memilih pergi ke tempat laundry.”
Itu memang masuk akal.
Tapi kalau begitu, kenapa para gadis itu tidak membeli mesin cuci sendiri dan memasangnya di kamar mereka? Dia tidak begitu mengerti kehidupan asrama di sini, tapi itu sangat mirip dengan tinggal sendiri. Bukankah mesin cuci adalah kebutuhan pokok seperti halnya kulkas?
Kamijou menghela napas pelan.
“Oh iya, di sini juga ada pemandian, kan? Kenapa asrama putri punya lebih banyak fasilitas? Padahal semuanya tampak seperti tindakan setengah-setengah yang justru lebih membatasi.”
“Aku cuma tahu asrama putri, jadi aku kurang tahu soal asrama lain. Oh, tapi seorang siswi senior pernah membicarakan hal ini sebelumnya.”
“?”
“Katanya sih, para gadis bisa mulai menghabiskan banyak uang untuk produk kesehatan dan kecantikan untuk bersaing satu sama lain. Jika seseorang membeli pengering rambut mewah yang mengeluarkan semacam ion, yang lain akan mulai membeli pengering rambut yang lebih mahal lagi. Dan persaingan bolak-balik itu menghancurkan gagasan dasar bahwa kehidupan di asrama seharusnya lebih murah.”
“Kalian para gadis memang sungguh menakutkan.”
Jadi, apakah mereka tidak punya pilihan lain selain menambahkan ruang makan dan ruang cuci?
Kesehatan dan kecantikan adalah ranah yang sama sekali tidak dikenal Kamijou karena yang dilakukannya setiap pagi hanyalah mencuci muka dengan air keran. Jadi, peralatan yang dirancang khusus untuk tujuan itu bukanlah bagian dari dunianya. Jika dia punya uang untuk membelinya, dia mungkin akan membeli gim baru atau sepasang sepatu kets.
“Selain itu, kebanyakan orang jarang menggunakan pemandian. Pada siang hari, wanita penjaga kantin berenang di sana tanpa busana. Dan pada malam hari, para atlet yang berjogging setelah latihan di sekolah mengubahnya menjadi pemandian eksklusif.”
Kamijou tidak ingin mendekati pemandian itu.
…Karena sebagai asrama putri, tidak perlu ada pemisahan antara putra dan putri saat dibangun. Itu berarti hanya ada satu pemandian. Jika dia tanpa sengaja menabrak seseorang di sana, dia mungkin akan dipukuli oleh semua gadis di gedung itu.
Selain itu, setiap kamar memiliki kamar mandi kecil pribadi.
Apa gunanya pemandian itu?
Pihak sekolah merasa perlu membangunnya, tapi bukan berarti para siswi akan menggunakannya. Semoga Komoe-sensei tidak menangis di suatu tempat karena hal itu.
“Yah, setidaknya aturan pembuangan sampah di sini sama seperti di asrama putra.”
“Hal semacam itu ditentukan oleh Distrik 7, jadi tidak ada hubungannya dengan asrama.”
“Hm? Berarti Tokiwadai juga begitu dong?”
“Apa kau kenal seseorang dari Tokiwadai? Bukankah itu SMP?”
“Yah, Para ojou-sama itu punya maid, jadi aku yakin mereka pasti akan bilang kalau mereka tidak tahu apa-apa soal aturan pembuangan sampah.”
“Kenapa kau tahu di sana punya maid?”
Karena dulu ada seorang maid yang mengendarai robot pembersih yang sering mengunjungi asrama putra.
Kamijou dan Fukiyose terus mengobrol dan tertawa tentang hal-hal yang tidak penting.
Padahal mereka tidak berbicara sepanjang waktu.
Ada kalanya mereka kehabisan kata-kata.
Lalu terdiam.
Tapi kemudian sesuatu akan terlintas di pikiran dan salah satu dari mereka akan mengangkat topik baru.
Dan proses itu terus berulang.
“…”
“…”
Hening lagi.
Suara gemuruh mesin cuci adalah satu-satunya suara yang terdengar untuk sementara waktu.
Tapi, jeda dalam percakapan ini bukanlah hal yang membuat Kamijou menjadi tidak nyaman.
Saat melawan CRC atau Coronzon, setiap detik terasa seperti kesempatan untuk bertindak. Tingkat tekanan itu terus berlanjut, di mana bahkan satu langkah salah pun terasa seperti akan menyebabkan semuanya berantakan.
Dan itu bahkan belum semuanya.
Dia bahkan telah mati setelah pertarungan melawan Alice.
Dalam hal itu, sungguh luar biasa bahwa dia bisa menikmati waktu yang tidak berguna seperti ini.
Dia tidak perlu lagi mempertaruhkan semuanya pada setiap tindakan.
Dia bisa mengatakan apa pun yang dia inginkan tanpa perlu pusing memikirkan sumber atau kevalidan informasinya.
…Momen seperti ini sangat berharga.
Kamijou menyipitkan matanya dengan lembut sebagai tanda apresiasi.
Itu bukanlah harta yang terlihat. Bukan keabadian atau dominasi dunia. Tapi, hasil dari mempertaruhkan nyawa dan berjuang melawan rintangan kini terbentang di depan matanya.
Pertempuran itu sendiri bukanlah tujuannya.
Ada sesuatu yang selama ini dia perjuangkan dengan mengepalkan tinju.
Saat itu, bunyi elektronik sederhana pun terdengar.
Cucian Kamijou sudah selesai dan bahkan sudah memasuki tahap pengeringan.
Fukiyose mengedipkan mata dengan keras karena menyadari sesuatu.
“Ups, aku asyik mengobrol. Cucianku sudah selesai dari tadi.”
“Padahal kau sendiri yang bilang jangan pakai mesin cuci lama-lama.”
Dengan komentar yang penuh kekesalan itu, Kamijou memasukkan kode sekali pakai ke tombol LCD kecil. Dia tidak bisa membiarkan siapa pun tahu bahwa dia telah mengatur kodenya menjadi 000 karena dia takut lupa dengan apa yang telah dia pilih.
Akankah mencuci pakaian di sini menjadi bagian baru dari rutinitasnya?
(Antre dan berebut tempat memang merepotkan, tapi kurasa ini tetap menguntungkan karena kita bisa menggunakannya secara gratis. Biaya tagihan air sebenarnya jauh lebih memberatkan daripada harga detergen. Makin hari makin mahal.)
Dengan pikiran itu, Kamijou menarik cuciannya keluar melalui penutup bundar. Semuanya terasa hangat karena mesin pengering.
Dan…
“…………………………………………………………………………………………………”
Fukiyose bertingkah aneh.
Dia terdiam kaku sambil sedikit membungkuk. Seharusnya dia mengambil cuciannya sendiri dari mesin cuci lain, tapi entah mengapa kepalanya menoleh ke arah lain. Dengan ekspresi terkejut dan membeku.
“?”
Kamijou mengikuti arah pandangan Fukiyose.
Pandangan Kamijou tertuju pada keranjang cucian yang dipegangnya.
Pakaiannya sudah dikeringkan di mesin pengering, jadi pastinya bukan lebah yang masuk ke dalamnya. Tapi, kalau ada lebah yang bisa bertahan hidup di dalam air, deterjen, dan proses pengeringan sih menakutkan ya.
Kalau bukan itu, terus apa?
Ada sesuatu yang terasa janggal di bagian paling atas tumpukan cucian yang belum dilipat di keranjang cuciannya. Butuh beberapa saat bagi Kamijou untuk menyadarinya.
Itu adalah selembar kain putih yang digulung.
Dengan pita kecil di atasnya.
Itu adalah celana dalam perempuan.
Suasana mencekam dipenuhi kematian.
“Kenapa…?”
Fukiyose terkejut.
Karena tidak mampu mencerna informasi yang ada di hadapannya, dia hanya mengucapkan pertanyaannya dengan lantang.
“Kenapa ada celana dalam perempuan di cucianmu?”
(Ahhh, ini milik Index, tapi aku tidak bisa memberi tahu siapa pun bahwa aku diam-diam tinggal bersama seorang biarawati, sesosok dewa, dan seekor kucing! Tapi apa yang akan terjadi jika aku tidak bisa menjelaskan ini?!)
“Tunggu, tunggu! Ingat suasana damai yang kita ciptakan tadi. Kita baru saja menegaskan betapa pentingnya hari-hari damai dan bebas konflik ini. Tolong ingat!! Kita tak boleh membiarkan itu hancur!”
Kamijou berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkannya, tapi dia tidak mendengarkan.
Ekspresi Fukiyose benar-benar kosong.
“Apa kau mengambilnya dari mesin lain?”
“Tidak!”
“Lalu, apa kau membelinya untuk kau pakai sendiri?! Tidak, aku hanya tidak bisa mensimulasikan apa yang terjadi di dalam otakmu…”
“Ehh, itu juga bukan!!”
Sebuah kata terlintas di benak Kamijou saat dia terlempar akibat hantaman kepala yang dahsyat.
Kesialan.
Dia menerima hal itu sebagai sesuatu yang normal saat ini… tapi sebenarnya prinsip apa yang mendasari kesialan yang menimpanya ini?
Tidak banyak hal yang terjadi di sini untuk bisa disebut sebagai sebuah episode.
Jadi mungkin lebih tepat menyebutnya sebagai sebuah perenungan.
“Ya ampun, apa kau pikir seorang tahanan isolasi berhak membeli barang di toko? Narapidana Nomor 1174, Tessou Tsuzuri. Kau bukan hanya seorang narapidana, tapi seseorang yang keberadaannya sendiri memiliki pengaruh negatif terhadap narapidana lain. Diputuskan bahwa kau akan memiliki dampak buruk yang signifikan terhadap ketertiban di dalam penjara secara keseluruhan, jadi kau diperlakukan sebagai penjahat yang sangat berbahaya yang harus diisolasi. Karena keadaan yang tak terhindarkan (haha), hak-hakmu sebagai manusia telah dicabut.”
“Dasar monster! Dasar iblis! Yang kuinginkan hanyalah hidup sederhana di sudut masyarakat sambil mengemil biskuit asin (rendah sodium)… Dengar, sipir seksi berambut panjang, berdada besar, dan memakai rok mini ketat yang kehadirannya saja sudah mengganggu ketertiban dan moral penjara ke arah seksual! Ha ha! Apa sepatu bot setinggi paha bertali tinggi itu kau pakai agar kau terlihat imut?! Kau itu tipe yang seksi, bukan tipe yang imut! Ha ha ha! Aduh, sakit perutku!!”
“Letakkan tanganmu di dinding, Tahanan nomor 1174, Tessou Tsuzuri. Kau mesti digeledah.”
“Beginikah perlakuan yang kudapat karena mengatakan yang sebenarnya? Jangan raba aku! Tidak mungkin aku menyembunyikan sesuatu di sana. Apalagi kaulah yang melarangku membeli segala barang, dasar sipir penjara tukang leceh! …Ah, ah, tunggu, ohh?! Tu— tubuhku diremas-remas sekeras kue somen di minimarket!!”
Suara seorang sipir wanita muda dan seorang tahanan terdengar menembus pintu logam yang tebal.
Hal itu menunjukkan betapa berisiknya mereka.
Barang-barang pribadi tidak diperbolehkan. Dan dalam beberapa kasus, seorang tahanan akan dicabut haknya untuk membeli apa pun.
Mungkin itu memang sudah bisa diduga.
Karena Accelerator berada di Distrik 10, yang sering disebut sebagai distrik paling berbahaya.
Dan ini adalah sel isolasi paling tebal di dalam penjara keamanan maksimum yang penuh dengan penjahat berbahaya.
(Seharusnya memang begitu.)
Tempat berisiko tinggi seperti ini seharusnya melarang kepemilikan alat tulis (karena alat yang bisa menusuk seseorang hingga tewas tanpa perlu repot mengasahnya di dinding beton terlalu mudah digunakan oleh penjahat brutal), tapi ruangan ini merupakan pengecualian. Suara garukan pelan telah memenuhi ruangan itu sejak beberapa saat lalu. Selain itu, sel ini penuh dengan barang-barang pribadi mewah, termasuk TV besar dan tempat tidur yang luas, karena tidak ada yang bisa melihat ke dalam dari luar.
Accelerator telah menyeret keluar sebuah meja sederhana yang biasa digunakan untuk makan lalu mulai menulis sesuatu.
Ya, menulis.
Meskipun ada monitor LCD raksasa di dinding dan dia bisa mengerjakan hampir semua tugas hanya dengan menggerakkan matanya.
“Master, apa yang sedang kau lakukan?”
Iblis Buatan Qliphah Puzzle 545 melayang-layang di dekatnya, mencuri pandang ke arah kertas-kertas itu.
Last Order, yang tampak seperti seorang gadis berusia sekitar 10 tahun, mengacungkan jarinya.
“Tidak bisakah kau melihat stopwatch ini? tanya Misaka sambil Misaka mengulurkannya padamu. Dia sedang mengerjakan ujian, jadi jangan bicara.”
“Tapi aku ingin bermain dengan master! Sekarang juga!!”
Accelerator sedang mengikuti ujian masuk umum Academy City.
Lebih tepatnya, ujian masuk universitas.
Lembar jawaban yang dia gunakan saat itu adalah untuk pelajaran fisika.
Tapi, Accelerator sebenarnya tidak berusaha untuk masuk ke universitas mana pun.
“Kenapa kau harus bertingkah seperti setan di bahunya? tanya Misaka sambil Misaka memiringkan kepalanya dan berperan sebagai malaikat di bahunya yang bersinar dan bercahaya.”
“Karena meskipun aku buatan, aku tetaplah iblis!”
Accelerator tetap tenang meskipun mereka berteriak lebih keras daripada sorak sorai di stadion sepak bola.
Dia adalah Level 5 peringkat 1 Academy City dan juga ketua dewan kota yang baru.
Dia menentukan masa depan begitu banyak pelajar menggunakan sistem ujian masuk ini. Hasil yang diberikannya dapat menyebabkan sebagian pelajar menyerah pada mimpi yang mereka miliki sejak kecil. Jadi, akan salah jika dia tidak bisa menjawab semua pertanyaan ini.
…Jawaban acuan yang diberikan oleh lembaga bimbel dan penerbit buku sebenarnya dibuat oleh pengajar mereka sendiri, tapi untuk surat kabar justru disiapkan oleh Accelerator. Dia sedang menulisnya sekarang. Dia menuntut orang-orang untuk menderita, jadi akan tidak sopan kepada para pelajar yang mempertaruhkan masa depan mereka pada secarik kertas ini jika Accelerator tidak bisa mendapatkan nilai sempurna di setiap mata pelajaran.
“…”
Ya.
Sistem ujian masuk dibangun berdasarkan asumsi bahwa sejumlah orang akan gagal dan pergi dengan perasaan tidak puas.
Itu mungkin tampak seperti mengikuti jejak Academy City lama dengan segala kemalangan dan tragedinya.
Tapi, selama hasilnya tidak dimanipulasi oleh niat jahat, maka ujian yang tepat tetap diperlukan.
Seluruh sistem Academy City tidak akan berfungsi tanpanya.
Jika semua impian siswa yang mengikuti ujian terwujud dengan menghapus sistem ujian dan menerima setiap siswa ke sekolah-sekolah terbaik, semua orang tahu bahwa hal itu tidak akan berakhir baik. Kualitas sekolah-sekolah tersebut akan merosot dan menciptakan dunia di mana bahkan mereka yang masuk universitas terbaik pun tidak dapat mewujudkan impian mereka.
Tentu saja, itu tidak berarti bahwa mereka yang gagal akan merasa puas.
Accelerator menghela napas pelan dan mendengar suara sipir wanita dan tahanan dari luar pintu logam tebal itu.
Seberapa keras mereka berbicara?
“Narapidana nomor 1174, Tessou Tsuzuri. Cepatlah bergerak. Ini waktunya olahraga. Tidak seperti si penipu berhati dingin yang bosan dan berhenti dari pekerjaannya sebagai sipir tapi masih sering muncul di gedung penjara sebagai bagian dari pekerjaan barunya di toko bento, aku berhati besar dan murah hati. Ya, tidak seperti wanita yang tidak bisa melepaskan kebiasaan sipirnya dan menghabiskan setiap malam berpatroli di asrama putri di suatu tempat! Jadi, Tessou, terserah, pilih lapangan olahraga atau kolam renang.”
“Tunggu, jangan bersikap seolah kau jauh lebih baik dariku. Kalaupun aku harus melakukan pekerjaan fisik, aku lebih suka melakukannya demi uang, meskipun upahnya sangat rendah. Selain itu, apakah penjara ini menempatkan pria dan wanita di gedung yang sama? Bukankah biasanya dipisah?”
“Itu karena kau telah dikirim ke sel isolasi sebagai tahanan yang sangat berbahaya. Kau bukan tahanan biasa. Jenis kelaminmu tidak dianggap penting untuk menghindari pengaruh negatif terhadap tahanan lain. Dan kau juga tidak boleh berinteraksi dengan tahanan lain di sini. Sekarang, cepat bergerak!”
“Hiik! Apa ini bagian dari latihan fisik?”
Mereka menyampaikan beberapa poin yang bagus.
Ini jelas merupakan lantai isolasi yang hanya menampung penjahat berbahaya yang akan memengaruhi penjahat lain secara negatif dan dapat dengan mudah berdampak buruk pada ketertiban di dalam penjara.
Ketua dewan yang baru dan orang nomor 1 yang tertawa saat membunuh lebih dari 10 ribu orang dapat menjamin hal itu.
(Ujian masuk. Aku telah membunuh lebih dari sepuluh ribu orang untuk tujuan pribadiku… dan aku masih merasa tertekan. Karena ada banyak orang yang mempercayakan masa depannya padaku.)
“Heh heh☆”
Entah mengapa, suara Last Order terdengar angkuh.
Tapi bukan karena dia bertingkah seperti manajer klub yang merepotkan, yang bertindak seolah-olah merekalah yang berhak mendapatkan trofi yang dimenangkan oleh para atlet.
“Dengan kerusakan otak permanen yang kau alami, kau membutuhkan dukungan dari Jaringan Misaka melalui elektroda di chokermu untuk memahami bahasa dan melakukan perhitungan sederhana sekalipun.”
“Hah?”
“Singkatnya, tanpa perlu khawatir akan kesalahpahaman, pada dasarnya kau mengikuti ujian ini sambil menerima nasihat dari hampir 10 ribu Misaka yang tersebar di seluruh dunia, bukan? Lihat, si tukang contek itu bertingkah sombong, kata Misaka sambil Misaka mencoba membuatmu goyah.”
…itu tidak cukup untuk membuatnya melakukan kesalahan. Kemampuan kendali vektornya sebagai esper peringkat 1 berarti dialah orang yang paling rentan kehilangan nyawa jika kemampuannya lepas kendali. Meskipun dia selalu membebankan sejumlah besar perhitungan ke Jaringan Misaka, tapi untuk menentukan apa yang perlu dihitung agar efek yang diinginkan dapat terwujud dengan aman ada padanya. Last Order memiliki akses ke tingkat perhitungan yang sama, tapi dia tidak dapat mengendalikan vektor.
Last Order dengan cepat angkat bicara sambil melihat stopwatch-nya.
“Sepuluh menit lagi, kata Misaka sambil Misaka memberikan laporan.”
“Aku sudah selesai, jadi itu tidak perlu.”
“Miiisaaakaaa yang mau!!”
“Kurasa dia lebih ingin bermain denganmu daripada denganku, Master.”
Si peringkat 1 bahkan tidak repot-repot memeriksa jawabannya.
Dia hanya punya satu kesempatan saat melakukan konversi vektor selama pertempuran. Satu kesalahan dalam perhitungannya bisa mengakibatkan hilangnya anggota tubuh atau pecahnya organ dalam. Itulah dunia tempat dia hidup.
Dan kehidupan itu pun masih terus berlanjut.
Terus kenapa? Apa menempuh jalan yang berisiko dan melakukan perbuatan baik akan mengurangi beban yang dipikulnya? Hidup adalah jalan satu arah dan dia tidak bisa menghapus perbuatan masa lalunya.
“Waktu habis! kata Misaka sambil Misaka mencoba mengucapkannya seperti seorang guru!”
“Itu sama sekali tidak terdengar dewasa!!” protes Qliphah Puzzle 545.
Setelah dengan mudah menyelesaikan bagian fisika, yang konon merupakan bagian tersulit, Accelerator menghela napas lega. Dia bahkan tidak membutuhkan setengah dari waktu yang diberikan. Sulit bagi esper peringkat 1 Academy City untuk menilai apakah soal itu terlalu sulit atau terlalu mudah bagi orang biasa.
“Kerja bagus, kata Misaka sambil Misaka memberi isyarat bahwa pekerjaan sudah selesai. Apa kau lapar?”
“Tidak terlalu…”
“Apa kau lapar, murid ujian?! Tanya Misaka sambil Misaka mencondongkan tubuhnya ke depan untuk memastikan!!”
…Apa yang sedang Last Order lakukan? Dia adalah esper peringkat 1, yang berarti dia memiliki otak terhebat di antara 2,3 juta orang di kota itu, tapi Accelerator masih kesulitan memprediksi apa yang akan dilakukan Last Order.
Ini adalah sel isolasi, tapi tetap dipenuhi dengan perabotan mahal. Kulkas mini bukanlah hal yang mengejutkan.
“Jika kau menginginkan sesuatu yang manis, silakan makan saja.”
“Bukan itu intinya!” teriak Last Order. “Saat mengawasi siswa-siswi yang sedang ujian, seharusnya kau membuatkan mereka camilan larut malam! Seru Misaka sambil Misaka meninggikan suara. Serahkan saja ke Misaka!”
“Bagaimana caranya?”
Accelerator mengabaikan fakta bahwa saat itu belum larut malam.
Meskipun dilengkapi dengan perabotan mahal, ini tetaplah sebuah sel dan hanya sebuah ruangan tunggal. Ada kulkas mini untuk minuman, tapi tidak ada kompor gas atau penanak nasi. Lagipula, semua itu tidak diperlukan karena dia bisa mengangkat telepon di dinding dan memesan makanan apa pun yang dia inginkan.
Namun Last Order tidak gentar.
“Tunggu sebentar, oke?” ucapnya sebelum membuka pintu logam sel dan melangkah keluar ke lorong. Qliphah Puzzle 545 memiringkan kepalanya sambil melayang lalu menghilang begitu saja. Dia pasti telah menembus dinding untuk melihat-lihat.
Accelerator tidak punya alasan untuk menunggu, jadi dia menunduk melihat meja.
Dia telah menyelesaikan ujian, tapi sekarang dia harus menilainya.
Tapi, keadaan sedang tidak memungkinkan.
Dia mendengar suara roda berderak keras dari balik pintu sel. Last Order pasti sedang mendorong semacam meja gerobak.
Dia juga mendengar suara-suara dari balik pintu tebal itu.
Sangking kerasnya sampai bisa terdengar.
“Tah dah! Ini adalah hasil proyek penelitian Misaka, kata Misaka sambil Misaka mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.”
“Apa itu?”
“Kau tidak lihat, dasar iblis? Ini penanak nasi, ini kompor induksi, ini microwave yang juga berfungsi sebagai oven, ini juicer, ini botol besar, ini pengolah makanan, dan yang paling bawah ini adalah baterai besar yang terhubung ke semuanya! Secara keseluruhan, ini adalah truk makanan terkecil di dunia yang bisa dibawa ke mana saja di dalam penjara!! Kata Misaka sambil Misaka memamerkan penelitiannya yang ajaib.”
“Kau masih belum menyerah?! Mengapa orang Jepang begitu terobsesi menyajikan makanan rumahan kepada para peserta ujian?”
“Misaka mau buat onigiri! Misaka juga mau buat telur goreng!!”
Accelerator mengabaikan semua suara di luar selnya. Dia memang tidak diizinkan keluar dari sel. Memasak nasi akan memakan waktu, tapi Accelerator mencatat dalam hati untuk menegurnya jika dia menyerah di tengah jalan dan membuang bahan-bahannya.
Kemudian, seorang sipir dan narapidana pun tiba-tiba lewat, mereka kembali dari kolam renang.
Dan Last Order sedang bekerja di depan pintu logam, dengan kata lain, di lorong.
“Tunggu, mereka boleh melakukan itu?! Kukira semua barang pribadi dilarang di lantai sel isolasi ini. Penanak nasi, microwave, dan kompor induksi… Itu menghasilkan panas dan gelombang elektromagnetik yang sangat banyak, belum lagi mereka bahkan bisa terhubung ke internet luar jika itu perangkat IoT!”
“J-jangan berhenti!”
“Tunggu!! Kenapa kau berusaha menghindari tatapan mataku? Aku mencium bau-bau tindakan kotor. Apalagi kau selalu mencari alasan paling absurd untuk mencegahku mendapatkan sesuatu, seperti gagang kacamata yang dibengkokkan menjadi senjata atau alat pembuka kunci, atau garam di atas biskuit yang digunakan untuk membuat batang logam berkarat!”
Suara mereka menghilang di kejauhan. ...Jadi, sipir wanita itu pasti menyadari apa yang sedang terjadi dan menyeret tahanan yang berteriak itu pergi dengan memegang lengannya.
“Hm, hm, hmm, hm, hmm♪”
Last Order tampaknya tidak keberatan sama sekali.
Dia bersenandung sambil melakukan sesuatu dengan tangannya.
…Yah, truk makanan sebenarnya diatur oleh banyak aturan, jadi mendirikan satu truk makanan membutuhkan banyak usaha.
Dan ini adalah penjara dengan keamanan maksimum.
Untuk mencegah kerusuhan, penjara dirancang secara ketat untuk mencegah kebakaran, jadi apa yang akan terjadi jika dia mulai memasak di sini? Misalnya, bagaimana jika sedikit asap mencapai langit-langit?
Jawabannya sangat jelas.
Alarm kebakaran berbunyi sangat keras.
“Ugh…”
Setelah beberapa saat, bahu Last Order terkulai.
Tempat ini merupakan lantai sel isolasi.
Fakta bahwa alat penyiram air tidak menyala di seluruh gedung dan menyebabkan banjir, serta fakta bahwa semua palang logam yang membagi koridor menjadi beberapa bagian tidak semuanya terbuka, adalah bukti betapa baiknya program kesadaran situasional tersebut dirancang.
Sambil menatap Last Order yang tampak sedih, si peringkat 1 pun berbicara sambil memeriksa lembar jawabannya sendiri.
“Jadi, kapan aku bisa makan?”
“Hah?”
“Jangan dibuang. Kau sudah menyalakan penanak nasi, kan? Nasi akan matang saat timer habis. Dan setidaknya kau bisa membuat onigiri di sini.”
“…Baik!”
Jika program kesadaran situasional penjara itu memang sebagus itu, maka alarm tidak akan bereaksi lagi setelah situasi dipastikan aman. Memasak sesuatu dengan wajan memang bisa jadi hal yang berbeda, tapi uap dari penanak nasi tidak akan memicu alarm kebakaran.
Akhirnya, yang disajikan kepadanya hanyalah nasi putih yang digumpalkan tanpa isian atau rumput laut sama sekali. Bentuknya tidak beraturan. Bahkan tidak berbentuk segitiga.
