Tujuan Diperbarui
Assult_Escape.
Sekujur tubuhnya terasa sakit.
Penderitaan itu menyelimutinya, hingga rasanya bukan sekedar patah tulang, melainkan seolah seluruh sendi di tubuhnya tidak terpasang dengan benar.
Tapi, Kamijou Touma tidak boleh pingsan.
Kondisinya jauh lebih baik daripada Hamazura Shiage dan Takitsubo Rikou yang terbaring tak bergerak di atas salju merah. Lebih dari itu, sebuah keajaiban telah terjadi di depan matanya, mata Index, dan mata Misaka Mikoto.
Iblis Agung Coronzon telah berhenti bergerak.
Benar-benar terhenti.
Momen itu hanya berlangsung beberapa detik. Bahkan belum bisa dipastikan apakah benar Aleister telah merespon panggilan Kamijou atau tidak.
“Aku menolak pemujaan terhadap malaikat dan aku tak tergoyahkan oleh godaan iblis. Hancurkan nama jahat yang terdiri dari 9 huruf berawalan huruf C itu, Hancurkanlah warnanya, nilai numeriknya serta esensinya!!”
Tanpa memakai alat apapun.
Tanpa lingkaran sihir ataupun tongkat-tongkat aneh.
Gerakan dan kata-kata saja sudah cukup untuk memberikan efek.
Tapi, Index seharusnya tidak bisa memurnikan energi kehidupannya menjadi energi sihir. Lalu bagaimana kata-katanya bisa mengaktifkan sihir ini?
Karena ada seseorang yang membantunya.
Kata-kata Index, dengan kucing belacu di pelukannya, bergabung dengan sihir Aleister.
Index membiarkan Aleister mengambil kendali.
Untuk membangun mantra khusus melawan Coronzon.
Ini berbeda dengan dirinya yang beraksi bersama Kamijou Touma atau menyerahkan apa yang telah dia bangun kepada Accelerator.
Sebagai Penyihir Crowley dan sebagai Ketua Dewan Aleister, ini pertama kalinya dia mewariskan pengetahuannya kepada orang lain dengan begitu mudah.
Tapi Aleister telah melakukannya.
“Ghak, hah!!”
Iblis Agung Coronzon benar-benar membungkuk kesakitan.
Dengan tangan memegangi samping kepala.
Ini adalah sesuatu yang baru. Coronzon jelas kesakitan. Serangannya tidak terlihat, tapi sesuatu telah mendarat dengan telak.
“Apa kau sudah memikirkan ini matang-matang, Aleister? Tubuh tempat kau dilahirkan sudah dikubur. Tubuh itu membusuk saat kita bicara! Tubuhku adalah satu-satunya cara yang tersisa bagimu untuk menyelamatkan dirimu sendiri... Manusia bodoh, apa kau pikir mereka semua akan menerimamu jika kau menghancurkan dirimu sendiri? Ingatlah, menurut Gereja Kristen, yang begitu kau benci namun tak pernah bisa kau tinggalkan sepenuhnya, tentang bunuh diri?!”
Kamijou gemetar.
Seharusnya sudah jelas.
Coronzon dan Aleister berbagi tubuh yang sama.
Menciptakan celah untuk mengalahkan Coronzon akan membuka konsekuensi lain.
“Jangan bercanda. Tunggu! Aleister, memang benar aku meminta bantuanmu. Tapi caranya bukan begini! Aku tidak bertarung supaya aku bisa memukulmu!!”
“Abaikan aku…”
Sebuah suara menjawabnya.
Suara yang jelas bukan milik Coronzon.
“Aku lelah menjalani keabadian yang penuh kesalahan tak berujung. Sekali ini saja, aku mau melakukan hal yang benar. Aku ingin menebus dosa. Jika aku mau menyebut diriku manusia, aku ingin bertindak layaknya manusia. Aku ingin menapaki jalan terang yang sama sepertimu.”
“Bukan begini caranya. Apa kau pikir kau bisa menebus semua yang telah kau lakukan dengan satu perbuatan baik? Arogan sekali!”
Tapi, ada seseorang yang bisa memanfaatkan detik-detik yang singkat itu.
Esper Level 5 peringkat 3 Academy City.
Misaka Mikoto.
“Maaf... tapi rasanya tidak baik jika kita menyia-nyiakan kesempatan ini.”
Dengan suara “bzzzt!!!”, sambaran listrik tebal meledak dari poni Mikoto.
Tidak berhenti di situ. Tanah tampak membengkak dan kemudian beberapa cambuk hitam dari pasir besi melesat keluar.
Coronzon melompat mundur untuk mencoba menghindar, tapi sesuatu yang besar dan berat jatuh ke arahnya.
Itu adalah tangki air dari puncak gedung pencakar langit.
Benda logam itu menghantam punggung Coronzon dengan suara padat.
Mikoto menjentikkan koin arkade ke atas dengan ibu jarinya.
Mikoto menangkapnya, mengulurkan tangan kanannya lurus ke depan, dan melepaskan serangan kekuatan penuh. Tanpa ragu sedikit pun.
Railgun pun diluncurkan.
Udara terkompresi.
Indra pendengaran benar-benar lenyap selama beberapa detik.
Serangan itu begitu kuat.
Tapi musuh masih belum tumbang.
Musuh masih bergerak.
Wanita dengan rambut pirang yang sangat-sangat panjang itu merentangkan tangannya lebar-lebar.
“Ah ha AH HA HA!! Kalian manusia adalah lambang ketidakberdayaan, Kamijou Touma. Dari semua orang, mengapa kau berdoa untuk keselamatan Aleister, yang setiap usahanya gagal dan menjadi bumerang baginya?! Garis hidup dunia telah dikaitkan pada dahan pohon yang paling tidak bisa diandalkan!! Sesalilah pilihanmu saat dunia di sekitarmu runtuh!!!”
Jelas ini suara Iblis Agung Coronzon. Bukan Aleister si Manusia.
Aleister telah takluk.
Coronzon tetap memegang kendali. Pada akhirnya, Index, Mikoto, dan semua orang yang datang terburu-buru karena mengkhawatirkan Kamijou akan terhempas oleh serangan sihir yang dahsyat.
Itu adalah...
Itu adalah satu hal yang tidak bisa Kamijou...
Suara patahan yang mengganggu terdengar dari dalam diri Kamijou. Meski begitu, bocah itu mencengkeram tanah salju merah dengan kuat menggunakan tangan kanannya, mengertakkan gigi, dan mencoba bangkit.
Saat itulah muncul suara lain yang memotong.
Suara wanita yang lembut.
"Target: Aleister Crowley – Assist."
Udara membeku.
krak, krak, krak, krak, Suara menegang yang mengganggu pun menyebar. Meskipun telah menghancurkan perlawanan yang sia-sia dan mendapatkan kembali kendali, Coronzon sedang didesak mundur.
Ke tepi. Ke sudut.
Aleister tidak mungkin melakukan ini sendirian. Dia telah menerima bantuan eksternal yang tidak normal. Dari sebutir air mata.
Sosok yang sempoyongan itu adalah Dewa Sihir berkulit gelap dan berambut perak.
“Nephthys?!”
“Hee hee. Dewa Sihir rela mati demi naik derajat, jadi jika kau ingin membunuh kami, kau harus menghancurkannya dengan lebih cermat, dasar iblis kotor.”
Bagaimanapun caranya, memperkuat pikiran Aleister memang efektif.
Tapi Dewa Sihir yang melemah itu tidak akan menampakkan diri secara langsung jika sihirnya bisa digunakan dari jarak jauh.
Itu berarti sihir tersebut bisa ditangani dengan membuat jarak.
Sesuatu memukul udara dengan keras.
Coronzon tidak berusaha menyembunyikannya. Dia telah memamerkan sayap tipis yang seperti sayap kelelawar sejak awal.
Sebelumnya, dia menggunakannya untuk terbang langsung dari Academy City ke Inggris.
Apakah dia mau melarikan diri?
Dia bisa melakukannya dengan mudah, mencapai titik mana pun di bumi hampir dalam sekejap.
Dan dia bisa mengubah dunia menjadi abu dari mana saja. Adikalika bukan satu-satunya kartu as-nya.
Tatapan matanya mengatakan bahwa dia tidak akan berhenti pada satu planet remeh saja, dia akan terus melakukannya sampai seluruh alam semesta hancur.
Sekuat apa pun mereka berjuang, kemenangan tetaplah kemenangan.
Situasinya tidak tergoyahkan.
Tapi pipi Coronzon yang percaya diri tiba-tiba menegang.
“Kuharap kau belum lupa betapa sakitnya Xian Pao-Pei-ku!!!”
“Kurang ajar kau, Dewa Sihir Niang-Nianggggggggggggg!!”
Hanya butuh satu serangan.
Sayap kanannya tercabik-cabik seolah disayat oleh sekumpulan cakar binatang raksasa yang tak terlihat.
Ini tidak sama dengan situasi yang dibalikkan dengan cara yang tak terduga.
Kemenangan Coronzon yang seharusnya sempurna telah dihancurkan secara tidak wajar.
Sebuah risiko yang seharusnya bisa dia prediksi telah luput dari pikirannya karena suatu alasan.
“~ ~ ~”
(Belum. Ini belum cukup untuk disebut kemenangan atau kekalahan. Ini tidak lebih dari gangguan Aleister. Jangan terlalu memikirkannya. Tangan Tuhan belum menggenggam lengan bajuku!!)
Dalam sepersekian detik, Coronzon melakukan perhitungan yang masif di kepalanya. Serangan apa yang akan memungkinkannya bertahan dan paling mengacaukan semua yang terbentang di hadapannya? Itu pertanyaan mudah. Dia sudah tahu jawabannya. Itu sebabnya dia menjadi sangat percaya diri.
Untuk sesaat.
Hanya untuk sesaat, sesuatu selain kepentingannya sendiri terlintas di benak Coronzon. Sosok yang tergeletak pingsan di atas salju merah di sudut penglihatannya.
Hamazura Shiage.
“Kh.”
Tapi Coronzon menepisnya. Karena kata-katanya sendiri.
Apakah Hamazura sudah salah bertaruh pada dirinya? Apakah dirinya tidak lebih dari penjahat picik?
Sudah waktunya untuk menjawab.
Menjawab bocah yang mengatakan bahwa dirinya berada di pihak yang baik dan benar.
Kamijou Touma meraung.
“Sialan, bertahanlah, Aleister... Serahkan iblis ini padaku. Aku akan mengakhirinya malam ini juga!!”
“Kee kee kah kah kah!! Sebagai ucapan perpisahan kepada sang perwujudan kejahatan, Aku beri kau nilai 100, bocah!”
Coronzon mengepalkan tangannya lalu membukanya kembali.
Sesuatu seperti batu transparan muncul. Tapi itu jelas bukan batu biasa.
Coronzon menjentiknya dengan jari. Benda itu pun jatuh tanpa suara ke salju merah.
Bibir Coronzon menggeliat memikat.
“Sitra Achra.”
Bulan terlihat di atas kepala.
Yang berarti awan tebal yang menumpahkan semua salju merah itu telah terhempas dalam sekejap.
Penyebabnya adalah pilar cahaya.
Jatuh dari surga ke bumi.
Sebuah sinar sorot.
Dan ledakan yang menggelegar.
Kamijou bahkan tidak punya waktu untuk mengangkat tangan kanannya.
Kamijou kira dia sudah mati. Dia benar-benar berpikir begitu.
Dia cukup yakin dia sudah pingsan selama beberapa detik.
“...ma…”
Ya.
Selama beberapa detik.
“Touma!! Kau tidak boleh tidur sekarang!! Ini belum berakhir!!”
Suara keras yang menabrak pikirannya menyeretnya kembali ke kenyataan.
Apa yang telah terjadi?
Kamijou benar-benar bingung, tapi Mikoto yang mengenakan pakaian berkabung tidak melihat ke arahnya.
Tatapannya diarahkan ke tempat lain, jauh di kejauhan.
Mikoto menjentikkan koin arkade dengan ibu jarinya sambil menggerutu kesal.
“Dia benar-benar cermat. Saat melarikan diri pun dia memakai kekuatan penuhnya?”
(Melarikan diri?)
Sang Iblis Agung Coronzon itu melarikan diri?
Tapi iblis berambut pirang itu memang tidak terlihat di mana pun.
Satu-satunya tanda keberadaannya adalah jejak-jejak di salju merah yang lebih terlihat seperti sisa-sisa ledakan kecil.
Nephthys dan Niang-Niang juga ikut menghilang, jadi apakah mereka mengejarnya?
Sitra atau apalah itu, serangan itu tampak seperti sorotan yang digunakan untuk menandai posisi untuk melancarkan serangan kuat, mirip seperti menandai lokasi di GPS.
(Tidak.)
Itu bukan serangan.
Itu adalah tabir asap.
Apakah dia mencoba melarikan diri?
Kamijou Touma hampir tidak bisa mempercayainya.
Ini di luar dugaan.
Sang Iblis agung — Coronzon yang sama yang telah bersikap angkuh terhadap mereka — telah melarikan diri dengan berjalan kaki?
Akhirnya Kamijou menyadari situasinya. Darahnya mulai terpompa.
Kamijou tidak bisa berpikir optimis.
Coronzon yang melarikan diri bukanlah masalah. Tapi jika Coronzon berhasil lolos malam ini, Coronzon bisa mengalahkan seluruh dunia!!
“Accelerator!!” teriak Kamijou, berfokus pada earphone nirkabel yang dia kenakan... tapi tidak ada jawaban.
Apakah Accelerator masih tumbang setelah menerima serangan sihir dari Coronzon?
Tanpa bantuan Ketua Dewan Kota yang baru, mereka akan kehilangan akses data digital dari kamera keamanan Academy City, robot keamanan, dan sebagainya.
Niang-Niang telah menghilangkan kemampuan Coronzon untuk terbang ke belahan bumi selatan, menahannya di tanah... tapi bisakah mereka benar-benar mengejarnya?
Ketika Coronzon melakukan segala upaya untuk melarikan diri?!
Mikoto yang mengenakan pakaian berkabung pun mulai berbicara menahan rasa tidak sabarnya.
“Ini belum berakhir. Aku bisa meretas kamera keamanan sampai batas tertentu.”
“Mengendalikan satu atau dua kamera saja tidak cukup. Kita harus bisa mencakup seluruh kota,” kata gadis lain, bangkit dari tanah.
Takitsubo Rikou menyelanya dengan Intonasi datar, Mikoto pun terkejut dan gemetar.
Apakah Mikoto... merasa sedikit takut?
Takitsubo sepertinya tidak mempermasalahkannya. Mata tanpa emosinya diarahkan pada Kamijou.
Mereka tidak siap.
Jadi bukankah "membuat persiapan" harusnya menjadi langkah pertama mereka?
Itu mungkin satu pendapat yang valid. Tentu saja itu tidak salah.
Tapi...
“Aku… tidak mau memulai lagi dari awal,” kata Kamijou.
Meskipun terluka parah hingga merupakan keajaiban dia masih bisa berdiri, Kamijou tetap mengertakkan gigi dan mengeluarkan kata-kata itu.
“Aku tidak mau lagi lari untuk menenangkan diri, menunggu sekutu dan perlengkapan, menyusun strategi baru, dan berdiam diri sampai kita siap.”
Kamijou menatap ke depan.
Dengan tatapan menantang.
“Aku akan menuntaskan masalah dengan Iblis Agung Coronzon malam ini juga! Aku bersumpah!!”
Bom Waktu yang Melarikan Diri
DEVIL_in_Science_World.
Bagian 1
Pada tengah malam.
Dunia seharusnya runtuh menuju kehancuran saat ini, tapi Academy City tetap utuh.
Namun itu tidak akan bertahan jika Iblis Agung Coronzon dibiarkan lolos.
Maka waktu lembur yang mereka peroleh hanya akan menunda kiamat itu sampai besok.
Salju merah memang telah menyerap jelaga ledakan, debu, dan kotoran lain yang dihasilkan oleh situasi seperti perang, tapi itu telah berhenti.
“Sitra Achra... Aku tahu teorinya, tapi tidak pernah terbayang aku akan melihatnya,” kata Index dengan linglung.
Othinus muncul dari tudung putih dan pindah ke bahu Kamijou.
Bukankah itu benda yang digunakan Coronzon untuk menghempaskan awan tebal di langit?
Satu-satunya yang tampak mengantuk di sini adalah kucing belacu di pelukan Index.
“Ini tetap tidak bagus,” bisik Mikoto yang mengenakan pakaian berkabung, suaranya rendah. “Langit malam yang cerah hanya akan membuat suhu turun berkat pendinginan radiatif. Salju merah memang sudah terhenti, tapi salju masih menumpuk di tanah dan membuat lalu lintas kacau. Dengan kata lain, kemungkinan orang meninggal di kota ini menjadi semakin besar.”
Membajak salju, mendistribusikan makanan, mendistribusikan pakaian hangat, ada banyak hal yang harus dilakukan. Tapi Coronzon adalah ancaman terbesar dan, sampai dia teratasi, semua orang harus fokus padanya. Mereka tidak mampu mencurahkan tenaga yang cukup untuk tugas-tugas lain tersebut.
Mereka harus mengakhiri ini sebelum ada seseorang yang mati. ...Dan Kamijou juga mengkhawatirkan Manusia Aleister, yang tetap berada di dalam Iblis Agung itu.
“Sensei!”
“Dungu, jelaskan situasinya.”
Beberapa orang muncul mendekat sambil berlari. Alice Anotherbible, Anna Sprengel, dan beberapa yang lainnya. Coronzon telah menyebutkan beberapa teknik ruang yang mencegah mereka mendekati tempat ini... pasti teknik itu telah berhenti berfungsi setelah dia memilih untuk melarikan diri.
Kamijou bermaksud memberikan penjelasan singkat, tapi Index dan Mikoto ikut bergabung dalam percakapan.
Bahkan Othinus menarik telinga Kamijou dari bahunya. Ternyata ada banyak orang yang ingin mengajukan pertanyaan.
Kamijou mendongak untuk melihat duo akrab yang sedang terbang(?) yaitu Bologna Succubus dan Blodeuwedd the Bouquet. Istilah "dukungan udara" terdengar sangat bisa diandalkan saat ini.
Kamijou juga melihat gadis bersayap lainnya. Itu adalah iblis buatan Qliphah Puzzle 545.
“Ba-bagaimana dengan tuanku? Apa Ketua Dewan sudah sadar?”
“Sial, kurasa kita tidak bisa mengharapkan dukungan darinya. Kita harus melakukannya tanpa dia.”
“~ ~ ~!!!”
Dengan kepakan yang bising, Qliphah Puzzle 545 dengan cepat terbang.
“Mau pergi ke mana dia?” tanya Alice Anotherbible, memiringkan kepalanya ke arah langit malam.
Qliphah Puzzle 545 mungkin sedang dalam perjalanan ke markas Accelerator. Kamijou tidak menghentikannya. Dia tidak tahu apa yang iblis buatan itu mau lakukan, tapi jika Accelerator tidak sadarkan diri, dia akan butuh dukungan seseorang.
Suara keras terdengar dari tempat lain.
Suara itu datang dari Kanzaki Kaori.
Pihak Anglikan pasti memiliki puluhan ribu orang di Academy City.
“Kita harus menyiapkan jaringan pengawasan yang berpusat di Distrik 7. Dengan sayapnya yang rusak, perjalanan Coronzon akan terbatas pada jalan kaki. Jika kalian melihatnya, jangan mencoba melawannya sendirian. Pastikan untuk membagikan informasi yang kalian terima dengan mata dan telinga kalian sendiri. Kehilangan informasi hanya akan memberi dia kesempatan untuk melarikan diri!”
Kanzaki adalah salah satu dari kurang dari dua puluh Saint di dunia.
Kamijou pernah mendengar kalau dia bisa berlari dengan kecepatan supersonik jika dia mau, tapi saat ini dia menyamai kecepatannya ke kecepatan Kamijou dan yang lainnya.
“Aku tidak bisa memaksakan tubuhku terlalu keras.” Terlihat tenang, Kanzaki menjawab tatapan Kamijou. “Tentu saja aku akan menghilangkan batasan itu begitu Coronzon terlihat, tapi aku tidak ingin menerobos hambatan suara tanpa petunjuk yang kuat. Karena percuma saja jika aku tidak bisa melawannya saat aku benar-benar berdiri di depannya.”
Kamijou ragu itu satu-satunya alasannya.
Pada akhirnya, Kanzaki takut. Mereka berhadapan dengan Iblis Agung Coronzon. Bagaimana jika dia bergerak maju, meninggalkan sekutunya di belakang, dan Coronzon menyelinap dari belakang? Maka sekutu yang dia tinggalkan dalam keamanan akan dibunuh satu per satu. Dia paling takut pada situasi seperti itu di mana hanya dia dan keberuntungan Saint-nya yang berhasil bertahan hidup.
Salju merah yang menjadi pijakan berderak.
Semakin banyak pengejar dari sisi sihir yang berdatangan: Tatemiya Saiji dan Itsuwa dari Amakusa, Agnese dan Lucia dari Eks Katolik, dan pasukan standar Anglikan.
Mereka membutuhkan bantuan sebanyak mungkin. Academy City mencakup sekitar sepertiga dari Tokyo dan berisi 2,3 juta jiwa. Mereka harus menemukan dan menangkap satu individu yang mencoba melarikan diri di kota tersebut.
Kamijou tidak tahu apakah mereka benar-benar bisa melakukannya, tapi dunia akan hancur jika mereka gagal malam ini.
Sekujur tubuhnya terasa sakit. Dia bahkan merasa ada yang salah dengan sendi-sendi di antara tulang-tulangnya.
Tapi dia mengertakkan gigi dan berbicara seolah mengarahkan tantangan kepada Kanzaki, yang telah mengambil alih komando.
“Aku juga ikut. Akulah yang melawan Coronzon dan membiarkannya lolos. Aku bertanggung jawab, jadi gunakanlah aku untuk apa pun yang kau butuhkan”
“Tapi…”
“Aleister menjawab panggilanku. Dia pasti masih bertarung melawan Coronzon, jadi aku tidak bisa begitu saja berbaring di ranjang rumah sakit!”
Kanzaki Kaori menghela napas pelan. Dia memalingkan muka dari Kamijou dan melihat ke arah Index dan Mikoto.
“Selalu andalkan setidaknya dua orang bersamamu. Aku tidak mengizinkanmu bertindak sendirian.”
“Maaf aku banyak merepotkan! Terima—”
“Jangan besar kepala. Sejujurnya aku pikir akan jauh lebih mudah kalau kau kubuat pingsan dengan pukulan ke perut, tapi itu terlalu kejam karena lukamu terlalu parah. Aku tidak ingin kelepasan dan malah membuatmu terbunuh.”
...Bagaimana Kamijou harus bereaksi?
Kanzaki Kaori melanjutkan dengan sangat serius.
“Kau dalam kondisi yang buruk. Jika kau menolak membiarkan orang lain mendukungmu, aku benar-benar akan membuatmu pingsan. Jadi pilihlah opsi mana pun yang kau anggap lebih aman.”
Kanzaki bisa membuat keputusan cepat seperti itu kemungkinan karena begirtu mendesaknya situasi ini.
“Dungu,” kata Anna Sprengel. “Sekarang ini pun Coronzon tengah melarikan diri dari Academy City.”
“Ya,” setuju Index. “Kita harus menghentikannya sebelum dia melintasi tembok kota dan terlepas ke dunia yang lebih luas.”
Kamijou mengangguk pada mereka berdua.
Kanzaki bereaksi dengan jengkel.
“Kau ini benar-benar tidak berubah, ya? Entah aku harus menyebutmu nekat atau apa.”
“Maaf, tapi aku tidak akan mati semudah itu. Aku bersumpah tidak akan menyia-nyiakan nyawa yang diberikan kepadaku di neraka.”
Entah kenapa, kesungguhan jawaban ini membuat Kanzaki tersentak. Tapi apa yang membuat seorang anak SMA biasa bisa menakuti Saint hebat sepertinya?
“Heiii!” seru seseorang dari atas.
Bologna Succubus berputar perlahan di langit malam untuk menurunkan ketinggiannya. Bersama Blodeuwedd the Bouquet yang bergelantungan. Gadis itu hanya mengenakan celemek di balik zirah logam tebal dan membuat sudut rendah itu menjadi sangat riskan.
“Masih belum ada petunjuk untuk melacak Coronzon? Kalau begitu kami akan terbang kembali dan melanjutkan pencarian kami.”
“Tu-tunggu. Kupikir penyihir tidak seharusnya terbang! Bukankah ada aturan aneh yang bilang kalau terbang memang mudah, tapi mudah juga dijatuhkan?!”
“Kami bisa bertahan bahkan jika kami dijatuhkan, jadi jangan khawatir. Faktanya, dijatuhkan akan memberi tahu kami bahwa Coronzon ada di dekat sana, jadi itu sebenarnya kabar bagus.”
Setelah mengatakan itu, Bologna Succubus mengayunkan Blodeuwedd the Bouquet dengan satu tangan dan naik kembali ke langit malam. Tapi masih ada suara yang terdengar dari tangan Kanzaki. ...Jadi apakah Kanzaki memegang semacam spiritual item khusus komunikasi?
“Sebagai pecinta orang yang tak dicintai, sejujurnya aku juga tertarik pada Coronzon.”
Rahang Kamijou ternganga.
(Tunggu, tunggu, jangan bilang pertanda abnormal telah terpicu dalam diri Blodeuwedd the Bouquet!)
Tapi Kamijou takut pertanyaan cerobohnya akan mendorong Blodeuwedd ke arah yang salah.
Suara suram Bologna Succubus merespons. Terdengar seperti dia sudah terbiasa dengan keadaan begitu.
“Begitu kau memihaknya, aku jadi punya pembenaran. Akhirnya aku bisa membunuhmu dan memuaskan kebencianku selama bertahun-tahun, dasar dewi cabul.”
“(Ini buruk, manusia. Bagi para Transenden, syarat keselamatan mereka bahkan lebih penting daripada nyawa mereka sendiri.)”
Othinus benar. Komentar Blodeuwedd the Bouquet tentu mengkhawatirkan, tapi...
“Sayang sekali. Yang kucari adalah seseorang yang haus akan cinta. Ketika seseorang diberi cinta yang melimpah tapi dia malah menepisnya dan menganggapnya sebagai gangguan yang tidak diminta, itu hanya membuatku kesal.”
“Kurasa untuk saat ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan, mungkin?”
Ucapan Index tidak terdengar meyakinkan. Jadi tak bisa jadi patokan.
Para Transenden benar-benar sulit dihadapi.
Lagian, kenapa pakai celemek sambil telanjang segala? Meskipun Blodeuwedd the Bouquet sendiri tampaknya tidak terganggu.
“Kalian berdua memang teman bai— dwah?!”
Kamijou bahkan tidak sempat menyelesaikan komentarnya sebelum sesuatu jatuh dari langit.
Jika Kamijou tidak sadar dan buru-buru menghindar, terarium kaca yang lebih berat dari pot bunga akan menghantam tepat di kepalanya.
Othinus, yang hampir menjadi korban tambahan di bahunya, menatap ke langit dan mengatakan sesuatu.
“Itu lelucon mematikan yang sama yang dilakukan oleh gagak kota kasar yang ada di atap gedung.”
Suara sesuatu yang memukul udara menginterupsi mereka.
Apakah cahaya menyilaukan itu adalah lampu sorot atau semacamnya?
“Ini Yomikawa dari Anti-Skill! Kami hanya bisa melakukan pencarian manual dengan helikopter, kami tidak bisa mengharapkan bantuan dari drone atau satelit saat ini!! Di mana kami harus mulai mencari?!”
“Dungu. Sepertinya pencarian bisa berlanjut bahkan jika para penyihir konyol itu dijatuhkan oleh sihir intersep.”
Dan...
“Tunggu,” kata sebuah suara. Suara wanita yang datar. “Aku juga ikut.”
Itu si gadis baju olahraga. Kalau tidak salah namanya Takitsubo Rikou.
Nadanya datar, tapi suara napasnya menunjukkan ada yang tidak beres.
“Kau sedang terluka, kan.”
Kihara Noukan si anjing golden retriever hanya mengatakan itu. ...Apakah anjing itu bersikap perhatian untuk tidak menggali terlalu dalam bahkan ketika dia mengetahui sesuatu secara spesifik?
Sulit untuk mengatakannya karena Takitsubo jarang menunjukkan ekspresi, tapi dia tampak cukup kesakitan.
Jika melihat apa yang ada di balik pakaiannya, mungkin mereka akan terkejut.
Takitsubo telah menemui Iblis Agung Coronzon sebelum Kamijou tiba.
Karena dia pingsan, dia kemungkinan besar telah diserang dengan cara tertentu.
Mata Kamijou membelalak.
“Apa kau bercanda? Kau terlihat lebih dekat dengan kematian daripada aku. Asal kau tahu, kelompok Anglikan saja punya puluhan ribu orang yang bekerja di luar, jadi tidak masalah jika satu atau dua orang yang terluka absen kali ini. Kami tidak bisa membawamu dalam kondisi seperti itu!!”
“Hamazura.”
Mata gadis baju olahraga itu tertuju pada anak lelaki lain yang terbaring tak bergerak di salju merah.
Hamazura Shiage.
...Kamijou tidak bisa mengingat dengan jelas karena dia hampir mati, tapi dia cukup yakin orang itu telah memihak Coronzon sesaat sebelum sihir serangan skala besar Adikalika diaktifkan.
Hamazura Shiage telah mengkhianati mereka.
Dan sekarang Adikalika telah gagal dan Coronzon telah melarikan diri sendirian.
Tertinggal, posisi Hamazura terlihat semakin buruk setiap saat.
“Hamazura akan berada dalam masalah. Aku tidak tahu sistem aturan apa yang akan menghukumnya, tapi aku perlu menciptakan semacam alat tawar-menawar sebelum hukumannya dijatuhkan. Jadi aku akan melakukan apa pun untuk melindunginya.”
Kamijou menatap Index. Ini berkaitan dengan sihir, jadi apakah yurisdiksinya akan jatuh ke tangan Anglikan?
Kamijou tidak bisa mengatakan apakah "alat tawar-menawar" yang dipikirkan Takitsubo akan berarti bagi mereka.
Tapi itu pasti satu-satunya hal yang tersisa untuk dia andalkan.
“Apa yang bisa kau lakukan sekarang?” desak Mikoto dalam pakaian berkabung hitamnya.
Bukan rasa enggan yang dirasakan Mikoto. Apakah itu sedikit rasa takut?
“(Aku tahu dia di pihak kita sekarang, tapi kesan pertemuan pertamaku dengannya tetap terasa.)”
“AIM Stalker-ku tidak berguna pada seseorang tanpa Medan Difusi AIM. Jadi aku tidak bisa secara langsung mencari Coronzon.”
Tapi Takitsubo Rikou tidak ragu untuk menjawab.
Sambil menatap wajah Mikoto.
“Tapi aku juga punya riwayat mengumpulkan dan menganalisis informasi untuk ITEM. Aku terbiasa melacak dan memburu orang di kota ini.”
“Ya, kita bisa menggunakan pelacak dari sisi sains. Terutama disaat Ketua Dewan yang baru sedang tidak ada,” kata Othinus dari bahu Kamijou.
Apakah dia benar-benar bersungguh-sungguh atau hanya mencoba menenangkan pikiran Takitsubo yang terluka, Kamijou tidak tahu.
Kamijou melambaikan kedua tangannya untuk memanggil Kanzaki yang sedang memberikan instruksi kepada Tatemiya dan Agnese yang tidak berada jauh dari situ.
Di sebelahnya, Alice melompat-lompat dan melambaikan tangan bersama Kamijou.
Kanzaki menghela napas ketika mendengar apa yang Kamijou katakan.
“Kalau begitu, mari segera kita mulai.”
Kanzaki memberikan instruksi singkat.
Tentu saja, mereka tidak hanya mengandalkan Takitsubo. Para penyihir akan melakukan pencarian magis ala mereka sendiri.
Tapi mereka sedang mencari Iblis Agung Coronzon, yang bersembunyi di Abyss untuk menjaga pengetahuan sihir, jadi upaya itu kemungkinan akan diblokir di setiap kesempatan.
“Coronzon telah melarikan diri. Tapi, aku ragu dia akan terus berlari ke satu arah. Namamu Takitsubo, kan? Bagaimana kita bisa melacaknya?”
“Iblis(?) itu untungnya kehilangan fungsi sayapnya, jadi dia tidak bisa main curang dengan terbang. Dan jika dia melarikan diri di permukaan, dia akan meninggalkan jejak. Terutama di hari bersalju seperti ini.”
“Jika ada jejak yang jelas terlihat, Coronzon pun bisa tahu. Jadi tentu dia akan menutupinya, bukan?”
Poin bagus.
“Intinya, bergantung pada mana yang lebih unggul antara jejak yang tidak dapat terhapus atau jejak yang pasti akan terhapus,” kata anjing golden retriever itu dengan suara yang sangat halus.
Takitsubo Rikou melanjutkan dengan suara datar.
“Memang benar jejak kaki di salju bisa dengan mudah dihapus. Dia mungkin tidak meninggalkan sidik jari. Dan mengingat keadaan kota, kita tidak bisa berharap untuk mencari rekaman dirinya dari kamera keamanan atau robot keamanan.”
“Ugh,” erang Kamijou. “Lalu bagaimana kita bisa melacak Coronzon?!”
“Bagaimana kalau begini?”
Bagian 2
Distrik 3 Academy City adalah distrik paling utara. Area perkantoran yang lumpuh itu tidak memiliki lampu di jendela atau bahkan di rambu lalu lintas.
Dia berhasil menyingkirkan para Dewa Sihir yang menjijikkan itu, Nephthys dan Niang-Niang.
Jika dia bisa melintasi tembok di sini, dia bisa meninggalkan kota ke utara... dan masuk ke area Saitama.
Iblis Agung Coronzon berharap untuk menyelinap melewati dinding dengan tenang. Idealnya, pengejarnya tidak akan menyadari dia telah melarikan diri.
Sayapnya yang tidak berguna dilipat untuk saat ini.
Dia tidak mau mengingat penyesalan yang tidak perlu. Sihir serangan skala besar Adikalika telah dihentikan.
Dia menerima hasil itu. Itu sebabnya dia memutuskan untuk menghancurkan mereka dengan seluruh kekuatan.
Menurutnya, di antara mereka ada beberapa orang yang cukup menyusahkan.
Misalnya, Index, perpustakaan grimoire yang telah menghafal 103.001 grimoire. Atau Anna Sprengel, penyihir Rosicrucian yang keahliannya melebihi Mathers atau Crowley. Dan Alice Anotherbible, sosok abnormal yang terlalu sukses.
Nilai sebuah kartu as tidak hanya terletak pada fungsi aslinya.
Anggap saja seperti senjata nuklir.
Memamerkannya tanpa menggunakannya bisa membatasi tindakan musuh.
...Sebenarnya, kekhawatiran terbesar Coronzon adalah Alice. Dia tidak bisa menilai tingkat ancaman gadis itu secara akurat.
Dan tidak ada yang namanya tindakan pencegahan pasti terhadap sesuatu yang tidak diketahui.
Dia ingin melarikan diri secepat mungkin dan menghilangkan jejaknya.
Bahkan jika itu berarti meruntuhkan segala rintangan yang menghalanginya.
Dia benar-benar merasa seperti itu.
Tapi dia tidak melakukannya.
Setelah sampai sejauh ini.
“Ups,” katanya pelan, menekan punggung ke pohon pinggir jalan yang tebal.
Dia melihat beberapa sosok di jalan besar.
Pakaian aneh mereka membuat mereka tampak bukan bagian dari dunia ini dan mereka memegang berbagai spiritual item yang mengabaikan segala hukum tentang senjata dan juga akal sehat.
Itu adalah perlengkapan milik "pihak yang tak asing". Tidak salah lagi, mereka adalah para Penyihir Anglikan.
Apakah mereka mendahuluinya? Bagaimana bisa? Mungkinkah mereka menumbuhkan sayap dan terbang di atas kepalanya?
Tidak, mereka menggunakan metode yang normal.
(Mobil, ya. Kurasa aku bisa mencurinya nanti.)
Mereka pasti berasumsi kalau tidak akan ada kendaraan biasa yang keluar karena orang-orang diperintahkan untuk tetap di dalam. Mereka telah meninggalkan beberapa mobil van dan truk di tengah jalan tiga jalur.
Membunuh seratus atau bahkan seribu penyihir itu mudah.
Tapi aturannya telah berubah.
Sekarang dia mencoba melarikan diri tanpa ditemukan, kekuatannya sebagai Iblis Agung justru akan menghambatnya. Apa pun yang dia lakukan akan menjadi sihir yang mencolok dan kuat, jadi lebih baik tidak menggunakannya kalau tidak perlu.
Sekali lagi, hasil yang ideal adalah melarikan diri dengan tenang.
Itu juga sebabnya dia memilih "menyingkirkan" Nephthys dan Niang-Niang daripada langsung membunuh mereka dengan kekuatan brutal.
“Tapi ada yang aneh…”
Coronzon menyelinap dari pohon ke dinding gedung.
Coronzon berbisik pada dirinya sendiri saat dia mengamati situasi di jalan.
Pihak Kamijou Touma sangat tepat. Terlalu akurat. Mereka tahu tujuannya adalah melarikan diri ke luar Academy City, tapi mereka seharusnya tidak memiliki cara untuk mendeteksi rute apa yang akan Coronzon gunakan untuk melintasi tembok kota. Toh, tembok itu menglingkari kota. Jadi bagaimana bisa mereka tahu dia pergi ke utara untuk melarikan diri ke daerah Saitama dari Distrik 3?
(Bukan kamera keamanan, robot keamanan, dan bagian lain dari jaringan keamanan Academy City. Aku sudah menghabisi Ketua Dewan Accelerator. Dan para penyihir Anglikan telah menduduki sistem Academy City, tapi mereka tidak bisa mengoperasikan mainan sains dengan seakurat ini. Yang berarti...)
Awalnya, dia menyangka kalau ini adalah metode pencarian berbasis sihir.
Terutama ketika Alice Anotherbible dan Anna Sprengel serta kekuatan sihir luar biasa mereka ada di kota. Belum lagi Perpustakaan Grimoire Index dan Dewa Sihir Othinus yang bisa memberikan pengetahuan.
Tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya. Karena dia sampai pada kemungkinan yang lebih sederhana.
Mata Coronzon menunduk ke tangannya.
(Apa aku sendiri yang sudah memberi mereka petunjuk?)
“Aleister… sudah berapa lama kau mengendalikan tubuhku?!”
Bagian 3
Sesaat sebelumnya, Takitsubo Rikou memberikan sarannya di Distrik 7.
“Aroma.”
Kanzaki ragu.
Terpampang jelas di wajahnya bahwa dia tidak melihat bagaimana sesuatu yang begitu biasa bisa berhasil.
Gadis baju olahraga yang tanpa emosi itu pun melanjutkan.
“Dia mungkin bisa dengan mudah menghapus jejak kaki yang dia tinggalkan, tapi sepenuhnya menghilangkan partikel aroma yang tertinggal di udara bukanlah hal yang mudah. Lagipula, tubuhmu sendiri adalah sumber aromanya.”
Kamijou melihat lurus ke atas.
Salju merah telah berhenti dan tidak ada angin, jadi ada sedikit kekhawatiran partikel-partikel itu tersapu.
Coronzon sendiri yang telah menyebarkan awan tebal.
Tindakannya mulai berbalik melawannya.
“Juga, kupikir itu akan menjadi aroma yang cukup khas. Bukan sekedar aroma rambut atau pakaiannya, tapi lebih ke aroma yang sengaja ditinggalkan.”
“Hm? Kupikir Coronzon tidak mungkin melakukan itu?”
“Benar. Tapi yang satunya mungkin.”
Apa yang dia maksud adalah Aleister?
“Aroma itu tidak terlihat. Dan begitu kau sudah familiar dengan aromanya, kau akan menjadi sangat tidak peka terhadapnya,” kata Othinus.
“Itu akan menjadi cara gampang untuk memberi tahu kita di mana Coronzon berada tanpa dia sadari,” kata Anna Sprengel.
Kamijou memiringkan kepalanya.
“Tapi aroma khas apa yang kita perlukan?”
“Mungkin aroma bunga salju,” jawab Takitsubo.
Entah kenapa, ini membuat Kanzaki Kaori menundukkan kepalanya dengan muram.
Si Gadis baju olahraga yang emosinya tak bisa terbaca itu pun melanjutkan.
“Itu bukan bahan terbaik untuk aroma jika dibandingkan dengan mawar atau lavender, tapi... um, apakah ada sesuatu yang terlintas di pikiran kalian?”
“Itu judul novel erotis yang ditulis Crowley sekitar satu abad yang lalu. Atau lebih tepatnya adalah bagian dari judulnya.”
Semua orang terdiam.
Alice Anotherbible tampak kebingungan.
Di saat seluruh umat manusia mungkin berada di ambang kehancuran sebelum fajar, selera humor ini membuatnya sulit membedakan apakah itu serius atau lelucon... Sekarang Kamijou yakin.
Bahwa Aleister pasti masih hidup.
“Tapi, Touma, bagaimana cara kita mengikuti aromanya? Aroma... hm, bisakah kita menggunakan anjing?”
Index terdengar kecewa karena dia hanya memiliki kucing belacu di pelukannya, tapi komentarnya membuat semua orang melihat ke si anjing.
Menjadi pusat perhatian, Kihara Noukan si golden retriever memiringkan kepalanya sambil duduk.
“Aku menghargai kepercayaan kalian padaku, tapi dunia akan hancur jika aku mengacau, bukan? Kita butuh verifikasi ganda, jangan romansaku saja. Dan aku merasa tidak enak kalau harus mencuri semua panggung kalian.”
“Kalau begitu kita juga bisa menggunakan sesuatu yang lain.”
Takitsubo melambaikan ponselnya.
Tapi ada perangkat seukuran penghapus yang terpasang pada konektor di bagian bawah.
“Bau badan bisa dianggap sebagai bentuk pelecehan akhir-akhir ini, jadi mereka menjual mainan ini untuk pemeriksaan kebersihan pribadi. Meskipun aku dengar mereka sebenarnya hanya mencari cara untuk berekspansi ke pasar lain karena menjual alat tes napas alkohol tidak cukup untuk mengembalikan biaya pengembangan.”
“Tapi produk komersial tidak akan cukup untuk melacak seseorang,” kata Othinus.
“Untuk melakukan itu, kau perlu memperluas perangkat keras atau meningkatkan perangkat lunak untuk meningkatkan sensitivitasnya secara paksa.”
“Benar.”
Takitsubo melemparkan ponselnya.
Kepada Misaka Mikoto, yang bisa melakukan apa saja jika menyangkut soal elektrik.
“Ketika partikel aroma menempel pada sensor, partikelnya dianalisis menjadi nilai digital. Teknologinya tidak sehebat itu, tapi teknologi ini telah digunakan di laboratorium makanan dan deterjen selama beberapa dekade. Dan aku pernah dengar ada tim pasukan khusus yang menggunakan hal semacam ini di Academy City, tapi aku tidak tahu apa yang mereka lakukan sekarang.”
Itu berarti mereka bisa melacaknya.
Mereka tidak tahu berapa lama petunjuk Aleister akan bertahan.
Mereka perlu memanfaatkannya sebelum Coronzon sadar.
Kanzaki melambai dan para Amakusa muda merespons. Mereka membawa beberapa kendaraan dengan rantai pada bannya untuk menghadapi salju merah.
“Sekarang kita bisa mengejarnya.”
Sama seperti ritual di mana para atlet lontar martil yang sengaja berteriak untuk melepas batasannya, Kamijou Touma pun berteriak sekuat tenaga.
Karena kalau tidak tubuhnya bakal hancur.
“Kita bisa menuntaskan masalah dengan Iblis Agung Coronzon!!”
Bagian 4
Coronzon bahkan tidak sadar akan saat-saat ketika Aleister mengambil alih kendali dan dia tidak bisa mempertanyakan kekosongan itu sesudahnya.
Ini adalah masalah besar bagi Coronzon... tapi pada saat yang sama, beruntung dia sadar lebih cepat. Bahkan satu detik ketidaksadaran selama pertempuran bisa menciptakan celah fatal.
Dia membutuhkan solusi teknis.
Tapi untuk saat ini, dia harus menghilangkan para pengejar di dekatnya.
Kelompok Kamijou Touma akan tiba di Distrik 3 tak lama lagi. Untuk mengejarnya. Jika Aleister menggunakan tubuhnya untuk meninggalkan pesan, maka itu pasti akan segera terjadi.
(Bisakah aku berhasil jika aku bergegas melintasi tembok kota dari Distrik 3? Tidak. Masalahnya bukan pada Kamijou Touma, Anglikan adalah sebuah kelompok. Dengan koordinasi, mereka pasti menempatkan seseorang yang menunggu di sana. Dan masalahnya tidak berakhir setelah aku melintasi tembok. Jika mereka tahu ke arah mana aku melarikan diri, aku jadi tidak bisa menghilang dan mereka akan terus mengejarku melalui area Saitama.)
Itu berarti melakukan metode kasar untuk melintasi tembok tidak akan menyelesaikan ini. Hasil ideal menurut Coronzon adalah bisa dengan tenang melintasi tembok dan menghilang ke dunia yang lebih luas di luar sana.
Tapi ini juga bisa memberinya kesempatan. Jika pengejarnya yakin dia akan melintasi tembok kota lewat Distrik 3, dia bisa sepenuhnya luput dari mereka jika dia melintasi tembok dari distrik yang berbeda.
Dia tidak punya banyak waktu tersisa.
Apa yang bisa dia lakukan dalam waktu yang singkat ini?
Bagian 5
“Dia tidak ada di sini?” gumam Kamijou.
Mereka berada di Distrik 3, area perkantoran yang lumpuh di mana bahkan lampu lalu lintas pun tidak menyala. Ini adalah distrik untuk orang dewasa, jadi anak SMA seperti Kamijou tidak mengenal area ini dengan baik.
Pesan yang ditinggalkan Aleister dengan membajak tubuh Coronzon jelas menunjuk ke sini. Tapi...
“Jejak aromanya berakhir di sini.” kata Kihara Noukan yang sedang mengendus tanah.
“Sama.” kata Takitsubo Rikou yang sedang menggenggam ponsel.
Mereka berada di alun-alun kosong tanpa apa pun di sana kecuali salju merah.
Index memiringkan kepalanya.
“Mungkin Coronzon menyadari apa yang terjadi lalu membersihkannya?”
“Membersihkannya secara total, memang bisa?”
“Dia tidak perlu melakukan sampai situ.” Mikoto yang mengenakan pakaian berkabung mengembuskan napas putih. “Aroma akan berubah ketika bercampur. Itu sebabnya aku berharap produk-produk sampo dan sabun mandi bisa berhenti memakai aroma bunga murahan. Agak ganggu karena kalau bereaksi dengan parfum, aromanya jadi rusak.”
Tampaknya ada pendapat lain.
Jangan-jangan ini bukan perbuatan Coronzon.
“Mungkinkah pesan dari Aleister itu cuma tipuan? Maksudku, dia adalah Aleister.”
Agnese mungkin telah didorong ke depan oleh banyak biarawati lainnya.
Agnese mengungkapkan kecurigaan ini sebagai perwakilan mereka, tapi Kamijou menolaknya.
Kamijou memang tidak punya bukti.
Tapi dia tidak ingin berpikir bahwa Aleister yang telah menjawab panggilannya kemudian akan memihak Coronzon dan mencoba menghancurkan dunia bersamanya.
(Bagaimana kalau…)
Kamijou menundukkan kepalanya.
Kamijou merenungkan masalah itu dengan tangan di dagu dan matanya menatap ke bawah ke arah sepatunya.
(Pesan dari Aleister memang benar dan kita saja kita saja yang luput... berarti pasti ada yang salah dengan asumsi dasar kita. Tapi apa itu?)
Kemudian dia pun tersadar.
“Aku lupa. Ada satu fakta mendasar yang luput dari pikiranku.”
“?”
Kanzaki memberinya tatapan bingung, tapi Kamijou bahkan tidak melirik ke arahnya.
Kamijou menggunakan kakinya untuk mengikis salju merah dari tanah, tapi bukan aspal di bawahnya.
Kamijou menemukan lubang got logam tebal.
Semua pemikiran rumit itu tidak diperlukan. Jawabannya sangat sederhana!
Raungan keras air yang mengalir di bawah menunjukkan kalau ini mungkin bukan selokan biasa.
Selokan itu pasti jalur air buatan yang mengalir di bawah kota.
Manusia tidak bisa berenang di sungai setengah beku di bulan Januari.
Manusia tidak bisa bernapas di dalam air.
Jadi ini tidak bisa disebut rute. Sungai itu tidak bisa digunakan.
Ya, jika kau manusia.
“Iblis Agung Coronzon bukanlah manusia!!”
Bagian 6
Suhu airnya 2 derajat.
Lebarnya sekitar lima meter dan kedalamannya mungkin beberapa meter. Bahkan dengan mikroba dan faktor lain yang menghasilkan panas, ini adalah sungai setengah beku di bulan Januari. Jika manusia biasa jatuh ke dalam, nyawa mereka akan terancam.
Tentu saja, itu hanya untuk manusia biasa.
“Itu tidak berlaku untukku.”
Seperti yang telah dia umumkan sejak awal, dia adalah Iblis Agung.
Dia berada tepat di bawah kota, tempat cahaya bulan pun tak sampai.
Langit-langitnya setinggi sekitar dua meter, jadi pria tinggi kepalanya akan terbentur ke beton tebal itu.
Apakah area yang bisa dimasuki dipisahkan berdasarkan otoritas yang berbeda-beda, atau hanya urusan birokrasi seperti pembagian zona? Yang jelas ada pagar dan pintu jaring kawat yang memblokir jalan di beberapa tempat. Coronzon hanya perlu melambaikan tangannya dengan malas untuk mengirisnya.
Air yang beriak berwarna gelap pekat, tapi bukan hanya karena ini adalah ruang bawah tanah yang didominasi kegelapan. Ada Logam bergerigi dan kayu busuk yang mengambang. Selain itu juga benda kenyal yang tampak seperti gumpalan minyak yang lebih besar dari bola bowling.
Iblis Agung Coronzon menghela napas kesal pada dirinya sendiri karena telah ragu untuk sesaat.
(Tempat-tempat seperti ini adalah rumahku yang semestinya. Perwujudan kejahatan tidak seharusnya menghindari kotoran. Mungkin aku menghabiskan terlalu banyak waktu bermain sebagai Uskup Agung Anglikan yang cerah dan bersinar.)
Kali ini, dia melompat masuk.
Begitu arus membawanya pergi, dia akan meninggalkan Distrik 3 dan melakukan perjalanan melewati Distrik 14, 19, dan 12 untuk mencapai tembok timur yang berbatasan dengan area Shinjuku. Itu adalah tempat yang sama sekali berbeda dari tembok utara yang berbatasan dengan area Saitama.
(Aku tidak tahu aroma apa yang kau semprotkan padaku, Aleister, tapi sekarang partikel aroma itu tidak bisa dilacak.)
Tentu saja, manusia biasa akan mati duluan sebelum terbawa arus sejauh 100 meter, tapi itu bukan hambatan bagi Coronzon.
Dia tidak akan kesulitan menaiki seluncuran air sepanjang lebih dari 10 kilometer ini.
Bagian 7
Aleister tidak berbohong.
Dia memang berada di Distrik 3.
Kegagalan kelompok Kamijou-lah yang membiarkannya lolos. Mereka salah berpikir bisa menangkap Iblis Agung Coronzon jika mereka mengepungnya dengan cara yang sama seperti mereka mengepung manusia. Jika kita mencoba menangkapnya seperti menangkap burung atau ikan, memblokir jalan dan mendirikan pos pemeriksaan seperti menangkap manusia, maka tidak akan membuahkan hasil.
Coronzon telah melemparkan dirinya ke saluran air buatan di bawah kota sehingga dia bisa dengan cepat menempuh jarak jauh.
“Suhu airnya dua derajat... sulit dipercaya dia akan terjun ke tempat seperti ini?”
Mikoto yang mengenakan pakaian berkabung tidak bisa mempercayainya.
Ponselnya tidak bisa memberinya informasi, jadi dia mungkin telah menggunakan kekuatannya untuk meretas jaringan manajemen sungai. Hal yang memungkinkan kita untuk memeriksa ketinggian air sungai selama topan terjadi.
“Saluran airnya bercabang dan berbelit-belit. Air umumnya mengalir dari barat ke timur, dan mencakup area yang luas. Memprediksi tujuan akhirnya tidak akan mudah.”
Penilaian Kanzaki tidak memberikan petunjuk berharga.
Mereka bahkan tidak perlu menuju ke bawah tanah. Mereka tahu Coronzon menggunakan saluran air, tapi tidak seperti Coronzon, mereka adalah manusia. Terjun ke air kotor setengah beku bersuhu 2 derajat dan terbawa arusnya lebih dari 10 kilometer tidak akan bisa melacak Coronzon.
“Biar si gadis saja?”
“Tidak boleh, Alice.”
Kamijou dengan cepat menghentikannya.
Alice Anotherbible mungkin bisa bertahan di bawah sana, tapi itu tidak berarti dia bisa menangkap Coronzon di saluran air bercabang banyak. Untungnya terlalu sedikit untuk risikonya yang besar.
Mereka harus memikirkan cara lain.
Bahkan sekarang, Coronzon sedang menaiki arus cepat di bawah kota.
Menuju bagian tertentu untuk sampai ke tembok kota.
Takitsubo Rikou membuat keputusan cepat setelah mengintip ke dunia bawah tanah melalui lubang got yang terbuka.
“Kita tidak bisa lagi melacak partikel aromanya.”
Tapi jika mereka menyerah, Coronzon akan berhasil meloloskan diri.
Tanpa petunjuk lain, umat manusia tamat.
“Itu bukan masalah... kan? Sains bukanlah segalanya. Hei, Index, apa yang terjadi dengan metode pencarian magis?! Jika kita mencoba pendekatan yang berbeda, kita masih bisa—!”
“Touma, dengan apa kita harus melacaknya? Kalau kita punya darah atau rambut Coronzon, itu akan sempurna. Tapi kalau kita mau melakukannya, setidaknya kita butuh beberapa informasi lebih rinci tentang Iblis Agung itu.”
Index merespons dengan tenang bahkan di saat-saat seperti ini — tidak, justru karena itu dia harus tenang.
“Informasi Aleister Crowley memang dikenal luas... tapi Coronzon berasal dari dunia mitos. Menemukan informasi rinci tentangnya tidak akan mudah,” kata Anna Sprengel, yang tampaknya juga cukup legendaris.
Mereka tidak bisa menggunakan sihir.
Tapi Kanzaki Kaori, komandan pasukan Anglikan di sini, belum selesai bicara.
“Masih ada sesuatu yang bisa kita lakukan.”
Bagian 8
Sebuah benda logam besar diturunkan ke saluran air beton, menutupi lebar penuh ruang bawah tanah yang gelap. Bukan sekedar kisi-kisi atau pintu air, ini jauh lebih brutal. Gambaran terdekatnya adalah baling-baling raksasa. Tapi ini memiliki beberapa baling-baling yang diatur di sepanjang satu poros untuk menghancurkan dan memecah benda-benda yang mengambang.
“Pembuangan sampah umum, ya?”
Itu lebih dari sekedar bilah berat yang berputar. Untuk menjaga bilah tebal tetap tajam, bakteri pengurai logam dibuat hidup di permukaan seperti jaring.
Coronzon telah melihat logam bergerigi dan kayu busuk beberapa kali dalam perjalanan ke sini. Tak satu pun dari sampah besar itu boleh keluar dari kota ketika air sungai mengalir keluar. Untuk mencegah kemungkinan teknologi kota bocor keluar. Jadi perangkat untuk menghancurkan segala yang mengambang di sungai telah ditempatkan secara berkala (dan kemungkinan ada fasilitas khusus yang lebih dekat ke tembok kota). Dan pengejar dari Anglikan yang mengendalikan Academy City telah mengaktifkan semuanya.
Coronzon menarik tubuh bagian atasnya ke tepi beton dan mengulurkan tangannya yang lain ke arah mesin raksasa tersebut.
Menghancurkannya memang mudah. Tak butuh waktu lama.
Tapi dia tidak ingin memicu alarm yang akan memberi tahu keberadaannya kepada para pengejarnya.
Jadi hanya ada satu pilihan.
“Rupanya perjalanan santaiku berakhir di sini.”
Coronzon merangkak dan sepenuhnya keluar dari air yang kotor.
Tidak ada tanda yang memberitahunya ke mana harus pergi, tapi dia menemukan beberapa tangga menuju atas. Masih basah, dia meletakkan tangannya di pagar dan mulai bergerak.
(Aku harus berasumsi kalau mereka telah menggiringku. Mungkin sudah saatnya untuk beralih ke taktik kekerasan.)
Di distrik mana dia berada?
Dia akan segera tahu setelah dia membuka pintu logam tebal tersebut.
Bagian 9
Kamijou mendengar desisan seperti napas monster.
Asap putih dikeluarkan dari pipa-pipa di dinding atau kisi-kisi logam di tanah. Itu adalah uap panas.
Ini Distrik 19.
“Hei, Kanzaki. Apa kau yakin Coronzon ada di sini?”
“Ya, mengacu pada sensor pintu darurat yang terpicu olehnya. Lagipula, dia bukanlah perwujudan sains.”
Kamijou menghabiskan sebagian besar waktunya di Distrik 7, jadi dia tidak tahu banyak tentang distrik ini. Tempat itu penuh sesak dengan gedung bertingkat pendek. Secara keseluruhan, jalanan tampak tua dan pudar. Papan nama non-LCD memiliki berbagai iklan yang terpasang, tapi produk yang diiklankan adalah hal-hal seperti tabung sinar katoda, tabung vakum, piringan hitam, dan mesin uap...
“Rasanya bagai dikelilingi oleh kumpulan teknologi yang terlupakan. Atau seperti aliran teknologi bercabang dan berevolusi ke arah yang unik.”
Mikoto yang mengenakan pakaian berkabung tampak setengah terkejut dengan semua yang dia lihat.
Sebuah perangkat dengan beberapa sayap kain berputar perlahan lewat di jalan. Itu bukan helikopter atau drone. Dan itu lebih besar dari truk kecil.
Kamijou tampak seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Apa itu? Salah satu model da Vinci?”
“Dasar dungu tak berpendidikan, itu mesin terbang bertenaga uap Cayley.”
...Apakah desain mobil terbang sudah ada selama berabad-abad?
Apa pun itu, teknologi bercabang ke arah yang aneh di sini.
(Kapan-kapan, aku ingin sekali menjelajahi tempat ini.)
Beberapa benda logam bulat raksasa terlihat di kejauhan.
Faktanya, beberapa benda bulat itu berkumpul bersama.
“Terlihat seperti sekotak takoyaki.”
Index benar. Itu perbandingan terbaik yang juga terlintas oleh Kamijou.
Itu agak seperti tangki gas — tidak, itu seperti penampung gas, tapi ini kan di Distrik 19, pasti bukan itu.
“Central Boiler,” jelas Takitsubo Rikou. “Bahan bakar dibakar di satu lokasi untuk menghasilkan uap dalam jumlah besar dan kemudian dialirkan ke seluruh distrik. Ada infrastruktur untuk kelebihan energi yang dihasilkan oleh ketel pabrik besar untuk dikirim ke pabrik yang lebih kecil, tapi ini adalah versi skala yang lebih besar dari itu. Jadi mungkin seperti versi uap dari pembangkit listrik termal di zaman listrik?”
Tentu saja, pembangkit listrik Academy City dilakukan dengan banyak turbin angin yang didistribusikan di seluruh kota. Ini menghasilkan uap, bukan listrik. terpusat, bukan tersebar. Serta menciptakan energi menggunakan bahan bakar fosil...
Othinus menghela napas jengkel dari bahu Kamijou.
“Sepertinya orang-orang di distrik ini benar-benar tidak ingin mengikuti arus utama Academy City.”
Bagian 10
“Jadi...”
Iblis Agung Coronzon pun menyeringai. Hanya butuh sekejap baginya untuk meledakkannya.
“Ini waktu yang tepat.”
Bagian 11
Suara tebal dan tumpul bergemuruh.
Tampak putih-putih di kejauhan.
Seperti pemandangan kota sedang dikaburkan oleh sepotong permen kapas raksasa.
Tapi tentu bukan itu.
Kota larut malam yang lumpuh telah berubah. Kamijou benar-benar melihat sesuatu meletus seperti balon di pemandangan yang tertutup asap putih. Padahal baja tebal seharusnya tidak bisa meledak dari dalam seperti itu.
Bukankah itu...?
“Lari, dungu.”
“Hei, jangan bilang…”
“Coronzon meledakkan Central Boiler,” kata Anna Sprengel. “Uap lebih dari 400 derajat Celcius akan menelan distrik ini. Dan kita bisa ikut tertelan!”
“Jika kita tetap di luar, oven uap raksasa itu akan meluruhkan seluruh minyak dari tubuh dan mengukus kita sampai matang dan menyehatkan. Persis seperti tenderloin ayam yang direbus setengah matang untuk,” kata Kihara Noukan. “Jika tak mau jadi begitu, maka kusarankan bergegas ke dalam ruangan.”
Tidak ada waktu untuk berpikir terlalu keras.
Kamijou dan yang lainnya bergegas ke struktur beton terdekat.
Suara tebal dan tumpul itu berubah menjadi tajam. Sangat mirip dengan desis air di wajan yang dipanaskan. Memang begitu keadaannya. Salju merah di tanah mulai meleleh. Dan massa uap yang tumbuh mengubah warna pohon-pohon di pinggir jalan dan mengupas cat dari mobil-mobil yang diparkir di tepi jalan. Seperti peralatan bermain di taman yang sudah lama ditinggalkan.
Anna Sprengel dan Kihara Noukan benar. Manusia tidak akan bertahan sesaat pun di sana.
Index, Mikoto, Kanzaki, Anna Sprengel, Alice, dan Agnese bergegas masuk ke gedung yang sama dengan Kamijou. Othinus dan si kucing juga ikut bersama mereka. Dan yang lainnya berlindung ke gedung yang berbeda.
Mata Kamijou terbelalak.
“Siapa dia?!”
“Jangan tanya aku! Kenapa ada orang biasa — dan seorang pelajar pula —berkeliaran di di jam larut begini?! Padahal semua orang disuruh untuk untuk tetap di dalam rumah!”
Itu berarti gadis kecil yang ditahan di bawah lengan Kanzaki bukanlah anggota Amakusa yang menyamar.
Setelah melompat ke dalam gedung beton bertulang, Kamijou yang sedang tersungkur segera menendang pintu hingga tertutup.
Suara desisan segera menyusul.
Suara laki-laki terdengar dari radio yang dipegang Kanzaki. Itu tampaknya bukan perangkat sihir. Apakah itu adalah salah satu penyihir Anglikan yang mengelola Academy City? Tidak, mungkin salah satu teknisi kota yang mematuhi para penyihir.
“Boiler nomor 2... dan nomor 8... percuma, keduanya sudah meledak!!”
“Nomor 5 juga tidak terlihat baik-baik saja... tekanan boiler tidak mau berhenti. Kita perlu evakuasi sekarang!!”
Suara menegang yang mengganggu mengelilingi mereka.
Seluruh bangunan mengerang.
Logam mulai bengkok kerena panas yang dahsyat, atau mungkin karena tekanan uap?
“Sial!” umpat Kamijou.
Apa pun itu, situasi ini membuat keluar dan mengejar Coronzon menjadi mustahil.
Dunia bersuhu 400 derajat Celsius itu melelehkan aspal jalanan, jadi mereka perlu berjalan di ubin trotoar dengan sepatu tebal atau mereka akan menderita luka bakar yang parah.
Faktanya, jika manusia mengambil hanya satu langkah di luar, maka baik daging, tulang, dan bola mata mereka akan mendidih.
Tapi Iblis Agung Coronzon bukanlah manusia.
Mereka telah diajarkan pelajaran ini berulang kali... tapi bisakah Kamijou benar-benar menerobos situasi ekstrim ini?
Rute apa yang akan dia gunakan untuk melarikan diri di dunia panas yang menghanguskan dan mematikan itu?!
Bagian 12
“Central Boiler Distrik 19 baru saja meledak?!”
Mata Yomikawa Aiho dari Anti-Skill membelalak mendengar laporan tersebut.
(Pertama orang-orang Anglikan itu mengambil alih penegakan hukum kota dan sekarang ini?!)
Dia bahkan tidak perlu memeriksa rekaman kamera di monitor multifungsi helikopter.
Dari titik pengamatannya di langit malam, sudut permukaan tampak jelas membengkak. Sulit untuk mendapatkan gambaran skalanya tapi bangunan yang tertelan tersebut pastinya bangunan setinggi lebih dari 10 lantai.
Pilot helikopter lelaki menyesuaikan cengkeramannya pada kolom kendali dan mengajukan pertanyaan.
“Apakah ini juga perbuatan orang yang bernama Coronzon? Apa-apaan ini?! Bukankah buronan seharusnya tetap bersembunyi?! Kenapa dia berusaha untuk membuat keributan seperti ini?!”
“Jangan banyak tanya, cepat kita ke sana! Entah berapa banyak orang yang terperangkap dalam ledakan itu!”
“Iya, tapi sejujurnya hanya sedikit yang bisa kita lakukan dari udara!”
Beberapa suara teriakan terdengar sekaligus melalui radio, mengabaikan aturan radio penerbangan.
Pilot menggunakan radio untuk menangkap sinyal sebanyak yang dia bisa, berharap mendapatkan gambaran situasi di dalam.
“Di mana kotak P3K?! Kenapa tidak ketemu?!”
“Sial, ada banyak luka bakar. Ada begitu banyak orang yang terluka, tolong beri tahu aku di mana dan siapa yang harus aku rawat!!”
“Kita tidak bisa melakukannya apa-apa di sini. Suhunya 400 derajat. Kita bahkan tidak bisa mendekati gudang!!”
Yomikawa Aiho melirik ke samping.
Kotak P3K bisa ditemukan hampir di mana saja. Bahkan ada satu yang terikat di dinding helikopter.
Apakah kekacauan dan kebingungan di dalam Central Boiler begitu buruk sampai-sampai mereka bahkan tidak bisa menemukan sesuatu yang begitu mendasar?
Ya, Yomikawa punya apa yang mereka butuhkan di sini.
Si pilot juga pasti ingin membantu mereka, tapi dia memberikan pendapat sebagai seorang ahli.
“Itu tidak mungkin, Yomikawa! Kau bisa melihat uap mendidih itu, kan?! Tekanan uap menyebabkan turbulensi di dekat permukaan tanah, sehingga tidak mungkin mendarat dengan benar. Jika kita sembarangan turun, helikopter akan terbalik ke samping!”
“Kalau begitu bagaimana dengan ambulans?! Jika tidak bisa lewat udara, kita bisa mengirim seseorang lewat darat!”
“Apa kau tak mengerti artinya 'uap mendidih'? Ambulans tidak lebih dari kendaraan biasa, jadi itu tidak cukup tangguh. Semua orang di dalamnya akan dikukus sampai mati sebelum mereka tiba. Pada suhu 400 derajat, tidak hanya ban karet yang meleleh, tapi aspal akan menjadi lembek. Kendaraan apa pun akan terjebak dan uap yang masuk melalui ventilasi AC akan membawa suhu tinggi ke dalamnya.”
“Kalau begitu, kita tidak punya pilihan selain menggunakan helikopter ini. Aku tahu, ayo kita simulasikan!! Jika kita memasukkan data satelit ke komputer kuantum dan komputer DNA, turbulensi itu bukanlah hambatan!”
“Bagaimana kita melakukan itu sedangkan Ketua Dewan sedang tidak berdaya?! Dia satu-satunya yang bisa menggunakan Master Key!!”
“Kh.”
“Kita tidak bisa menggunakan satelit, superkomputer, atau fasilitas Academy City lainnya. Mungkin kita bisa menggunakan perangkat individu, tapi kita tidak bisa menyatukannya. Jadi aku tetap kekeh, itu tidak mungkin, Yomikawa!!”
Helikopter tidak bisa turun saat Central Boiler terus meledak.
Tapi masih terdengar suara-suara memanggil bantuan.
Bahkan kotak P3K biasa akan mampu menyelamatkan nyawa orang-orang yang terluka akibat panas dan uap yang menyengat.
Yomikawa Aiho hanya melihat satu pilihan.
“Kalau begitu aku tidak akan menggunakan helikopter.”
“Hei, Yomikawa?”
“Kau tidak perlu memaksakan diri. Aku akan gunakan parasut ini untuk turun sendirian.”
“Apa kau bodoh?! Aku bilang bongkahan logam seberat 5,5 ton ini saja bisa terbalik ke samping! Parasutmu yang terbuat dari kain tipis dalam sekejap akan lepas kendali— tunggu, jangan, dasar bodoh!!”
Yomikawa tidak sempat mendengarkan.
Yomikawa Aiho meraih kotak P3K dengan kedua tangannya dan melompat keluar dari pintu samping yang terbuka.
Tanpa ragu.
Awalnya semua berjalan lancar.
Tapi 180 detik setelah parasut terbuka di ketinggian sekitar 20 meter, segalanya langsung berubah. Turbulensi menghantamnya seperti dipukul dari samping. Lehernya sakit. Yomikawa mengencangkan giginya dan mencoba memulihkan keseimbangan, tapi angin yang menghantamnya dari segala sisi membuatnya berputar-putar.
Dan dia bahkan belum terpapar langsung oleh uap. Dalam beberapa meter terakhir, parasutnya terbalik total dan dia mendarat di atas semacam mesin. Setelah tubuhnya merusak panel logam tipis dengan parah, dia baru menyadari bahwa itu adalah unit pendingin udara industri. Tampaknya mesin itu telah menyerap daya bentur dari pendaratannya.
Kotak P3K yang didekap di dadanya juga selamat.
Terlepas dari luka bakar dan luka sobek yang pasti mereka derita, para pekerja berlari ke arah Yomikawa. Mengabaikan kesengsaraan mereka sendiri dan tampak khawatir pada Yomikawa.
Wanita Anti-Skill itu benar-benar senang dia datang untuk membantu mereka.
Yomikawa menekan kotak P3K ke dada seorang pekerja yang tampak terluka parah.
“Apakah ada dari kalian yang hilang?”
“Ke-ketua kami tidak ada di sini, tapi dari absensi tidak ada catatan kalau dia telah tiba. Kurasa dia mengambil cuti tanpa mengabari kami…”
Maka tidak perlu mengkhawatirkannya.
“Tidak ada ambulans yang datang.”
Yomikawa kembali memastikan.
“Aku ragu mobil pemadam kebakaran bisa sampai ke sini. Jadi kita harus mencegah kerusakan lebih lanjut dari Central Boiler sendirian. Harus mulai dari mana kita?!”
Sesuatu meledak. Sangat dekat.
Yomikawa mendengar sesuatu mendesing melewatinya dan merasakan sesuatu membelai pipinya dengan tajam. Sebuah pipa pecah karena tekanan internal dan pecahan seukuran pik gitar telah menyerempet wajahnya.
Tidak ada yang bisa memprediksi apa, di mana, dan kapan akan meledak.
Saat fasilitas raksasa itu runtuh, tampak bagai satu balon besar.
“Satu lagi…” kata seorang pria muda, nyaris tidak bernapas. Tidak, dia mungkin mengumpulkan semua tenaga yang dia punya. “Delapan boiler membentuk boiler keseluruhan raksasa dan dua di antaranya sudah meledak. Jika satu lagi meledak, maka tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Beton bertulang yang mengelilingi tempat ini akan runtuh karena tekanan uap ekstrem!”
“Kalau begitu itu yang harus segera kita tangani,” kata Yomikawa.
“Tidak bisa. Kita tidak tahu apa yang terjadi pada ruang kontrol uap umum. Tidak ada yang bisa sampai ke sana. Pipa-pipa telah pecah di seluruh gedung, jadi ada uap panas di mana-mana!”
“Kalau begitu aku yang akan pergi dan memeriksanya!!”
Mereka bisa saja memberitahu Yomikawa di mana ruang kontrol uap umumnya, tapi beberapa pekerja yang lukanya relatif ringan malah menuntun Yomikawa.
Mereka semua ingin menghentikan tragedi ini. Meskipun mereka bilang tidak bisa, tapi mereka belum menyerah.
Yomikawa Aiho tersenyum sedikit.
“Baiklah, tolong antarkan aku.”
Yomikawa menyelam ke dalam bahaya.
Yomikawa bukan orang yang spesial.
Hari ini mungkin menjadi hari dia akan mati.
Tapi, itu bukan alasan untuk tidak melindungi Central Boiler dan Distrik 19.
Bagian 13
Mereka tidak bisa keluar karena uap yang intens.
Hanya Coronzon, yang telah menyebabkan bencana, yang bisa bergerak bebas di dalamnya.
Mereka hanya tidak tahu apakah dia akan menuju kereta bawah tanah, selokan, atau apa.
Kamijou mengertakkan gigi.
“Kita tidak bisa terus tertahan di sini. Coronzon sekarang pasti sedang berusaha melewati tembok dan melarikan diri dari kota!”
Apakah ada celah di suatu tempat? Atau tindakan pengamanan untuk menembus uap yang sangat panas? Ide itu memang terdengar terlalu absurd untuk dipertimbangkan, tapi kemudian seseorang angkat bicara.
Gadis kecil yang diambil Kanzaki di suatu tempat.
“...di dalam mobil…”
Kamijou punya firasat buruk tentang ini.
Ini jelas bukan petunjuk.
Kata-kata itu mengalir dengan udara tidak enak yang membuat Kamijou enggan mendengar sisanya.
“Ibu dan ayahku masih di dalam mobil. Mereka bilang berbahaya untuk tetap tinggal di kota, tapi kemudian kami terjebak di salju merah. Aku tidak ingin mendengar mereka bertengkar, jadi aku keluar dari mobil sendirian. Lalu uap itu datang, jadi mereka mungkin masih di sana…”
...Di dalam semua uap itu?
Pada saat-saat seperti ini, Othinus dan Anna Sprengel berpendapat secara jujur tanpa ragu.
“Bahkan di gedung beton bertulang yang tebal ini, pintunya bisa bengkok atau jendelanya bisa pecah kapan saja. Dan jika kita berbicara tentang mobil biasa tanpa anti peluru atau ketahanan ledakan, maka…”
“Dungu, bahkan jika mereka menutupi ventilasi AC dengan kain yang digulung, aku tidak yakin berapa lama mobil dengan jendela di semua sisi akan bertahan. Dan begitu jendela pecah, orang-orang di dalamnya akan terpapar uap bersuhu 400 derajat.”
...Kamijou sendiri telah melihat cat tangguh mengelupas dari mobil. Manusia tidak akan bertahan sepuluh detik jika terpapar uap tersebut.
Mata Kanzaki membelalak.
“Ini sudah lewat tengah malam! Kenapa seseorang ada di luar pada jam segini?! Terutama ketika seluruh kota diperintahkan untuk tetap di dalam rumah!”
“Karena cengkeraman Anglikan di kota melemah. Bahkan saat kita sedang berbicara.”
Kamijou memberikan tanggapan tenang terhadap pertanyaan Kanzaki yang diteriakkan.
Mungkin sulit dipahami bagi orang suci yang menjalani kehidupan yang layak setiap hari, tapi manusia cenderung ingin melakukan hal-hal yang dilarang. Apalagi begitu otoritas yang menahan mereka melonggarkan cengkeramannya. Atau begitu mereka menemukan celah.
“Aku tidak tahan. Aku mau mencobanya.” Mikoto yang mengenakan pakaian berkabung menggaruk pipinya. “Yah, Frasa seperti itu sudah ada sejak zaman kuno, yang mana itu memberitahu kita gambaran tentang sifat manusia.”
“Bukan. ...Mereka hanya bersedia mencoba apa saja jika hal itu bisa melindungi keluarga mereka.”
“Dungu.” ucap Anna Sprengel dengan ketus.
Kamijou tidak perlu bertanya lebih lanjut. Kamijou mengerti apa yang ingin disampaikan oleh penyihir yang menggunakan kejahatan sebagai senjata terhebatnya.
Jika Coronzon dibiarkan melarikan diri dari kota ini, seluruh populasi Bumi yang berjumlah 7 atau 8 miliar akan menuju kehancurannya. Begitu proses dimulai, tidak ada yang bisa menghentikannya.
Jadi mereka tidak boleh kehilangan jejaknya.
Mereka tidak boleh berhenti untuk menyelamatkan beberapa orang yang tidak terkait di tengah pertarungan melawan Coronzon.
Kamijou tahu itu.
Dia benar-benar tahu, tapi...
“Tidak usah khawatir.”
Tiba-tiba Kamijou Touma berlutut di depan gadis kecil itu.
Dan melakukan kebalikan dari saran tak terucap Anna.
Karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan.
“Ada berbagai macam orang di sini — mulai dari Anglikan, Amakusa, beberapa yang awalnya Katolik Roma, dan bahkan Dewa Sihir dan beberapa Transenden — tapi tidak satu pun dari mereka yang akan meninggalkanmu. Karena kami semua yang ada di sini ingin menolong orang-orang.”
Ingatlah siapa Iblis Agung Coronzon.
Coronzon memisahkan orang-orang dan menjauhkan kemanusiaan dari mencapai pengetahuan sihir.
Jadi ini adalah sisi lain dari pertempuran.
Dalam pertarungan melawan Coronzon, mereka akan terus menghadapi "kebetulan" jahat yang menyebalkan, serta masalah dan kecelakaan yang tampaknya telah dirancang untuk menguji mereka.
Karena Coronzon adalah makhluk semacam itu. Sama seperti ada malaikat cinta dan malaikat keadilan dan sama seperti ada iblis kemurkaan dan iblis iri hati, dia adalah Iblis Agung yang berspesialisasi dalam hal semacam itu.
Kamijou tidak akan membiarkan ikatan itu terputus.
...Keadaan darurat? Situasi mendesak? Kehancuran seluruh umat manusia akan dipastikan begitu fajar tiba? Kamijou tetap tidak akan menyerah menjadi manusia. Dia tidak bisa mengalahkan Coronzon jika dia tidak mau mengatakan itu!!
Tidak ada yang bisa menghentikan Kamijou.
Bukan Index, bukan Misaka Mikoto, bukan Kanzaki Kaori, bukan Agnese Sanctis, bukan Alice Anotherbible, dan bahkan bukan Anna Sprengel yang telah memberinya nasihat selaku wanita jahat.
Mereka semua sedang bertarung melawan Coronzon.
“Jadi tidak usah Khawatir. Kami akan menyelamatkan orang tuamu sekarang juga!!”
Bagian 14
Yomikawa Aiho mendecakkan lidah.
Peralatan di ruang kontrol uap umum Central Boiler selamat, tapi tak satu pun dari enam boiler yang tersisa merespon segala yang mereka lakukan di ruangan yang dipenuhi monitor CRT yang hanya ditemukan di distrik ini.
Salah satu pekerja menjelaskan.
“Peralatan di sini semuanya bekerja. Tidak rusak, tapi uap tidak mencapai kondensor... Dugaanku papan distribusilah penyebabnya. Kita perlu ke sana dan memperbaikinya.”
“Papan distribusi?”
Bahkan saat Yomikawa bertanya, dia menyadari itu pasti seperti kotak sekering tapi untuk uap, bukan listrik.
“Di mana itu? Beri tahu aku, biar aku yang periksa!”
“Tapi…”
“Tidak ada waktu! Mana yang akan memakan lebih banyak pekerjaan, papan distribusi kecil di dinding atau seluruh ruang kontrol uap umum raksasa ini? Dan jujur saja, sepertinya tidak banyak yang bisa kulakukan di sini!!”
Pekerja itu mengangguk beberapa kali saat mendengarnya.
“Aku buatkan peta sederhana untukmu. Terimalah. Boiler tidak bisa menahan tekanan sebanyak ini lama-lama. Kita akan segera mengalami reaksi berantai dari meledaknya boiler yang masih bertahan!”
Yomikawa Aiho mengambil radionya dan melangkah keluar pintu.
Ada begitu banyak uap putih.
Apakah kerusakan fasilitas telah berkembang sejak dia tiba di ruangan tersebut?
Uap 400 derajat menyembur dari dinding dan langit-langit setajam pisau. Bahkan jika itu tidak langsung mengenainya, itu membuat seluruh ruang sepanas sauna. Yomikawa memang tidak akan langsung terbunuh, tapi itu menguras staminanya.
Uap yang menyemprot membuatnya sulit mendengar suara dari radio. Tapi kemudian suara keras datang dari pengeras suara fasilitas.
“Aku kagum kau bisa bergegas ke situ dalam kondisi separah ini. Aku saja kepikiran untuk lari.”
“Tapi kau belum lari, kan? Jadi kita sama saja. Kau tahu, ada beberapa orang yang numpang padaku jadi aku ingin melindungi rumah mereka. Dengan tanggungan yang kubawa, aku tidak boleh setengah-setengah.”
(Di sini juga tak bisa dilewati, ya.)
Bahkan dalam perjalanan ke ruang kontrol uap umum, mereka telah menemui beberapa pintu logam yang tidak bisa dibuka.
Bukan karena pintu itu bengkok akibat dampak ledakan, sepertinya itu adalah pintu otomatis yang bukaannya memakai uap, bukan listrik. Itu berarti semua uap yang meletus dari pipa malah menjadi masalah. Tanpa tekanan yang cukup dipasok ke pintu, pintu uapnya tidak bisa terbuka. Itu sebenarnya adaptasi dari penemuan berusia 2000 tahun yang dikenal sebagai turbin uap Heron.
Yomikawa merusak engsel dengan pistolnya dan menendang pintu hingga roboh.
Alat praktis untuk membuka segala pintu, tapi menembak terlalu sembarangan bisa memecahkan pipa tipis dan memicu ledakan uap di dekatnya.
Sesuatu seukuran bola rugbi — mungkin semacam drone — mengeluarkan uap yang merambat di lantai.
Lift bertenaga uap tidak bisa digunakan. Yomikawa mengambil beberapa kain dari lantai dan menggunakannya seperti lap untuk memegang tangga logam.
Beberapa benda meledak saat Yomikawa memanjat. Pecahan tajam terhempas seperti piring terbang dan menancap ke dinding di dekatnya.
Uap mengaburkan pandangannya lebih dari yang dia duga.
Yomikawa punya peta yang dibuat tergesa-gesa, tapi dia merasa akan tersesat bahkan setelah dia punya benda tersebut.
Dan Yomikawa tidak mencari ruangan khusus. Itu hanya kotak logam tipis yang menempel di dinding koridor.
Akhirnya, Yomikawa menemukannya.
“Itu pasti papan distribusinya!!”
“Pengoperasiannya cukup sederhana. Buka penutupnya dan kau akan melihat 16 tuas. Karena perintah kami tidak ada respon, sesuatu pasti telah menggerakkan beberapa tuasnya. Mungkin salah satu ledakan dan mungkin getaran uap yang menghantam dinding. Tuas memiliki dua opsi: atas atau bawah. Pola yang kita inginkan adalah YNYNYYYNYNNYYYNY. Cari yang salah dan balikkan ke posisi yang benar. Itu seharusnya akan mengembalikan kendali kita! Dan kalau bisa, gunakan selotip atau perekat untuk mengganjalnya!!”
Yomikawa menemukannya.
Tiga tuas berada di posisi yang salah.
“Oke, dengan ini maka…”
Langit-langit meledak.
Yomikawa buru-buru melompat mundur saat uap putih lewat dengan tajam di depannya. Seperti guillotine atau kaca jendela yang jatuh.
Dia bisa merasakan keganasan 400 derajat menaikkan suhu udara di koridor.
Sebuah suara teriakan langsung keluar dari pengeras suara.
“Yomikawa-san! Tolong jawab! Boiler nomor 5 tidak akan bertahan lama! Kau harus cepat!”
Pekerja itu tidak bisa melihat situasi di sini. Kalau tidak, dia pasti tidak akan mengatakan hal itu.
Uap 400 derajat menghalangi jalan Yomikawa. Manusia akan terkukus sampai ke tulang. Situasinya tidak segampang Ide-ide konyol seperti menyelinap melalui celah di uap yang meletus.
Tapi jika seseorang tidak melakukannya, boiler akan meledak. Beton bertulang dalam radius tiga kilometer akan runtuh akibat tekanan uap. Dan semua orang yang bekerja sangat keras untuk mencegah kejadian itu akan musnah bersamanya.
Bisakah Yomikawa membiarkan hal itu terjadi?
(Kurasa ini benar-benar akhir bagiku.)
Yomikawa Aiho dengan tulus menerimanya.
Tapi papan distribusi sudah berada dalam jangkauannya. Jika dia Mengoperasikannya maka dia bisa menyelamatkan semua orang.
Jadi Yomikawa harus bertindak.
Misaka Worst, Last Order... dan Accelerator.
Academy City jauh dari utopia. Kota itu memiliki banyak kekurangan.
Tapi ini adalah kota yang telah membesarkan anak-anak itu.
Mereka pantas tersenyum setelah semua yang telah direnggut dari mereka.
Yomikawa tidak bisa begitu saja pergi dan berkata, 'Yah, kotanya hancur, ya sudah. Dadah.' dan meninggalkan utang yang belum dilunasi.
Yomikawa takut mati. Itu sebabnya Yomikawa Aiho mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia ingin menjadi orang yang bisa menatap mata anak-anak itu.
Jadi bergeraklah. Lakukan.
Dia adalah Anti-Skill. Dia harus fokus pada melindungi kota.
Bagian 15
Mereka telah memutuskan untuk menyelamatkan orang-orang biasa yang terjebak di dalam mobil yang ada di jalan.
Bersembunyi di dalam gedung beton bertulang, Mikoto yang mengenakan pakaian berkabung adalah orang pertama yang angkat bicara.
“Masalah terbesar dengan uap di luar adalah panas dan tekanan yang sangat besar.”
“Jadi ada lebih dari satu masalah,” keluh Kamijou.
“Tidak, cuma satu. Panaslah yang menyebabkan kelembapan berekspansi dan menghasilkan uap. Dan ekspansi itulah yang menciptakan tekanan yang cukup untuk menghancurkan dinding beton.”
Mengonfirmasi fakta dasar dari situasi adalah hal baik.
Yang buruk adalah mengetahui suramnya situasi malah membuat kita depresi.
Tapi Kanzaki, yang mendengarkan, melihat situasi ini secara berbeda.
“Jadi kita hanya perlu mendinginkannya. Begitu, kan? Maka solusinya sederhana. Jika kita bisa mendinginkan semua uapnya, uap itu akan kembali menjadi tetesan air yang tidak berbahaya.”
Semua orang akan mengatakan kalau itu tidak mungkin.
Lagipula, ada banyak uap yang bisa menelan seluruh distrik. Dan suhunya lebih dari 400 derajat Celsius.
Itu cukup panas untuk melelehkan ban mobil dan melembekkan aspal.
Membuang seember air ke atasnya tidak akan berhasil.
“Tapi logikanya sendiri tidak salah,” kata Othinus.
“Dungu. Logika semacam itu adalah kondisi penting bagi penyihir. Mungkin terlihat seperti kita bisa melakukan apa saja, tapi kita sebenarnya mencapai hasil yang diinginkan dengan mengikuti seperangkat hukum yang tidak ditemukan dalam buku teks kimia atau fisika,” tambah Anna Sprengel.
Kanzaki mendengarkan sambil membentangkan selembar kertas besar di atas meja.
“Kita membutuhkan tokoh legenda Kristen sederhana yang berkaitan dengan pendinginan. Aku menyarankan Santa Dorothea dan Theophilus. Agnese, boleh aku pinjam beberapa biarawati Katolikmu?”
“Memang bawahan seperti kami bisa menolak? Tapi kisahnya kebalikan dari apa yang kau inginkan. Legenda mengatakan mawar segar dan apel dikirim di musim dingin Februari yang membeku.”
“Itu sebabnya kita membaliknya dengan menyesuaikan simbol-simbolnya. Index.”
“Itu seharusnya cukup mudah.”
Dan mereka hanya membutuhkan logikanya agar masuk akal.
Tidak peduli betapa absurdnya itu, mereka hanya perlu memiliki "kebenaran" di pihak mereka.
Kanzaki Kaori pun membuat deklarasi.
“Sisanya bisa diatasi dengan kekuatanku sebagai Saint.”
Dressssssssss!!!
Awalnya, Kamijou mengira ada rentetan tembakan mesin di luar.
Tapi ternyata bukan.
Hujan turun deras di luar jendela. Uap putih yang memenuhi distrik itu seketika didinginkan dan menjadi tetesan air. Ada begitu banyak sehingga tampak seperti cuaca telah berubah sepenuhnya.
Lanskapnya telah berubah. Logikanya mungkin masuk akal, tapi skalanya sama sekali berbeda. Berapa puluh ribu ton nitrogen cair yang dibutuhkan untuk menghasilkan fenomena ini?
Kamijou merasa konyol jika mencoba menghitungnya.
“Ini tidak akan bertahan lama... Ayo keluar!!”
Kamijou tidak perlu diberitahu dua kali.
Tapi begitu di luar, dia menemukan sungai lumpur cokelat.
Kamijou telah bergegas menuruni gedung, tapi sekarang dia tidak bisa mengambil langkah ke depan. Segala sesuatu di bawah pinggulnya terasa salah. Jika dia tidak memegang dinding dan memperhatikan langkahnya, dia bisa terseret ke bawah dan tersapu oleh air. Dia cukup yakin hanya Alice yang akan mampu berdiri di arus berlumpur ini tanpa kesulitan.
Mobil yang dimaksud berjarak kurang dari 100 meter.
Tapi menuju ke sana bukanlah tugas yang mudah.
“Kurasa ini sudah berlebihan!! Ini bahkan bisa menghanyutkan mobil!”
“Ini satu-satunya cara untuk menjaga uap panas agar tidak mengukus kita!! Mengubah cuaca atau menjatuhkan meteor dari langit, hal semacam itulah yang bisa kami lakukan!”
Skala Saint memang berada di luar grafik.
Kamijou hampir tersandung di jalan, tapi bukan hanya karena arus. Ada yang salah dengan tanahnya. Aspal yang meleleh mungkin telah mengeras kembali dalam bentuk yang tak seharusnya.
Kamijou dan Index entah bagaimana berhasil mencapai mobil ringan yang bergoyang seperti perahu kecil. Kompartemen mesin mobil bulat aneh yang ada di samping tampak seperti drum logam. Karena ini Distrik 19, apakah itu bertenaga uap? Tidak, kurangnya cerobong asap menunjukkan itu menggunakan batu bara sebagai gantinya.
Agak jengkel, Othinus berbicara dari bahu Kamijou.
“Jika itu mobil yang menggunakan baterai besar untuk menyalakan pemanas elektrik yang memanaskan air menjadi uap untuk menggerakkan mobil, itu akan menjadi mobil ramah lingkungan berteknologi tinggi.”
Ini adalah bagian yang membuat Kamijou khawatir.
“Mobilnya setengah terendam, jadi menyentuhnya tidak akan menyetrumku, kan? Sial…”
Sesuatu menggedor kaca dari dalam.
Ada orang di sana. Dua orang. Persis seperti yang dikatakan si gadis kecil. Meski entah mana yang lebih menakutkan, uap atau sungai berlumpur.
(Nyawaku juga dipertaruhkan di sini. Aku pun sudah sampai sejauh ini, jadi pasti akanku selamatkan mereka!!)
Pintu mobil tidak akan terbuka ke luar saat sebagian terendam seperti ini. Kamijou mengambil dahan yang mengapung di sungai berlumpur dan naik ke kap mobil. Merasakan ada beban berat, alarm mobil mulai berbunyi, tapi sekarang bukan waktunya untuk mengeluh tentang itu. Penyelamatan ini mungkin sedang direkam oleh kamera dasbor, tapi dia tetap mengayunkan pemukul daruratnya ke arah kaca depan.
Kamijou menghantamnya, tapi masih belum cukup dan Kanzaki bergerak masuk untuk merobek sisanya beserta rangkanya.
Kanzaki langsung memegang para penyintas untuk segera menyeret mereka keluar dari mobil.
Mobil itu sendiri meluncur ke samping, ditarik oleh arus.
Itu tidak akan bertahan lebih lama.
Anna Sprengel berteriak kepada mereka sambil berpegangan pada pohon yang tidak jauh dari sana.
“Dengan arus sekuat ini, berjalan kembali ke hulu akan tidak efisien. Dungu, biarkan arus membawamu! Berlindunglah di gedung yang berbeda di hilir!!”
“Sialan, yang benar saja?!”
Kamijou mengumpat, tapi dialah yang memutuskan untuk menyelamatkan orang-orang ini.
Kamijou tidak punya pilihan selain mematuhinya.
Kamijou mulai melompat turun dari mobil, tapi seseorang menarik kerah belakang lehernya. Itu adalah Misaka Mikoto.
“Jangan kemana-mana.”
Mobil itu jelas bergerak. Tapi bergerak dengan stabil, tidak seperti saat sedang tertarik arus berlumpur ke samping. Apakah itu karena Kamijou bisa merasakan kehendak manusia di baliknya? Gadis itu pasti telah mengendalikannya secara magnetis.
Begitu lepas dari daratan, mobil itu pun hanyut mengikuti arus seperti perahu.
Sesuatu melintas di atas kepala. Kamijou secara naluriah pun mendongak... dan merasakan jantungnya membeku ketika dia menyadari bahwa itu adalah kabel listrik. Tepatnya, kabel-kabel tegangan tinggi terbuka seperti yang digunakan oleh kebanyakan trem.
“Apa ada trem retro yang beroperasi di area ini? Apa yang akan terjadi pada kita jika kabel itu putus dan jatuh ke air?”
“Kau sedang arung jeram bersama sumber daya listrik satu miliar volt, tapi kau masih mengkhawatirkan hal remeh seperti itu?” tanya Mikoto.
Mobil uap itu menabrak tangga di bagian bawah jembatan penyeberangan pejalan kaki.
Bagaimanapun, tanahnya tertutup air berlumpur, jadi meskipun mereka berhenti di samping gedung, pintunya tidak akan terbuka. Sebagai gantinya, Kamijou, Index, Mikoto, dan Kanzaki bergegas masuk ke tempat yang tampak seperti mall melalui pintu masuk lantai dua.
Kanzaki berteriak ke benda yang tampak seperti jimat kertas.
“Efek sihir pendinginnya akan berakhir, jadi semuanya masuklah ke dalam gedung yang kokoh! Tinggal 10 detik lagi!!”
Hitungan mundurnya tepat.
Uap putih sekali lagi menguasai dunia. Di sisi lain pintu kaca adalah dunia uap mematikan yang akan seketika merebus manusia dengan suhu lebih dari 400 derajat Celsius.
“Meskipun ini kaca keamanan tempered, pintunya bisa pecah kapan saja. Ayo pindah lebih jauh ke atas.”
“Bagaimana dengan Coronzon?”
Sementara mereka menangani misi sampingan ini, Coronzon bebas bertindak.
Mereka telah memberi Coronzon waktu.
Jadi apakah Coronzon sudah melewati tembok kota?
Jika Coronzon lepas ke dunia luar, bisakah mereka menemukannya?
Kamijou merasa semakin khawatir.
Tapi kemudian...
“Ksshh... ei…”
Kamijou mendengar sesuatu.
Itu sebuah suara. Dari radio kecil yang dipegang Kanzaki.
“Hei! Tolong dengar. Ini ruang kontrol uap umum Central Boiler. Kami entah bagaimana berhasil menjaga sisa boiler agar tidak meledak. Kami memegang kendali tekanan, jadi tidak ada lagi kekhawatiran uap akan bocor keluar! Oh, tapi panggil pemadam kebakaran dan suruh mereka bergegas!! Petugas Anti-Skill yang membantu kami belum kembali!!”
“Oh, diamlah. Aku masih hidup. Dasar, jika kalian punya pakaian tahan api untuk pekerjaan las, kalian seharusnya memberitahuku lebih awal. Aku hampir mati, tahu.”
Kamijou melihat ke luar... dan benar saja. Kepadatan uap telah turun menjadi tidak lebih dari sekedar kabut tipis. pemandangan di luar terlihat jelas. Sekarang adalah malam Januari bersalju dan dingin. Jadi tanpa uap tambahan, suhunya akan mendingin dengan sendirinya.
Kamijou dan yang lainnya mencoba keluar.
Rasanya seperti sauna. Suhu panas dan juga lembap terasa seakan ini bukan di bulan Januari. Tapi itu tidak cukup untuk membakar mereka. Dan sungai berlumpur itu pun sudah hilang.
Othinus melihat sekeliling dari bahu Kamijou.
“Sepertinya kita bisa berjalan-jalan di luar sekarang.”
“Mungkin karena panasnya. Tumpukan salju merah di tanah sekarang sudah hilang.”
Mungkin karena kombinasi antara sungai berlumpur dan juga sauna. Apa pun itu, Distrik 19 sekarang sudah bersih.
“Dungu.”
“Senseiiiii!”
Yang lainnya menyusul mereka dalam uap yang mengganggu.
Dan kembali berkumpulnya mereka menandakan bahwa si gadis kecil telah berhasil dipersatukan kembali dengan orang tuanya. Reuni itu berwujud pelukan penuh air mata.
Uap tidak lagi menjadi masalah. Itu adalah kabar baik. Tapi ada kabar buruknya.
Mereka kehilangan jejak Coronzon. Dan mereka tidak memiliki petunjuk.
Egonya harus dibayar mahal.
Atau begitulah yang Kamijou pikirkan, tapi dia salah.
Ada banyak orang yang telah berjuang.
“Lalu,” kata sebuah suara di radio. “Kami punya laporan dari sekitar tembok. Kalian mengejar buronan itu, kan? Aku tidak tahu siapa yang kalian kejar, tapi untuk saat ini belum ada yang melewati tembok. Aku yakin betul.”
“Eh?”
Berbagai suara mulai saling berbicara.
Sepertinya ada lebih dari satu orang di ujung radio.
“Sebuah tim peneliti universitas masih mengumpulkan data, bahkan dalam situasi begini. Mereka menjalankan eksperimen mikroskopis dan makroskopis di mana mereka menyebarkan uap lengket dengan retensi air tinggi di area yang luas untuk melihat apakah itu akan secara efisien menempel pada polutan di udara, memungkinkan mereka untuk diambil. Apa yang penting bagi kalian adalah bahwa mereka bisa tahu jika seseorang mendekati tembok kota dari perubahan distribusi uap. Tapi mereka tidak melihat apa-apa.”
“Siapa pun itu, dia pasti masih ada di dalam kota. Dan jika orang itu tidak ada di sana, orang itu pasti berbalik dan pergi ke distrik lain. Cepat dan tangkap orang itu. Kami lebih suka keadaan menjadi damai.”
“Apa? Ketua terjebak di dalam mobil? Mampus. Dia meninggalkan posnya tanpa mengambil cuti, jadi beri tahu dia jika dia benar-benar ingin melindungi orang-orang, dia perlu melakukan pekerjaannya. Jika dia sendirian, aku akan meninggalkannya di luar sana, tapi istri dan putrinya tidak salah apa-apa, jadi kurasa kita harus menolongnya!!”
“Coronzon... tidak mendekati tembok kota?”
Itu tidak terdengar nyata bahkan saat Kamijou mengucapkan kata-kata tersebut.
Tapi itu memang kenyataannya.
...Ini belum berakhir.
Tujuannya teralihkan. Mengambil jalan memutar. Menempatkan seluruh bumi dalam bahaya. ...Meski begitu, itu bukan hal yang sia-sia. Perbuatan baik dan kebaikan sekecil apapun jika berkumpul akan menghasilkan sesuatu yang besar.
Karena kelompok Kamijou telah bertindak tanpa pamrih, sekarang orang-orang lain juga bertindak tanpa pamrih sebagai balasannya.
Mereka saling mengulurkan tangan.
Lingkar kerja sama pun meluas.
Ini adalah senjata yang mereka miliki dan Coronzon tidak. ...Atau mungkin Coronzon bisa hancur justru karena dia tidak mampu mendapatkan senjata itu.
Apa pun itu, ini belum berakhir.
Jika Coronzon belum melewati tembok kota, maka mereka masih bisa mengejarnya!
Kemudian seseorang dengan pelan menyuarakan pertanyaan.
Seseorang itu adalah Misaka Mikoto.
“Tapi kenapa si Coronzon itu malah menjauh dari tembok kota?”
“?”
“Bukankah sudah naluri manusia untuk berlari di sepanjang tembok saat ia sedang melarikan diri? Lagian temboknya ada di depannya dan jika dia berhasil melewatinya, dia menang. Tapi si Coronzon ini tidak ragu untuk menjauh dari tembok. Kok bisa dia malah menjauh. Jika Dia pergi ke pusat kota, itu hanya akan membuatnya terpojok. Apa untungnya buat dia?”
Kalau dipikir-pikir, benar juga...
“Coronzon sebenarnya berusaha melarikan diri... kan?” tanya Kamijou.
“Ya, benar,” kata Othinus. “Tidak ingin tertangkap mungkin yang menjadi fokusnya sekarang, tapi dia pasti punya tujuan. Jadi meninggalkan Academy City adalah prioritas pertamanya, bukan?”
“Tapi tindakannya sangat bertentangan.” Kihara Noukan bergabung dalam percakapan. “Mendekati pusat kota dan memperpanjang waktunya di kota seharusnya hanya meningkatkan risiko dia tertangkap.”
“Temboknya sendiri mungkin sebenarnya tidak penting,” potong Index. Gadis sisi sihir memberikan sudut pandang yang sama sekali berbeda dari Kamijou dan Mikoto.
“Seperti yang sudah kau katakan sebelumnya, Touma. Iblis Agung Coronzon bukanlah manusia.”
“...?”
Tindakan Coronzon tidak konsisten.
Itu masuk akal karena melarikan diri setelah Adikalika gagal bukanlah rencana awalnya.
Setidaknya, ini semua bukan rencana besar yang dia buat untuk menipu Kamijou dan yang lainnya.
Jadi jika mereka ingin menghentikannya, mereka harus lebih dulu memikirkan ide apa yang akan Coronzon jalankan. Mereka adalah pengejar. Jika mereka mengabaikan satu hal saja, maka Coronzon akan memanfaatkannya untuk menyelinap pergi.
Dalam artian, Index membawa mereka selangkah lebih dekat ke Coronzon.
“Jika kita menganggapnya sebagai kumpulan Telesma... maka dia sebenarnya tidak perlu melewati tembok fisik untuk meninggalkan Academy City. Dia hanya harus memecah dirinya menjadi massa energi.”
“Hei, tunggu sebentar…”
Asumsi Kamijou telah runtuh.
Apakah itu benar-benar sebuah opsi?
Bisakah kita memasukkan logika baru ini ke dalam pertimbangan?!
“Apa kau mau bilang kalau Coronzon bisa mengirim dirinya sendiri, dan tubuh fisiknya, lewat gas kota ataupun saluran air?!”
“Aku tidak tahu apa itu gas kota, tapi bisa jadi.” kata Index. Dengan percaya diri. “Jika dia menumpang pada ley line — urat bumi atau jalur energi raksasa yang mengalir di bawah tanah — dia tidak hanya bisa melarikan diri dari kota, dia juga bisa berpindah ke sisi lain planet ini!!”
Lereng Ilahi, Buku Terlarang.
Magical_Exit.
Bagian 1
Di Distrik 7 Academy City, seseorang masih terus bertarung tanpa henti, terpisah dari inti insiden.
Orang itu adalah Dion Fortune.
“Ahhh, mereka melupakanku… Aku tahu mereka meninggalkanku!! Mereka pasti sudah melakukan sesuatu terhadap Adikalika karena Bumi masih utuh, tapi tidak bisakah mereka bantu aku dulu sebelum pergi melancarkan serangan bersama-sama? Secara teknis aku ini uskup agung loh, puncak Gereja Anglikan?!”
Srak srak!!
Suara gesekan terdengar dari jarak dekat. Seekor kucing hitam raksasa setinggi lebih dari dua meter berdiri di sana.
Binatang aneh itu tampak seperti gambaran cat hitam dan ditunggangi oleh seorang penyihir yang mengenakan pakaian berkabung.
Moina Mathers.
Dia tak diragukan lagi adalah lawan yang tangguh. Bagaimanapun, anggota resmi cabal Golden — yang pernah disebut sebagai cabal terbesar di dunia — itu telah bertarung selama berjam-jam, tapi pertempuran itu masih belum berakhir. Meskipun bisa menewaskan penyihir biasa kelas atas dalam sekejap.
(Ini gawat. Aku tahu Coronzon adalah prioritas utama kami, tapi aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja.)
Musuh tidak berkata apa-apa.
Duduk di atas kucing hitam yang tingginya lebih dari dua meter, Moina Mathers membuat beberapa gerakan rumit dengan ujung jarinya.
Seperti trik sulap, kartu yang tak terhitung jumlahnya muncul dan kemudian terpaku di udara.
Kartu-kartu itu tidak serumit tarot. Kartu-kartu itu hanya menggambarkan kombinasi simbol dasar seperti lingkaran dan segitiga.
Kartu-kartu ini dapat mengekspresikan apa pun di dunia menggunakan kombinasi elemen primer dan elemen sekunder.
Mata Dion Fortune membelalak saat melihat warna-warna yang menari itu.
“Geh, apakah itu kartu tattva?!”
Bibir wanita berpakaian berkabung itu bergerak-gerak.
Lalu berucap.
“Apas Tejas.”
Dwooom!!!
Bola api berdiameter lebih dari satu meter pun melahap oksigen dan melesat ke arah Dion Fortune.
Ini telah disebutkan dalam teks resmi cabal Golden, tapi sebenarnya itu adalah teks kontroversial yang pernah diadopsi secara resmi pada satu titik tapi kemudian ditolak oleh cabal. (Dari perspektif Eropa Barat pada abad ke-19,) India, Tibet, dan Timur secara umum adalah utopia keajaiban dan hal-hal mistis!
…Tapi Mathers membenci pandangan tersebut, jadi dia mengambil langkah yang tidak biasa dengan menulis peringatan serius terhadap penggunaan tattva karena asal-usul Timurnya.
(Seorang seniman dan peramal. Nyonya ini tampaknya telah menulis berbagai hal yang berkaitan dengan tattva.)
Tapi, bola api itu mendekat cukup lambat hingga bisa terbaca.
Dion Fortune mengacungkan kotak hitamnya ke depan.
Saat sihir memasuki spiritual item itu, datanya akan diatur ulang secara acak, dan mengubahnya menjadi sesuatu yang berbeda. Itu berarti benda itu bisa merampas daya serang sihirnya, tapi…
(Apa sang Moina Mathers merasa cukup dengan massa ledak yang bergerak selambat ini? Tidak mungkin. Dia pasti sengaja menggabungkan beberapa elemen dalam satu sihir, jadi jika kotakku memakan elemen primer Tejas, elemen sekunder Apas mungkin masih akan meledak?)
“Wahhh!!”
Dion Fortune tidak boleh membiarkan dirinya tertangkap oleh umpan yang begitu jelas.
Dia dengan cepat menjatuhkan diri ke salju merah untuk menghindar.
Bola api itu lewat sedikit di atas kepalanya sebelum meledak dan menumbangkan turbin angin di belakangnya.
Dengan tattva, dunia dianggap dibangun dari lima elemen sederhana, tapi sangat sulit untuk mengekstrak elemen-elemen tersebut dalam bentuk murninya. Makanya elemen-elemen tersebut digunakan dalam kombinasi, seperti Apas Tejas atau Prithivi Vayu.
|Lima elemen yaitu: Apas(Air), Tejas(Api), Prithivi(Bumi), Vayu(Udara), Akasha(Eter atau ruang)
(Ini semacam versi lain dari Panas dan Kering atau Dingin dan Basah milik Mathers si pencinta Barat!)
Dion Fortune mengangkat kepalanya dari salju merah dan berteriak.
“Argh, tattva, ya?! Apa kau sengaja menggunakan keraguan dan penyimpangan suamimu sebagai senjata?! Kejam sekali, istri macam apa kau ini?!”
Kemudian…
(Jika pion yang diciptakan oleh Coronzon bisa menggunakan tattva, maka Coronzon juga pasti tahu cara menggunakannya.)
Dion Fortune punya firasat buruk tentang ini.
Kartu tattva menggambarkan kombinasi elemen primer dan elemen sekunder.
Itu adalah spiritual item yang memberikan dukungan visual untuk mengirim pikiran seseorang ke keadaan yang lebih dalam.
Moina menggunakannya secara fisik dan ofensif, tapi dia melakukan itu dengan mendorong pikirannya sendiri untuk mengekstrak mantra yang diperlukan dari dalam dirinya.
Hal itu membuat tattva menjadi alat yang dikhususkan untuk memanipulasi energi non-fisik dan memecah dunia menjadi lima elemen sekaligus mengendalikannya.
Apa hal terburuk yang bisa dilakukan iblis non-manusia menggunakan tattva?
Dion Fortune tahu jawabannya.
“Gawat. Jika dia memecah dirinya sendiri menjadi elemen-elemen komponennya dan mengubahnya kembali menjadi energi Telesma murni… dia bisa melarikan diri ke mana saja di Bumi melalui ley line!!”
Bagian 2
Mereka kembali masuk ke dalam mall agar bisa keluar dari dinginnya bulan Januari sambil berpikir.
Coronzon mencoba melarikan diri secara magis dari Academy City menggunakan sesuatu yang disebut ley line, dan bukan melintasi tembok secara fisik.
Kamijou dan yang lainnya sekarang sudah tahu.
Tapi di mana dia akan melakukan ritual besar tersebut?
Setelah mereka kehilangan jejak Coronzon, mereka harus kembali mengejarnya.
Tapi bagaimana caranya?
Mereka bahkan tidak tahu ke distrik mana Coronzon melarikan diri.
“Si gadis bisa bantu!” Alice Anotherbible menawarkan diri. “Si gadis bisa meramal lokasinya! Tapi, tapi! Si gadis bakal kesepian kalau harus melakukannya sendirian, jadi bisakah seseorang yang ahli sihir membantu si gadis?”
Pernyataan itu mencoret Kamijou dari daftar. Imagine Breaker tidak akan pernah bisa membantu hal semacam ini. Dan Mikoto pun tampak enggan untuk mengandalkan sebuah ramalan, jadi dia juga tidak ikutan.
…Tapi Kamijou tidak bisa membaca sikap Takitsubo. Dia selalu memasang ekspresi kosong dan Kamijou tidak tahu apakah matanya yang menatap itu adalah tanda setuju atau menolak.
Bocah berambut jabrik yang berada di area pakaian wanita pun merasa heran sambil memiringkan kepalanya.
“Eh? Kau bisa menggunakan Alice in Wonderland untuk meramal?”
“Kau bisa menggunakan buku apa saja, Touma. Apa kau tidak pernah dengar tentang bibliomansi? Membalik halaman buku tebal dan meletakkan jarimu di halaman acak. Lalu terapkan kata-kata yang kau temukan di sana ke masalah yang kau hadapi untuk menemukan solusinya.”
Ya mana Kamijou tahu?
Di bahu Kamijou, Othinus melanjutkan pembicaraan seolah semua ini adalah hal yang umum.
“Sebagai karya sastra absurd, Alice’s Adventures in Wonderland cenderung dikaitkan dengan hal-hal mistis, termasuk jenis ramalan semacam ini.”
“Jadi, Touma, itu seharusnya cocok untuk meramal. Lagian sudah terkenal juga kok.”
“Bukan itu yang mau si gadis lakukan! Kita ingin tahu ke mana harus pergi, kan? Itu berarti kita butuh angka dari 1 sampai 23, bukan kutipan sastra.”
Jadi berdasarkan nomor distrik?
Tapi bagaimana cara menggunakan Alice’s Adventures in Wonderland untuk mencari angka?
“Pakai kartu remi.” kata Anna Sprengel dengan jengkel.
Kejengkelannya tidak ditujukan pada Alice atas saran tersebut.
Itu ditujukan pada Kamijou karena tidak langsung menyadarinya. Dan terlihat kalau Anna sangat jengkel.
“Dungu. Pada dasarnya, judi sering dikaitkan dengan ramalan. Tidak terkecuali kartu remi. Sebagai contoh yang familiar, bermain soliter sendirian saja sudah merupakan kegiatan meramal.”
Tampaknya ini adalah versi soliter yang sedikit lebih rumit.
Alice menepuk tangannya dan merentangkannya, menyebabkan kartu remi berhamburan dari telapak tangannya. Berserakan di atas etalase kaca.
Index dan Anna Sprengel bergabung dengan Alice dan merapikan kartu-kartu tersebut.
Setelah membentuk beberapa segitiga yang mengingatkan pada formasi pin boling, Alice menjentikkan kartu yang tidak diperlukan, membentuk segitiga baru… dan mengulangi prosesnya beberapa kali.
“Manusia. Tidak penting mau itu hati ataupun sekop, fokuslah pada angkanya,” saran Othinus dari bahu Kamijou.
Pada akhirnya, hanya dua kartu yang tersisa.
Index pun mengidentifikasinya.
“10 dan 10.”
“Tunggu, jadi itu jawabannya? Tapi kalau itu Distrik 10, kenapa ada dua?”
“Jika kau terburu-buru menyimpulkan dalam ketidaktahuanmu, aku akan menginjak selangkanganmu, Dungu. Jawabannya pasti hanya ada satu. Kartu remi hanya ada 1 sampai 13, jadi satu kartu tidak bisa menunjukkan angka lebih tinggi dari itu. Dan kartu remi tidak punya nol. Jadi ini satu-satunya cara untuk mengeluarkan jawabannya.”
“Ini jawabannya. Kau hanya perlu menjumlahkan kedua angkanya.”
“Kalau begitu… Coronzon ada di Distrik 20?”
Begitu Kamijou mengatakannya, tampak berpikir…
Bwom-bzzrt!!!
“Uwah?!” teriak Index.
Suara gemuruh itu cukup keras sampai bisa membuat tersentak bahkan dari kejauhan. Ledakannya menyerupai percikan listrik.
Kamijou tidak bisa memastikannya, tapi apakah ini benar-benar aman? Jika Anna Sprengel tidak meraih tangan Index dan menariknya menjauh di detik terakhir, apakah mereka berdua akan berubah menjadi arang?
Alice Anotherbible, bagaimanapun, hanya tersenyum.
Hanya dia yang tak terpengaruh setelah terpapar daya yang besar.
“Yay, sekarang kita tahu ke mana harus pergi!”
“…”
Alice benar-benar istimewa. Kekuatannya memang sudah luar biasa, tapi memasukkannya ke dalam sihir biasa bisa berakhir buruk. Meski itu normal bagi Alice, tapi semua orang harus menahan kekuatan yang menakutkan tersebut.
Bagian 3
“Ughhh, laparnya… Kalian Amakusa punya barang-barang khas Timur untuk penyamaran kalian, kan? Ayo dong lakuin Mangkuk Terbang.”
“Mangkuk Terbang tidak sama seperti kurir sepeda berbasis aplikasi. Ini, Index, aku punya cokelat batangan.”
“Yay!” teriak Index, mengangkat tangannya merayakan dan berlari untuk camilan larut malam. Saat itu sudah lewat jam 1 pagi.
Apakah dia tidak merasa bersalah makan cokelat di jam segini?
Kebingungan Kamijou yang terlihat jelas memancing desahan jengkel dari Othinus di bahunya.
“Mangkuk Terbang adalah sihir yang digunakan biksu Buddha di pegunungan untuk mengirim mangkuk sedekahan mereka dengan menerbangkannya ke kota untuk pindapata. Dan karena aku tahu kau akan bertanya, pindapata adalah praktik orang-orang menawarkan makanan kepada para biksu.”