“Panas…”
Tangan kecil Last Order penuh dengan nasi. Untuk mendapatkan begitu banyak nasi di tangannya, dia pasti melewatkan beberapa langkah dalam proses pembuatan onigiri. Tapi si peringkat 1 tidak berhak mengeluh karena bukan dia sendiri yang memasaknya.
“Hm.”
Accelerator memakannya dengan satu tangan sambil kembali melanjutkan kegiatan penilaiannya.
Pekerjaannya sendiri cukup sederhana.
Dia hanya perlu memeriksa kesalahan dalam 100 soal.
Setelah proses penilaian mandiri selesai, dia melemparkan lembar jawaban ke arah mesin.
Lalu dia merebahkan diri di tempat tidur.
“…”
Ketua dewan yang baru itu menatap langit-langit dengan tajam dan mengarahkan pikirannya dalam hati.
Menuju Hamazura Shiage.
Bocah itu bertaruh pada Iblis Agung Coronzon, kalah, dan dikirim ke Inggris bersama Narthex.
Sebagian besar percakapan Accelerator dengannya terdengar seperti teori konspirasi tanpa dasar. Dia mengatakan ada suatu sistem atau kerangka besar yang memanipulasi orang dan masyarakat, dan itulah mengapa Coronzon disebut sebagai Iblis Agung dan dibunuh. Dan tujuannya adalah untuk mengungkap identitasnya.
Biasanya, Accelerator mungkin tidak akan repot-repot mengingatnya.
Namun, ada satu bagian yang terus terngiang di benaknya.
SYSTEM.
Tentu saja, tidak ada alasan untuk berpikir bahwa Hamazura Shiage telah memikirkannya sedalam itu. Kata "system" adalah kata yang umum, jadi dia mungkin hanya memilihnya sebagai istilah untuk menyesuaikan ide samar di kepalanya tanpa mendasarkannya pada sesuatu yang spesifik.
Tapi.
Ada alasan mengapa ketua dewan yang baru tidak bisa begitu saja mengabaikannya.
SYSTEM. Sosok yang mencapai kehendak surgawi dalam tubuh nirilahi.
“…”
Accelerator sedikit menyipitkan matanya.
Siapa pun yang tidak mengenalnya mungkin akan merasa jantungnya berhenti berdetak jika melihat tatapan matanya.
Karena itu adalah nama lain untuk Level 6. Yang menjadikannya dosa asal di balik keinginan agar si Level 5 peringkat 1 Academy City membunuh 20 ribu Sister.
Eksperimen itu dimaksudkan untuk mencapai Level 6 yang belum pernah dicapai sebelumnya.
Tanpa ide konyol itu, Accelerator tidak akan dipenjara sekarang dan lebih dari 10 ribu nyawa tidak akan melayang. Beberapa orang mungkin berpikir para Sister dan Last Order tidak akan lahir tanpa eksperimen itu… tapi itu adalah tipu daya. Rencana untuk mengkloning si peringkat 3 sudah ada sebelumnya. Rencana itu hanya dibajak oleh eksperimen Level 6 Shift setelah kejadian tersebut. Itu berarti ada kemungkinan bahwa lebih dari 20 ribu gadis klon itu akan lahir bahkan tanpa eksperimen tersebut.
Dan Accelerator memiliki pertanyaan lain.
Dia memahami konsep melampaui Level 5. Pertama, dia sendiri hanya ditempatkan dalam kategori Level 5 karena Academy City hanya mengklasifikasikan esper ke dalam enam level dari nol hingga lima. Dia selalu lebih dari sekedar peringkat 2 atau 3 yang membutuhkan banyak upaya untuk mencapai Level 5. Jadi, jika seseorang mengatakan ada Level 99 atau Level 256 di luar itu, dia pun bisa menerimanya.
Namun.
(Lalu bagaimana jika aku berhasil melampaui Level 5?)
Accelerator terus berpikir sambil duduk di tempat tidur.
(Apa yang bisa aku lakukan jika menjadi Level 6? Sebenarnya, mengapa ketua dewan sebelumnya mencurahkan begitu banyak uang dan nyawa untuk mencapai level tersebut?)
Beberapa gangguan mental menyela pikirannya.
Ya. Ada masalah lain yang menurunkan prioritas masalah tersebut.
Residu Iblis Agung Coronzon.
Biasanya, dia akan menyerahkannya kepada Anglikan dari pihak sihir untuk menyelesaikan masalah itu, tapi dia menunda keputusan tersebut. Karena orang-orang itu untuk sementara dimanipulasi oleh seorang penyihir dari pihak Coronzon, ada kemungkinan bahwa residunya akan hilang jika diserahkan bersama mereka. Dan itu akan menjadi masalah.
Karena ada cara ilmiah untuk menggerakkan mayat yang diawetkan. Tapi siapa bilang tidak ada cara magis untuk melakukannya?
Terlebih, residunya juga bisa dimanfaatkan dengan cara-cara lain. Selama insiden baru-baru ini yang melibatkan Hamazura Shiage dan Narthex, sempat muncul kemungkinan adanya Gereja Coronzon.
“…”
Jadi, jasadnya tetap berada di Academy City.
Tidak jelas apakah Academy City atau Inggris yang berhak atas jasadnya. Jadi, jika dia membakarnya atau membiarkannya membusuk, itu bisa berkembang menjadi masalah diplomatik. Karena itu, dia mengawetkannya dan kemudian membekukannya.
(Jika yang kita lakukan hanyalah menghindari pilihan yang salah, kita belum tentu sampai pada jawaban yang benar. Ini memang kota kita, tapi ada sesuatu tepat di tengahnya yang tidak bisa kita perlakukan sesuai keinginan kita. Dan aku tidak suka itu.)
“Ayolah, sudah waktunya mandi, tahanan! Masa harus aku yang turun tangan!!”
“K-kenapa seorang sipir sepertimu malah memakai kamar mandi tahanan? Mana bawa perlengkapan mandi lengkap pula? Apa kau sebenarnya tak suka sendirian?”
Pikiran Accelerator terputus di situ.
Apakah karena obrolan sipir dan tahanan itu? …Tidak, tapi selama dia tenggelam dalam lamunan, waktu memang telah banyak berlalu.
“Kalau ujiannya sudah selesai, aku ingin kau bermain denganku, Master!”
Bukan karena itu pula.
“Ada yang berbunyi bip, kata Misaka sambil Misaka menunjuk.”
Sesuatu sedang terjadi di monitor dinding yang besar.
Accelerator sedang menerima panggilan telepon.
“Aku sudah terima lembar jawaban hasil pindaimu.”
Itu berasal dari peneliti bernama Yoshikawa Kikyou. Tapi mantan peneliti agaknya akan lebih tepat.
“Apa kau menemukan satu kesalahan kali ini?”
“Sekarang aku sedang mengerjakan ujian masuk universitas. Hidup memang tidak bisa ditebak ya. Padahal dulu aku seorang ilmuwan sesat yang menggunakan biologi untuk mendatangkan penderitaan bagi begitu banyak orang.”
“Ini pekerjaan yang penting. Dan aku akan membayarmu.”
“Apa ada gunanya buatku untuk menilai ini? Semua jawabannya lebih akurat daripada mesin mana pun, jadi menilai semuanya malah membuatku merasa seperti aku yang sedang diuji.”
Begitulah rasanya menjadi seorang guru.
Seseorang yang selalu memandang rendah murid-muridnya dan berpikir mereka bisa mengajar apa saja, tidak cocok untuk menjadi guru. Karena itu berarti mereka telah mengabaikan kesempatan untuk memperbarui diri.
(Tapi itu bukan sesuatu yang pantas dikatakan oleh seorang mantan kriminal yang sudah setengah bertobat.)
“Setelah kau mengikuti ujian itu, bagaimana pendapatmu tentang ujian masuk universitas? Adakah hal yang ingin kau sampaikan?”
“Tidak ada, selain soal-soalnya terlalu mudah.” Accelerator menghela napas frustrasi. “Ini Academy City, kan? Lalu kenapa bagian fisika biasa lebih sulit daripada bagian pengembangan esper?”
“Fisika biasa” masih penting karena kemampuan esper didasarkan pada teori kuantum, tapi ujian yang baru saja diambil Accelerator mencakup fisika klasik yang lebih lama. Dari dunia tempat Newton membuang makanan dengan hanya menonton apel jatuh ke tanah.
“Oh? Kau harusnya tahu jawabannya. Soal-soal untuk ujian ini dibuat oleh sekelompok orang 'biasa', termasuk profesor universitas, penerbit buku, dan lembaga bimbel. Mereka tidak memiliki pemahaman penuh tentang penelitian mutakhir yang sangat rahasia.”
“…”
Dan menjadi profesor universitas di Academy City tidak selalu berarti seseorang itu adalah orang eksentrik berbahaya yang bermain-main dengan DNA atau teori kuantum misterius. Kota ini juga memiliki profesor-profesor yang tidak berbahaya yang lebih menyukai sastra klasik daripada hal-hal modern. Dan ada beberapa yang akan marah jika kita mengelompokkan semua sastra klasik ke dalam satu kategori seperti itu.
“Sederhananya, soal-soal ini dibuat oleh orang-orang yang hanya memahami dasar-dasarnya, jadi hasilnya memang akan segitu. Kau tidak akan menemukan sesuatu yang mendalam. Akan jadi masalah jika pengetahuan mereka terlalu mendalam. Sama seperti mengetahui E=mc² bukan berarti siapa pun dapat dengan mudah membuat bom nuklir. Pengetahuan mungkin tidak berbahaya, tapi ketakutan bahwa pengetahuan bisa menimbulkan bahaya sudah mengakar dalam diri kita.”
Ada kalanya informasi perlu dilindungi.
Accelerator tahu betul bahwa bahkan sistem yang dibangun untuk tujuan baik pun dapat dengan cepat menjadi menyimpang jika orang dewasa yang korup ikut campur dan menyalahgunakannya.
“Yoshikawa.”
“Apa? Kau mau ikuti ujian masuk universitas sungguhan?”
“Cerewet, bukan. …Seberapa banyak yang kau ketahui tentang eksperimen Level 6 Shift?”
“Tidak sebanyak dirimu.”
Yoshikawa terdengar terkejut dengan pertanyaan itu.
Terutama karena Accelerator menanyakan itu di depan Last Order.
Meski begitu, orang yang memiliki kekuatan mental terbesar di antara mereka mungkin adalah gadis yang tampak bingung itu. …Atau lebih tepatnya, Seluruh kehendak Misaka termasuk dirinya.
“Aku bekerja dengan Amai Ao… ah, sudah lama aku tidak mengucap nama itu. Pokoknya, aku bekerja dengannya dan beberapa orang lain pada aspek sekunder dari eksperimen tersebut. Seperti memproduksi Sister, membangun Jaringan Misaka, dan mengembangkan perangkat keselamatan baru. Aku memang menerima beberapa informasi tentang aspek yang lebih mendasar dari eksperimen tersebut, tapi tidak semuanya. Alih-alih seorang perencana yang memberikan pengarahan tentang rencana bisnis menyeluruh di kantor pusat perusahaan, aku lebih seperti seorang insinyur yang melakukan pekerjaan langsung di lapangan.”
Yoshikawa mengatakan ini dengan rendah diri, tapi Accelerator justru sangat iri.
Yoshikawa memang telah menciptakan kehidupan-kehidupan itu, tapi dia bukanlah orang yang secara langsung membunuh mereka.
Yang berarti dia tidak sejahat si peringkat 1, yang telah melakukan semua pembunuhannya.
“Inti dari eksperimen itu masih menjadi misteri bagiku. Informasi itu tidak pernah dirilis dan bahkan ada rumor bahwa eksperimen itu dijalankan secara diam-diam oleh salah satu Kihara yang terkenal itu… tapi itu mungkin tidak benar. Dengan proyek sebesar itu, mungkin setidaknya ada satu Kihara yang terlibat di suatu tempat, tapi bukan di pusat sebenarnya. Aku menduga inti sebenarnya dari proyek itu ditempatkan di suatu tempat yang tidak akan pernah diketahui oleh siapa pun yang melakukan pekerjaan lapangan pada eksperimen tersebut.”
Accelerator setuju.
Karena jika tidak, Kihara Amata, yang membual tentang membesarkan Accelerator secara langsung, tidak akan merasa dendam seperti anjing terlantar.
“Kalau begitu…”
“Ya. Pada akhirnya, mengintip ke dalam pikiran mantan ketua dewan kota mungkin satu-satunya cara untuk mengetahuinya. Meski aku dengar itu mungkin akan sulit.”
Orang itu sudah pergi sekarang.
Orang itu sendiri yang memilih mati bersama Iblis Agung Coronzon.
Manusia itu, yang menyimpan kebaikan dan kejahatan di dalam dirinya, akhirnya berhenti menjadi penjahat.
Dan kematian telah datang menghampiri tubuh fisik Coronzon.
“Sejujurnya, aku kesulitan membayangkan apa yang kau maksud ketika menggunakan istilah seperti 'jiwa' dan 'iblis agung'. Apa Ketua Dewan Aleister adalah orang yang sangat menyelami sains sampai membawanya masuk ke ranah okultisme? Seperti Edison yang terobsesi untuk berkomunikasi dengan orang mati atau penulis misterius dari kerajaan teh yang percaya pada peri.”
Accelerator menduga justru sebaliknya.
Pada awalnya, tidak ada pemisahan antara sains dan sihir. Yang ada hanyalah "keilmuan". Aleister sendirilah yang menarik garis pemisah di antara keduanya.
“Hore!! Berat badanku turun satu kilo! Semuanya berjalan sesuai rencana! Heh heh☆”
“J-jangan bilang ini alasanmu makan makanan penjara yang menjijikkan ini bersama para tahanan setiap hari. Padahal kau bisa membeli apa pun yang kau mau di luar. Memang benar makanan penjara ini seimbang secara nutrisi untuk mengurangi rasa lapar, tapi tetap saja.”
Mendengar suara riang sipir dan tahanan (yang pasti baru saja keluar dari kamar mandi) dari balik pintu logam, Accelerator secara mental menyusun informasi tersebut. Dia berada di lantai sel isolasi ekstra aman di penjara keamanan maksimum, tapi tidak ada yang salah dengan percakapan riang di sana. Karena penjara dimaksudkan untuk memberi orang kesempatan baru dalam hidup.
(Hm.)
Keilmuan, bukan sains atau sihir.
Petunjuk tentang hal ini dapat dilihat dalam literatur lama abad ke-19 selama masa resmi kehidupan Crowley. Hanya ada beberapa contoh, seperti novel horor Frankenstein, yang secara sadar berfokus pada pemisahan antara sains dan segala hal lainnya.
Menariknya, gagasan dasar tentang "membangun manusia menggunakan teknologi yang terlalu canggih untuk dipahami orang awam" adalah topik yang banyak ditemukan dalam cerita-cerita lama di seluruh dunia. Bahkan, gagasan ini dapat ditemukan dalam mitos-mitos di seluruh dunia.
Bahkan cerita-cerita yang terdengar ilmiah pun ternyata hanyalah mitos. Begitulah cara cerita-cerita itu diterima.
Namun pada saat seorang dramawan Ceko menulis cerita tentang pemberontakan boneka mekanik di abad ke-20, kategori sains sudah pasti ada.
Cara berpikir seperti itu menjadi hal yang normal dan cerita-cerita ilmiah diberi genre tersendiri.
Kecuali orang aneh yang sengaja melakukan interpretasi secara berlebihan, selain itu tidak akan ada orang yang menganggap fiksi ilmiah sebagai sebuah mitologi murni.
Jadi, pada titik tertentu, keilmuan menjadi lebih dari sekadar keilmuan.
Sesuatu telah mengubah dunia.
Begitu pasti dan cepatnya sehingga tidak seorang pun di dunia yang memprotes perubahan tersebut.
(Di Academy City, dia menciptakan kota yang dirancang untuk pembelajaran paling efisien di dunia, sembari menyembunyikan pengetahuan. Itulah jenis permainan yang dia lakukan.)
“Bagaimana eksperimen itu menurut sudut pandangmu?” tanya Yoshikawa.
“…Kau menanyakan itu padaku?”
“Jika kau tidak siap menghadapi luka lamamu, maka semua pertanyaan ini tidak ada artinya.”
Accelerator hanya ingin menjadi kuat.
…Oh, betapa dia sangat ingin menjatuhkan dan mencekik dirinya di masa lalu, tapi tujuannya saat berpartisipasi dalam eksperimen itu tidak lebih dari sekadar obsesi pribadi.
Tapi Ketua Dewan Kota Aleister mungkin memiliki pandangan yang berbeda.
Dia telah mencurahkan semua yang ditawarkan oleh institusi besar dan beragam di Academy City ke dalamnya. Tidak ada kompetisi pengembangan esper dengan siapa pun di luar Academy City dan, tidak seperti perlombaan pengembangan roket dan AI yang diadakan antara negara-negara adidaya, alasan peningkatan teknologi demi membuat lawan gentar bukanlah penjelasan yang masuk akal. Tidak ada alasan yang cukup mendesak sampai harus menghilangkan banyak nyawa.
Itu aneh.
Bukan berarti dunia akan hancur jika mereka tidak menghasilkan Level 6 atau akan ada musuh besar atau bencana yang tidak dapat dihentikan hanya dengan Level 5.
Lagipula, eksperimen telah dihentikan dan Aleister pun telah hilang, tapi dunia terus berputar.
(Sebelum memberikan Master Key kepadaku, dia menyuruhku untuk menciptakan dunia seperti yang aku mau.)
Accelerator mengingat kembali.
(Dia tidak akan mengatakan itu jika dunia tidak bisa berjalan tanpa Level 6. Kalau tidak, dia pasti sudah mengancamku, mengatakan sesuatu seperti, "Lakukan apa pun yang kau mau, tapi pastikan kau mencapai Level 6." Tapi dia tidak melakukannya.)
Apa sebenarnya yang ingin dicapai Aleister dengan eksperimen itu?
Apa itu memang disengaja gagal untuk mengubah sifat Accelerator?
Apa Level 6 hanyalah dalih untuk membangun Jaringan Misaka?
Apa tujuannya adalah penyelesaian DRAGON melalui Fuse Kazakiri?
…Itu masuk akal. Tapi apa iya cuma itu?
Ketua Dewan Aleister.
Mereka berdua pernah bertarung berdampingan beberapa kali karena keadaan menuntutnya… tapi keyakinan dan ide-idenya yang dipegang teguh tetap menjadi misteri. Mungkin bahkan lebih misterius daripada Iblis Agung Coronzon.
“Sialan…”
Ketua Dewan Aleister sudah pergi.
Rupanya, dia hanya meminjam tubuh Coronzon untuk sementara waktu, tapi itu pun berakhir ketika Iblis Agung itu mati. Sekarang dia benar-benar mati, tidak ada cara untuk bertanya padanya tentang tujuan sebenarnya dari SYSTEM.
Tentu saja, posisi Accelerator sekarang adalah ketua dewan kota. Itu berarti hak istimewanya sebagai pejabat memberinya akses ke semua data di Academy City.
Tapi…
(Dia menyimpan semua data itu secara terpisah dari data yang ditampilkan di data Bank.)
Accelerator melirik monitor LCD besar di dinding dan mendecakkan lidah. Anehnya, hanya data itu yang hilang.
Garis bawahi, perangkat nano yang saat ini dinonaktifkan dan telah didistribusikan ke seluruh Academy City untuk memantau orang-orang, tampaknya telah membentuk jaringan tak terlihat yang menyimpan data rahasia, tapi itu mungkin tidak mencakup informasi mengenai Level 6.
Data tersebut bisa saja tersembunyi di suatu sudut di dalam Jaringan Misaka yang dibentuk oleh gelombang otak para gadis klon, di mana bahkan mereka sendiri pun tidak mengetahuinya.
Mina Mathers, atau Reading Thoth 78 yang selalu mendukung rencana ketua dewan lama, kini sedang berkelana di suatu tempat di dunia, tapi dia mungkin memiliki data tersebut.
“…”
Accelerator bisa memunculkan beberapa kemungkinan, tapi dia tidak boleh terlalu memaksakan diri tanpa ada jaminan.
Dia bisa saja mengabaikan nyawa dan masa depan seseorang setiap kali dia salah menebak, asalkan pada akhirnya dia menemukan jawaban yang benar.
…Tapi dia tidak ingin menjalankan Academy City yang baru ini dengan cara yang tercela seperti itu.
Dia sudah mengambil keputusan.
“Huah… ngantuknya.”
“Tunggu, kenapa kau masuk ke selku? Kalau kau tidur di sini, akan terlihat seperti aku telah memancingmu masuk agar bisa mencuri kuncimu dan kabur!!”
Pikiran Accelerator terganggu oleh suara-suara konyol.
…Dan jika dia bisa mendengarnya, sipir dan tahanan itu pasti tetangga yang cukup dekat dengannya.
Mereka memang mengatakan beberapa hal yang konyol.
Tapi, dia tidak menganggap itu sebagai hal yang tidak berharga.
Mereka sedang menjalani rehabilitasi agar mereka dapat kembali ke kehidupan normal. Dia menganggap ini seperti melihat punggung seseorang yang berada beberapa langkah di depannya di jalan tersebut.
Siapa pun yang masih menanggapi segala sesuatu dengan sangat serius membuat mereka terlihat keren, tetaplah berbahaya.
Mereka belum kehilangan taring dan cakarnya.
Dalam keadaan begitu, mereka tak bisa dikembalikan ke kehidupan normal.
(Di samping itu…)
Ketua dewan yang baru itu menghela napas.
(Aku mungkin tidak akan menemukan jawabannya bahkan setelah membalik semua kartu. Informasi yang aku inginkan mungkin tidak pernah ada di mana pun dalam bentuk teks atau data. Sangat mungkin bahwa semua informasi tentang SYSTEM hanya pernah ada di kepala Aleister.)
Lalu sesuatu menghentikan pikiran Accelerator sepenuhnya.
Suara seorang gadis terdengar ragu-ragu menyela.
Itu adalah Qliphah Puzzle 545, sang Iblis Buatan.
Melayang bebas menentang gravitasi, dia dapat dengan mudah menggerakkan wajahnya ke depan Aceelerator bahkan ketika dia sedang menatap langit-langit dari tempat tidur.
“U-um… Master?”
“Ada apa?”
“Kau baru saja dapat telepon …Dari London, Inggris.”
Kalau dipikir-pikir, "hukuman" untuk Hamazura Shiage dan Narthex akan segera dimulai, bukan?
Death_Sentence_for…
Menara London adalah salah satu destinasi wisata paling terkenal di Inggris. Apakah orang-orang ingin melihat sesuatu yang menakutkan, ataukah mereka ingin menatap bagian yang memalukan dari Kekaisaran Inggris yang terkenal di dunia? Terlepas dari citranya yang suram, jumlah wisatawan yang berharap untuk merasakan sejarah sangat besar sehingga pembatasan diberlakukan agar pengunjung tidak membeludak.
Tapi sebagian besar orang yang mendengarkan pemandu wisata dengan earphone nirkabel dan mengambil foto dengan ponsel diarahkan ke pintu keluar tanpa pernah mengetahui kebenarannya.
Menara London penuh dengan koridor-koridor berliku yang diblokir dengan plang "dilarang masuk" dan juga tali. ...Dan di bagian terdalamnya, menara itu masih digunakan untuk tujuan yang sama seperti di masa kejayaannya.
Artinya, sebagai penjara rahasia untuk para penyihir yang dikelola oleh negara.
***
Lokasi lain di London sangatlah berbeda.
Di dalam Istana Buckingham yang megah, Ratu Elizabeth sedang bersantai.
Lebih tepatnya, dia mengenakan pakaian olahraga dan berbaring di sofa mewah.
Pemimpin Ksatria, yang berdiri di dekatnya, adalah seorang prajurit yang terlatih dengan baik, jadi dia tidak meletakkan tangannya di dahi. Karena pikirannya yang kuat dapat mengusir godaan apa pun!
“Anglikan telah melakukan beberapa tindakan dan saya pikir Anda perlu mengetahuinya.”
“Baik,” kata sebuah suara malas.
Bagi sang ratu, Istana Buckingham hanyalah rumahnya. Dia pasti merasa bebas untuk bersantai dengan pakaian apa pun yang disukainya.
“Maksudmu tentang Amakusa… yang orang-orang dari Asia itu? Yang katanya sedang menghilang?”
“Setelah kegagalan besar mereka di Academy City, mereka pergi ke pegunungan untuk merenungkan diri. Surat mereka disertai dengan jimat kertas yang terhubung dengan puan pendeta mereka. Dalam keadaan darurat, kita dapat mengutuk jimat itu untuk memberi tahunya.”
“Orang Jepang menganggap keluarga kerajaan Inggris sebagai orang seperti apa sih? Ratu Inggris yang terkenal di dunia tidak akan pernah menggunakan kutukan.”
Elizard menghela napas.
Kelompok itu menanggapi segala sesuatu dengan terlalu serius.
Sedangkan para Penyihir Anglikan sejati seperti Stiyl dan Isabella mungkin sedang berkeliaran di sebuah kafe di Westminster atau semacamnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Tindakan lainnya dari Anglikan adalah Dion Fortune. Dia masih menjabat sebagai Uskup Agung mereka, tapi dia memboikot tugas-tugasnya. Dia tidak merespon panggilan kita sama sekali.”
“Mereka memulai pengadilan tanpa persetujuan dari pemimpin mereka. Aku bisa memahami kekesalannya.”
“Bukan berarti mereka meremehkan kemampuan Fortune. Tapi salah satu tersangka merupakan teman pribadinya. Jadi, kali ini sayangnya dia tidak dapat dianggap sebagai hakim netral.”
Penjelasan tenang dari Pemimpin Ksatria itu masuk akal.
Namun pada saat yang sama, dia menyadari bahwa itu adalah lereng landai di mana jalan di depannya terus menyempit karena hanya pilihan yang paling tidak berisiko yang diambil. Bayangan menyelimuti wajah pria itu.
Elizard juga menghela napas.
(Menyebalkan sekali. Orang yang merusak ikatan antarmanusia dan menghambat evolusinya, ya? Setelah mati pun kau masih saja punya kuasa, Lola Stuart.)
“Jadi, bagaimana?”
“Mengingat beratnya masalah ini, mereka tidak dapat mengizinkan Uskup Agung untuk mengeluarkan indulgensi dan membebaskannya. Untuk menghilangkan pengaruh pribadi Fortune… biarkan sebelas orang itu yang akan menangani masalah ini.”
Ratu Elizard meringis mendengar jawaban Pemimpin Ksatria.
Ini tidak biasa bagi sang ratu, yang biasanya dengan tenang menertawakan setiap masalah internasional dan dengan penuh semangat mencari solusi.
“Aku tidak terlalu suka dengan mereka.”
“Tapi itu perlu. Ini harus dilakukan secara adil dan tidak memihak, tanpa mentolerir celah hukum. Bukankah itu sebabnya Anda masih belum menyingkirkan mereka?”
Itu memang benar, tapi dia tetap tidak menyukainya.
Elizard bangkit dari sofa mewahnya.
Dia melirik ke luar jendela, tapi dia tidak bisa melihat Menara London.
“Narthex, bukan?”
“Ya.”
“Dan Hamazura Shiage.”
Pemimpin Ksatria tidak mengatakan apa pun lagi.
Karena dia memang kesulitan memahami maksud sang ratu. Dia sedikit terkejut bahwa ratu bahkan mengetahui nama orang asing seperti Hamazura Shiage.
Dengan mata masih menatap ke luar jendela, Elizard berbicara dengan suara penuh kesedihan.
“Kalau begitu, pengadilan penyihir hari ini hanya akan menjadi kemalangan dan bencana bagi kedua orang itu.”
Dia tidak cukup bodoh untuk mendarat langsung di bandara Inggris.
Jadi pertama, rencananya adalah memasuki Prancis dengan nama palsu, lalu melewati Terowongan Channel untuk mencapai London.
Saat itu sudah larut malam.
Dia bahkan belum berjalan sepuluh langkah dari kereta.
Takitsubo Rikou mendapati Leivinia Birdway berdiri di depannya di peron stasiun raksasa.
“Terlalu jelas. Dari sisi sihir, Inggris sudah lama menganggap Prancis sebagai musuh terbesarnya. Mengapa kau mencoba menyelinap melalui rute yang paling diawasi? Paling tidak seharusnya kau menyelinap naik kapal dari Spanyol atau Belanda. Meskipun celah itu akan tertutup dalam dua minggu lagi.”
Tentu saja dia berbicara dalam bahasa Inggris.
Dan dengan aksen Inggris murni yang akan terdengar janggal di telinga orang Amerika atau Australia. Birdway tidak berkewajiban untuk berbicara dalam bahasa negara Takitsubo.
Gadis pirang yang percaya diri itu menyesap minuman yang diberikan bawahannya, lalu menatap label botol itu dengan ekspresi tak percaya.
Dia menunjukkan ketidakpeduliannya dengan mengalihkan pandangannya dari musuh yang tepat berada di depannya.
“Ih, menjijikkan… Hei, Mark, minuman apa sih ini? Rasanya seperti cat yang digunakan untuk membuat botol kaca berkilau.”
“Ini air mineral, Bos. Produk mewah dari Swiss. Harganya lebih mahal daripada secangkir teh yang sering kau minum sambil melontarkan informasi sepele, meski kau tidak pernah menyeduhnya sendiri.”
“Air mineral? Maksudmu air dari tanah?! Air tanah Eropa terlalu berbahaya untuk diminum tanpa direbus terlebih dahulu. Setidaknya, tidak ada orang Inggris yang mau menyentuh air itu. Pantas saja tubuhku langsung menolaknya. Kita memang sedang berada di luar ruangan dan di jalanan, tapi pilihan yang tepat adalah menyiapkan secangkir teh yang aman dan enak. Kau seharusnya melakukan itu, Mark, soalnya dari tadi kerjamu hanya diam dan memakan gaji buta.”
“Lihatlah semua pekerjaan yang aku lakukan ini, bos. Semua yang tertulis di buku catatanku ini adalah hal yang seharusnya menjadi tugasmu sebagai ketua cabal.”
Rupanya pria berjas hitam itu tidak menuntut bosnya yang keliru untuk mengubah perilakunya. Menunjukkan kesalahan dan membiarkan rasa malu yang bekerja ternyata bukan hanya alat birokrasi Jepang.
Takitsubo mengabaikan semua itu dan menyela dalam bahasa Jepang.
“Dibiarkan saja pun aku akan tertangkap, jadi kenapa kau mengambil risiko untuk menghubungiku? Apa kau juga berencana untuk—”
“Ah, aku sebenarnya tidak peduli dengan Hamazura Shiage.”
“…”
“Jangan tatap aku seperti itu. Dan jangan coba menggertak tanpa sepasang kartu di tanganmu. Mengancam tanpa tahu cara bertarung sama saja dengan bunuh diri. Lagipula, kau sepertinya menatap kartu-kartu di tanganmu dengan saksama, tapi apa kita sedang bermain poker Eropa? Atau malah Seven bridge Jepang? Kau bahkan tidak bisa menebak bagaimana aturan melawan cabal sihir.”
Birdway terkekeh.
Tidak ada yang lain.
Tapi, sebelum Takitsubo menyadarinya, dia sudah dikelilingi. Oleh pria-pria yang mengenakan jas hitam yang identik.
Jumlahnya bukanlah satu-satunya masalah.
(Aku seorang ahli pelacakan, tapi aku bahkan tidak menyadari mereka.)
Bahkan seorang pakar informasi yang berhasil melarikan diri dari Academy City pun jadi seperti ini.
Ibaratnya seperti antara fasilitas radar kuno dan pesawat pembom siluman strategis. Dia telah diperlihatkan kebenaran bahkan sebelum pertempuran dimulai, yakni jika dia mencoba melawan, dia akan dibantai tanpa ampun.
Mereka berada tepat di depannya, namun kehadiran mereka begitu minim sehingga seperti menyaksikan bayangan yang muncul dari tanah.
Mereka sudah selevel itu.
Memang seperti itulah permainannya.
“Wajar bila kau cemas. Kau mungkin tidak tahu tentang pengadilan penyihir, tapi itu bukanlah istilah yang membangkitkan optimisme. Apalagi ketika orang terdekatmu terlibat.”
“Kau terdengar seperti tahu apa artinya.”
“Ya karena itulah dunia tempatku bertarung.” Birdway mengangkat bahu. “Misalnya, pernahkah kau mendengar tentang alat yang disebut Spanish Spider?”
“?”
“Itu adalah seperangkat kait logam yang membuka dan menutup seperti gunting atau tang. Empat ujung tajamnya menusuk punggung seseorang, lalu seseorang itu akan diangkat menggunakan katrol di langit-langit. Otot punggung dan lemak korban yang malang terkoyak oleh berat badannya sendiri. Dan, tentu saja, ini bukan sekadar gertakan, alat ini benar-benar pernah digunakan.”
“Kau…”
“Ada juga alat penyiksaan yang dimodelkan seperti batu penggiling. Tubuh korban ditempatkan di antara sepasang potongan batu yang dirancang untuk berputar berlawanan arah satu sama lain dan kemudian diputar perlahan sampai mereka mengaku. Alat penyiksaan bukanlah bentuk teknologi yang unik. Alat-alat itu didasarkan pada benda-benda yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.”
“…”
“Rack, garrote, Lissa's iron coffin — ada banyak pilihan kejam lainnya. Bagai bintang di langit, namun tak satu pun di antaranya adalah alat yang baik. Semuanya kejam. Orang-orang suka mengatakan sifat manusia itu baik, tapi ini adalah contoh ekstrim dari apa yang bisa dihasilkan manusia ketika mereka berkumpul dan kehilangan kendali. Jika kau ingin penjelasan rinci tentang salah satunya, bilang saja. Tidak seperti mereka, para pria dan wanita suci, kami tidak terikat oleh kewajiban untuk selalu berbuat baik. Jadi, tidak seperti para penegak keadilan yang penuh beban pikiran, kami tidak meremehkan kekejaman tindakan atau jumlah korban. Kami akan memberi tahumu kebenaran yang sebenarnya. Itulah jalan yang sedang ditempuh Narthex dan Hamazura Shiage sekarang.”
Memang benar Birdway lebih tahu tentang hal ini daripada Takitsubo.
Tapi Birdway mengatakan bahwa dia tidak peduli dengan Hamazura.
“Kami, Dawn-Colored Sunlight tertarik dengan Para-Gadis, dalam hal ini Narthex. Warisan yang ditinggalkan oleh Iblis Agung Coronzon yang sebanding dengan Perpustakaan Grimoire, Index Librorum Prohibitorum. Pengguna sihir segel itu akan menjadi aset besar jika kami bisa mendapatkannya. …Meski begitu, dia adalah senjata super yang diciptakan oleh pengkhianat Anglikan, Lola. Musuh dari Anglikan, jadi masih tidak jelas apakah gadis itu benar-benar milik Anglikan atau bukan. Meski begitu, mereka membawanya kembali dari Academy City dan berusaha untuk menjatuhkan hukuman mati padanya di Menara London. Tepat di depan mataku!! Betapa sia-sianya mengeksekusi seorang jenius seperti itu!”
“Kata-katamu seakan kau masa bodoh asalkan yang dieksekusi bukan seorang jenius.”
“Karena memang benar. Aku tidak menentang hukuman mati, tapi aku juga tidak secara aktif mendukungnya. Jika kau ingin menghindarkan dia dari hukuman mati, tunjukkan apa untungnya bagiku, jika berhasil maka aku akan membantu. Tapi ingat, walau aku menganggap kepribadian sebagai salah satu bentuk bakat tapi aku tidak membutuhkan 2 kartu as. Cukup satu orang di dunia yang bisa menggoyahkan diriku. Oh, aku sedang tidak membicarakan adikku. Adikku adalah kategori tersendiri.”
Bukan berarti Leivinia Birdway tidak tahu siapa Hamazura Shiage.
Tapi dia bahkan tidak perlu memikirkannya.
Itulah kata-kata seseorang yang memilih orang berdasarkan hierarki. Dalam arti tertentu, sisi tanpa perasaan itu diperlukan untuk memimpin sebuah organisasi.
“Kau ingin menyelamatkan Hamazura Shiage. Dia sedang diadili, tapi pada dasarnya itu adalah permainan yang sudah diatur dan telah ditentukan sebelumnya bahwa dia akan dieksekusi, jadi aku mengerti kau tidak sabar. Tapi kau bahkan tidak tahu di mana dia menunggu eksekusi, kan? Ha ha ha. Mencari catatan polisi dan pengadilan biasa secara online dari Prancis tidak akan menghasilkan apa pun. Ini dilakukan di bawah sistem yang sama sekali berbeda, yakni sihir. Orang-orang yang tidak dapat diadili oleh hukum biasa tidak akan diatur oleh lembaga publik yang beroperasi di bawah hukum biasa, bukan? Tapi seseorang tetap perlu menghukum mereka demi perdamaian dan keamanan. Biar kutebak, kau bahkan tidak dapat menemukan nama Hamazura Shiage di basis data imigrasi.”
“…”
“Apakah diam adalah kebiasaanmu ketika tidak bisa menemukan jawaban? Jika ya, itu cukup menggemaskan.”
“Aku ragu kau akan memberitahuku jawabannya. Itu tidak menguntungkanmu sama sekali.”
“Kau benar.”
Takitsubo mendengar suara pelan.
Dari sisi lehernya.
“Aku tidak bisa membantumu. Karena aku tidak terlalu tertarik pada Takitsubo Rikou dari Academy City.”
Takitsubo tidak melakukan perlawanan.
Tidak, terutama ketika salah satu pria berjas hitam — yang bernama Mark — telah memukul dengan sudut dan kecepatan yang sempurna.
“…”
Hamazura Shiage mendengar suara goresan.
Dia menghadap tembok.
Dinding batu yang berjamur itu sangat keras dan juga lembap.
Dia duduk di dalam sel penjara yang persis seperti dalam buku cerita. Penjara yang layak tidak akan mengizinkan narapidananya berada dalam kondisi yang tidak higienis seperti itu.
“Ahh.”
Srek, srek, srek, srek.
Selain itu, dia belum pernah diadili. Dia tidak tahu di mana dia berada, tapi dia belum pernah mendengar ada terdakwa yang dijebloskan ke penjara sebelum dinyatakan bersalah atau tidak bersalah. Bahkan, tidak ada seorang pun yang memberitahunya hukum negara mana yang telah dilanggarnya.
Tapi, ketika terisolasi dari dunia luar oleh jeruji besi, tidak akan ada yang mendengarnya jika dia mengeluh tentang perlakuan tidak adil. …Bukan berarti ada yang mau repot-repot mendengarkan apa yang dikatakan seorang penjahat.
“Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.”
SYSTEM.
SYSTEM, SYSTEM, system!!
Hamazura mencengkeram dinding batu yang basah dengan kukunya, bukan karena dia mencoba menggali dinding dan kabur. Informasi mengalir deras dari pikirannya. Dengan cepat. Sama seperti sulitnya menjelaskan mimpimu kepada seseorang, betapa pun indahnya mimpi tersebut.
Dia telah melihatnya.
Di saat-saat terakhir itu, dia melihat sesuatu di belakang Kamijou Touma.
Tapi informasi itu terus berhamburan. Hanya kata SYSTEM yang jelas yang tersisa saat informasi tersebut terpecah-pecah seperti daging yang terkelupas dari tulang.
Meskipun dia tidak bisa melupakan informasi itu.
Apakah itu sebuah mekanisme, kerangka kerja, atau hierarki? Apakah definisinya begitu luas sehingga tidak mungkin semuanya muat di dalam otak manusianya yang kecil? Atau apakah sistem besar yang mengatur seluruh dunia memiliki kekuatan untuk mengutak-atik isi pikirannya?
Dia tidak tahu.
Dia tidak mengerti.
Dia tidak bisa menjawab.
Dia tidak bisa memahaminya.
Seandainya dia bisa mengingat apa yang dilihatnya di belakang Kamijou hari itu, dia pasti bisa memberikan jawabannya dengan mudah!! Padahal ini informasi penting yang tidak boleh dia lupakan!
“Apakah kau baik-baik saja?”
“Kh.”
Suara garukannya telah reda.
Dia mendengar sebuah suara.
Dia tidak sedang berhalusinasi… Karena suara itu bukan berasal dari dalam selnya. Itu adalah suara fisik yang bergetar di udara dan mencapai gendang telinganya dari sel di seberang koridor batu.
Dia mengenali suara itu.
Gadis yang duduk di lantai batu yang dingin itu tampak sangat kedinginan. Ada sesuatu yang berbeda darinya dibandingkan saat dia melihatnya sebelumnya. Setelah berpikir sejenak, dia menyadari ada sesuatu yang hilang, yaitu mantel yang dikenakannya. Otak keduanya. Apakah otaknya disita karena dianggap sebagai senjata berbahaya?
Gadis itu meringkuk dan gemetar.
Sepertinya hawa dingin itu perlahan-lahan menguras energinya.
Namun, bahkan dalam keadaan seperti itu, dia memanggil Hamazura.
Bahkan dia pun tak sanggup melihatnya seperti ini.
“Kau Narthex… bukan?”
“Ya. Aku anak dari ibuku.”
|Walau di sini ditulis sebagai “sister” dan bukan “daughter”, tapi kanjinya sendiri ditulis “弟子” atau “murid/anak didik”. Jadi biar pas dan selaras sama kanjinya, gw ganti pake kata “anak”.
|Di sini tertulis "mother", tapi kanjinya ditulis sebagai "師匠" atau "guru/master"
Hamazura tidak tahu persis apa maksudnya.
Tapi, Hamazura bisa membayangkan bahwa itu adalah hal yang berharga sampai gadis itu harus menegaskannya.
“Ibu telah membuatmu menderita. Karena dia telah tiada, aku akan meminta maaf atas namanya. Hamazura Shiage, kau hanyalah orang biasa yang tidak terlibat dalam hal ini, jadi seharusnya kau tidak pernah melihat sisi tersembunyi dunia ini.”
Aneri… telah pergi.
Tidak, dia mungkin bersembunyi di suatu tempat di jaringan internet bahkan sekarang, tapi penjara pengap yang terbuat dari dinding batu tebal dan jeruji besi ini tidak memiliki perangkat elektronik yang mampu melacaknya. Ponselnya yang retak telah hilang dan, meski sulit dipercaya, tapi tempat itu bahkan tidak memiliki kunci elektronik di pintu atau kamera keamanan dasar.
Bukan berarti mereka bersikap longgar terhadap keamanan, tapi mereka secara teratur melakukan hal-hal yang tidak ingin mereka catat, bahkan agar tidak diketahui oleh orang-orang mereka sendiri.
Gagasan itu menimbulkan rasa takut yang mencekam.
Tempat ini benar-benar terisolasi dari peradaban. Tidak seorang pun di dunia akan mengetahui apa yang terjadi di sini.
Di sinilah dia akan mengetahui dengan pasti bagaimana alat-alat penyiksaan dan eksekusi beracun yang hanya terlihat dalam buku cerita digunakan dengan semestinya.
Kekuatan peradaban tidak akan mampu berbuat apa pun di ruangan yang terkunci ini.
Lingkungannya tidak cocok buat Aneri.
Melarikan diri dengan bantuan teknologi hanyalah mimpi belaka.
“Aku ikut terlibat.”
“?”
“Coronzon menyelamatkan hidupku. Bukan, hidupku tidak penting. Dia menyelamatkan Dion Fortune dan Takitsubo Rikou, temanku dan pacarku. Mungkin dia hanya iseng, tapi aku tidak bisa tutup mata. Tanpa bantuannya, aku akan kehilangan dua hal yang lebih berharga daripada hidupku sendiri. Jadi aku memang ikut terlibat.”
“Bahkan aku sendiri sulit percaya bahwa ibu akan menyelamatkan seseorang tanpa mengharapkan imbalan apa pun.”
“Bukankah kau diasuh dan dibesarkan oleh Coronzon?”
“Karena dia punya tujuan tertentu untukku. Aku adalah Narthex Coded Cathedral, seorang ahli segel dan enkripsi. Ibu menginginkanku sebagai kandidat untuk menciptakan musuh alami bagi semua penyihir. Bahkan sebagai anaknya, aku tidak pernah melihatnya benar-benar menyelamatkan seseorang. Itu sangat langka.”
Mungkin saja.
Saat mereka berada di Skotlandia, Coronzon memberi tahu Hamazura bahwa dia bebas untuk mengikutinya, tapi dia bermaksud menggunakan Hamazura sebagai umpan atau pengalih perhatian.
“Tapi…”
“Apa?”
“Aku juga belum pernah melihat dia kabur meninggalkan sekutunya.”
Sekarang giliran Narthex yang terkejut. Mungkin, setelah diingatkan, dia kembali mengingatnya, dan baru menyadarinya sekarang.
Ya, Coronzon telah kalah dan Hamazura masih hidup.
Coronzon tidak memperlakukannya sebagai pion.
Coronzon berjanji akan melakukannya, tapi dia bahkan tidak melakukannya sampai akhir.
“…”
Akhirnya, Narthex berbicara dengan nada merajuk.
“…Rasanya ada yang aneh.”
“Apa?”
“Aku benci orang-orang yang menyebut ibu sebagai Iblis Agung meski mereka tidak mengenalnya. Tapi aku juga tidak suka mendengar orang yang tidak menyebutnya sebagai Iblis Agung.”
“Ha ha.”
“Apa?”
“Aku hanya penasaran apa yang akan dipikirkan Coronzon jika dia mendengarnya.”
Cemburu?
Istilah itu rasanya sangat tidak cocok kalau disandingkan dengan sosok Iblis Agung Coronzon.
Tapi, ada seseorang yang merasakan hal itu.
Coronzon telah tiada. Itu adalah fakta yang tak terbantahkan. Tapi para penyintas bebas untuk berharap itu tidak terjadi.
Bahkan pihak yang kalah pun memiliki hak itu.
“Ceritakan padaku tentang Coronzon yang kau kenal.”
“Kau tidak tahu apa-apa tentang sihir. Aku bahkan tidak perlu mengenkripsi informasi berbahaya itu karena kau tidak akan mengerti sepatah kata pun.”
“Aku tetap ingin tahu.”
Dan benar kata Narthex.
Apakah ini pelatihan atau malah pelecehan? Sebisa mungkin Hamazura berusaha memahami rangkaian kata-kata panjang yang keluar dari mulut gadis kecil itu, Hamazura tidak mengerti sama sekali. Jika kekerasan dapat menjamin kemenangan dalam turnamen olahraga dunia, maka itu dapat dipuji sebagai tindakan yang baik. Sebaliknya, jika kebaikan hanya akan membuat seorang anak menyia-nyiakan hidupnya setelah dewasa, maka cinta yang gegabah itu dapat dikritik sebagai kekerasan. Ini sama saja. Selain itu, Hamazura tidak memahami nilai sihir, jadi dia kesulitan menilai apa yang didengarnya tentang hubungan mereka sebagai ibu dan anak.
Tapi Narthex sendiri terdengar bangga saat berbicara.
Itulah yang terpenting.
Hal yang terpenting adalah dia harus mengeluarkan apa yang selama ini dipendamnya.
(Sungguh…)
Hamazura duduk bersandar pada jeruji besi dan mendengarkan suara yang bahkan bukan lagi bahasa Jepang.
(Kami kira kami tahu tentang Coronzon, tapi sebenarnya kami tidak tahu apa-apa tentangnya.)
Hamazura mendengar suara basah.
Yang bisa dengan mudah digambarkan sebagai kotor.
Tapi Hamazura tidak mengatakan apa pun.
Karena hal ini tampak jauh lebih manusiawi daripada selalu berusaha untuk tetap bersih dan cantik.
“…terus…”
“Ya.”
“Aku ingin bertemu lagi dengan ibu. Aku ingin mendengar suaranya, mengusap kepalanya, dan mengatakan padanya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Hanya itu yang aku inginkan…”
“Aku mengerti maksudmu. Aku juga merasakan hal yang sama.”
Memukul Kamijou Touma dan membalas dendam padanya tidak akan mengubah dunia.
Coronzon sudah mati, jadi itu tidak akan membuatnya bahagia.
Tapi Hamazura memang ingin melakukannya.
Terlepas dari mana yang benar atau adil, dia ingin menyelesaikan keputusannya sendiri.
“Mereka mungkin akan melakukan sesuatu yang mengerikan kepada kita.”
“…”
“Tapi, ingatan mudah diputarbalikkan. Kita bisa memperindahnyanya, memperburuknya, atau melupakannya. Ingatan tidak akan utuh jika hanya dipegang oleh satu orang. tapi jika kita memiliki beberapa sudut pandang — sehingga kita semua dapat mengingatnya dari berbagai arah — bukankah kita bisa mengingat siapa Coronzon sebenarnya?”
Narthex tetap hening untuk beberapa saat.
Dia mungkin sedang menyembunyikan sesuatu. Wajah yang berbeda dari yang dia tunjukkan saat bertarung melawan Kamijou Touma.
Tapi, masa-masa indah itu tidak berlangsung lama.
“…Kh…”
“Hei, Narthex?”
Gadis itu membungkuk kesakitan.
Tubuhnya tampak begitu kecil di balik jeruji besi.
Hamazura merasakan hal itu perlahan-lahan menghampirinya.
Sebuah kegelisahan.
Akan masyarakat, standar, pengetahuan umum — semua ancaman tak terlihat yang dihadapi oleh orang-orang yang tidak adil.
“Ada apa? Apa kau terluka?”
“Aku baik-baik saja…”
“Tidak, bukan begitu. Apa yang terjadi?!”
“Situasiku mungkin mirip seperti… gestaltzerfall…”
|fenomena psikologis di mana seseorang mengalami kesulitan atau penundaan dalam mengenali bagian dari bentuk yang kompleks setelah menatapnya terlalu lama.
Dahi Narthex berkerut dan dia memegang kepalanya.
Dari sudut pandang Hamazura yang kurang pengetahuan, sepertinya dia sedang sakit kepala.
Wajah Narthex terlihat sedikit kemerahan.
Dia mengalami mimisan.
Narthex pasti menyadarinya karena dia menggerakkan tangan kecilnya dari pelipis ke mulutnya.
Reaksinya tampak terlambat.
“Pikiranku khusus untuk menyusun dan memecahkan kode. Terkadang itu muncul dalam penglihatanku… Ketika aku melihat satu karakter, karakter itu terurai menjadi bentuk-bentuk penyusunnya tanpa makna apa pun yang masuk ke kepalaku, atau aku melihat makna kompleks dalam pola atau noda yang tidak berarti di dinding… Meskipun aku tahu itu tidak ada gunanya. Seperti memecahkan sebuah karya seni tipuan, begitu kau melihatnya, kau tidak bisa melupakannya.”
Apa maksudnya itu?
Apakah dia baik-baik saja?
Jenis sakit kepala apa yang bisa sampai menyebabkan mimisan?
Ketidaktahuan itu membuat Hamazura khawatir, tapi tiba-tiba dia juga takut untuk mencari tahu.
…Selama insiden di bandara, Narthex mengatakan bahwa dia adalah senjata pamungkas yang tidak terpilih yang diciptakan oleh Coronzon. Tapi lumpuh karena sakit kepala di tengah pertempuran seperti ini akan menjadi kelemahan yang fatal. Tapi, dia tidak berakhir seperti ini ketika dia bertarung melawan Kamijou Touma.
Hamazura berpikir sejenak dan kemudian menyadari mengapa ini terjadi.
“Otak keduamu?”
“…”
“Apa kau butuh mantel itu atau kau akan menderita sakit kepala dan pusing yang sangat parah sampai tidak bisa bergerak?! Ini buruk. Berarti mau kau mengertakkan gigi dan menahannya, rasa sakitnya tidak akan hilang, kan?!”
Berbaring meringkuk dan gemetar karena kedinginan?
Hamazura merasa bodoh. Narthex telah menanggung rasa sakit ini sepanjang waktu! Waktunya telah terbuang karena terkurung di dalam sel, saat ini hidupnya perlahan-lahan terkuras!!
Hamazura sejujurnya tidak tahu apa pun mengenai otak keduanya, dia pikir itu adalah sesuatu yang menggantikan atau mengambil alih proses kalkulasi di dalam kepalanya. Dan dia tidak akan mengalami masalah ini selama ada otak kedua yang menangani kalkulasinya tersebut.
Tapi, itu telah renggut darinya.
Oleh Anglikan yang menganggapnya sebagai senjata mematikan.
“Jangan… salahkan… ibu.”
Suara Narthex bergetar.
Bahkan saat dia meringkuk di lantai yang dingin dan menahan rasa sakit, Narthex mengkhawatirkan kehormatan seseorang yang sudah tidak bersama mereka lagi.
“Ini salahku karena tidak mampu menangani semuanya. Ini bukan bagian dari rencana ibu.”
“…”
Tapi.
Mendengar pembelaan yang dilakukan lebih awal ini membantu menjernihkan pikiran Hamazura.
Selama ini Hamazura sama sekali tidak kepikiran akan adanya kemungkinan ini.
Apakah upaya Coronzon yang terus-menerus mengasah kemampuan Narthex justru menanamkan kerentanan di dalam dirinya?
Atau…
…Apakah Coronzon sengaja menciptakan kerentanan ini? Agar lebih mudah mengendalikan si joker kuat di sisinya. Seolah Coronzon sedang memasang kekangan di lehernya.
(Aku bisa memikirkannya nanti. Menemukan kebenaran tidak akan menghilangkan sakit kepala Narthex!)
“Hei! Apa kau tidak dengar kalau Narthex sedang menderita di sini?! Penjara ini harusnya punya ruang medis. Aku tidak menyuruhmu untuk mengembalikan otak keduanya. Salah satu penyihir ahlimu pasti tahu cara lain untuk menghilangkan rasa sakit ini, kan? Jika kau ingin mengklaim bahwa kaulah yang adil, maka kau harus benar-benar memperhatikan orang sakit! Kalau tidak, kau tidak bisa menyebutnya pengadilan yang adil!!”
Hamazura meraih jeruji besi dan berteriak, tapi tidak ada respons.
Ini adalah penjara.
Mereka harusnya memiliki penjaga yang tidak akan mengabaikan kejanggalan sekecil apa pun.
Sakit kepala.
Satu kata itu bisa memiliki banyak penyebab dan gejala yang berbeda, tapi itu kenapa kita tidak bisa begitu saja mengabaikan sakit kepala tanpa penyebab ilmiah yang diketahui. Ada sakit kepala yang menyebabkan kematian, seperti perdarahan subarachnoid dan tumor otak.