“Tunggu, jadi ada sihir yang bisa mengantar makanan?”
“Jadi ide dasar drone pengantar makanan sudah ada selama berabad-abad? Hanya saja butuh waktu lama untuk mewujudkannya dengan fisika dan sains.”
Mikoto terdengar terkesan dengan caranya sendiri. Juga, pindapata adalah bentuk amal, jadi itu gratis.
Orang-orang kuno benar-benar punya ide-ide yang bagus.
Kamijou mulai sadar kalau mungkin dia sudah cukup pulih secara mental sampai dia bisa menggunakan imajinasinya kembali.
Mereka belum kehilangan jejak Coronzon. Masih ada harapan.
Di sini, di Distrik 20.
Index memiringkan kepalanya.
“Hei, Touma? Di distrik ini isinya ada apa saja?”
“Aku rasa sebagian besar barang olahraga. Bisbol, sepak bola, basket, dan banyak lagi.”
“Bukan cuma lapangan dan arena saja. Tempat ini penuh dengan stadion berkubah dan stadion tanpa kubah, termasuk kolam renang dalam ruangan dan gelanggang es,” jelas Mikoto yang mengenakan pakaian berkabung.
Takitsubo sedang melihat peta panduan di dekatnya. Dengan kepala miring.
Takitsubo memang mengenakan pakaian olahraga, tapi dia mungkin bukan orang yang sangat atletis.
“Ini bisa menyediakan banyak lokasi untuk menyembunyikan ritual berskala besar,” kata Kanzaki, menyembunyikan frustrasi di balik nada sopannya.
Kanzaki mungkin menyadari betapa sulitnya pencarian ini nantinya.
“Jika Ketua Dewan Accelerator sudah sadar, kita bisa menggunakan satelit,” kata Kihara Noukan.
Itu akan sangat membantu. Citra satelit bisa mengeliminasi setiap stadion tanpa kubah, tapi mereka tidak memiliki aksesnya sekarang.
Jadi mereka harus melakukannya sendiri.
Berbeda seperti sebelumnya di mana ada batas yang jelas yaitu tembok kota, sekarang Coronzon berencana melarikan diri dari kota dengan melebur ke dalam… ley line? Yah, ke dalam bumi. Kamijou tidak tahu banyak tentang sihir untuk menebak berapa lama waktu yang dibutuhkan.
Tapi jika mereka tidak segera menemukan Coronzon, mereka bisa terlambat.
Ketidaktahuan hanya membuat mereka semakin gelisah.
Tapi, memeriksa setiap stadion di seluruh distrik akan sangat tidak efisien. Karena semuanya tampak sama sejauh mata memandang. Dan juga bangunan-bangunan ikonik juga perlu dipertimbangkan.
“Kami juga sudah sampai di Distrik 20.”
Kamijou mendengar sebuah suara, sementara Kanzaki menempelkan sesuatu ke telinganya.
“A-apa itu? Dari tadi kok ada yang aneh… aku yakin itu bukan ponsel!”
“Ini spiritual item untuk komunikasi.”
Penjelasan Index mungkin tidak menjelaskan apa pun buat Mikoto.
Terdengar suara Bologna Succubus dari kertas jimat? Atau Spiritual item? Yang dipegang oleh Kanzaki. Tampaknya para Amakusa menempelkannya di bagian belakang ponsel agar tidak mencolok.
“Hei, tim pemburu penyihir, beri tahu bocah itu kalau tak ada yang bisa dilaporkan dari atas sini. Tidak ada tanda-tanda Coronzon. …Helikopter Anti-Skill sudah pergi, jadi apa kami satu-satunya yang ada di udara sekarang?”
“Setelah semua yang terjadi di Distrik 19, aku kira kami akan sibuk memberikan bantuan bencana atau mengangkut perbekalan dari udara.”
Percakapan tiba-tiba berakhir setelah komentar dari Blodeuwedd the Bouquet, yang mungkin sedang bergelantungan bersama Bologna Succubus.
Dum dum dum dum!!
Komunikasi terputus oleh suara dahsyat yang membuat Kamijou menutup telinganya.
“Apa itu?!”
“Sihir intersep,” gumam Othinus.
“Terbang dengan sihir memang terlalu berbahaya!” teriak Index.
“Ksshh! Kami dijatuhkan oleh sihir intersep, tapi itu berarti dia ada di dekat sini. Coronzon pasti ada di Distrik 20!! Dan jika dia tidak ingin kami memata-matai dari langit, ksshh, berarti dia tidak berada di stadion berkubah atau arena dalam ruangan! Jadi cari stadion luar ruangan yang tidak tertutup apa-apa!!”
“Hei! Kalian jatuh, kan?! Apa kalian baik-baik saja?! Tolong jawab!”
“Aku tidak tahu apa yang kau harapkan dari iblis sepertiku, tapi hentikan. Kami memang sudah tidak bisa terbang lagi, tapi kami akan segera menyusul. Kami bisa lari di tanah, jadi jangan khawatir!!”
“Sialan, dasar iblis seks. Aku tahu mantelku kuat, tapi singkirkan pantatmu dari situ! Kiiii! Kau tidak memenuhi syarat keselamatanku, jadi jangan pakai aku sebagai kursi!!”
Mereka tampaknya baik-baik saja.
Suara perkelahian yang terdengar menunjukkan kalau mereka tidak terluka.
Di luar itu, Coronzon sendiri sudah bereaksi. Itu memberi mereka peluang besar sebagai pengejar. Mereka tidak boleh menyia-nyiakannya.
“Fasilitas olahraga tanpa atap yang menutupinya. Jadi pasti salah satu stadion tanpa kubah. Yang berarti…”
“Olahraga yang berbeda memiliki makna magis yang berbeda pula,” kata Index.
“Kalau begitu gimana dengan sepak bola?”
“Sebuah festival yang diadakan di Inggris sejak zaman kuno. Itu adalah asal dari semua bentuk sepak bola. Tentu saja, festival dari abad ke-12 akan 100% Kristen atau telah menggabungkan aspek mitos atau acara keagamaan lain seperti May Day atau Halloween.”
Pertanyaan santai Kamijou mendapat jawaban yang cukup panjang.
Tapi tentu saja Index punya alasan.
“Tapi kalau bicara soal olahraga dan stadion, maka ini jawabannya. Yunani Kuno. Semua orang di dunia tahu acara olahraga di mana orang-orang saling bersaing memperebutkan medali emas, tapi itu awalnya diadakan di tempat suci Zeus. Itu dimaksudkan sebagai persembahan kepada para dewa yang dipimpin oleh Zeus.”
“Yah, jika kita tukar nama itu dengan Jupiter, maka ada banyak di Roma,” kata Agnese.
Pengetahuan Kamijou tentang mitologi Yunani tidak jauh dari "hal yang digunakan untuk ramalan bintang di berita pagi". Iblis Agung Coronzon itu sebenarnya dari kalangan mana? Dengan semua pembicaraan tentang pemberontakan melawan Tuhan, Kamijou berasumsi kalau Coronzon merupakan iblis Kristen, tapi bisakah Coronzon menggunakan teknik dari mitologi Yunani?
Mikoto dan si anjing golden retriever mundur selangkah ketika topik ini muncul.
Jadi Index-lah yang merespons dengan fasih.
“Penyihir Crowley berkata kalau tidak ada yang namanya iblis.”
“Tunggu, tapi dia sendiri yang menyebutnya Iblis Agung Coronzon.”
“Dia juga berkata tidak ada iblis murni. Dia berkata 'iblis' adalah kata yang digunakan ketika mereka ingin mencemooh dewa-dewa dari orang yang mereka benci.”
“…”
Ya, memandang dunia secara sinis., Itu cara berpikir yang sangat manusiawi.
Tapi kalau begitu logikanya maka…
“Bisakah Iblis Agung Coronzon disebut sebagai Dewa Agung oleh agama lain?”
“Dungu. Bahkan Mathers menolak gagasan itu. Dia menyebut Coronzon sebagai kejahatan absolut bagi seluruh umat manusia bahkan bagi setiap mitos dan legenda.”
“Tapi Crowley mendukung gagasan bahwa dia adalah kejahatan relatif yang tampak jahat dari sudut pandang tertentu.”
Kejahatan murni yang hanya melakukan kejahatan.
Bisakah makhluk seperti itu ada?
Baginya itu terdengar seperti magnet yang hanya punya kutub utara.
“Orang-orang di sisi jahat cenderung ketat soal aturan, bukan?” kata Takitsubo. “Mereka punya banyak aturan yang tidak bisa diganggu gugat dan ikatan kuat terhadap rekan-rekannya. Mugino juga seperti itu. Jika Coronzon memang jahat tapi tidak butuh pilar itu, maka dia benar-benar bukan manusia.”
Tapi Coronzon sendiri percaya kalau aturan itu memang ada. Yang mana itulah yang menjadi sumber kebenciannya. Dia percaya kekuatan besarnya adalah "distorsi" abnormal yang sangat mirip dengan monopole magnet. Dia pikir itu hanya bisa mencerai-beraikan orang-orang. Dia pikir itu menyimpang dan salah, jadi sekeras apa pun usahanya, dia tidak pernah bisa bangga pada dirinya sendiri.
…Jika dia bisa, semua ini tidak akan pernah terjadi.
Entah teori Aleister benar atau tidak, tapi Othinus sampai pada kesimpulan.
“Karena dia adalah iblis yang tidak mengikuti aturan, dia mungkin bisa menggunakan teknik dan bidang yang ditolak oleh Kekristenan. Aturan tidak mengikatnya.”
Mikoto meletakkan tangan di pinggulnya dan mengajukan pertanyaan pada Index.
“Aku tidak mengerti segala bahasan soal okultisme ini, jadi intinya dia ada dimana?”
“Jika dia menggunakan simbol Zeus, maka stadion atletik jawabannya. Simbolnya adalah langit, guntur, pegunungan, kebapakan, dan banyak lagi. Dia dewa paling penting, jadi dia punya banyak atribut. Tapi dalam kasus ini, tidak banyak simbol yang bisa digunakan Coronzon untuk mantranya.”
Kamijou bahkan tidak sempat bertanya alasannya.
Di saat-saat seperti ini, Index adalah bintangnya.
“Zeus umumnya adalah dewa langit. Tapi Coronzon menginginkan cara untuk mengendalikan ley line di tanah, yang merupakan kebalikannya. Jadi kita bisa mengabaikan hampir semua atributnya.”
“Hm? Jika memang berkebalikan, kenapa dia menggunakan Zeus?” tanya Kamijou.
Othinus dan Index keduanya menjawab.
“Begini, manusia. Dia adalah dewa tertinggi. Dia sangat kuat sampai-sampai tidak bisa diabaikan begitu saja.”
“Di distrik yang penuh akan stadion atletik tapi tidak mengandalkan Zeus sama saja seperti mencoba memenangkan pertandingan sepak bola tanpa pernah menyentuh bolanya.”
Itu masuk akal.
Zeus adalah dewa yang cukup terkenal bahkan sampai Kamijou mengenalnya (dari manga dan gim), jadi kekuatannya jelas luar biasa. Coronzon ingin memanfaatkannya, tapi karena Zeus berkebalikan dengan apa yang dia inginkan saat ini, makanya dia butuh konektor untuk menghubungkan Zeus dengan rencananya.
…Kurang lebih mungkin seperti itu.
Kamijou merasa situasinya mirip dengan buronan yang mendapatkan pesawat terbang tapi kesulitan untuk lepas landas.
“Jadi karena Zeus adalah dewa yang sangat penting, dia punya banyak atribut berbeda? Lalu bagian mana dari Zeus yang coba digunakan Coronzon? Kau bilang dia dewa langit, tapi dia butuh atribut yang berhubungan dengan tanah dan bumi, kan? Jadi sebenarnya dia butuh ap—”
“Hujan,” jawab Index segera. “Ada legenda yang mengatakan kalau dunia saat ini begitu penuh dengan dewa dan pahlawan karena Uranus dan Zeus terhubung dengan banyak dewi bumi melalui hujan yang jatuh dari surga. …Touma, apa ada tempat di mana hal itu saling berpotongan? Misalnya, tempat di mana saluran drainase untuk air hujan melintas tepat di bawah stadion atletik?”
Bagian 4
Tempat yang suram.
Ruangan yang besar tapi tak ada dekorasi apa pun. Seperti kotak logam besar. Dan disertai udara yang dingin.
Isabella Theism, seorang Ahli Nekromansi berambut perak dan berkulit gelap, melihat sekeliling.
“Kenapa… aku masih hidup?”
Tidak ada yang menjawabnya.
Kihara Goukei ya namanya? Apa monster biologis itu telah memindahkan musuhnya yang akan mati jika ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan?
Asap rokok tertinggal tipis di udara.
Di balik pintu besi yang terkunci rapat itu ada… Mungkin itu Stiyl Magnus? Dia tidak menunjukkan belas kasihan. Jika Isabella mengambil tindakan ceroboh, Stiyl tidak akan ragu untuk membakarnya dengan api bersuhu 3000 derajat.
(Pendeta Voodoo sejati tampaknya kebal terhadap api, tapi aku hanya memanfaatkan sebagian tekniknya saja, aku belum menguasainya sampai sejauh itu.)
Lagipula, tidak ada celah di pintu logam tebal itu. Kemungkinan besar pintu itu sudah dilas oleh api 3000 derajat. Hanya penyihir yang bisa membakar logam yang bisa membuka pintunya.
Isabella mencari-cari di balik kain usangnya untuk memeriksa barang-barangnya. Tidak mengherankan, semua barang yang jelas berbahaya telah disita.
Tapi, kain-kain yang ditambal bersama dari pakaian beberapa orang mati miliknya memiliki banyak saku tersembunyi.
Isabella memasukkan jari ke celah bajunya yang dijahit kasar dan… ya, itu dia.
Sesuatu bergerak di sudut penglihatan Isabella.
“?”
Isabella baru sadar kalau dia tidak sendirian di sini. Orang itu bukanlah pengawas dari orang Anglikan.
Jika iya, orang itu pasti sudah menghentikannya sekarang.
Dengan kata lain, sama seperti Isabella, orang ini juga sedang diawasi.
(Kurangnya vitalitas yang tidak wajar apa ini? Aku berspesialisasi dalam kehidupan dan kematian, bagaimana mungkin aku tidak menyadari keberadaannya.)
“Siapa kau?”
“Hamazura Shiage.”
Bahkan saat orang ini menjawab, dia tampak seperti rumput layu.
Orang ini adalah orang Jepang… tapi dia tidak tampak seperti salah satu dari orang Amakusa yang dibawa Kanzaki Kaori.
Tidak ada aroma sihir pada siswa SMA itu.
Lalu kenapa orang ini ditangkap oleh Anglikan? Dia benar-benar orang biasa… tapi ketidakcocokan dengan lingkungannya membuatnya menjadi pemandangan yang aneh di sini.
(Rasanya seperti ditempatkan di depan bahan-bahan yang terlalu murah.)
Rasanya aneh, tapi jika orang ini tidak menghalangi Isabella, maka tidak ada alasan untuk menyingkirkannya.
Isabella tidak berniat tinggal di penjara ini dengan orang asing.
Isabella mengeluarkan spiritual item — atau sebenarnya, bahan-bahan untuk membuatnya — yang tersembunyi di dalam kain usangnya.
(Ada kemungkinan sihir pemindaian akan mendeteksi energi sihir samar yang memancar dari spiritual item yang sudah jadi… tapi bahan-bahannya sendiri tidak lebih dari barang biasa. Sangat mudah untuk diselundupkan.)
“Apa yang kau lakukan?”
“Kabur. Aku tidak punya urusan di sini.”
Isabella mengeluarkan jeruk nipis kecil. Yang masih menempel pada ranting yang lebih tipis dari batang korek api.
Isabella mengirisnya menjadi dua tanpa pisau dan memeras satu bagian untuk memercikkan airnya ke dinding belakang.
Asap kimia menyembur keluar seolah-olah dia telah menggunakan asam kuat.
Sebuah lubang tampak membesar hingga berdiameter lebih dari dua meter.
Dinding itu tidak lebih dari sebuah logam. Jadi mudah untuk diterobos jika kita memiliki pengetahuan sihir yang tepat. Ditambah lagi, lemon, jeruk nipis, dan buah asam lainnya adalah komponen umum sihir Voodoo. Itu digunakan dalam penawar darurat untuk bubuk zombi dan racun jeruk nipis yang dibuat dengan menggabungkan berbagai racun dan penawar yang ditemukan di jeruk nipis.
“Stiyl… tidak akan menyadarinya. Dengan pintu logam tebal yang tertutup, dia tidak akan bisa mendengar suara apa pun yang kubuat di sini.”
Stiyl memiliki banyak cara untuk menghentikannya andai dia sadar.
Bocah yang tampak seperti preman itu memiliki reaksi yang sangat ringan.
Orang itu dipenjara. Biasanya dia akan langsung pergi begitu ada kesempatan untuk melarikan diri tanpa memikirkan konsekuensinya.
“Maksudku, apa yang mau kau lakukan begitu keluar dari sini?”
“Tidak peduli apa kata orang lain dan tidak peduli betapa buruknya pilihanku… aku akan selalu melakukan apa yang menurutku paling perlu. Saat ini, keperluanku adalah mengalahkan Iblis Agung Coronzon dan membawa stabilitas ke dunia ini.”
Bagian 5
Setelah selesai bicara, wanita berkulit cokelat yang berbau kematian itu pun pergi ke dunia luar.
Dia mungkin memiliki sesuatu untuk dilakukan.
Tidak seperti Hamazura.
(Apa yang harus kulakukan sekarang?)
Hamazura Shiage tidak memiliki motivasi setingkat itu.
Dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya pada Coronzon… dan kalah.
Dia mengkhawatirkan Takitsubo Rikou, tapi dia rasa gadis itu tidak dalam bahaya besar selama gadis itu berada di dalam Academy City.
Bagaimanapun, Takitsubo adalah esper tingkat tinggi yang diteorikan mungkin menjadi Level 5 kedelapan.
Jika Hamazura tidak ingin ada tembakan nyasar, atau tembakan akurat dari penembak jitu yang berpura-pura menjadi tembakan nyasar, mengenai Takitsubo, tindakan terbaik Hamazura selaku buronan adalah menjauh darinya.
Yang berarti…
“Benar. Lalu bagaimana dengan Coronzon?”
Ke mana dia pergi?
Hamazura juga mengkhawatirkannya. Coronzon ingin menghancur-kan dunia busuk saat ini dan menciptakan dunia baru yang bersih. Pasti ada sesuatu yang membuat Coronzon merasa seperti itu. Bagaimana jika dunia ini memang sudah rusak dan tak bisa diperbaiki lagi tapi kerusakan itu tidak terlihat?
Lalu apa sebenarnya yang telah terjadi? Hamazura ingin berbicara dengannya.
Meskipun sebelumnya dia sempat berkata kejam, tapi dia masih ingin hidup bersama Takitsubo.
Jadi Hamazura ingin tahu apa yang akan terjadi kedepannya.
Tapi dalam keadaannya saat ini, bukankah Coronzon harus berada dalam posisi terpojok dulu agar dia bisa mengejarnya? Dia benar-benar ingin Coronzon segera kabur dari kota ini…
Bagian 6
Qliphah Puzzle 545 telah kembali ke penjara Distrik 10.
Fasilitas itu merangkap sebagai markas besar Ketua Dewan yang baru.
Tempat itu dijaga oleh beberapa lapisan pintu baja tebal, jeruji besi, dan segala macam sensor, tapi itu tidak berarti apa-apa bagi iblis buatan yang dapat dengan bebas beralih antara bentuk material dan non-material.
“A-aku kembali.”
Tidak ada jawaban.
Dia mungkin sudah menduganya.
Di sel berpenghuni tunggal, sosok lemah terbaring di tempat tidur.
Dikelilingi oleh peralatan medis.
Satu-satunya suara adalah bunyi bip berirama konstan dan pompa yang mengembang dan mengempis untuk mendorong udara keluar.
…Tubuhnya memang tidak dalam kondisi kerja yang sempurna sejak awal.
Kerusakan otak telah membuatnya bergantung pada tongkat modern dan dia bahkan tidak bisa memahami ucapan manusia tanpa elektroda coker di lehernya.
Meskipun begitu.
Terlalu menyakitkan melihatnya terbaring di tempat tidur seperti itu.
Sang nomor 1 Academy City tidak bisa hidup sendiri.
Dia tetap hidup berkat semua mesin yang terhubung dengannya.
“Master…” panggil gadis iblis itu dengan lemah.
“Pecahan monitor telah menembus setiap bagian tubuhnya.”
Bahkan penjara pun punya dokter.
Penyakit serius tidak membatalkan hukuman tahanan, jadi dalam arti tertentu itu wajar.
Tugas mereka adalah menjaga para tahanan tetap hidup dalam bentuk apa pun itu.
“Beberapa percahan berada tepat di sebelah arteri dan organ utama, membuatnya terlalu berbahaya untuk disentuh. Mengeluarkannya akan sangat sulit… Tapi itu tidak cukup untuk menjelaskan kondisinya. Jika sekedar kehilangan darah sampai membuatnya tidak sadarkan diri, maka transfusi darah seharusnya sudah menunjukkan efeknya sekarang.”
“Aku tahu…”
“?”
Ya, gadis iblis itu tidak punya waktu untuk bersedih.
Ketua Dewan yang baru tidak akan pernah bangun secara alami dalam keadaan ini. Itu sudah jelas pada pandangan pertama, itu sebabnya seseorang perlu mendorong pemulihan secara eksternal.
Luka-luka ini bersifat magis.
Itu adalah bekas serangan dari Iblis Agung Coronzon, makhluk di luar pemahaman manusia.
Itu berarti pengetahuan sihir adalah syarat untuk menyembuhkannya.
(Aku akan menyembuhkanmu, jadi tolong bertahanlah sampai itu terjadi, Master.)
Sesuatu berbunyi bip.
Tapi itu bukan peralatan medis. Itu berasal dari sesuatu seperti interkom di dinding.
Qliphah Puzzle 545 tidak tahu apakah dia punya hak, tapi semua orang mengawasi perangkat itu dari kejauhan dan tidak bergerak untuk menyentuhnya.
Dia tidak punya pilihan selain menekan tombol dan menjawab.
Layar itu menampilkan sekretaris wanita yang familiar yang biasanya membantu mengurus dokumen.
“Ada apa?”
“Kami kedatangan tamu untuk Ketua Dewan. Dia tidak punya janji temu, tapi apakah Anda berkenan menemuinya?”
“Tidak ada janji? Kalau begitu suruh dia per—”
“Dia adalah Oniyama dari Anggota Dewan Kota. Apakah Anda masih akan menolaknya?”
Seorang tamu.
Dan pada saat genting seperti ini.
Qliphah Puzzle 545 menyuruhnya menunggu, tapi ketika dia keluar, lelaki tua itu sudah berada di dalam zona keamanan khusus. Jika lelaki tua itu dibiarkan sendirian, entah seberapa jauh lelaki tua itu akan melangkah.
Semua sipir dan penjaga tampak ketakutan. Tampaknya hanya Iblis buatan itu yang berani berkata-kata.
“Hanya Ketua Dewan yang diizinkan masuk ke sini. Apa yang kau lakukan di sini?!”
“Oniyama Rouze.”
Mata lelaki tua itu dipenuhi hasrat yang terlalu membara bagi seseorang seusianya.
“Aku salah satu dari 12 Dewan Academy City. Jadi aku memiliki wewenang tertentu.”
Kata-katanya meneteskan arogansi.
Salah satu Anggota Dewan Kota? Memangnya kenapa? Hanya karena mereka minoritas, bukan berarti mereka bisa masuk ke tempat ini tanpa izin. Bandingkan saja dengan Gedung Tanpa Jendela saat Aleister masih berada di puncak. Tidak ada yang boleh berada di sini tanpa izin sang pemimpin.
(Apakah Academy City sudah serusak ini?!)
Oniyama adalah Anggota Dewan Kota dengan fokus pada kendaraan, termasuk mobil, kapal, dan pesawat terbang.
Dan ada kecurigaan bahwa dia tertarik untuk berekspansi ke bidang militer.
Militer memiliki spesialisnya sendiri, tapi seseorang yang mengendalikan kekuatan militer dengan tidak bermoral — yakni Shiokishi, Nakimoto dan Neoka — cenderung keluar atau diganti dengan cepat karena sifat tidak bermoralnya. Maka sebuah kesempatan sempurna bagi mereka yang berharap untuk masuk ke bidang tersebut.
Terus terang, Qliphah Puzzle 545 punya firasat buruk tentang kehadirannya.
“Seberapa parah cederanya?”
Lelaki tua itu terlalu santai.
Jika Qliphah Puzzle 545 tidak tahu Iblis Agung Coronzon-lah yang telah melukai Accelerator, maka dia akan mencurigai Lelaki tua ini.
“Kenapa kau ada di sini tanpa membuat janji?”
“Aku di sini untuk memberimu peringatan berharga, jadi jaga nada bicaramu.”
“Masa bodoh, aku hanya punya satu master!!”
“Poinku adalah menjaga martabat mastermu, bukan dirimu. Orang bodoh selalu memotong pembicaraan, jadi berbicara dengan mereka sangat melelahkan.”
Lelaki tua itu tertawa kecil.
Dan kemudian melanjutkan bicaranya.
“Situasinya terlalu mendesak untuk menunggu pemulihan Ketua.”
“Kh.”
“Academy City menggunakan semua pengetahuan sainsnya untuk mencari si pelaku, tapi kita pulang dengan tangan kosong. Jadi, saat ini, situasinya masih belum diketahui. Tidak ada tanda-tanda bahwa keadaan akan membaik jika kita membiarkannya. Seseorang harus segera memegang kendali dan mengambil alih. Sebelum kerusakan serius terjadi.”
Lelaki tua itu mengatakan itu seolah cedera Ketua Dewan yang baru tidak terhitung sebagai "kerusakan serius".
Seolah itu masalah sepele.
Tidak layak dikhawatirkan.
Meskipun pemuncak kota telah diserang secara langsung dan tidak sadarkan diri.
“…Kau terlihat bahagia.”
“Ah, kau bercanda. Aku hanya melakukan pekerjaanku. Jika Ketua tidak dapat memenuhi tugasnya, tidakkah menurutmu wewenangnya harus dialihkan sementara ke pihak ketiga? Aku tidak memintamu untuk menurunkannya dari takhta selamanya melalui pemecatan atau pemakzulan. Aku hanya menyarankan orang lain mengambil alih tugasnya sampai dia siuman.”
“Kau hanya menginginkan Master Key.”
“Ah, ketahuan ya.”
“Jadi, berapa banyak orang yang ingin kau bunuh menggunakan senjata generasi berikutnya itu?!”
Master Key memang tampak seperti ponsel pintar, tapi dapat memberikan wewenang penuh atas segala sesuatu di Academy City.
Benda itu penuh dengan kata sandi, kode, kunci akses, dan data-data semacam itu.
Termasuk untuk fasilitas dan peralatan militer.
Fungsi dan kekuatan militer Academy City pada akhirnya akan pulih. Jika diserahkan kepada orang lain, sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Dan jika jatuh ke tangan Dewan Kota yang cukup tahu tentang diplomasi dan perang, itu bisa mengarah pada peperangan melawan tempat mana pun di planet ini.
Qliphah Puzzle 545 adalah iblis.
Dia tahu betapa bengkoknya dunia ini.
Dan dalam pengetahuannya, dia menaruh harapannya pada sang nomor 1.
Dia telah memutuskan kalau dunia masih layak dilindungi. Jadi dia tidak bisa membiarkan dunia hancur sekarang sementara Ketua Dewan yang baru berada di ambang kematian.
Apa pun yang terjadi.
“Tapi Master Key adalah kekuatan yang berbahaya. Siapa yang bisa kau percayai kalau bukan aku dan pengetahuanku tentang diplomasi dan masalah militer? Kaizumi yang tidak tegas? Oyafune yang pasifis?”
|Paham yang menolak segala bentuk kekerasan dan perang.
“Setidaknya mereka lebih baik darimu…”
“Oh, astaga. Jadi kau selaku penjaga Master Key, tidak tahu betapa berbahayanya itu. Dengar, seseorang yang tidak tahu cara menggunakannya bisa membuatnya lepas kendali. Tidak masalah buatku kalau menyerahkannya ke tangan Ketua Dewan karena dia adalah si nomor 1. Aku yakin bahwa seseorang yang telah membunuh begitu banyak orang akan tahu betul bagaimana menangani ancaman semacam itu. Tapi menyerahkannya ke tangan seseorang yang tidak terbiasa dengan kekuatan mematikan itu justru bisa jadi tindakan bunuh diri. Bunuh diri dalam skala yang akan melibatkan seluruh bumi.”
“Pergilah! Jika kau tidak ingin Ketua Dewan pulih, maka akan kuanggap itu sebagai penghinaan terhadap rantai komando. Aku tidak akan memberimu Master Key. Hanya masterku yang berhak memberikannya kepada orang lain. Jadi silakan pergi sekarang!!”
Lelaki tua itu mundur selangkah tanpa melepaskan pandangannya dari Qliphah Puzzle 545.
Lelaki tua itu tidak terintimidasi.
Senyum di wajahnya menyampaikan pesan yang jelas: Aku bahkan tidak perlu kembali ke sini. Kau yang akan datang sambil menangis kepadaku.
“Memikul tanggung jawab akan Academy City itu berat. Beritahu aku kalau kau mau menyerah.”
“PERGI!!!”
Bagian 7
Langkah kaki tertatih-tatih menembus salju.
Kihara Goukei sempoyongan sambil berlumuran darah.
“Ughh, pusing sekali…”
Dia telah menyelamatkan Urekawa Ousuke, anak ajaib yang lahir dari Academy City, dan kemudian menyerahkan si Ahli Nekromansi bajingan itu kepada Anglikan yang tampaknya telah menginvasi kota (meskipun mereka tidak terlihat seperti tentara?), tapi dia sendiri terluka parah dalam prosesnya.
Tiga cip komputer, dua koloni bakteri, satu kepiting kacang, dan apa lagi? 99% dari bahan rahasia yang memberinya "Sifat Kihara" juga telah hancur.
Dia hanya punya satu jantung yang tersisa. Itu tidak jadi masalah. Semua orang juga wajarnya hanya punya satu.
Dia tidak boleh manja.
Dia kehabisan tenaga, jadi dia butuh nutrisi. Regenerasinya yang kuat justru merugikan dirinya. Kalau terus begini, ujungnya dia akan mengering. Sebelum itu terjadi, dia butuh gula, garam, lemak, protein, kalsium, berbagai vitamin dan mineral, dan masih banyak lagi.
(Kenapa sih semua restoran harus tutup lebih awal hari ini deyansu? Padahal biasanya juga ada izakaya atau restoran keluarga yang buka.)
“Oh.”
Dia melihat mesin penjual otomatis.
Layar kecil yang menyala bersinar terang di kegelapan. Benda itu benar-benar memiliki daya.
(Ya ya. Mesin penjual otomatis dirancang dengan cerdik agar terus berfungsi bahkan setelah terjadi kebakaran atau bencana lainnya. Oh, aku selamat deyansu.)
Dan mesinnya bukan berisi minuman atau roti. Isinya adalah varietas unik yang jarang kita temui. Lebih tepatnya, mesin penjual otomatis unik yang menjual barang-barang seperti makanan wagyu sukiyaki di pinggir jalan. Dan salah satu foto sampel besar di mesin ini terpampang…
“Di malam dingin dengan napas yang terlihat ini, aku menemukan… ramen!! Oh, sungguh sangat berdosa. Tapi aku harus melakukannya untuk mendapatkan kembali apa yang telah hilang dari tubuhku deyansu. Leganya saat punya alasan untuk memakannya. Hwa ha ha ha ha ha! Lihatlah, dunia!! Aku memilih tonkotsu ramen panas deyansu!! Rasanya bagai terbebas dari segala rasa bersalah saat kutelan makanan tidak sehat ini di tengah malam!!!”
Bahkan di antara para Kihara, menghadapi kematian sendiri adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh orang aneh. Untung mesin penjual otomatis itu menerima transaksi dengan kartu kereta. …Sebab semua uang kertasnya sudah menyerap banyak darah.
Suara klung datang dari mesin.
(Oh, itu terdengar lebih padat dari yang kubayangkan.)
Dia kira mesin penjual mie ini akan mirip seperti mesin penjual kopi tapi versi yang lebih gila. Misalnya seperti: pertama dikasih mangkuk stirofoam, lalu mie yang dikeringkan dan bahan lainnya masuk, dan akhirnya sup panas perlahan dituangkan.
Keheningan mengelilinginya.
Tidak ada yang terjadi setelah bunyi klung di awal.
Kihara Goukei berjongkok dan dengan gugup membuka pintu yang besar untuk memeriksanya.
“Apa ini… mesin penjual otomatis untuk makanan beku?!”
Benda itu keras seperti batu.
Instruksi pada kemasannya mengatakan kalau kita bisa menikmati rasa kualitas restoran setelah menunggu 15 menit di microwave.
Masa dia harus berdiri diam di cuaca beku ini selama 15 menit?
Yang dia miliki hanyalah benda padat yang mungkin bisa membunuh seseorang jika di lempar ke kepala.
“Uhh…”
Dia bisa mati kering kalau tidak ada yang bisa dia makan.
Dikelilingi oleh malam yang membeku dengan salju merah menutupi jalan, Kihara Goukei tidak punya pilihan selain merobek kemasannya, mengeluarkan balok persegi panjang itu, memegangnya dengan kedua tangan, dan menggerogotinya. Rasanya tidak enak. Tentu, ada garam dan lemak, tapi itu tidak cocok dengan es!!
Potongan lemak babi beku putih itu sangat buruk. Apa ini semacam hukuman ilahi?
“?”
Tiba-tiba, dia merasa seperti sedang diawasi.
Ada seseorang, atau sesuatu, di sini.
Dia mendapati kalau tatapan itu ternyata sangat dekat. Menatap ke arahnya.
Itu… seorang gadis berusia sekitar 10 tahun?
“Misaka belum pernah melihat seseorang makan es krim di musim dingin! kata Misaka sambil Misaka memeriksa kemasannya. Tonkotsu ramen! …Misaka tidak ingat ada rasa es batu.”
“Apa yang kau lakukan di sini deyansu? Dan panggil saja aku Gou-neechan.”
“Begini, Misaka perlu ke Distrik 10, tapi Misaka tidak tahu itu ada di mana, kata Misaka sambil Misaka menjelaskan kesulitannya.”
“Eh? Distrik 10?”
Bukankah itu distrik penuh perkelahian dan berisi orang-orang berotot, yang dikatakan paling berbahaya di kota ini?
Dan gadis itu masih terlihat berusia sekitar 10 tahun, jadi apa yang dia lakukan sendirian di malam hari begini?
(Dan kalau aku mengantarnya kembali ke jalan dia datang, um, gimana ya. Bukankah serangga raksasa dan hewan laut yang terbuat dari rambut pirang aneh itu banyak berkeliaran di sana?)
Kihara Goukei menangis.
Ini terdengar seperti masalah baru.
Pertama Urekawa dan sekarang ini. Apa malam ini adalah malamnya bertemu anak kecil?
Apa ini semacam babak bonus?
“Distrik 10 ada di mana, ya?”
“Arah sebaliknya, jadi tolong jangan lihat aku…”
“Jika kau tahu jalannya, tolong kasih tahu Misaka! kata Misaka sambil Misaka memohon padamu!”
“Satu jantung. Tinggal satu lagi. Sekali mati aku benar-benar akan mati… I-ini sudah cukup, bukan? Aku sudah menyelamatkan Urekawa Ousuke-kun tepat di tengah malam, jadi aku benar-benar ingin pulang dan tidur deyansu—”
“Tidak! Tolong bantu Misaka, Gou-neechan!!”
“Mmh☆ …Aduh, jadi sulit kutolak. Setelah kau berkata begitu, aku jadi tidak bisa tidur deyansu!”
Bagian 8
Di atap gedung pencakar langit yang jauh, salah satu klon militer yang diproduksi secara massal yang dikenal sebagai Sisters menjauhkan matanya dari teropong senapan sniper besar.
“Orang itu sepertinya bukan ancaman, simpul Misaka 10032.”
“Dari penampilannya sih meragukan. Apa kau sedang galat? Lagi-lagi komputer hidup ini mengeluarkan pendapat tidak jelas?”
“Namanya juga sedang tumbuh.”
Dia sudah tumbuh hingga mampu membuat komentar santai melalui Jaringan Misaka.
Misaka Worst, yang disetel untuk menangkap emosi jahat dalam jaringan luas yang terdiri dari sinyal gelombang otak identik yang tak terhitung jumlahnya, merespons dengan jengkel.
“Ini semua karena kau mendiskusikannya di Jaringan Misaka, tahu? Apa kau lupa bahwa Misaka mini adalah inang dan menara kontrolmu? Dia bisa mendengar semua yang kau katakan, bahkan jika itu dalam tidurmu.”
“Maksudmu kemampuan kita mengendalikan listrik mungkin bisa membuka dengan paksa kunci Master Key Ketua Dewan yang baru? tanya Misaka meminta konfirmasi.”
“Tidak, Master Key bisa hancur kalau kita salah langkah! Jika satu-satunya jalan adalah dengan membangunkan si nomor 1, maka tentu saja si kecil akan mencoba dan melakukan sesuatu. Sialan, merepotkan sekali. …Tapi yang paling menyedihkan adalah Yoshikawa. Dia terkunci di kamarnya tanpa melakukan apa-apa. Karena Last Order menggunakan kekuatannya untuk meretas kunci listrik.”
“Kalau begitu bukankah lebih baik kita biarkan mereka melanjutkan perjalanan? Serta, orang itu tampaknya seorang Kihara, jadi harusnya dia bisa berguna saat di perjalanan, kata Misaka, memberikan pendapatnya.”
“Jadi kita bisa akhiri penguntitan kita? Misaka tidak mau lagi memegang senapan sniper di cuaca sedingin ini. Misaka takut pipi Misaka membeku dan menempel di besinya.”
“Oke-oke saja kalau kalian tidak keberatan jika ahli keabadian itu mendapatkan teknologi klon, jawab Misaka. Misaka sudah memeriksa data dirinya dan bakal sangat merepotkan kalau dia sampai belajar menggandakan diri.”
“…Kapan Misaka bisa kembali tidur?”
“Misaka tahu kau tidak berniat begitu.”
Bagian 9
Iblis Agung Coronzon menyelinap melalui kegelapan seperti bayangan.
Dia telah memilih stadion yang luar biasa besar bahkan di antara stadion atletik luar ruangan.
Semua yang dia cari saat ini ada di sana. Dia bisa mengubah tubuh fisiknya menjadi sejumlah besar energi Telesma. Setelah selesai, dia hanya perlu mengirim dirinya ke dalam arus ley line yang mengalir di bawah tanah. Meski masih terbatas pada Bumi, tapi itu memungkinkannya untuk melarikan diri secara instan ke mana saja, bahkan ke balik Bumi sekalipun.
Bukankah kapasitas tampung maksimumnya 255 ribu orang?
Tipe luar ruangan tanpa kubah lebih mudah diperbesar ukurannya, tapi ini terasa berlebihan.
Academy City memiliki populasi 2,3 juta, jadi sepersepuluhnya bisa dijejalkan ke dalam sini.
Manusia tampaknya adalah makhluk rapuh yang menderita kesepian ketika berdiri sendirian di ruang buatan yang sangat besar, tapi dia adalah makhluk yang dikenal sebagai Iblis Agung.
Dia tidak merasakan ada yang salah saat berjalan menuju pusat.
Selain kesalahan keberadaannya sendiri.
“Sitra Achra, ya?”
Coronzon melempar istilah itu lewat mulutnya.
Dan tersenyum sinis.
Sitra Achra bisa digambarkan sebagai zat yang menyebabkan kejahatan. Dunia saat ini, mulai dari manusia kecil hingga ke dunia luas, konon bisa sepenuhnya dijelaskan menggunakan diagram yang disebut Sephiroth, tapi ada beberapa kotoran yang tidak sejalan dengan Sephiroth agung. Kotoran itu adalah Sitra Achra. Itu adalah sisa-sisa atau fragmen dari dunia lama yang dihancurkan untuk menciptakan dunia saat ini.
Zat yang menyebabkan kejahatan. Itu tidak punya tempat di dunia saat ini, tidak punya peran, dan seharusnya tidak boleh ada, jadi keberadaannya sendiri menghalangi sistem di zaman ini.
Seperti kerikil yang tersangkut di roda gigi.
Dunia yang diciptakan tuhan itu sempurna.
Segalanya akan menjadi kacau gegara kotoran asing yang tercampur di dalamnya.
(Terdengar mirip sepertiku.)
Dengan ekspresi muram, dia bergumam pada diriku sendiri.
Mengutuk diri sendiri tidak akan bisa mengubah kejahatan menjadi kebaikan.
Dia selalu mempertanyakannya.
Kenapa dia tidak menjadi malaikat cinta? Atau malaikat kebenaran?
Jika saja…
Jika saja dulu dia diberi peran itu…
…Dia akan bekerja lebih keras daripada siapapun.
Jika Tuhan tahu sejak awal bahwa Coronzon akan memberontak melawan surga dan menjadi jahat, lalu membiarkannya karena itu adalah bagian dari semacam rencananya, maka Coronzon akan bekerja melampaui batas dalam peran yang diberikan Tuhan padanya dan merusak rencananya.
Tuhan adalah makhluk absolut, tapi dia tidak menyelamatkan semua nyawa.
Semua orang menerima bahwa bahkan kemalangan mereka akan diberi makna dan tujuan jika mereka mematuhi Tuhan.
Tapi keberadaan sistem itu sendiri berarti Tuhan tahu bahwa sejak awal akan ada korban. Tuhan tahu dan membiarkannya terjadi. Demi rencana agungnya.
Peran Coronzon adalah mencerai-beraikan orang-orang. Mengapa dia harus mematuhi sosok yang telah menelantarkannya?
Jadi Coronzon memutuskan untuk menggunakan semua yang diberikan padanya dan melakukannya sampai melampaui batas.
Dengan cara itu dia bisa memusnahkan rencana tak berperasaan itu tanpa mengkhianati tujuannya.
Dia akan mendedikasikan dirinya untuk identitas jahatnya—
…?
Di titik itu, dia mulai memiringkan kepalanya.
Tidak, tunggu. Dia tersadar.
Ingatannya melompat beberapa detik.
“Sialan, lagi-lagi kau… Aleister!!”
Dia memegangi kepalanya.
Dia akhirnya berhasil mempersiapkan tempat untuk melakukan ritual, tapi dia harus pergi jika kabar ini sampai ke kelompok Kamijou.
Coronzon mulai panik… tapi kemudian tersadar.
Beberapa detik.
Dia berdiri tepat di tengah stadion yang sangat besar.
Dia tidak memiliki komputer atau ponsel untuk menghubungi siapa pun dan tidak ada telepon umum kuno yang terlihat. Ini berarti bahwa meskipun Aleister telah mengambil alih tubuh ini, dia tidak memiliki kesempatan untuk memanfaatkannya. Jadi dia bisa mengabaikannya jika hanya berlangsung beberapa detik.
Di sisi lain…
(Baguslah aku sadar, tapi bukankah kekosongan itu terasa lebih lama dari sebelumnya?)
Dia punya firasat buruk.
Apakah Aleister mulai menguasainya? Kekhawatiran itu merayap di benaknya.
Kehilangan kesadaran bahkan sedetik di tengah pertempuran dengan para pengejarnya bisa berakibat fatal.
Dan jika itu tidak terjadi, Aleister bisa saja melakukan bunuh diri ketika Aleister mengambil kendali cukup lama.
Dia yakin Aleister akan melakukannya.
Apalagi Aleister sekarang memandangnya sebagai musuh dan membunuhnya menjadi tujuan utama Aleister.
Membandingkan spesifikasi mereka secara langsung tidak akan membuatnya merasa tenang. bagaimanapun juga Aleister telah memenangkan Pertempuran Blythe Road.
Coronzon secara sadar menarik napas dalam-dalam.
(Aku perlu mengalihkan fokus.)
Tempat itu bukan sekedar stadion biasa, bahan sihir bisa ditemukan di mana-mana. Bagaimanapun, Aleister Crowley telah membangun kota ini selama kebingungan pemulihan pascaperang. Itu adalah bentuk alternatif untuk Kuil Thelema. Meski telah disembunyikan dengan cerdik dengan menutupi dengan dalih "sains," tapi sebenarnya sulit untuk menemukan tempat atau objek yang tak ada simbol magisnya.
Coronzon hanya perlu mengumpulkan barang-barang yang sudah ada.
Dia tidak akan mengalami kesulitan selama dia tahu cara yang tepat untuk menggabungkannya.
Dia bisa memulai ritualnya kapan saja.
Satu-satunya masalah adalah berapa lama waktu yang dia butuhkan.
…Sekeras apapun dia mencoba mempersingkat waktu, dia tidak bisa menguranginya menjadi nol. Dan selama itu pula dia menjadi tidak berdaya. Dia adalah sang Coronzon yang telah menghancurkan penyihir legendaris seperti Mathers dan Aleister, tapi selama kurun waktu tersebut dia bisa dibunuh bahkan oleh manusia biasa sekalipun.
“…”
Coronzon memejamkan mata, menahan napas, dan mencari segala suara di sekitarnya.
Dia fokus pada area di luar stadion.
(Musuh terbesarku adalah batas waktu. Karena aku yakin mereka mencariku dengan masif. Meski mereka lemah, ketika jumlah mereka ada banyak, sulit bagiku untuk terus bersembunyi. Untuk kali ini, aku perlu mewaspadai si lemah karena ritual penting ini akan hancur kalau mereka mengganggu saat ritual tengah berlangsung.)
Bagian 10
Ketika mereka memeriksa peta berdasarkan saran Index, jawabannya jelas.
Kamijou menunjuk sebuah titik di peta besar.
“Stadion Atletik Umum. …ini pasti tempatnya, di mana stadion atletik dan saluran drainase yang besar saling berpotongan!”
“Jika Coronzon menggunakan simbolisme Zeus dalam ritualnya untuk membawanya pergi lewat ley line, maka dia pasti di sana.”
Gadis putih itu terdengar yakin.
Bagaimanapun juga, tidak ada opsi lain. Mau tidak mau Kamijou mesti percaya.
“Dungu.”
Seseorang memanggilnya.
Anna Sprengel.
“Untuk memastikan, aku sudah memeriksa ulang semuanya, dan semua yang dikatakan perpustakaan grimoire itu memang sesuai. Perhitungannya tepat, jadi Coronzon seharusnya berada di Stadion Atletik Umum. Satu-satunya pertanyaan yang tersisa adalah apakah kita bisa tiba tepat waktu.”
Kelompok Amakusa adalah penyihir yang berbaur dengan masyarakat modern, jadi mereka semua tahu cara mengemudi. …Kamijou enggan memikirkan dari mana mereka bisa mendapatkan begitu banyak kendaraan di Academy City, jadi manfaatkan saja itu selagi bisa.
Dan tepat saat Kamijou memikirkannya, matanya bertemu sepasang mata yang lain.
Tapi ini jelas bukan manusia.
Itu mata majemuk.
Capung karnivora sepanjang lebih dari tiga meter meluncur setinggi mata.
Itu terbuat dari rambut pirang.
“Para pengintai… Coronzon?!”
“Dasar kumpulan serangga bodoh!!”
Kamijou mendengar suara aneh tepat sebelum seorang wanita muda berambut pirang menendang capung raksasa itu dari samping, dan menghempaskannya.
Dia adalah Transenden Bologna Succubus.
“Kukira setelah menyusul dengan berlari kita bisa reuni, tapi malah begini? Kapan aku bisa istirahat?!”
“Haa, haah… M-mantel… zirah baja dan terariumku… sangat berat… serasa mau matiiiii…”
Bahkan saat Bologna mengeluh, Blodeuwedd the Bouquet menangkis serangan para pengintai dengan mantel tebalnya.
…Tunggu, apakah Blodeuwedd the Bouquet baru saja melindungi Bologna Succubus?
Tapi, memukul satu capung tidak cukup untuk membalikkan keadaan.
Ada kupu-kupu, tawon, kumbang rusa, lalat, dan banyak lagi.
Kanzaki meninggikan suaranya.
“Jika dia mengirim mereka keluar, berarti kita semakin dekat!”
Rasanya Coronzon sudah tidak lagi berusaha untuk sembunyi.
Apa dia ingin mengulur waktu meski harus membuatnya menjadi mencolok?
Coronzon benar-benar ada di sini.
Di Distrik 20. Index, Anna Sprengel, dan yang lainnya benar.
…Persoalannya sekarang adalah apakah para pengintai ini menyampaikan informasi kembali ke Coronzon atau tidak.
Apa pun itu, yang terbaik adalah tidak membuang waktu di sini.
“Kita perlu menyerang sebelum dia bisa kabur!!” teriak Kamijou.
Bagian 11
Para pengintai yang dikirim oleh Iblis Agung Coronzon termasuk capung dan tawon sepanjang tiga meter.
Kamijou segera mengepalkan tangan kanannya, tapi akan merepotkan ketika 20 atau 30 dari mereka jatuh dari langit sekaligus.
Kihara Noukan menoleh ke arah Kamijou dan berteriak.
“Hati-hati. Jika mereka mencengkerammu dan membawamu ke langit, kau akan terjebak dalam permainan capitan mematikan!”
Kamijou tidak bisa membiarkan para pengintai terbang menggunakan senjata ampuh mereka yaitu ketinggian.
Ditambah lagi, ada kumbang rusa yang bisa menghancurkan atau mengiris tubuhnya dari daratan tanpa perlu mengangkatnya ke langit.
“Masuk ke dalam, yang mana saja tidak masalah!!”
Atas instruksi Kanzaki, Kamijou dan Mikoto langsung mendobrak pintu gedung terdekat.
Mereka berlari lebih jauh ke dalam. Ketika mereka mencapai ruang yang lebih terbuka, mereka menemukan sesuatu yang aneh di sana.
Kolam beku?
Bukan, apakah itu gelanggang es?
Kamijou tidak familiar dengan tempat itu dan baginya tempat itu bagaikan kulkas raksasa, tapi apakah berada di dalam gelanggang es sebenarnya lebih hangat ketimbang berada di luar?
“Mereka datang. Serangga aneh itu datang!!”
“Tunggu, Misaka! Jangan gunakan Railgun-mu di koridor lurus! Apa kau mau mengenai teman-teman kita?!”
Lucia, Angelene, dan lebih banyak lagi dari Eks Pasukan Agnese menerjang lalat raksasa sebagai satu kelompok.
Kekuatannya tidak besar, tapi itu cukup untuk memperlambatnya agar selanjutnya Blodeuwedd the Bouquet dan Anna Sprengel bisa menghabisi mereka dengan serangan yang lebih kuat.
Para penintai itu Memang kuat. Tapi mereka bukan Iblis Agung Coronzon yang sesungguhnya. Para pengintai yang terbuat dari rambut pirangnya tidaklah tidak terkalahkan!
“Bagaimana…”
“Hm? Dik, jangan lengah!!”
Pengintai yang seharusnya sudah kalah kembali bergerak.
Tidak, ada sesuatu yang menyembur dari tubuh kumbang rusa raksasa tersebut.
Oval pipih sepanjang sekitar lima puluh sentimeter tumpah keluar seperti jackpot mesin slot.
Ada lebih dari seratus dan mereka semua menggeliat. Dan meronta.
Ada lebih banyak pengintai… di dalam pengintai?
Dan tak terhitung jumlahnya!!
“Ahhhhhhh?!”
Kamijou mundur, lebih karena jijik ketimbang takut akan ancaman yang mereka timbulkan.
Para pengintai kecil itu melompat ke arah bocah itu satu demi satu.
Itsuwa dengan tajam menusukkan tombaknya untuk melindungi Kamijou, tapi kemudian Itsuwa meringis.
“Kerasnya. Apa mereka didasarkan pada kerang parasit?!”
“Maksudmu semakin banyak musuh yang kita kalahkan, semakin banyak jumlah mereka? Ini cara sempurna untuk mengulur waktu!!” teriak Othinus.
Kelompok Kamijou akan kewalahan oleh pasukan musuh.
Suara seperti tumpukan pasir yang runtuh datang dari segala arah.
“Wah!”
Alice Anotherbible adalah satu-satunya yang mampu tersenyum saat serangga-serangga tersebut mengerumuninya.
Manusia normal akan digigit menjadi potongan-potongan kecil jika mencobanya!!
Mereka akan terbunuh jika tidak mengalahkan para pengintai yang menyerang, tapi mengalahkan para pengintai hanya akan membuat mereka berkembang biak.
Itu adalah lingkaran setan.
…Dan Kamijou menganggap para pengintai yang terbuat dari rambut pirang ini tidak lebih dari sekedar pengintai. Tapi sekarang dia merasa kasihan pada mereka karena mereka dipaksa bertarung, menggeliat kesakitan saat mereka meledak dari dalam, dan melepaskan monster-monster lainnya.
“Dungu, sekarang bukan waktunya. Jika kau berhenti, kita akan terbunuh!”
Iblis Agung Coronzon.
Bahkan jika dia berjuang untuk hidupnya, dia seharusnya tidak memaksa pihaknya sendiri untuk melakukan ini.
Suara benturan padat memecah pikiran Kamijou.
Itu datang tepat di depannya. Dinding gelanggang es jebol dan pembajak salju putar raksasa muncul dari samping. Barisan pengintai di jalurnya hancur dan teriris oleh bilah yang berputar.
Ternyata si anggota Amakusa berambut pirang mengembanglah yang mengoperasikannya.
Kamijou pernah melihatnya beberapa kali sebelumnya. Kalau tidak salah namanya adalah Tsushima?
“Naik!! Coronzon adalah prioritas utama kita, jadi kita tidak bisa membuang waktu dengan makhluk-makhluk ini!!”
Tidak ada alasan untuk tetap berada di sini. Bilah putar raksasa di depan dan alat buang salju yang menonjol di samping seperti belalai gajah tampak berbahaya, tapi Kamijou meraih sesuatu seperti tangga pendek di sampingnya.
Baru setelah pembajak salju berat mulai bergerak Kamijou menyadari sesuatu.
“D-di mana Index?! Misaka juga tidak ada!”
“Bukan hanya aku yang mamakai metode Amakusa. Semuanya pasti berpikir untuk menggunakan mobil salju dan kendaraan lain yang mampu melaju di salju merah ini. Kita semua punya tujuan yang sama, jadi kita akan bertemu kembali dengan mereka jika kita menuju stadion atletik!!”
Beberapa yang lain berhasil masuk ke pembajak salju. Kamijou melihat Kanzaki dan Itsuwa di antara mereka.
Seekor capung tiga meter masih dengan keras kepala mengejar mereka, tapi ditembak jatuh oleh seberkas cahaya. Tapi baik Kanzaki maupun Itsuwa tidak melakukan itu. Rupanya ada kendaraan lain yang mengikuti mereka.
Akhirnya, tidak ada lagi tawon dan kumbang rusa yang terlihat.
Kamijou menghela napas dan bersandar pada pembajak salju putar yang berderak di atas trek yang tak terputus.
“Yah… untung saja Tsushima ada di sana untuk membantu kita, manusia,” kata si dewa setinggi 15 cm.
“Ya, benar sekali. Hidup terasa jauh lebih mudah ketika ada Oneesan yang cakap di sekitar kita. Terima kasih.”
“ “…Hmm?” ”
“(Tunggu, apa aku baru saja menginjak ranjau mematikan. Dan yang lebih parah, aku injak dua sekaligus?)”
Mata Kanzaki Kaori dan Itsuwa diam-diam berbinar tajam, sementara mata Tsushima berlinang air mata di kursi pengemudi.
Bagian 12
Sudah larut malam. Jam 1 pagi pun sudah terlewat.
Ketika kita membayangkan rumah sakit di tengah malam, apakah itu mengingatkan kita pada cerita horor? Atau sesuatu yang erotis? Setelah bertahun-tahun bekerja di sini, dokter berwajah katak tahu kedua opsi itu tidak mungkin terjadi. Ketika kita bekerja di sana hari demi hari, bahkan lokasi khusus menjadi tidak lebih dari sebuah rutinitas. Ketakutan memudar dan fantasi aneh pun lenyap.
Tentu saja, dia biasanya tidak bekerja pada sif di jam segini, tapi hari ini adalah hari istimewa.
Di siang hari pun dia belum sempat istirahat.
Seorang dokter magang muda menatapnya dengan cemas.
“Anda perlu tidur, Dokter. Anda tidak membantu jika Anda pingsan.”
“Nanti ketika aku punya waktu luang. Oh iya, ada sesuatu yang harus kulakukan, jadi bisakah kau menangani segala urusan di sini?”
“Dokter!” panggil si pemagang setelah dokter itu pergi, tapi ini memang sifat si dokter. Si dokter ingin menyelamatkan setiap pasien.
Jika Kamijou Touma sudah mati, maka tidak ada yang bisa dilakukan.
Tapi bagaimana jika bocah itu masih hidup?
Berarti dia adalah pasien dokter berwajah katak.
Jika seorang pasien menerima perawatan yang tidak tepat, sudah jadi tugas dokter untuk menyelamatkannya.
(Merepotkan sekali. Aku harus mulai dari mana untuk menentukan apakah seseorang masih hidup atau sudah mati? Pedoman kematian otak mungkin jadi opsi terbaik. Atau mungk—)
Dokter itu meninggalkan rumah sakit.
Dan setelah hanya tiga langkah keluar pintu, sesuatu yang aneh menghadangnya.
“Eh?”
Jika harus digambarkan, makhluk itu seperti kepiting emas setinggi lebih dari tiga meter.
Bahkan setelah melihat capit yang diangkat tinggi, si dokter berwajah katak hanya berhasil mengeluarkan suara kebingungan.
Dia tidak memahami bahaya dengan benar.
Ya.