Dan sakit kepala ini menyebabkan mimisan. ...Mungkinkah pendarahan ini adalah karena ada sesuatu yang terjadi di kepala Narthex?
“Aku baik-baik saja.”
“…”
“Otakku belum sepenuhnya dilahap oleh kerusakan. Memang ada banyak sekali berkas rusak yang tidak jelas di kepalaku, tapi aku masih bisa hidup. Setidaknya untuk saat ini.”
Hamazura memiliki firasat samar bahwa Narthex memiliki kemampuan khusus. Kemampuan unik yang berbeda dari esper Academy City. Tapi seberapa jauh Coronzon telah memaksa tubuh mungil itu untuk mengkhususkan diri pada kemampuan tersebut? Dan apa yang telah Coronzon lakukan untuk mengendalikan kekuatan itu dari luar?! Bagaimanapun itu, nyawa Narthex sekarang dalam bahaya!
Hamazura ingin berteman dengan Coronzon. Tapi tidak bisa.
Tapi alasannya bukan karena Coronzon adalah orang baik.
“Ini adalah kemampuan yang diberikan ibuku. Jadi aku tidak akan melepaskannya. Apa pun yang terjadi.”
“Narthex.”
Tepat saat itu, Hamazura mendengar langkah kaki.
Kepalanya menoleh, tapi dia masih belum menyadari apa yang sedang terjadi. Karena pikirannya langsung tertuju pada gagasan bahwa mereka akhirnya menyadari ada sesuatu yang tidak beres dan datang untuk memberikan bantuan.
Apa benar mereka peduli?
Penjara ini dibangun untuk mengurung Hamazura dan Narthex.
Langkah kaki para sipir itu begitu teratur hingga terkesan menggelikan. Apakah suara gemerincing itu berasal dari seikat kunci, atau dari alat penyiksaan yang aneh?
Yang berarti semuanya baru saja dimulai.
“Ruang Tahanan yang Belum Divonis di Gedung Pemeriksaan Khusus telah dibuka. Bersiap memasuki ruangan.”
“Masuk dikonfirmasi. Segera kunci kembali.”
Mereka disebut Beefeater, bukan? Para penjaga yang masuk mengenakan seragam merah persis seperti yang ada di foto-foto situs web wisata. Hamazura tidak bisa memastikan apakah mereka adalah Beefeater asli atau sesuatu yang lain yang menyamar sebagai bagian dari sejarah.
“Memeriksa Terdakwa Narthex.”
“Memeriksa Terdakwa Hamazura Shiage.”
Hamazura tidak mengerti sepatah kata pun karena mereka berbicara bahasa Inggris, tapi dia mendengar namanya disebut. Mereka memanggilnya. Dia tahu betul bahwa itu bukan pertanda baik.
Blodeuwedd the Bouquet.
Nama itu sempat terlintas di benaknya… tapi dia tidak bisa mengandalkannya.
Pertama, Transenden terlalu berubah-ubah.
Jika Blodeuwedd tidak suka perlakuan yang diterima Hamazura, dia pasti sudah menerobos masuk ke Menara London dan menyeret Hamazura keluar. Karena dia belum melakukannya, berarti dia memang tidak sedang di sini. Dia mungkin sedang membantu orang yang dibenci lainnya di suatu tempat di dunia.
Merupakan sebuah keajaiban bahwa Blodeuwedd telah membantunya sekali dalam hidupnya.
Hamazura tidak bisa berasumsi kalau wanita itu akan terus melindunginya untuk kedua atau ketiga kalinya.
Jika Hamazura ingin menyelamatkan Narthex, dia harus melakukannya sendiri.
(Paling tidak aku harus menyelamatkannya.)
Api kecil menyala di dalam Hamazura.
Hamazura menemukan tujuan baru.
Meski tidak ada yang bisa dia lakukan setelah menemukannya, Tapi justru karena dia telah didorong ke ambang kematian, Hamazura membutuhkan semacam tujuan untuk membimbing tindakannya.
Kembali di Academy City, dia mungkin akan mengejek keyakinan kecil ini sebagai orang yang tenggelam yang berpegangan pada jerami.
(Paling tidak aku harus menyelamatkan Narthex. Berbeda denganku, dia tidak memilih jalannya sendiri. Selama ini dia terisolasi dari dunia dan hanya memiliki Coronzon. Jadi dia kehilangan kendali setelah kehilangan satu-satunya hal yang dia kenal. Dan tidak seperti aku, dia memiliki cukup kekuatan untuk benar-benar mencapai sesuatu. Jadi salah jika menuduhnya melakukan kejahatan yang sama seperti aku. Satu-satunya hal yang masuk akal adalah memberinya hukuman yang lebih ringan. Aku mesti berhasil. Entah bagaimana caranya. Aku tidak tahu persidangan seperti apa yang akan kami dapatkan, tapi aku perlu menemukan cara untuk menyelamatkannya.)
Salah satu penjaga pun berbicara.
“Setelah para terdakwa diamankan, bawa mereka ke pengadilan penyihir.”
Suara gemerincing keras terdengar di tengah kegelapan.
Mereka dipaksa berjalan jauh dengan tangan dan kaki terikat rantai logam.
Berkali-kali, koridor itu berbelok membentuk sudut siku-siku, mereka menaiki dan menuruni tangga spiral, dan dia benar-benar kehilangan arah.
Apakah ini masih bagian dari Menara London? Ataukah mereka berada di bawah tempat lain?
Hamazura tidak bisa memahami hal itu.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah ruangan persegi yang besar.
Bangunan itu tidak memiliki jendela.
Namun tidak serta merta lokasinya berada di bawah tanah.
“Sebuah… gedung pengadilan?”
“Benar.” jawab seseorang dari atas. Tanpa ekspresi. “Ini adalah pengadilan untuk mengungkap dan mengadili kejahatan sihir yang harus dirahasiakan. Tempat ini telah lama digunakan sebagai lokasi pengadilan penyihir.”
“Para terdakwa Narthex Coded Cathedral dan Hamazura Shiage, kami berkumpul di sini untuk menimbang dosa-dosa kalian.”
“Frank, Sheila, Tsumoru, Flourish, Fourier, Serre, Sonnet, Elise, Noel, Thomasia, Eleanor. Panggilan nama hakim selesai. Sebelas petugas pengadilan, silakan duduk. Sidang pengadilan dimulai.”
Sebelas Petugas Pengadilan.
Satu-satunya bagian yang dipahami Hamazura adalah angka sebelas. Mereka tampak merupakan kumpulan yang berbeda jenis kelamin dan ras. Atau mungkin mereka memang sengaja dikumpulkan seperti itu. Dan Hamazura sama sekali tidak tahu bagaimana pengadilan Inggris bekerja. Apakah seperti hakim Amerika yang menggunakan palu kayu? Setidaknya di Jepang, mereka tampaknya tidak menggunakannya. Dan apa itu pengadilan penyihir?
Begitu banyak orang berkumpul dengan topeng tanpa ekspresi, itu cukup menakutkan.
Dia pasti akan merasa lebih lega jika mereka semua menyembunyikan wajah mereka di balik topeng kecil seperti di pesta topeng.
Mungkin memang itulah alasannya.
Dalam keadaan sangat bingung, butuh beberapa saat baginya untuk menyadari bahwa dia bisa memahami apa yang dikatakan oleh Sebelas Petugas Pengadilan.
Persidangan sudah dimulai.
Tsumoru? Tsumoru Judicial. Orang yang tampak seperti orang Jepang itu berbicara.
“Narthex Coded Cathedral. Para penyihir pantas mati. Karena mereka adalah penyihir.”
“Sepakat.”
“Itu kesimpulan yang wajar. Kecuali bagi segelintir orang yang mengabdi kepada Kerajaan Inggris, sudah sepatutnya para penyihir jahat menebus dosa mereka melalui kematian.”
“Sepakat.”
Kedengarannya seperti percakapan yang tidak berarti.
Awalnya, Hamazura tidak mengerti apa yang mereka katakan.
Bukankah seharusnya mereka menjelaskan riwayat terdakwa dan tuduhan terhadapnya secara panjang lebar?
“K-kematian?” gumam Hamazura tanpa berpikir.
Narthex sendiri tidak mengatakan apa pun.
“Kau barusan bilang kematian?! Tanpa memberi anak ini kesempatan kedua?!”
Sudah sepatutnya?
Untuk menebus dosa melalui kematian?
Apakah itu wajar?
Bagaimana mungkin mereka mengatakan itu kepada seorang gadis muda yang mungkin bisa hidup delapan puluh tahun lagi jika dia menjaga kesehatannya? Setidaknya dia harus diberi kesempatan untuk memulai hidup baru dan menyesali apa yang telah dilakukannya!
Mata Hamazura membelalak saat para petugas pengadilan melanjutkan ke bagian berikutnya.
Kali ini, yang muncul adalah seorang wanita jangkung berambut merah. Hamazura ingat bahwa wanita itu bernama Sheila, orang kedua yang disebutkan namanya.
“Hamazura Shiage. Dia bukan seorang penyihir dan tidak memahami nilai Iblis Agung Coronzon dengan benar. Karena itu, dia tidak seharusnya diadili berdasarkan hukum penyihir.”
“Sepakat.”
“Orang luar yang membantunya tanpa kesadaran yang memadai tentang ancaman dan bahaya yang ditimbulkannya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan tersebut. Namun, pembebasan sepenuhnya dapat memperkuat kesalahpahaman bahwa ketidaktahuan hukum membenarkan semua kejahatan. Oleh karena itu, aku mengusulkan agar dia dibebaskan setelah menjalani hukuman penjara selama 30 hari.”
“Sepakat.”
Semuanya terjadi begitu cepat.
Seolah-olah mereka tidak ingin memberi Hamazura kesempatan untuk berbicara. Dan sepertinya tidak ada satu pun dari mereka yang akan membantah keputusan-keputusan ini.
“Apakah tidak ada pengacara pembela… atau kesaksian?”
“Mengapa kita harus membuang waktu untuk itu?”
“Karena kami punya hak!! Sidang ini baru dimulai kurang dari lima menit yang lalu! Aku bahkan belum sempat mengingat kesebelas nama dari kalian semua!!”
“Tidak ada hubungan sebab-akibat antara kau mempelajari nama-nama kami dan penegakan keadilan. Oleh karena itu, hal tersebut dapat diabaikan.”
Hamazura tidak mengerti.
Itu tidak masuk akal.
Dia memang telah membantu Coronzon. Jadi dia pantas bersalah. Tapi bukankah seharusnya mereka menjelaskan hal apa yang telah dia lakukan, bagaimana hal itu membantu Coronzon, dan mengapa hal itu memengaruhi insiden di Academy City?! Dia bahkan tidak mengerti atas dasar apa salah satu dari mereka dijatuhi hukuman mati dan yang satunyanya dibebaskan!
“T-tunggu.”
Menyanggah tidak akan membantunya dalam persidangan.
Dia bisa merasakannya, tapi Hamazura tetap mengesampingkan perhitungan itu dan meninggikan suaranya.
Karena jika ini terus berlanjut, Narthex akan terbunuh.
Padahal, kejahatan yang dilakukan Narthex seharusnya lebih ringan daripada kejahatan yang dilakukan dirinya.
“Tapi kenapa aku dibebaskan sementara Narthex dinyatakan bersalah? Dan kenapa dia dijatuhi hukuman mati? Apa yang salah dengan kalian?! Aku bebas memilih apa pun yang aku inginkan dan aku sendiri yang memilih untuk bertaruh pada Coronzon. Aku mengerti jika kalian menyebut itu sebuah kejahatan. Tapi Narthex dibesarkan tanpa mengetahui apa pun selain Coronzon dan dia hanya berusaha mendapatkannya kembali! Jadi dari mana adilnya jika kejahatannya lebih berat daripada kejahatanku?!”
Mereka tidak berkedip sedikit pun.
Bukan pria berkulit cokelat berambut perak bernama Frank, bukan wanita jangkung berambut merah bernama Sheila, bukan pria Asia bernama Tsumoru, bukan wanita Hispanik berambut pirang yang namanya tidak dia ingat, dan bukan sebelas orang lainnya. Mereka bahkan tampaknya tidak merasa kesal terhadap para penjahat yang mereka hakimi.
Mereka tidak sedang melawan musuh.
Mereka menentukan nasib nyawa manusia dengan tanpa emosi, sama seperti mereka menyelesaikan pekerjaan administrasi di meja mereka.
Judicial.
Kesebelas petugas pengadilan yang semuanya memiliki nama marga yang sama itu berbicara secara netral.
“Klaim yang berulang itu tidak ada artinya. Jika kau ingin mengajukan keberatan, kau harus menyerahkan bukti baru dan argumen balasan untuk melengkapi data yang telah kami siapkan.”
Tapi mereka belum mempersiapkan apa pun.
Lagipula, bagaimana cara Hamazura mengirimkan bukti baru?
Hamazura tidak punya pengacara dan ponselnya pun disita. Dia terjebak di balik jeruji besi, tidak bisa menghubungi siapa pun. Dia tidak punya cara untuk mendapatkan "bukti baru" yang pasti ada di suatu tempat di dunia ini! Lagipula, mereka bahkan tidak mengatakan bukti baru itu seharusnya untuk membuktikan apa!
“Jika tidak, keputusan kami akan tetap berlaku dan sidang ini akan ditutup,” tegas Frank Judicial.
“Coronzon adalah satu-satunya yang pernah Narthex miliki. Perasaan bahwa dia tidak datang tepat waktu untuk menyaksikan saat-saat terakhir Coronzon berubah menjadi amarah di dalam dirinya! Tentu itu bisa dianggap sebagai keadaan yang meringankan. Tapi kalian malah mengabaikan semua itu dan menghukum mati dirinya?! Apa kalian tak punya emosi sebagai seorang manusia?!”
“Bisa dibilang begitu. Kami memang tidak punya emosi.”
Salah satu petugas pengadilan — Elise — menyisir rambutnya dengan satu tangan, memperlihatkan bekas luka mengerikan di belakang telinganya. Itu adalah bekas luka operasi.
“Lemak yang tidak penting itu sudah lama dihilangkan secara fisik.”
Hamazura terdiam.
Dia perlu mengatakan sesuatu, tapi guncangan dan kepanikan itu terlalu berat bagi otaknya.
Apakah orang-orang ini akan bertindak sejauh itu demi keadilan menurut pandangan mereka?
Sementara itu, percakapan terus berkembang.
“Kami bersebelas tidak memiliki rasa persaudaraan atau solidaritas. Bahkan, kami ada untuk memantau pendapat satu sama lain dan memberikan bantahan.”
“Tapi di sini, bahkan kita pun sepakat. Yang berarti keputusan kami sudah bulat.”
Hamazura telah salah memahami situasi secara mendasar.
Mereka adalah timbangan mikro yang sangat presisi. Mereka adalah mesin yang hanya dapat meninjau hasil akhir dan bukti material serta menimbang kejahatan secara akurat.
Noel dan Thomasia ikut bergabung dalam percakapan.
“Sekalipun kesimpulan tersebut merugikan kami, kami bersedia menerimanya asalkan kesimpulan tersebut memang benar.”
“Setuju. Dan bahasa yang dapat dipahami bersama juga merupakan salah satu aspek dari keadilan.”
“Aku memang tidak senang karena kami tidak bisa menjatuhkan vonis mati kepada Hamazura Shiage, tapi aku tidak bisa mengabaikan kesimpulan yang telah kami capai.”
“Jika kau percaya bahwa perlakuan kami terhadap terdakwa Narthex tidak adil, maka nyatakan keadilanmu sendiri. Jika kau tidak bisa melakukannya, maka kesimpulan kami tidak dapat berubah.”
Awalnya terdengar masuk akal, tapi nada bicara mereka penuh dengan kepercayaan diri seseorang yang tahu bahwa mereka meminta hal yang mustahil.
Mereka adalah para hakim dan pada dasarnya terputus dari orang-orang yang diadili. Mereka memandang orang yang diadili sebagai penghuni dunia lain, sehingga apa pun yang mereka lakukan kepada terdakwa tidak dapat menyakiti mereka. Mereka menjatuhkan vonis mati kepada seseorang, tapi mereka telah mengesampingkan rasa bersalah mereka. Mereka mengikuti alur kerja yang benar-benar tidak bertanggung jawab.
“Vonis telah dijatuhkan.”
Jadi, Sebelas Petugas Pengadilan itu tidak menanyakan apa motifnya.
Tidak ada keraguan atau kebimbangan dalam suara Tsumoru Judicial.
Kejahatan tetaplah kejahatan dan hukuman tetaplah hukuman.
Itu adalah definisi tunggal. Jadi mereka sama sekali tidak tertarik pada jalan pahit yang telah ditempuh seorang kriminal sebelum melakukan kejahatannya.
Bagi mereka, tidak ada perbedaan antara seseorang yang sengaja membunuh orang asing demi uang untuk berfoya-foya, dan seseorang yang melawan balik dan tidak sengaja membunuh orang yang hendak membunuh keluarganya.
Mereka telah kehilangan alasan mendasar mengapa orang menghakimi orang lain.
Sheila mengeluarkan pernyataan dengan suara lantang.
“Putusan ini tidak dapat dibatalkan kecuali ada bukti baru yang diajukan.”
Kejahatan tetaplah kejahatan dan hukuman tetaplah hukuman.
Pandangan-pandangan sempit ini mengambil sudut pandang istimewa bahwa tidak mungkin ada orang baik yang akan melakukan kejahatan sepanjang hidupnya.
Frank pun berbicara dengan tegas.
“Hukuman yang dijatuhkan adalah hukuman mati. Jika tidak ada yang keberatan, hukuman akan dilaksanakan hari ini. Sekian, persidangan dinyatakan ditutup.”
Fajar belum menyingsing menerangi langit.
Para penyihir telah ditempatkan di tepi Sungai Thames untuk secara tidak langsung menempatkan mereka di sekitar Menara London.
Jumlah mereka jauh lebih besar daripada yang disadari para Anglikan.
Mereka adalah anggota Dawn-Colored Sunlight, cabal sihir Barat modern terbesar di Eropa.
“Sungguh menyebalkan.”
Seorang gadis berusia sekitar 12 tahun menghela napas sambil dijaga oleh pria-pria berjas hitam.
Leivinia Birdway mengamati wilayah musuh tanpa menggunakan teropong.
“Padahal sudah susah payah aku menyebarkan Sitra Achra, aku tak pernah menyangka seseorang akan menggunakan sihir penyegelan untuk memadatkannya kembali.”
“Apakah itu mungkin?” tanya Mark Space, salah satu pria berjas hitam, dengan nada skeptis.
Mereka berada di tepi Sungai Thames yang berseberangan dengan menara tersebut.
Tepatnya, di dalam sebuah rumah apung kecil miring yang dibangun di dermaga kotor.
Pemandangan dari jendela kecil itu sangat menyedihkan.
“Mungkin atau tidak, dia akan melakukannya jika dia tidak punya harapan lain.” Birdway mengunyah roti lapis isi sayuran dan daging panggang hangat yang dianggapnya sebagai kebutuhan selama misi panjang. “Botol. Persis seperti botol es teh yang kau bawa. Ah, coba berikan padaku. Rotinya sih tidak jelek. Menteganya saja yang kurang. Pokoknya, roti ini terlalu kering sampai tenggorokanku ikutan kering.”
“Baik.”
“Glek glek. Ada beberapa jenis segel, mungkin akan lebih mudah dipahami jika kau membayangkannya seperti mengurung iblis di dalam botol atau kotak. Itu berarti segel mengumpulkan semacam energi ke satu lokasi. Semuanya terkandung secara merata, tidak peduli seberapa kuat atau besar energi tersebut. Jadi tidak sulit untuk menafsirkan pengumpulan itu secara lebih luas sebagai pemadatan energi.”
Sitra Achra yang merupakan residu Iblis Agung Coronzon telah disebar ke pelosok dunia terjauh oleh Birdway. Bisa dibilang juga sebagai pengenceran. Begitu tipis dan tersebar luas sampai ditingkat di mana kesadaran Iblis itu pun tak bisa dipertahankan.
Tapi jika residu-residu itu dikumpulkan kembali untuk meningkatkan kepadatannya, maka Iblis Agung Coronzon mungkin memang bisa dibangkitkan kembali.
Telesma adalah zat yang merepotkan.
Mau terbelah dua, terkoyak-koyak, atau bahkan hancur berkeping-keping dalam ledakan sekalipun… pada dasarnya itu adalah massa energi seperti kalor atau listrik. Sekecil apa pun potongan tubuhnya, jumlah totalnya tetap sama setelah terkumpul di satu tempat. Dengan kata lain, padatan energi itu akan mulai bertindak lagi sebagai Iblis Agung.
Mungkin tidak seperti Coronzon yang dikenal Hamazura Shiage dan Narthex, tapi setidaknya padatan energi itu akan menjadi Iblis Agung dengan penampilan dan fungsi yang sama dengannya.
“Makhluk panggilan memang makhluk yang sangat aneh.”
“Tentu saja. Bahkan Lucifer hanya dirantai setelah dikalahkan oleh Malaikat Agung yang memegang pedang — dia sebenarnya tidak terbunuh. Terlepas bahwa dia dikenal sebagai pendosa yang telah menentang Tuhan. …Oh, ini.”
“Es tehnya?”
“Sudah berapa kali kukatakan padamu untuk mengisi botol dengan nitrogen saat membawanya, dasar bodoh? Apa kau pantas menyebut dirimu sebagai orang Inggris? Rasa dan warna teh itu langsung berubah setelah bersentuhan dengan oksigen.”
“Jenis teh ini memang rasanya pahit. Mungkin rasa pahitnya terlalu dewasa untuk bocah tengil.”
Mereka mulai saling menyodorkan sedotan yang tertancap di botol dengan paksa.
“Jika mengencerkannya ke seluruh dunia tidak cukup untuk menjaganya tetap aman, maka satu-satunya pilihan adalah menyegel Sitra Achra dan menyimpannya di dekat kita. Idenya adalah selama tutupnya tidak dibuka, maka semua akan aman… Tapi aku memilih mengencerkannya karena aku tidak menyukai ide itu.”
“Yah, aturan yang harus dipatuhi demi menjaga keamanan, pada umumnya memang sering kali dilanggar oleh kejadian tak terduga”
“Kita tidak bisa membiarkan dunia nyata ini hancur seperti kisah dalam buku dongeng. Kita perlu menemukan ide baru. Dan untuk mengisi waktu, untuk saat ini kita perlu mengamankan Sitra Achra terlebih dulu.”
Inilah yang dicari oleh Dawn-Colored Sunlight.
“Kita akan mengurus Sitra Achra. Itu kenapa aku menginginkan Narthex.”
Birdway melontarkan kata-kata itu dengan dingin.
Dia mengatakan bahwa dia menginginkan gadis itu sebagai alat.
Lagipula, Narthex adalah harta karun yang sama berharganya dengan Index, si perpustakaan grimoire .
Dari sudut pandang salah satu cabal sihir terbesar, yang bukan hanya di Barat tapi di seluruh dunia, akan sangat disayangkan jika dia dieksekusi oleh Anglikan yang berpikiran sempit.
“Walaupun begitu, lawan kita adalah Anglikan. Lebih buruk lagi, Menara London yang dijaga ketat. Kita tidak membutuhkan Takitsubo Rikou untuk membuat pengalihan sebagai unsur tak terduga dari Academy City di sini. Aku ingin mengatur medan tempur ini sedemikian rupa agar kita bisa berhasil hanya dengan logika kita, yakni sisi sihir.”
“Maksudnya?”
“Aku tidak tertarik pada Hamazura Shiage dari sisi sains.”
Birdway mengatakannya dengan lugas.
Sambil melukai perasaan orang lain.
“Bos,” Mark memberikan saran sambil mengisi energinya dengan potongan kecil ikan goreng. “Jika kau benar-benar ingin mengambil Narthex, kau harus segera bergerak, mengingat betapa kokohnya Menara London.”
“Ya. Tapi apa kita akan tiba tepat waktu?”
Nada bicara Birdway terdengar santai.
Dia sepertinya tidak khawatir.
Karena dia memiliki tujuan yang sama sekali berbeda di sini. Dia tahu Takitsubo Rikou akan membuat keributan jika dia mengetahui hal ini, jadi dia telah menyingkirkan gadis itu sebelum gadis itu sempat mengetahuinya.
Dia telah menghancurkan peluang kecil yang dimiliki gadis berbaju olahraga itu.
Kesimpulannya.
“Jika Narthex memiliki informasi mengenai gadis ketiga atau keempat, maka kita tidak perlu menangkap Narthex secara langsung. Aku tertarik pada bakat sihir mereka, bukan penampilan luar atau kepribadian batin mereka sebagai manusia. Dan informasi dapat diekstrak dari mayat. Jadi, meskipun Narthex dieksekusi, kita masih bisa menang jika kita mengambil tubuhnya sebelum sempat dibakar untuk mencegah kemungkinan dia bangkit kembali selama Penghakiman Terakhir.”
Mereka dikembalikan ke sel masing-masing.
Mereka tidak diberi kebebasan.
Setelah istirahat singkat, hukuman akan dilaksanakan.
Hamazura Shiage tidak mengerti mengapa mereka diberi istirahat. Dengan orang-orang yang begitu kekurangan emosi, semuanya terasa jahat. Dia mulai curiga alasan mereka tidak langsung membunuh Narthex adalah karena mengurung mereka di tempat di mana mereka tidak berdaya untuk melakukan apa pun untuk menghentikan eksekusi yang tak terhindarkan akan memunculkan rasa takut yang menjadi-jadi sebelum eksekusi dilakukan.
Ini adalah bagian yang paling tidak adil dari semuanya.
Hamazura akan tinggal di selnya seperti di hotel selama 30 hari dan kemudian dibebaskan?
Sedangkan Narthex akan dieksekusi hari ini juga?
Ini sudah gila. Benar-benar gila. Jika kejahatan mereka adalah berpihak pada Coronzon, lalu mengapa hasilnya sangat berbeda? Hamazura tidak bisa merayakan hasil yang dia terima. Ini adalah persidangan yang tidak adil. Coronzon telah tiada. Dia tahu itu, tapi meninggalkan Narthex dan kembali sendirian ke Jepang sama saja dengan meludahi kuburan Coronzon!
Memang benar penjara ada agar orang bisa menebus kejahatan mereka.
Tapi, tempat ini juga dimaksudkan untuk membantu orang-orang melepaskan beban kejahatan dari pundak mereka dan mendapatkan kesempatan kedua dalam hidup. Agar mereka tidak hancur di bawah beban kejahatan yang terlalu besar! Kumpulan batu yang pengap ini kehilangan sesuatu. Sesuatu yang mendasar. Apakah tempat ini benar-benar dibangun dan dikelola oleh negara? Rasanya lebih seperti fasilitas penyiksaan yang kejam!
(Apa tidak ada yang bisa kulakukan?)
Hamazura tidak merasa ada cara untuk memenangkan vonis tidak bersalah dalam persidangan yang aneh itu. Sejak awal, mencoba menang di pengadilan adalah taktik yang salah.