Dia tidak punya cara untuk mengetahuinya karena dia tidak tahu apa-apa tentang sihir, tapi rumah sakitnya ada di Distrik 7. Itu adalah area di mana Coronzon telah menyebarkan begitu banyak pengintai yang terbuat dari rambut pirang.
Dan Coronzon begitu fokus melarikan diri sehingga dia tidak benar-benar memerintahkan mereka untuk berhenti.
Yang berarti mereka masih bertindak atas perintah untuk melindungi tanah ritual untuk Adikalika — bekas lokasi Gedung Tanpa Jendela.
Zrass!!
Suara tebasan yang memuaskan pun terdengar.
Dokter berwajah katak tidak meneteskan setetes darah pun.
Kepiting itu teriris secara vertikal.
Bagian tubuh pengintai dari rambut pirang yang terbelah dua itu berserakan ke kedua sisi.
Mata si dokter membelalak bingung saat sosok gelap dan lentur berbisik padanya.
“Senang bisa bertemu lagi denganmu, Dokter.”
Bagian 13
Di gelanggang es Distrik 20, Misaka Mikoto benar-benar melihat bocah berambut jabrik itu menempel di pembajak salju putar yang besar.
Dan itu terjadi ketika kendaraan itu melaju tepat melewati Mikoto.
Dia telah ditinggalkan.
“Rasanya ingin sekali kutembak si bodoh itu.”
Dia menjentikkan koin arkade dan meluncurkan beberapa Railgun ke arah para monster ketika dia mundur dari gelanggang es menuju ke koridor sempit.
Makin banyak yang dikalahkan, makin banyak jumlah mereka. Situasinya sudah sangat merepotkan.
Terlebih lagi para capung serta kumbang rusa itu sendiri sudah cukup kuat, dia bisa terbunuh jika dia tidak melawan. Jadi tidak ada ruang untuk menahan diri.
(Apa yang lain juga mundur ke suatu tempat? Tidak ada waktu untuk bertanya di mana kita akan bertemu selanjutnya, jadi kurasa aku harus menempelkan diriku secara magnetis ke salah satu atap kendaraan.)
Dan tiba-tiba, Dia kepikiran sesuatu.
“…Tunggu.”
(Jika si bodoh itu masih hidup, lalu kenapa aku memakai pakaian berkabung? Ahhh, sampai kapan aku akan terus memakai pakaian yang merepotkan ini? Aku mulai merasa seperti orang bodoh!!)
Ini fasilitas olahraga, jadi apa di sini ada pakaian olahraga sewaan?
Bahkan pakaian olahraga atau jumpsuit pun tidak masalah. Dia bersedia mengabaikan penampilannya asalkan setidaknya merasa hangat dan tidak membatasi gerakannya!!
Tapi ini gelanggang es.
Itu berarti pakaian yang tersedia hanyalah pakaian seluncur indah.
Seperti seragam seluncur indah kuning lemon yang sangat terang.
“U-um, apa ini memang gaun seluncur?”
Itu tidak akan membatasi gerakannya karena dirancang untuk penggunaan olahraga. Dikombinasikan dengan sepatu tanpa pisau-luncur yang dirancang untuk staf, jadi dia tidak akan kesulitan bergerak. Paling tidak, gerakannya akan jauh lebih luwes ketimbang memakai pakaian Jepang yang kaku. Tapi kenapa harus rok mini? Atau haruskah dia anggap sebagai pareo baju renang? Bagaimanapun, itu bukan pakaian yang bisa dipakai untuk berjalan-jalan di kota!
“T-tapi aku kedinginan! Segala sesuatu memang perlu pengorbanan!!”
Dia sudah memutuskan, dia bersedia mengabaikan penampilannya.
Itu akan melindunginya dari dinginnya malam Januari yang menggigit.
Anehnya, ternyata pakaian itu lebih sedikit menampilkan kulitnya. Karena pada dasarnya pakaian itu menutupi tubuh dengan serat yang warnanya hampir sama dengan kulit.
Tapi itu jadi masalah tersendiri. Bahan serat sintesisnya tipis, seperti mengenakan stoking keseluruh tubuh. Bagi seseorang yang sering menyetrum karena hal sepele, itu sangat rentan!
Bagian 14
Apa yang Kamijou dan yang lainnya temukan adalah sebuah massa gelap yang begitu besar sehingga mereka benar-benar harus mendongak untuk melihat keseluruhannya.
Ini adalah Stadion Atletik Umum.
Ukurannya sangat besar terlihat jelas bahkan dari luar.
Diameternya saja pasti ratusan meter.
Ini bukan stadion berkubah yang tertutup, melainkan stadion tanpa kubah yang terbuka. Tapi, stadion itu dikelilingi oleh dinding luar yang tinggi. Kemungkinan untuk mengakomodasi tempat duduk bertingkat, tingginya sekitar empat lantai, kira-kira sama dengan tinggi gedung sekolah. Ini berarti kita tidak bisa melihat ke dalam saat berada di luar.
Beberapa kendaraan lain pun mulai bergabung dengan pembajak salju putar yang dikemudikan oleh Tsushima.
Index dan Misaka Mikoto ada di antara mereka.
“Syukurla— uwah! Misaka, pakaian macam apa itu?!”
“Jangan lihat!! Jangan lihat aku, yang dengan harga yang sama dapat ekstra 20% lebih lezat ini!!”
Jawabannya sama anehnya dengan pakaiannya.
Apakah ini rare high version yang menampilkan lebih banyak kulit, ataukah dia hanya tidak tahan dingin dan terpaksa mengenakan pakaian seluncur indah? Kamijou harap dia bisa berhenti menarik bagian yang mirip rok mini karena itu hanya akan semakin menarik pandangan Kamijou.
Bologna Succubus dan Blodeuwedd the Bouquet sama-sama memiringkan kepala (dengan akrabnya?).
…Yah, mereka mungkin tidak mengerti apa masalahnya, toh bagi mereka bukan masalah untuk berjalan-jalan di malam Januari yang dingin dengan pakaian dalam atau celemek telanjang.
Tapi fokus pada masalah ini tidak akan membawa mereka ke Coronzon.
Kamijou penasaran tentang sesuatu.
“Tembok tinggi menghalangi kita untuk melihat ke dalam. Semoga saja Coronzon juga tidak bisa melihat keluar.”
“Maksudnya? Apakah Iblis Agung bisa melakukan kewaskitaan?”
Pakar pelacakan Takitsubo mengungkit topik yang sulit.
“Dalam sihir Barat modern, kewaskitaan bukanlah sarana melihat isi amplop tertutup. Itu adalah ritual yang digunakan untuk meditasi spiritual.”
Kanzaki memberikan penjelasan, tapi sulit dipahami tanpa dasar yang kuat di sisi sihir.
Kanzaki telah menggelar peta besar, mungkin didapat dari hak istimewa yang dia peroleh dengan mengambil alih kendali kota. Tapi fakta bahwa dia telah repot-repot menyalinnya ke kertas menunjukkan kalau dia masih belum terbiasa dengan sisi sains.
“Untung kita bisa mendapatkan cetak biru versi resmi. Kita unggul di jumlah. Pertama, kita harus menempatkan personel di setiap pintu keluar. Ada lebih dari 20 gerbang resmi untuk penonton dan jumlah sebenarnya bahkan lebih besar karena ada pintu masuk tidak resmi untuk atlet dan staf. Dengan pintu keluar yang diblokir, kita bisa mulai menjelajah ke dalam. Begitu kita tahu di mana letak Coronzon di dalam stadion dan bagaimana dia memodifikasinya sebagai sarana ritualnya, kita bisa meluncurkan serangan.”
“Coronzon seharusnya tidak berdaya saat sedang menjalankannya,” tambah Index. “Bahkan jika kita tidak bisa memenangkan pertarungan secara langsung, kita seharusnya bisa menang.”
Mereka bisa menang?
Lalu kenapa tidak langsung menyerbunya?
Kamijou tidak percaya mereka kekeh di luar sementara mereka tahu Coronzon ada di dalam sana.
Othinus pasti merasakan ketidaksabaran Kamijou karena membuat komentar tajam dari bahu Kamijou.
“Tunggu, manusia. Jika Coronzon mendeteksi kita dan melarikan diri, semua ini akan sia-sia.”
“Bagaimanapun, kita tetap harus meneliti bagian dalam dengan cermat dan mengumpulkan informasi. Kita bisa melakukan serangan setelah semua rute pelarian telah tertutup.”
Kamijou sedikit terkejut mendapati Anna Sprengel bersikap hati-hati.
Apakah wanita jahat itu telah belajar betapa menakutkannya jika sebuah rencana berantakan di detik terakhir?
“Tapi bisakah kita benar-benar menunggu selama itu? Ada urat bumi atau ley line segala, bukan? Sebuah rute yang mengalir di bawah tanah yang hanya bisa digunakan oleh Iblis Agung. Tidak peduli berapa banyak orang yang mengepungnya, begitu dia berpindah, maka semuanya akan sia-sia!!”
“Kegagalan akan menempatkan seluruh umat manusia dalam bahaya. Iblis Agung Coronzon bisa melakukan yang lebih dari ini.”
Apa itu sebabnya Coronzon tidak ingin ada yang memata-matainya dari langit?
Setelah memberikan pandangan skeptis pada Bologna Succubus (atau lebih tepatnya pada pakaian yang dikenakannya), Kanzaki mengangguk setuju.
“Kita tidak boleh lupa bahwa dia bisa lolos jika dia melintasi tembok kota secara fisik.”
“Tapi kita tidak tahu batas waktunya!!”
“Setidaknya tidak untuk 5 atau 10 menit ke depan. Kita masih punya waktu lebih, manusia.”
Bagian 15
“Hm.”
Iblis Agung Coronzon meletakkan tangan di pinggul dan mengamati sekelilingnya.
Dia berdiri tepat di tengah stadion yang sangat besar.
“Tanah untuk ritualnya sudah beres. Dan atribut yang diekstraksi dari seluruh stadion juga sesuai. Arah, waktu, angka… dan spiritual item digenggamanku, kartu tattva.”
Dia memegang beberapa kartu berwarna-warni.
Tapi, kartu-kartu ini bukan barang antik bersejarah.
Itu hanyalah simbol yang dimaksudkan untuk membantu seseorang memasuki keadaan mental khusus sewaktu meditasi, jadi selama warna dan simbolnya benar, bahannya tidak jadi masalah. Kartu-kartu itu sebenarnya dibuat dengan mewarnai kertas karton dengan spidol permanen tebal yang dia peroleh setelah membobol rolling door sebuah toko stadion. (Mungkin sebagai perlengkapan yang biasa digunakan penonton untuk membuat plakat atau menggambar logo tim di wajah mereka.)
Seolah stadion itu adalah lingkaran sihir raksasa, dan kartu di tangannya adalah perangkat pengendalinya, seperti mouse atau keyboard.
Coronzon memiliki tubuh fisik, tapi esensi sejatinya adalah kumpulan energi Telesma. Tidak seperti malaikat murni, dia adalah campuran elemen yang berbeda, memang bisa jadi merepotkan, tapi dengan memecahnya, dia bisa menanganinya sebagai energi murni.
Yang berarti dia bisa menyuntikkan dirinya ke dalam senjata atau baju pelindung atau jimat tipis yang gampang dibawa kemana-mana.
Atau dia bisa mengirim dirinya melalui ley line untuk melakukan perjalanan instan ke sisi lain di Bumi.
“Baiklah, waktunya kita mulai,” bisiknya.
Bagian 16
Kamijou merasa cemas.
Iblis Agung Coronzon memang ada di dalam sana, tapi ukuran stadion yang besar jelas merugikan mereka. Dengan lebih dari 20 gerbang, masuk dengan cara yang salah akan memberi Coronzon kesempatan untuk melarikan diri lewat gerbang yang berbeda.
Mereka perlu tahu lokasi persisnya sebelum masuk.
…Kamijou mengerti poin dari Anglikan, tapi bukan berarti dia menyukainya. Tidak peduli seberapa baik mereka mempersiapkan diri, Coronzon akan menghilang jika mereka tidak tiba tepat waktu. Yang kemudian kiamat akan dimulai di sisi lain planet ini. Coronzon akan dapat memilih lokasi mana pun yang dia suka, jadi Coronzon bisa memastikan kondisi optimalnya. Kali berikutnya akan jauh lebih buruk. Semuanya mungkin akan benar-benar binasa.
Di sebelahnya, Index angkat bicara. Menyapa Kanzaki.
“Apa kau mau melakukan pencarian dari luar? Bukankah itu berbahaya?”
“Memang. Dia bisa mendeteksi energi sihir menembus dinding biasa. Tapi, kami sebagai Amakusa, kami ahli dalam menyembunyikan iman guna menghindari persekusi, jadi kami tahu beberapa trik yang bisa digunakan.”
Baik Kamijou maupun Mikoto tidak mengerti apa yang sedang dikerjakan kelompok Amakusa dengan ekspresi yang serius. Pada titik ini, Index dan 103.001 grimoire yang dihafalnya adalah satu-satunya orang yang bisa mereka andalkan.
Index menebak dengan tepat pada tebakan pertama.
“Maria Kannon?”
“Meski bukan cara asli penggunaannya, meski sekilas tampak seperti sosok Buddha biasa, tapi hanya mereka yang tahu saja yang dapat melihat sosok Bunda Maria di dalamnya. Dengan sengaja mengambil interpretasi luas dari konsep tersebut, maka itu bisa dibuat ulang menjadi sihir pencarian pemecah kamuflase untuk mengungkap apa yang tersembunyi.”
Bagian 17
Di tengah stadion yang luas, Iblis Agung Coronzon duduk dengan tenang, mengatur napasnya, dan meletakkan jari telunjuknya pada salah satu kartu berwarna-warni beracun yang berjejer di tanah.
Sesuatu terasa aneh.
Sensasi seperti menekan jari di antara kedua mata hingga menyebabkan kesemutan di tengah kepala. Padahal dia sendiri yang menekan jarinya. Tidak, tidak ada gunanya berpikir dengan pola pikir begitu.
Keduanya saling terhubung.
Menyentuh berarti disentuh.
Garis antara diri dan yang lain serta antara dunia dalam dan dunia luar menjadi samar.
Inti tubuhnya terdistorsi. Dia bahkan tidak yakin di mana dia duduk.
“Kh.”
Kepalanya menggelang. Sensasi yang terasa memusingkan mengganggu pikirannya.
Ini adalah filosofi mistis ala Timur dari India kuno.
Dia tahu itu tidak cocok untuknya. Malaikat yang murni dan baik tidak akan pernah bisa melakukannya. Tapi dia adalah makhluk yang tidak murni dan jahat yang dikenal sebagai Iblis Agung. Dan sistem Crowley mengatakan bahwa setiap bentuk mistik dapat dimasukkan ke dalam mantra kita sendiri jika kita menafsirkannya kembali dengan logika kita sendiri. Orang bijak tidak akan menyerah hanya karena mereka mencapai jalan buntu. Mereka akan menggunakan penemuannya di jalan buntu tersebut untuk lebih meningkatkan diri mereka sendiri.
Dia menarik napas dalam-dalam.
Dia secara sadar membimbing pikirannya menuju stabilitas.
Dia tidak perlu berpikir untuk memurnikan dirinya sendiri.
Tidak harus hanya ada satu jawaban.
Sejak awal kartu tattva tidak bekerja dengan elemen murni.
Mathers telah memperingatkan bahwa meditasi menggunakan kartu berwarna-warni yang sangat mencolok itu dapat menyebabkan kecemasan atau sakit kepala yang hebat bagi manusia biasa jika digunakan secara tidak semestinya. Jadi bagi Coronzon, yang tujuannya adalah untuk mengembalikan dirinya ke energi murni, seberapa parah kah kerusakan yang akan dialaminya jika gagal?
Dia tidak mendekati esensi sebenarnya dari filosofi mistis Timur ini.
Kartu tattva tidak lebih dari alat yang digunakan sebagai kontrol. Begitulah cara cabal Golden menggunakannya. Kartu-kartu itu berguna dalam hal memahami kelima elemen, tapi akan ada ketidaksesuaian antara penggunaan cabal dan penggunaan asli filosofi Timur.
(Pekerjaan baru setengah selesai. Tak heran ketakutan dan kecemasan batinku mulai mewujud.)
Coronzon tidak menggerakkan matanya.
Dia harus memfokuskan seluruh pikirannya untuk naik lurus ke atas.
Dengan begitu, gangguan dan penyimpangan sekecil apa pun bisa menghancurkan egonya.
Jadi dia selalu menatap lurus ke depan, hanya menggunakan sudut matanya untuk melihat bayangannya sendiri bergetar dan memudar.
Ritualnya berjalan dengan lancar.
Begitu bayangannya lenyap total, fisiknya akan menghilang dari Academy City.
Kehancuran dunia sudah berada dalam jangkauan.
Bagian 18
“Bagaimana sihir pencariannya?!” teriak Blodeuwedd the Bouquet.
“B-baru melewati 70%!” lapor Itsuwa dengan gugup.
70%.
Itu sudah lebih dari setengah jalan, tapi Kamijou dan yang lainnya masih belum tahu status Coronzon. Jika Coronzon unggul satu persen saja dari mereka, maka mereka tidak akan selesai tepat waktu. Jadi meski seluruh Anglikan mengepung stadion dan menyerbu masuk pun Coronzon mungkin sudah tidak ada.
Othinus menghela napas dari bahu Kamijou.
“Tidak perlu menunggu sampai 100%. Kita tahu Coronzon ada di gedung ini. Jadi jika kita masuki area-area kecil yang belum dicari, kita bisa langsung mengonfirmasi lokasinya dengan pandangan mata.”
“Seberapa luas cakupan area-area kecil yang kau maksud?” balas Kanzaki dengan keras.
“Pencarian sudah 70% atau mungkin 80%. Nyawa kita juga dipertaruhkan, jadi kita butuh lebih banyak jaminan!!”
“Bagaimana menurutmu, Touma?” tanya Index.
“Hm? Kita harus segera masuk! Sekarang juga!!”
Kamijou tidak tahu kenapa orang luar sepertinya dimintai pendapat tentang masalah magis, tapi dia langsung memberikan jawaban.
“Tsujiura,” kata Index. “Kushiura dan Qiu Xiang Bu bisa digunakan. Itu khas Timur, jadi Amakusa seharusnya bisa menggunakannya.”
“Aku mengerti. Jadi gagasan bahwa hal pertama yang dikatakan oleh seseorang yang tidak tahu tentang topik yang sedang dibahas dapat digunakan sebagai ramalan,” kata Kanzaki, terdengar terkesan.
Dalam hal ini, ketidaktahuan Kamijou tentang sihir memberikan makna pada kata-katanya.
…Itu seperti menyatakan kalau Kamijou tidak berguna dalam pertarungan ini, agak menghina, tapi jika para ahli mau mendengarkan apa yang dia katakan, dia tidak peduli.
Apa pun itu, kata-kata Kamijou menggerakkan mereka semua.
“Apa Kanzaki akan bergabung dengan salah satu grup Amakusa? Kalau begitu, Alice!! Kau bantu grup Agnese!”
“Hm? Si gadis lebih suka bersamamu, Sensei.”
“Tolonglah! Dan Anna, kau pergi dengan grup Itsuwa dan Tsushima!”
“Dungu. Biarku injak-injak kau nanti.”
Mereka mengeluh, tapi mereka tetap berpencar.
Bahkan Takitsubo dan Kihara Noukan melakukan apa yang Kamijou suruh. Mereka tahu lebih sedikit tentang sihir daripada Kamijou, tapi mereka masih mempertaruhkan nyawa mereka untuk menghentikan ancaman tak dikenal ini.
Bagaimanapun, ada lebih dari dua puluh gerbang. Amakusa dan Eks Pasukan Agnese akan memblokir semua pintu keluarnya, tapi mereka berurusan dengan sang Coronzon. Penyihir biasa tidaklah cukup. Setiap grup membutuhkan anggota abnormal yakni Saint seperti Kanzaki Kaori, Transenden seperti Bologna Succubus atau Blodeuwedd the Bouquet, atau Transenden spesial seperti Anna Sprengel atau Alice Anotherbible.
Kamijou tidak melihat ini sebagai memecah kekuatan.
Begitu mereka memasuki stadion, mereka akan berkumpul di lokasi Coronzon. Dia tidak ingin ada yang mati di "waktu kosong" sampai mereka mendobrak pintu yang benar dan menemukan Coronzon. Dia tidak ingin ada yang dipilih secara acak oleh Coronzon dan berakhir dalam undian acak di mana mereka tersingkir dalam satu kali kesempatan. Tidak apa-apa jika ada satu grup yang apes bertemu Coronzon dan tak bisa mengalahkannya. Kamijou ingin memberi setiap grup seseorang yang bisa membantu mereka bertahan hidup sampai grup lain tiba.
Mikoto, yang selalu merasa tertinggal dalam masalah magis, tiba-tiba panik.
“T-tunggu, aku bagaimana?!”
“Tentu saja kau ikut bersamaku!! Ayo!!”
“Eh? O… oke.”
Kamijou dan Mikoto akan masuk melalui gerbang terdekat: Gerbang 15. Keduanya tidak tahu banyak tentang sihir, tapi Kamijou pikir kehadiran Othinus akan menutupi kekurangan tersebut. Pengetahuan Index adalah yang paling penting dari semuanya, jadi Kamijou tidak bisa menyimpannya sendirian.
Gerbang 15 ditutup dengan teralis besi dan pintu kaca, tapi Mikoto hanya perlu menarik dan menghembuskan napas sebelum semuanya terbuka. Dan bukan hanya Gerbang 15. Semua rolling door dan kunci pun terbuka sekaligus.
Tanpa menunggu rolling door naik sepenuhnya, mereka menunduk melewatinya.
Mereka memasuki koridor gelap.
Dan berlari.
“Hei, manusia. Jangan sampai tumbang dalam sekali serang. Meski Coronzon sedang sibuk, dia bisa saja mengirim para pengintai.”
Othinus memperingatkannya dari bahu Kamijou, tapi Kamijou tidak punya waktu untuk menanggapi.
Jika mereka terlambat sedetik saja, semuanya berakhir.
Jantung Kamijou berdebar kencang. Bisa-bisa dia mati tanpa harus menunggu campur tangan Coronzon. Tapi dia mengertakkan gigi dan terus berlari.
Dia tidak akan membiarkan Coronzon kembali menghancurkan dunia.
Dia akan mengakhirinya malam ini.
Bagian 19
(75%.)
Suara Iblis Agung Coronzon tidak lagi menggetarkan udara.
Dari sudut pandang Coronzon, kondisinya bukan seperti tubuhnya terurai tapi lebih seperti dunia di sekitarnya yang berubah. Atau mungkin seperti dia melintasi batas antar Fase. Koordinatnya tetap sama, tapi pemandangan di sekitarnya berubah seolah sedang membalik halaman.
Mungkin tidak ada perbedaan nyata antara keduanya.
Para anggota Cabal Golden tidak pernah berhasil mengirim tubuh mereka. Oleh karena itu, para pakar mencoba memisahkan pikirannya saja dalam tindakan yang dikenal sebagai proyeksi astral untuk secara virtual mencapai lompatan antar Fase. Mereka telah bekerja keras untuk mengintip ke dunia lain seperti surga dan neraka.
…Dan sebagai hasilnya, cukup banyak penyihir yang gagal mempertahankan kewarasan mereka.
Ujung jari Coronzon yang hampir transparan bahkan telah menembus kartu tattva.
Sekarang dia sudah lebih dari separuh jalan dalam menuju sisi seberang.
Iblis Agung itu menyeringai.
(Tidak ada lagi kontrol fisik yang dibutuhkan pada titik ini. Sekarang aku hanya perlu menunggu prosesnya selesai!!)
Bagian 20
Kamijou dan Mikoto berlari menyusuri koridor yang panjang.
Mereka tidak mampu menyembunyikan langkah kaki mereka sekarang.
Coronzon begitu dekat.
“Kita akan keluar ke tribun, kan? Seberapa jauh jaraknya ke lapangan?!”
“Jaraknya tidak seberapa, cuma tribunnya tidak datar. Jadi tolong jangan sampai terjatuh di tempat yang gelap ini.”
Mikoto secara mengejutkan memberinya jawaban tulus.
Belum ada sinar cahaya terang ataupun ledakan.
Apa yang dilakukan Kanzaki, Agnese, dan yang lainnya?
Mereka masuk melalui semua pintu masuk sekaligus, tapi tampaknya tidak ada grup yang bertemu Coronzon. Mereka tidak tahu di mana Coronzon bersembunyi untuk menyelesaikan ritualnya, tapi Coronzon belum menyadari kehadiran mereka. Ini jadi kesempatan terbaik mereka.
Jika mereka gagal, semuanya berakhir.
(Kami mungkin tidak bisa menang dalam pertarungan langsung, tapi bagaimana jika dia tidak bisa bergerak karena sedang melakukan ritual penting? Kali ini akan berbeda. Ini satu-satunya kesempatan kami untuk menuntaskan masalah dengannya!!)
Ujung koridor mulai terlihat.
Seperti lubang persegi panjang yang dipotong dari kegelapan.
Kamijou mengertakkan gigi, mengepalkan tangan, dan berlari sekuat tenaga.
Yang ada hanya ruang kosong dan sunyi. Aliran waktu pun serasa berhenti.
Tidak ada orang di sana.
Tempat itu sepi.
“Apa… yang terjadi?” gumam Kamijou, berhenti di tengah jalan menuruni tribun.
Kamijou mulai mendengar suara orang-orang muncul dari arah yang berbeda. Tapi tidak lebih dari itu. Bahkan dari tempat dia berdiri, dia bisa melihat Agnese, Bologna Succubus, dan yang lainnya melihat sekeliling dengan bingung di sisi lain stadion. Tidak ada sinar terang pertanda ritual selesai dan tidak ada pula pertempuran sengit agar Coronzon bisa melarikan diri.
Iblis Agung Coronzon tidak ada di sini.
Tanta-tanda kepanikan Coronzon untuk melarikan diri pun tidak terasa. Tidak ada kehangatan di ruang yang luas tersebut. Kemungkinan tempat itu memang sudah kosong selama ini. Coronzon tidak pernah ada di sini. Mereka memilih lokasi yang salah.
Apakah perhitungan mereka meleset?
Tidak, mereka tidak mengandalkan Index sendirian. Itu adalah kerja kelompok dengan bantuan dari Anna Sprengel, Kanzaki Kaori, dan banyak lagi dari sisi sihir. Dan mereka yakin Coronzon akan menggunakan stadion ini jika dia menggunakan simbolisme Zeus. Jadi bagaimana mereka bisa salah?!
“Touma.”
Seorang gadis dari kelompok lain bergabung dengannya.
Sikap kekanak-kanakan Index yang biasa dirusak oleh suara gemetar yang dipaksakan keluar.
Dia tampak ragu untuk berbicara.
“Apa distrik ini digunakan untuk tujuan lain? Selain olahraga!”
“Hah? Ya. Ini adalah distrik stadion berkubah dan stadion tanpa kubah yang dapat menampung puluhan ribu orang. Aku rasa Aogami Pierce menyebutnya sebagai tanah suci untuk konser idol.”
Suara gedebuk pelan mencapai telinga Kamijou.
Index tidak mampu menopang tubuhnya yang goyah dan jatuh kembali ke salah satu kursi. Si kucing mengeong dari lengan Index tanda mengeluh.
“Kalau begitu Coronzon tidak menggunakan olahraga sebagai simbol tempat suci atau kuil.”
Bibir Index bergetar.
“Diva, drama teater… dia menggunakan seni pertunjukan panggung. Yang berarti simbolnya bukanlah Zeus! Dan jika dia menggunakan simbol yang berbeda dan dewa yang berbeda, berarti dia berada di lokasi yang berbeda!!”
Bagian 21
Kapasitas maksimum: 255 ribu.
Coronzon tertawa kecil ketika dia mengingat angka ekstrem itu.
…Stadion sepak bola atau stadion bisbol tidak akan pernah bisa mencapai angka segitu bahkan jika setiap kursi terisi. Itu dirancang untuk konser atau pertunjukan langsung di mana lapangannya pun dipenuhi kursi.
Coronzon ada di tempat seperti itu.
(Distrik ini dipenuhi dengan stadion terbuka tanpa kubah dan stadion berkubah. Dengan kata lain, sebagian besar stadion tersebut tidak ditetapkan sebagai kandang bagi tim profesional yang pertandingannya bisa ditonton di aplikasi olahraga. Dan "stadion biasa" tidak cuma digunakan untuk kegiatan olahraga saja. …Stadion Distrik 20 menghasilkan sebagian besar pendapatannya dengan cara ini. Aku bisa langsung tahu. Dan fasilitas yang sering digunakan untuk konser bukanlah stadion atletik yang berhubungan dengan Zeus. Terus terang, ini adalah fasilitas besar yang sejak awal dibangun untuk pertunjukan, bukan untuk olahraga.)
Dia tidak menginginkan Apollo, dewa musik.
Dia menginginkan Dionysus, dewa teater.
Di Yunani kuno, acara olahraga diadakan di tempat-tempat suci sebagai persembahan kepada dewa, tapi tempat suci yang sama juga digunakan untuk aksi drama dan nyanyian sebagai persembahan. Jadi, mengadakan konser atau pertunjukan langsung di stadion yang bisa menampung banyak penonton bukanlah ide baru.
Teater Yunani adalah asal usul drama panggung modern. Dan bentuk asli dari itu adalah festival yang diadakan sebagai persembahan kepada Dionysus, dewa alkohol dan kegilaan.
Itu berarti simbolnya bisa diekstrak dari stadion besar seperti ini.
(Pekerjaan sudah melewati 90%. tapi belum ada pengejaran yang tiba. Ada apa, umat manusia? Jika kalian membiarkanku lolos semudah ini, kalian akan punah besok!!)
Bagian 22
Jadi bukan olahraga tapi musik. Tidak, teater.
Bukan stadion untuk acara olahraga tapi untuk konser dan pertunjukan langsung.
Ketika mereka mengoreksi asumsi awal dan menyuruh Index mengkalkulasi ulang, mereka diberi satu kandidat.
“Stadion Pertunjukan Luar Ruangan Cemerlang. Studion itu menghadap utara dan, jika taman yang berdekatan dipandang sebagai hutan pegunungan, simbol Dionysus bisa diekstrak. Kali ini aku yakin! Dewa kegilaan akan sesuai untuk mengendalikan kekuatannya sebagai Iblis Agung yang kacau!”
Sekarang setelah mereka punya jawaban baru, mereka tidak bisa hanya berdiam diri.
Jawaban salah awal mereka akan memberi Coronzon lebih banyak waktu untuk ritual memecah tubuhnya menjadi energi. Begitu dia menyelesaikannya, dia akan menyelam ke dalam ley line dan melarikan diri ke sisi lain planet ini.
Tidak ada waktu untuk disia-siakan.
Kamijou dan yang lainnya menumpang pembajak salju putar yang dikemudikan oleh Tsushima dari Amakusa untuk mencapai tujuan baru.
Masih di distrik yang sama.
Mengemudi ke sana tidak akan butuh waktu lama. Stadion raksasa yang mampu menampung 255 ribu orang mulai terlihat.
“Itukah tempatnya? Tolong tetaplah di kota ini, Coronzon. Sialan.”
Begitu Kamijou melompat turun dari pembajak salju ke salju merah, dia terhuyung ke samping.
Dia mengumpulkan kembali kekuatannya, entah bagaimana berhasil menjaga dirinya tetap stabil, tapi dia menabrak sesuatu di sebelahnya.
Tapi bukan karena dia hampir terjatuh.
“Ugh…”
Dia mendengar erangan kecil.
Suara itu datang dari Takitsubo Rikou.
Takitsubo pasti tiba dengan kendaraan yang berbeda. Kamijou secara naluriah menangkap gadis berpakaian olahraga yang goyah itu… dan mendapati kalau suhu tubuhnya lebih tinggi dari yang dia duga.
Bukan hanya hangat, tapi panas membara.
Kamijou terkejut.
“Gawat… Sudah berapa lama kau menyembunyikannya, Takitsubo?!”
“…”
Takitsubo menolak mengucapkan sepatah kata pun.
Takitsubo telah dipukul pingsan oleh semacam serangan dari Coronzon selama masalah Adikalika. Sungguh keajaiban dia masih hidup, tapi dia masih memilih bergabung dalam pengejaran ketimbang memanggil ambulans. Siapa pun bisa bernasib seperti dirinya nanti.
“Kau tidak bisa melanjutkan. Kau perlu istirahat! Kau sudah lihat keadaannya, kan?! Para Anglikan tidak ingin menyiksa Hamazura!!”
“Kau juga harus mendengarkan nasihatmu sendiri, Touma. Menghentikan Adikalika sudah lebih dari cukup sebagai kemenangan. Kau terluka, jadi tetaplah di sini dan jaga dia,” kata Index dengan jengkel.
Meskipun Indexlah yang sebenarnya menghentikan serangan itu setelah datang terlambat. Dia memiliki ingatan yang sempurna, jadi ini bukan sekadar kesalahan. Jadi apakah dia sedang memberi mereka kredit? Kamijou baru sadar kalau Kanzaki, Agnese, dan yang lainnya belum benar-benar melihat momen di mana Adikalika dihentikan…
Berbicara soal Kanzaki, dia memanggil semua orang.
“Jika hitungan mundur sudah mendekati akhir, kita tidak bisa lagi menghabiskan waktu untuk mencari seperti metode yang kita lakukan sebelumnya. Tapi semakin kita terburu-buru, semakin besar risikonya. Kalian semua tahu itu…”
“Kalau begitu apa kita punya waktu untuk duduk mendengarkan pidato kepala sekolah? Aku akan curi peta stadion dengan kekuatanku, jadi ayo pergi!”
Mikoto, Index, Kanzaki, dan yang lainnya mulai bergerak.
Dalam waktu singkat, tidak ada yang tersisa.
Keadaan menjadi sepi.
Kamijou duduk dan fokus mengambil napas dalam-dalam. Kondisinya tidak seburuk Takitsubo, tapi Kamijou juga sempat terhuyung beberapa saat yang lalu. Kamijou telah menerima serangan langsung dari Coronzon. Kamijou bukan dokter dan bahkan tidak bisa mengira seberapa parah kerusakan yang terjadi di dalam tubuhnya, jadi Kamijou tahu ini bukan waktunya untuk optimis.
Bibir Takitsubo Rikou bergerak di tempat dia berbaring tepat di sebelahnya.
Kamijou ragu gadis itu sedang sadar, jadi mungkin dia sedang bermimpi buruk.
“…Hamazura…”
“Kh.”
Kamijou meringis. Kesakitan.
Gadis ini pasti sangat mengkhawatirkan temannya. Jika gadis ini tidak memberikan kontribusi ekstra untuk mendapatkan nilai lebih di mata Anglikan, gadis ini akan kehilangan semua kesempatan untuk bernegosiasi dengan mereka. Tapi luka gadis ini terlalu parah untuk bisa bergerak.
Jika Coronzon melarikan diri, tidak jelas ke mana mereka akan mengarahkan kemarahannya. Bahkan jika Kanzaki, Agnese, dan yang lainnya yang bertarung di sini tidak melakukannya, para petinggi yang menonton dari seberang lautan mungkin akan menuntut seseorang yang dekat dengan Coronzon.
Mungkinkah itu sebabnya Index menggunakan kata-kata yang begitu samar untuk memberi kredit dalam upaya menghentikan Adikalika?
Tapi itu tidak cukup. Takitsubo menginginkan sesuatu yang lebih untuk membuktikan bahwa dia telah berkontribusi, jadi Adikalika saja tidaklah cukup, makanya dia sampai ikut biarpun dia harus menyembunyikan lukanya yang parah.
Dan tidak seperti gadis ini, Kamijou masih bisa bergerak.
Memang Kamijou tidak boleh memaksakan diri terlalu keras.
Tapi Kamijou harus mengambil keputusan.
“Baiklah. Aku akan pergi.”
“ Hei, Manusia. …Dasar kau ini.”
“Aku akan menghentikan Coronzon, jadi jangan khawatir, Takitsubo. Jangan lupa, menang pun tidak ada artinya jika kau mati. Tujuanmu adalah agar bisa bersama Hamazura, kan? Kalau begitu kau perlu istirahat.”
Kamijou memaksa tubuhnya yang berat untuk bangkit dan mulai berjalan.
Tidak, dia mencoba berlari dengan kecepatan penuh, tapi ini adalah kecepatan maksimal yang bisa dia tangani.
Lagi pula, Imagine Breaker seharusnya bisa berguna.
Sihir Coronzon memang luar biasa kuat.
Mungkin Kamijou tidak bisa bertarung secara langsung, tapi setidaknya dia bisa membantu. Jika dia bisa melindungi yang lain meski satu serangan saja, maka itu mungkin cukup untuk mengubah hasil pertempuran.
Dia akan membalikkan permainan ini selayaknya kartu joker.
Bagian 23
Iblis Agung Coronzon hanya perlu menunggu. Dan waktunya akhirnya tiba.
Sudah selesai.
99%.
Bahkan jika saat ini ada seseorang yang menerobos masuk, dia bisa memecah tubuhnya menjadi Telesma dan melarikan diri dari Academy City melalui ley line sebelum mereka sempat melakukan sesuatu.
Kemenangannya sudah pasti. Manusia-manusia itu terlambat untuk mencegah kehancuran. Manusia-manusia bodoh itu seharusnya melawan lebih keras.
Tapi kemudian…
“Kau pikir begitu? Baiklah, sesuai keinginanmu, akanku buat sedikit masalah untukmu.”
Penglihatannya berantakan.
Hitam, merah, perak, biru, kuning… Semuanya runtuh menjadi tarian warna yang liar.
Tidak.
Melintas di antara Fase dan memecah dirinya sendiri merupakan hal yang sama. Begitu pikir Coronzon.
Yang berarti Coronzon sendirilah yang telah runtuh.
Coronzon tidak bisa lagi menopang posisi duduknya dan jatuh ke samping. Ada yang salah dengan anggota tubuhnya.
Coronzon tidak bisa mengingat cara bernapas. Meski begitu, dia berhasil mengumpulkan seluruh kekuatannya lalu berteriak.
“A…lei…sterrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr?!”
“Kau telah melakukan kesalahan, Coronzon. Kau seharusnya tidak bermain-main dengan sesuatu seberbahaya kartu tattva yang bahkan cabal Golden pun harus menarik peredarannya. Apa kau tidak ingat apa kata Mathers? Itu bisa menyebabkan kecemasan atau sakit kepala hebat jika digunakan secara salah. Kenapa kau mengunjungi alam pikiran setelah bersusah payah menyegelku secara fisik? Apa kau mencoba bunuh diri? Di sini, aku yakin aku masih bisa menggunakan sedikit kekuatanku.”
(Pemutusan… paksa!!)
kdub!
Suara tumpul seperti saklar terdengar dari pusat kepala Coronzon.
“Khah!!”
Coronzon mencoba mengeluarkan napas yang tertahan di tenggorokannya, tapi apa yang keluar malah cairan berwarna merah.
Untuk sementara waktu, dia berbaring miring sambil kejang-kejang sampai dia secara paksa menekan geliat dari setiap organ internalnya. Ya, sangat penting baginya untuk mengingat bentuk tubuhnya yang sebenarnya. Dia sudah mulai memasuki ley line ketika sihirnya gagal. Dia harus kembali ke tubuh aslinya dengan terburu-buru, tapi jika dia lupa bentuk tubuhnya sekarang, maka dia bisa musnah sepenuhnya .
Butuh sepuluh detik penuh.
Begitu dia menenangkan napas liarnya dan mengingat siklus menghirup oksigen dan menghembuskan karbon dioksida, dia telah merebut kembali tubuh fisiknya.
Kartu tattva dapat menyebabkan kebingungan mental jika digunakan secara salah.
Bagi Coronzon, apakah itu berarti segel Aleister telah lepas? Dengan kata lain…
“Sialan!!!”
Perubahan rencana.
Coronzon tidak bisa lagi menggunakan metode ini.
Dan jika dia mau melintasi tembok kota sebagai pelarian fisik… maka dia tidak punya alasan untuk tetap tingal di stadion ini.
Dia harus pergi sesegera mungkin.
Bagian 24
Kamijou memaksa tubuhnya yang goyah untuk terus bergerak dan mendorong pintu logam kecil dengan bahunya.
Dia menyelinap dan memasuki stadion melalui pintu yang setengah terbuka, yang mungkin merupakan pintu masuk staf.
Dia mendapati sebuah ruang yang gelap, dingin, dan berat.
Serta luas.
…Dia tampaknya telah memasuki sesuatu seperti garasi parkir. Apakah ini ruang untuk pekerja yang terletak di bawah stadion? Dia tidak terbiasa dengan tempat seperti ini, jadi sulit baginya untuk membayangkan strukturnya secara keseluruhan.
Dia memang membawa ponsel, tapi dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Para pengejar juga sedang berhati-hati, jadi dia tidak ingin membuat ponsel seseorang berdering saat mereka mencoba bersembunyi.
“Index? Misaka?” panggilnya dengan suara pelan.
Dia tidak tahu bagaimana Amakusa dan Eks Pasukan Agnese mencari di stadion.
Karena mereka tidak berbagi informasi dengannya.
Dia mendengar beberapa langkah kaki ringan melalui kegelapan. Langkah itu bergema di dinding abu-abu dan bergerak menjauh darinya.
Dia segera berlari dengan kecepatan penuh ke arah tersebut.
Dia bisa tahu hanya dari mendengarkan suara langkah kaki tersebut.
“(Manusia, kau juga merasa janggal, kan?)”
(Kita semua tahu seberapa kuat Coronzon, jadi semua orang akan mencari sebagai bagian dari tim. Jadi akan mencurigakan jika ada seseorang yang pergi sendirian!)
“Coronzon!! Itu kau, kan?!”
“Seharusnya kau tidak mengatakannya dengan lantang. Kecuali kau memiliki kekuatan supranatural untuk membunuh musuhmu dengan kata-kata.”
Langkah kaki itu terhenti.
Sebuah suara berbicara dari balik salah satu pilar beton tebal yang melapisi ruangan ini.
Suara penuh kebencian.
“Aku lega. Karena kau bisa dengan mudah kubunuh dan aku bisa segera kabur dari sini. Baiklah, Kamijou Touma, bagaimana kau berniat menghentikanku? Jangan bilang kalau teriakan bodohmu tadi adalah bagian dari rencana dan kau memiliki lawan yang lebih merepotkan yang bersembunyi di dekat sini.”
Othinus yang setinggi 15 cm tidak bisa bertarung secara langsung, jadi bisa dibilang kalau Kamijou sekarang sendirian.
Gertakan Kamijou sudah terbaca Coronzon.
Bagaimana dengan ponsel di sakunya? Tidak. Bukan hanya kemungkinan tidak memiliki sinyal, tapi juga menggunakan layar sentuh di garasi parkir yang gelap akan membocorkan keberadaannya.
Coronzon akan bertindak sebelum Kamijou bisa meminta bantuan.
“Kau memilih stadion ini karena stadion ini adalah taruhan terbaikmu, kan? Kau tidak bisa menggunakan sihir untuk melarikan diri melalui ley line sekarang. Jadi menyerahlah, Coronzon.”
“Kenapa aku harus menyerah? Iblis Agung pun mampu mengendarai mobil. Dan tentu saja, mobil biasa jelas bisa menyelinap melewati pemindai energi sihir.”
Mata Kamijou membelalak.
Jadi itu rencananya setelah mencoba melarikan diri menggunakan Telesma dan ley line?
Coronzon terlalu cepat berganti haluan.
“Berapa banyak kartu as yang kau punya?!”
“Pastinya lebih dari yang bisa dibayangkan manusia biasa…”
Jika Coronzon melarikan diri dengan mobil, maka Kamijou tidak akan bisa mengejarnya dengan berjalan kaki. Menggunakan ponselnya sekarang juga sangat beresiko. Jadi apakah tidak ada yang bisa Kamijou lakukan? Jika Kamijou berteriak sekuat tenaga, yang lain pasti akan berkumpul di sini. Kamijou tidak mau membiarkan Coronzon lolos.
Suaranya berlanjut dari balik pilar.
“Hei, Kamijou Touma. Begini saja, bagaimana kalau kau diam dan membiarkanku pergi?”
“Kenapa kau tanya begitu? Itu tidak ada artinya. Jika kau melarikan diri malam ini, kau akan menghancurkan seluruh umat manusia besok, kan? Jadi semua tawaranmu tidak ada yang sepadan!!”
“Ah masa, kau pasti akan membiarkanku pergi. Karena kebetulan sekali di tengah jalan tadi aku menemukan sebuah kartu as.”
Seseorang muncul dari balik pilar beton. Secara perlahan.
Rambut pirang.
Seorang wanita.
Tapi rambutnya mengembang dan hanya sepanjang tulang belikat.
Wanita itu bukanlah Iblis Agung Coronzon.
Kamijou hanya mendengar langkah kaki dari satu orang saja, jadi apakah sewaktu di balik pilar, wanita itu telah ditangkap?
Siapa wanita yang disodorkan Coronzon? Tubuh feminim wanita itu gemetaran dan ekspresinya seperti persilangan antara menangis dan tersenyum.
Kamijou mengenalinya sebagai salah satu anggota Amakusa.
“Tsushima.”
Wanita itu bahkan tidak diperlakukan seperti sandera yang di mana "bergerak, maka artinya mati".
Tiba-tiba, darah merah memercik kemana-mana.
Dari sisi lehernya. Kamijou adalah anak SMA biasa tanpa banyak pengetahuan medis forensik, tapi lokasi darah yang menyembur itu mengirim rasa dingin ke tulang punggungnya. Wanita itu tampaknya telah disayat oleh pisau tak terlihat.
Kemudian seseorang menjulurkan kepalanya dari balik pilar sambil tertawa.
Iblis Agung Coronzon benar-benar iblis.
“Kee hee ha ha!! Melindungi nyawa manusia itu tidak mudah, bukan? Atau apakah kau bersedia kembali melewati neraka demi orang ini?!”
Coronzon menendang tubuh Tsushima selayaknya sebuah boneka, dan mendorongnya ke arah Kamijou.
Kamijou tidak punya pilihan selain menangkapnya. Hanya beberapa detik, tapi tubuh Tsushima sudah terasa lemas dan berat dalam pelukan Kamijou. Tsushima menempel berat pada Kamijou seperti selimut bulu angsa yang basah kuyup oleh air. Kamijou menekan telapak tangannya dengan kuat ke luka di leher Tsushima. Seberapa banyak darah hilang yang bisa ditolerir manusia? Jika Kamijou tidak menghentikan darah yang menyembur dari sisi leher Tsushima, maka Tsushima benar-benar akan mati.
Pada saat itu, penglihatan Kamijou tiba-tiba menjadi gelap.
Tapi bukan karena Coronzon telah melakukan sesuatu. Butuh waktu bagi Kamijou untuk menyadarinya. Kamijou sudah lama mendorong tubuhnya melewati batas.
Kamijou seharusnya tidak boleh bangun dan berjalan-jalan.
“Manusia!!”
“Kah… ah…?”
Rasa pusingnya sangat parah.
Kamijou pun ambruk dan tidak bisa bangkit kembali. Bukan hanya tidak bisa banyak menggerakkan lengan dan kakinya. Menentukan mana yang atas dan mana yang bawah pun tak bisa.
“Kh.”
Kamijou memeluk Tsushima erat-erat. Mengertakkan gigi dan mencoba menerima sebanyak mungkin informasi tentang realitas fisik di sekitarnya. Penglihatan, pendengaran, rasa, bau, sentuhan… pokoknya apa pun itu. Dia takut pingsan kalau tidak melakukannya.
“Ha ha ha!! Kau bilang itu tidak ada artinya, bukan? Kau benar sekali! Kenapa harus repot-repot menyelamatkan satu atau dua nyawa sekarang ketika aku mau menghancurkan seluruh dunia nanti!”
Tidak, ini tidak berhasil.
Bahkan setelah semua yang dilakukannya… Kamijou masih tidak bisa menghentikan pikirannya agar tak terjerumus ke dalam kegelapan.
Kamijou tidak ingin melepaskan tangannya dari luka leher Tsushima.
Terdengar suara logam pecah.
Lalu suara mesin menyala dan suara Coronzon mengendarai mobil menjauh.
“Tunggu… Coronzon…”
Kegelapan mengambil alih.
Kesadaran Kamijou Touma sepenuhnya telah memudar.
“Tungguuuuu!!!”
Bagian 25
“Kau bisa dengar aku?”
Di dekat tengah stadion, Agnese mendengar suara lelaki muda.
Mendengar suara ketika tidak ada orang di sana bukanlah hal yang aneh.
Toh dia sendiri memimpin lebih dari 250 orang, jadi dia menggunakan sihir komunikasi.
Tapi ini janggal.
Eks Pasukan Agnese semuanya adalah wanita.
“Ini… Mich……… k… Aku punya pesan mendesak. Adakah yang bisa mendengarku?”
Dia menggunakan spiritual item komunikasi Katolik Roma yang diadaptasi dari Ranting Barbara. Yang terbuat dari ranting pohon ceri dengan beberapa kuncup menempel, sebenarnya itu tidak terlalu aneh. …Meskipun memang tampak agak aneh bagi para biarawati untuk membawa-bawa alat ramalan cinta.
Kuncup keras itu secara tidak wajar terbuka di bawah langit yang dingin dan kelopak bunganya pun bergetar.
Menghasilkan suara manusia.
(Tidak mungkin. Apakah seseorang telah membajak transmisi kami?!)
“Siapapun yang berada di Academy City?! Ada sesuatu yang harus kuberitahukan pada kalian!”
“?”
Itsuwa menatap Agnese dengan bingung dari dekat. …Tampaknya Itsuwa tidak bisa mendengarnya. Itu berarti pesan itu ditargetkan hanya pada Katolik Roma dari Eks Pasukan Agnese.
Agnese Sanctis mengerutkan kening.
“Ini Agnese Sanctis. Siapa kau?”
“Syukurlah… tersambung! Ini Michael Speak, kardinal yang ditunjuk secara resmi oleh paus!!”
Agnese kehilangan kata-kata.
…Mereka adalah kaum elit berjumlah sekitar seratus orang yang dipilih dari dua miliar umat Katolik Roma sebagai penasehat paus. Normalnya, Agnese bahkan tidak akan pernah bisa berbicara langsung dengan salah satunya.
Tapi suara lelaki ini tidak cocok dengan peran tersebut. Suaranya terdengar seperti pria muda yang sedang stres. Usianya mungkin belum mencapai tiga puluhan. Mungkin kesederhanaannya itulah yang membuatnya mendapatkan begitu banyak popularitas.
(Lagi-lagi Michael. Kenapa di saat nasib dunia sedang dipertaruhkan sih.)
“Apa yang diinginkan kardinal agung dengan pekerja rendahan sepertiku?”
“Beri tahu hanya kepada umat Katolik Roma untuk segera keluar dari sana. Kalian harus meninggalkan Academy City sesegera mungkin. Timmu akan mematuhimu jika kau memberi tahu mereka!”
“?”
Agnese mengira akan menerima protes atau sarkasme sebagai tanggapan, jadi ini seperti kejutan total.
Ini adalah peringatan dini serangan.
Agnese tidak tahu apa yang sedang dipersiapkan Vatikan, tapi dia harus berasumsi bahwa itu adalah serangan sihir berskala besar yang cukup berbahaya. Sesuatu yang bahkan lebih besar dari Adikalika milik Coronzon.
“Maksudmu itu hampir diaktifkan?”
“Sebagai Katolik Roma, kita tidak bisa membiarkan seseorang seberbahaya Iblis Agung Coronzon melarikan diri dari Academy City. Jika dia tidak bisa dikalahkan di garis depan, maka Vatikan harus mengulurkan tangan.”
Mengulurkan tangan.
Jadi dari sudut pandang mereka, mereka menyelamatkan banyak nyawa.
Dan hal yang sama berlaku untuk Agnese, Lucia, Angelene, dan Eks Pasukan Agnese yang bertarung di garis depan.
“Ada tiga kondisi aktivasi. Pertama, jika kita kehilangan total jejak dan petunjuk keberadaan Coronzon. Dua, ketika sudah lewat jam 5:47 pagi waktu setempat. Dengan kata lain, saat fajar. Ketiga, jika dipastikan bahwa kekuatan non-Katolik telah mengetahui rencana kita dan melakukan intervensi. Jika salah satu dari kondisi itu terpenuhi, maka Vatikan akan mengaktifkan Api Santo Georgios.”
“Kh.”
Kondisi yang paling penting adalah yang ketiga.
Itu berarti Vatikan tidak ingin mereka membagikan informasi ini dengan pihak asing. Meskipun Academy City berada di ambang kehancuran, peringatan evakuasi dini hanya terbatas pada Eks Pasukan Agnese.
…Apakah mereka ditekan untuk meninggalkan Academy City dan Anglikan yang telah berjuang serta mempertaruhkan nyawa bersama mereka?
“Kami selalu mengawasi dan mendengarkan, Suster Agnese. Jarak fisik tidak jadi masalah. Jadi jangan mencoba menghubungi orang lain melalui trik dan tipuan. Kami tidak akan tinggal diam.”
(Pengawasan magis adalah hal yang mengerikan. Meskipun aku yakin awalnya itu dibenarkan sebagai cara bagi utusan Tuhan untuk menghukum para penyihir jahat.)
Tidak jelas seberapa jauh dia diawasi. Selama ini Katolik Roma telah dikalahkan oleh kekuatan asing, jadi dia pikir mereka hanya menggertak. Meski begitu dia tetap tak boleh gegabah.
Agnese tahu apa itu Api Santo Georgios.
Dia pernah mendengar desas-desusnya saat dia masih tinggal di Italia. Ada legenda tentang kematian Santo Georgios, atau Santo George sebagaimana beliau dikenal di Inggris. Ketika beliau ditekan untuk meninggalkan imannya di kuil jahat, bola api besar jatuh dari surga dan menghancurkan segalanya. Jadi itu adalah legenda dari kekuatan serangan murni.
“Itu sihir berskala besar yang menargetkan lokasi dar jarak jauh melalui ley line, bukan?”
“Ironisnya, itu menggunakan jalur yang sama dengan yang coba Coronzon pakai untuk melarikan diri. Tapi karena kita hanya bisa memanfaatkannya dan tidak mengontrolnya, jadi kita tidak bisa menghentikan Coronzon menggunakannya.”
Sihir itu pada dasarnya adalah bom klaster yang meledakkan dua miliar api eksplosif di seluruh kota yang ditargetkan.
Cara kerjanya bukan membakar semuanya dengan ledakan dan lautan api, tapi menggunakan suhu tinggi ekstrem agar dengan cepat mengubah tekanan atmosfer dan tingkat oksigen di seluruh area. Yang berarti membentengi diri di balik perisai atau dinding tidak akan ada artinya. Karena tubuh kita akan meledak dari dalam. Dan yang tersisa hanyalah kota yang terbengkalai.
Intinya itu adalah metode ideal dalam membunuh manusia.
(Sekarang bukan waktunya sesama manusia saling bertarung!!)
“Kukira paus telah belajar dari masa sulit Perang Dunia Ketiga. Aku tidak percaya dia akan menyetujui solusi sebrutal itu.”
“Beliau tidak perlu menyetujuinya. Para kardinal memiliki wewenang untuk mengadakan konsili ekumenis atau voting. …Dan mayoritas memang menginginkan hal ini. Kami yang minoritas tidak punya cara untuk menghentikan mereka.”
“Bukankah itu tidak sopan?”
“Protes seorang abstain tidak akan mengubah hasil pemungutan suara. Apa aku pernah bilang bahwa aku suka ini terjadi?!”
|Abstain: GolPut (golongan putih).
Ada kekuatan nyata di balik kata-kata terakhirnya.
Itu pasti perasaannya yang sebenarnya. Itu sebabnya kata-katanya menusuk Agnese begitu dalam.
Tapi di sisi lain, lalaki itu tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi. Agnese pun tahu itu.
(Ini bencana…)
Dan ada masalah di luar jumlah korban di seluruh Academy City.
Masalah yang lebih mendasar.
“Tidakkah kau tahu kalau sihir pembunuh manusia tidak akan memengaruhi iblis yang non-manusia? Menciptakan kekacauan yang tidak perlu di Academy City hanya akan menyebabkan pengepungan gagal, meninggalkan celah, dan membuat Coronzon senang bisa melarikan diri!!”
Tampaknya sifat khusus Coronzon tetap berlaku.
Mencerai-beraikan orang-orang dan menghalangi kemajuan mereka.
(Aku tidak percaya sudah sampai sejauh ini.)
“Suster Agnese!!”
“Apa yang kau inginkan, Kardinal?! Aku benar-benar sibuk sekarang!”
“Ini kompromi. Sejauh ini saja yang bisa kulakukan. Rencananya adalah mengaktifkan Api Santo Georgios secepat-cepatnya, dan sebentar lagi itu akan segera diluncurkan!”
Ada kebaikan dalam kata-katanya.
Tapi kebaikan itu tidak diperlukan. Ada yang salah secara mendasar dari pernyataannya.
“Jangan bilang ini soal harga diri yang terluka. Index menghentikan Adikalika dengan mengarahkannya ke pulau gurun tak bernama di Atlantik. Semenanjung Italia tidak dirugikan!”
“Tapi faktanya Coronzon memang meluncurkan sihir serangan skala besarnya. Dan itu bukan satu-satunya kartu asnya. Kekuatannya tak terbayangkan, jadi dia harus dihancurkan saat kita punya kesempatan. Tidak ada kardinal yang bisa mengabaikan poin tersebut. Maaf, aku juga setuju dengan poinnya!”
Agnese tidak yakin harus berkata apa.
Agnese mengerti. Ya, bukannya Agnese tidak marah. Jika dia tidak berusaha secara sadar untuk tetap tenang, dia mungkin sudah meninggalkan Anglikan.