Karena memang benar mereka telah melakukan kejahatan. Memihak Coronzon memang salah. Menyajikan informasi akurat dan mengukur bobot kejahatan mereka tidak menjadi persoalan baginya. Tapi mereka bahkan belum diberi pengadilan yang layak.
Mereka bahkan tidak diberi kesempatan untuk membantah berbagai kekeliruan yang menindas.
Hamazura tidak berkewajiban untuk menerimanya.
Tidak, jika hukum tidak berfungsi dengan baik...
Maka dia tidak bisa membiarkan Narthex ditelan oleh bentuk keadilan yang menyimpang ini.
Dia ingin mengetahui cara pasti bagaimana hukuman mati itu akan dilaksanakan. Setidaknya, dia ragu itu akan dilakukan di balik jeruji besi. Narthex pasti akan dibawa ke tempat lain. Jadi mungkin ada celah di sana.
(Aku butuh sesuatu. Apa pun!! Setidaknya aku harus mengeluarkan Narthex dari sini… Menara London, ya? Dia adalah anak Coronzon yang ditinggalkan. Dia adalah tipe orang yang tahu siapa Coronzon sebenarnya dan tidak menyebutnya sebagai Iblis Agung!! Aku harus menemukan cara untuk mengeluarkannya dari sini!)
“Ha...mazura…”
Narthex tampak begitu kecil, meringkuk dan gemetar di dalam jeruji besi di seberang koridor.
Melihatnya sekarang, sulit dipercaya bahwa dialah penjahat yang telah menggunakan sains dan sihir untuk menimbulkan begitu banyak masalah di Distrik 23.
Hamazura teringat pada seekor anak burung yang jatuh dari sarangnya dan mati dalam keheningan.
Dengan kondisi seperti ini, mereka bahkan tidak perlu mengeksekusinya.
“Aku tahu. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi! Tidak ada keadilan dalam persidangan ini! Dan karena persidangan itu tidak berjalan dengan benar, aku harus mengeluarkanmu dari sini. Aku sedang mencari cara untuk melakukannya, jadi beri aku sedikit waktu lagi, Narthex!!”
“Jangan. Kau akan dibebaskan, jadi mencoba melakukan sesuatu sekarang hanya akan menambah dakwaan dan pembebasanmu malah akan dicabut.”
“Aku tidak peduli!! Kau tidak menyebut Coronzon sebagai Iblis Agung! Kau adalah saksi hidup Coronzon yang sebenarnya, bukan versi yang diputarbalikkan dan dibelokkan seperti yang dibicarakan semua orang!! Jadi aku tidak akan membiarkanmu mati. Coronzon sudah mati, tapi aku tidak akan membiarkan apa yang ditinggalkannya ikut direnggut!”
“Jangan khawatir…soal itu.”
Narthex berbicara dengan lembut.
Mengapa dia menerima hukuman mati yang absurb ini?
Hamazura harus menghentikan Narthex untuk berbicara.
Hamazura merasakan sesuatu.
Ada sesuatu yang sangat salah di sini.
“Aku punya trik rahasia.”
“Apa menurutmu tempat ini terlihat seperti sel yang kuncinya bisa dibuka dengan kawat?”
“Kau tidak perlu lagi meratapi kematian ibu. Kau bisa mendengar namanya tanpa meludahinya atau menangisinya, jadi kau harus bahagia. Karena itu, aku akan mewujudkannya.”
“Hei?”
Ada sesuatu yang janggal.
Ada sesuatu yang janggal dan membuat hati Hamazura dipenuhi rasa gelisah yang tak biasa.
Mengapa Narthex begitu tenang?
Dia telah divonis mati secara tidak adil sementara orang Asia yang ditangkap karena kejahatan yang sama malah dibebaskan. Dia bisa saja merasa dikhianati dan seperti ditinggalkan di dasar neraka.
Dan tepat saat itu, suara langkah kaki pun terdengar.
“Kh.”
Tidak hanya seorang.
Ada begtu banyak langkah kaki.
Kerumunan yang tak terbayangkan. Sebuah tekanan tak terlihat, Seolah tertekan oleh dinding.
Sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Pikiran Hamazura hanya terfokus pada itu.
“Kalian lagi, Sebelas Petugas Pengadilan?”
“Benar,” jawab Tsumoru Judicial.
Ada nada getir dalam suara Narthex.
Hal itu bisa dimengerti mengingat mereka telah meludahi "ibunya" dan memvonis mati dirinya.
“Apa lagi yang kalian inginkan? Kalian sudah menegakkan keadilan versi kalian, bukan?”
“Tentu saja,” jawab Frank.
Kedengarannya bukan seperti mereka sedang menyiapkan jamuan terakhir untuk narapidana hukuman mati.
“Tapi, topik perdebatan terpenting bagi pengadilan ini adalah keberadaan Sitra Achra. Artinya, apakah residu dan pengaruh Iblis Agung Coronzon masih bersemayam di dunia ini? Adalah tugas kami di Gereja Anglikan untuk mengelola dunia sihir dan melindungi kedamaian rakyat, jadi kami harus menolak setiap pengaruh Iblis Agung itu. Demi keadilan.”
“Jadi mengeksekusiku saja tidak cukup? Kalian mau menyiksaku agar aku bisa mengaku?”
“Narthex Coded Cathedral.” Kali ini Fourier yang berbicara. “Tidak seperti si perpustakaan grimoire, kau hanyalah perwujudan kekuatan tak berguna yang gagal memberikan kontribusi kepada negara, masyarakat, dan rakyat. Kau harus mengakui fakta bahwa kau dibesarkan oleh Iblis Agung Coronzon dan kau gagal memberikan kontribusi kepada masyarakat… dengan kata lain, kau bukanlah kejahatan yang diperlukan. Kau gagal memperbaiki peran yang diberikan kepadamu dan dengan demikian kekuatan yang kau miliki hanya dapat merusak dunia kita yang indah. Kau harus mengakui bahwa kau dididik dengan cara yang tak biasa namun kau menggunakan kekuatan itu untuk tujuan egois dan menyakiti banyak orang.”
“…”
Wanita kulit putih berambut merah bernama Sheila mengambil alih tempat ini.
Seolah-olah kesebelas orang itu adalah satu massa yang menggeliat.
“Dan sebagai anak Coronzon, kau harus mengakui bahwa Sitra Achra yang merupakan residu Iblis Agung itu adalah kenajisan yang hanya dapat membahayakan dunia ciptaan Tuhan dan bahwa keberadaan bahkan satu fragmen pun akan menyebabkan banyak kerusakan di dunia yang seharusnya berfungsi dengan sempurna.”
“Dan sebagai seorang penjahat, kau harus berkontribusi kepada masyarakat dengan sepenuhnya melenyapkan Sitra Achra.” Begitulah kesimpulan yang diberikan Tsumoru, yang berparas Asia.
Mereka membuat semuanya begitu berlebihan, mendominasi, dan terlalu rumit sehingga Hamazura kesulitan memahami apa yang sebenarnya mereka katakan.
Hamazura melihat Narthex tertawa pelan dan sinis.
Saat itulah Hamazura menyadari bahwa mereka seolah menyuruh Narthex untuk meludahi makam ibunya.
Iblis Agung Coronzon telah mati.
Orang yang sudah mati tidak dapat diserang secara fisik.
Kesebelas petugas pengadilan itu merasa sangat frustrasi sehingga mereka memutuskan untuk menghina martabat Coronzon. Apakah mereka ingin menyuruh "anak" Coronzon untuk meludahi makamnya untuk mengambil sesuatu yang berharga darinya dan membuatnya tak bisa beristirahat dengan tenang?
Tapi Narthex terdengar tidak terkesan saat berbicara dari balik jeruji besi.
“Apa kalian benar-benar berpikir aku bisa melakukan itu?”
“Apa pun keadaannya, kami akan memperoleh pengakuan yang diperlukan dari tersangka. Itulah tugas dan kewajiban kami sebagai Sebelas Petugas Pengadilan.”
“Jadi, kalian hanya ingin mendapatkan pengakuan yang menguntungkan secara politik dan diplomatik, terlepas apa pun kebenarannya?”
Tanggapan Narthex terhadap jawaban Noel mengandung cemoohan.
Mata mudanya mungkin sedang memandang ke seluruh Gereja Anglikan, termasuk dirinya sendiri.
“Tapi semua itu tidak ada artinya. Aku adalah Narthex Coded Cathedral. Aku adalah seorang pengode grimoire yang bertugas untuk mencegah penyebaran kekacauan di dunia dengan menerapkan enkripsi tingkat lanjut dan kompleks pada pengetahuan yang tidak dibutuhkan yang tersebar di seluruh dunia. Aku tidak akan pandai dalam pekerjaanku jika sedikit penyiksaan saja bisa membuatku memberikan kunci dekripsinya. Mau pakai Spanish Boot, Rack atau Cat Paw sekalipun. Itu tidak akan mengubah pikiranku.”
Suara gemertak gigi terdengar dari sel Hamazura.
“Lagipula, aku tidak terima kalau kekuatan ibu yang masih tersisa dapat menghancurkan dunia. Dan aku tidak akan pernah melenyapkan setiap serpihan terakhirnya. Ibu sudah tiada. Aku tidak akan membiarkan kalian menodai tidurnya.”
“Narthex Coded Cathedral, telur najis yang tersembunyi di tangan Iblis Agung.” Tsumoru Judicial menjawab dengan nada datar, lebih datar daripada mesin. “Meskipun kami ahli dalam alat penyiksaan, kami tidak pernah bilang bahwa kami akan menggunakannya padamu.”
“…? Jangan bilang…?!”
Bahu gadis kecil itu bergetar seolah dipukul dan dia menoleh ke arah Hamazura tanpa alasan yang jelas.
Hamazura sama sekali tidak mengerti.
Hamazura mendengar bunyi klik logam. Dan merasakan hawa dingin logam di ibu jarinya. Baru kemudian dia menyadari bahwa tangannya telah ditarik bersamaan oleh sebuah alat baja yang diposisikan di sekitar ibu jarinya.
Tidak ada seorang pun di dalam selnya.
Meski begitu.
Terdapat dua panel logam seukuran permen karet dihubungkan oleh mur dan baut.
Ibu jarinya tertahan di ruang sempit antara panel-panel logam itu.
“?”
Pada awalnya.
Hamazura mengira kalau itu semacam borgol. Academy City memang memiliki borgol kecil yang melumpuhkan lengan pemakainya dengan mengikat ibu jari mereka. Jadi dia mengira kalau alat ini serupa.
Tapi ternyata tidak.
Dia mengira alat itu telah menyetrumnya.
Mur tebal yang menghubungkan kedua panel itu berputar sendiri dan rasa sakit yang luar biasa menjalar di ibu jarinya.
Rasa sakit pada tulang itu unik. Rasanya tidak seperti terkena pukulan atau tendangan biasa.
Hamazura teringat akan rasa sakit yang pernah dia rasakan ketika lupa menarik ujung jarinya agar tidak terjepit saat menurunkan kotak kayu berat ke lantai, jari-jarinya bagai terjepit di antara kotak dan lantai. Tapi ini jauh lebih buruk.
Jika dia mengulurkan tangannya ke celah kecil untuk mencoba menghentikan dinding batu yang runtuh dan jari-jarinya terjepit di antara batu-batu tersebut, mungkin seperti inilah rasa sakit yang akan dia rasakan.
“Gah!!”
“Thumbscrew adalah alat penyiksaan standar yang digunakan selama pengadilan penyihir. Alat ini dianggap sangat ringan sehingga bahkan tidak tercatat sebagai penyiksaan dalam catatan resmi,” jelas Frank dengan gaya sok tahu. “Risiko tersangka meninggal sebelum mereka dapat mengaku lebih kecil daripada dengan jerat yang mencekik atau dengan Lissa's iron coffin yang menghancurkan seluruh tubuh, jadi kau dapat menyebutnya sebagai alat penyiksaan dengan jaminan pengakuan yang lebih besar. Bahkan jika tulang jempol hancur seperti kaca, alat itu tidak akan langsung menyebabkan kematian. Dan sekrupnya dapat terus dikencangkan bahkan setelah tulang patah dan daging hancur.”
|Penjepit jempol.berbentuk 2 plat logam dengan mur di tengahnya. Wiki>>
“Gahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!! Gyahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!”
Karena tak tahan menahan rasa sakit, Hamazura jatuh ke samping dan berguling-guling di lantai.
Sakit. Sakit, sakit, sakit, sakit!! Apakah ibu jarinya sekarang hanya berfungsi sebagai penghasil rasa sakit?!
Seberapa keras pun dia mencoba menarik ibu jarinya dari kedua panel logam tersebut, ibu jarinya tidak mau bergerak. Dan dia bisa melihat mur tebal itu terus berputar dengan sendirinya. Panel-panel itu semakin merapat. Dia menjerit dan membanting tangannya ke lantai, tapi itu tidak membebaskannya. Itu hanya menyebabkan rasa sakit yang semakin hebat.
Tidak diperlukan ledakan dahsyat atau pemotongan anggota tubuh untuk menimbulkan rasa sakit dan penderitaan.
Jari-jari.
Itu hanyalah ujung terluar dari tubuhnya. Potongan-potongan kecil daging dan tulang itu bahkan tidak mencapai 1% dari berat badannya secara keseluruhan. Tapi, itu sudah cukup untuk membuatnya merasa seolah seluruh tubuhnya hancur berkeping-keping. Seharusnya tidak separah dipukul dan ditendang di trotoar, tapi ledakan rasa sakit ini benar-benar berbeda. Ini menyebabkan rasa sakit maksimal dengan tindakan yang minim, tidak bisa dihindari, dan korban bahkan tidak diizinkan untuk mati. Beginilah cara seorang profesional menyebabkan rasa sakit. Ini bukan hanya masalah fisik. Alat ini dirancang untuk memaksa seseorang mengaku. Sebuah alat pengendali yang mampu memutarbalikkan kemauan seseorang dan membuatnya mengucapkan kata-kata yang kita inginkan.
Dia berteriak.
Dia mengayunkan kakinya tanpa tujuan. Walau semua usaha itu tidak ada gunanya.
Suara mendesah pelan itu tak kunjung berhenti. Apa pun yang terjadi.
“—!!!!”
Dia bisa mendengar Narthex meneriakkan sesuatu dari kejauhan. tapi karena terhalang jeruji besi, dia tidak bisa menjangkaunya.
Kesebelas petugas pengadilan hanya mengamati Hamazura tanpa berkedip sedikit pun.
Tak satu pun dari mereka yang akan menyelamatkannya.
Penglihatannya mulai kabur.
Butuh beberapa saat baginya untuk menyadari bahwa dia sedang meneteskan banyak air mata.
Dia bahkan tidak punya waktu untuk merasa menyedihkan. Dia sudah melewati titik di mana dia mampu menekan perasaan itu secara mental. Air matanya tak berhenti mengalir, seolah-olah sedang terkena gas beracun di wajahnya.
Ini dianggap ringan? Ini bahkan tidak dianggap sebagai penyiksaan?
Suara mendesis itu disertai dengan rasa sakit yang luar biasa pada tulang ibu jarinya, yang jauh lebih buruk daripada sakit gigi berlubang. Denyutan yang mengganggu itu mungkin adalah darahnya yang bergejolak karena tidak ada tempat untuk mengalir akibat pembuluh darah yang hancur. Jeritannya yang tak dapat dipahami tak kunjung berhenti. Dia tidak bisa lepas dari rasa sakit dan penderitaan. Tak peduli apa pun yang dia lakukan.
Dia bahkan sempat berpikir untuk menggigit lidahnya.
Tapi rahangnya bergetar terlalu hebat untuk bisa digerakkan.
Hanya ibu jarinya yang diremas, namun seluruh tubuhnya mengabaikan perintahnya seolah-olah dia disetrum listrik. Dia berguling-guling di lantai dan menendang-nendang dengan liar.
“Enkripsimu menyelamatkan orang-orang tak berdosa dari para penyihir? Sungguh menggelikan. Justru kaulah yang menyakiti mereka, Narthex.”
“Kh.”
“Kami telah memilih untuk membebaskan Hamazura Shiage. Kami sudah mengatakannya sejak awal. Dengan kata lain, satu-satunya alasan dia menderita adalah karena kekeraskepalaanmu.”
Jangan dengarkan mereka. Pinta Hamazura.
Kau tidak perlu mendengarkannya.
Mereka sedang mengarahkan pikiranmu. Mereka menghilangkan semua pilihanmu dan mendorongmu untuk berjalan di jalan yang tidak ingin kau tempuh. Ini adalah bentuk kendali pikiran terburuk yang akan mengubah orang hidup menjadi boneka.
Tapi Narthex dengan panik meninggikan suaranya.
“Tunggu! Ini masalah internal Anglikan, jadi berhentilah menyakiti Hamazura! Dia bukan bagian dari kita! Dia bahkan bukan seorang penyihir!!”
“Memangnya kenapa?”
“Bukankah Menara London seharusnya digunakan untuk menghukum penyihir jahat?! Kalian tidak punya alasan untuk melakukan kekerasan pada Hamazura Shiage yang bukan bagian dari dunia sihir dan bahkan bukan warga negara Inggris!”
“Apa hubungannya dengan pekerjaan dan tugas kami sebagai Sebelas Petugas Pengadilan?”
“Di mana hati nurani kalian?!”
“Oh, itu?”
Hamazura melihat sesuatu yang aneh dalam penglihatannya yang kabur karena air mata.
Tsumoru Judicial meletakkan tangannya ke telinga.
Tidak
Pada bekas luka berbentuk cacing di belakang telinganya.
Ya.
Itu bukan info baru. Mereka sudah pernah diperlihatkan hal ini sebelumnya.
“Kami bersebelas sudah membuangnya demi memastikan objektivitas dalam pekerjaan dan tugas kami.”
Hamazura mendengar suara terkejut.
Narthex sekarang tahu bahwa mereka tidak akan mendengarkan pada hal yang mendasar sekalipun.
Ini tidak akan berakhir hanya di ibu jarinya.
Mereka akan menghancurkan tubuh Hamazura bagian demi bagian tanpa ragu.
Mereka tidak akan berhenti.
Sampai Narthex mengaku.
(Tidak.)
Hamazura tidak diperlukan.
Seandainya dia tidak ada di sini, Narthex mungkin bisa mempertahankan harga dirinya.
(Mungkin semuanya akan berakhir begitu Narthex berbicara. Bagai tombol akhir yang tidak bisa ditarik kembali. Aku tidak ingin menjadi beban bagi siapa pun. Itu hal terakhir yang kuinginkan. Seseorang tolong aku. Tutup mulut Narthex sekarang juga!! Hanzou… Kuruwa… Takitsubo. Siapa pun!!)
Thomasia terkekeh sebelum melanjutkan.
Dia tersenyum tipis, tapi dia sama sekali tidak tampak menunjukkan emosi manusiawi.
“Cepatlah mengaku atau bocah Jepang ini tidak akan pernah bisa menggunakan tangannya lagi. Dia akan terus teringat padamu dalam kehidupan sehari-harinya. Setiap kali dia tidak bisa memegang gelas, menulis dengan pena, atau bahkan mengancingkan celananya. Dia akan menyesal karena membiarkan perasaannya menguasai dirinya dan membantu seorang penjahat.”
“Kh.”
“Atau guncangan rasa sakit itu bisa membuatnya menggigit lidah. Lagipula, tekanan panel logam pada tulangnya mengirimkan setiap benturan eksternal langsung ke tulang dan saraf. Dia tahu itu, tapi dengan rasa sakit yang begitu hebat, dia tidak akan bisa berhenti menggeliat. Orang tidak punya cara untuk menahan rasa sakit yang belum pernah mereka bayangkan atau alami sebelumnya. Rasa sakitnya seharusnya beberapa kali lebih buruk daripada mengebor lubang gigi yang rusak parah. Dan dia belum menjalani pelatihan anti-penyiksaan khusus di mana dia dihadapkan pada berbagai macam rasa sakit untuk memperluas pengalamannya. Dia bukan dirimu. Aku ragu orang biasa bisa menahan siksaan ini.”
“Jadi kalian mengakuinya, Sebelas Petugas Pengadilan. Orang yang kalian siksa bukanlah penyihir, melainkan orang biasa!!”
“Kaulah yang menyiksanya, Narthex Coded Cathedral. Kau adalah sisa-sisa najis dari Iblis Agung Coronzon. Kau dan kejahatanmu telah menyeretnya. Kami hanyalah perwujudan dari kebaikan. Tindakan yang diperlukan hanya diperlukan selama ada sesuatu yang membutuhkannya.”
“Khh. Kalau begitu… biarku katakan...”
Wajah Narthex dengan jelas menunjukkan gelisah yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Orang-orang tidak akan sanggup menahan rasa sakit yang belum pernah mereka bayangkan atau alami sebelumnya.
Tsumoru Judicial benar.
Jika gadis bernama Narthex dibesarkan sendirian oleh Coronzon, itu berarti Coronzon telah merancangnya sedemikian rupa sehingga dia bisa menjadi yang terkuat saat sendirian.
Kini, karena dia tidak lagi sendirian, benteng pertahanan gadis muda itu telah runtuh.
Ini adalah kelemahan yang belum pernah dialami Narthex sebelumnya.
Sama seperti kasus penyiksaan dengan alat penjepit ibu jari, orang-orang tidak bisa menolak jenis rasa sakit yang belum pernah mereka alami sebelumnya.
Bukan Sebelas Petugas Pengadilan yang melakukannya.
Hamazura-lah orang yang telah mendorong gadis itu sampai ke titik ini.
Hamazura telah mendukungnya.
Dan dengan demikian menodai jiwanya.
Setidaknya begitulah yang tampak dimata Hamazura.
Frank tidak bereaksi sedikit pun.
“Katakan apa?”
“Kh. Aku mengakui semua apa yang ingin kalian dengar, walau itu hanyalah kebohongan!!”
“Bagus.”
Sesuatu terjadi tepat setelahnya.
Sungguh, itu terjadi kurang dari satu detik kemudian. Semuanya terjadi begitu cepat.
Terdengar suara aneh.
“Ghh?!”
Itu berasal dari Narthex.
Hamazura menoleh tanpa berpikir, tapi Narthex tidak ada di sana. Apakah Narthex tiba-tiba menghilang dari selnya? Tidak, Narthex tidak menghilang. Hamazura mendongak. Dan menemukan Narthex di sana. Tubuh kecilnya telah melayang ke atas.
Butuh beberapa saat untuk menyadari kebenarannya.
Narthex digantung. Lehernya tergantung.
Dan untuk mempertegas semuanya.
Hamazura-lah yang telah mendorongnya sampai ke titik ini.
Gadis itu berada di ruang yang sangat sempit dan gelap gulita.
Bisa jadi itu bahkan bukan sebuah ruangan.
Bisa jadi itu adalah lemari di sebuah rumah mewah atau bagasi mobil.
Takitsubo Rikou tidak punya cara untuk mengetahuinya.
Dia tahu Hamazura Shiage ada di London. Dia tahu dia pasti dalam masalah. Tapi dia tidak bisa pergi menyelamatkannya.
Meskipun setiap detik yang berlalu, momen penting bisa terlewat.
Tidak ada bantuan di sini.
Baik karena Takitsubo sendiri tidak bisa membantunya maupun karena tidak ada seorang pun yang datang untuk membantunya.
(Hama…zura…)
Menara London.
Sebuah penjara untuk mengurung para tahanan.
Frank Judicial berbicara.
“Terdakwa Narthex tahu bahwa Coronzon adalah Iblis Agung, tapi dia tetap menyembah kekuatan jahatnya dan memilih jalan kebejatan. Karena itu, aku telah memutuskan bahwa dia adalah penyihir jahat yang pantas dihukum mati. Tapi dia tidak akan menerima eksekusi resmi. Dia akan menerima kematian yang tidak dapat dijelaskan di selnya.”
“Sepakat.”
Hamazura merasakan keringat di wajahnya mengering.
Sampai tetes terakhirnya.
“Tunggu…”
Apa ini tadi?
Ketika Hamazura mendongak dan melihat Narthex memegangi lehernya dengan kedua tangan sambil kaki kecilnya menendang-nendang dengan liar, dia kira Narthex sedang dicekik oleh rambutnya sendiri yang berwarna cokelat kemerahan yang melilit lehernya seperti syal. Dia bertanya-tanya mengapa Narthex dibunuh oleh rambutnya sendiri.
Tapi sebenarnya tidak begitu.
Jika dilihat lebih dekat, terlihat lekukan di rambut di sekitar lehernya. Sesuatu setebal ibu jari melilit lehernya yang kurus. Dengan erat. Sangat amat erat. Dengan suara mendesis yang tidak menyenangkan. Tidak ada jeritan. Karena trakeanya sedang tertekan.
Warna wajah gadis muda itu berubah.
Awalnya berwarna kebiruan, tapi secara bertahap warnanya menjadi lebih gelap.
Narthex sedang dicekik.
Hamazura melupakan semua rasa sakitnya sendiri.
“Tunggu!! Apa itu? Apa kalian menggunakan semacam tali tak terlihat?! Kalian harus berhenti! Dia bisa mati!!”
“Dia tidak sedang sekarat,” jawab Noel dengan acuh tak acuh. Sambil dengan tenang menatap Narthex yang tergantung. “Kami membunuhnya. Ini bukan kematian yang tidak disengaja. Ini adalah pembunuhan yang disengaja. Itulah yang disebut eksekusi. Kami mengatur hukum sihir. Jadi tidak boleh ada kesalahan.”
“Kalian memang gila, dasar jalang! Ini namanya main hakim sendiri. Kalian memaksakan aturan kalian sendiri dan melabelinya sebagai orang yang pantas mati! Pengadilan macam apa ini, bajingan?!!!”
Hamazura berharap dengan meninggikan suaranya dan memukul wajah mereka akan membangunkan mereka.
Dia tidak tahu berapa lama Narthex bisa bertahan dalam keadaan tergantung seperti itu.
Bukan soal berapa lama lagi sampai dia mati akibat sesak napas.
Jika lehernya patah, semuanya akan berakhir seketika.
Jadi dia ingin segera membawa Narthex turun meskipun harus membuat marah massa yang ingin main hakim sendiri dan memiliki kekuasaan mutlak.
Akan tetapi…
“Kami berterima kasih padamu, kolabolator yang bukan berasal dari dunia kami.”
Sheila berbicara terus terang.
Hamazura mendengar suara halus dari tangannya. Sekrup pengunci yang telah menjepit ibu jarinya seperti penjepit telah mengendur. Potongan logam yang lebarnya kurang dari 10 cm itu terlepas dan jatuh ke lantai. Terlepas dari rasa sakit yang ditimbulkannya dan betapa menyiksanya itu bagi Narthex, tidak ada satu pun tulang yang patah.
Sheila tidak sedang bersikap sarkastik.
Dari nada wanita tersebut, Hamazura merasakan kelembutan layaknya seseorang yang menghargai orang lain yang telah berjasa baginya.
“Karena rasa sakit, penderitaan, dan rasa iba darimu, kami dapat memperoleh pengakuannya dengan begitu cepat. Kelemahanmu telah mengungkap sifat jahat Narthex. Selemah, sesedih, dan sebodoh apa pun dirimu, kau tetap berguna. Tidak ada hubungan langsung antara ketidakberdayaan dan keadilan. Kami berterima kasih atas kerja samamu dalam membantu menegakkan keadilan.”
“Apa-apaan ini?” gumam Hamazura dengan linglung.
Semua ekspresi lenyap dari wajahnya.
Dia tidak bisa bernapas.
Tenggorokannya kering.
Air mata mengalir dari matanya karena alasan yang berbeda dari sebelumnya.
Mengapa dirinya begitu lemah?
Andai dia adalah salah satu dari tujuh esper Level 5 Academy City.
Atau andai dia memiliki kekuatan spesial di tangan kanannya.
Dengan begitu, ini tidak akan terjadi!!
“Maksud kalian…dia melakukan ini untukku?”
“Benar,” Tsumoru membenarkan dengan tenang.
Hamazura balas berteriak, gemetar karena rasa bersalah.
“Jadi Narthex terpaksa membuat pengakuan yang tidak berarti… untuk mengakhiri penderitaanku, mencegahku menderita, dan menjagaku tetap aman?!”
“Siapa bilang itu tidak berarti? Karena pengakuan itu, kami bisa membunuh penyihir jahat sesuai dengan hukum yang adil. Baik mengambil jalan terpendek atau jalan terpanjang, jawabannya sudah ditentukan sejak awal. Jadi jalan terpendek menjadi pilihan yang lebih baik. Sisanya, kami tinggal atur jalan menuju hukuman matinya.”
Fourier menggambarkan prosedur untuk membunuh seseorang seolah itu bukan hal penting.
Hamazura tidak pernah berarti bagi mereka.
Tidak penting apakah dia menjerit karena siksaan atau menahannya dengan tabah. Tidak penting apakah dia selamat sampai akhir atau mati duluan.
Sekalipun ada seratus pilihan, mereka telah menentukannya sejak awal sehingga semuanya akan berujung pada kematian Narthex. Rasa sakit dan penderitaan Hamazura hanyalah satu titik di sepanjang jalan tersebut, dia bukanlah sarana maupun tujuan akhir.
Dan kemudian, terjadi sesuatu pada Narthex.
Air mata mengalir dari bawah kelopak mata gadis yang digantung itu.
Hanya saja warnanya hitam.
Dan itu bahkan bukan cairan.
Warna hitam kotor.
Dengan bintik merah di tengahnya.
Warnanya lebih hitam dari jelaga yang menumpuk di knalpot dan lebih menyeramkan dari darah yang tumpah di TKP pembunuhan. Warnanya seperti bubuk yang lebih halus daripada serbuk sari yang berterbangan dari hutan ke kota di awal musim semi. Saat bubuk hitam berbintik merah itu mengalir dari mata Narthex, bubuk itu menetes ke seluruh tubuhnya yang masih muda.
Begitu jatuh melewati kakinya ke lantai, bubuk hitam pekat itu dengan cepat menyebar.
Membentuk pola rumit dengan diameter lebih dari tiga meter. Hamazura tidak memahami simbol dan garis-garis individual tersebut, tapi istilah "lingkaran sihir" terlintas di benaknya.
“Akhirnya kita menemukannya. Residu Iblis Agung Coronzon, Sitra Achra.” kata Fourier Judicial sambil merentangkan tangannya.
Yang lain pun ikut berbicara.
Frank dan Noel dan Tsumoru dan Thomasia.
“Itu tidak tersimpan di dalam tubuh Narthex. Lebih tepatnya, setelah kematian Iblis Agung, penjahat muda ini secara diam-diam telah mengumpulkan Sitra Achra yang tersebar di seluruh dunia. Bahkan saat dipenjara oleh kita.”
“Dia mungkin berpikir kalau Coronzon bisa dikembalikan ke dunia ini jika dia mengumpulkan residunya yang tersebar di seluruh dunia.”
“Ketimbang perasukan, ini lebih tepat disebut pemanggilan. Sitra Achra… Kau telah menyusun mantra yang akan mengubah zat apa pun yang dilapisi bubuk hitam ini menjadi alat untuk memanggil Coronzon.”
“Apa pada akhirnya kau berencana untuk menghancurkan dinding antar Fase? Apa kau pikir tidak ada yang bisa mengambil nyawa dan eksistensi Coronzon selama kau menciptakan lingkungan di mana dia dapat dipanggil kembali bahkan jika dia terbunuh atau dihancurkan? Menggelikan.”
Semuanya telah terbongkar.
Gadis muda itu mengatakan bahwa dia punya trik rahasia.
Apakah ini yang dia maksud?
Dia memprioritaskan dunia bersama Coronzon di atas hidupnya sendiri.
Dan dia mempertaruhkan nyawanya untuk melakukannya.
Narthex mungkin berpikir kalau ini akan terjadi padanya cepat atau lambat begitu dia dibawa ke Menara London.
Jadi, mungkin dia ingin melakukan sesuatu di saat-saat terakhir.
Sesuatu untuk Coronzon yang telah membesarkannya.
Tapi.
Bahkan keinginan terakhirnya pun dengan mudah dihancurkan.
“Menurutmu itu terlihat seperti apa, Hamazura Shiage?”
“…”
“Jelaga hitam bukanlah deskripsi yang akurat. Kita dapat melihat inti merah di dalam butiran yang ukurannya kurang dari satu milimeter, bukan? Pada dasarnya, bentuknya mirip dengan telur ikan kecil. Inilah Sitra Achra yang menyebar tanpa henti sambil menunggu tunas jahatnya tumbuh.”
“Malaikat dan Iblis dapat bersemayam di dalam apa pun seperti senjata, jimat, pakaian, lingkaran sihir dan yang lainnya. Karena mereka pada dasarnya adalah energi yang dapat terkandung dalam benda-benda. Telur ikan hitam berbintik merah itu adalah hasil dari rencana jahat untuk menyebarkannya ke seluruh dunia. Semua benda yang bersentuhan dengan warna hitam berbintik merah itu — baik pisau dapur, talenan, pensil, atau penghapus — akan diubah menjadi spiritual item untuk memanggil Coronzon hingga benda-benda tersebut menutupi seluruh planet. Tidak, itu akan menyebar bahkan melampaui planet ini.”
Hamazura tidak peduli.
Semua ini tidak penting.
Bagaimana mungkin mereka dengan tenang membahas hal-hal sepele seperti ini sementara seorang gadis kecil sedang meronta-ronta saat digantung?!
Narthex… adalah seorang penjahat.
Tidak ada yang bisa menghapus apa yang telah dia lakukan di Academy City.
Dia harus menebus kesalahannya.
Dia harus menanggungnya sendiri.
Tapi, dia juga tipe orang yang akan setuju untuk memberikan pengakuan palsu setelah melihat orang asing seperti Hamazura terluka dan disiksa.
Dia adalah pohon yang patah dan lapuk, tapi tunas muda telah muncul di pangkalnya.
Jadi, apakah mencemooh dan menginjak tunas tersebut benar-benar hal yang adil?!
Apakah penting jika dia adalah penjahat bagi mereka?
Bukankah mereka hanya mencari seseorang yang bisa mereka serang tanpa ketahuan?
Mereka berada di posisi aman, dilindungi oleh negara, sehingga mereka tidak akan menerima kritik atas kebohongan dan kekerasan yang mereka lakukan. Bahkan saat mereka tertawa dan menyerang secara berkelompok!!!
“Tidak…”
Hamazura mengeluarkan suara serak yang dipaksakan.
Orang yang tidak saleh akan dikucilkan. Terus menempuh jalan yang salah hanya akan menyebabkan lebih banyak luka. Begitulah cara dunia bekerja. Dalam keadaan yang mirip dengan pasrah, Hamazura memahami gambaran samar tentang sistem masyarakat. Dia mulai menerimanya. Tapi...
“Aku tidak mau melihat keadilan yang seperti itu…”
Apakah tidak ada yang akan menyelamatkan Narthex?! Sebelas Petugas Pengadilan itu berada di sini dan ada banyak penjaga serta pekerja lainnya, tapi tak seorang pun dari mereka yang kepikiran untuk menolongnya?!
Hamazura menatap tajam dari balik jeruji selnya dengan mata merah, dan para penjaga muda itu membuang muka.
…Apakah mereka benar-benar percaya bahwa ini adalah keadilan?
Tindakan menyimpang berupa menikmati pemandangan seorang gadis muda yang digantung?
Jika jauh di lubuk hati mereka menganggapnya salah, mengapa mereka tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya?
Mereka telah menyatakan keadilan mereka dan menyakiti banyak orang sebelumnya.
Mereka bahkan telah merenggut nyawa seseorang.
Tapi sekarang mereka malah berbalik dan menyatakan bahwa menegakkan keadilan bukanlah tanggung jawab mereka?!
“Tak disangka, setelah mempertaruhkan nyawa sampai detik terakhir, ternyata yang kau keluarkan cuma mantra yang sepenuhnya bergantung pada orang lain?”
“Apa kau pikir kami, Sebelas Petugas Pengadilan, tidak akan menyadari ini?”
“Kami sudah memperhitungkan ini sejak awal. Oleh karena itu, Narthex, kami akan membunuhmu di sini, dan bukan di pengadilan. Sel-sel Menara London lebih mudah disegel secara magis. Terlepas dari jeruji besi yang terlihat, setiap ruangan telah disegel sepenuhnya. Keluarkan telur ikan hitam berbintik merah ini sesukamu, tak satu pun akan keluar dari ruangan ini. Rencana kotor yang kau pertaruhkan dengan nyawamu akan sepenuhnya dibersihkan di dalam ruangan ini.”
“Jadi, inilah gadis yang dibesarkan secara tidak benar oleh Iblis Agung. Kita sekarang tahu betapa menyimpangnya kehidupan seseorang ketika tidak pernah mendapatkan cinta sejati. Anak seorang penjahat juga akan menjadi penjahat.”
“Dengan kata lain, bukankah membesarkan seorang penjahat seperti ini membuktikan bahwa Coronzon hanyalah seorang orang tua yang buruk?”
Ini adalah yang pertama kalinya.
Ini bukan ruang pengadilan.
Jadi, apakah mereka berpikir bahwa mereka tidak lagi terikat oleh tugas dan kewajiban mereka?
Kesebelas Petugas Pengadilan itu memancarkan gelombang emosi yang sangat berbeda ketika mereka fokus pada tugas mereka.
Saat ini mereka benar-benar sedang tidak bertugas.
Ada rasa gembira.
Ada ejekan.
Ada kebencian.
Ada cemoohan.
Padahal mereka sudah mengatakan bahwa hal-hal tersebut telah disingkirkan.
Atau apakah ini akibat dari penghapusan hal-hal tersebut secara menyeluruh?
Inilah emosi dari manusia yang mendongak memandang seorang gadis yang digantung dan merasa lega karena telah menyelesaikan tugasnya.
“—! ……!!”
Gadis yang digantung itu tak bisa berkata-kata.
Apa yang dipikirkan Narthex sekarang?
Apa pun itu, tidak ada cara untuk mengungkapkannya.
Lehernya tercekik.
Suaranya tak bisa keluar dari mulutnya.
Dia telah dibungkam.
Rona kulitnya juga tidak normal. Dia bahkan tidak bisa menunjukkan ekspresi.
Juga.
Dengan bubuk hitam berbintik merah yang tumpah dari kelopak matanya, gadis muda itu bahkan tidak mampu meneteskan air mata sesuai dengan perasaannya.
Tercekik dan tak mampu berbicara, tangan kanannya terlepas dari tali yang tak terlihat. Tangan itu menjuntai ke bawah. Hamazura hampir saja berteriak karena emosi yang tak terlukiskan, tapi kemudian Hamazura memperhatikan jari telunjuk tangan kanan Narthex yang tadinya lemas kini melengkung seperti kait. Hanya jari itu yang masih menyimpan kekuatan tekadnya. Dan jari itu bergerak mengusap pahanya. Jari itu membentuk kata-kata. Dalam bahasa Jepang. Narthex mencoba berkomunikasi dengan Hamazura.
Hamazura tidak mau peduli.
Sekalipun Narthex menulis "ini salahmu" atau "kenapa kau tidak membantuku?", Kata-kata yang tertulis di sana mungkin mengungkapkan rasa kesal atau kutukan yang enggan dia hadapi, tapi dia bersumpah untuk tetap menerimanya.
Tapi bukan kata-kata seperti itu yang muncul.
Jari Narthex justru menuliskan pesan berikut:
Aku akan membawa ibu kepadamu, Hamazura.
Makanya, kalau nanti ketemu Ibu, bisakah kau menyampaikan pesanku kepadanya?
Bilang kalau waktu yang kuhabiskan bersamanya adalah saat-saat paling bahagia dalam hidupku.
“Berhenti…” ucap Hamazura.
Suaranya meninggi hingga menjadi teriakan.
“Hentikan sekarang juga!! Narthex, Coronzon tidak akan menginginkan pengorbanan seperti ini. Neraka di mana yang lemah disiksa dan dipaksa menanggung semua beban dunia bukanlah gambaran dunia yang indah baginya!!”
Gadis yang digantung itu tersenyum.
Jarinya kembali bergerak. Itu adalah jeritan putus asa seorang gadis yang tidak bisa berbicara karena tenggorokannya tertekan. Hamazura menyipitkan matanya untuk membacanya.
…Aku akan memverifikasi kebenaran melalui sigilografi. Segel adalah sarana untuk melindungi rahasia dan bertindak sebagai esensi dan inti dari semua sihir. Enyahlah, wahai segala dusta. Seluruh umat manusia mendambakan kebenaran mutlak. Maka di sini, dengan tubuhku sendiri, kusempurnakan segel yang menjamin kebenaran tersebut.
Hamazura tidak mengerti.
Itu bahkan bukan pesan untuknya. Kemungkinan besar ini hanyalah sebagian dari sihir pengorbanannya.
Narthex tidak mendengarkan.
Dia sedang digantung. Lehernya terjerat tali tak terlihat yang menahan seluruh berat badannya. Dia pasti tidak punya banyak waktu lagi.
Dan.
Terdengar suara yang sangat menakutkan.
Dan begitulah akhirnya.
Sisa kekuatan terakhirnya telah meninggalkan tubuh muda Narthex Coded Cathedral. Tubuhnya bergoyang perlahan ke kanan dan kiri seperti pendulum jam tua.
(Apa…)
Hamazura bahkan tidak bisa bersuara.
Di hadapan hasil akhir yang begitu mutlak dan tak terelakkan, segala macam suara dan bantahan Hamazura menjadi tidak berarti lagi.
(Apa gunanya mempertaruhkan nyawamu seperti ini? Apa kau pikir ini akan membuat Coronzon senang?! Coronzon membenci sifat jahatnya dan kau ingin membawanya kembali ke dunia kejam di mana dia akan dicap sebagai pembunuh anak sendiri?! Tidak mungkin ibumu menginginkan itu! Narthex, mengapa kau mengorbankan hidupmu untuk sesuatu yang salah?!)
Narthex masih seorang gadis muda.
Dia bahkan belum hidup selama Hamazura.
Dia masih kanak-kanak, dia belum sempat mengembangkan sayapnya dan menjelajahi dunia yang lebih luas atas kemauannya sendiri.
Dia belum pernah bangun pagi untuk pergi ke sekolah, memperoleh sertifikat yang berguna untuk membantu orang lain, pergi menonton band favorit secara langsung, bekerja paruh waktu untuk menabung demi sesuatu yang ingin dia beli.
Dia belum pernah bermain dan tertawa bersama seorang teman sambil memikirkan masa depan cerah yang menantinya, dan tidak pernah ragu bahwa dia akan tumbuh dewasa, mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya, dan menikahi seseorang yang dicintainya.
Dia belum pernah memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal normal, alami, dan biasa.
Akan tetapi.
Inikah… harapan terakhirnya?
Jika dia akan terbunuh bagaimanapun caranya, apakah kebahagiaan tertinggi baginya adalah mengorbankan diri untuk memanggil Coronzon?
Itu sungguh busuk.
Bengkok.
Kacau.
Menjijikkan.
“…”
Narthex sudah tidak peduli lagi dengan dirinya sendiri.
Dia sudah menyerah.
Seolah dia telah membuat keputusannya sendiri, tapi sebenarnya kemauannya telah dirampas darinya.
Oleh kesebelas orang itu.
Mereka telah bersekongkol untuk melawannya.
Sama seperti pekerja yang dikucilkan dan ditekan di tempat kerja agar dia mengundurkan diri.
Ini bukanlah pengadilan yang dimaksudkan untuk membedakan yang baik dari yang jahat.
Semuanya sudah direncanakan sejak awal.
Narthex telah dipaksa untuk mati meronta-ronta sebagai seorang penjahat.
“……………………………………………………………………………………………………”
Semuanya hening.
Atau begitu seharusnya.
Namun, suara melengking terus-menerus terngiang di kepala Hamazura.
Suara berdenging yang sebenarnya tidak ada di telinganya.
Apa ini?
Apa ini keadilan?
Apa kali ini ia ikut terlibat? Dengan menekan Narthex untuk menyerah pada rasa sakit dan mempertontonkan perilaku yang tidak pantas seperti berteriak dan berguling-guling secara menyedihkan? Dan dengan memaksa Narthex untuk mengakui sesuatu yang tidak dia percayai… yang menyebabkan Narthex digantung?
“Akhirnya selesai.”
“Ya, akhirnya.”
“Kerja bagus.”
“Kita harus kembali berterima kasih kepada kolabolator kita yang lemah ini karena telah membantu kita dalam mempercepat penegakkan keadilan kita.”
Mereka sedang mengatakan sesuatu.
Sambil menggeliat berbarengan.
Para penghuni dunia yang tak bisa dipercaya Hamazura itu berbicara sebagai satu kesatuan.
Bukan dengan sarkasme atau ejekan, tapi dengan ketulusan.
Amarah yang hebat membara di dalam diri Hamazura, tapi semua itu tidak ada gunanya?
Apa yang bisa dia ubah dengan berteriak dan melampiaskan kemarahannya sekarang?
Coronzon sudah mati. Narthex juga sudah tidak bisa diselamatkan lagi.
Jika sihir bubuk hitam berbintik merah itu benar-benar bisa diciptakan semudah itu, Narthex tidak akan repot-repot datang ke Academy City untuk mencari Kamijou Touma setelah menjebol neraka bersama mayat yang diawetkan bernama Anna apalah itu. Dia hanya perlu menyiapkan sihir ini secara rahasia.
Kemungkinan besar, itu adalah bentuk sihir yang berisiko tinggi.
Sesuatu yang hanya bersedia dia gunakan setelah dia akan digantung dan tahu tidak ada harapan lagi baginya.
Saat Narthex terhuyung-huyung di balik jeruji selnya, mungkin kerusakannya bukan cuma di luar. Melainkan inti di dalam tubuhnya juga sudah benar-benar hancur.
Saking parahnya, kematian adalah satu-satunya cara untuk mengatasinya.
Bagaimanapun juga, di dalam tubuhnya sudah sangat rusak.
Dengan kondisi separah ini, apa lagi yang bisa dia perbuat?
“Rahasiakan kematiannya.”
“Bersihkan Sitra Achra. Jangan sampai ada sebutir pun yang tersisa.”
“Kita harus menghilangkan semua bukti bahwa Iblis Agung Coronzon pernah ada.”
“Untuk berjaga-jaga, biarkan Narthex Coded Cathedral tetap tergantung selama sepuluh menit lagi. Menghentikan detak jantungnya saja tidak cukup. Kita harus hancurkan otaknya sebelum mengurus yang lain.”
“Sisanya tinggal membakar tubuh Narthex yang najis ini. Betapa mudahnya pekerjaan ini.”
Didalam kepala Hamazura, dia mendengar sesuatu terbakar.
Dia kira sudah jatuh sampai ke dasar yang paling bawah, ternyata di bawah sana masih ada dasar lainnya lagi.
…Harapan terakhir macam apa itu?
…Narthex seharusnya menang jika dia bisa menghancurkan dinding antar Fase tersebut dan menciptakan lingkungan di mana Coronzon akan lebih mudah untuk dipanggil?
Jangan main-main denganku, dunia.
Mungkinkah tujuan yang selama ini Narthex perjuangkan justru sebuah kesalahan?
Semua ini tidak akan membawa kebahagiaan bagi Narthex.
Dan Coronzon tidak akan menginginkan akhir yang tak berujung di mana dia selamanya terjebak dalam keadaan bangkit kembali sebagai pembunuh anak dan kemudian tidak bisa mati. Itu hanya akan memaksa Coronzon untuk selamanya menderita dalam kenajisannya sendiri!
Narthex ingin kembali bertemu Coronzon.
Tapi bukan seperti ini.
Narthex telah dipaksa untuk dicap sebagai penjahat tanpa ada yang memikirkan alasan mengapa dia melakukan kejahatan tersebut. Dan dia akan mendapatkan akhir yang mengerikan yang sesuai dengan label tersebut. Tapi mengikuti kerangka berpikir semacam itu tidak akan membawa kebahagiaan bagi si ibu atau si anak!!
Garis-garis tak terlihat yang tadinya kabur dan lenyap ke dalam ketidaksadaran mental tiba-tiba berkumpul kembali dan menjadi jelas di kepala Hamazura. Dia yakin akan hal itu. Dan dia tidak akan membiarkannya lolos kali ini.
Ya, benar sekali.
Hamazura Shiage tahu siapa dalangnya.
Dia tahu betul tentang sesuatu yang menyajikan kematian dan kehancuran sebagai akhir yang bahagia.
SYSTEM.
Kecemasan menyelimuti dunia dan masyarakat. Sekarang setelah Hamazura memahami rintangan apa yang harus dia atasi, dia bisa memulai langkah selanjutnya. Dia tahu tindakan apa yang perlu dilakukan.
Aku tidak peduli apa yang kau inginkan.
Aku tidak akan membiarkanmu bertindak sesuka hati. Pokoknya tidak akan.
Jantung Narthex telah berhenti berdetak.
Sudah tidak bisa diapa-apakan lagi.
Tapi otaknya masih berusaha untuk tetap aktif. Sel-sel otak akan rusak hanya beberapa menit setelah pasokan oksigennya terputus, jadi masih ada waktu.
Dan Sebelas Petugas Pengadilan itu pun berkata begitu.
Mereka akan membiarkan Narthex tergantung sampai terjadi kematian otak dan, setelah memastikan bahwa upaya resusitasi tidak mungkin dilakukan, mereka akan membakar tubuhnya dan membuang abunya di suatu tempat.
Hal semacam itu….
Tidak bisa Hamazura biarkan begitu saja.
Terlepas dari situasi yang ekstrem, momen terakhir terasa sangat sunyi.
Kamudian Hamazura pun mulai kembali melangkah.
Dia melampaui batas.
“Aku sudah muak dengan kalian, para pembunuh sadis yang mengenakan topeng keadilan.”
Braaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkk!!!
Batang-batang logam jeruji besi diledakkan dengan suara yang keras.
Sisa-sisa batang besi yang bengkok dan apa yang dulunya merupakan tembok batu tebal berserakan di sepanjang koridor penjara yang dingin.
Suara besi berat yang berbenturan dengan lantai batu terus terdengar untuk beberapa saat.
Narthex… tidak melakukan ini.
Dia sama sekali tidak melakukan apa pun.
Dinding batu dan jeruji besi yang mengurung Hamazura Shiage telah diledakkan hingga terlempar keluar dari sel menuju lorong. Hal itu hanya masuk akal jika... pelakunya adalah orang yang berada di dalam sel tersebut.
“…”
Perlahan, Hamazura melangkah keluar ke koridor yang lembap dan pengap.
Sekilas, kelihatannya seolah-olah dia telah meraih jeruji besi yang kokoh dan mendorongnya ke depan. Tapi sebenarnya tidak. Ini adalah sel di Menara London. Jeruji di sini tidak akan mudah dihancurkan.
Perbedaan antara sel dan koridor telah lenyap.
Semuanya telah hancur.
Semuanya kini menjadi satu kotak tunggal.
Narthex tiba-tiba jatuh dari tempatnya bergantung pada sesuatu yang tak terlihat. Hamazura menangkapnya dalam pelukannya. Selembut bulu.
“Khah!”.
Tersedak.
Terbatuk-batuk karena napas yang kembali pulih.
Kata-kata itu keluar dari mulut gadis yang dipegang Hamazura: Narthex Coded Cathedral. Gadis itu sepertinya tidak mengerti apa yang telah terjadi padanya. Kemudian dia menatap wajah anak lelaki yang memegangnya.
Dalam kebingungan yang mendalam.
“Ha…ma…? Uhuk…krjaiv, buyanrl…”
Sebagian dari pernyataannya tidak dapat dipahami. Tapi bukan karena suaranya gemetar atau serak. Mungkin dia menggunakan kata-kata yang tidak dapat diucapkan oleh manusia.
“…giebdod. qgtisnkgbikl…”
Bubuk hitam berbintik merah itu sudah berhenti mengalir.
Hamazura telah merebut kembali gadis yang kini bisa menangis air mata sungguhan.
Tapi, dia belum menyelamatkan Narthex.
Pasti masih ada sesuatu yang tersembunyi di dalam dirinya.
Hamazura tidak bisa hanya membersihkan bagian luarnya saja. Telur ikan berwarna hitam berbintik merah itu berasal dari dalam tubuhnya.
Dan dalam hal ini, ada standar, masyarakat, dunia, pengetahuan umum — SYSTEM — yang tidak akan membiarkan penjahat itu lolos begitu saja. Roda-roda gigi raksasa yang menjaga dunia tetap berputar sedang menyiksa tubuh kecil ini.
Jika Hamazura ingin menyelamatkan Narthex, maka dia harus bertindak.
Dia harus melakukan sesuatu.
Ya.
Narthex bukanlah pihak yang memegang kendali.
Hamazura Shiage-lah yang menjadi pusatnya.
Kesebelas Petugas Pengadilan tersebut mengamati fenomena itu sebagai penegak keadilan.
Tapi apa yang sebenarnya terjadi di sini? Tentu saja, Sebelas Petugas Pengadilanlah yang memastikan pengadilan Menara London beroperasi dengan benar. Pekerjaan dan tugas yang diberikan kepada mereka mengharuskan mereka mengelolanya dengan cara tersebut. Jadi bagaimana bisa tempat ini diambil alih dari tangan mereka oleh si kolaborator kecil yang hanya ada di sini untuk membuat Narthex menderita?!
Lagipula, ini sudah tidak masuk akal.
Bagaimana bisa Hamazura berhasil mematahkan jeruji besi?
Pengadilan dan penjara di sini dibangun oleh Anglikan dengan kemampuan kelas dunia, khusus memenjarakan penyihir jahat. Ini adalah sesuatu yang bahkan seorang penyihir ahli pun tidak mampu melakukannya. Tidak ada penjelasan.
Sheila Judicial, salah satu dari Sebelas Petugas Pengadilan, pun bertanya.
“Jawab kami. Apa yang barusan kau laku—”
“Tutup mulutmu, dasar serangga.”
Itulah yang sebenarnya terjadi.
Sebelas Petugas Pengadilan yang arogan itu sempat diintimidasi hingga terdiam.
Oleh seorang anak lelaki yang sangat kecil.
Mereka selalu menekan orang-orang dengan kekuatan dan jumlah mereka. Sistem mereka memutuskan hukuman tanpa memperhatikan kebenaran dari apa yang telah terjadi. Jika ini adalah esensi sejati keadilan, maka Hamazura tidak membutuhkannya.