“Kekerasan memang salah,” lanjut lelaki tersebut. “Aku mengerti itu. Kita membiarkan Kursi Kanan Tuhan memanipulasi kita selama Perang Dunia Ketiga. …Tapi kali ini, kita berhak membalas. Membalikkan gagasan ini tidak akan mudah, Suster Agnese.”
(Coronzon. Kehadiranmu saja benar-benar membuat kekacauan bagi seluruh umat manusia!)
Tentu saja, ada perasaan campur aduk dari pihak Katolik Roma.
Tentang Coronzon dan tentang Academy City karena gagal menghentikan krisis ini lebih awal.
…Dibutuhkan banyak keberanian untuk menembakkan rudal nuklir pertama yang dapat menghancurkan dunia. Tapi bagaimana jika musuh meluncurkannya lebih dulu? Maka rintangan mental untuk menekan tombol peluncuran akan menurun.
Orang-orang mudah dipengaruhi oleh kata "pembalasan". Kata-kata itu bahkan bisa membakar seluruh dunia.
“Aku akan melakukan semua yang kubisa, tapi aku ragu aku bisa menghentikannya. Cepat atau lambat, Api Santo Georgios akan diluncurkan.”
Lelaki itu adalah salah satu orang yang berakal sehat.
Lelaki itu memilih untuk tidak menggunakannya.
Tapi itu sebabnya kata-katanya bukanlah sekedar ancaman atau gertakan belaka.
Bagi kaum pasifis, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada harus menyatakan bahwa kekejaman akan segera terjadi.
“Jadi segera tinggalkan kota itu. Sayangnya sudah terlambat bagi Academy City dan Anglikan. Jadi kumpulkan semua umat Katolik Roma dan keluar dari sana secepatnya!!”
Pihak Mana yang Menang?
Scoreboard.
Bagian 1
Saat Coronzon meninggalkan mobil curian, ingatannya kembali terputus.
“…”
Hal berikutnya yang Coronzon tahu, dia sudah bersandar di dinding bangunan yang dingin.
Sesuatu telah terjadi.
Aleister telah melakukan sesuatu.
Coronzon telah melakukan perjalanan ke selatan dari Distrik 20 untuk mencapai Distrik 9, yang berisi sekolah-sekolah seni. Sebagian besar pasukan Anglikan berada di utara kota, jadi Coronzon meninggalkan mobil curiannya dan berencana untuk mengambil mobil lain (juga curian tentunya) untuk mencapai tembok selatan.
Tapi, Coronzon tidak bisa lagi mempercayai rencana tersebut.
Coronzon meraba-raba jubahnya. Dengan menyedihkan, didorong oleh rasa takut dan kecemasan. Dia menarik sebuah benda yang lebih kecil dari telapak tangannya dari bagian pakaiannya yang cukup memalukan.
Coronzon tidak bisa mempercayainya.
(kontroler gim nirkabel? Itu berarti pengontrol tersebut memiliki ID sendiri dan dapat menghasilkan sinyal sendiri untuk menunjukkan lokasi keberadaannya.)
“K-kau mau menghentikan Iblis Agung dengan ini… dengan barang rongsokan yang bahkan harganya kurang dari 5000 yen?! Kau konyol, Aleisterrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr?!”
***
Sesosok tubuh menggeliat. Dan mengeluarkan jeritan singkat.
Tidak, itu seorang pria yang mendorong jatuh seorang gadis?
Pakaian yang tampak seperti perpaduan antara pakaian rumahan dan pakaian tidur itu robek parah, dan pria itu sedang meraih pakaian dalam wanita tersebut.
Sempurna.
Itulah penilaian jujur dari Coronzon yang sedang berkelana.
Kejadian itu berlangsung di sebuah bangunan kecil berbentuk kotak.
Sebuah pos Anti-Skill. Yang kecil. Kira-kira seukuran pos polisi di dunia luar.
Di tempat itu seharusnya tidak terjadi hal-hal seperti ini. Bangunan publik itu seharusnya selalu ada petugas yang bekerja 365 hari setahun untuk menjaga ketertiban kota, tapi hari ini bangunan itu kosong.
Sambil menahan si gadis di lantai dengan kedua tangannya, pria itu bingung bagaimana cara melepaskan gesper ikat pinggangnya. Dia mendongak dengan ekspresi aneh yang membuat dagunya lebih menonjol.
“Hah? Siapa kau?”
Coronzon bahkan tidak menanggapi.
Iblis Agung Coronzon menusukkan tangannya tepat di tengah perut si pria bajingan tersebut.
Bau darah yang berceceran tercium menyengat.
“Bhee, ee, eeeeeeeeeek!!”
Pria itu membentur rak-rak di belakangnya dengan keras sampai-sampai benda-benda di rak berjatuhan.
Pria tak penting itu bergegas keluar dari pos Anti-Skill, tangannya melambai-lambai liar.
Dengan rongga perutnya yang tertusuk dan kontroler gim yang tertancap di dalamnya. Kehigienisan pembedahan? Mengapa Coronzon harus peduli dengan hal semacam itu? Organ-organnya yang dipenuhi bakteri mungkin akan berhenti berfungsi dalam waktu singkat, tapi pria itu masih berguna sebagai umpan selama dia bergegas dan melarikan diri sebelum hal itu terjadi.
Dalam kebiasaan barunya, Coronzon memegang kepalanya yang pusing dan baru menyadari bahwa tangannya ternodai oleh darah kotor si pria bajingan. Segala hal membuatnya kesal saat ini. Tidak ada yang berjalan sesuai keinginannya.
Coronzon melampiaskan kemarahannya secara verbal.
“Aleister!! Kematian itu adalah tanggung jawabmu atas tipuan yang kau lakukan. Apa kau puas? Sungguh tidak masuk akal bagimu untuk mencoba menyelamatkan dunia. He he, ha ha ha. Kaulah yang membuat dunia seperti ini! Jadi menyerahlah! Kau sudah tahu bahwa semua yang kau lakukan hanya akan kembali menghantui dirimu!!”
Meskipun begitu, sudah berapa kali ini terjadi?
…Atau mungkinkah itu memang kehendak Aleister yang mengirimkan tanda-tanda ini kepada Kamijou Touma dan para pengejar lainnya? Apakah Aleister benar-benar memiliki kekuatan yang cukup untuk bisa membajak tubuh Iblis Agung Coronzon sebanyak ini?
Mungkinkah Coronzon sendiri yang mengirimkan petunjuk-petunjuk ini kepada para pengejarnya? Coronzon bergidik. Tidak, itu tidak mungkin. Apa manfaatnya bagi dirinya? Tapi mungkinkah itu adalah pikirin intrusif, seperti dorongan yang dirasakan seseorang untuk mengaktifkan alarm kebakaran begitu mereka melihatnya?
Coronzon mencengkeram rambutnya erat-erat. Terdengar suara patahan yang tidak menyenangkan.
Coronzon tidak bisa lagi memahami pikirannya sendiri.
“U-um.”
Saat itulah seseorang dengan gugup berbicara kepadanya. Gadis yang terduduk di lantai mendongak menatapnya, sama sekali lupa merapikan pakaiannya.
Dengan kekaguman di matanya.
“…Mengapa kau menatapku seperti itu?”
“Um, terima kasih… k-karena sudah menyelamatkanku.”
Iblis Agung Coronzon membungkuk dan menutup mulutnya dengan tangan.
Dan dia pun muntah.
Coronzon tidak tahan. Sebelum si gadis sempat kembali berkata, Coronzon menggerakkan tubuhnya yang gemetar, bergegas keluar dari pos Anti-Skill. Iblis Agung itu telah melarikan diri .
Coronzon berjalan beberapa meter lalu tersandung. Dia jatuh ke atas salju merah yang membeku di tanah.
Dia berbaring di salju sementara berbagai pikiran berputar-putar di kepalanya.
Ini tidak benar.
Apa yang sedang terjadi?
Coronzon baru saja menusukkan tangannya tepat ke perut seorang pria biasa yang tidak memiliki hubungan dengan sihir. Dengan kekuatan yang cukup untuk merenggut nyawa si pria. Dan hanya agar Coronzon bisa menanamkan sinyal lokasi di dalam tubuh si pria. Mungkin ada cara lain, tapi Coronzon memilih cara itu agar dirinya bisa bersenang-senang.
Itu memang ditujukan untuk dirinya. Itu adalah tindakan kejam yang pantas dilakukan oleh iblis.
…Tapi apakah pada akhirnya dia malah menyelamatkan nyawa seseorang?
Mustahil.
Dia bertindak atas kehendak bebasnya sendiri.
Dia yakin akan hal itu.
Tapi hasilnya justru sangat mengecewakan harapannya?
Perbuatan buruknya telah diubah menjadi perbuatan baik.
Itu adalah penghinaan yang paling pedas.
(Apakah ada …)
Makhluk yang dikenal sebagai Iblis Agung itu dengan penuh kebencian mengertakkan gigi belakangnya.
Keringat mengalir deras dari dahinya. Dia memiliki firasat buruk.
Kontroler gim nirkabel? Itu bukan hal aneh, tapi dari mana Aleister mendapatkannya dalam beberapa detik setelah Aleister mengambil kendali? Coronzon ragu Aleister akan membobol toko elektronik yang pintu besinya tertutup. Aleister tidak akan punya waktu untuk mencari di rak gim di toko diskon. Apakah itu berarti seseorang kebetulan menjatuhkannya di pinggir jalan? ...Apakah itu hanya kebetulan belaka seolah-olah ada kehendak yang lebih besar yang bekerja?
(Apakah ada campur tangan Tuhan yang mengubah apa yang telah kulakukan? Apakah pengaruh baik mendistorsi tindakanku? Sudah terlambat, dunia. Apakah kau benar-benar mengharapkan aku untuk tunduk? Aku akan bertindak! Bertindak melampaui batas!! Dan menghancurkan dunia dengan kehendak bebasku sendiri!!!)
Bagian 2
Alarm berbunyi nyaring di penjara Distrik 10.
Memberitahukan adanya keanehan di penjara yang sama.
Seseorang sudah membobol masuk.
“Apakah itu Oniyama?!”
“Tidak, dia pasti akan memanfaatkan wewenangnya sebagai Dewan kota dan memakai jalur legal untuk berkunjung. Ini beda orang, jadi hati-hati!”
Qliphah Puzzle 545 meninggalkan sel sambil mendengarkan sekretaris wanita berbicara melalui perangkat di dinding.
Musuh sudah dekat.
Sedekat koridor yang menuju sel isolasi yang tersembunyi jauh di dalam penjara. Wanita berambut perak dan berkulit gelap itu mengenakan pakaian compang-camping yang sama sekali tidak terlihat higienis. Dia sendirian. Dia bahkan tidak memakai alas kaki. Seorang sipir biasa mungkin akan menggelengkan kepala, bertanya-tanya bagaimana dia bisa masuk ke dalam penjara yang dijaga ketat.
Tapi Qliphah Puzzle 545 memahami sihir dengan sangat baik.
Dia memahami ancaman yang ada di hadapannya dengan akurat.
“Salah satu penyihir Anglikan yang ahli dalam pertarungan melawan penyihir?!”
“Aku adalah Ahli Nekromansi, Isabella Theism. Kau seharusnya sudah tahu namaku setelah aku mengancam pemimpin kota.”
Qliphah Puzzle 545 tercengang. Keamanan penjara ini sudah terbukti tidak mampu mencegah masuknya tamu tak diundang, dan sekarang orang seperti ini berhasil masuk?
“Pintu masuk di belakang sana ditutupi oleh sejumlah sensor, tapi sensor-sensor itu hanya dirancang untuk mendeteksi penyusup yang masih hidup. Aku sarankan untuk memodifikasinya agar dapat mendeteksi dan langsung menyerang orang mati. Menyamar sebagai orang mati tidaklah sulit.”
“Mengapa kau di sini? Umat Anglikan, yang mengetahui jalannya pertempuran dengan Coronzon, seharusnya tahu bahwa masterku tidak dalam kondisi yang siap untuk berdialog.”
“Sepertinya memang begitu. Meskipun aku tidak ada di sana saat itu karena aku pingsan saat menangani urusan lain. Terlepas dari itu, jika apa yang kudengar itu benar, kita benar-benar berada dalam situasi yang genting. Saat ini, menurutku sangat penting bagi kita untuk mengalahkan Iblis Agung Coronzon dan mengembalikan stabilitas ke dunia.”
“Kalau begitu, sampaikan itu pada Coronzon, bukan pada masterku!”
“Oh, apa kau tahu di mana dia berada?”
Qliphah Puzzle 545 terdiam.
Isabella menghela napas panjang penuh kekesalan.
“Itulah masalah sebenarnya. Yang kubutuhkan sekarang adalah informasi, dan beberapa petunjuk acak saja tidaklah cukup. Jaringan luas telah terbentang di seluruh Academy City, seperti kamera keamanan, robot keamanan, drone, satelit, dan sebagainya. Melacaknya membutuhkan pengaktifan kembali infrastruktur data kota secara total. Serta sarana untuk menumpas Coronzon… aku memang tidak suka, tapi aku tak punya pilihan lain selain menyelamatkan Ketua Dewan yang baru? Aku tidak bisa membiarkan dia terus tidur dengan Master Key tergenggam di tangannya.”
“…”
Isabella Theism tampaknya tidak terganggu oleh tatapan skeptis dari Qliphah Puzzle 545.
Ekspresi wajah Isabella menunjukkan bahwa dia sudah menduganya.
Belum lama ini, dia bertanggung jawab atas kelompok yang secara fisik menguasai Academy City dan mencoba menggunakan kota itu sebagai alat sekali pakai untuk mengalahkan Coronzon. Akan aneh jika Qliphah Puzzle 545 langsung mempercayainya.
Qliphah Puzzle 545 menatapnya tajam dan mengajukan pertanyaan.
“Pakaianmu berbau kematian. Kau adalah ahli sihir kematian yang berdebat dengan masterku di telepon… Bisakah seorang penyihir kematian menyembuhkan manusia yang masih hidup?”
Isabella Theism meraih kain lusuhnya dengan kedua tangan dan mengangkatnya ke atas. Tanpa ragu.
Dia mengenakan pakaian dalam di area bawah, tapi pakaian dalamnya sangat tipis dan kecil.
Terlihat dua buah benda berwarna cokelat yang bugar bergoyang-goyang.
Qliphah Puzzle 545 adalah seorang perempuan, tapi dia tetap tersentak ketika diperlihatkan hal itu secara tiba-tiba.
“Uh?”
“Perhatikan baik-baik. Tulang rusuk dan tulang dadaku patah parah dan satu pecahan tulang yang tajam menusuk paru-paru kananku. Bisakah kau melihatnya? Bagaimana menurutmu?”
“Semua tulang rusukmu masih utuh dan tidak ada memar akibat pendarahan internal. Semuanya sudah sembuh?”
Ketika gadis iblis itu mendekat dan mengamati dari dekat, Isabella dengan canggung mengalihkan pandangannya.
Ternyata hal ini memang memalukan bagi Isabella.
“Loko Atisou. Voodoo lebih dari sekadar membuat zombi. Ini adalah agama politeistik dengan berbagai macam dewa, jadi tentu saja ada dewa pengobatan.”
Sama seperti agama lainnya, Voodoo juga berfungsi untuk mengatur dan membantu masyarakat setempat. Sisi kekerasan dan pertempuran hanya ditujukan untuk keadaan darurat ketika kelompok diserang oleh musuh eksternal atau internal. Tapi bukan hanya itu yang bisa dilakukan Voodoo.
Voodoo tidak diciptakan untuk digunakan dalam film horor, jadi ada Voodoo yang baik hati yang mendengarkan kekhawatiran orang-orang dan menyembuhkan luka serta penyakit.
Penyembuhan adalah wilayah yang menantang bagi Iblis Qliphah Puzzle 545 yang berspesialisasi dalam Qliphoth yang berisi semua hal yang tidak murni dan tidak bermoral. Dia harus memulai dengan kutukan atau serangan dan kemudian membangunnya secara terbalik. Kebutuhan untuk menyertakan konversi itu di setiap langkah berarti akan jauh lebih cepat untuk meminjam kekuatan dewa yang secara langsung berurusan dengan pengobatan.
Isabella menyimpulkan bahwa bukti validnya telah diterima, jadi dia menurunkan kain lusuhnya.
“Aku bersedia menganggapmu sebagai dokter dari sisi sihir. Dan aku mengerti bagaimana ini selaras dengan kepentinganmu. Jadi, dari mana kau akan mulai, dokter sihir?”
“Yah, aku memang punya beberapa barang yang siap pakai. Seperti Zombie Powder.”
“Zombie Powder?!”
Meskipun berwujud iblis, mata Qliphah Puzzle 545 melotot hanya dengan mendengar namanya. Tapi Isabella Theism menghela napas kesal.
“Bubuk zombi Voodoo… Yah, memang sih Voodoo sejati lebih sering menggunakan bahasa Prancis ketimbang Inggris. Tapi, itu bukanlah racun yang ditaburkan pada mayat busuk agar bisa dikendalikan.”
Isabella sepertinya mengisyaratkan bahwa dia tidak menggunakan Voodoo yang sebenarnya.
Betapapun banyaknya yang Isabella ketahui tentang hal itu, dia hanya menggunakan teknik-teknik hebat mereka secara ilegal.
“Ini adalah hukuman di mana manusia yang masih hidup ditempatkan dalam keadaan seperti mati suri, di mana mereka tidak dapat berpikir atau membuat keputusan dan akan melakukan apa pun yang diperintahkan kepada mereka. Jadi, kau dapat menganggapnya sebagai obat yang digunakan untuk mencegah seseorang untuk mati sampai hukumannya selesai.”
“Maksudmu seperti halnya digitalis beracun yang mana bisa digunakan sebagai stimulan jantung?”
“Dan sebaliknya, garam dan gula juga dapat membunuh meskipun merupakan nutrisi penting untuk kehidupan. Zat-zatnya sendiri tidak baik ataupun buruk. Semuanya bergantung pada bagaimana zat-zat tersebut digunakan.”
Bagian 3
Suara ambulans menggema di salah satu sudut Distrik 20.
Kamijou melirik ke arahnya.
Takitsubo Rikou… tidak bisa melanjutkan perjalanan. Dengan salju yang membeku, lampu lalu lintas yang mati, dan ancaman yang lebih nyata dari para pengintai, Kamijou bersyukur ambulans benar-benar datang saat mereka memanggil.
Seekor anjing besar melompat masuk ke dalam ambulans yang sama.
“Aku akan pergi bersamanya.”
“Hei, kau yakin soal itu?”
“Aku tidak bisa banyak membantu tanpa AAA, dan Coronzon akan berhati-hati dengan hidungku yang luar biasa setelah aku menunjukkan kegunaannya. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan di garis depan. Jadi aku ingin berkontribusi dengan menghilangkan kekhawatiran ini dari hati kalian, sehingga kalian bisa bergerak lebih bebas. Dengarkan aku. Jangan khawatirkan gadis ini.”
Kamijou dan yang lainnya hanya bisa menyaksikan ambulans itu pergi.
Masih ada lagi yang harus mereka lakukan.
Tapi…
“Sebagai hiburan, ada laporan mengenai sinyal lokasi pertanda dari Aleister. Sayangnya, sinyal itu ditemukan tertanam di tubuh seorang pria. Jadi, kami harus memulainya dari awal.”
“Hei, itu tidak memberi kita informasi apa-apa. Jika kita tahu jalur yang ditempuh oleh umpan yang sekarat itu, kita seharusnya bisa mengetahui di mana dia bertemu dengan Coronzon.”
Hanya itu yang mereka diskusikan dalam perjalanan menuju sebuah sudut Distrik 9.
Sekarang sudah pukul 3 pagi.
Di sinilah mereka kehilangan jejak Coronzon.
Kamijou Touma menghela napas pelan sambil mendengarkan diskusi antara Kanzaki dan Othinus.
Yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu.
Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi Kamijou selain tidak ada yang bisa dilakukannya ketika dia tahu Coronzon sedang bergerak. Semuanya akan berakhir begitu Coronzon melewati tembok dan meninggalkan kota. Tapi kota itu terlalu besar untuk digeledah secara acak.
Kamijou telah memutuskan bahwa dia tidak mau hanya menunggu, tapi kenyataan tidak sesuai dengan keinginannya.
Index, Kanzaki, dan beberapa orang lainnya tampaknya sedang melakukan pencarian magis, tapi itu masih belum cukup untuk melacak Coronzon.
Mereka juga perlu melakukan pendekatan dari sisi sains, tapi Mikoto saja tidaklah cukup.
Melacak buronan saja sudah cukup sulit, tapi Kamijou tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa Coronzon masih menyembunyikan sesuatu. Suatu langkah ampuh atau perubahan mendadak yang tidak pernah Kamijou duga. Sesuatu yang bahkan tidak bisa mereka bayangkan saat terus menjelajahi labirin ini, tapi juga sesuatu yang akan kembali membalikkan segalanya jika mereka gagal mencegahnya.
Pikiran Kamijou Touma tertuju pada seseorang tertentu.
Mungkin semuanya bergantung pada kesembuhannya…
Bagian 4
Di sel isolasi, Ketua Dewan Accelerator terbaring tak sadarkan diri di tempat tidur dan terhubung ke peralatan medis. Bahkan orang nomor 1 di Academy City pun bisa terbunuh oleh serangan sekarang. Sungguh tidak biasa bagi Qliphah Puzzle 545 untuk membawa orang luar sedalam ini ke dalam penjara.
Orang luar itu adalah si Ahli Nekromansi Isabella Theism.
Situasi saat ini menuntut kita untuk melampaui hal-hal yang biasa.
“Bagaimana caramu menyembuhkan masterku?”
“Legba Artibon.”
Hanya itu yang Isabella katakan.
Itu adalah nama dewa penjaga gerbang yang mengatur semua ritual. Jadi, tidak peduli kekuatan dewa mana yang ingin digunakan dalam ritual tersebut, kita harus terlebih dahulu meminta izin kepada dewa penjaga gerbang. Dan karena dewa ini muncul di semua ritual, tidak ada tanggal atau lokasi spesifik yang meningkatkan kekuatan dewa ini.
Sesuatu muncul dari lengan Accelerator.
Itu adalah pecahan transparan yang panjangnya hanya beberapa milimeter. Sepotong dari monitor LCD yang rusak.
Lebih banyak lagi yang menyusul. Seperti daun-daun yang mengapung mengikuti arus sungai, semakin banyak serpihan yang diam-diam keluar dari tubuhnya.
Tidak ada setetes darah pun yang tumpah dan tidak ada luka yang terlihat.
Meskipun semua pecahan tersebut terletak di posisi yang sangat berbahaya, dekat dengan arteri dan organ utama.
“K-kau sudah selesai?!”
“Benda-benda itu tidak seharusnya ada di sana dan tubuh manusia memiliki beberapa fungsi yang dirancang untuk secara otomatis menghilangkan hal-hal seperti itu. Tidak perlu operasi ekstrim. Aku hanya perlu melakukan beberapa penyesuaian pada fungsi-fungsi tersebut.”
Tentu saja, meningkatkan kekebalan tubuh secara sembarangan hanya akan memicu penolakan, di mana sistem kekebalan tubuhnya menyerang tubuhnya sendiri. Hanya seorang Ahli Nekromansi profesional terlatih yang mampu melakukannya.
Isabella menghela napas pelan.
“Kau tahu kan, pecahan kaca saja tidak cukup untuk mengurung pikiran manusia selamanya? Ada tugas lain yang jauh lebih penting.”
“Mematahkan kutukan.”
“Voodoo dapat mengatasi itu dengan mudah. Zombi berada dalam keadaan mati suri yang dapat dikendalikan dengan menghentikan detak jantung menggunakan racun lalu menghidupkannya kembali dengan penawar. Penawar dan pemutusan kutukan sudah termasuk dalam ritual tersebut.”
Sambil berbicara, Isabella menyelipkan jarinya ke dalam lipatan kain lusuhnya. Dia mengeluarkan berbagai botol kecil. Botol-botol itu berisi bubuk, cairan, daun dan akar kering, serangga hidup… dan masih banyak lagi.
Gadis iblis itu sudah terbiasa dengan hal-hal kotor dan najis, tapi dia tetap merasa jijik.
“Uweek. Rasanya seperti tersesat di museum barang-barang aneh.”
“Bayangkan saja seperti satu set 72 pensil warna, dan bergairahlah. Meskipun secara teori kita dapat merepresentasikan segala sesuatu di dunia dengan tiga warna primer, tapi tugas sebenarnya tidak sesederhana itu, bukan?”
Wanita berkulit cokelat itu mulai bekerja. Dengan cepat dan akurat.
Kali ini dibutuhkan lebih dari satu nama.
Artinya, bahkan dia pun tidak menganggap ini sebagai tugas yang mudah.
“Voodoo cukup fleksibel untuk memasukkan segala makhluk gaib sebagai senjata. Namamu Qliphah Puzzle… 545, kan? Aku akan memasukkanmu ke dalam sistemku.”
“Aku akan melakukan apa saja untuk masterku, tapi apakah dengan melibatkanku akan mengubah sesuatu?”
“Sama seperti garam dan gula yang dapat membunuh dan sama seperti digitalis beracun yang dapat menjadi stimulan jantung, tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang benar-benar beracun. Semua bisa diolah sebagai racun. Dan bisa juga diolah sebagai obat.”
Voodoo tidak menganggap para dewa sebagai baik atau jahat, tapi umumnya dewa masuk ke kedua sisi tersebut. Yang berarti para dewa tidak menentukan posisi mereka berdasarkan konsepsi manusia tentang baik dan jahat. Tidak ada dewa-dewa yang murni baik ataupun jahat, dewa-dewa dapat dengan bebas berpindah antara kedua sisi tergantung pada waktu dan situasi. Itulah yang membuat mereka Mahaguna, tapi itu juga yang membuat mereka sulit digunakan. Diperlukan seorang pendeta dengan pelatihan khusus untuk menangani mereka.
Dengan begitu, Ahli Nekromansi itu tidak dapat mengabaikan makhluk yang dikenal sebagai iblis buatan yang berada di depannya.
Dia hanya memandangnya sebagai makhluk non-manusia dengan kekuatan supranatural.
Jika Isabella mampu menakar seberapa banyak dosis yang diperlukan, maka Qliphah Puzzle 545 dapat dimanfaatkan untuk menyelamatkan nyawa.
“Baiklah, mari kita mulai.”
“Oke!”
“Melalui Dewa Penjaga Gerbang Legba Atibon, aku menghubungi Dewa Pengobatan Loko Atisou, dan menghubungkan terminal ritual ke Dewa Pembawa Pesan Brav Gede.”
Para praktisi Voodoo tidak berpikir untuk menggunakan sihirnya sendiri.
Mereka meminjam kekuatan dewa yang setara untuk mencapai sebuah keajaiban.
Bahkan, mereka akan meminjam kekuatan dewa lain untuk menyampaikan permintaan mereka kepada dewa yang mereka inginkan.
Dalam Voodoo, jika suatu keajaiban berada di luar ranah manusia, maka suara manusia pun tidak dapat mencapai dewa yang bersangkutan. Mereka membutuhkan perantara terpisah untuk dapat terhubung.
Atau dengan kata lain…
Mereka mengandalkan satu dewa untuk memanggil dewa lainnya. Jadi, dengan melewati Iblis Buatan Qliphah Puzzle 545 (yang tidak ada dalam sistem Voodoo), Isabella seharusnya dapat mengajukan permintaan lebih kepada para dewa Voodoo.
Itu adalah jalan pintas yang mustahil.
Atau sebuah pintu belakang ilegal.
“Melalui pertemuan Qliphah, aku memohon kepada Baron Samdi. Bagilah jiwa ini menjadi lima wilayah dan ungkapkan bagian yang sengaja ditempatkan dalam spiral tak berujung. Individualitas manusia dikelola oleh Ti Bon Ange. Ungkapkan kepadaku kekuatan jahat yang memutuskan hubungan yang semestinya. Sama seperti bubuk zombi, ia mengambil bentuk racun.”
Sesuatu seperti percikan api berwarna biru keputihan pun muncul.
Itu bukan bagian dari ritual tersebut.
Qliphah Puzzle 545 mengira kalau itu jebakan yang ditinggalkan oleh Coronzon, tapi ternyata bukan.
Itu datang dari sang nomor 1 di Academy City.
Dia bukanlah manusia biasa. Jadi apakah tubuhnya bereaksi?
“Racun kapur adalah mantra pembunuhan yang tak terhentikan karena menghasilkan racun yang berbeda setiap kali ritual yang sama dilakukan. Ini membuktikan bahwa semua racun dapat disembuhkan selama bahan-bahannya diketahui. Aku telah melihat dengan mata kepala sendiri kalau racun jahat itu secara tidak adil merampas kesadarannya! Dengan identitasnya yang telah diketahui, pasti bisa disembuhkan!!”
Bau darah tercium di udara.
Isabella Theism memiliki luka sayatan dangkal di pipi kanannya.
Percikan api berwarna biru keputihan itu berbahaya.
Tapi, dia tidak menghentikan ritual tersebut.
Coronzon tidak boleh dibiarkan lolos dari Academy City. Tapi mereka tidak memiliki cukup data untuk melacaknya. Mereka membutuhkan Ketua Dewan yang baru dan Master Key yang dipegangnya. Fungsi Academy City harus dipulihkan sepenuhnya sebelum mereka dapat mengejar Coronzon.
Kelangsungan hidup satu orang Ahli Nekromansi tidaklah penting.
Tapi jika seluruh dunia hancur, maka semua yang ingin dilindungi oleh Isabella Theism akan ikut mati bersamanya.
Isabella tidak bisa membiarkannya.
Apa pun yang terjadi.
“Jawablah aku, Dewa Pengobatan Loko Atisou. Wadah untuk kekuatan sucimu dan bahan-bahan untuk obatnya telah terkumpul di sini!! …Tidak diperlukan sayatan eksternal. Kondisi untuk menyelamatkanmu sudah ada di dalam tubuhmu sejak awal. Karena itu, aku memanggilmu, pikiran yang terpisah, aktifkan dirimu dari dalam tubuhmu dan bebaskan dirimu dari sangkar ini!!”
Cahaya memancar keluar.
Isabella Theism tersentak mundur.
Sang Ahli Nekromansi dihantam oleh cambuk dahsyat yang mirip dengan listrik. Tak mampu menahan serangan tersebut, dia terpental. Beberapa peralatan medis mengeluarkan suara elektronik yang memekakkan telinga.
Dan tidak terjadi apa-apa.
Tidak ada perubahan. Bau darah berasal dari Isabella. Accelerator yang terlelap sama sekali tidak berubah, baik itu makin baik maupun makin buruk.
Sang Level 5 yang konon merupakan yang terkuat di Academy City tidak kunjung bangun.
Qliphah Puzzle 545 harus menerimanya.
Mereka telah gagal.
Suasananya sangat gelap, suram, dan mencekam.
Qliphah Puzzle 545 merasa seperti terhimpit oleh udara itu sendiri ketika sebuah suara mencapai telinganya.
Isabella Theism berbisik.
“Kh… sekarang harus apa kita?”
Qliphah Puzzle 545 tidak sempat bertanya apa maksudnya.
Sang Ahli Nekromansi melanjutkan.
“Dalam skenario terburuk, aku bisa mengendalikannya sebagai mayat agar dia bisa menggunakan Master Key.”
“Tapi…”
“Bubuk zombi tidak mengendalikan mayat yang membusuk. Bubuk itu mencegah orang untuk mati dengan mempertahankannya dalam keadaan mati suri. Tapi dengan mengubah interpretasi tersebut, hal itu mungkin saja terjadi. Bubuk itu dapat digunakan seperti dalam film-film horor.”
“Tidak! Itu tidak sama dengan menyelamatkannya!!”
Penolakan Qliphah Puzzle 545 adalah hal yang wajar.
Dengan asumsi bahwa tujuannya adalah menyelamatkan Ketua Dewan Accelerator.
“Tapi bukankah tujuan kita di sini adalah untuk memulihkan Academy City dan melacak Coronzon dengan Master Key?!”
Tujuannya sedikit berbeda.
Isabella Theism menginginkan bantuan Accelerator untuk melindungi dunia dari Coronzon. Pemulihan sang nomor 1 hanyalah sarana untuk mencapai tujuan tersebut.
Menjelaskan hal itu di awal menunjukkan bahwa Isabella lebih masuk akal daripada kebanyakan orang. Dia bisa saja berbohong kepada Qliphah Puzzle 545 dan kemudian menggunakan bubuk zombi sebagai racun.
“Kau harus memilih. Tak ada yang punya keberanian untuk memilih pilihan mengerikan itu. Dan kaulah satu-satunya orang yang masih bisa kuajak bicara!” teriak Isabella Theism.
Qliphah Puzzle 545 tidak akan pernah membiarkan Isabella melakukan itu. Tapi bagaimana tanggapan Ketua Dewan yang disayanginya? Sang nomor 1 pasti ingin melindungi Academy City dan dunia luar yang lebih luas.
(Master…)
Bagian 5
Kamijou dan yang lainnya berada di Distrik 9.
Mereka masih belum beranjak dari sana dan terjebak dalam penantian.
Mikoto dan Index sering mengobrol. Mungkin itu pertanda ketidaksabaran mereka.
“Distrik-distrik terdekat yang berbatasan dengan tembok kota bisa menjadi pilihan yang paling jelas, tapi ini menjadi rumit karena Coronzon tidak memiliki batasan yang mencegahnya untuk kembali ke distrik yang sudah pernah dia kunjungi.”
“Artinya kita tidak bisa memperlakukan ini seperti pair game. Jadi, sejauh mana pun kita mengejarnya, pilihan kita tetap tidak berkurang.”
|Permainan mencocokkan kartu di mana pemain saling membalik dua kartu sekaligus untuk mencari kartu yang sama, dan mengingat lokasi kartu saat kartu yang dibuka tidak cocok.
Kepakan sayap terdengar di udara. Kamijou melihat Bologna Succubus menjilati sayapnya dan memain-mainkannya dengan ujung jari sebelumnya, jadi sayapnya pasti sudah cukup pulih dan sudah bisa kembali terbang. Tanpa sepatah kata pun, Bologna Succubus terbang ke langit malam dengan Blodeuwedd the Bouquet yang kembali menggantung padanya.
Kamijou melihat Itsuwa dari Amakusa.
“Bagaimana kabar Tsushima? Apa yang terjadi padanya?”
“Kami bisa menggunakan sihir penyembuhan, jadi selama seseorang tidak benar-benar mati, kami bisa menyembuhkannya meskipun membutuhkan beberapa metode yang cukup kasar. Itu pun terbantu karena kau sudah menahan pendarahannya sebelum kami tiba.”
Pada saat itu, nada suara Itsuwa berubah menjadi cemas.
“Kau juga tidak boleh memaksakan diri terlalu keras. Kudengar kau pingsan tadi.”
“Maaf… Seharusnya aku berteriak dulu sebelum pingsan.”
“Tidak! Bukan itu maksudku…”
Tapi, Kamijou memang membiarkan Coronzon lolos.
Bagaimanapun juga, Kamijou tidak bisa bertarung sambil menekan luka di leher Tsushima. Dan memangnya dia sanggup melawan Coronzon sendirian? Kamijou benar-benar tidak tahu cara menang melawan Coronzon. Tapi setidaknya Kamijou bisa memberi tahu seseorang tentang ancaman tersebut. Pasti ada sesuatu yang bisa Kamijou lakukan. Bahkan jika kesadarannya menurun dengan cepat, Kamijou bisa mengaktifkan alarm ponselnya atau lampu kilat kamera. Pasti ada sesuatu.
“Dungu. Hentikan pikiran negatifmu yang tidak berguna itu! Cuma kau yang merasa begitu.”
Wanita jahat itu terkadang bisa bersikap kasar seperti ini. Dan itu justru menyegarkan.
Tidak mungkin Kamijou bisa memunculkan ide cerdas di saat dirinya hampir pingsan, otaknya semakin tumpul, dan pikirannya cepat memudar. Kamijou pun tahu itu.
(Tapi tetap saja…)
Sekedar bicara ingin melawan Coronzon dan menyelesaikan masalah dengannya memang gampang, tapi itu juga berarti melawan Aleister yang berbagi tubuh dengannya.
…Apa yang sebenarnya Kamijou pikirkan sekarang?
Aleister mati-matian berusaha di dalam Coronzon untuk memberi mereka petunjuk sekecil apa pun. Apakah Kamijou siap melawan manusia itu, lalu menang… dan mengucapkan selamat tinggal?
Jika Kamijou tidak bisa melakukannya, umat manusia akan binasa.
Beban yang ditempatkan di ujung lain timbangan ini sangatlah simpel dan solid.
Tapi tetap saja.
Pikiran Kamijou terhenti di situ.
Dia mendongak. Agnese, Lucia, dan gerombolannya berada di pojokan, berbisik-bisik di antara mereka sendiri.
“?”
Bagian 6
Di distrik yang sama, tidak jauh dari Kamijou dan yang lainnya, Angelene yang bungkuk melambaikan tangannya dengan cemas.
“Ehhhh?! Api Santo Georgios? Apa Vatikan benar-benar berusaha mengalahkan Coronzon?! A-apa kau yakin mereka tidak hanya menggunakan ini sebagai alasan untuk menghancurkan Academy City?”
“Sebagian dari mereka mungkin berpikir akan lebih aman untuk menghancurkannya sekarang sebelum kota itu diserap ke dalam Gereja Anglikan secara resmi.”
Lucia tampak berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang.
Percakapan itu bukan hanya antara Agnese, Lucia, dan Angelene. Lebih dari 250 biarawati mendengarkan melalui alat komunikasi spiritual, Ranting Barbara.
Agnese juga merasa ragu. Seberapa jauh visi para kardinal Katolik Roma? Padahal semua itu tidak akan berarti apa-apa jika dunia hancur besok.
Eks Pasukan Agnese telah diperintahkan untuk dievakuasi.
Mereka diperintahkan untuk meninggalkan Academy City dan Anglikan, lalu melarikan diri dari kota bersama umat Katolik Roma. Mereka telah diberi beberapa syarat berbeda untuk mengaktifkan Api Santo Georgios, tapi semuanya bermuara pada satu hal: para kardinal akan menggunakan serangan sihir berskala besar tersebut apa pun yang terjadi. Satu-satunya perbedaan adalah apakah itu terjadi lebih cepat atau lebih lambat.
Persimpangan antara meluncurkannya atau tidak, sudah terlewati.
Tak apa untuk bersikap keras kepala, tapi siapa pun yang tetap tinggal akan mati.
Tanpa pengecualian sedikit pun.
Lucia menatap Agnese. Dia mungkin sedang menatap matanya.
“Pasukan ini berada di bawah komandomu, Suster Agnese. Apa yang akan kita lakukan?”
“Aku tidak berhak memerintahkan kalian semua untuk mati.” Agnese tersenyum getir saat berbicara kepada mereka semua. “Kalian tidak berkewajiban untuk tetap tinggal. Mulai sekarang, ini semua sukarela. Jika kalian memilih untuk meninggalkan Academy City, kalian tidak membutuhkan Ranting Barbara. Anglikan ahli dalam memerangi sihir manusia. Mereka mungkin dapat melacak lokasi kalian lewat situ, jadi tinggalkan saja dan kaburlah diam-diam.”
“A-apa yang bisa kita lakukan jika kita tetap tinggal?”
“Tentu saja, melindungi Academy City dari Api Santo Georgios,” jawab Agnese dengan suara rendah.
Serangan yang ditujukan pada manusia tidak akan berhasil melawan Coronzon yang bukan manusia. Jadi, menghentikan sihir yang akan menyebabkan sesak napas dan kerusakan organ tidak akan memengaruhi pertempuran melawan Coronzon.
“Bayangkan seperti leher jam pasir. Api Santo Georgios adalah sihir skala besar yang mengumpulkan kekuatan dari dua miliar umat Katolik di seluruh dunia tanpa sepengetahuan mereka dan memungkinkan para kardinal di Vatikan untuk mengendalikannya. Setelah terkumpul, serangan itu merambat melalui ley line untuk mencapai wilayah musuh dan menyebar kembali menjadi dua miliar serangan setelah muncul dari tanah. Kemudian, serangan itu menyebabkan kerusakan yang cukup untuk menghancurkan sebuah kota.”
Sebuah kota. Setidaknya, itu lebih baik ketimbang Adikalika yang bisa mempengaruhi seluruh Semenanjung Italia. Agnese tersenyum kecil. Jadi mereka membalas dengan serangan yang lebih kecil. Para kardinal Vatikan sudah benar-benar berani mengambil tindakan.
“D-Dua miliar. Kalau begitu, aku tidak tahu apa yang bisa kita lakukan!”
“Yang berarti serangan sihir itu adalah tipe jarak jauh. Yang mana harus merambat mengelilingi bumi. Apa kalian lupa bagaimana Index menghentikan Adikalika? Pasti ada banyak cara: mengalihkan tujuannya, memutus aliran ley line sebelum sampai di sini, atau bahkan mencegah dua miliar kekuatan berkumpul di Vatikan.”
Argumen Agnese benar.
Tapi dia sepenuhnya memahami bahwa itu hanyalah angan-angan.
Jika tidak, dia tidak akan berkeringat dalam cuaca sedingin ini.
(Sekalipun teorinya kuat, kita berbicara soal kekuatan dari dua miliar orang… Bisakah kita menghadapi kekuatan semasif itu? Tampaknya itu akan jadi rintangan terbesar.)
Tidak ada metode yang pasti. Jika mereka tinggal terlalu lama, mereka bisa kehilangan nyawa yang seharusnya bisa mereka selamatkan.
Agnese harus segera menyatukan semuanya. Saat ini Agnese tidak memiliki apa pun yang dapat meyakinkan semuanya bahwa segalanya akan baik-baik saja.
Jadi Agnese Sanctis tidak bisa menuntut agar teman-temannya ikut bergabung.
Dalam skenario terburuk, Agnese harus menghadapi dua miliar itu sendirian.
Dan…
“Aku ikut.”
Itu datang Lucia.
Dulu dia sangat cerewet sampai-sampai bisa marah jika disentuh oleh orang non-Katolik, tapi sekarang dialah yang pertama mengangkat tangan dan rela untuk bertarung melindungi Academy City.
“Apa? Gereja Katolik Roma adalah sekte terbesar di dunia, jadi kita harus mempertimbangkan dunia secara keseluruhan. Tentu saja aku akan mengulurkan tangan ketika nyawa terancam. Aku tidak bisa menyebut diriku seorang Katolik jika aku tidak mau melakukannya.”
Lucia tidak sendirian.
Angelene gemetar, tapi dia pun memilih untuk mengangkat tangannya. Meskipun hanya sedikit.
“U-umm. Aku juga ikut. Maksudku, jika kita kabur sekarang, maka umat Anglikan dan Katolik akan mengejar kita. Jadi setidaknya aku ingin mempertahankan tempat di salah satu dari mereka. Rumah kita adalah asrama putri di London dan, jika kita ingin kembali ke sana dengan hati nurani yang bersih, kita harus menyelamatkan Academy City!”
Semakin banyak suara terdengar melalui alat komunikasi spiritual Ranting Barbara.
Meskipun hanya menyediakan audio, Agnese dapat dengan mudah membayangkan mereka mencondongkan tubuh ke depan sebagai tanda siap melawan.
“Suster Apollonia. Aku juga ikut.”
“Suster Paula. Aku akan ikut jika masih ada tiket yang tersisa.”
“Suster Agata. A-Aku juga ikut!”
…Inilah jati diri mereka.
Tentu saja, awalnya tidak seperti ini. Mereka tidak lupa akan kekerasan brutal yang mereka lakukan terhadap Orsola Aquinas dan Kamijou Touma. Tapi Agnese dan lebih dari 250 biarawati ini telah cukup dewasa untuk mengatakannya di tengah krisis seperti ini.
Setelah menjalani kehidupan yang berbeda. Setelah diterima dengan senyuman setelah semua yang telah mereka lakukan.
Hal itu pasti membutuhkan kepercayaan, jadi mereka tidak bisa mengingkari kepercayaan tersebut.
Apakah artinya mereka semua merasakan hal yang sama?
Lucia melanjutkan percakapan.
“Suster Agnese. Kami belum mendengar jawabanmu. Apa yang akan kau lakukan?”
Agnese Sanctis mengangkat kepalanya.
Dia menatap lurus ke depan dan meninggikan suaranya hingga meraung.
“Aku ikut!! …Kalian sudah mengambil keputusan, maka bersiaplah. Aku sudah bilang aku tidak berhak memerintahkan kalian semua untuk mati. Jadi, seburuk apa pun ini, aku tidak akan membiarkan kalian mengambil jalan pintas dan memilih kematian tragis. Menangis dan merataplah sesuka kalian, aku akan membawa kalian semua kembali hidup-hidup meskipun harus merangkak melalui neraka di bumi!!”
Bagian 7
Dion Fortune.
Moina Mathers.
Pertarungan mereka di Distrik 7 telah melampaui batas kemampuan manusia. Mereka telah bertarung terlalu lama. Tidak ada manusia yang bisa berlari maraton penuh dengan kecepatan lari sprint 50 meter. Tapi pertempuran selevel itu telah berlangsung selama berjam-jam. Seorang Saint yang dapat menembus kecepatan suara dalam sekejap dan langsung kehabisan tenaga pasti sudah mati dari lama. Ini hanya mungkin dilakukan oleh seorang penyihir yang diciptakan menggunakan kartu tarot sebagai grimoire.
Kekuatan seseorang yang mampu menyerap energi besar dari ley line dan menggunakannya, berbeda dengan kekuatan seseorang yang harus memurnikan energi sihir dari energi kehidupan mereka sendiri.
(Aku tentu tidak ingin langsung terbunuh, tapi terjebak dalam situasi rumit dan tak berujung seperti ini juga tidak bagus.)
Salah satu alasan kebuntuan tersebut adalah spiritual item yang dibawa oleh Moina Mathers.
Kartu tattva-nya memang sangat ampuh, tapi menggunakan rangsangan visual dari warna-warna cerah yang digambar di kartu untuk memandu pikiran juga menciptakan kelemahan. Rangsangan visual… Itu berarti pihak ketiga dapat mengintip kartu tersebut dan mengetahui elemen serangan selanjutnya.
“Merespons setelah melihat kartu selalu membuatku selangkah di belakang. Tapi jika aku bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya sebelum kau mengambil kartu, maka aku akan selangkah lebih maju dan mengalahkanmu.”
“…”
“Semua data yang kubutuhkan akan segera terkumpul. Seharusnya kau tidak melempar kartu tattva-nya sembarangan. Itu seperti buku skor yang ditulis oleh manajer imut di tim bisbol. Sudah terlalu banyak yang terlempar. Berapa banyak lagi sampai kau puas? Aku akan membunuhmu sebelum kau sempat bertindak.”
Moina Mathers tidak mengatakan apa pun.
Tapi tiba-tiba dia malah mengayunkan pisau paletnya di udara dengan pola yang teratur, dia tidak memainkan kartu tattva.
Pola seranganya berubah.
“?”
Sesuatu muncul.
Dari tanah bersalju merah. Banyak yang bermunculan. Satu demi satu. Seolah bunga-bunga seram bermekaran di sekelilingnya.
Siluet-siluet berwarna-warni itu tampak terbuat dari campuran cat kuning, biru, putih, merah, dan warna-warna lainnya.
Hanya saja kepala mereka berupa mawar merah raksasa.
“Ah, ahh, ah…”
Dion Fortune berdiri kaku dan suaranya hilang seperti udara yang keluar dari balon yang kempes.
Karena Dion Fortune tahu apa yang dilakukan gurunya sekaligus musuhnya itu.
“K-kenapa kau terlihat begitu bangga? Kau tidak berpikir kalau ini adalah salah satu keberhasilanmu, kan? Jika iya, betapa bodohnya kau sebagai seorang istri?!”
Moina telah mengabdikan dirinya untuk mendukung penyihir jenius yang tak terkendali bernama Mathers, tapi tidak semuanya berjalan sempurna dan dia telah membuat beberapa kesalahan besar setelah kematian suaminya: konflik yang tidak produktif dengan muridnya, Fortune, kegagalannya untuk membungkam beberapa rumor tak berdasar (yang setara dengan pembunuhan), dan yang paling ekstrim, Kegagalan Produksi Massal Penyihir Berkualitas Rendah di mana dia menggunakan kelas korespondensi untuk memberikan akses ke cabal sihir yang dia kelola bagi orang asing tanpa identitas yang bersedia membayar untuk hak istimewa tersebut.
Dion Fortune tetap harus waspada. Sekalipun kualitas mereka rendah, seorang penyihir tetaplah seorang penyihir. Dia tidak tahu apakah mereka memurnikan energi sihir mereka sendiri atau menyerapnya dari ley line, tapi dia tahu dia tidak suka segala serangan yang mereka gunakan. Jika dia tidak mengubah pola pikirnya dari pertarungan satu lawan satu menjadi pertarungan kelompok, dia akan dihancurkan oleh kelompok itu bahkan jika dia mengalahkan salah satu dari mereka. Begitulah pikirnya.
Tapi, bahkan itu pun merupakan kesalahan fatal.
“Eh?”
Wajah Moina Mathers tepat berada di depannya.
Moina Mathers melompat turun dari si kucing hitam raksasa dan mendekat hingga jarak 100 sentimeter.
Ini terjadi tepat setelah Moina Mathers mengubah taktik dari serangan destruktif tunggal menjadi serangan jamak. Dia telah melangkah ke titik buta Dion Fortune.
Tidak peduli bagaimana Dion Fortune memutar tubuhnya.
Di Sini.
Di titik ini, Dion Fortune lambat merespon!
(Berengsek!!)
Moina Mathers memegang sebilah pisau hitam. Benda yang sangat bengkok itu tampak seperti terbuat dari banyak cat minyak atau sesuatu yang telah dikeringkan dan dikeraskan secara paksa. Ini mungkin serangan bela diri — sebuah tusukan — menggunakan pedang yang dia pelajari dari suaminya, Mathers, yang gemar berpedang. Ujung yang tajam jelas diarahkan ke tenggorokan lawannya.
Dion Fortune salah membaca situasi.
Ancaman terbesar bukanlah kucing raksasa, bukan kartu tattva, dan bukan kelompok penyihir berwajah merah muda yang diproduksi massal. Seharusnya dia lebih waspada terhadap Moina Mathers. Seharusnya dia sadar itu sedari awal, tapi banyaknya trik telah mengalihkan perhatiannya.
Pedang sabel itu datang.
Itu lebih mematikan daripada tombak panjang, palu, atau pisau musuh yang menyelinap mendekatinya.
(Oh astaga. Apakah aku akan benar-benar mati kali ini?)
Sekalipun dia hanya punya waktu sedetik lagi untuk bergerak, dia akan tetap menggunakannya untuk membunuh Moina. Dia menggertakkan giginya dan memusatkan seluruh perhatiannya pada sebuah kotak hitam. Dan…
Percikan api beterbangan.
Percikan api oranye dari dua bilah pedang yang saling berbenturan.
Sepotong logam lainnya berpotongan dengan pedang sabel hitam Moina dan membentuk sebuah salib.
Alih-alih menangkis tusukan tajamnya, Sepotong logam lainnya malah mengenai sisi pedang sabel Moina dan mengalihkannya. Percikan api berwarna oranye menghiasi kegelapan sebagai sisa-sisa kekuatan mematikan dari serangan tersebut.
Pisau paletlah yang jadi penyebabnya.
Itulah senjata seorang penyihir tertentu yang ahli dalam seni dan telah menyelesaikan banyak tempat ritual dan spiritual item dengan mewujudkan banyak ide yang tidak dapat diwujudkan oleh penyihir lain.
“Ya ampun,” kata sebuah suara dengan nada tenang. “Sungguh menyedihkan kau begitu kesulitan mengalahkan versi diriku yang cacat ini. Kaulah yang meneliti semua nutrisi dalam berbagai makanan dan yang bersikeras bahwa Kabbalah adalah yoga Barat, jadi kurasa kau seharusnya bisa meningkatkan kemampuan fisikmu.”
Selagi dia berbicara, suara tumpul keluar dari pisau palet. Diikuti oleh suara lain. Itu adalah suara mekanis mirip seperti suara mesin jahit. Dia mengayunkan pedang ke samping dan mengirimkan tusukan akurat tepat ke tenggorokan dan dada Moina yang kini tak berdaya, tapi Moina menggunakan pelindung pedang dan gagang pedang untuk membela diri.
Teknik yang sama.
Keterampilan yang sama.
Kemampuan yang sama.
Bukankah hanya ada satu penyihir yang bisa melakukan itu?
Ya, dan meskipun dia tipe orang yang dengan santai akan menyelamatkan dokter berwajah katak yang hampir tidak dikenalnya setelah secara kebetulan bertemu dengannya, dia selalu bersikap kasar kepada murid yang sudah lama dikenalnya.
Dion Fortune menelan ludah dan berbicara.
“Nyo…nya?”
rang yang dipanggil seperti itu oleh Dion Fortune.
Dan orang itu bukanlah Moina yang diciptakan Coronzon.
Sang Penyihir Kucing Hitam, Mina Mathers berdiri di samping muridnya.
Bagian 8
Di sel isolasi Distrik 10, semua upaya ilmu sihir Voodoo dan kekuatan iblis buatan telah gagal untuk menghidupkan kembali Ketua Dewan yang baru.
Keputusasaan berusaha membekukan udara.
Sampai seseorang yang tidak seharusnya berada di sana muncul dan merusak suasana.
“Yansuu. Aku mencoba menggeledah isi di balik pintu besimu, dan ternyata toko penjara punya pilihan yang lumayan juga, ya. Apa, narapidana yang menjalani hukuman setelah dinyatakan bersalah boleh makan cokelat kalau ada pengunjung yang membelikannya? Yang ini bahkan mengandung alkohol. Aku tahu Academy City sangat peduli dengan hak asasi manusia, bahkan para narapidana pun bisa hidup enak di sini. Nyam, nyam.”
Isabella Theism tidak bisa mengabaikan hal ini begitu saja.
“Kihara Goukei?!” teriak Isabella, dengan mata yang membelalak.
“Wah, aku menyerah, aku menyerah, aku menyerah!! Jantungku tinggal satu deyansu! Nyawa tambahanku sudah nol! Aku tidak mau benar-benar mati karena perkelahian yang tidak berarti deyansu!!”
Tingkahnya agak komedik, tapi Kihara Goukei mungkin masih bisa bertahan hidup bahkan jika jantungnya yang terakhir hancur. Siapa yang bisa percaya pada sesuatu yang dia nyatakan sendiri tanpa ditanyai oleh orang lain? tapi tingkat kecurangan seperti itu adalah hal biasa bagi monster-monster dari sisi sains.
Lalu seseorang yang lain pun muncul dari balik wanita yang mencurigakan itu. Seseorang yang jauh lebih kecil.
“Misaka meminta orang ini untuk mengantar Misaka ke sini, kata Misaka sambil Misaka memperkenalkannya.”
“Eh? Bukankah kau… anunya master?”
Kini mata Qliphah Puzzle 545 membelalak. Apakah dia mengenal gadis kecil itu?
Rasanya aneh jika seorang gadis kecil berada sedalam ini di dalam penjara yang dijaga ketat, tapi Isabella ingin fokus pada orang yang lebih berbahaya.
“Bagaimana kau bisa masuk sini?!”
Qliphah Puzzle 545 menatap Isabella dengan tatapan "memangnya kau berhak bicara begitu", tapi Ahli Nekromansi berkulit cokelat itu tampaknya tidak menyadarinya. Dan…
“Eh? Memang sesulit itu, ya deyansu? Tinggal masuk saja kok.”
Hanya Qliphah Puzzle 545 yang menerima jawaban tersebut.
…Itu mungkin disebabkan oleh Last Order. Ketua Dewan yang baru pasti diam-diam memberinya izin masuk tanpa hambatan. Orang nomor 1 di Academy City itu sangat ketat pada dirinya sendiri dan orang lain, tapi dia juga kadang-kadang menunjukkan pertanda telah melakukan sesuatu tanpa memikirkan konsekuensinya.
Kihara Goukei yang bingung memiringkan kepalanya.
“Kenapa seorang ahli dari tadi diam-diam saja deyansu? Cepat bereskan kerjaanmu. Aku tidak bisa menyelesaikan kerjaanku kalau Ketua Dewan yang baru tidak bangun.”
Karena ketidaktahuannya, Kihara Goukei berbicara dengan mudahnya.
Isabella menghela napas panjang.
“Bubuk zombi bukan hanya racun mematikan. Bubuk ini menguasai hidup dan mati, jadi ada kemungkinan bubuk ini bisa menghidupkannya kembali jika aku meningkatkan efeknya. Tapi…”
“Tapi?”
“Kau mungkin sudah tahu karena kadang muncul di film horor, tapi bubuk zombi menggunakan ikan buntal. Tetrodotoksin. Meningkatkan jumlahnya secara membabi buta bisa membunuhnya sebelum dapat mulai menghidupkannya kembali.”
“Oalah, cuma itu? Aku tahu persis apa yang harus digunakan! Anisakiropen Ω!! Ini adalah stimulan saraf yang sangat mematikan deyansu. Atau mungkin lebih mudah kalau aku sebut sebagai racun sintetis yang dapat membunuh dalam sekejap, yang dikembangkan Academy City?”
Mata Isabella Theism membelalak.
Membunuh dalam sekejap? Apakah itu berarti dijamin akan membunuh tanpa perlu membahas apakah itu racun atau obat?!
“Apa kau mau membunuhnya?!”
“Oh, ayolah. Tetrodotoksin membunuh dengan menekan saraf, sementara anisakiropen Ω membunuh dengan merangsang saraf. Apa kau belum pernah dengar? Itu semacam legenda lokal Academy City. Kabarnya jika kau memberikan keduanya sekaligus, efeknya akan saling menetralkan.”
Artinya jika racun ikan buntal menjadi tidak efektif, maka Isabella bisa memberi Accelerator bubuk zombi sebanyak yang diperlukan tanpa efek samping. Secara perhitungan sederhana memang tampak bekerja, tapi…
“Tunggu sebentar,” kata Qliphah Puzzle 545. “Penelitian itu mengatakan kalau efeknya tidak sepenuhnya dinetralisir. Racun yang seharusnya membunuh dalam sekejap hanya akan tertunda beberapa jam setelah tertelan!!”
Ya, tetrodotoksin dan anisakiropen Ω adalah racun mematikan. Bahkan sedikit saja di dalam tubuh bisa langsung merenggut nyawa.
Keduanya memang saling menetralkan, tapi jika "sejumlah kecil" salah satu atau yang lainnya tetap ada setelah proses selesai, maka nyawanya akan terrenggut. Jumlah salah satu atau keduanya tidak boleh kurang atau lebih. Dan tidak ada cara untuk memastikan bahwa keduanya saling menetralkan hingga tepat nol.
“Ya, di dunia yang normal, itu memang benar deyansu.”
“Tunggu, maksudmu…?”
“Aku punya pertanyaan mendasar untukmu deyansu: apakah salah satu dari kita adalah orang normal?”
Tentu saja tidak.
Ahli Nekromansi Isabella Theism menggunakan Voodoo untuk mengendalikan kematian dan daging dari seluruh dunia. Kihara Goukei telah mengumpulkan setiap bentuk keabadian ilmiah di dalam tubuhnya sendiri.
Melakukan tindakan bunuh diri akan menyebabkan kematian bagi orang biasa, tapi tidak dengan mereka.
“Misaka juga akan membantu,” kata gadis kecil itu.
Baik Kihara Goukei maupun Isabella Theism tidak mengetahui situasinya. Mereka juga tidak tahu persis bagaimana gadis kecil itu bisa membantu.
“Misaka akan melakukan apa saja, jadi tolong jangan tinggalkan orang ini, kata Misaka sambil Misaka menundukkan kepala.”
Tapi, menurut mereka berdua itu sudah cukup.
Teknologi bukanlah satu-satunya kunci untuk menyelamatkan kehidupan. Karena selama ini mereka telah meneliti semua teori dan angka, mereka tahu betul bahwa hal-hal psikologis yang sangat kuno itulah yang pada akhirnya menentukan nasib seseorang yang berada di ambang kematian.
(Pekerjaan semacam ini mungkin merupakan tanggung jawab dokter lain deyansu, tapi ya sudahlah. ...Mungkin aku harus membelikannya mangga mahal nanti karena sudah mengganggu wilayahnya.)
Tapi, kehadiran unsur sihir mungkin telah menempatkan hal ini di luar yurisdiksi dokter tersebut.
Bintang hari ini adalah Isabella yang tinggal di luar wilayah hukum tersebut.
Kihara Goukei hanya perlu mendukungnya.
Keduanya berbicara serempak.
“ “Ayo kita lakukan.” ”
Suasana telah berubah.
Tapi, bukan itu saja.
Kehadiran gadis kecil itu telah mencegah suasana menjadi memburuk.
“Misaka sudah melihat-lihat kota, kata Misaka sambil Misaka mengingat jalan saat menuju ke sini.”
Isabella Theism dan Kihara Goukei sedang melakukan semacam pekerjaan yang tidak dimengerti.
Suara benda keras yang dihancurkan terasa janggal di antara semua bunyi bip peralatan medis.
Last Order menatap sang nomor 1 dari samping tempat tidur.
“Sungguh mengerikan. Semuanya kosong, bukan hanya karena sudah larut malam. Semua orang terlalu takut untuk keluar rumah, kata Misaka sambil Misaka memberikan laporan.”
Merah dan hitam.
Obat campuran yang aneh itu tidak perlu ditelan.
Obat itu mengeluarkan suara lengket saat dioleskan ke luka dengan ujung jari mereka.
Ini adalah perawatan yang diperlukan, tapi sebenarnya tidak seharusnya dilakukan saat ada anak kecil di dekatnya.
Tapi Last Order menerima semuanya dengan lapang dada.
Dan, karena tidak melihat reaksi apa pun dari perawatan tersebut, Last Order menggenggam tangan Accelerator. Setiap bagian dari tubuh Accelerator dipenuhi elektroda dan jarum tabung.
Last Order menggenggam tangan Accelerator erat-erat di antara kedua tangannya.
“Yomikawa terluka. Dia bilang lukanya ringan, tapi mungkin tidak begitu, kata Misaka sambil Misaka menggelengkan kepala. Dia bisa saja meninggal.”
Suara melengking terdengar dari peralatan medis.
Sebuah alarm. Kondisinya yang stabil mulai runtuh. Keadaan diam berkepanjangan tidak berbeda dengan kematian, tapi upaya Isabella dan Goukei jelas telah mengacaukan keseimbangan tersebut.
Qliphah Puzzle 545 tampak cemas, tapi tatapan mata Last Order tidak berkedip.
“Sendirian itu menakutkan…”
Ahli Nekromansi dan ilmuwan Kihara keduanya merupakan obat yang mujarab.
Tapi itu saja tidak cukup untuk mengembalikan pikiran Accelerator yang tersegel.
Tapi itulah alasannya…
“Dan bukan hanya Misaka. Setiap orang memiliki orang yang mereka sayangi. Mereka percaya bahwa Academy City baru yang kau pimpin akan melindungi mereka. Jadi Misaka ingin kau memenuhi harapan mereka,” kata Misaka sambil memanggilmu.
Zrap!
listrik membelah udara.
Melesat tepat melewati Last Order.
Ini bukanlah kegagalan dari sihir atau pun teknologi. Ada sesuatu yang salah dengan tubuh Accelerator yang berada di atas ranjang.
Listrik yang menyebabkan ledakan udara itu sangat kuat sehingga kemungkinan besar akan menerbangkan tubuh gadis kecil itu jika terkena walau sedikit.
“Apa kau mau membiarkannya terus begini?”
Last Order bahkan tidak berkedip.
Last Order hanya menatap wajah bocah yang terbaring di tempat tidur.
“Academy City yang kau inginkan dipenuhi dengan begitu banyak kematian.”
Tidak semua kata-katanya merupakan kata-kata yang baik.
Tapi juga kata-kata keras.
Peduli sepenuhnya terhadap seseorang bukan berarti menyetujui semua yang mereka lakukan secara membabi buta.
Gadis kecil ini memiliki keberanian untuk memarahinya.
Karena dia percaya hubungan mereka terlalu kuat untuk dihancurkan oleh hal seperti ini.
“Orang normal bisa saja menyerah. Kau tidak ingin menjadi orang nomor 1 di Academy City, jadi kau tidak perlu berpegang teguh pada posisi terkuat itu selamanya. …Tapi ini bukan tentang itu, kan? kata Misaka sambil Misaka yakin akan kata-katanya. Posisimu sebagai Ketua Dewan Kota adalah satu-satunya hal yang kau pilih sendiri. Kau memutuskan sendiri untuk meningkatkan kota ini dan menciptakan kota sains tanpa sisi tersembunyi dan di mana tidak ada yang perlu menderita atau hidup dalam ketakutan. Kau memilih untuk menciptakan dunia yang aman dan damai. Jadi kau tidak bisa mengambil jalan mudah. Kau memilih jalan ini, jadi kau harus menyelesaikannya sampai akhir, kata Misaka sambil Misaka menyatakan hal yang sudah jelas.”
Suaranya tidak sekeras suara guntur.
Bahkan, kata-katanya begitu pelan sehingga tidak seorang pun di dalam sel kecil itu dapat mendengarnya kecuali orang yang dituju.
“Hei.”
Last Order mendekatkan mulutnya ke telinga Ketua Dewan yang sedang tertidur.
Dan gadis kecil itu pun berbisik.
“Mau sampai kapan kau membuat dia menunggu?”
Itu bukan sekadar metafora psikologis.
Bunyi alarm dari peralatan medis di sekitar tempat tidur benar-benar telah berhenti.
Yang berarti…
“Brengsek.”
Sebuah suara muncul.
Dari tempat tidur.
“Aku bahkan tidak punya hak untuk mati dan masuk neraka, bukankah itu terlalu berlebihan? Kurasa itu memang benar.”
Inilah Ketua Dewan yang baru.
Seseorang yang telah memutuskan untuk melindungi perdamaian dan keamanan Academy City akan segera bangkit.
Dengan pemikiran seperti itu, Accelerator pun membuka matanya.
Bagian 9
Eks Pasukan Agnese kekurangan waktu.
Jika Api Santo Georgios diaktifkan, semua orang yang tinggal di Academy City akan mati. Ke mana pun mereka lari, mereka tidak dapat mencegah organ tubuh mereka pecah dari dalam.
Kekuatan telah dikumpulkan dari dua miliar orang di seluruh dunia dan sedang diolah menjadi satu serangan sihir. Mereka menunggu momentum, seperti ujung lain dari leher jam pasir, kekuatan itu akan kembali menjadi dua miliar serangan di wilayah musuh. Dengan begitu, mereka tidak dapat menghentikan serangan tersebut dengan mencegah pengumpulan energinya.
Academy City adalah lokasi tetap. Mengubah arah bidikan akan sulit dilakukan.
Yang berarti…
“Kita harus menghentikan Api Santo Georgios saat mendekat melalui ley line. Kita bisa melakukannya saat masih berupa satu massa tunggal. Sebelum muncul dari tanah dan menyebar menjadi dua miliar kobaran api! Itulah satu-satunya kesempatan kita!!”
Itu cukup mudah diucapkan, tapi memengaruhi ley line membutuhkan usaha setara dengan meruntuhkan gunung atau menimbun laut. Mereka tidak mampu melakukannya secara fisik, jadi mereka harus menguras pikiran mereka untuk melakukannya.
“Kita mulai dari sini.”
Agnese mengeluarkan setumpuk kartu tarot biasa.
Mereka berkumpul di bawah pohon tempat salju merah belum turun dan dia meletakkan delapan kartu menghadap bawah di tanah.
Serangan yang merambat melalui ley line akan tiba segera setelah diaktifkan. Bahkan jika serangan itu menempuh perjalanan setengah keliling dunia.
“Tapi, jika kita terhubung dengan ley line, berarti beberapa data dari pihak Vatikan bisa bocor. Jika kita tahu seberapa jauh persiapan ritualnya, maka kita bisa tahu batas waktunya.”
Suara mendesis, mereka bahkan tidak perlu membalik kartu-kartunya.
Salah satu dari delapan kartu tersebut langsung hangus menjadi hitam dan meleleh.
Kerusakan menyebar ke bangunan kedua, lalu ke bangunan ketiga.
Mata Lucia membelalak.
“Mereka bertindak lebih cepat dari yang kukira!”
“S-sepertinya ada perubahan dalam pergerakannya?!”
“Vatikan pasti sudah menyadari bahwa kita mengawasi mereka. Mereka akan mengambil tindakan!!”
Hal ini pasti memicu salah satu dari tiga kondisi yang diberikan kardinal. Atau apakah kondisi-kondisi itu hanyalah alasan dan sebenarnya memang tidak perlu?
Eks Pasukan Agnese telah dihimbau untuk segera mengungsi, tapi ternyata nyawa mereka tidak dianggap penting. Tampaknya mereka tidak layak diselamatkan.
Itu berarti sama sekali tidak ada waktu yang tersisa.
Ini seperti pergi memeriksa sungai saat badai dahsyat. Itu langkah berisiko. Mereka tahu itu, tapi mereka tidak bisa membiarkan serangan mematikan ini lolos begitu saja.
Agnese, Lucia, dan Angelene masing-masing mengambil spiritual item mereka.
Para biarawati lainnya memiliki roda kayu, kantung koin, dan barang-barang lain yang ditemukan dalam legenda berbagai tokoh suci, tapi Agnese menggunakan Senjata Simbolis yang disebut Tongkat Lotus. Tidak seperti tongkat api atau cawan air yang terbatas pada elemen tertentu, tongkat yang mengesankan ini dapat mengendalikan semua elemen.
Vatikan terletak sekitar setengah keliling bumi dari Academy City. Mereka sebenarnya ingin secara bertahap meleburkan pikiran mereka ke dalam ley line dan membangun penghalang yang tak terhitung jumlahnya dengan interval yang sama di sepanjang jalur ini, tapi sudah terlambat. Yang paling bisa mereka lakukan hanyalah menempatkan satu penghalang tebal tepat di depan Academy City.
Agnese Sanctis berteriak.
“Santa Barbara adalah wanita suci yang mengundang cahaya suci Tuhan masuk melalui tiga jendela. Jalan yang tak terlihat, patuhi tujuan baik kami. Jalan adalah alat penuntun — urat yang terukir di bumi untuk menuntun orang benar. Kekuatan jahat, jangan maju! Berhenti! Engkau tidak berhak melangkah ke sini!!”
Napasnya tercekat.
Tidak ada kilatan cahaya atau ledakan dahsyat. Tapi, tekanan tebal yang tak kasat mata telah menyerangnya.
Tongkat Lotus perak itu terdengar berderak di genggamannya.
Inilah yang terjadi ketika kita dengan ceroboh menyentuh sesuatu yang lebih baik tidak diketahui. Agnese tahu ini akan terjadi ketika dia secara langsung mengganggu ley line — aliran besar sihir berskala besar. Agnese tahu mencoba menghentikannya secara paksa dapat menghancurkan tubuhnya dengan mudah.
Agnese mengertakkan gigi belakangnya.
(Aku tahu teori di balik sihirnya tidaklah salah.)
“Kh… Tapi pada akhirnya, apakah dua miliar terlalu banyak untuk kami tangani?!”
Serangan brutal yang tidak masuk akal, dalam arti tertentu, sama sekali tidak seperti sihir. Tapi cara ini efektif. Ini adalah solusi mutlak untuk masalah Gereja Katolik Roma dengan dua miliar pengikutnya.
Yang kurang dari Agnese dan para biarawati lainnya adalah kekuasaan.
Jumlah mereka hanya sekitar 250 orang. Itu tidak cukup untuk membatalkannya!!
“…Masih belum…”
Agnese mendengar sesuatu.
Jelas ada suara yang berbicara.
“Masih belum…. Aku tidak mau kehilangan kota yang telah membentukku, berserta orang-orang yang telah menganggapku sebagai teman!”
Mungkin sosok itu sudah berada di kota ini sejak lama.
Tapi baru inilah Agnese Sanctis menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.
Sosok itu merupakan gabungan dari medan difusi AIM.
Malaikat yang diciptakan oleh Academy City menggunakan logika dari sisi sains.
Ada laporan tentang penampakannya di sana-sini dimulai dari Perang Dunia Ketiga.
Mata Agnese Sanctis membelalak di ruangan ini, di mana bahkan aliran waktu pun tak jelas.
“Kazakiri… Hyouka?”
“Aku adalah kumpulan energi, tapi aku tidak mengerti metodemu… Jadi jika kau mau menggunakanku, cepatlah! Tolong ubah aku agar sesuai dengan logika dan hukummu sehingga kau dapat mencapai tujuanmu!!”
Tidak ada waktu untuk berlarut-larut memikirkan keputusan itu.
Malaikat sains ini bahkan bukan manusia. Kepentingan dan rencananya masih misteri, tapi setidaknya dia bukan pion Coronzon. Mengetahui hal itu saja sudah cukup.
Agnese menyesuaikan genggamannya pada Tongkat Lotusnya.
(Aku tidak tahu elemen apa yang ada di malaikat tak dikenal ini, tapi Senjata Simbolikku bisa bekerja dengan elemen apa pun, jadi harusnya bisa! Sekalipun hanya untuk satu serangan!!)
“Malaikat adalah utusan yang menyampaikan firman Tuhan. Aku mempertanyakan keakuratan kehancuran yang disebabkan oleh tangan manusia ini. Apakah pengirimnya benar-benar cukup saleh? Jika kalian memiliki sedikit pun keraguan, maka hentikan segera!!”
Lampu padam.
Terdengar suara seperti retakan yang menembus ruang.
Kekuatan yang membentuk malaikat buatan itu diadu dengan kekuatan yang disuplai oleh dua miliar orang. Itu sudah cukup untuk membuat dunia menjerit. Jelas itu melampaui kapasitas dari ruangnya sendiri.
Tapi Agnese merasakan adanya penghalang.
Tekanan seperti dinding tak terlihat yang perlahan mendorongnya mundur.
Ini belum cukup.
Gabungan 250 anggota Eks Pasukan Agnese dengan seluruh energi malaikat dari pihak sains pun masih belum mampu menembus tembok dua miliar.
Lucia berteriak sambil keringat mengalir deras di dahinya.
“Titik intersep kita terlalu dekat… Suster Agnese, kita bisa memperlambatnya, tapi kita tidak bisa menghentikannya sepenuhnya. Api Santo Georgios akan mencapai Academy City melalui ley line!”
“Aku… tahu!!”
Dan Lucia sudah memberi isyarat tentang solusinya. Posisi mereka terlalu dekat. Itu berarti mereka membutuhkan seseorang untuk mengganggu ley line yang lebih jauh dari Academy City.
Agnese punya ide.
(Aku tidak bisa bilang kalau ini akan berhasil. Ini sebuah pertaruhan, tapi cuma ini pilihan terakhir kita!)
Ya.
Mencegatnya di tujuan akhir, yakni Academy City tidaklah cukup. Jika ada seseorang yang bisa membantu mereka untuk mengatasi sumbernya di Vatikan… maka situasinya akan berubah.
Dan 250 anggota Eks Pasukan Agnese bukanlah satu-satunya umat Katolik Roma. Ada orang lain yang telah menggunakan jaringan komunikasi spiritual yang sudah menghubungkan mereka.
“Kardinal Michael!!” Agnese meraung. “Kau masih menguping melalui Ranting Barbara kami, bukan?!”
Sang Kardinal tidak merespon.
Tentu saja tidak.
“Jika kau merasakan pilu di hati atas kehancuran yang tidak berarti ini…”
Meskipun begitu, Agnese tetap melanjutkan.
Suaranya pasti sampai. Agnese percaya itu.
“Seandainya saja semua yang kau katakan padaku bukan sekadar basa-basi…”
Agnese menyebutnya sebagai sebuah perjudian.
Dan satu-satunya taruhan yang tersisa hanyalah kepercayaannya.
Jadi, Agnese mengandalkan kepercayaan itu sambil meraung dengan segenap kekuatannya.
“Maka, berikan bantuanmu sekarang jugaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa-aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!”
Cahaya pun menari-nari dengan liarnya.
Bagian 10
Di Distrik 7, Mina dan Moina saling berhadapan di jalanan larut malam yang masih tertutup salju merah.
Dion Fortune tertinggal meskipun telah berusaha sekuat tenaga hingga saat ini.
“Kau mengambil inspirasi dari mitos dan legenda dari seluruh dunia, menempatkan dirimu sebagai dewa-dewa Mesir, dan mengendalikan kekuatan besar seperti sedang memainkan sandiwara,” kata Mina Mathers sambil mendengus. “Itu memang sihir yang dibahas bahkan di dalam cabal Golden asli. Tapi itu sangat dangkal dan hanya sebatas permukaan. Kau masih terjebak di Ordo Luar yang terletak tepat di dalam pintu masuk. Sungguh penampilan yang menyedihkan bagi seseorang yang mengaku sebagai istri Mathers. Terus terang, kau masih berada di ruang tunggu para pemula.”
“Tunggu, tunggu, tunggu! Kenapa kau memprovokasinya?! Kalau ingin memancing musuh, kenapa harus pas aku lagi ada di sebelahmu?! Ah, tunggu, Nyonya?!”
“Memang benar aku sengaja memprovokasinya, tapi aku butuh kau di sini untuk menjadi tamengku. Jangan lupakan peranmu yang sebenarnya di sini, muridku yang bodoh.”
“Ha ha ha. Kenapa aku sempat berpikir kalau kehadiran orang seperti dia akan memperbaiki situasiku? Ini cuma membuatku punya musuh dua kali lebih banyak. Aku benar-benar bodoh.”
Mengabaikan omong kosong muridnya, penyihir kucing hitam itu dengan ringan mengayunkan pisau paletnya.
Tidak lebih, tapi...
Suara letupan yang memuaskan mengelilingi mereka. Sesuatu telah muncul. Itu adalah dinding. Mirip seperti panggung pertunjukan atau buku pop-up. Hal berikutnya yang Dion Fortune tahu adalah dinding-dinding tinggi mengelilingi mereka dan memisahkan mereka dari dunia luar. Sebuah ruang yang lebih besar dari stadion bisbol, bersama dengan sekelompok gedung tinggi, dikelilingi oleh tujuh dinding.
Moina Mathers melirik sekelilingnya dalam diam. Tampak agak bingung.
Seberapa awamkah dia sebenarnya?
Kau tidak layak disebut ahli cabal Golden jika kau tidak bisa langsung mengerti.
“Pedoman pengajaran cabal Golden secara garis besar dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian dasar yakni mempelajari pengetahuan magis melalui Kabbalah, mitologi Mesir, filsafat Yunani, dan sebagainya, dan bagian penerapan yakni mengelola dan mengoptimalkan pikiran pribadi dengan mengikuti kisah penemuan pendiri Rosicrucian, CRC, di makam berdinding tujuh.”
Cabal Golden dapat dianggap memiliki dua tingkatan: Ordo Luar yang mencakup tingkatan hingga 4=7 dan Ordo Dalam tempat berkumpulnya tingkatan 5=6 dan 6=5.
…Beberapa orang seperti Mathers yang arogan itu mengklaim memiliki tingkatan tertinggi yang tidak ada, yaitu 7=4, tapi itu bisa diabaikan. Lagipula, dia hanya menggunakan hak istimewanya sebagai salah satu pendiri untuk mengatakannya. Kau tidak akan pernah bisa bertahan sebagai istri dari pria eksentrik dan terlalu percaya diri itu jika kau tidak bisa menuruti keinginannya dalam hal-hal seperti itu. Ada juga tingkatan Portal dan kategori yang lebih tinggi dari Ordo Dalam, tapi itu tidak relevan di sini.
“Para anggota tingkat atas mengetahui segala hal tentang anggota tingkat bawah, tapi tidak sebaliknya. Para pemula yang menggemaskan yang belajar begitu keras di meja mereka tidak diajarkan praktik lanjutan sampai mereka lulus ujian. Sama seperti kau sekarang, karena Iblis Agung mereproduksi dirimu secara asal-asalan, berarti kau telah melupakan segala sesuatu di luar kebutuhan dasar.”
Tahap pertama sungguh membosankan. Saking membosankannya sampai-sampai Aleister menyerah di tengah jalan. Bukan karena dia pernah menjadi orang yang mampu menghormati seniornya dan mengikuti aturan. ...Selain itu, meskipun dilarang secara resmi mencapai tahap lanjutan, dia entah bagaimana telah mempelajari semua rahasianya.
Jika tidak, Aleister tidak akan pernah bisa menantang dunia dalam Pertempuran Blythe Road dan menghancurkan semua penyihir terkenal sendirian.
(Semakin dilarang semakin ingin dilanggar, begitulah manusia. Dia akan mengejarnya, menguping dan memata-matainya, dan mencoba setiap metode lain yang bisa dia pikirkan.)
Tapi, Moina Mathers yang ini tidak seperti itu.
Moina Mathers melakukan apa yang diperintahkan dan tidak mengajukan pertanyaan yang mengganjal di depan matanya. Sikap seperti itu tidak cocok untuk seorang penyihir.
Mina Mathers memutar-mutar pisau palet di tangannya dan membuat pengumuman dengan tenang.
Tentang hukuman mati.
“Sekarang izinkan aku mendemonstrasikan kekuatan Ordo Dalam yang terdapat di kedalaman terdalam kuil.”
Bagian 11
Accelerator kembali menjabat sebagai Ketua Dewan kota.
Dan dengan ponsel pintar Master Key milik sang nomor 1, mereka memiliki akses ke semua data dari kamera keamanan, robot keamanan, drone, dan satelit Academy City. Mereka dapat menggunakan data tersebut untuk menemukan tempat persembunyian Iblis Agung Coronzon.
Monitor besar di dinding sudah rusak, jadi sang nomor 1 mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Monitor medis itu terhubung ke jaringan, jadi monitor itu bisa terhubung ke internet biasa jika mode tampilannya diubah.
Dan…
“Master?”
Nada bertanya pada Qliphah Puzzle 545 merupakan respons terhadap perilaku aneh Ketua Dewan.
Accelerator membeku.
Dan citra satelit yang ditampilkan bahkan bukan dari Academy City.
Bagian bumi mana yang malah menjadi fokusnya, yang bahkan lebih penting dari Coronzon yang bisa menyebabkan kepunahan umat manusia hari ini ataupun besok?
“…Apa?” erang Accelerator, sambil menatap monitor medis.
Apa pun itu, hal tersebut telah memicu respons kaget dari orang nomor 1 di Academy City.
Data yang memenuhi layar hanya tersedia pada Master Key Ketua Dewan. Sekali lagi, ini adalah foto dari satelit.
“Apa-apaan ini?”
Bagian 12
Suasana sunyi.
Academy City… masih ada.
Setidaknya, tempat itu belum berubah menjadi lautan darah akibat serangan sihir dahsyat.
Angelene melihat sekeliling dengan gugup.
“Apa ini… sudah berakhir? Apa ini berarti kita telah menghentikan Api Santo Georgios?”
“Untuk saat ini.”
Lucia tetap tenang bahkan di keadaan seperti itu.
…Mereka sekali lagi melawan Gereja Katolik Roma, sekte Kristen terbesar. Siapa yang bisa mengatakan konsekuensi buruk apa yang akan diterima oleh mereka. Memikirkan hal itu saja sudah membuat Agnese mual. Kekuatan satu individu memang kecil, tapi mereka dapat menghasilkan hal-hal besar dengan bekerja sama. …Gagasan itu tidak selalu merupakan hal yang baik.
Meski begitu, mereka tetap harus merayakan keberhasilannya dalam mengamankan Academy City. Sebagai pihak yang melindungi dunia yang damai ini.
Tapi suara lain menyela.
Sebuah peringatan bernada kasar datang dari malaikat Jepang bernama Kazakiri.
“Belum… Hati-hati…sesuatu…masih akan datang!!”
Mata Agnese Sanctis membelalak.
Apakah ini serangan kedua?
Apakah Vatikan benar-benar berpikir Coronzon bisa hancur bersama dengan Academy City?
“I-itu bukan serangan kami…”
Sebuah suara yang gugup terdengar oleh mereka.
Suara sang Kardinal yang ada di Vatikan.
Ya, Kardinal Michael pasti telah mengambil langkah yang cukup berbahaya untuk mencapai titik ini.
“Kami berhasil menghentikan serangan Api Santo Georgios. Tapi Gereja Katolik Roma tidak ada hubungannya dengan yang satu itu! Serangan itu adalah sihir skala besar yang lain!!”
Bagian 13
“Itu Vladivostok,” kata Ketua Dewan. “Apa yang mereka lakukan di Laut Jepang? Mereka mengumpulkan 50 ribu orang di kota pelabuhan. Serta kapal dan pesawat pengebom. Apa mereka mengumpulkan semua pasukan di pantai timur selama aku tertidur?!”
Dengan kata lain, itu adalah militer Rusia.
Itu mengingatkan kita pada Qliphah Puzzle 545.
Oniyama Rouze, Dewan kota yang mendesak agar segera menyerahkan Master Key, yang akrab dengan urusan diplomatik dan militer. Dia mungkin memiliki cara untuk mendapatkan informasi intelijen semacam ini tanpa menggunakan citra satelit. Dia begitu panik karena ada masalah mendesak yang perlu segera ditangani.
Oniyama Rouze bukan sekedar orang jahat.
Dia hanya menggunakan cara-cara paksa karena dia sedang terdesak. Karena dia ingin melindungi warga Academy City.
Tapi, kemungkinan besar mereka bukan sekedar militer biasa.
Gadis iblis itu sangat berpengalaman di dunia sihir, jadi dia bisa tahu.
Gadis iblis itu bisa merasakan musuh alaminya sedang beraksi.
Bagian 14
Agnese Sanctis sedang panik.
Mereka berhasil mencegah Api Santo Georgios, serangan dari Katolik Roma pada detik-detik terakhir, tapi bahaya belum berakhir.
Kini muncul ancaman lain dengan tingkat yang setara.
Sekte Kristen terbesar ketiga dan terakhir akhirnya menunjukkan taringnya.
“Kami adalah Gereja Ortodoks Rusia.”
Itu Vasilisa. Suaranya terdengar rileks.
Itulah yang membuatnya terdengar sangat janggal. Tidak ada rasa jijik, tidak ada amarah, tidak ada kebencian. Dia tidak menunjukkan emosi ekstrem yang diharapkan dari seseorang yang mencoba membantai 2,3 juta orang. Bahkan tidak ada sedikit pun emosi. Dia tenang. Dia berusaha untuk mencapai ketenangan. Vasilisa membunuh berdasarkan logika. Yang jauh lebih menakutkan daripada seseorang yang berteriak dengan penuh emosi.
“Monster, roh jahat, dan iblis. Tugas kami adalah melindungi umat manusia dari non-manusia. …Jadi, jika kalian tidak menyebut Iblis Agung Coronzon sebagai manusia, maka itu sudah cukup bagi kami. Saat entitas tak dikenal seperti itu memonopoli kursi yang menentukan nasib dunia, dia telah menjadi target prioritas utama kami.”
Menghancurkan Iblis Agung adalah prioritas utama.
Oleh karena itu...
Daripada dimusnahkan oleh iblis, akan lebih baik jika seluruh dunia hancur sendiri di tangan sesama manusia.
Apakah seperti itu pandangannya?
“Jadi, kalian mengumpulkan armada di Vladivostok?”
“Yah, sihir Hukuman Malaikat Agung perlu mengirimkan lingkaran sihirnya secara fisik ke lokasi target. Dan ukurannya cukup besar dan kompleks, yang menjadikannya sebuah tantangan besar. Kami tidak bisa begitu saja mengirimkannya melalui ley line seperti yang bisa dilakukan Katolik Roma. Tapi setidaknya kami bisa mengirimkannya melintasi lautan ke Academy City dengan kecepatan lebih dari 2 Mach.”
Kecepatan di atas 2 Mach berarti benda itu tidak berada di atas kapal.
Apakah armada itu dikumpulkan di pangkalan angkatan laut Vladivostok hanya sebagai umpan? Lingkaran sihir raksasa yang dibutuhkan untuk sihir Hukuman Malaikat Agung kemungkinan berada di ruang bom pesawat pembom strategis.
Agnese melirik ke samping.
Kazakiri… mungkin dia tidak akan banyak membantu. Lagipula, dia sudah melakukan upaya lebih dalam menangkis Api Saint Georgios, yakni serangan dari dua miliar serangan yang dikirim melalui ley line. Tidak ada yang mengharapkan dia untuk bertarung dalam pertempuran lain sekarang.
“Tapi itu semua berdasarkan logika dunia sihir. Para pilot militer tidak tahu apa-apa tentang dunia kita, jadi bagaimana kau bisa meyakinkan mereka untuk terbang menuju kematian?”
“Itu tidak jadi persoalan, sebab mereka tidak sadarkan diri.”
Semuanya berjalan dengan sangat lancar.
Mata Agnese membelalak.
“Kau mencuci otak para pilot dan mengirimnya ke misi bunuh diri?! Itu sama saja dengan membunuh mereka dengan tanganmu sendiri. Sekalipun mereka tentara, mereka tetap berasal dari dunia non-sihir. Bagaimana bisa kau membunuh mereka semudah itu? Tidakkah kau malu pada dirimu sendiri sebagai seorang biarawati yang mengaku melayani Tuhan?!”
“Hukuman ilahi itu dapat ditolak.”
Nada suara Vasilisa tidak berubah.
Suasananya masih mencekam, hampa, kejam, dan panas.
Dia mungkin sedang tersenyum.
“Kisah ini diceritakan dalam sebuah legenda kuno dari sebelum kelahiran Anak Tuhan. Tuhan memerintahkan Malaikat Agung Gabriel untuk meluncurkan api ke sebuah kota suci, tapi malaikat agung air itu dengan sengaja menolak. Ketidaktaatan terhadap perintah Tuhan seharusnya menjadi kejatuhan malaikat agung itu… tapi setelah serangkaian liku-liku, dia akhirnya dikembalikan ke posisinya sebagai malaikat agung. Jadi, jika kondisinya tepat, hukuman mutlak itu dapat dihindari. Ada presedennya.”
Itu adalah cara pikir di dunia sihir.
Para penyihir sering memanfaatkan cerita apa pun yang mereka temukan yang tampaknya memberikan pengecualian terhadap aturan.
Itu adalah logika yang sama sekali berbeda dari seorang biarawati yang seharusnya percaya dan patuh.
“Dalam pertempuran melawan Coronzon, serangan pembunuh manusia milik Katolik Roma hanya buang-buang waktu. Karena Iblis Agung bukanlah manusia. Kami sepenuhnya setuju denganmu dalam hal itu. Jadi, tidak seperti kalian, Gereja Ortodoks Rusia telah menyiapkan pembunuh makhluk abadi yang khusus digunakan untuk melawan malaikat dan iblis.”
“Hukuman Malaikat Agung. Sihir penentang hukuman ilahi, yang bahkan masuk ke ranah alam malaikat dan makhluk ilahi…”
“Ya, benar. Malaikat agung air entah bagaimana berhasil menghindari hukuman Tuhan. Dengan menggunakan cerita itu seharusnya bisa memberikan kerusakan pada makhluk yang berdasar pada logika dan aturan, bukan pada tubuh fisiknya. Memang tidak ada jaminan serangan itu akan membunuhnya dalam sekejap, tapi jika itu bisa melukainya walau sedikit, maka kita hanya perlu terus melakukannya. Dan pada akhirnya dapat memberinya luka fatal, jadi kita bisa terus menjatuhkannya sampai dia mati. Tidak peduli berapa banyak penyihir dan pesawat pengebom yang harus kami gunakan dalam prosesnya.”
Gereja Ortodoks Rusia selalu lebih fokus memerangi iblis daripada manusia. Senjata andalan mereka, sebuah sihir yang menggabungkan unsur penolak hukuman ilahi yang bahkan dapat memengaruhi sifat malaikat agung, mungkin mampu melukai Coronzon dengan parah.
Tapi, serangan itu akan menyaplok seluruh Academy City. Bahkan mungkin lebih.
Dan Vasilisa tidak memberikan jaminan bahwa Hukuman Malaikat Agung tidak akan membahayakan siapa pun selain iblis itu sendiri. Serangan ini cukup kuat untuk bisa melukai Coronzon. Jika penduduk kota terkena dampaknya, maka mereka akan mengalami nasib yang jauh lebih buruk. Kemungkinan besar, seluruh 2,3 juta penduduk Academy City bisa tewas.
Agnese dengan sengaja menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gejolak emosinya sebelum berbicara.
“Tapi kudengar Patriark di puncak Gereja Ortodoks Rusia punya kepribadian yang lembut.”
“Masa kau tidak tahu? Dia tidak perlu menyetujui semua ini☆”
Itu berarti kebaikan hati dunia tidak bisa menghentikan Vasilisa.
Bagian 15
Konflik antara Mina dan Moina berlanjut di Distrik 7.
Pertarungan fisik tidak ada gunanya di sini. Spesifikasi fisik mereka identik, jadi pertempuran tidak akan pernah berakhir.
Diperlukan sebuah resolusi intelektual yang melampaui ranah fisik.
Kartu-kartu berwarna cerah yang menyilaukan berserakan di sekitar.
Moina Mathers berbicara seperti mesin.
“Akasha Prithivi.”
Mina sudah tidak lagi tersenyum.
Sebuah alat pemotong dari air bertekanan ultra tinggi terpental ke samping tepat di depannya.
Kartu as terbesar Moina bukanlah sihir, melainkan teknik anggar. Dia menggunakan kekuatan fisiknya yang tidak seperti penyihir. Jika itu pun tidak berhasil, apakah dia harus mengandalkan sihirnya yang lebih rendah?
Dan Mina bahkan tidak mengayunkan pisau paletnya. Sihir itu tetap terpantul, jadi pasti ada sesuatu yang tersembunyi di sana. Seolah-olah larut di udara.
“Kartu Tattva lebih dari sekedar alat sederhana untuk membantu mencapai hipnosis diri.”
“…”
“Hal yang sama berlaku untuk kewaskitaan. Esensi sejatinya adalah pintu masuk pertama bagi pikiran sehingga kita dapat melintasi batas antar Fase dan melihat sekilas dunia lain. Dan, jika beruntung, ia bahkan bisa menarik kekuatan dan pengetahuan yang melimpah dari dunia lain tersebut.”
Dion Fortune berada di pihak Mina, tapi dia juga bingung.
Setidaknya bisakah Mina menjelaskannya kepada sekutunya sendiri?
Si Guru melirik sekilas ke arah muridnya yang tampak gugup.
“Ini sebabnya para penyihir yang telah mencapai tingkatan 5=6 dan bergabung dengan Ordo Dalam diberi lambang yang menggabungkan salib emas dan mawar merah. Alat itu memuat empat elemen dan 22 huruf alfabet Ibrani… yang berarti kau hanya perlu meletakkan selembar kertas tipis di atasnya dan menjiplak huruf-huruf tersebut dengan satu sapuan kuas untuk menggambar sigil malaikat dan roh agar dapat meminjam kekuatan mereka.”
Tidak dibutuhkan kuil megah.
Mina Mathers hanya perlu mengoperasikannya di satu tangan. Hanya satu tangan.
Kita bisa membayangkannya seperti sebuah ponsel pintar yang bisa memanggil malaikat mana pun.
Cabal Golden memang pernah menggunakan spiritual item seperti itu.
“Hancurkan dia berkeping-keping, Metatron, malaikat agung yang dulunya dikenal sebagai Henokh.”
Sebuah asteroid menghantam Bumi.
Kehancuran setingkat itu benar-benar menghantam Moina Mathers, menghancurkannya, dan meremukkannya menjadi berkeping-keping… Hanya Moina saja yang terkena dampaknya.
“Eh?”
Dion Fortune merasa bingung.
Dia telah melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Tapi, tidak ada kerusakan di tempat lain. Bangunan-bangunan di sekitarnya tidak roboh, tidak ada kawah di sekitar lokasi ledakan, dan tidak ada jendela yang pecah.
Hanya Moina yang telah dimusnahkan.
Hanya dia seorang.
“Itu adalah serangan terhadap tokoh penting yang oleh sebagian orang dianggap sebagai salah satu dari tujuh malaikat agung. Hukuman ilahi yang tepat yang diperintahkan oleh Tuhan tidak akan pernah membahayakan orang yang tidak bersalah, bukan? Terutama jika sisi itu ditekankan dan diekstraksi.”
“S-serius? Aku bangga dengan posisiku sebagai salah satu anggota asli cabal Golden, tapi apa anggota pendiri memang sekuat ini?”
Mina tidak repot-repot menjawab pertanyaan konyol muridnya.
Muridnya itu bisa mengulik dan mempelajarinya sendiri dari hasil yang sudah dilihatnya.
Westcott akan mengungkap struktur mantra musuh dan menetralkannya tepat di depan mereka, Mathers akan mengakhiri hidup musuh sebelum mereka sempat menyelesaikan sigil mereka, dan Annie akan secara ilegal meningkatkan kekuatan musuh untuk membuat sihir mereka lepas kendali. Ada banyak sekali cara untuk menghadapi satu serangan kuat tanpa serangan lanjutan dan tanpa tipu daya.
(Moina Mathers ternyata tiruan yang jauh lebih buruk dari yang kukira. …Yang berarti persiapanmu tidak secermat yang kau katakan, Coronzon.)
“Apa kalian menangkap sinyal itu, umat Anglikan?” bisik Mina Mathers ke langit malam.
Mina tidak memiliki kewajiban untuk melayani Ketua Dewan baru, tapi dia kenal dengan Ketua Dewan lama.
Jika Ketua Dewan memutuskan untuk melawan, maka Mina akan menghormati pilihan tersebut dan mendukungnya.
Sebagai pelindung Bayi Lilith, Mina tidak bisa membiarkan dunia hancur karena keegoisan seseorang.
(Aleister memang 'penjahat terkutuk' jika dilihat secara keseluruhan, tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun mengatakan bahwa setiap bagian dari hidupnya buruk. Hal-hal yang dipikirkan, diciptakan, dan dimulai oleh manusia masih dapat mengarah pada keselamatan dunia.)
“Kutukan yang patah akan kembali kepada pelakunya. …Jadi, jika kita mengambil kesempatan ini, maka kita bisa melacak Coronzon. Dengan mengikuti jejak Moina Mathers yang telah dikalahkan, kita bisa menemukan Coronzon.”
Bagian 16
Kepala Kanzaki Kaori mendongak untuk menatap langit malam.
“Distrik 17?”
Bagian 17
“?”
Iblis Agung Coronzon juga menyadari apa yang sedang terjadi.
Dia mendongak meskipun tidak ada apa pun di sana.
“Moina Mathers telah dikalahkan? Ini buruk. Pihak ketiga bisa mendeteksi sinyal balik yang lemah itu!”
Dia kehabisan rencana.
Dia tahu bahwa dia sedang dipojokkan.
Dia tak kuasa menahan tawa. Walau sedikit.
Apakah mereka mengira Iblis Agung yang dibenci semua orang itu merasa takut?
Bahwa dia merasa kesepian?
…Bahwa dia menginginkan seseorang untuk melindunginya?
“Jangan membuatku tertawa.”
Pikiran-pikiran mustahil itu telah ditanamkan dalam benaknya. Dia harus menerimanya. Dia tidak bisa berhenti di sini. Bukankah dialah yang memutuskan untuk melampaui batas dalam peran yang dipaksakan Tuhan padanya, yang bahkan pemberontakannya pun diizinkan secara diam-diam olehNya?
“Jadi, aku tidak punya pemikiran seperti itu. Pemikiran seperti itu tidak ada dalam diriku.”
Sekarang ini adalah perlombaan melawan waktu. Untungnya, dia sudah meninggalkan Distrik 20 dan 9. Dia sekarang berada di Distrik 17, yang dipenuhi dengan pabrik-pabrik dari berbagai jenis dan ukuran. Distrik ini juga berbatasan dengan tembok kota.
Semuanya akan berakhir jika dia bisa melewatinya.
Begitu berada di luar Academy City, dia bebas. Dia bisa melintasi Batas Penanggalan Internasional dan melarikan diri ke sisi lain bumi. Begitu tidak ada lagi yang bisa mengejarnya, dia akan kembali menghancurkan dunia. Karena para pengejarnya tidak ada di sini sekarang, tidak ada yang bisa menghentikannya.
“Cobalah… hentikan aku.”
Goyah dan miring, dia menyeret tubuhnya yang berat.
Dia bergumam sendirian sambil mendekati tembok kota.
Gumamnya bisa terdengar seperti umpatan atau doa.
“Aleister, Tuhan, atau siapa pun itu. Jika kau bisa menghentikanku, datanglah kemari dan lakukanlah.”
Jika keberadaannya diketahui, maka biarlah.
Jika dia tidak bisa lolos tanpa melakukan kegaduhan, maka dia tidak perlu menahan diri.
Mengetahui bahwa pilihan terbaik sudah tidak lagi tersedia memberinya kebebasan. Bagaimanapun, garis finis sudah terlihat. Dia tahu sisanya akan menjadi tantangan, tapi dia hanya perlu membeli cukup waktu untuk melewati rintangan tersebut.
Jadi dia akan menggunakan jurus pamungkas.
“Distrik 19 terletak di sebelah timur dan Distrik 20 terletak di sebelah barat… Yang menjadikan mereka simbol Nuit, dewi pergerakan langit dari timur ke barat.”
Malam ini penuh dengan kejutan buat Iblis Agung Coronzon. Dia mengharapkan malam itu akan berakhir dengan cepat dengan serangan sihir Adikalikanya.
“Distrik 3 berada di utara. Kau bilang itu tidak sesuai dengan Hadit, yang maksudnya langit selatan? Tapi jangan lupa: simbol Hadit, Sirius, adalah bintang musim dingin. Waktu dan tempatnya menghubungkan Hadit dan Nuit. Sihirku akan selesai dengan berkah Set.”
Jalan yang dia tempuh tidak berjalan sesuai rencana.
Tapi karena dia adalah Iblis Agung, dia bisa menggunakan jurus pamungkas seperti ini di saat-saat genting.
“Mewujudlah dan tunjukkan dirimu di hadapanku, LAShTAL.”
Bagian 18
Distrik 17 berbatasan dengan Distrik 9 tempat kelompok Kamijou berada.
Daerah itu juga berbatasan dengan tembok kota. Itu adalah kawasan industri yang dipenuhi dengan berbagai macam pabrik tanpa awak.
Itsuwa melangkah maju dengan gugup.
“Akan cepat dengan mengendarai mobil. Kita masih bisa menyusul!”
“Sudah cukup lama kita kehilangan jejaknya di stadion, bukan? Jika dia bersembunyi di distrik yang berbatasan dengan tembok kota, mengapa dia tak langsung kabur dari kota ini?”
Kamijou tidak memiliki cukup informasi untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Mikoto, yang merasa terganggu dengan gaun seluncur esnya yang terlalu pendek.
Kamijou menduga pasti ada sesuatu yang telah terjadi.
Jika Amakusa dan Eks Pasukan Agnese tidak melakukan apa-apa untuk memperlambatnya, pasti ada alasan lain. Mungkin Aleister telah menentang Coronzon dari dalam dan mungkin Coronzon sendiri merasakan semacam keengganan untuk pergi.
“Apa pun yang terjadi, yang jelas dia ada di Distrik 17. Sekarang kita tahu di mana dia berada, tidak ada alasan untuk menung—”
Kamijou bahkan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
Getaran mengguncang tanah.
Sesuatu sedang mendekat. Dari selatan. Yang berarti dari Distrik 17.
Bentuknya berwarna biru tua seperti langit malam.
Itu adalah raksasa. Kepalanya benar-benar menjulang di atas gedung-gedung pencakar langit. Apakah itu makhluk buas mirip anjing? Tidak, itu tidak cukup untuk menggambarkannya. Kamijou tidak dapat menemukan jawaban yang tepat bahkan saat sudah melihatnya sendiri.
“LAShTAL?!”
“Cih. Teori dasar Magick. Penekanan pada hurufnya sudah cukup menjelaskan hal itu. Dia mengambil mantra yang berkaitan dengan kehidupan dan menggunakannya untuk menciptakan bentuk buatan darinya. Dengan kata lain, mungkin itu adalah interpretasi aliran Crowley tentang dewa Mesir Set!”
“Maksudmu dewa malam yang memiliki kekuatan untuk membunuh para dewa?!”
Index, Anna Sprengel, dan Kanzaki semuanya meneriakkan sesuatu, tapi Kamijou tidak banyak tahu tentang sihir untuk memahaminya. Dia hanya bisa menyimpulkan bahwa ini mungkin sesuatu yang dahsyat. Dan jika Iblis Agung itu menggunakannya, maka dia mungkin sengaja menggunakannya dengan cara yang salah.
Dan sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk meminta penjelasan.
Kamijou merasakan tekanan angin. Seharusnya dia tidak melihat ke arah itu. Seluruh tubuhnya membeku karena takut. Sebuah gedung lebih dari 30 lantai, yang tadinya tampak seperti bagian tak terpisahkan dari pemandangan, bergoyang secara diagonal lalu roboh ke arah jalan. Yang berarti ke arahnya dan yang lainnya.
“Carilah tempat berlindung!! Bersembunyilah di manapun asal bisa melindungi diri kalian!!”
Perintah tegas Kanzaki mematahkan kelumpuhan bocah berambut jabrik itu. Kamijou menempelkan tubuhnya ke dinding blok semen di dekatnya.
(Sial, di mana Index, Misaka, dan yang lainnya?!)
“Jika kau ingin paru-parumu tetap utuh, jangan menghirup udara, manusia! Ini dia!!”
Othinus bersembunyi di dalam jaket Kamijou.
Kamijou tentu saja bertanya-tanya mengapa dia harus berada "di balik" sesuatu. Dan apa maksudnya bernapas? Jika bangunan itu runtuh ke sini, bukankah seharusnya dia tidak berada "di balik" sesuatu? Tapi dia segera mendapatkan jawabannya.
Begitu gedung pencakar langit membelah jalan utama, sesuatu seperti permen kapas kotor mengembang keluar. Melewati ujung tembok blok semen, seluruh jalan utama langsung tertelan.
Puluhan atau ratusan ribu pecahan kaca dan beton kecil beterbangan seperti badai pasir yang mematikan. Satu hantaman dari pecahan-pecahan tersebut tidak hanya akan mencabut kakinya dari tanah dan melemparkannya puluhan meter ke udara, tapi juga akan mengoyak daging dari tulangnya, sampai tidak ada yang bisa dikenali lagi.
Tapi gagasan itu pun masih salah.
Kamijou mendengar suara letupan pelan di kepalanya. Diikuti oleh dering tajam di telinganya seperti ada sesuatu yang menusuk otaknya. Dia telah menghindari hantaman langsung badai pasir dengan berlindung di balik dinding. Dia bersandar di dinding itu. Tapi, dia tidak bisa berdiri tegak dan tergelincir hingga terduduk. Sebelum akhirnya ambruk ke samping.
Tekanan udara di seluruh ruangan itu tidak normal. Bagaimana mungkin dia bisa menghindari ini?
“Gah…ah…”
Rasa sakit berarti dia masih hidup. Jadi dia harus menganggapnya sebagai hal yang baik.
Dia mengira angin kencang yang mematikan itu terus bertiup selama lebih dari dua menit.
Dia tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut. LAShTAL itu masih mengayunkan tubuhnya yang kolosal. Lebih dari satu gedung mungkin telah roboh.
Kamijou harus segera bergerak.
Dia tahu ke mana dia harus pergi, tapi tubuhnya menolak untuk menuruti perintahnya saat dia tergeletak tak berdaya di tanah yang ternodai oleh salju merah.
Apa yang terjadi pada Index dan Misaka Mikoto?
Pendengaran Kamijou masih belum pulih, jadi dia terlambat menyadari bahwa sesuatu telah meledak dari dalam tumpukan puing. Mungkin sebuah tangki propana telah tertelan oleh ledakan.
Ketika pendengarannya pulih, suara teriakan seseorang akhirnya sampai kepadanya.
“Touma! Apa kau baik-baik saja? Kau tidak tertimpa reruntuhan itu, kan?! Tolong jawab!!”
Kamijou duduk tegak. Dia menggertakkan giginya dan memaksakan diri.
Dia harus menjawabnya.
“Aku…baik-baik saja, Index. Bagaimana denganmu?!”
“Kami juga baik-baik saja. Kami saling mengecek keadaan masing-masing menggunakan alat komunikasi spiritual dan ponsel kami.”
Index selamat. Seharusnya memang begitu. Tapi kenapa Kamijou tidak bisa melihatnya?
Setelah merangkak dan mengintip melewati dinding beton yang setengah hancur, Kamijou mengerti.
Mereka terisolasi. Jalan utama tak lagi dapat dikenali. Puing-puing menumpuk lebih tinggi dari gedung lima lantai. Lebih tinggi dari gedung sekolah. Mereka tidak bisa memanjatnya. Dan bahkan mendekatinya pun bisa membuat mereka tertimpa reruntuhan seperti tanah longsor.
Kamijou adalah satu-satunya orang di sisi ini.
Yang berarti dialah satu-satunya yang bisa mengejar Iblis Agung Coronzon saat itu juga.
Kamijou kembali merasakan getaran vertikal yang dalam. LAShTAL(?) pasti telah menghancurkan gedung pencakar langit atau pabrik besar lainnya.
Kekacauan yang ditimbulkan oleh makhluk itu bisa mengancam nyawa yang baru saja diselamatkan. Kamijou mengepalkan tinju kanannya, tapi kemudian dia mendengar suara lain.
Apakah itu Misaka Mikoto?
“Pergi! Cepat! Jika siapa pun yang tidak terjebak tidak menghentikan si Coronzon itu sekarang juga, maka sesuatu yang mengerikan akan terjadi, kan? Jadi pergilah!!”
Kamijou ingin tetap tinggal.
Bukan hanya berkomunikasi dengan berteriak melewati reruntuhan dan menggunakan ponsel. Dia ingin melihat wajah mereka untuk memastikan bahwa mereka selamat. Pikiran yang sangat wajar itu mencengkeramnya seperti tangan-tangan tak terlihat yang tak terhitung jumlahnya dan menariknya kembali.
Jangan melakukan hal yang benar.
Terimalah kebaikan itu dan bagilah fokusmu.
(Aku tidak akan… membiarkanmu melakukan itu, Coronzon!!)
“Bisakah kalian mengurusnya? Index! Misaka!!”
“Touma, LAShTAL bukanlah kartu as terakhir Coronzon. Dia pasti punya banyak kartu as lain. Kami akan melakukan yang terbaik di sini, jadi hentikan dia!!”
“Aku sendiri tidak begitu mengerti, tapi begitulah. Pertempuran tidak akan pernah berhenti jika kau tidak mengalahkan sumber dari semua ini, kan? Kalau begitu, hentikanlah sebelum ada lebih banyak bagian kota yang hancur!!”
Kamijou menepis keraguannya.
Coronzon memecah belah manusia dan menghambat evolusi mereka.
Hanya ada satu cara untuk mengalahkannya: mempercayai orang-orang yang dapat kau percayai tanpa ada keraguan.
Jadi Kamijou membelakangi tumpukan puing itu dan mulai berlari.
Sekalipun dia harus menggertakkan giginya saat melakukannya.
Sesuatu meledak di kejauhan. Beberapa pancaran cahaya menyambar keluar. Entah apakah itu sihir atau kekuatan esper yang dipakai untuk melawan bayangan biru raksasa yang disebut LAShTAL? Kelangsungan hidup mereka tidak terjamin dan terkena satu serangan saja bisa berarti kematian. Meski begitu, mereka berjuang agar Kamijou bisa menuju Coronzon dan agar mereka bisa melindungi Academy City dan dunia yang lebih luas di luar tembok.
Kepercayaannya telah terbalas. Inilah arti sebenarnya dari melindungi ikatan yang menyatukan orang-orang.
Bagian 19
Dan Misaka Mikoto berbicara pelan di ruang tertutup yang berdebu.
Lebarnya mungkin sekitar lima meter?
“Ha ha. Sampai sini saja kah kita…?”
“Rambut pendek. Ada celah di sana-sini, jadi tidak perlu khawatir soal udara.”
“Akhirnya ada kabar baik.”
Tapi, tidak ada celah yang cukup besar untuk dilewati seseorang dengan merangkak.
“Kenapa tidak membiarkan kucing itu pergi? Tidak ada alasan untuk menahannya di sini. Aku memancarkan gelombang elektromagnetik lemah yang tidak disukai binatang, jadi mungkin dia tidak merasa nyaman berada di sini bersamaku.”
“Aku sudah berusaha, tapi Sphinx tidak mau pergi.”
Dunia berguncang. Potongan-potongan kecil material bangunan berjatuhan seperti pasir.
Jika tumpukan puing itu runtuh karena suatu alasan, mereka akan tertimpa puluhan ribu ton beton dan tewas seketika. Misaka Mikoto dapat mengendalikan listrik dan magnet, tapi menggunakan kekuatan itu dalam situasi genting seperti ini hanya akan mempercepat kematian mereka. Robot raksasa memang kuat dan keren, tapi tidak ada yang mau berada begitu dekat dengan salah satu persendiannya dan membiarkan bongkahan itu menimpanya. Situasinya sama seperti itu.
Inilah kebenaran dari teriakan mereka sebelumnya.
Suara mereka tidak datang dari sisi lain gedung yang runtuh. Mereka telah tertimpa reruntuhan gedung. Kendali magnetik Misaka Mikoto telah mengurangi sebagian besar dampaknya, tapi diri mereka dan perisai mereka tetap tertelan oleh puing-puing.
Kekuatan esper peringkat 3 memang hebat, tapi jika dia menggunakannya terus menerus dalam jangka waktu lama, dia bisa kehabisan tenaga. Mengandalkan magnetisme terlalu lama akan berisiko. Jadi pilihan terbaik mereka adalah tetap di tempat dan menunggu penyelamatan. …Tentu saja, dengan asumsi penyelamatan akan datang.
Misaka Mikoto tersenyum kecil.
“Yah, kita tak bisa memberitahunya kalau kita sedang terjebak di bawah reruntuhan.”
Seandainya Kamijou touma tetap tinggal pun, tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia memang tampak memiliki semacam kekuatan misterius, tapi bukan berarti dia bisa mengangkat puluhan ribu ton puing sendirian. Dan jika dia mencoba mengatasi tumpukan puing, bisa saja tumpukan itu malah runtuh dan menghancurkannya.
Prioritas utamanya adalah Iblis Agung Coronzon.
Hal itu menjadi semakin jelas bagi Mikoto sekarang karena nyawanya berada dalam bahaya.
Hanya terjadi di Academy City saja sudah cukup buruk. Jadi Mikoto tidak bisa membiarkan seluruh dunia hancur menjadi puing-puing seperti ini.
“Aku mengandalkanmu. Sungguh.”
“Jangan khawatir. Touma pasti bisa mengatasinya.”
Bagian 20
“Haa haaa…”
Iblis Agung Coronzon bernapas berat saat dia berdiri tegak di tanah bersalju merah.
Tapi, salju bukanlah satu-satunya sumber warna merah.
Darah merah tua mengalir dari mulutnya.
(Inilah konsekuensi dari memaksakan sihir besar tanpa persiapan yang memadai. Aku ragu bisa menggunakan LAShTAL lagi.)
LAShTAL memang kuat, tapi ujungnya bisa dikalahkan. Jika sihir itu cukup untuk menghancurkan seluruh umat manusia, dia tidak akan bergantung pada Adikalika.
Tapi, itu sudah memberinya cukup waktu.
Dia bahkan tidak bisa berdiri tegak saat berjalan menuju tembok kota yang tebal dengan kaki yang tidak stabil.
(Aku… mungkin tidak akan sampai ke dunia selanjutnya… dengan keadaan seperti ini.)
Dia menyeka darah dari mulut dan berpikir tanpa berbicara lantang.