Hamazura tidak peduli jika tidak satu pun dari 8 miliar orang di luar sana mendukung keputusannya.
Dia akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan gadis yang hampir dibunuh itu.
(Berapa lama lagi…)
Hamazura sudah mencapai batas.
Dia merasa amarahnya akan merusak otaknya.
Kemarahan pada Sebelas Pejabat Pengadilan? Atau Gereja Anglikan? Bukan.
Tak satu pun dari itu yang penting.
Kemarahan yang membakar otaknya diarahkan kepada Narthex.
Ini bukan cara untuk menjalani hidup.
Ini bukan cara untuk menolong Coronzon.
Ruang itu sendiri tampak berdenyut. Pola-pola hitam yang tersebar di dinding, lantai, langit-langit, dan segala sesuatu di sini mulai menyusut dengan sendirinya, membuat semuanya tampak seperti jantung raksasa. Seolah-olah jantung itu mencoba menelan Narthex yang lemas secara utuh.
Sitra Achra.
Sihir penyegelan — enkripsi sihir yang digunakan untuk menyembunyikan kebijaksanaan dunia — telah digunakan untuk mengumpulkan Sitra Achra dari seluruh dunia. Sebenarnya, kristal Telesma-lah yang membentuk Coronzon.
Rencananya adalah menghancurkan dinding antar Fase dan menciptakan lingkungan di mana Iblis Agung lebih mudah dipanggil, bukan?
Sesuatu akan segera terjadi.
Dengan mengorbankan nyawa gadis bernama Narthex.
…Meskipun Coronzon telah berusaha menghancurkan dunia kejam yang ada saat ini dan menciptakan dunia baru yang adil karena dia membenci dan tidak bisa membiarkan hal-hal seperti itu terjadi. Tapi begitu dia dipanggil dan dibangunkan secara paksa dari kedalaman, perasaan itu seakan diinjak-injak. Itu bertentangan dengan keinginannya.
Hamazura tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Ini sama saja memaksakan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan.
Jika dihidupkan kembali dengan cara ini, Coronzon pasti akan menjadi sesuatu yang lain.
Jika Coronzon tidak bisa meratapi dunia dan menyatakan keadilannya sendiri dari sisi kejahatan… maka dia benar-benar akan menjadi monster yang tak terbayangkan.
(Berapa lama lagi, berapa lama lagi?)
Narthex bergetar tak beraturan dalam pelukan.
Sesuatu yang melampaui pemahaman manusia keluar dari bibirnya.
“lpb…tidak… Wklhdmyuc…lari…”
Narthex menggeliat.
Rasanya Hamazura tidak sedang menggendong seorang gadis kecil. Dia lebih terasa seperti karung yang penuh dengan lumpur panas.
Narthex melakukan ini sendiri setelah didorong begitu keras oleh kesebelas orang itu.
Inilah kekuatan Coronzon.
Mungkin sekarang tidak ada perbedaan antara Narthex dan Sitra Achra.
Bahkan hubungan dekat antara ibu dan anak pun tidak akan melindungi hidup Narthex di sini. Karena kekuatannya telah diubah menjadi mantra ini. Idenya adalah untuk mengubah segala sesuatu di dunia ini menjadi alat untuk pemanggilan, sehingga proses di sini akan melahap dinding, udara, orang-orang, dan bahkan gadis kecil itu sendiri secara merata.
Hamazura sama sekali tidak terkejut dengan skenario terburuk tersebut.
Sudah kuduga.
Hamazura melontarkan kata-kata itu dengan pelan.
Ini bukanlah akhir yang diinginkan Coronzon.
Hal itu juga tidak akan membawa kebahagiaan buat Narthex.
Seorang manusia telah mengerahkan seluruh kekuatannya dan bahkan memutuskan untuk mengorbankan nyawanya, tapi dunia atau masyarakat malah menutup semua skenarionya, dan hanya mengizinkan satu skenario akhir ini saja.
Seberapa keras pun seseorang berusaha, hasilnya hanya akan seperti ini.
Tanpa pengecualian ataupun kasus khusus.
Bahkan secercah kebaikan terakhir yang tersisa dalam diri seorang penjahat akan dimusnahkan tanpa ragu. Setiap upaya penebusan akan dianggap sebagai gangguan dan ditolak.
(Berapa lama lagi, berapa lama lagi, berapa lama lagi?)
Seorang Level 0?
Bagi dunia sains dia tidak berguna?
Memangnya kenapa?
Jika tidak ada orang lain yang mau menyelamatkan Narthex, maka dialah yang akan melakukannya. Tak peduli aturan apa pun yang harus dia langgar, tak peduli trik apa pun yang harus dia gunakan, dan tak peduli seberapa banyak kecurangan yang harus dia lakukan.
Dia tidak akan meminta izin dari keadilan. Dia akan melakukan apa yang dia inginkan.
Dia telah memutuskannya.
(Berapa lama lagi aku harus berpegang teguh pada sistem yang telah meninggalkanku, berharap sistem itu akan memberiku sedikit ampasnya? Dunia ini, masyarakatnya, sistemnya, dan orang-orangnya tidak akan menyelamatkanku. Walaupun aku mengikutinya, tidak mungkin serangkaian kebetulan akan muncul dan menyelamatkan Narthex. Hidup tidak berjalan seperti itu, bukan?)
Tentu saja, tidak satu pun dari keyakinan Hamazura yang dapat mengubah fakta bahwa dia adalah seorang Level 0.
Pengukuran sains itu tak tergoyahkan. Tak ada yang bisa dia lakukan sekarang untuk mengubahnya. Dia bisa mengerahkan seluruh upayanya, tapi kemampuan espernya tidak akan pernah berkembang melebihi batasnya.
Tapi.
Dia telah bertemu Dion Fortune. Dia telah bertemu dengan Dewa Sihir Nephthys dan Niang-Niang. Dan dia telah menggenggam tangan Coronzon untuk menyelamatkan Fortune setelah dia tercerai-berai tertiup angin seperti setumpuk kartu tarot.
Jadi, dia pasti sudah memahaminya, bukan?
Kalau dia tidak membutuhkan bakat bawaan.
Dia tahu ada bentuk supranatural lain yang beroperasi dengan logika yang sama sekali berbeda dari perkembangan esper yang didukung oleh pengetahuan sains.
Dia bahkan telah diajari secara langsung tentang hal itu. Oleh tak lain dan tak bukan, Coronzon sendiri!!
Jadi.
“…Cho…”
Sambil memegang gadis yang lemas itu.
Dia mengepalkan tangannya seolah-olah mencengkeram jantungnya melalui pakaiannya.
Dia sama sekali mengabaikan rasa karat yang menyebar dari dalam tenggorokannya.
Dan anak lelaki itu pun meraung.
“Choronzon333, Namaku tidak menolak kejahatan mutlak!!!”
Jika kau benar-benar ingin menyelamatkan gadis yang dimanipulasi ini dan kau benar-benar ingin membalikkan hasil yang telah ditentukan ini.
Maka kumpulkan tekadmu.
Tekad untuk menjadi seorang penyihir bernama Hamazura Shiage.
Fajar masih jauh di depan.
London terbentang di bawah langit ungu.
Sebagian orang mungkin membayangkan sebuah kota batu yang dibangun di atas fondasi sejarah… tapi itu hanyalah para wisatawan yang sedang melihat situs web wisata sambil merencanakan liburan mereka.
Mereka yang benar-benar tinggal di sana tahu bahwa London sebenarnya merupakan perpaduan antara yang lama dan yang baru. Gereja-gereja dan istana-istana batu bersejarah berdiri berdampingan dengan gedung pencakar langit berteknologi tinggi yang mutakhir. London memiliki antena LAN nirkabel publik, grafiti di dinding, dan bangunan-bangunan terbengkalai kotor yang dikelilingi oleh barikade buatan tangan yang secara efektif diduduki oleh geng-geng jalanan. Tak perlu dikatakan, ibu kota Inggris Raya dibanjiri dengan logam, plastik, semikonduktor, dan begitu banyak hal biasa lainnya. Sungai Thames yang berkelok-kelok pun tidak terkecuali. Pada siang hari, kapal penjelajah, HMS Belfast menarik perhatian wisatawan. Pada malam hari, permukaan air yang gelap bersinar terang di bawah lampu-lampu listrik kincir ria.
Jadi, tidak sulit menemukan gedung pencakar langit yang menawarkan pemandangan Menara London dari atas.
Salah satunya terletak di seberang Sungai Thames dari menara tersebut.
“Hm, hmm.”
Salah satu gadis memantau situasi dari atap gedung.
Jubah biarawati berwarna merah burgundi miliknya memang menarik perhatian, apalagi jubahnya terbuka di beberapa bagian. Roknya memiliki belahan samping yang mencolok, mirip gaun Cina.
Rambut pirang panjang gadis berkulit pucat itu tertiup angin malam.
Dia tampak berusia sekitar sepuluh tahun, tapi usia yang terlihat mungkin bukan indikator yang dapat diandalkan. Terutama karena dia telah sepenuhnya dimodifikasi oleh Iblis Agung.
Tentu saja.
Sebagian besar kejadian berlangsung di ruang bawah tanah yang luas dan tidak diketahui publik, sehingga pemandangan dari atas harusnya tidak akan mengungkapkan apa pun.
“29% Agathion milikku telah hancur. Tidak, kerusakannya baru saja meningkat menjadi 31%. 19% di antaranya gemetaran karena kehilangan motivasi dan sisanya berkeliaran di lokasi yang salah. Tapi ini memang yang kuharapkan. Fokus ke penyamaran berarti kekuatannya akan berkurang. Meski begitu, hanya dengan terkena gelombang kejutnya saja mereka sudah hancur dengan begitu mudahnya.”
|Familiar.
Dia tidak hanya mengumpulkan rekaman terakhir dari makhluk-makhluk yang merayap di bawah tanah. Dengan menyelidiki sebaran lokasi dan waktu kehancuran mereka, dia dapat mencapai pemahaman kolektif tentang apa yang terjadi di ruang bawah tanah yang tertutup itu.
(Aku sudah menduga Narthex akan menghancurkan dirinya sendiri karena terpojok, tapi ini tidak kuduga. Hamazura, ya? Biasanya, esper bodoh yang memakai sihir hanya akan menderita efek samping berupa hancurnya semua pembuluh darah dan saraf, kemudian membunuhnya dalam sekejap. Selain itu, mencoba menggunakan sihir untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan Narthex dan Anglikan — yang ahli dalam pertempuran anti-penyihir — adalah ide yang sangat buruk.)
Tapi.
Hal itu tetap menarik minatnya.
Hamazura Shiage seharusnya tidak tahu apa pun tentang sihir, tapi dia tiba-tiba terbangun dan meneriakkan nama sihirnya. Itu berarti dia sudah memiliki pengetahuan sihir. Semuanya bermula dari Iblis Agung Coronzon yang menanamkan informasi yang tidak perlu ke dalam kepala anak lelaki dari sisi sains tersebut. Dari sudut pandang yang lebih luas, bisa dikatakan bahwa pengaruh Coronzon — yang seharusnya sudah mati — kini muncul kembali ke permainan.
Dia tidak menyukai hal itu.
Sebagai salah satu dari Para-Gadis, ini sama sekali bukan cerita yang asyik buat dinikmati.
“Awalnya aku cuma mau menonton Narthex hancur dengan sendirinya, tapi kurasa aku perlu turun tangan. Demi melumat habis seluruh sisa-sisa pengaruh Iblis Agung Coronzon sampai ke kepingan terkecilnya.”
Tidak masalah bahwa bangunan itu memiliki puluhan lantai.
Gadis itu mencondongkan tubuh ke tepi atap dan menggeser berat badannya sebagai persiapan untuk menjatuhkan diri.
“Reflex Gesang Klingen.”
Dia berhenti.
Setelah mendengar rangkaian kata-kata yang terdengar seperti mantra, salah satu dari Para-Gadis pun membeku.
Dia hanya menoleh untuk melihat atap seperti burung pemangsa yang bertengger di pohon.
Rangkaian kata-kata itu adalah sebuah nama.
Ini bukanlah kesalahan atau kebetulan. Sangat sedikit orang di dunia yang dapat mengucapkan rangkaian kata-kata itu sebagai sebuah nama.
“Reflex Gesang Klingen.”
Suaranya berasal dari sebuah bayangan.
Dari posisi tempat Reflex berdiri, mustahil untuk mengintip ke bagian dalamnya secara jelas — yang berarti si pembicara telah memperhitungkan jangkauan bidang pandang Reflex sebelum memilih tempat itu.
“Index dari bahasa Latin, Narthex dari bahasa Inggris, dan sekarang kita punya bahasa Jerman. Ada berapa lagi Para-Gadis yang tersisa?”
“Oh, tumben sekali kau marah? Tapi bukankah kau telah membantai begitu banyak penyihir dari cabal-mu sendiri di Pertempuran Blythe Road dan merampas masa depan anak-anak melalui begitu banyak konspirasi di Academy City, Aleister Crowley?”
Bayangan gelap itu tidak bereaksi.
Penyihir itu telah memperpanjang hidupnya untuk sementara waktu dengan meminjam tubuh Iblis Agung Coronzon.
Seharusnya dia tewas bersama Coronzon di Academy City… tapi rupanya tidak semudah itu.
“Aku heran kenapa kau begitu peduli. Kau kan tidak kenal Narthex.”
“Mungkin tidak, tapi jika bencana ini dibiarkan tak terkendali, maka ia akan menyebar dari satu titik di Inggris dan melanda seluruh dunia. Dan kemudian dia akan terseret ke dalamnya.”
“Ohh?”
“Aku menyuruhnya membunuh Coronzon bersamaku. Salahku sendiri telah membuat tangannya berlumuran darah. Bukan salahnya karena telah membunuh, jadi dia pantas menikmati kedamaian yang telah dia lindungi. Aku tidak akan membiarkan dia terus menderita”
Kemudian, bayangan itu pun mulai menjadi tajam. Bayangan itu memancarkan aura permusuhan.
“Selain itu, ini bukan pemandangan yang enak untuk ditonton. Terlepas dari aku mengenalnya atau tidak.”
(Apakah ini juga merupakan pengaruh Coronzon dalam arti tertentu? Entitas yang menghambat evolusi manusia. Ya ampun, bahkan setelah kematiannya pun dia masih menemukan cara baru untuk menghalangi kami, Para-Gadis.)
Reflex merasakan kejengkelan yang mendalam di dalam hatinya, tapi menunjukkannya tidak akan membantu.
Reflex melangkah menjauh dari tepi atap. Dan berjalan. Dia menyeringai sambil berbicara kepada sang bayangan.
“Mengingat kehidupan yang kau jalani, aku tahu kau tidak akan masuk surga setelah mati bersama Coronzon. Tapi loh? Kok kau malah di sini? Jangan bilang neraka pun menolakmu dan memaksamu untuk mengembara di alam kehidupan selama-lamanya? Ah ha ha! Persis banget kayak cerita hantu khas Inggris!!”
Hanya dengan mendengar suara muda gadis ini saja sudah cukup untuk menyimpulkan satu hal.
Gadis ini tidak sama dengan Narthex.
Gadis ini tidak akan menimbulkan masalah karena alasan yang sama seperti Narthex.
“Jadi, si gadis ketiga telah memilih untuk menolak Iblis Agung Coronzon.”
“Tentu saja! Dia benar-benar jahat! Dia sangat menjijikan!! Hanya memikirkan fakta bahwa dia membesarkanku saja sudah membuatku membenci darah dagingku sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, mau tidak mau aku harus menjalani hidupku. Jadi aku menolak segala sesuatu tentang orang tuaku sendiri. Kalau tidak, aku tidak bisa menjalani hidupku sendiri.”
Bayangan itu mendesah pelan.
Para penyihir jenius umumnya berasal dari keadaan tragis dan tidak adil seperti itu.
Lagipula, para penyihir adalah sekumpulan orang yang tidak berbakat, tidak diberkati, dan tidak berdaya.
Bahkan seorang penyihir legendaris seperti Aleister pun bisa dilihat sebagai hasil akhir dari seorang anak yang dibesarkan di bawah batasan-batasan yang dikenakan padanya atas nama kebaikan oleh seorang ibu yang tidak waras.
Jadi Aleister bisa mengerti.
“Pemberontakan adalah dasar dari pengendalian pikiran.”
“?”
“Pemberontakan adalah emosi yang mudah muncul pada siapa pun dengan memaksa mereka melakukan tindakan yang melanggar prinsip mereka. Dan jika kita sudah tahu mereka akan memberontak, kita dapat memprediksi ke mana mereka akan pergi ketika mereka kabur dari rumah. Lebih dari itu, tidak seperti rasa kesal dan benci, pemberontakan akan terselesaikan dengan sendirinya begitu muncul. Seorang anak yang kabur pada akhirnya akan kembali pulang, mandi dengan air yang disiapkan orang tuanya, dan dengan kesal mengenakan piyamanya, bukan?”
“Itu memang menjadi pengendali Narthex. Tapi si bodoh itu bahkan tidak mampu memberontak dan pada akhirnya memanggil Coronzon sebagai ibu.”
Ya, jika seseorang tidak bisa memberontak dengan benar, mungkin hasilnya akan begitu.
Tapi, apa yang diharapkan Reflex, dan di mana letak kegagalannya?
Jawabannya jelas. Dia gagal karena Index telah menduduki posisi teratas.
Serta…
“Sekarang kau berpihak pada siapa?”
“Apa yang kau bicarakan?”
“Aku hanya penasaran mengapa Coronzon terburu-buru mengaktifkan Adikalika. Jangan-jangan dia mencoba untuk melenyapkanmu — sebuah karya gagal yang terlalu berbahaya —bersama seluruh dunia… tentu tidak mungkin sekonyol itu, bukan?”
Index Librorum Prohibitorum adalah contoh yang pas.
Index telah menghafal 103.001 grimoire, menjadikannya anomali di dunia sihir. Bahkan ada yang mengatakan kalau dia bisa menjadi Dewa Sihir jika dia benar-benar menggunakan semua pengetahuannya.
Tapi, itu adalah hal yang sulit dibayangkan.
Index tidak bisa menaklukkan dunia sendirian.
Dia memang memiliki kekuatan yang luar biasa, tapi dia bukanlah seorang yang tak tersentuh atau tak terkalahkan.
Itu kenapa Index tetap memilih lari ketika para penyihir mengejarnya dan telah ditangkap oleh para penyihir beberapa kali bahkan setelah bertemu dengan Kamijou Touma.
Jadi dengan premis yang sama, betapapun luar biasanya Narthex Coded Cathedral, sangat tidak wajar jika dia bisa menyerang Academy City seorang diri.
Jika itu tidak terjadi secara alami, maka pasti ada orang lain yang telah mengaturnya. Seseorang telah memanfaatkan gadis itu untuk melakukan sesuatu di luar batas kemampuannya, bahkan sengaja mendorongnya menuju ke kematian.
Reflex.
Dan dengan premis yang sama, sepertinya tidak mungkin juga gadis ini bertindak atas kemauannya sendiri.
Sama seperti Index Librorum Prohibitorum yang dirancang untuk berfungsi optimal di bawah perlindungan Gereja Anglikan, Reflex membutuhkan dukungan dari sesuatu yang besar.
“Kingsford menyuruhku untuk tetap hidup.”
“Dan kau merasa ada makna tertentu di baliknya?”
“Tidak. Dia adalah orang yang akan mengatakan hal itu kepada semua orang dan aku tahu kalau dia tidak akan tinggal diam saat ancaman tiba. Dia menyuruhku untuk hidup dan menyelamatkan semua orang dari kejahatan seperti dirimu.”
Permusuhan menusuk dari balik bayangan seperti tombak tak terlihat.
Reflex mendengus sambil tertawa.
Dia punya alasan yang jelas untuk melakukan itu.
“Aku adalah salah satu dari Para-Gadis. Sebuah kartu as anti-penyihir yang disiapkan oleh Coronzon. Meski aku dicap gagal, tapi bukan berarti keahlianku lebih rendah daripada si perpustakaan grimoire. Aku tidak habis pikir seorang penyihir biasa malah mencoba menantangku! Hehehe. Terdengar seperti bunuh diri buatku”
“Ya, itu sangat mungkin. Bagi perpustakaan grimoire yang khusus untuk melawan sihir. Atau bagi tangan kanan yang meniadakan semua ilusi. …Meski begitu, belum tentu kau sanggup menghadapi penyihir dengan sihir yang kelewat batas. Oleh karena itu, untuk melawan penyihir jahat, sepatutnya lawan dengan penyihir jahat lainnya.”
“Hmm? Itu ide yang menarik.”
Aleister telah mendobraknya.
Ya. meskipun itu adalah hal yang benar, ada kalanya mengucapkan isi kepalamu dengan lantang malah akan membuatmu dikucilkan di kelas.
Dia melangkahi garis hidup dan mati itu dengan mudahnya.
Aleister Crowley tidak pernah mampu menahan lidahnya pada saat-saat seperti itu.
Tidak peduli betapa pun sulitnya bagi seluruh dunia untuk memahaminya.
Jadi…
“Aufeinander legen.”
|Tumpuk(suara)
Terdengar suara seorang gadis muda.
Harusnya ini merupakan atap bangunan yang terbuka.
Tapi suaranya malah bergema berulang-ulang, seperti teriakan di dalam gua yang dingin, tumbuh menjadi massa suara yang besar.
Inilah salah satu alasan mengapa orang selalu takut pada gunung sebagai tempat tinggal para dewa atau monster, sampai mereka mulai memandang gunung sebagai sesuatu yang suci. Ucapannya berubah menjadi gumpalan udara dan suara.
“ “ “Identifizieren, Beginn. …Semua angka bersifat tak terbatas, jadi tidak dapat dibuktikan bahwa angka yang diperoleh dari satu ditambah satu akan selalu sama dengan angka yang dikenal sebagai dua. Air tidak dapat direbus dua kali dan tidak ada percobaan yang dapat direproduksi. Satu ditambah satu menghasilkan kotak berbeda yang dikenal sebagai dua tergantung pada waktu, tempat, dan keadaan pada saat perhitungan. Tidak ada masalah yang dapat dibuktikan hanya dengan matematika usang. Maka, angka-angka tak lagi berarti. Terimalah suaraku apa adanya, wahai dunia. Aku memerintahkanmu. Batasan numerik tidak memiliki arti bagi suara yang digandakan, jadi mantra yang akan segera dihasilkan oleh seseorang tidak memiliki batas atas!!” ” ”
|Gema terkonfirmasi, mulai merapal
Inilah kekuatan bawaan Reflex.
Tenggorokannya.
Dunia sihir memberikan kekuatan pada pejuang putus asa dari mereka yang tidak berbakat, tapi dia justru memakai bakat bawaannya untuk menunjukkan superioritasnya, yang mana membuatnya menjadi monster yang absurd.
Reflex tidak seperti Index yang dapat menyimpan pengetahuan dunia menggunakan ingatannya yang sempurna, atau Narthex yang secara sepihak menentukan siapa yang dapat dan tidak dapat melihat pengetahuan dunia dengan menerapkan enkripsi tingkat tinggi yang kompleks.
Dia adalah gadis ketiga dari Para-Gadis.
Dari semuanya, hanya Reflex yang mengandalkan bakat sebagai kemampuan uniknya.
“ “ “Dewa kuno, penuntun dunia, yang memakai petir sebagai senjata hukuman ilahi. Engkau adalah bapa surgawi dan pencipta segala sesuatu yang juga takut pada istrinya sendiri. Hamba menghubungi sebagian kekuatan Engkau melalui perlindungan Jupiter. Wahai Telesma sementara, timbulkanlah riak-riak dan ungkaplah wujud yang hamba inginkan.” ” ”
Cahaya pun bersinar.
Dari bawah kaki Reflex.
Seperti raksasa yang mengangkat kepalanya dari permukaan air, bayangan aneh sepanjang 10 meter pun muncul. Siluetnya menyerupai naga dalam buku-buku cerita. Hanya saja warnanya hitam pekat.
Si gadis ketiga mulai merentangkan tangannya dan meraung.
Suaranya yang lantang bergema berulang-ulang meskipun berada di tempat terbuka.
Semua angka bersifat tak terbatas.
Oleh karena itu, tidak peduli apakah dia berhadapan dengan cabal sihir atau sekte agama global. Kelompok mana pun yang mengandalkan jumlah dapat dihancurkan oleh kekuatan Reflex, sosok yang menggema dan menggandakan diri.
Biasanya, mengumpulkan Telesma dengan kepadatan sangat tinggi dan memanggil Iblis Agung membutuhkan ritual sihir yang benar-benar besar. Puluhan ribu orang akan menghabiskan waktu puluhan tahun sebelum mendapatkan kesempatan untuk mencoba. Dan bahkan belum tentu berhasil. Tapi...
Gadis ini telah menginjakkan kaki di dunia yang luas itu, di sini dan sekarang juga.
Angka-angka tak lagi berarti.
Gadis ini hanya membutuhkan secuil pengetahuan.
Dari situ, dia bisa mengasah kata-katanya menjadi senjata mematikan dan memperkuatnya secara eksplosif.
“ “ “Ha ha HA HA HA HA!! Datanglah, False Jupiter Optimus Maximus! Engkaulah naga jahat dan penipu yang mengklaim nama dewa kuno dalam eksperimen keempat dan memikat umat manusia menuju pertumpahan darah dan kekerasan. Tak perlu lagi ada batasan. Di sini hamba berikan kebebasan sejati, jadi malam ini, gunakanlah sebebas mungkin taring dan cakar yang Engkau miliki!!!” ” ”
Seekor naga adalah wujud akhir dari malaikat yang telah rusak.
Ini adalah pendekatan yang berbeda dari upaya Narthex untuk menghidupkan kembali dan memanggil secara abadi malaikat jahat yang merupakan Iblis Agung Coronzon.
Oleh karena itu, kekuatan ini tidak boleh diremehkan.
Iblis ini menggunakan nama dewa kuno meskipun tidak memiliki hubungan dengan mitologi Romawi. Menantang False Jupiter Optimus Maximus berarti bertarung melawan Raja Iblis. Itu juga berarti bahwa semua kekuatan yang dikumpulkan untuk mengalahkan Iblis Agung Coronzon harus dikumpulkan sekali lagi. Dan jika kita tidak dapat melakukannya, maka kematian pasti menanti. Mutlak, 100%.
“ “ “Apa yang akan kau lakukan sekarang?” ” ”
Suaranya yang berlipat ganda terdengar sinis.
Suara-suara tak terhitung jumlahnya mengelilingi manusia itu dan menghinanya seperti halnya surat kabar kelas tiga yang telah berulang kali menyiksanya di masa lalu.
“Aku tanya apa yang akan kau lakukan sekarang, Aleister?! Ah ha ha HA HA!! Kau memang memiliki kekuatan besar, tapi bakat itu justru membuatmu sulit bergaul dengan siapa pun, yang menyebabkan semua organisasi kelas duniamu runtuh. Kau bukan Kamijou Touma. Kau tidak akan bisa mengumpulkan rekan-rekan yang dapat diandalkan! Sekarang, bagaimana kau akan berjuang melawan False Jupiter Optimus Maximus ini sendirian?!”
“…”
Tidak ada respons.