(Tapi aku tetap akan menghentikan dunia ini dari kebusukan… Ya, ya. Demi anak lelaki yang mengatakan bahwa aku berada di pihak kebaikan dan kebenaran.)
Dia tidak lagi memiliki Moina Mathers atau LAShTAL. Syarat kemenangannya adalah melarikan diri. Kelangsungan hidupnya sendiri adalah yang terpenting. Setiap kartu as individu tidak terlalu penting. Yang penting adalah menggunakannya bersama-sama.
Dia hanya perlu menyelesaikannya.
Jika dia bisa melewati tembok itu, maka kehancuran dunia sudah bisa dipastikan.
“…”
Untuk sesaat, pikirannya tertuju pada seseorang yang tidak ada di sini.
Dia hampir berhenti.
Hamazura Shiage.
…Tapi Coronzon berhasil lepas dengan tekadnya sendiri. Anak lelaki itu sendiri yang bilang kalau Coronzon berada di pihak kebaikan dan kebenaran. Apakah Anak lelaki itu salah telah bertaruh padanya.
Dia adalah Iblis Agung.
Jika ada perasaan baik dan emosi hangat yang muncul secara tidak wajar dalam dirinya, pasti ada orang lain yang ikut campur. Dia tidak akan lagi menjadi mainan Tuhan. Dia telah memilih untuk melampaui batas dalam perannya dan mencoba menghancurkan dunia. Dia tidak akan membiarkan segala rintangan mengalihkannya dari tujuan itu.
Coronzon bukan manusia. Jadi dia bisa melompati tembok tinggi itu dalam sekali lompatan.
Jadi, dia melakukannya.
Dan, tiba-tiba terjadi ledakan.
“?!”
Coronzon kehilangan keseimbangan di tengah lompatan, tapi dia tidak punya waktu untuk terkejut.
Sebuah platform sebesar stadion berkubah terletak tepat di luar tembok. Bukankah itu spiritual item yang disebut Tribikos? Tapi tunggu. Siapa yang menggunakannya?
Coronzon tidak punya waktu untuk berpikir.
Pokoknya itu platform.
Coronzon begitu karena sekarang ada orang lain yang telah menendangnya dan bergegas menghampirinya. Tongkat orang itu terulur secara tidak wajar. Tidak, orang itu sedang menghunus pedang. Bilah pedang yang terbuka itu menebas udara, tepat sasaran ke leher Coronzon.
Beberapa lampu padam dan ledakan dahsyat juga terdengar, tapi Coronzon berhasil selamat.
Nyaris saja. Coronzon telah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk bertahan hidup.
Aradia.
Good Old Mary.
Dan H.T. Trismegistus.
…Tidak, bukan hanya mereka. Mut Thebes, 2nd Saga, Vidhatri meskipun dia hampir mati, dan masih banyak lagi. Para Transenden ini berkumpul atas panggilan Alice, kehilangan kepercayaan padanya, dan berpencar dari Academy City, jadi mengapa mereka kembali ke kota ini?
Vidhatri terdengar agak kesal saat berbicara.
“Aku adalah salah satu pihak Pembunuh dalam kasus Kamijou Touma, tapi hutang tetaplah hutang. Aku bisa kembali berbisnis seperti biasa setelah melunasi semua hutangku.”
“Aku berpaling sebentar, Vidhatri malah tumbang.”
Komentar Mut Thebes yang tidak perlu itu memicu perdebatan kecil di antara para Transenden.
“(Pada akhirnya mama yang mengerjakan semua pekerjaan. Sang penyembuh memang tidak punya waktu untuk beristirahat.)”
Kepala Coronzon mendidih karena amarah setelah didorong mundur, jatuh ke dalam dinding, dan mendapati dirinya kembali terikat di Academy City.
“Sialan… Sialan kalian semua!!” teriak Coronzon.
Ada sesuatu yang tidak beres.
Coronzon tidak stabil saat berdiri.
Ledakan itu telah menyebabkan kerusakan yang lebih besar dari yang Coronzon duga.
Apakah itu yang terjadi ketika para Transenden berkumpul? Serangan dadakan saat Coronzon sedang tak berdaya secara magis karena efek samping dari penggunaan LAShTAL terasa sangat menyakitkan.
Tapi, bagaimana hasil menyedihkan ini bisa terjadi?
Sebelum Coronzon mendapatkan kembali kendali atas tubuhnya, Aleister telah menggunakan tubuh yang sama persis untuk dengan mudah mengalahkan para Transenden seperti Vidhatri. Itu berarti Iblis Agung itu memang memiliki kekuatan untuk mengalahkan mereka. Jadi mengapa ini tidak berjalan seperti yang diharapkan? Bagaimana mereka bisa memojokkan Coronzon?!
(Apa kau menjebakku lagi, Aleister?!)
“Kukira kalian sudah putus asa akan dunia ini!! Kukira kalian mengutuk dewa yang menolak menyelamatkan orang-orang!! Motivasi kalian selalu berawal dari keinginan untuk melindungi kelompok tertentu. Kalian pasti menyaksikan saat-saat ketika kalian gagal melindungi mereka dan kehilangan mereka! Tapi kalian lemah dan bodoh, jadi kalian takut akan tirani Alice dan mengandalkan fantasi seperti CRC!!! Jadi mengapa kalian berpegang teguh pada dunia ini sekarang? Dunia ini bisa diciptakan kembali!! Hancurkan dan ciptakan kembali saja, lalu semua tragedi dan kemalangan itu akan lenyap!!!”
“Jawabannya sederhana,” jawab Aradia.
Good Old Mary melanjutkan dengan ekspresi tenang.
“Mama dan yang lainnya tidak menanggalkan identitas kami dan berdandan sebagai dewa agar kami bisa melindungi kerangka dunia yang samar dan tak berbentuk. Kami hanya perlu menghancurkan dunia? …Dunia ini tidak lebih dari alat untuk menciptakan kebahagiaan dan kematian, bahkan satu orang yang ingin kami lindungi saja sudah terlalu banyak. Tidakkah kau mengerti itu, dasar bodoh?”
“Lalu kenapa?”
Iblis Agung itu gemetar.
Kenapa mereka tidak bisa memahami sesuatu yang begitu sederhana? Wajah Coronzon berubah marah.
“Meski itu benar!! bukan berarti semua itu tidak akan menghilangkan sisi-sisi yang tidak adil dan tidak masuk akal di dunia ini. Kalian seharusnya memahaminya. Orang yang ingin kalian lindungi akan terus berjatuhan, terlepas dari segala yang aku lakukan. Melindungi dunia yang busuk ini tidak akan mengubah jumlah korban! Kalian hanya akan terus melihat orang-orang itu mati di pelukan kalian!!”
“Itu bukan urusanmu.”
2nd Saga, wanita muda yang berasal dari mitologi Nordik dan mengambil pendekatan berbeda dari para Transenden lainnya, menghela napas kesal.
H.T. Trismegistus berbicara.
“Menurut akal sehat, kami sebagai Transenden harus berpikir sendiri untuk mencapai jawaban. Untungnya, dunia yang kau anggap begitu busuk ini telah menunjukkan kepada kami sedikit alasan untuk berharap.”
Bagian 21
Beberapa saat sebelumnya, Alice Anotherbible meninggalkan yang lain untuk mencari Coronzon dan berlari ke tempat yang sama sekali berbeda.
Alice tidak yakin rencana saat ini akan berhasil.
Kamijou dan yang lainnya memang tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi itu tidak cukup. Dan pertempuran tidak dimenangkan hanya dengan kemurnian niat seseorang. Bahkan dengan niat yang paling murni sekalipun, mereka tetap akan kalah jika gagal memenuhi syarat-syarat yang diperlukan.
Alice tidak ingin mereka gagal.
Apa pun yang terjadi.
Jadi Alice telah mendeteksi sesuatu selain Coronzon.
Seseorang terdekat, yang bisa dia cari kapan saja.
“Semuanya, si gadis butuh bantuan!!”
Gadis kecil itu berteriak ke arah langit.
Tentu saja, dia tidak menggunakan suara fisiknya. Siapa pun yang memiliki kualifikasi yang tepat dapat merasakan suara ini bahkan jika mereka berada di sisi lain planet ini. Energi sihir yang ditempatkan di balik suaranya memastikan hal itu.
Bahkan saat berteriak, Alice Anotherbible masih ingat.
Dia sudah sangat egois.
Dia hanya bisa berkomunikasi dengan para Transenden Normal dengan menakut-nakuti mereka.
Ketika Kamijou Touma terluka di konsulat cabal Bridge Builders, Alice menyerang H.T. Trismegistus dan Good Old Mary.
Mungkin salah jika dia mencoba meminta bantuan mereka sekarang.
Tapi, dia tidak punya orang lain untuk diandalkan.
Alice tidak akan menyalahkan mereka jika mereka meninggalkannya.
Tapi, tetap saja terasa salah jika Kamijou Touma ikut dalam hukuman yang seharusnya ditujukan pada Alice.
“Si gadis bisa menghancurkan! Si gadis bisa membunuh! Si gadis bisa membawa malapetaka! Tidak ada apa pun di dunia ini yang bisa menandingi si gadis!! …Tapi kekuatan si gadis tidak bisa melindungi sensei. Jadi kali ini si gadis tidak berguna. Si gadis butuh bantuan kalian!”
Tentu saja mereka mendengarkan.
Para Transenden mengetahuinya.
Mereka berada tepat di luar tembok kota. Mungkin di antara pepohonan di hutan, mungkin di puncak menara logam, mungkin duduk di bangku halte bus tua yang berkarat.
Mereka telah kehilangan kepercayaan pada Alice Anotherbible, tapi Transenden adalah seorang penyihir yang akan menyelamatkan siapa pun yang memenuhi syarat keselamatan yang telah mereka tetapkan. Meskipun mereka meninggalkan Academy City, tapi tidak satu pun dari mereka yang benar-benar meninggalkannya. Mereka tidak peduli apa afiliasi seseorang. Baik musuh maupun sekutu, selama seseorang memenuhi syarat keselamatan, mereka akan melindunginya bahkan dengan mengorbankan nyawa mereka sendiri. Jadi… selama masih ada satu orang di antara 2,3 juta penduduk Academy City yang memenuhi syaratnya, maka mereka tidak akan pernah meninggalkan kota dan melarikan diri.
Jadi mereka tetap hadir di sana.
Alice yang tiran itu masih mengingat rasa kasih. Rasa itu bertindak sebagai kontrol diri baginya. Dan selama dia bisa mengendalikan emosinya sendiri, mungkin dia bisa menjadi berbeda dari CRC yang sama-sama berubah-ubah dan suka bermain-main.
Itu sama sekali bukan perubahan kecil.
Seandainya ini Alice yang dulu, ketika dia tidak memiliki cukup bantuan, dia mungkin akan melipatgandakan dirinya. Itu memang terdengar konyol, tapi baginya hal itu mungkin terjadi.
Tapi sekarang dia tahu itu tidak akan berhasil.
Dia membutuhkan keberagaman orang-orang yang memiliki kemampuan yang tidak dia miliki.
Alice tidak mengumpulkan orang-orang yang dia butuhkan.
Dia berusaha menjadi seseorang yang dibutuhkan oleh orang-orang di sekitarnya.
“Si gadis akan melakukan apa saja. Si gadis akan melakukan apa pun yang kalian minta dan tidak peduli bagaimana kalian menggunakan kekuatan si gadis. Kalian bisa menyuruh si gadis untuk mati jika kalian mau!! …Jadi! Jadi jangan biarkan Coronzon meninggalkan kota ini!!”
Dan para Transenden tahu bahwa ini bukanlah usaha yang sia-sia. Seorang anak lelaki telah menghentikan amukan Alice meskipun harus mengorbankan nyawanya. Si tiran kecil itu telah menerima kenyataan itu dengan sepenuh hati. Para Transenden telah kehilangan kepercayaan pada Alice karena dia telah berubah, terdistorsi, menjadi lemah. Atau begitulah yang mereka pikirkan, tapi sekarang mereka bersedia mempertimbangkan kemungkinan yang berbeda.
Apakah Kamijou Touma adalah kuncinya? Bahkan para Transenden yang telah mengamati Alice begitu lama pun tidak dapat memprediksi apa yang akan Alice lakukan sekarang.
Benarkah mereka bisa mengartikan bahwa Alice Anotherbible tidak berkembang?
Sekarang setelah mereka melihat Alice mencurahkan segalanya untuk menundukkan kepalanya kepada orang lain…
Apakah Alice tidak layak mendapatkan rasa hormat mereka?
Dan jika perubahan Alice adalah bentuk pertumbuhan yang positif, mungkinkah mereka masih memiliki harapan? Gagasan menyelamatkan dunia melalui CRC, Christian Rosencreutz, telah sirna. Orang itu bukanlah orang suci yang mereka harapkan. …Tapi mungkinkah mereka menemukan cara lain untuk menyelamatkan dunia bersama Alice?
Alice Anotherbible mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.
“Si gadis minta maaf, semuanya… Tapi bolehkah si gadis meminta satu hal lagi?”
Apakah pemimpin seperti inilah yang seharusnya dilayani oleh para Transenden?
Tidak, bukan.
Mereka mendengarkan kata-katanya sebagai teman yang setara.
“Berjuanglah bersama si gadis dalam menyelamatkan Sensei dan dunia!!!”
Tidak perlu berkata-kata.
Mereka menggunakan tindakan mereka untuk menjawabnya.
Bagian 22
Aksi brutal LAShTAL terus berlanjut.
Kelompok Amakusa dan Eks Pasukan Agnese sedang bertempur.
Kamijou berlari menuju Distrik 17. Dia benci karena tidak tahu cara mengendarai mobil. Terutama ketika orang dewasa bisa melakukannya tanpa berpikir panjang. Tentu saja, salju merah membeku di seluruh area. Bahkan jika dia memiliki SIM sepeda motor, yang bahkan siswa SMA pun bisa mendapatkannya, dia tetap tidak bisa berbuat banyak. Tapi tetap saja.
Saat pikiran-pikiran tak berarti itu berkutat di benaknya, sakit kepala yang menusuk tiba-tiba menyerang kepalanya.
Rasa pusing yang tak terlihat membuat dunia berputar di sekelilingnya.
Ini bukan kali pertama.
(Kenapa… mesti sekarang?)
Kamijou Touma mengerang.
Lalu terhuyung ke samping.
“Gh…”
Pertarungan berkepanjangan merupakan tindakan bunuh diri.
Dia telah melampaui batas kemampuan tubuhnya sejak lama ketika dia bertarung melawan Coronzon untuk menghentikan Adikalika. Dia sudah kalah waktu itu. Hanya saja, pertarungan belum berakhir di situ, jadi dia terpaksa melanjutkan ke babak perpanjangan waktu. Dia tak bisa berharap untuk bisa menyelamatkan siapa pun dalam kondisi seperti ini.
(Sedikit lagi… sedikit lebih lama… Hanya lima atau sepuluh menit! Index dan Misaka percaya padaku. Mereka semua berjuang. Karena mereka percaya aku bisa melakukannya!! Jadi, tidak bisakah tubuh ini bertahan sedikit lebih lama?!)
Tapi, dia tidak ambruk.
Karena saat dia mulai terjatuh ke depan, seseorang menangkapnya.
Dia mendengar sebuah suara.
Suara gadis aneh itu terdengar kekanak-kanakan sekaligus dewasa.
“Kau…”
Tapi yang terpenting, gadis itu terdengar sedih.
“…Selalu saja begini. Seolah-olah kau tak pernah memberi kesempatan pada lukamu untuk sembuh atau seolah-olah kau lebih banyak sakitnya daripada sehatnya.”
Siapakah gadis itu?
Kamijou tidak berpikir kalau dia mengenal gadis itu.
Gadis itu mengenakan pakaian berkabung dan rambut pirang madunya yang panjang tertiup angin malam.
Mungkin Kamijou pernah bertemu dengannya sebelumnya, tapi Kamijou tidak mengingatnya. Siapakah gadis ini sebenarnya? Kamijou tidak menemukan satu pun jawaban untuk pertanyaan itu.
“Siapa…?”
“Aku bisa menyebutkan namaku miliaran kali dan kau tak akan pernah mengingatnya. Tapi mungkin nama esper-ku bisa sedikit menempel di benakmu: Mental Out.”
Esper Level 5 peringkat 5 Academy City.
Kekuatan psikologis terhebat: Mental Out.
Kamijou pernah mendengar soal itu. Tapi hanya sebatas rumor.
Jika memang itu jati dirinya…
Seandainya legenda itu kini berdiri di hadapan Kamijou dalam wujud fisik…
Mulut Kamijou terasa sangat kering. Tidak, apakah hanya lengket karena darah yang mengering?
Entah bagaimana, Kamijou berhasil mengucapkan kata-kata.
“Kalau… begitu…”
“Apa kau ingin melupakan semuanya dan meninggalkan pertarungan?”
“…Kumohon. Aku tak peduli jika ini hanya semu, tolong lakukan sesuatu untuk mengatasi rasa sakit ini. Jika kau melakukannya, maka aku bisa menghadapi Coronzon…”
“Sekarang aku benar-benar ingin membuatmu melupakan semuanya dan meninggalkan pertarungan ini.”
Gadis itu terdengar kesal.
Dan gadis itu menatap Kamijou dengan cukup serius.
Tapi gadis berambut pirang madu itu memeluk kepala Kamijou ke dadanya dan tersenyum dengan cara yang seolah mengatakan kalau dia tidak mengharapkan hal lain.
Percakapan berlanjut dengan lancar.
Gadis itu tampak mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil. Dan ada apa dengan remot TV itu?
“Mental Out adalah kekuatan psikologis. Ia dapat menghapus rasa sakit, tapi tidak memiliki kemampuan penyembuhan untuk luka fisik. Lebih tepatnya, tubuhmu terus mengirimkan sinyal rasa sakit yang hebat, tapi pikiranmu tidak dapat merasakannya. Organ-organmu akan tetap mengeluarkan hormon yang berbeda sebagai respons terhadap luka, sehingga organ-organ tersebut dapat lelah dan rusak. Apa kau masih mau melakukannya?”
“Ya…”
“Jangan menyentuh kepalamu setelah ini, ya?”
“Terima kasih.”
Waktu seakan berhenti sesaat.
Ekspresi wajah gadis berambut pirang madu itu menunjukkan bahwa sepanjang hidupnya yang panjang, dia tidak pernah menyangka akan mendengar kata itu ditujukan kepadanya.
“Menyelamatkan dunia bukanlah gayaku.”
Bocah itu tidak menatap wajah si gadis.
Matanya tertuju lurus ke depan, ke arah tujuan yang telah dipilihnya.
“Ini akan jadi yang terakhir kalinya kota tempatmu tinggal dihancurkan. Aku tidak tahu apa yang kau sayangi, tapi jika itu ada di kota ini, maka kupastikan itu akan aman. Aku akan melindungi semuanya.”
“Dasar bodoh.”
Kamijou Touma mulai berlari.
Tanpa menoleh ke belakang.
Dengan begitu, Kamijou bisa menyelesaikan masalahnya dengan Iblis Agung Coronzon sekali dan untuk selamanya.
Bagian 23
Kamijou berada di Distrik 17.
Itu adalah distrik paling barat di Academy City. Daerah itu merupakan kawasan industri dan cerobong asap dari berbagai pabrik tanpa awak terus mengeluarkan asap yang telah dibersihkan secara menyeluruh dari polutan sehingga menjadi "lebih bersih daripada AC berjamur dan berdebu di rumahmu".
Distrik tersebut juga berbatasan dengan tembok kota.
Setelah mewati tembok kota, kita akan menemukan hutan dan pegunungan yang luas. Seluruh area tersebut tertutup oleh hamparan hijau yang membentang lebih dari 10 kilometer, sehingga satelit dan drone tidak akan dapat menemukan buronan di sana.
Kamijou Touma tahu bahwa kondisi tubuhnya sedang buruk.
Tapi dia cukup yakin hal yang sama berlaku untuk sosok yang tidak stabil yang ada di sana.
Kamijou telah menemukannya.
Yang dia cari ada di situ.
Malam ini ada banyak hal yang terjadi. Pada kenyataannya, upaya dan tindakan banyak orang mungkin saling terkait, lebih rumit daripada yang disadari Kamijou.
Tapi justru itu sebabnya Kamijou bisa tiba tepat waktu untuk momen terakhir ini.
Yang dia cari masih berada di dalam tembok kota.
“Coronzon…”
Saat Kamijou memanggil nama itu, sosok yang dipanggil pun bergetar. Sosok itu bisa mendengarnya. Kamijou mendekat sampai suara fisiknya bisa terdengar oleh sosok itu. Jika dia tidak segera menghentikannya, dia yakin sosok itu akan melarikan diri ke dunia luar.
Dia tidak boleh membiarkan itu terjadi.
Maka Kamijou Touma kembali berseru.
“Iblis Agung Coronzon.”
Perlahan-lahan.
Sosok itu berbalik.
Tubuhnya yang mengenakan pakaian krem tampak berdiri miring.
Kamijou bisa mencium bau darah… Rambut pirangnya yang panjang dan lebat tampak berantakan. Sosok itu memegangi kepala dengan satu tangan dan berusaha keras untuk tetap tegak sambil menatap Kamijou dengan tajam.
Dengan mata yang sangat merah.
“Kami…jou… Touma.”
Itu bukan amarah?
Ada sesuatu yang janggal. Coronzon dengan sombongnya memberontak melawan surga, tapi sekarang dia malah menyusut seolah takut akan sesuatu. Dia tampak seperti buronan yang sudah kehabisan akal.
“Apa kau benar-benar berpikir bisa mengalahkanku? Pernahkah kau meraih kemenangan melawanku dengan berpegang teguh pada tekadmu sendiri sampai akhir?! Mungkin kau mengira kau telah memojokkanku, tapi kaulah yang akan dihancurkan. Sesali kesialanmu karena bertemu denganku di sini, Kamijou Touma!!”
Itu mungkin benar.
Tapi Kamijou Touma tidak sedang menatap Iblis Agung Coronzon.
Dia sedang fokus pada hal lain.
Betapapun Kamijou mencoba menyamarkannya dengan kata-katanya, mengalahkan Coronzon juga berarti menyerang Aleister.
Aleister gagal menahan Coronzon. Aleister tidak bisa menahannya lebih lama lagi.
Lalu apa yang Aleister harapkan? Mengalahkan makhluk yang pernah menghancurkan keluarganya? Agar Bayi Lilith yang masih hidup bisa tetap berada di dunia ini?
Apa pun alasannya, idealisme hanya akan memusnahkan harapan Aleister. Kekuatan untuk menghancurkan ilusi tidak dapat menyelamatkannya.
Jadi Kamijou harus berpikir. Apa yang bisa dia lakukan di sini?
Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
“Hei, bisakah aku mengandalkanmu?”
Kamijou mesti menghentikan Coronzon.
Kamijou tidak boleh membiarkan kesempatan ini terlewatkan.
Jadi.
“Ayo kita menangkan ini bersama-sama, Aleister.”
Tidak terdengar ucapan yang jelas darinya.
Tapi…
Deg!!
Suara detak jantung yang sangat tidak wajar terdengar hingga ke dunia luar.
Kamijou menganggap itu sebagai jawaban.
Yang artinya, “Serang aku bersamanya.”
Coronzon membungkuk kesakitan.
Coronzon mungkin sedang batuk darah sambil menutupi mulutnya dengan tangan.
…Mereka tidak perlu bertukar banyak kata. Sebenarnya belum lama sejak pertama kali mereka bertemu secara langsung, tapi Kamijou merasakan ikatan yang melampaui kebutuhan akan kata-kata dengan Aleister.
Itulah ikatan yang gagal dipatahkan oleh Coronzon.
Dan itu adalah ikatan yang akan segera diputus oleh Kamijou sendiri.
Tidak peduli apa pun alasannya.
Bagian 24
Anak lelaki itu mengepalkan tinju kanannya semakin erat.
Di Ambang Kematian
Battle_With_ARCHENEMY.
Bagian 1
Pabrik-pabrik di Distrik 17 mengelilingi mereka.
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Jika bukan bulan Januari, matahari mungkin sudah terbit.
Ada sebuah garis yang jauh lebih jelas dan lebih berbahaya daripada cakrawala atau garis langit itu sendiri.
Yakni tembok Academy City.
Nasib dunia akan ditentukan oleh apakah iblis besar itu berhasil melewati tembok tersebut atau tidak.
Tapi, baik Kamijou Touma maupun Coronzon bahkan tidak melirik ke arahnya.
Mereka tahu ancaman terbesar saat ini berada tepat di depan mereka.
Coronzon memulai lebih dulu.
“Ra-Hoor-Khuit. Penguasa cakrawala timur…”
“Hoor-Paar-Kraat. Penguasa cakrawala barat…”
“Dan selatan adalah arah Set. Timur dan barat telah disegel. Dunia sekarang menjadi garis lurus. Tertusuklah oleh cahaya menyilaukan yang menusuk dunia dari tangan selatanku dan matilah, wahai manusia!!”
Cahaya putih yang menakutkan terkompresi sebelum melesat keluar, membakar udara saat melesat.
Dan disusul oleh beberapa cahaya putih yang lain.
“!!”
Kena satu serangan saja bisa memotongnya hingga habis tak tersisa. Kamijou bisa benar-benar hancur.
Tapi, Kamijou tidak menerima serangan cahaya itu dengan tinju kanannya. Dia mengayunkan seluruh tubuhnya ke samping untuk menghindar.
Serangan Coronzon sungguh luar biasa.
Bahkan dengan Imagine Breaker, upaya ceroboh untuk menghentikan serangan-serangan itu akan membuat lengannya berputar bersama seluruh tubuhnya, dan membuatnya terlempar jauh.
Kekuatan tangan kanannya sudah tidak berguna lagi.
Tapi, Kamijou Touma tidak bertarung karena dia yakin bisa menang.
Dia tahu betul betapa besar kerugian yang dia alami.
Tapi ada alasan mengapa dia tidak bisa membiarkan ini berlanjut, jadi dia tetap berjuang.
Tubuhnya… bergerak.
Dia tidak ingat lagi seperti apa rupa orangnya, tapi seseorang telah melakukan sesuatu untuk membantunya dan sekarang dia bisa mengatasi luka-lukanya untuk bertarung.
(Jika aku bisa bergerak seperti ini, jika aku memiliki kecepatan yang cukup untuk menghindari serangannya, maka aku bisa mencapainya. Setiap langkah yang kuambil dan setiap sentimeter yang kugerakkan membawa tinjuku semakin dekat pada Coronzon!!)
“Ha ha!! Jadi serangan pertama tidak membuatmu mati?! Kau benar-benar sudah tumbuh!! Kukira kau akan berguling-guling di tanah kotor setelah melontarkan omong kosong seperti biasanya!”
Ini bukan sekadar soal kekuatan fisik.
Coronzon merusak ikatan antarmanusia dan menghambat kemajuan mereka. Tapi dunia masih membutuhkannya. Dia membenci dirinya sendiri, jadi dia ingin menghancurkan kerangka itu dan menciptakan dunia yang adil dan tanpa diskriminasi, tanpa konflik.
Kamijou tahu bahwa Coronzon berpikiran sempit, tapi sebagian dari dirinya tidak bisa langsung membantah apa yang dikatakan Coronzon. Itu sebabnya Kamijou kalah dalam pertarungan sebelumnya. Kalah tak berdaya.
Bagaimana dengan sekarang?
Bisakah Kamijou mengatakan bahwa Coronzon sudah salah tepat di depan wajahnya?
Kamijou bertanya pada dirinya sendiri.
Dan Kamijou menatap ke depan dengan penuh tekad. Ke arah Iblis Agung yang mencoba menghancurkan dunia dengan bertindak melampaui batas. Ke arah sosok yang tidak bisa menerima dunia di mana seseorang sejahat dirinya diizinkan untuk ada.
Jika Kamijou tidak mampu melakukannya, ini akan menjadi pengulangan dari pertempuran Adikalika sebelumnya.
Kamijou akan kalah dalam pertarungan psikologis, membeku di tempat, dan mengalami cedera serius hanya karena berdiri di sana.
“Aku tidak yakin aku mengerti semua hal membingungkan tentang Sephiroth dan kau sebagai Iblis Agung… tapi intinya kau ingin menciptakan dunia yang adil, kan? Itu sebabnya kau bertarung?”
“Ya. Benar sekali! Aku akan menciptakan dunia yang murni tanpa peran menjijikkan seperti peranku yang mencerai-beraikan orang-orang!! Dunia selanjutnya akan menjadi dunia kebebasan, keadilan, dan kebahagiaan, yang hanya berisi hal-hal yang adil. Aku akan menciptakan era di mana tidak ada yang menderita atau terpecah belah. Dan aku akan melakukan apa saja untuk mencapainya!!”
“…Begitu ya. Tapi menurutku akan lebih baik kalau dunia ini sedikit menyimpang.”
“?”
“Selama dunia bersikap baik kepada orang-orang, tidak apa-apa kalau sedikit menyimpang. Maksudku, dunia di mana hanya hal-hal yang adil yang terjadi, dan hanya dengan cara yang benar, terdengar menyesakkan. Tidak ada bantalan empuk di dunia seperti itu. Setiap benturan akan mengenaimu secara langsung, seperti memukul beton padat dengan tongkat logam. Itu berarti tidak ada yang pernah membiarkan apa pun lolos begitu saja dan tidak pernah ada bonus kejutan, kan? Orang-orang yang tidak adil harus hancur dan tidak pernah mendapatkan kesempatan kedua. Tidak, orang-orang yang tidak adil bahkan tidak akan pernah ada sejak awal. …Ya, itu memang akan menyesakkan. Aku tidak ingin hidup di dunia yang adil di mana mengatakan hal yang salah tidak hanya membuatmu dikritik tapi juga dieksekusi.”
“Apa yang kau bicarakan?”
“Maksudku, dunia idealmu di mana semuanya tertata rapi dan semuanya bisa dijelaskan, kedengarannya tidak terlalu menyenangkan. Dunia idealmu tidak memberi ruang untuk harapan dan ketidakpastian. Ini seperti memiliki banyak pilihan, tapi kau tahu ke mana pilihan itu akan mengarah sebelum kau membuatnya. Dalam kasus terburuk, bahkan tidak ada pilihan 'salah' sama sekali. Kalau begitu, apa pun yang kau pilih, jalan yang kau tempuh dari lahir hingga mati akan mengarah ke akhir yang sama. Itu akan menjadi kehidupan yang membosankan dengan menekan tombol yang sama berulang kali.”
Wajah Coronzon memerah.
“Alasan macam apa itu?! Kau bahkan tidak bisa mendapatkan manfaat dari perbuatan baikmu di dunia yang tidak sempurna ini. Semuanya akan hancur pada suatu saat nanti. Apa kau mau bilang kalau kau akan menerima perbuatan buruk?!”
“Ada sesuatu yang membuatku bertanya-tanya saat melihat Qliphah Puzzle 545 dan Bologna Succubus. Mengapa iblis mencoba memenuhi keinginan manusia? Apakah untuk menyeret manusia ke dalam kehancuran. Tanpa membunuh mereka secara fisik? Jika memang begitu, maka pasti ada cara yang lebih baik, seperti menggunakan hipnosis atau ilusi untuk mengadu domba manusia. Tapi semua iblis meminjamkan kekuatan mereka kepada manusia dan mengambil kehancuran manusia sebagai imbalannya. Dan mereka bahkan melakukannya dengan jenis keinginan yang tidak akan pernah dikabulkan oleh malaikat, yang bahkan keinginan yang enggan untuk diceritakan kepada orang lain. Bukankah itu berarti bahwa kalian, para iblis mirip seperti bantalan untuk menangkap orang-orang yang tergelincir dan tidak dapat pulih melalui metode normal? Apa pun alasan penciptaan awal kalian, mungkin saja ujungnya kalian bisa berfungsi seperti itu.”
Tentu saja, orang-orang itu pada akhirnya akan hancur. Kita tidak bisa mengandalkan iblis dan lolos begitu saja tanpa hukuman.
Tapi kita memiliki kebebasan untuk memilih: mati tanpa bisa berkata apa-apa, atau pergi ke neraka dengan puas karena telah membuat pilihan sendiri.
“Jangan bercanda, Kamijou Touma. Jangan bertingkah seolah kau tahu apa yang kau bicarakan setelah baru hidup sekitar 15 tahun! Aku ada untuk menghancurkan umat manusia! Tuhan tahu aku akan memberontak, tapi Dia tidak melakukan apa-apa untuk menghentikanku!! Kejatuhanku sudah direncanakan. Bantalan empuk untuk menangkap orang-orang yang tergelincir? Aku tidak memiliki fungsi semacam itu, bahkan mengharapkannya saja sudah merupakan dosa!!”
Kamijou tersenyum kecil.
Dia bukanlah Hamazura Shiage. Kamijou Touma tidak setuju dengan Iblis Agung Coronzon. Tapi, dia merasa sedikit lebih memahami mengapa Hamazura mengkhawatirkan Coronzon dan memutuskan untuk bertaruh padanya. Meskipun hanya sedikit.
Hamazura tidak ingin Coronzon ditinggal sendirian karena perannya sebagai Iblis Agung.
Coronzon adalah perwujudan dari kejahatan, tapi dia tidak akan menyebut dirinya baik. Hamazura mungkin telah melihat kelemahan dalam diri Coronzon yang mencegah dia mencapai jawaban tersebut.
“Sepertinya argumenku sudah menusukmu. Kukira kalian para iblis pandai dalam hal-hal yang berbau tipu daya seperti ini.”
“Kh.”
“Kau itu iblis, kan? Tapi apa kau benar-benar ingin mengalahkan surga?”
Coronzon sendiri baru saja mengatakan bahwa merupakan "dosa" jika dia berharap memiliki fungsi tersebut.
Coronzon terus mengatakan bahwa dia akan menentang Tuhan, menghancurkan dunia, dan menghapus semua kesalahan masa lalu, tapi dia tetap memahami beban aturan yang berlaku. Dia terus mengatakan bahwa dia membenci aturan-aturan itu, tapi dia selalu membencinya. Hampir seperti sikap anak remaja di fase memberontak terhadap orang tuanya.
Dengan kata lain…
“Tidak peduli seberapa besar kebencian, permusuhan, dan kutukanmu terhadapNya, kau tetap membayangkanNya sebagai penguasa dunia selanjutnya, bukan? Kau tidak bisa menolak gagasan dan keberadaan Tuhan yang baik.”
“Jangan coba mengulikku, manusia. Aku adalah makhluk jahat yang tak bisa diperbaiki, tapi ada satu hal yang kutahu: tuduhan tanpa dasar adalah dosa yang pantas dihukum matiiiiiiii!!!”
Deru angin yang membelah udara melintas di atas kepala Kamijou.
Sekelompok orang melesat cepat di langit malam di atas.
Mereka adalah para Transenden seperti Bologna Succubus dan Aradia.
Beberapa lampu berkedip. Lampu yang berwarna-warni.
“Haduh. Apa kau sudah lupa siapa yang menjatuhkanmu dari tembok kota?!”
“Alice!! Jika kau ingin menyelamatkan Kamijou Touma, maka bersiaplah. Kami akan menyiapkan medannya terlebih dulu dan memvisualisasikan seberapa besar kerusakan sihir yang mungkin terjadi. Lalu kau bisa melancarkan seranganmu, jadi kau tidak perlu khawatir anak lelaki itu akan terkena ledakan! Hari ini bukan hari untuk bermain-main, egois, atau marah-marah! Hari ini adalah hari di mana kau harus serius!!”
Menyiapkan medan.
Setiap cahaya yang berkelap-kelip di langit malam pastilah merupakan serangan mematikan. Setiap sinar akan segera menusuk tanah. Itu akan menjadi hujan kehancuran. Meskipun para Transenden hanya meminjam penampilan para dewa, tapi ketepatan mereka sangat tinggi sehingga hasil yang mereka hasilkan tidak kalah dahsyatnya dengan para dewa dalam mitologi.
Ekspresi wajah Coronzon langsung hilang.
Lalu terkekeh.
Menurut Kamijou, sepertinya Coronzon tidak menikmati ini. Itu adalah tatapan seseorang yang baru saja disiram air dingin.
“Akulah Iblis Agung yang bersembunyi di Jurang Sephiroth dan menghalangi umat manusia mencapai kebijaksanaan.”
Bahu Kamijou bergetar.
Ini buruk.
Kamijou merasakan semacam perubahan tak kasat mata di udara. Dia tahu kalau itu bukan sesuatu yang ilmiah, tapi Coronzon memang berada di puncak ketidakilmiahan.
Kehadirannya semakin terasa.
“Oleh karena itu, sihir semacam ini paling cocok untukku. …Dakshina Kalika.”
Kemudian terjadi ledakan putih.
Yang terbuat dari es.
Sebuah titik di langit tiba-tiba membeku secara tidak wajar. Sebelum Kamijou sempat mengidentifikasinya sebagai bola es sehalus bola kristal, titik itu meledak dari dalam, menyebarkan pecahan tajam ke segala arah. Massa seukuran bola sepak berubah menjadi puluhan ribu pecahan. Dengan kekuatan yang cukup untuk merobek dan merobohkan cerobong asap pabrik dan tungku peleburan.
Dom dom dom dom dom dom dwom dwom dwom!!!
Tidak peduli berapa banyak pancaran cahaya warna-warni yang diluncurkan oleh Aradia, Bologna Succubus, dan para Transenden terbang lainnya. Setiap ledakan sihir kuat mereka akan berakibat fatal buat Kamijou... tapi tidak satu pun yang berhasil menembus pertahanan Coronzon. Kamijou mengira kalau serangan itu seperti hujan deras, namun semuanya dicegat sebelum sempat mencapai Coronzon. Bahkan tak ada satu pun tetesan hujan bercahaya yang jatuh dari langit yang berhasil menembus pertahanan Coronzon. Alih-alih mengenai setiap tetesan secara akurat, serangan itu lebih seperti menyelimuti seluruh area dengan ledakan kecil. Ketepatannya sempurna. Itu benar-benar sebuah dinding. Dinding es yang tak tertembus.
Coronzon sempoyongan. Darah menetes dari mulutnya. Sebagai ganjaran atas kekuatan besar ini, sesuatu terkikis dari dalam dirinya.
Kamijou tahu dia bisa mengakhiri ini, tapi Kamijou malah berteriak keras.
“Tunggu! Kanzaki bilang kau menyelamatkan seorang gadis dari pria berengsek di tengah pelarianmu. Kalau begitu, kau pasti punya beberapa—”
“Ya, itu benar! Ha ha ha. Tuhan pasti sangat membenciku. Aku tidak tahu apakah Dia menanamkannya dalam diriku sejak awal atau apakah Dia ikut campur dari jauh, tapi Dia tetap membuatku melakukan hal yang tak seharusnya aku lakukan!”
“Tidak, jangan konyol, bukan itu yang terjadi! Tuhan tidak mengendalikanmu! Sejak awal kau sudah mampu melakukannya.”
Beberapa bola es lainnya meledak.
Teriakan Kamijou tidak sampai ke Coronzon.
Tepat sekali, seolah-olah seseorang telah mengaturnya seperti itu.
Dan semua serangan yang jatuh dari langit malam ditembak jatuh sebelum mencapai Coronzon. Cahaya dan ledakan menari-nari liar.
Ledakan.
Tanpa akhir.
Dan, yang terpenting, dengan keakuratan yang sangat tinggi.
Intersep, tembak jatuh, halangi. Coronzon memakai makna keberadaannya secara total dan menyeringai. Bahkan saat matanya berkedip dan darah merah menetes dari sudut mulutnya.
Coronzon bahkan tidak melihat ke arah para Transenden. Dia hanya memikirkan bagaimana dia akan menggunakan ini untuk menyiksa, menghancurkan, dan membunuh anak lelaki yang tak berdaya itu.
Hanya dia seorang yang mesti Coronzon bunuh.
Kamijou merasakan sesuatu yang lain bergejolak di balik senyum jahat Coronzon.
“Uhuk… apa lagi yang mau kau lakukan, Kamijou Touma? Aku punya lebih dari satu kartu as. Aku bisa menghancurkan dunia manusia dengan begitu banyak cara selain Adikalika. Seperti yang sudah kujelaskan berkali-kali! Tapi aku tidak ingat pernah mengatakan aku tidak bisa mendatangkan kehancuran dari dalam Academy City untuk kedua kalinya!”
Coronzon bisa meledakkan diri dan menembakkan hujan proyektil dengan akurasi sempurna. Apa yang akan terjadi jika dia melakukan itu untuk menyerang Kamijou yang berada di permukaan? Mungkin Kamijou bisa menghentikan satu atau dua proyektil dengan Imagine Breaker, tapi dia tidak akan mampu mengimbangi begitu banyak serangan. Lalu haruskah Kamijou melarikan diri? Memang dia bisa lolos hanya dengan kedua kaki manusianya?!
Jarak yang menurut Kamijo telah menyusut.
Dan keyakinannya bahwa tinju kanannya dapat mengenai Coronzon, kini malah semakin melebar.
“Aku bisa menembak jatuh objek yang terbang hingga kecepatan 9 Mach dengan akurat, baik yang datang dari depan maupun belakang. Ini adalah penghalang 360 derajat. Para Transenden? Para aktor Sandiwara sekolah palsu yang berpakaian seperti dewa?! Ha ha ha!! Jumlah yang banyak tidak berarti apa-apa bagi Iblis Agung!!”
“Berengsek!!”
“Datanglah, Alice Anotherbible!! Hanya kaulah yang mungkin bisa menembus gempuran Dakshina Kalika dengan paksa. Tapi aku tidak takut padamu! Aku ahli dalam membuat orang menyerah. Itulah maknaku sebagai Iblis Agung. Jadi aku akan menghadapimu secara langsung sambil melemahkanmu dan menghancurkan setiap bagian terakhir dari semangatmu!! Jika kau tidak bertindak sekarang, aku akan mengubah senseimu yang berharga menjadi daging cincang!!!”
Coronzon harusnya tahu ancaman yang ditimbulkan Alice.
Tapi, Coronzon justru memprovokasi dan mengusik Alice demi kesenangannya sendiri.
Coronzon terlalu kuat. Kamijou tidak mungkin bisa menyerang. Jika Coronzon berjalan ke arahnya, maka dia bisa hancur. Terlepas apakah dia sudah menyiapkan tinjunya atau belum.
Kamijou mundur, terdesak oleh rentetan ledakan es.
“Jangan bercanda?! Apa kau pikir taktik brutal seperti ini cukup untuk membuat Transenden menyerah?! Kami hanya perlu menembus batas 9 Mach!!” kata Bologna Succubus.
“Ha ha!! Seorang figuran tanpa nama baru saja mengatakan sesuatu yang konyol. Menembus batas 9 Mach hanya agar kalian bisa mendekatku. Bahkan jika kalian memaksa terbang lurus sampai tak terkendali dan mencapaiku, aku akan langsung membalas kalian dengan serangan balik. Aku punya lebih dari satu kartu as, dasar badut-badut bodoh!!”
Cahaya berkedip dan ledakan menggelegar.
Kamijou terjun ke pabrik tak berawak di dekatnya sambil mendengar teriakan marah para Transenden. Selamat saja sudah merupakan keajaiban. Ya, tanpa para Transenden yang memberinya kesempatan, dia pasti sudah hancur berkeping-keping setelah mengambil langkah pertama. Manusia biasa tidak bisa menyerang, bertahan, atau bahkan bergerak bebas melawan Coronzon. Bahkan gerakan supersonik dari Saint seperti Kanzaki pun masih tidak cukup. Coronzon memang terlalu monster!
“Tapi pabrik jenis apa ini?”
Apakah Kamijou benar-benar berhasil lolos? Jika ini adalah pabrik yang sangat berbahaya yang ditandai dengan simbol bahaya karena menangani bahan kimia atau mikroba berbahaya, dia lebih memilih untuk tidak mengetahuinya.
Kamijou melihat sekeliling dan menemukan ruang dalam ruangan yang sangat luas seperti gudang pelabuhan atau gimnasium sekolah. Tapi, ruangan itu terasa sempit karena benda di tengahnya. Awalnya, benda itu tampak seperti ikameshi raksasa yang terbuat dari baja abu-abu, tapi ternyata bukan.
|Makanan berupa cumi isi nasi. Gambar>>
Sebuah kapal induk yang terpotong-potong tergeletak di sana.
Bangunan itu ditopang dari bawah oleh pilar-pilar kayu yang tak terhitung jumlahnya dan dikelilingi oleh perancah dan tangga logam.
Bagian belakang keseluruhan kapal itu utuh, tetapi bahkan bagian itu pun terpotong-potong. Penampang melintang menunjukkan bagian dalam kapal, termasuk kabin dan koridor. Kamijou tahu dia sedang melihat sesuatu yang aneh. Tampaknya ada tiga atau empat tingkat di bawah dek datar.
Kamijou mengerutkan kening.
“Mereka sedang membangun kapal? Jadi, apa ini galangan kapal?”
“Dari penampakannya, panjangnya palingan hanya 100 meter saat dirakit, yang mana sangat kecil untuk sebuah kapal induk. Pasti ini adalah kapal induk nirawak yang telah menghilangkan semua kebutuhan untuk awak manusia.”
“Uwah,” seru Kamijou.
Tiba-tiba, Kamijou mendapati Othinus yang setinggi 15 cm di bahunya. Dia merasakan tatapan tajam Othinus. Di tengah kekacauan setelah makhluk LAShTAL raksasa itu merobohkan bangunan, Othinus pasti bersembunyi di dalam jaketnya.
“Kau cukup mengerti aku sehingga aku tak perlu menjelaskan apa yang kulakukan di sini kan, manusia?”
“Oke.”
Sebuah kapal induk nirawak. Academy City terletak di barat Tokyo, jadi tidak berbatasan dengan laut. Tapi kalau dipikir-pikir, bukankah Trensenden Mut Thebes pernah menemukan kapal perang yang dia digunakan sebagai senjata? Karena kapal ini terpotong-potong, mungkin helikopter angkut akan membawanya dengan menggantungnya dengan kawat, sepotong demi sepotong, ke kota pelabuhan pesisir di luar Academy City di mana potongan-potongan tersebut akan dilas menjadi kapal perang utuh. Itu jauh dari metode normal, tapi Academy City bisa melakukannya.
Di bagian samping kapal yang melengkung tajam itu tertulis "Kagenui".
Coronzon dilindungi oleh penghalang berkecepatan 9 Mach. Dan kapal induk nirawak ini sedang menunggu penyelesaian di galangan kapal. ...Haruskah dia mencoba menemukan sesuatu yang bisa dia gunakan, atau terlalu berbahaya bagi seorang amatir untuk menyentuh apa pun di sini? Seorang siswa SMA biasa bahkan tidak bisa membuat penilaian. Dengan Iblis Agung sebagai musuhnya, dia takut akan terpancing ke arah apa yang tampak seperti pilihan terbaik tapi sebenarnya akan merugikannya.
“Jadi, apa yang digunakan Coronzon? Yang dak dak apalah itu?!”
“Dakshina Kalika. Sama seperti Adikalika, itu adalah nama alternatif lain untuk dewi Kali dari India dan simbol alfabet yang digunakan dalam Magick aliran Crowley. Kurasa kau bisa menebak sendiri seberapa tinggi Coronzon menilainya.”
Jadi, itu setara dengan sihir serangan skala besar Adikalika…
Kamijou hampir terhenti karena tercengang.
Meskipun dia tahu bahwa esensi sejati Iblis Agung itu — ya, esensi yang sangat dibenci dan disesali oleh Coronzon — adalah menghancurkan semangat orang, membuat mereka menyerah, membuat mereka gagal, membuat mereka membusuk, dan menjerumuskan mereka ke jurang yang dalam.
Ya, sihir itu sangat ampuh. Mungkin butuh waktu, tapi jika Coronzon berjalan melewati kota atau negara yang ingin dia hancurkan, dia bisa menyebarkan kehancuran tanpa batas dan menghapusnya dari peta. Tak satu pun orang yang dapat menghentikannya kecepatan difensifnya, sehingga semua orang dan segala sesuatu di daerah itu akan musnah oleh ledakan es. Itu adalah sihir difensif mutlak, penghalang berkecepatan 9 Mach. Itu sihir yang simpel, tapi tidak ada yang bisa melawannya!
(Mungkin teleporter bisa melawan balik... Tapi aku ragu itu cukup untuk menang.)
“Yang benar saja? Jika dia bisa melakukan ini, kenapa dia tidak menggunakannya dari awal? Baru beberapa jam yang lalu dia bisa menang dengan mudah jika dia bertahan sampai Adikalika aktif!”
“Mungkin karena itu terlalu kuat. Baik di Skotlandia maupun di sini, dia berada di tengah proses mempersiapkan ritual besar untuk memengaruhi seluruh dunia. Jadi menggunakan serangan besar secara sembarangan akan merusak banyak spiritual item dan ritualnya yang rapuh, jadi dia memilih untuk tidak menggunakannya. Tapi sekarang dia tidak punya apa-apa untuk dilindungi. Pada titik ini, dia tidak punya alasan untuk menyembunyikannya. Dia bisa fokus membunuh musuh di hadapannya dan melarikan diri, sehingga dia dapat lebih mudah mengerahkan kekuatan penuhnya.”
Othinus tiba-tiba berhenti berbicara.
Karena ada suara langkah kaki.
Di kejauhan.
“Kh.”
Kamijou waspada. Mungkinkah itu Alice atau orang lain dari pihaknya? Tidak. Tidak ada desakan pada langkah kakinya, jadi dia ragu kalau ini adalah Transenden yang bergegas masuk setelah menerobos penghalang es. Lebih dari itu, Kamijou Touma tahu betul bahwa kesialannya tidak mungkin mewujudkan keberuntungan yang seperti itu.
Kamijou bersembunyi di balik salah satu dari ratusan pilar kayu yang menopang potongan-potongan kapal induk, yang salah satunya lebih tebal dari tubuh Kamijou.
Rambut pirang keemasan yang sangat panjang.
Pakaian berwarna krem.
Tapi ada sesuatu yang tidak beres.
Ledakan terus berlanjut.
Suara itu berasal dari luar galangan kapal, menembus dinding. Iblis Agung Coronzon sudah melangkah masuk, dan dia menyerang dengan kekuatan dan daya yang sama persis seperti sebelumnya?
“Aku tinggalkan beberapa meriam di sana.”
Coronzon mengatakannya sendiri. Cukup keras sehingga Kamijou bisa mendengarnya bahkan dari jarak sejauh ini.
Dan dengan senyum lebar di wajahnya.
“Memang aku perlu mengirimkan energi sihirku. Meski itu meriam-meriam stasioner, tapi selama aku terus memasok dayanya, maka aku dapat memasangnya sebanyak yang aku mau. Kekuatan, kecepatan, akurasi, dan ketepatannya tidak berbeda dengan yang aku punya. Ini membuat para Transenden terkepung oleh rentetan serangan. Dan jika kau tidak hati-hati dalam mengambil langkah, kau bisa hancur berkeping-keping.”
“(Manusia.)”
“(Ya, aku tahu.)”
Kamijou tidak mempercayai Coronzon.
Analisis Othinus, sebagai pemahamnya mungkin bisa diterima, tapi apakah benar Coronzon dengan sukarela mengungkapkan jurusnya secara akurat padahal tidak ditanya? Itu mustahil. Kamijou harus berasumsi bahwa Coronzon telah menyembunyikan sesuatu, seperti sebenarnya meriam-meriam itu dapat bergerak dengan kecepatan tinggi atau bahwa daya tembak meriam-meriam itu telah diperkuat, lebih dari jika Coronzon yang menembakkannya sendiri.
Coronzon bahkan lebih serius dari sebelumnya.
Tapi, ini adalah tingkat keseriusan seekor hewan yang terluka. Coronzon telah didorong jauh melampaui batas kemampuannya.
Akankah Coronzon berhasil melewati galangan kapal dan lolos dari para Transenden dan kemudian menyeberangi tembok kota dengan selamat?
“Alice Anotherbible dan para Transenden lainnya tidak akan muncul untuk menyelamatkanmu. Toh, mereka tidak begitu penting dalam pertarungan antara kau dan aku. Sekarang, apa masih ada yang perlu disingkirkan? Misalnya, bagaimana dengan Dewa Sihir di pundakmu yang terus membisikkan kebijaksanaan padamu? Biarku hancurkan dia sekarang juga, Kamijou Touma!!”
Coronzon tidak ragu-ragu. Dia mengarahkan telapak tangannya langsung ke arah Kamijou dari posisi yang jauh. Rupanya Persembunyian Kamijou tidak efektif!
“Sialan!!”
Ledakan putih beku tiba-tiba muncul.
Terjadi secara beruntun.
Setiap bagian tipis dari struktur kapal pasti memiliki berat ratusan ton. Semakin banyak pilar kayu yang menopang bebannya patah dan strukturnya miring dengan suara rintihan yang keras. Kamijou tidak punya waktu untuk mempertimbangkan apa yang aman dan apa yang bahaya. Kamijou menunduk di bawah bagian yang tampak siap runtuh kapan saja, lalu menyelam ke sisi lain kapal. Dia ingin menjauh dari Coronzon sejauh mungkin dan mencari perlindungan.
Coronzon memiringkan kepalanya sebagai respons.
…Ya, tidak masuk akal jika Kamijou bisa lolos dengan berjalan kaki. Coronzon sudah mengatakan bahwa sihir itu bisa mengatasi kecepatan hingga 9 Mach.
“Hmm.”
Coronzon lebih memperhatikan sekelilingnya dengan rasa ingin tahu daripada menatap Kamijou.
“Titik sasaran tersebar. Atau lebih tepatnya, akurasiku jelas menurun. Mengapa penargetan otomatisnya gagal? Apa gema tidak terpantul dengan benar di ruang tertutup? Tidak…”
“(Masalahnya terletak pada Telesma yang membentuk Coronzon. Maksudnya, sifatnya sebagai Iblis Agung. Aku tahu aku bukan orang yang tepat untuk bicara setelah direduksi menjadi peri, tapi monster jahat biasanya menghindari perak atau besi. Ya, besi. Dan kuharap aku tidak perlu mengingatkanmu bahwa ini adalah galangan kapal militer. Dia menyebut gema kan tadi? Ya, karena Telesma tidak bergantung pada hukum fisika, memanfaatkan gema lemah Telesma untuk melacak target akan memberikan sensitivitas paling tinggi dalam sejarah. Tapi kekuatan iblisnya yang tidak murni diserap oleh emas dan dipantulkan secara liar oleh perak dan besi. Itu berarti gemanya tidak berguna di sini.)”
Othinus membisikkan semua ini ke telinga Kamijou.
Kamijou tidak bisa mempercayai kata-kata Coronzon, tapi analisis Othinus itu beda cerita.
“(Kau mengatakan sesuatu yang gila barusan? Gema yang tidak bergantung pada hukum fisika?! Apa kau bercanda?!)”
“(Apa kau pikir buku panduan dalam cabal sihir akan menghabiskan banyak halaman untuk fisika? Itu tidak penting sekarang. Berhenti berdebat tentang kemampuan musuh yang sedang tidak berguna, bodoh.)”
Singkatnya, Kamijou bisa mengabaikan penghalang berkecepatan 9 Mach saat berada di dalam galangan kapal. Kamijou bisa mendekati Coronzon.
Kali ini, tinju kanannya bisa mencapai Coronzon.
Bagian 2
Di sebuah ruang kecil yang tercipta dari tumpukan puing-puing.
Luasnya sekitar lima meter persegi.
Ketika orang normal menyalakan lampu ponsel, mereka pasti langsung menyesal. Mungkin lebih baik jika mereka terus di dalam kegelapan. Mereka akan merasakan tekanan yang hebat sehingga mereka bisa saja pingsan.
Index duduk dengan lutut menempel di dada sambil bermain-main dengan kucing belacu di tangannya dan mengeluarkan suara gemetar.
“Aku lapar.”
“Bukannya kau sudah bilang begitu tadi?” Misaka Mikoto terdengar kesal sambil meringkuk kecil di bawah cahaya redup. “Aku memang punya beberapa kue darurat, tapi masalahnya aku tidak punya minuman.”
“Hore!”
“Ngebet banget! Apa kau belum pernah merasakan siksaan mulut kering?!”
Sudah tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan.
Yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu pertolongan.
Mereka hanya bisa berharap agar ketika reruntuhannya digali, yang mereka temui bukan planet yang sudah hancur menjadi puing-puing.
“Aku harap Touma baik-baik saja.”
“Tadi kau suruh dia pergi, sekarang kau menyesal? Dia orang yang mengalahkan esper peringkat 1 Academy City dan menyelamatkan hampir sepuluh ribu adik-adikku. Begitu dia memutuskan untuk melakukan sesuatu, dia akan menyelesaikannya sampai akhir.”
“Setuju. Sudah berapa kali aku menggigitnya gegara melihat orang telanjang, dia memang pantang menyerah.”
“Bener banget. …Hmm? Tunggu, si bodoh itu sampai ngelakuin hal-hal seperti itu?!”
Mereka saling tersenyum kecut.
Kalau dipikir-pikir, mereka tidak banyak mengenal satu sama lain. Mereka memiliki kesamaan yaitu jika menyangkut Kamijou Touma, tapi bisa dikatakan mereka hampir tidak memiliki hubungan langsung.
Berapa lama lagi sampai fajar menyingsing?
Mungkin momen itu tidak akan berlangsung lama.
“…Aku tidak ingin mati.”
Mikoto menyatakan hal yang sudah jelas.
Tapi, ada kalanya hal yang tampak jelas justru memiliki makna yang mendalam.
Seperti ketika puluhan ribu ton puing menekan dari atas.
“Sama.” Index kembali mengangguk di tengah reruntuhan yang mematikan. “Aku memang tidak bisa bersekolah dengan Touma… tapi aku ingin melihat 'semester ketiga' yang dia bicarakan.”
|Semester di sekolah jepang dibagi atas tiga periode: April hingga Juli (semester pertama), akhir Agustus hingga Desember (semester kedua), dan Januari hingga Maret (semester ketiga).