Hanya ada satu jawaban.
Zwoosh!!!
Sebuah lubang terbuka di menara raksasa setinggi 10 meter yang menjulang di belakang Reflex.
Lubang selebar satu meter.
Dan itu belum berakhir. Raungan kematian terus berlanjut tanpa henti. Raksasa itu dipenuhi lubang hingga tak mampu mempertahankan bentuknya dan hancur berkeping-keping. Apa yang dulunya adalah False Jupiter Optimus Maximus lenyap seolah menghilang ke udara. Tak ada secuil pun yang tersisa.
Ini lebih dari sekadar keajaiban sementara. Itu terjadi dalam sekejap. Menggunakan kekuatan individu, tanpa mengumpulkan rekan-rekan.
Hanya dibutuhkan satu tangan yang terangkat di tempat teduh. Dari kejauhan.
“Apa—?”
Gema telah lenyap dari suara Reflex.
Sihirnya terganggu. Begitu hebatnya, sampai-sampai seluruh logika seakan lenyap dari dalam kepalanya.
Dia berbalik, melihat tidak ada sepotong pun yang tersisa, dan menatap dengan linglung.
Meskipun musuhnya tidak berada di belakangnya.
Tapi berada tepat di depannya.
“Apa… itu? Apa yang terjadi barusan?”
“…”
Meski begitu, Aleister tidak melakukan sesuatu yang istimewa saat berdiri dalam kegelapan.
Aleister hanya melangkah keluar dari bayangan.
Tidak ada yang lain.
“Kau… mustahil. Tubuh itu kan…?!”
Untuk pertama kalinya, Reflex benar-benar tak bisa berkata-kata.
Sosok yang muncul dari balik bayangan itu adalah seorang wanita dengan rambut perak yang sangat panjang.
Tapi siapa pun yang mengetahui mengenai sang legenda walau hanya secuil, mereka pasti akan langsung mendapatkan jawabannya.
Yakni…
“Anna Kingsford? Dari sekian banyak pilihan, kenapa kau malah meminjam mayat kekal itu, Aleister?!”
Pada saat itu juga, "titik pusat" telah bergeser.
Sesuatu yang lebih anomali ketimbang si gadis ketiga dari Para-Gadis telah muncul dari bayangan.
Seluruh dunia telah mengakuinya.
“Kingsford tidak dibangkitkan kembali. Lebih tepatnya, tubuhnya yang sudah mati dipasangi mesin canggih agar bisa digerakkan kembali.”
Kata-kata ini diucapkan oleh seorang penyihir yang berpenampilan persis seperti Kingsford.
Berkat trik teknologi.
“Semua sinyal yang diperlukan untuk menggerakkan tubuh Kingsford dapat dimonitor melalui gawaiku. Yah, ini adalah hal yang kulakukan secara buru-buru dan rahasia setelah dia sempat memalsukan kematiannya saat pertarungan melawan CRC. Memang hanya sebentar, tapi kami telah menghabiskan waktu bersama. Jadi aku telah mengumpulkan data yang cukup tentang pernapasan, denyut nadi, gerakan otot, impuls saraf, gelombang otak, dan zat kimia otak seorang master sihir saat menggunakan sihirnya. Dengan detail yang tepat. Jadi dengan memasukkan data itu kembali ke diriku sendiri… aku juga dapat mencapai sebagian sihir miliknya.”
“Ingat, hanya sebagian.” tambah Aliester sambil tersenyum tipis.
Ini sangat tidak biasa bagi si manusia yang selalu arogan, yang tidak pernah takut disalahpahami.
…Anna Kingsford. Jika kita tidak memahami keagungan dari sang pakar itu, maka kita cukup memahami sebagian kecilnya saja.
Anna Kingsford bahkan bisa memungut dan menyelamatkan jiwa-jiwa yang telah mati dan jatuh ke neraka. Itulah jenis kekuatan yang telah diperoleh Aleister.
Berbagai mesin yang terpasang di tubuhnya memberikan data yang lengkap. Menganalisisnya. Merumuskannya. Memasukkannya kembali ke dalam dirinya sendiri untuk menimpa nilai-nilai numerik di dalam dirinya.
Dengan cara yang bahkan tak pernah terpikirkan oleh penyihir biasa.
“Berkat ini, aku sekarang dapat menggunakan sebagian kecil sihir milik seorang master sihir. Semua anggota cabal Golden menginginkannya tapi tidak pernah berhasil mencapainya. Jika saja salah satu dari kami berhasil mencapai sihir semacam ini, tragedi yang dikenal sebagai Pertempuran Blythe Road mungkin tidak akan pernah terjadi.”
Keajaiban ini berasal dari pakar legendaris yang dihormati sebagai guru oleh Westcott dan Mathers, dua dari tiga pendiri cabal Golden.
Meski begitu…
“Namun pada saat yang sama, apa yang dianggap kebaikan oleh satu orang mungkin tampak seperti siksaan bagi orang lain. …Aku dengar Westcott dan Mathers sering menangis saat menjadi muridnya. Bahkan para jenius yang egois itu pun tak berdaya di hadapan hukuman fisik Kingsford. Pertempuran melawan Raja Iblis bukanlah apa-apa bagi wanita yang telah menjelajahi neraka yang dipenuhi monster untuk mengembalikan seorang anak lelaki ke alam kehidupan.”
“…”
“Jadi persiapkan dirimu, Reflex.”
Kata-kata pakar berambut perak itu bahkan bukan deklarasi perang.
Itu adalah vonis mati.
“Demi melayani orang-orang di sekitarku. Aku akan mengajarkanmu puncak dari perjuangan orang-orang tak berdaya dan tak berbakat yang tetap memandang surga serta tidak kenal kata menyerah, yaitu sihir. …Aku tidak akan lagi terjebak oleh gagasan bodoh bahwa kebencian dan kehancuran adalah hal yang keren.”
Jika kalian membelinya satu per satu, selamat datang kembali. Jika kalian membelinya sekaligus, selamat datang juga.
Kamachi Kazuma di sini.
Kali ini aku menyoroti kehidupan sekolah Kamijou Touma. Bersama para Transenden, CRC, Alice, dan Coronzon, dia telah bertarung dalam banyak pertempuran, semua itu demi hal ini. Setelah bangkit dari kematian dan menghadapi ancaman tinggal kelas, sudah saatnya bocah berambut jabrik itu diberi penghargaan setidaknya sekali, benar kan?! Jadi aku tetap fokus pada kehidupan sekolahnya sepanjang waktu. Kali ini benar-benar sebuah penghargaan tanpa ada hal tersembunyi di balik layar! Jadi aku membiarkannya menikmati kehidupan bak mimpi bersama semua orang di asrama putri.
Lagipula, sebagian besar cerita berfokus pada pertempuran-pertempuran serius, tapi kehidupan sekolah inilah yang seharusnya dia alami setiap hari. Rasanya Kamijou telah bertarung begitu lama hingga dia lupa apa yang diperjuangkannya, jadi aku benar-benar mencurahkan upaya paling besar untuk menulis bagian-bagian kehidupan normal dalam cerita ini. Apa itu normal? Bukankah kehidupan sehari-hari justru hal yang paling sulit?! Isinya penuh proses coba-ralat. Dunia seperti mimpi itu begitu menyilaukan…
Rasanya tepat jika Kamijou mendapat kesempatan untuk menegaskan kembali pentingnya hal-hal yang telah dia lindungi sampai bertaruh nyawa, bukan? Begitu banyak hal yang telah terjadi sehingga dia membutuhkan waktu ini untuk menyelesaikan semuanya.
Dan meski tampak seperti kehidupan sekolah biasa, hal itu juga kembali menyoroti kesialan yang telah ada sejak Jilid 1.
Dan karena Kamijou harus menjalani hidup tanpa stres, aku meminta Accelerator untuk mengorganisir informasi mengerikan terkait SYSTEM yang disinggung di jilid sebelumnya. Istilah itu sering muncul di awal cerita, tapi belum muncul belakangan ini, tapi kalian masih mengingatnya, bukan? Semua orang tahu tentang kemalangan Kamijou Touma, tapi mengapa dia mengalami begitu banyak kemalangan? Jika diteliti lebih lanjut, sesuatu yang mencakup seluruh dunia mungkin akan terlihat.
Lalu ada bagian Hamazura. Dia adalah protagonis ketiga yang bukan Kamijou Touma atau Accelerator. …Jadi bukankah ini tampak seperti jalan yang baik untuknya? Itu kenapa aku membuatnya mengeluarkan raungan di akhir. Dia sudah pernah menggunakan sihir sekali untuk menyelamatkan Takitsubo yang telah dimanipulasi dan Dion Fortune yang telah hancur berkeping-keping. Aku punya banyak ide untuk nama sihirnya, tapi akhirnya aku memilih nama wanita itu. Hamazura sepertinya tidak akan memiliki kosakata yang luas, jadi kupikir sesuatu yang sederhana akan jadi pilihan yang bagus.
Di jilid sebelumnya, ada rencana agar dia mengalami kebangkitan spektakuler dan bertarung dengan Kamijou menggunakan sihir, tapi Kamijou sendiri pernah menggunakan sihir dengan St. Germain… Jadi sepertinya itu tidak akan memberikan impak yang besar. Jika aku ingin melakukannya, aku akan melakukannya di tempat yang akan membuatnya bersinar paling terang! Jadi aku buat saat dia melawan sebelas orang, yang cara dan tujuannya telah kacau, bersama Narthex, yang telah dimanipulasi oleh kekuatan Coronzon.
Pada jilid terakhir, aku menggambarkan sumber indra Hamazura sebagai kekuatan yang membawanya lebih dekat kepada kematian.
Hamazura tidak bisa meregenerasi dirinya seperti yang bisa dilakukan Tsuchimikado. Berlagak keren dan menggunakan sihir sebagai trik rahasia memang bagus, tapi dia harus menghadapi konsekuensi dari tindakannya, jadi kalian bisa menantikan hal itu.
Lalu ada Aleister. Hore, akhirnya aku membuat pertarungan supranatural berbahasa Jerman! …Aku tahu cepat atau lambat ini akan terjadi ketika aku memperkenalkan Anna Sprengel. Para-Gadis berasal dari berbagai bahasa yang berbeda, jadi aku memilih bahasa Jerman untuk gadis yang ketiga. Yang satu ini menginjak-injak semua bentuk kekerasan berbasis angka. Jika kalian memikirkan kekuatan yang dimiliki Gereja Katolik Roma di bagian akhir seri lama, itu akan memberi kalian gambaran yang pas tentang betapa tidak biasa kekuatannya.
Di sisi lain, Index sebenarnya telah meningkatkan kekuatannya secara langsung melalui jumlah yang sangat masif dari 103.000 grimoire miliknya. Memikirkan kelebihan dan kekurangan dari Para-Gadis yang telah terungkap sejauh ini — Index, Narthex, dan Reflex — Mungkin akan menjadi senam otak yang seru.
Aku ucapkan terima kasih kepada ilustratorku, Haimura-san dan Itou Tateki-san, serta editorku, Miki-san, Anan-san, Nakajima-san, dan Hamamura-san. Menggambarkan kehidupan sekolah yang menyenangkan dan tanpa kejadian berarti. Itu tampaknya tugas yang sulit. Terima kasih kalian masih menemaniku.
Dan aku mengucapkan terima kasih kepada para pembaca. Mengubah ujian masuk yang bikin sakit perut menjadi semacam festival terasa sangat khas Academy City, bukan? Jadi aku menuliskan masa pertengahan Januari yang sangat sibuk itu dengan caraku sendiri, tapi bagaimana menurut kalian? Terima kasih banyak telah membaca sampai sejauh ini.
Saatnya menutup halaman-halaman ini untuk sementara waktu sambil berdoa agar halaman-halaman buku berikutnya akan dibuka.
Dan untuk saat ini, aku letakkan penaku.
Ingat semuanya! Serial ini seharusnya bercerita tentang kehidupan sekolah!!
-Kamachi Kazuma
Pada akhirnya.
Suara angin yang menyeramkan bergema di sepanjang koridor penjara yang terbuat dari batu.
Ruang Tahanan yang Belum Divonis di Gedung Pemeriksaan Khusus dijaga ketat, bahkan lebih ketat daripada di Menara London. Bangunannya tidak dibangun dengan asal-asalan sehingga tidak memungkinkan adanya angin masuk.
Jadi ini bukanlah angin sungguhan.
Itu mungkin lebih mirip upaya bersiul yang gagal.
Kata-kata itu keluar dari bibir Hamazura Shiage.
Sebelas Petugas Pengadilan mengenalinya. Sebenarnya, penyihir profesional mana pun pasti mengetahuinya dengan sangat baik.
Bocah yang menggendong Narthex di lengannya telah mulai meniru sesuatu. Dia mulai mengotak-atik energi kehidupannya dengan menggunakan pernapasan dan peredaran darah.
Yang berarti dia sedang memurnikan energi sihir.
Sheila Judicial dari salah satu Sebelas Petugas Pengadilan membuka mulutnya.
“Di mana para algojo Necessarius?”
“Mereka ada di London, tapi masih butuh lima sampai sepuluh menit lagi sebelum mereka tiba. Kita hanya perlu mengulur waktu sebanyak itu. Tidak, akan lebih cepat jika kita yang membunuhnya sendiri,” jawab Frank dengan nada kesal.
Terdengar langkah kaki yang keras.
Hamazura tidak bergerak maju atau mundur.
Dia tidak menunjukkan niat untuk melarikan diri.
Dia berbisik kepada Narthex sambil mencegah penggunaan tangannya yang lain dengan memeganginya.
Itu tampak seperti bunuh diri.
“Dengar, Narthex.”
Hamazura berbicara sambil menundukkan kepala.
Kesebelas orang itu sedikit terkejut ketika mengetahui bahwa dia tidak memohon ampun.
“Situasinya menjadi rumit dan kita tidak punya waktu untuk membicarakannya, jadi aku hanya ingin mengatakan satu hal: kau tidak perlu menangis lagi. Kau tidak perlu khawatir. Apa kau ingin bersekolah? Apa kau ingin menjadi idol? Apa kau ingin kehidupan yang damai? Apa kau ingin berteman dan bergaul dengan seseorang? Apa pun itu, bayangkan saja tujuan seperti itu di kepalamu. Apa pun itu, menemukan cara untuk mewujudkannya dan benar-benar melakukannya… adalah tugas seorang penyihir sepertiku.”
Apakah Noel Judicial sedang tertawa?
Karena Hamazura berbicara dengan Narthex?
Dalam kondisi seperti itu, tidak mungkin Narthex bisa memahami sepatah kata pun yang diucapkan Hamazura.
Lalu bagaimana jika Hamazura menghentikan semburan telur ikan hitam berbintik merah yang sangat kecil itu? Narthex telah mengeluarkan Sitra Achra, sumber kejahatan, dari tubuhnya. Membayangkan apa yang ada di dalam tubuh muda itu sungguh mengerikan. Ditambah lagi, belum tentu Narthex akan terlepas dari pengaruh Sitra Achra. Bocah Jepang yang tanpa sadar memegang benda berbahaya itu bisa saja dimangsa beberapa saat kemudian, lalu seluruh tubuhnya ditelan oleh zat masir hitam berbintik merah itu.
Belum lagi.
Anak lelaki itu telah memilih hal yang salah untuk diandalkan di hadapan Sebelas Petugas Pengadilan yang menghakimi kejahatan sihir.
Mereka tidak diizinkan untuk menyentuh Hamazura sebelumnya.
Namun Hamazura kini telah menjadikan dirinya sebagai target yang sah.
Karena sekarang dia menggunakan sihir jahat, jadi mereka tidak perlu lagi menahan diri.
Hamazura menundukkan kepala, menatap benda kotor di lengannya, lalu berbisik.
“Aku tidak mengerti.”
Suaranya sangat kering.
Suaranya terdengar sangat melankolis.
Namun, ada secercah harapan di sana. Dia belum kehabisan pilihan. Ini adalah suara seseorang yang menyadari pilihan yang masih tersisa.
“Sebelum menjadi penyihir, aku tidak mengerti bagaimana cara kerjanya. Dan aku takut pada apa yang tidak kumengerti. Aku melihatnya sebagai kekuatan supranatural yang tak terjelaskan yang tiba-tiba muncul dan merenggut nyawa orang. Jadi, Sebelas Petugas Pengadilan, aku pernah takut pada kalian dari lubuk hatiku. Tapi sekarang tidak lagi, setelah aku menjadi penyihir dan mulai mengerti. Aku mengerti bahwa kalian sama sekali tidak penting. Kalian hanyalah sekelompok orang biasa.”
Frank Judicial pun tertawa terbahak-bahak.
Membiarkan anak lelaki itu berbicara semaunya.
Rupanya anak lelaki itu telah menerima cukup petunjuk untuk memurnikan energi kehidupannya menjadi energi sihir. Terus apa? Dia tidak memiliki pengetahuan tentang grimoire atau spiritual item yang telah disempurnakan dalam waktu lama. Dia mungkin memiliki kekuatan sihir sekarang, tapi dia tidak bisa melakukan apa pun tanpa mantra. Dia adalah orang bodoh yang begitu asyik mengotak-atik baterai lithium meskipun dia tidak tahu cara menggunakannya.
“Jika,” kata Frank. Sebagai anggota Sebelas Petugas Pengadilan yang bertugas memberikan vonis mati, sebuah tugas yang tidak ingin dilakukan orang lain. “Jika kau pikir kau dapat menggunakan pengetahuan Iblis Agung Coronzon untuk melawan kami, kau sudah salah besar. Kami, Anglikan, adalah spesialis dalam pertempuran melawan penyihir. Setiap mantra yang pernah digunakan Coronzon telah dicatat dengan cermat. Karena itu, mengandalkan Coronzon saja tidak cukup untuk mengalahkan kami.”
“Dan…” lanjut Thomasia Judicial. Tak peduli siapa yang menjatuhkan vonis, hanya kematian dan malapetaka yang menanti kedua orang bodoh itu. “Kami tahu banyak hal yang tidak kau ketahui. Misalnya seperti ini.”
Thomasia Judicial tidak membawa senjata yang mencolok.
Tidak ada mantra dan tidak ada lingkaran sihir.
Tidak ada satu pun petunjuk mengenai mantra apa yang dia gunakan.
Dia hanya mengulurkan ibu jari dan jari telunjuknya dan membentuk bingkai dari dua buah bentuk L.
Dan Hamazura pun terjebak seolah berada di dalam sebuah bingkai.
Itu saja.
Kemudian terdengar suara yang membelah udara.
Namun, tidak ada bilah yang terlihat. Bukan hanya tidak ada bilah baja, tapi juga tidak ada angin yang meniup sehelai rambut pun di kepalanya.
Hamazura tidak mengerti.
Pemahamannya tidak mampu mengimbangi.
Jadi, tidak ada yang bisa dia lakukan.
Suara itu menusuk telinga.
Sesuatu yang tak terlihat terbang masuk dan menebas leher, tubuh, dan lengan Hamazura.
Dengan kecepatan tinggi.
Menembus tubuhnya begitu saja.
Tapi bocah berandalan itu tidak meneteskan darah sedikit pun.
Bahkan, Narthex yang berada dalam pelukannya pun tetap tidak terluka.
“Apa—?”
Apakah Thomasia Judicial benar-benar punya waktu untuk menyatakan keterkejutannya?
Siapa yang mengizinkannya?
Kedua tangan Hamazura penuh. Dia benar-benar tidak bisa menggerakkan satu jari pun saat itu.
Meski begitu.
Duaaar!!!
Separuh tubuh bagian kanan Thomasia dilalap api. Dia terbakar hebat. Ini bukan seperti flambe di mana brendi dituangkan ke dalam wajan panas untuk menghasilkan nyala api singkat. Api itu terus menyala. Suara rambut terbakar dan kulit hangus terdengar jelas. Kulitnya pecah dan cairan serta lemak di dalamnya terdengar meletus karena panas.
|Flambe: teknik memasak di mana alkohol ditambahkan ke dalam wajan panas dan disulut hingga menghasilkan kobaran api sesaat.
| Brendi: jenis minuman beralkohol hasil distilasi dari fermentasi sari anggur atau buah lain.
Tentu saja, ini tidak cukup untuk membunuh salah satu dari Sebelas Pejabat Pengadilan.
Para penegak hukum harus tetap netral setiap saat. Menyerah pada ancaman atau kekerasan internal maupun eksternal dan mengubah putusan sama sekali tidak mungkin. Oleh karena itu, mereka telah dijauhkan dari kematian. Bisa dikatakan bahwa Sebelas Petugas Pengadilan adalah mereka yang aspek kemanusiaannya dihilangkan agar mereka dapat "dengan adil" menjaga ketertiban di negara mereka dan seluruh dunia dari sudut pandang sihir, dan agar mereka dapat mempertahankan fokus murni pada pekerjaan mereka. Hanya dengan membakar 50% dari berat badan mereka tidak akan membunuh mereka. Tapi itu masih cukup untuk membuat para ahli sihir itu terdiam.
“Apa itu barusan?”
Saat Tsumoru Judicial berbicara, suaranya bergetar karena takut.
Dan ini adalah orang brengsek yang sama yang tidak ragu sedikit pun saat menjatuhkan vonis mati kepada seseorang.
“Apa yang sebenarnya kau lakukan?”
“Aku menggunakan salah satu metode yang mengisi celah antara tujuan dan hasil yang kuinginkan.”
“Permainan kata-kata konyol akan dianggap sebagai kesaksian palsu yang busuk. Jawab aku, apa yang baru saja kau lakukan?!”
Pertanyaan bodoh itu sebenarnya sudah mengandung satu jawaban.
Mereka tidak mengerti. Mereka tidak bisa memahaminya.
Hamazura Shiage adalah seorang amatir di antara para amatir, tapi tak satu pun dari sebelas ahli sihir itu yang bisa mengatakan apa yang telah Hamazura lakukan.
Bahkan Sebelas Petugas Pengadilan yang bersembunyi di kedalaman Gereja Anglikan pun tidak dapat mengungkap logika dari apa yang sedang terjadi! Apa itu? Mengumpulkan sedikit energi sihir di tangannya tidak mungkin aktif secara kebetulan. Sihir adalah bidang studi yang ketat. Sihir beroperasi berdasarkan logika rumit yang diatur oleh rumus, hukum, dan definisi! Jadi seorang anak lelaki yang tidak berpendidikan tidak mungkin bisa begitu saja menggunakannya!! Tapi Hamazura telah mengambil mantra khusus dari suatu tempat tanpa grimoire atau penyihir yang membimbingnya? Dan Menara London memiliki spesialisasi kelas dunia untuk memenjarakan para penyihir, jadi bagaimana ceritanya mantra yang tidak sah ini bisa aktif tanpa mengurangi efeknya sedikit pun? Mereka yakin bahwa bahkan mantra Iblis Agung Coronzon pun tidak mungkin bisa melakukannya!!!
“Heh…”
Sementara itu, Hamazura hanya memiliki satu tanggapan.
Hamazura tidak memiliki ventilator, AED, dan epinefrina. Jadi mengapa mereka tidak menyadari ada sesuatu yang tidak beres sejak Narthex bisa dengan mudah sadar kembali di pelukannya setelah fungsi vitalnya berhenti karena digantung? Apakah mereka tidak penasaran bagaimana cara Hamazura menghancurkan jeruji besi itu?
Tentu saja, Sebelas Petugas Pengadilan bukanlah satu-satunya masalah. Mengalahkan mereka saja tidak cukup untuk menyelamatkan Narthex. Ada sakit kepala yang terus menghantui Narthex, yaitu otak keduanya, serta makhluk-makhluk kecil seperti telur ikan yang merusak dunia, yaitu Sitra Achra Coronzon. Sumber kejahatan. Begitu mereka mengetahui Narthex berada dalam keadaan seperti ini, Gereja Anglikan secara keseluruhan dan Necessarius tidak akan mengabaikannya begitu saja. Dan mungkin ada ancaman lain di luar Inggris yang menginginkan Narthex yang sedang melemah. Mereka berdua sendirian, tapi masalah terus muncul dari sudut pandang baru.
Hamazura tidak bisa menyelesaikan semuanya sekaligus.
Meski begitu, menyerah bukanlah pilihan.
Orang-orang yang benar-benar membutuhkan bantuan tidak selalu bisa memintanya dengan mudah. Hamazura tahu itu dengan sangat baik. Jadi dia tidak akan pernah meninggalkan Narthex. Tidak lagi penting apakah gadis di pelukannya memintanya atau tidak. Hamazura tidak ingin menyesali tindakannya. Dia sudah muak dengan gagasan kebaikan dan keadilan, menyerahkan situasi kepada orang lain dan dengan bodohnya meratapi hilangnya nyawa manusia.
Memangnya kenapa kalau dia jahat?
Memangnya kenapa kalau dia berkuasa?
Memangnya kenapa kalau dia istimewa?
Pendapat orang lain tidaklah penting. Menyelamatkannya atau tidak, dia sendiri yang menentukan.
Dia akan mempertaruhkan nyawanya dan membuat pilihannya sendiri.
…Tidak apa-apa jika dia lemah. Dia tidak akan lagi menginginkan kekuatan khusus yang tidak akan pernah bisa dia miliki. Tapi bukan berarti dia harus membiarkan kekurangan itu menghancurkannya. Biarkan dia memulainya sebagai orang tak berbakat yang memandang ke atas dengan penuh kerinduan. Dia akan membangun jalannya dari bawah, selangkah demi selangkah. Hingga akhirnya surga berada dalam jangkauannya.
Dia adalah seorang penyihir.
Dia akan mengikuti kehendaknya sendiri dan menjalani hidup yang tidak akan dia sesali.
Jadi Hamazura Shiage telah memutuskan.
Jika ada banyak masalah kusut di sekitar Narthex, maka dia hanya perlu mengurai kekusutan tersebut satu per satu. Mudah. Itu sebabnya dia mengangkat kembali kepalanya dan menatap lurus ke depan. Ke arah Sebelas Petugas Pengadilan yang berdiri di koridor penjara, menghalangi jalan menuju pintu keluar dan kebebasannya.
Dia akan menangani masalah yang paling mudah terlebih dahulu.
Dengan tatapan mata seperti itu, dia pun menjawab.
“Menurut kalian apa yang telah kulakukan?”
Hamazura yang tak berbakat telah mewujudkan salah satu keinginannya.
Dia akan mengungkapkan pendapatnya secara jujur.
Itu adalah sebuah deklarasi perang dari sang penyihir.
Sekarang.
Dengarkan baik-baik, kalian sebelas orang yang menyalahgunakan keadilan untuk kepentingan pribadi dan secara tidak adil memvonis mati seseorang.
Kalian hanyalah rintangan bobrok dan tak berarti yang menyiksa orang lemah dan tak berbakat hingga berujung kematian.
Nah, sekarang giliran kalian yang tidak mengerti apa-apa.
***
Takitsubo Rikou terbaring di tempat yang sangat gelap, tempat yang belum pernah tercatat sebelumnya.
Dia mengerang pelan dan perlahan membuka matanya.
Gadis berbaju olahraga itu berbicara tanpa perlu duduk tegak.
“…Hamazura?”
Sesuatu menekan dirinya seperti gelombang yang menerjang.
Sebuah sinyal bahaya yang hanya dia yang bisa mengenalinya.