Bagian 3
Keheningan telah menyelimuti tempat itu.
Iblis Agung Coronzon pasti telah berhenti menggunakan Dakshina Kalika di dalam galangan kapal.
Suara dentuman yang teredam itu berasal dari balik dinding tebal. Dari apa yang dia sebut sebagai meriam.
Ancaman terbesar dari sihir itu adalah kemampuan tembakannya yang sangat cepat dan presisinya yang akurat. Di lain sisi, kekuatan penghancur dari setiap serangan individu tidak cukup besar untuk membekukan kaki Kamijou. Tentu saja, serangan langsung dari ledakan tajam sejauh 5 meter itu masih akan menembus setiap bagian tubuh Kamijou dan membunuhnya seketika, tapi hanya itu yang akan terjadi. Itu adalah kehancuran yang benar-benar bisa Kamijou bayangkan, yang tidak seperti Coronzon. Kamijou tidak tahu apakah Iblis Agung itu menyadari bagaimana trik besi itu bekerja, tapi Coronzon pasti telah memutuskan bahwa serangan itu telah kehilangan daya tariknya karena akurasinya berkurang sangat drastis.
…Yang berarti Coronzon tidak bisa mencegat Kamijou sekarang.
Kamijou menggunakan perancah logam dan tangga untuk mencapai dek kapal induk yang terpotong. Anehnya, tidak ada ketapel peluncuran pesawat. Selain itu, dek datar tersebut ditutupi panel persegi berukuran beberapa meter. Mungkin pesawat-pesawat di kapal "Kagenui" ini menggunakan pengoperasian yang berbeda.
Kamijou menendang kotak perkakas berat yang tertinggal di dek. Dek itu setara dengan tiga atau empat lantai di atas lantai galangan kapal, jadi kira-kira sama seperti menjatuhkan sesuatu dari atap sekolah. Tutup kotak perkakas terbuka saat jatuh, memungkinkan kunci inggris, bor listrik, kikir, dan alat-alat lainnya berjatuhan seperti hujan. Dengan Coronzon tepat di bawahnya.
“Hm?”
Terdengar suara aneh setelahnya. Suara meledak-ledak yang terdistorsi, seperti mencambuk udara.
Coronzon menjulurkan rambut pirangnya yang sangat panjang seperti lidah bunglon dan melompat ke dek kapal induk, yang kemungkinan tingginya sampai tiga atau empat lantai.
Membuat Coronzon berada kurang dari 100 sentimeter dari Kamijou.
(Dia masih punya banyak kemampuan baru?!)
“Kh!!”
“Kalau begitu, biarku teriak: Veparrrrrrrrrrrr!!!”
|Vepar: salah satu iblis dalam Ars Goetia
Kamijou harus menekan nalurinya.
Menggunakan Imagine Breaker terlalu berbahaya.
Sebaliknya, dia langsung menurunkan tubuh bagian atasnya.
Sesuatu seperti gelombang kejut tak kasat mata menyembur dari mulut Coronzon yang terbuka lebar. Gelombang itu meleset dari Kamijou dan membengkokkan dek kapal perang mutakhir itu, meskipun kapal itu masih dalam tahap pembangunan. Dan itu belum berakhir. Sesuatu seperti butiran beras putih menggerogotinya. Itu adalah belatung. Panel pelindung itu menjadi gelap dan membusuk sebelum akhirnya meleleh.
“!!”
Akhirnya ada satu yang meleset.
Sekuat apa pun serangan Coronzon, ada juga yang meleset. Ini adalah kesempatan sempurna. Kamijou bergegas masuk dan mengepalkan tinju kanannya, tapi kakinya tenggelam. Lantainya ambruk.
Kamijou terjatuh.
“Gah… aww!!”
Tapi, keadaannya bisa jadi lebih buruk. Dia hanya jatuh satu tingkat. Dia mendarat di kabin tepat di bawahnya. Dia bisa saja meninggal jika dia jatuh sampai ke permukaan tanah.
Deretan meja dan kursi dipasang langsung ke lantai. Apakah itu bagian dari perlengkapan kapal? Sulit untuk dipastikan karena instalasi komputer dan pemasangan kabel yang detail belum dilakukan, tapi di sinilah kapal dioperasikan.
“Apa ini CIC?”
|CIC: Combat Information Center atau Pusat informasi tempur.
Begitu kata Othinus. …Kenapa yang terlintas oleh Kamijou malah "perlengkapan kapal" dan bukan "CIC"?
Tentu saja, Kamijou tidak punya waktu untuk duduk mendengarkan Othinus. Raungan kedua dan ketiga terdengar dari atas. Kali ini tidak ada pembusukan. Pertama, bagian dalam kapal terbakar habis, kedua, kapal itu hancur berkeping-keping seperti batu atau es. Kamijou berguling menjauh dari lubang besar di atas, meninggalkan kabin yang rusak dan memasuki koridor sempit.
“Rank 3” tertulis besar di dinding dan garis-garis merah dan kuning di lantai bercabang mengikuti jalur yang berbeda, tapi Kamijou tidak tahu apa artinya.
Othinus sedang mengatakan sesuatu sambil berpegangan pada pakaian Kamijou.
“Jadi sekarang dia beralih ke Goetia? …Dasar Coronzon sialan. Sok paling beda, padahal aslinya cuma ngikutin tren doang. Seleranya mainstream. Mungkin dia pengen, tapi nggak bisa ngelakuinnya.”
“Goe apa barusan?! Aku mungkin bodoh, tapi aku tahu aku bakal celaka kalau itu kuabaikan!!”
“Setelah R&C Occultics menarik banyak perhatian, aku kira buku itu cukup terkenal sampai-sampai seorang siswi SMP loli gotik pun bisa mengetahuinya… Masyarakat umum memandangnya sebagai grimoire praktis yang memungkinkan kita untuk memanggil banyak iblis hanya dengan satu buku, tapi faksi Crowley menafsirkannya sebagai 'erangan'. mereka tidak menganggapnya sebagai monster yang dipanggil secara fisik, tapi sebagai sihir yang menarik kekuatan tak dikenal dari dalam diri secara sadar lewat atavisme. Ada 72+1. Crowley sendiri konon menggunakan sebagian kekuatan Buer untuk sihir penyembuhan. Aku bilang 'konon' karena itu hanyalah legenda tanpa ada bukti yang jelas.”
|Fenomena kemunculan kembali karakteristik leluhur yang telah lama hilang.
|Entitas iblis dalam demonologi yang mengajarkan filsafat dan penyembuhan.
Jadi, apakah itu adalah sihir yang memberikan berbagai efek khusus pada suara? Seperti jeritan yang melumpuhkan, teriakan yang menusuk, atau lagu penyembuhan?
“Maksudmu sihir itu punya lebih dari 72 pola serangan? Nggak lagi bahas set pensil warna anak orang kaya, kan? Bagaimana aku bisa menghadapi semua variasi itu?”
“Goetia memang merepotkan. Ia memiliki banyak kemampuan dasar dan pengaplikasian yang sangat luas, sehingga sulit untuk menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Jadi, kau perlu membuatnya beralih ke sihir lain, manusia.”
“?”
Othinus pasti sudah menduga kalau Kamijou akan mengerutkan kening. Kamijou senang bisa melewati banyak masalah menjengkelkan dengan orang yang memahaminya.
“Setiap sihir yang dia gunakan sejauh ini sangatlah dahsyat, tapi dia tidak pernah menggunakan lebih dari satu sihir sekaligus. Dia selalu fokus pada satu sihir dalam satu waktu. Kau melihatnya berdarah, kan? Bahkan bagi Iblis Agung, mempersingkat waktu persiapan ritual berskala besar merupakan beban yang berat. Karena sangat dahsyat, dia mungkin takut akan kehilangan kendali dan malah meledakkan dirinya sendiri. Ada juga halangan dari Aleister yang perlu dipertimbangkan.”
“Artinya?”
“Jika kita berhasil membuatnya memakai sihir yang menguntungkan kita, maka dia akan menciptakan celahnya sendiri. Saat menggunakan sihir tertentu, kita tahu dia tidak bisa mengeluarkan Dakshina Kalika atau Goetia.”
Kesimpulan itu sangat berarti.
Hal itu cukup untuk membuat masa depan Kamijou terlihat sedikit lebih cerah.
“Akan aku ikuti saranmu, tapi sihir apa yang harus Coronzon gunakan agar kita bisa menang?”
“Magick: Flaming_Sword.”
Masa depan pun tenggelam dalam kegelapan.
Bukankah itu serangan paling berbahaya yang pernah Coronzon gunakan terhadap Kamijou selama momen Adikalika?
Serangan proyektil yang sangat cepat dan sangat kuat itu pernah memutar seluruh tubuh Kamijou bersama dengan Imagine Breaker-nya.
Itulah alasan utama kenapa Kamijou takut pada Coronzon.
“Itu kan serangan yang sekali kena langsung mati!”
“Itu benar selama dia masih memiliki tubuh fisik. Tapi saat dia terpisah dari tubuh fisiknya di Skotlandia, Imagine Breaker berhasil melakukannya.”
“Kalau yang sekarang…?”
“Yang sekarang dia memiliki tubuh fisik.”
Ternyata keputusasaannya belum sepenuhnya berakhir. Kini, pemahamnya telah membuktikan secara menyeluruh bahwa Kamijou akan mati seketika.
“Dengar, manusia. Semua sihir Coronzon bisa membunuh dalam sekejap. Tidak ada gunanya kalau sekarang kau merasa takut akan kekuatannya. Dan sekuat apa pun serangannya, kau sudah tahu serangannya. Saat di Skotlandia dan Academy City, kau telah terkena serangan itu dua kali dan selamat. Dan kau berhasil meniadakannya sekali, ketika dia tidak dalam kekuatan penuh. Tubuhmu sudah mempelajari pola dan mementum serangannya, kan? Jangan terlalu banyak dipikirin, serangan Coronzon yang paling menakutkan telah menjadi yang paling mudah kau hindari. Ditambah lagi, Coronzon menganggap pengalaman masa lalu itu sebagai keberhasilan, jadi dia akan menggunakannya jika dia tidak sabar. Terutama sekarang dia bisa menggunakannya dengan kekuatan penuh.”
“…”
Apakah saat inilah Kamijou harus berteriak "Sialnya"?
“Hal terburuk yang mungkin terjadi saat ini adalah jika dia tiba-tiba memunculkan kemampuan baru yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Kau lihat kan tadi dia menggunakan rambutnya untuk menarik diri ke atas kapal induk? Itulah yang harus kau takutkan. Jadi, betapapun berbahayanya, serangan yang sudah diketahui akan jauh lebih aman. Ketika kau sudah tahu serangannya, kau hanya perlu menghindarinya. Simpel. Kau bisa melakukannya kan, manusia?”
“Tidak semudah itu! Kalau memang gampang dihindari, sejak awal kita tidak akan berada dalam masalah!!”
Tapi, memang benar Coronzon akan sangat rentan setelah menggunakan serangan itu. Sama halnya dengan serangan Goetia(?). Jika Kamijou tidak jatuh menembus dek yang lapuk, Kamijou pasti bisa melayangkan pukulan.
“Sekedar mengingatkan, Aku tidak mengatakannya dengan maksud untuk membuatmu menderita. Terus terang, ini adalah pilihan terbaik yang tersisa. Aku bahkan enggan menyebutkan pilihan lain. Apa kau rela memilih jalan yang lebih menyakitkan dan lebih sulit, manusia?”
Apakah maksud Othinus opsi terbaiknya sudah berada di titik terendah?
Iblis Agung Coronzon memang makhluk yang sangat berbahaya.
Kemungkinan, sebagian besar pilihannya akan berujung pada kematian. Pilihan normal akan membunuhnya. Jadi Othinus memberinya pilihan yang tak terbayangkan dan mendorongnya.
“Ugh. Dari mana aku harus mulai?”
“Itu tidak perlu. …Kau bukan malaikat, Dewa Sihir, atau Transenden, tapi dia gagal membunuhmu. Kesabaran Iblis Agung itu pasti sudah menipis. Itu melukai harga dirinya. Satu-satunya yang mengejutkan adalah dia belum mencoba mengandalkan keberhasilan masa lalunya.”
Kamijou merasa aneh kenapa Othinus begitu mendorongnya, tapi rasanya dia hanya menyuruh Kamijou untuk mempersiapkan diri.
Tentu saja Kamijou takut, tapi semua ini akan sia-sia jika dia membiarkan rasa takut itu membimbingnya ke jalan yang salah.
Kamijou mendengar langkah kaki.
Dari dekat, di lantai yang sama. Kamijou menempelkan tubuhnya ke sudut koridor.
“Aku adalah iblis, tapi bukan dari Qliphoth tempat berkumpulnya kekuatan jahat. Aku adalah Iblis Agung yang tersembunyi di balik Sephiroth suci. Aku berdiam di jurang yang sama dengan Da'at.”
Kamijou mendengar sebuah suara.
Dengan nada yang terlalu menyeramkan untuk disebut suara senandung.
“Setiap angka adalah sama. Tangan kananku berisi Nuit Kebangkitan. Saksikan bagaimana kemungkinan-kemungkinan meluas dan melampaui batas-batas yang terbatas. Tangan kiriku berisi Hadit Pembalasan.”
Kamijou mengenali frasa ini. Ini adalah mantra yang diucapkan Coronzon sebelum menggunakan Magick: Flaming_Sword. Coronzon benar-benar kehabisan kesabaran. Adikalika telah dihentikan, dia telah mencoba melarikan diri dari Academy City, dan tidak dapat melewati tembok kota. Jika dipikir-pikir, dia telah mengalami kegagalan demi kegagalan. Dia pasti merasakan nasib buruk, atau arus tak terlihat yang pahit. Masuk akal jika dia ingin mengandalkan keberhasilan masa lalu untuk membebaskan diri.
Jika Coronzon fokus pada mantra itu, dia pasti telah mengganti jenis sihir yang dia gunakan.
Goetia tidak akan datang. Kamijou juga tidak perlu takut dengan Dakshina Kalika.
Kamijou menempelkan tubuhnya ke dinding dan menunggu.
Tiga langkah.
Dua langkah.
Satu langkah.
Kamijou menguatkan tekadnya dan bergegas keluar dari balik sudut.
Coronzon ada di sana. Kamijou bahkan tidak perlu membiarkan iblis itu mengeluarkan sihir apinya. Tinju miliknya saja sudah cukup untuk menjangkau sang iblis!!
Dan bibir Coronzon pun berbisik.
“Serang dia, Dakshina Kalika.”
Jantung Kamijou membeku.
Tapi, anak lelaki malang itu bisa saja menuding Coronzon curang atau bertindak semaunya. Itu tidak akan membuat kenyataan menjadi kurang kejam.
“Ohhhhhhhhh?!”
Kamijou berteriak, berputar, dan — karena menggunakan Imagine Breaker akan lebih membahayakan — menjatuhkan diri ke lantai untuk menghindari serangan yang bertubi-tubi.
Atau setidaknya begitu niatnya. Tapi kenyataannya, dia merasakan panas yang menyengat di sisi kanan tubuhnya. Sekumpulan es meledak di sampaing kapal induk yang teriris. Es itu hancur berkeping-keping dan menyebarkan serpihan es yang tak terhitung jumlahnya dengan kecepatan lebih cepat dari kecepatan peluru. Serpihan-serpihan itu dengan mudah menembus lapisan pelindung kapal dan salah satunya merobek sisi tubuh anak lelaki tersebut.
Kamijou berputar di udara.
Saat gravitasi luput darinya, dia mendapati sesuatu yang mengerikan. Kapal induknya terbelah menjadi beberapa bagian. Dan dia telah terbang melewati bagian yang terbelah itu. Dia terbang melewati jurang setinggi tiga lantai menuju dasar galangan kapal dan mencapai bagian yang terbelah berikutnya.
“Gah!!”
Othinus… telah salah?
Tidak, itu tidak mungkin.
Mungkin Coronzon memang hanya bisa menggunakan satu sihir dalam satu waktu. Tapi dia bisa mengatasi masalah itu dengan menciptakan sela waktu. Dan Coronzon sendiri sudah memberikan beberapa informasi yang samar sebelumnya.
Meriam.
Jika Coronzon memasang meriam-meriam stasioner (yang mungkin sebenarnya bisa bergerak) di sana-sini di dalam galangan kapal, maka Coronzon bisa bebas beraksi. Dengan menggunakan sihir keduanya terlebih dahulu, dia bisa menjebak Kamijou dalam baku tembak. Diskusi strategi dengan Othinus memang diperlukan, tapi itu juga memberi Coronzon banyak kebebasan!!
Penurunan akurasi tak lagi menjadi masalah. Jika rentetan tembakan disebarkan ke area yang cukup luas, tembakan tersebut masih bisa mengenai sasaran.
Kamijou melintasi area yang luas. Terletak tepat di bawah dek datar, kemungkinan itu adalah hanggar perawatan tempat banyak drone menunggu dalam keadaan siaga. ...Tapi, lebar ruangan itu hanya seluas ruang kelas dan tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Selain itu, Coronzon juga sedang bersenandung. Coronzon sedang mempersiapkan apa lagi di tengah-tengah baku tembak ini?
Bukankah itu serangan yang bisa membunuh dalam sekali serang?
“Magick: Flaming_Sword. Wujudkan dirimu melalui turunnya Sephirah dan mandikan dia dalam kekuatanmu.”
Bagian 4
Dwaaar!!!
Sebuah kekuatan yang bahkan lebih brutal daripada petir menembus tubuh Kamijou Touma.
Ini bukanlah kesialan yang datang tiba-tiba. Ini adalah sesuatu yang jelas.
Setelah semua kerja keras dan perjuangannya, apakah Kamijou gagal mengatasi serangan dahsyat yang dilancarkan saat Coronzon masih memiliki tubuh fisik?
“…Hmph.”
(Dia tidak hancur berkeping-keping. Apa dia menggunakan Imagine Breaker di detik-detik terakhir? Upaya yang gagah berani meskipun dia tahu itu tetap akan gagal dan membunuhnya.)
Bagaimanapun, pertempuran telah berakhir.
Kamijou masih bernapas, tapi dia terbaring di lantai dengan posisi tubuh yang terpelintir. Sangat mudah menghabisinya sekarang. Othinus yang setinggi 15 cm itu meneriakkan sesuatu kepada anak lelaki itu dan menatap Coronzon dengan tajam, tapi itu pun tidak ada gunanya. Othinus tidak bisa berbuat apa-apa.
Pengetahuan sihirnya mungkin berguna dalam pertempuran, tapi dia bukanlah perpustakaan grimoire. Dewa Sihir yang telah jatuh dari kemuliaannya itu tidak bisa menggunakan Sihir Intersep yang najis itu.
“Mungkin bukan kau yang seharusnya bersamanya, Dewa Sihir.”
Rasa sakit tentu tidak diperlukan dalam kemenangannya.
Tapi sebagai Iblis Agung jiwanya tersiksa.
Saat Coronzon mencibir, mulutnya dipenuhi rasa darah. Darah yang sangat pahit.
“Seharusnya bukan kau yang memberinya pengetahuan sihir. Tapi kau bersikeras untuk mempertahankan tempat itu. Apa hasrat hinamu telah mempengaruhimu? Seandainya Index Librorum Prohibitorum ada di sini bersamanya, mungkin dia bisa melindungi bocah yang sekarat itu!”
“Apa kau pikir dengan ini kau telah mengalahkan dunia? Pertempuran belum berakhir. Berlagaklah semaumu, serangan yang kau banggakan itu gagal membunuh Kamijou Touma. Kau telah gagal. Sama seperti kau telah gagal melarikan diri dari kota ini!”
“Aku bicara soal masalah yang lebih besar dari ini.”
Coronzon memalingkan muka.
Kapal induk nirawak yang terpotong-potong dan galangan kapalnya menciptakan beberapa puing-puing yang menghalangi pandangan, tapi Coronzon tampak sedang menafsirkan bintang-bintang di langit malam.
“Planet ini mungkin akan hancur sendiri tanpa campur tanganku.”
Bagian 5
Sebuah sosok melesat cepat menembus langit malam.
Pesawat itu diberi julukan indah yakni "Swan", dijuluki begitu karena pesawat itu dilapisi cat putih yang merupakan tindakan pertahanan diri untuk menangkis panas saat meluncurkan serangan nuklir. Bahkan yang tidak mengetahui spesifikasi detailnya pun dapat membayangkan berapa banyak bom dan rudal jelajah yang dimuat oleh pesawat pembom strategis tersebut jika mendengar bahwa pesawat sepanjang 55 meter dan berat 275 ton itu hanya memiliki awak empat orang.
|Swan artinya angsa.
Saat ini, ruang penyimpanan bom yang luas itu dipenuhi dengan sesuatu yang bahkan lebih berbahaya.
Hukuman Malaikat Agung.
Lingkaran sihir itu akan segera berefek begitu pesawat pengebom dan pesawat-pesawat di sekitarnya menghantam wilayah Academy City. Lingkaran sihir itu mengganggu sifat dasar malaikat dan iblis, sehingga dapat melukai Iblis Agung melalui kekuatannya yang dahsyat. Semua nyawa dalam radius 50 kilometer — dalam lingkaran yang membentang dari Tokyo barat hingga wilayah Chubu — akan terbunuh, tapi ini masih dalam batas yang dapat diterima.
Selama mereka dapat melenyapkan makhluk non-manusia itu dari muka bumi.
“Hee hee. Aku sudah menunggu sampai detik terakhir, tapi Coronzon masih bertahan. Kalian gagal, Academy City. Begitu pula kalian, Anglikan. Kalian para spesialis manusia sebaiknya tetap mengejar penyihir manusia. Sudah waktunya para spesialis monster membereskan kekacauan ini.”
Setelah mengatakan itu, Vasilisa tersenyum getir.
Pada akhirnya, dia berbicara kepada dirinya sendiri.
Pilot yang duduk di sebelahnya adalah seorang prajurit biasa(?) yang tidak tahu apa-apa tentang sihir, tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena pilot itu sudah dicuci otaknya. Dengan kecepatan lebih dari 2 Mach, Academy City yang berada di Jepang tidak terasa jauh. Terlebih lagi Vasilisa telah memulai perjalanan jauh sebelumnya.
Vasilisa tersenyum pelan.
Dia terkadang bertarung bersama sekte-sekte lain. Karena biasanya melindungi bumi dan umat manusia menjadi kepentingannya bersama.
Tapi tidak untuk kali ini.
Mengingat tujuannya, Annihilatus Gereja Ortodoks Rusia tidak dapat berkompromi.
Dunia ini telah diatur.
Oleh karena itu, makhluk-makhluk non-manusia tidak boleh dibiarkan mengancam nyawa manusia.
Itulah asumsi dasarnya.
Selama mematuhi aturan tersebut, Vasilisa dan rekan-rekannya dapat bekerja sama dengan sekte-sekte lain, tapi jika melanggar, maka sekte-sekte lain itu akan menjadi musuhnya.
Vasilisa enggan melakukan ini. Dia menggunakan pesawat pengebom strategis untuk mengirimkan lingkaran sihir ke Academy City, tapi hanya sebatas itu. Seseorang harus memasok energi sihir untuk mengaktifkannya. Vasilisa tidak akan selamat ketika mereka menabrak taman terbuka dengan kecepatan penuh. Begitu pula mereka yang berada di dalam atau di dekat Academy City. Jika harus mengorbankan hidupnya dan hidup orang lain, tentu saja dia jadi enggan.
Ada begitu banyak orang yang disayanginya, seperti Sasha dan Sang Patriark.
Tapi, dia percaya kalau ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.
Dia melindungi bumi. Melindungi umat manusia. Melindungi keadilan. Melindungi perdamaian.
Dia menggunakan cara-cara manusia untuk melindungi seluruh umat manusia dari ancaman non-manusia.
…Ya, melakukan segala yang diperlukan untuk mengalahkan Iblis Agung Coronzon memang merupakan hal yang benar untuk dilakukan. Siapa di dunia ini yang bisa menolak kegembiraan, godaan, dan kewajiban ini?
(Aku harap Sasha bisa melihat betapa bijaknya pilihanku, setidaknya dalam menjauhkan dia dari masalah ini.)
Kondosi Academy City tidak siap untuk melakukan pertahanan udara.
Malaikat dari pihak sains, Kazakiri Hyouka, adalah satu-satunya penghalang, tapi dia pun tidak bisa bertindak saat ini.
Persyaratan sudah terpenuhi.
Seandainya mereka lebih cermat dan berani dalam membunuh Coronzon, Vasilisa mungkin tidak akan bertindak dan hanya menonton dari kejauhan.
(Yah, seperti pepatah, bagai memancing di air keruh.)
Pemandangan di bawah berubah dari laut menjadi daratan.
Academy City berada tepat di depan.
Alarm aneh berbunyi di dalam pesawat pengebom, tapi berdasarkan drone pengintai yang Vasilisa kirim sebelumnya, Drone pengintai itu tidak ditembaki. Vasilisa tidak tahu kenapa, tetapi tampaknya memang ada aturan yang melarangnya. Jadi, sebuah pesawat pengebom yang mampu membawa senjata nuklir sedang mendekat, tapi dibiarkan begitu saja. Negara itu tidak pernah masuk akal baginya.
Sebuah taman terbuka adalah tempat terbaik untuk mengantarkan lingkaran sihir ke tanah. Vasilisa memberi perintah kepada pilot.
Kemiringan hidung pesawat sepuluh derajat saja sudah memberikan sensasi jatuh yang nyata.
Tidak perlu menurunkan roda pendaratan. Membanting badan pesawat ke tanah dan membiarkan permukaan tanah merobeknya saja sudah cukup.
“Itu mempermudah pekerjaanku. Kalian bisa tenang, orang-orang Jepang. Terimalah bahwa Academy City memang tidak seharusnya berada di sini!!”
Kata-kata Vasilisa berakhir di situ.
Gruuuuuu!!
Getaran hebat mengguncang seluruh pesawat pembom strategis sepanjang 50 meter tersebut.
Bukan karena pesawat itu tertabrak dan rusak, melainkan lintasannya dialihkan secara paksa. Bertentangan dengan tuas kontrol pesawat. Dan karena itu, Pesawat Swan malah melewati Academy City. Pesawat itu melaju pergi dari kota tersebut.
“Apa-apaan ini?!”
Vasilisa memerintahkan si pilot untuk putar balik, tapi tidak bisa karena ukurannya yang besar dan kecepatannya yang tinggi. Radius putarannya terlalu lebar.
Tapi, ini bukanlah ulah malaikat sains.
Sistem pertahanan udara Academy City seharusnya hancur dan hampir mati. Lalu ulah siapa ini?
Vasilisa mendengar sebuah suara.
Pesawat pembom strategis itu adalah pesawat seremonial yang melesat menembus langit malam dengan kecepatan lebih dari 2 Mach. Hal ini seharusnya tidak mungkin terjadi tanpa izin dari Vasilisa, sang pemilik pesawat tersebut.
“Kami bisa saja menembakmu saat kau lagi kebingungan, tapi rasanya tidak enak.”
“Kami ini dewa. Ha ha! Siapa yang bilang kami tidak bisa terbang?!”
“Nephthys dan Niang-Niang…”
Vasilisa menyebut nama-nama mereka dengan linglung sebelum suatu titik terdalam di kepalanya tiba-tiba mendidih.
Dan tersadar.
“Dasar Dewa Sihir sialan!!”
“Oh? Kami tidak akan mengganggu kegiatan Gereja Ortodoks Rusia yang sedang kau kerjakan. Tapi ada dua monster tepat di depanmu sekarang. Dan monster-monster ini berada dalam mode kekuatan penuh, tidak seperti Othinus. Ketimbang menyerang Academy City, Seharusnya kami yang jadi prioritas utamamu sekarang.”
“Ayolah, kau pakarnya menangani makhluk-makhluk non-manusia, kan? Nah, kami adalah Dewa Sihir gila yang tidak ragu-ragu melanggar batas antara hidup dan mati untuk mendapatkan pengetahuan. Jadi, ayo bermain dengan kami, para monster, wahai pakar!!”
Bagian 6
Melihat ke atas dari dalam kapal induk yang terpotong di dalam galangan kapal, Iblis Agung Coronzon sedikit mengerutkan dahi.
Ada yang aneh.
Mengapa pesawat pengebom strategis itu tidak jatuh? Serangan langsung dari pesawat itu tidak akan terlalu membahayakan Coronzon. Dan jika pesawat itu menghancurkan Academy City, itu akan menyebabkan kekacauan yang bisa dia rayakan karena dia ingin melarikan diri dari kota ini. Tapi sayangnya itu tidak terjadi?
“Apa keadaan mulai berubah? Tapi apa penyebabnya?”
(Trik Aleister tidak akan berhasil. Lalu, apa ini ulahMu? Tidak, apa aku terlalu berlebihan dalam menafsirkan ini? Apapun itu, keadaan sekarang sudah berubah, aku tidak punya waktu untuk memikirkannya.)
Setelah berpikir sejenak, Coronzon terdiam.
Seseorang menempelkan tangannya ke dinding bagian dalam kapal. Sambil mengumpulkan tenaga di kakinya, gerakannya goyah, tapi dia tetap mengertakkan giginya. Kamijou Touma kembali berdiri. Sekali lagi.
Ya, Kamijou sedang bergerak.
Kamijou telah terpelintir dan terhempas.
Normalnya, dia seharusnya tidak bisa bergerak sama sekali.
“Syukurlah,” kata Kamijou.
Dia memiliki suara seseorang yang belum menyerah.
“Kepalaku sakit sekali dan jujur saja aku merasa seperti akan mati, tapi syukurlah aku tidak menyentuh kepalaku… Ya, benar. Aku tidak tahu siapa, tapi seseorang telah membantuku. Semua demi momen ini. Sekarang aku tidak perlu khawatir akan pingsan meskipun rasa sakitku sudah sangat parah!!”
Bukankah Othinus sudah bertanya apa yang membuat Coronzon berpikir dia telah mengalahkan dunia?
Berbeda dengan Kamijou Touma, Dewa Sihir yang licik itu tidak akan membuat argumen tanpa dasar yang didasarkan pada emosi. Othinus sudah tahu sejak awal jenis kendali psikologis apa yang telah diterapkan pada Kamijou Touma!
Meskipun begitu.
Sekalipun Kamijou masih bisa bertarung, tapi apa yang mendorong manusia itu sampai bisa sejauh ini?
Akan lebih baik jika dia mati saja.
Orang yang tenggelam akan berpegangan pada apa pun. Rasa sakit dan ketakutan tidak dapat dijinakkan oleh logika. Bahkan jika dia selamat, jika dia berpura-pura mati, dia mungkin tidak perlu menanggung penderitaan lebih lanjut. Mungkin dunia akan hancur setelahnya, tapi dia akan aman untuk saat ini.
“ Bagaimana kau bisa begitu polosnya percaya akan masa depan?”
Coronzon mendapati dirinya melakukan tindakan yang sama sekali tidak terkait dengan kemenangannya.
Beberapa kata yang berat dan tak terdengar keluar dari mulutnya.
Seolah-olah sedang mengucapkan kutukan.
“Imagine Breaker meniadakan semua kekuatan supranatural dan mendatangkan kemalangan. Ia meniadakan kebaikan bersama dengan keburukan, jadi selama kau memiliki tangan kanan itu, kau tidak akan pernah menerima berkah Tuhan. Sama sepertiku, fungsimu mengganggu hidupmu. Tidak, itu lebih buruk karena kau tidak pernah memilih untuk memberontak. Kau ditinggalkan oleh Tuhan sejak kau lahir. Itu tidak bisa dihindari dan itulah takdirmu. Sungguh alasan yang konyol!! Itu sudah lebih dari cukup bagimu untuk menolak dunia yang mengaku adil. Jadi kenapa kau tidak mengutuk dunia? Kenapa kau tidak ingin menghancurkan dunia yang tidak memilihmu?!”
Kamijou yang babak belur tersenyusm kecil.
…Kamijou tidak ingin menjadi orang yang paling bahagia dan bersukacita atas kemenangannya.
Meskipun akan terlihat keren jika bisa mengatakan itu seolah-olah bukan apa-apa.
Tapi Kamijou tidak bisa mengatakannya.
Kamijou menolaknya.
Dia pernah pergi ke neraka. Selama perjalanannya di neraka bersama CRC dan Anna Kingsford, dia telah melihat dengan sangat jelas seperti apa sifat aslinya.
Dia adalah manusia yang kotor.
Ketika seseorang menangis, itu membuatnya sakit dan dia hanya ingin melarikan diri dari rasa sakit itu. Dia hanya mengepalkan tinjunya dan melawan dengan putus asa karena dia adalah orang yang sangat lemah yang tidak memiliki tekad untuk menerima tragedi. Dipukul lebih mudah ketimbang melihat tragedi, jadi itulah yang dia lakukan.
Dia tidak menginginkan kemalangan.
Dia ingin bahagia.
Dia ingin hidup.
Dia mungkin dihantui oleh kemalangan, kemalangan, kemalangan, dan lebih banyak lagi kemalangan, tapi dia tidak mau berbohong tentang keinginannya untuk melindungi hidupnya sendiri dan mendambakan kebahagiaan. Jika tidak, dia tidak perlu kabur dari neraka. Terlepas dari cita-cita yang dia tetapkan, dia tetap tidak ingin mati. Tidak, dia tidak ingin menyerah pada hidup hanya karena dia mati. Masih banyak hal yang ingin dia lakukan di dunia ini.
Keinginannya tidak sedalam seperti menciptakan penemuan hebat yang mengubah cara hidup orang atau memberantas semua kejahatan dari dunia.
Hanya sepotong roti panggang.
Dia tidak ingin kematian mengambil haknya yang paling sederhana sekalipun, seperti menggigit roti panggang yang diolesi mentega.
Memang jelek, bodoh, dan kotor.
Dia tahu itu, tahu betul.
“Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa kau tunggu-tunggu sampai seseorang memberikannya padamu.”
“B-berengsek….”
“Meskipun kau terlahir dalam kemalangan dan meskipun kau melakukan kesalahan besar, tidak ada aturan yang mengatakan kalau kau harus berhenti mengharapkan kebahagiaan. Siapa pun boleh mengharapkannya, bahkan jika mereka telah mencapai titik terendah. Tidak seorang pun berhak menghalangi keinginan orang untuk bahagia.”
“~~~”
Ini adalah pilihan yang tidak bisa dilakukan Coronzon.
Coronzon membenci, mengutuk, menyimpan dendam… dan menghancurkan keinginannya sendiri untuk bahagia. Pada suatu titik, dia berhenti berharap akan kebahagiaan.
Kamijou menatap lurus pada sebuah fakta yang tidak ingin dia ingat.
Mengalahkan Coronzon sama artinya dengan menyerang Aleister.
(Kau juga tidak membusuk, kan?)
Yang satu busuk dan yang satu lainnya tidak.
Pada akhirnya, keputusannya telah bulat. Kamijou Touma mengambil langkah pertama.
Bagian 7
Dia perlu mundur sejenak.
Iblis Agung Coronzon memaksakan dirinya untuk melakukan itu. Kamijou Touma hanya memiliki tinju kanannya. Jadi dia harus segera melompat mundur untuk menciptakan jarak yang cukup agar kemudian bisa menghancurkan bocah itu dengan rentetan proyektil. Dia bisa menggunakan Dakshina Kalika, Goetia, dan banyak kartu as lainnya.
Tapi pada saat itu, kakinya tiba-tiba menjadi kaku.
Apakah Coronzon ingin mengalahkan manusia ini secara langsung dan tanpa trik apa pun?
…Tidak. Coronzon adalah kumpulan kejahatan yang terkonsentrasi, jadi dia tidak akan pernah mempertimbangkan sesuatu yang begitu terpuji. Jelas ada pihak ketiga yang menahan tubuhnya agar tetap diam!
“Alei…ster?”
(Kau? Kau juga tidak membusuk?! Setelah semua yang dunia ini dan orang-orangnya lakukan padamu dan setelah kau akhirnya kehilangan bahkan tubuhmu sendiri?! Kau masih menemukan sesuatu di dunia yang bengkok ini?!)
Tanpa sadar, Coronzon sudah menggumamkan sesuatu.
“Aku adalah iblis, tapi bukan dari Qliphoth tempat berkumpulnya kekuatan jahat. Aku adalah Iblis Agung yang tersembunyi di balik Sephiroth suci. Aku berdiam di jurang yang sama dengan Da'at.”
Seharusnya Coronzon sudah tahu sejak awal bahwa Kamijou Touma dan Aleister Crowley berbeda darinya. Tapi, Iblis Agung itu tampak tertekan.
Kesalahan Coronzon baru saja diperlihatkan
Anggapan bahwa lingkungan dan keadaan mengubah seseorang menjadi orang jahat adalah fantasi konyol yang dibayangkan oleh orang kaya dan bahagia saat mereka memandang rendah orang-orang yang tidak beruntung. Tidak ada kebenaran di dalamnya.
Perbedaannya terletak pada bagaimana seseorang menggunakan lingkungan dan keadaan di sekitarnya untuk berkembang.
Inilah demonstrasi dari hal tersebut.
Kemalangan bukanlah alasan untuk membiarkan karaktermu membusuk.
Yang berarti bahwa kejahatan Iblis Agung Coronzon adalah sesuatu yang dia sendiri tumbuhkan.
“Jika…”
Kamijou Touma juga mengira hal yang sama.
Pada akhirnya, Coronzon memilih mengandalkan kesuksesannya di masa lalu.
Memang benar. Kamijou belum pernah berhasil menghindari serangan ini ketika dilancarkan dengan kekuatan penuh saat Coronzon masih memiliki tubuh fisiknya. Kamijou selalu kalah, seolah-olah itu adalah takdir. Coronzon selalu menggunakan serangan ini untuk menyelesaikan masalah. Dengan secara paksa mengalahkan Imagine Breaker yang mampu meniadakan kekuatan supranatural.
Setiap kali Coronzon butuh kemenangan, dia akan menggunakan serangan ini.
Coronzon bisa menikmati kemenangan mutlak dan sempurna.
Kamijou Touma sebenarnya tersenyum kecil.
Iblis Agung Coronzon adalah makhluk yang menakutkan. Namun pilihan ini entah bagaimana tampak manusiawi.
“Setiap angka adalah sama. Tangan kananku berisi Nuit Kebangkitan. Saksikan bagaimana kemungkinan meluas dan melampaui batas-batas yang terbatas. Tangan kiriku berisi Hadit Pembalasan. Titik terkecil mengumpulkan dan memusatkan semua kekuatan untuk menciptakan satu makna. Dengan begitu, sebuah serangan akan dilepaskan dari percepatan tak terbatas Lingkaran Ra-Hoor-Khuit dan akan muncul di lapisan permukaan dunia ini.”
“Jika kau berpikir bahwa satu-satunya harapanmu ada di dunia selanjutnya… Dan jika kau mengatakan bahwa kau bersedia menghancurkan dunia saat ini untuk mencapai dunia tersebut…”
Kamijou sudah terluka parah setelah terkena serangan itu sekali. Dia tidak tahu bagaimana kondisi tubuhnya atau berapa lama lagi dia bisa terus bergerak.
Dan.
Ini sudah diprediksi sebelumnya. Seperti yang dikatakan Dewa Sihir Othinus.
“Magick: Flaming_Sword. Wujudkan dirimu melalui turunnya Sephirah dan mandikan dia dalam kekuatanmu!!”
Serangan itu melesat tepat melewati telinga Kamijou.
Semburan kekuatan yang lebih besar dari kilat menyambar secara horizontal dan mencabut beberapa helai rambut Kamijou, tapi tidak lebih dari itu.
Kamijou berhasil menghindar untuk pertama kalinya.
Kamijou tidak menggunakan kekuatan khusus apa pun. Hanya kekuatan fisiknya sendiri.
Beberapa bagian dari gerbong pengangkut di belakang Kamijou ambruk dengan suara gaduh dan berguncang hebat.
Mungkin Coronzon memiliki sedikit kebiasaan aneh. Semacam kebiasaan kecil yang bahkan Kamijou sendiri tidak sadari secara sadar.
Baik kesialan, kutukan maupun nasib tragis… semuanya telah runtuh.
Othinus mengatakan hal terburuk yang bisa Coronzon lakukan adalah memunculkan kemampuan baru yang belum pernah Kamijou lihat sebelumnya.
Dengan kata lain, semenakutkan apapun serangan pamungkasnya, serangan yang sudah dikenal justru memberi kesempatan pada Kamijou. Ketika tubuh Kamijou sudah mengenali serangan itu, yang harus dia lakukan hanyalah menghindarinya. “Kau bisa melakukannya, kan?” Othinus bersikeras. Awalnya, Kamijou mengira Othinus telah bersikap tidak masuk akal, tapi sekarang tidak begitu. Othinus tidak menolak ide itu karena dia percaya Kamijou bisa melakukannya.
Dan Kamijou betul berhasil mewujudkannya.
Sudah terbukti bahwa terdapat celah pada Coronzon setelah dia melakukan serangan pamungkasnya.
Kamijou Touma fokus pada tinjunya.
Dan mulai melangkah maju.
Wajah terkejut Coronzon yang berlumuran darah memenuhi pandangan Kamijou.
Siapa yang hadir pada saat-saat terakhir ini?
Apakah Iblis Agung Coronzon atau Manusia Aleister Crowley?
Kamijou tidak mungkin mengetahuinya.
Kamijou mengepalkan tinju kanannya. Sangat keras. Lebih keras dari yang seharusnya.
Kamijou masih belum mendapat jawabannya.
Tapi, dia tetap berbicara.
“Maka pertama!! Akan kuhancurkan ilusi itu!!!”
Hanya terdengar suara teredam dan sensasi sentuhan yang padat.
Kamijou melakukan sesuatu yang persis seperti yang kita pikirkan.
Bagian 8
Suasana hening.
Sesaat sebelum saat-saat terakhir, area di luar galangan kapal benar-benar sunyi.
Coronzon bisa memasang meriam Dakshina Kalika sebanyak yang dia mau, tapi dia harus terus-menerus memasok energi sihir ke meriam-meriam tersebut. Untuk mengerahkan seluruh kekuatannya dalam pertarungan melawan Kamijou Touma, Coronzon tidak punya kekuatan tersisa untuk hal lain. Semua meriam yang terbuat dari rambut pirang panjang — yang tampak seperti kepala singa dengan empat kaki — telah menjadi lemas dan terdiam.
Hamazura Shiage secara kebetulan dibebaskan dari selnya, tapi tidak seperti si Ahli Nekromansi Isabella Theism, dia tidak memiliki tujuan yang jelas dan akhirnya berkeliaran di kota pada larut malam, tapi mengikuti jejak Coronzon tidaklah sulit. Seluruh kota telah diperintahkan untuk tetap berada di dalam rumah, jadi dia hanya perlu pergi ke tempat yang paling ramai. Tapi setiap kali dia tiba, Coronzon sudah melarikan diri ke distrik lain.
Dia telah mengulangi proses itu beberapa kali.
Dan akhirnya dia berhasil menyusul ke Distrik 17.
Tapi, bukan berarti dia bisa mengejarnya.
Coba pikirkan. Hamazura mengikuti jejak yang ditinggalkan Coronzon, jadi jika dia berhasil menyusul, itu berarti Coronzon telah memperlambat lajunya. Jadi, ini bukanlah sesuatu yang patut disyukuri. Ini berarti Coronzon sedang terpojok.
Rentetan hujan es Dakshina Kalika yang sangat akurat telah lenyap.
Hamazura tidak mengalami kesulitan untuk berjalan masuk ke galangan kapal.
Meskipun tidak bisa dikatakan kalau di sana adalah tempat yang aman. Seharusnya dia tidak mengintip ke dalam kotak besar itu.
“Tunggu…”
Kapal induk nirawak itu masih belum lengkap dan disimpan dalam beberapa potongan-potongan.
Jadi dia memiliki pandangan yang cukup jelas ke dalam kapal.
Pada saat-saat terakhir.
Dia mendongak dari kejauhan, Hamazura Shiage yang kerdil itu pun berteriak.
Dengan segenap tenaganya, seolah-olah dia mencoba merobek tenggorokannya sendiri.
“TUNGGUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!!!”
Iblis itu sudah mati.
Keinginan jahatnya tidak terkabul.
Satu Dalam Kegelapan
Bad_Light.
Semuanya sudah berakhir.
Dunia kembali menyambut hari baru.
***
Matahari terbit masih berwarna jingga saat cahayanya menyinari Academy City.
Termasuk asrama putri SMP Tokiwadai di Distrik 7.
“…Onee-sama.”
“Ugh,” erang Misaka Mikoto.
Shirai Kuroko sedang duduk di atas tempat tidurnya.
Dia mungkin belum tidur.
“Aku tidak percaya. Aku sangat khawatir padamu, lalu kau malah keluar sepanjang malam tanpa menghubungiku, jadi apa yang kau lakukan di luar sana bukannya kembali ke asrama? Aku butuh laporan yang detail.”
“Aku sendiri juga tidak tahu… Kurasa semacam menyelamatkan dunia atau melindungi nasib umat manusia? Wahh, kau sudah membantuku dalam senyap, kau hebat sekali, Kuroko!!”
“Aku tidak tahu menahu soal menyelamatkan dunia atau nasib umat manusia, tapi tahukah kau betapa sulitnya menipu manajer asrama? Mau coba main petak umpet ala neraka lain kali?”
“Maaf, kalau itu aku tidak mau.”
“Aku hanyalah sekuntum bunga kecil yang mekar di dalam bayang-bayang, semua usahaku tak dihargai. Aku sangat amat kesepian, aku butuh bantuanmu untuk menghiburku, Onee-sama… jilat, jilat, jilat, jilat, jilat, jilat, jilat, jilat!!”
“Lidahmu— ugh, berhenti menggerakkan lidahmu ke kanan dan kiri! Ahhhh, seremnya! Kenapa tingkahmu makin mengerikan, Kuroko?!”
***
“Berita utama hari ini: pertemuan keagamaan rahasia yang diadakan oleh Gereja Anglikan, Gereja Katolik Roma, dan Gereja Ortodoks Rusia? Kami telah menerima kabar bahwa Patriark yang memimpin Gereja Ortodoks Rusia melakukan kunjungan kejutan kepada Paus Katolik yang saat ini sedang menginap di sebuah resor kesehatan di Edinburgh. Menurut seseorang yang mengetahui masalah ini, mereka membahas pandangan mereka tentang perubahan iklim global dan tentang perubahan yang dibawa oleh teknologi pintar ke kehidupan sehari-hari.”
Sebuah perangkat seluler sedang memutar berita TV.
Jika ini yang didengar publik, maka topik asli dalam pertemuan itu pasti tidak bocor.
Seseorang yang terjebak dalam kekacauan di Academy City dan bahkan belum sempat mandi merasa sedih mendengar berita ini. Orang itu adalah Dion Fortune.
“Yang benar saja?! Penduduk Bumi, apa kalian lupa dengan uskup agung yang memimpin Gereja Anglikan?! Para pembuat onar itu telah menyebabkan begitu banyak masalah dengan sihir-sihir skala besar mereka dan sekarang mereka malah mengadakan pertemuan tanpaku?!”
***
Kelompok Amakusa yang dipimpin oleh Kanzaki, Eks Pasukan Agnese yang dipimpin oleh Agnese, dan kelompok Anglikan berencana untuk segera meninggalkan Academy City. Mereka sebenarnya bisa saja menuntut untuk tetap menguasai kota tersebut, tapi mereka memutuskan bahwa memecah pasukan mereka hanya akan memancing Katolik Roma atau Ortodoks Rusia untuk menyerang London.
“Hamazura Shiage? Untuk saat ini, dia akan tetap menjadi tahanan kami sebagai simpatisan Coronzon.”
Kanzaki Kaori menjelaskan situasi tersebut kepada Takitsubo yang tampak khawatir.
“Tapi, ini hanyalah formalitas, jadi kau tidak perlu khawatir. Secara ideologis dia bersimpati padanya, tapi dia sebenarnya tidak memberikan dukungan materi atau dukungan tempur apa pun. Setelah semua dokumen beres dan diberi teguran keras, dia akan segera dibebaskan. Aku yang jamin.”
Ada orang lain yang dirawat di rumah sakit yang sama.
Contohnya seperti Tsushima yang telah diberi sihir penyembuhan akibat lehernya telah dilukai Coronzon, dia dibawa ke rumah sakit di Academy City untuk perawatan. Tekanan udara di pesawat merupakan masalah serius bagi yang terluka, dan jika kondisinya memburuk selama penerbangan, pramugari akan berteriak memanggil dokter.
Entah kenapa, Kanzaki dan Itsuwa menatap Tsushima dengan tajam. Terlalu tajam tanpa alasan.
“ “…” ”
“(…Rasanya canggung sekali.)”
Saat fajar menyingsing, hujan yang tidak wajar kembali turun di seluruh Academy City. Langit cerah hanya berlangsung 30 menit. Salju merah yang sebelumnya menumpuk dan menghalangi lalu lintas kendaraan tampaknya telah lenyap sepenuhnya. Berkat itu, tidak ada yang meninggal.
Sebuah kapal udara menampilkan pesan di layar besarnya.
“Tidak ada ancaman terhadap infrastruktur listrik, gas, atau air. Distribusi bantuan darurat dan pekerjaan rekonstruksi telah dilanjutkan di seluruh kota. Harap tetap tenang dan ikuti instruksi yang diberikan. Academy City aman.”
***
Fakta bahwa pesawat udara terbang di langit itu sendiri merupakan kabar baik bagi Academy City. Karena itu berarti keadaan mulai kembali normal.
“Semuanya dimulai di sini.”
Ketua Dewan Kota yang baru, Accelerator, berbicara pelan sambil duduk di tempat tidur di sel isolasinya.
Sejujurnya, orang nomor 1 itu punya seseorang yang rela dia lindungi meski harus menghancurkan dunia.
Tapi, orang lain juga merasakan hal yang sama.
Setiap orang memiliki orang-orang yang ingin mereka lindungi.
Dunia tidak dikendalikan oleh suatu sistem besar. Dunia terbentuk dari akumulasi 7 atau 8 miliar hal kecil.
Jadi, menjadi yang terkuat bukan berarti dia bisa bertindak seenaknya. Dia tidak boleh menginjak-injak perasaan orang lain atau memaksakan perasaannya pada orang lain. Dan itu sebabnya dia ingin menciptakan sebuah kota di mana tidak ada yang perlu melakukan hal-hal seperti itu.
Teknologi di Academy City jauh lebih maju, sekitar 20-30 tahun.
Jadi, jika kota ini sukses, maka metodenya akan menyebar ke seluruh dunia di kemudian hari.
Dan jika gagal, maka semuanya bisa berantakan.
“Jadi… semuanya dimulai di sini. Saatnya membuktikan kemampuan Academy City.”
***
“Ya ampun.”
Anjing Golden Retriever bernama Kihara Noukan berjalan di antara bayangan gedung-gedung.
Dia penasaran apa yang terjadi pada jasad Iblis Agung Coronzon — bukan, jasad Aleister — tapi dia berasal dari Inggris, bukan? Jasad aslinya tampaknya dimakamkan di sana, jadi mungkin itu adalah lokasi terbaik untuk tempat peristirahatan terakhirnya.
“Seharusnya dia meninggalkan surat wasiat. Itulah romansa bagi mereka yang berada di puncak. Kelemahan terbesar temanku yang menyebalkan itu adalah ketidaksadarannya akan seberapa besar pengaruhnya terhadap dunia di sekitarnya.”
Beberapa sosok bergerak melintasi kota.
Alice Anotherbible, Succubus Bologna, Aradia, dan para Transenden lainnya dari cabal Bridge Builders melintasi tembok kota dan pergi.
Hanya sekali, Alice menoleh ke arah kota di belakangnya.
“Sensei…”
“Alice. Jika kau ingin membalas budinya, sebaiknya kau jangan menambah kekacauan di dunia. Kamijou Touma telah mengembalikan kedudukanmu di masyarakat. Selain itu, kartu asnya harus tetap tersembunyi,” kata Aradia.
Si Penyihir Kucing Hitam, Mina Mathers juga berencana pergi.
Tidak seperti Uskup Agung Dion Fortune, Mina tidak memiliki identitas resmi. Saat itu situasinya memang genting, tapi dia tetap memasuki Academy City tanpa izin. Jadi sekarang dia ingin pergi sebelum keamanan di sekitar tembok kembali pulih.
“Kau tahu…”
“Apa?”
Kata-kata penyihir kucing hitam itu mendapat tanggapan dari si penjahat cilik bernama Anna Sprengel.
“Kukira kau akan menetap di kamar asramanya.”
“Di sana kan sudah ada perpustakaan grimoire dan sisaan Dewa Sihir? Sudah terlalu penuh. Dan kalau citranya menjadi buruk, itu akan menghancurkan kehidupan damainya.”
Mina Mathers tampak terkejut.
Dan akhirnya Mina Mathers kembali berbicara.
“Ternyata kau bisa bersikap perhatian juga ya?”
“Bahkan wanita jahat pun tahu kapan harus membalas budi.”
Dan…
***
Aleister sudah meninggal.
Dan begitu Aleister meninggal, tentu saja dia akan masuk neraka.
Begitulah pandangan Manusia itu. Aleister entah bagaimana berhasil mengakali sistem pada tahun 1947. Seharusnya hidupnya berakhir setelah menyelesaikan urusan dengan Coronzon di laut Skotlandia yang membeku dan menyerahkan Master Key kepada Ketua Dewan Kota berikutnya. Meminjam tubuh Iblis Agung hanyalah residu panas yang masih terasa, seperti bara api terakhir yang membara di abu api yang padam di perapian.
Aleister telah menyebabkan begitu banyak masalah bagi dunia.
Menyerahkan Master Key kepada si Nomor 1 mungkin sedikit membantu dalam penebusan dosanya (dengan cara yang sangat pragmatis), tapi setelah diingat kembali, dia tidak melakukan apa pun untuk anak lelaki yang lain.
Penyesalan itu mungkin yang menyebabkan dia mencoba bertahan hidup.
Dia merasa lega karena akhirnya berhasil membantu si anak lelaki itu.
Dia benar-benar lega karena hal-hal yang coba dilindungi oleh si anak lelaki itu tidak hancur.
Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan.
Dia merasakan sesuatu menariknya… tapi tidak secara fisik. Menariknya ke bawah. Gerbang neraka mungkin terbuka lebar di kedalaman. Manusia itu tidak melawan tarikan tersebut. Kematian seharusnya tidak menakutkan. Karena kematian mengarah ke surga. Dia hanya takut pergi ke neraka karena banyak dosa yang telah dilakukannya. Tapi sekarang saatnya telah tiba untuk menerima ganjarannya.
Dia benar-benar berpikir begitu.
Tapi…
“Wah, wah. Kau jauh lebih penurut daripada y░ng kukira, Aleister.”
Aleister kebingungan.
Bahkan manusia itu pun gagal memahami situasinya. Mengapa Aleister mendengar suara itu di sini dan saat ini? Orang itu seharusnya sudah menghilang. Orang itu telah berjanji untuk melindungi hal-hal yang ingin dia lindungi, dan orang itu benar-benar melakukannya, membangkitkan Kamijou Touma dari kematian, dan kemudian pergi ke neraka sendirian.
(Tunggu. Neraka?)
“Apa yang kau lakukan di situ, Anna Kingsford?!”
“Bukankah aku s▒dah bilang padamu, Aleister? Aku akan menepati janjiku. Aku berjanji untuk menyelamatk▒n hal-hal y░ng kau sayangi dan membuatmu bahagia. Untuk mewujudkan itu, aku menonaktifk▓n mayatku y░ng diawetkan agar aku bisa dengan sengaja m█ti dan pergi ke n█raka. Jadi biarkan aku melakukan tugasku☆”
“Maksudmu…?”
“Sejak awal aku s▒dah tahu semua ini akan terjadi. Memangnya kenapa?”
Hanya itu yang perlu Kingsford katakan.
Sejauh mana level yang sudah dicapai oleh pakar ini— tidak, tapi Penyihir sejati ini?
“Dan karena aku tahu kau akan berakhir di n█raka, jadi aku datang lebih dulu dan menyiapkan jaring. Penyihir sejati tahu bagaimana mengubah hal kecil seperti seperti takdir kem█tian. Ini semua bagian dari m▒mbantu orang-orang di sekitarku. Kita harus menciptakan keajaiban buatan untuk membuat orang bahagia. Seberapa sulit itu tidak jadi persoalan. Kita hanya perlu lebih mengasah keterampilan kita. J▓ngan pernah menyalahk▓n orang y░ng membutuhkan bantuan kita.”
Anna Kingsford tersenyum dan mengacungkan jari telunjuknya.
Sebuah cahaya putih kecil pun muncul.
Dalam sekejap, hal itu memenuhi pandangan Aleister dan menyelimutinya.
Cahaya itu tidak menyilaukan. Itu adalah cahaya yang lembut.
Dan Aleister merasakan tarikan ke atas.
…Seberapa banyak yang harus dibayar oleh Kingsford untuk mencapai satu hal ini? Sebelumnya Kamijou Touma juga bertanya-tanya: Bukankah Anna Kingsford bisa merangkak kembali dari neraka hidup-hidup sendirian jika dia mau? Jika saja Kingsford bersedia menginjak-injak orang lain dan menutup mata terhadap kerusakan yang ditimbulkannya pada dunia?
Tapi, itu adalah batasan yang tidak ingin dilanggar Kingsford.
Jadi, Kingsford tidak ragu untuk memberikan kesempatan itu kepada siapa pun yang paling membutuhkan.
Kingsford telah menunjukkan kekuatan sejati.
Pakar itu berbicara dari di bawah cahaya.
“Pulanglah, wahai bocah penyihir. Dan j▓ngan mengambil jalan pintas. Masih terlalu dini bagimu untuk datang kemari.”
Aleister menganggapnya seperti seorang ibu.
Padahal ibu kandungnya adalah seseorang yang mengusir Aleister kecil dengan teriakan histeris.
Mungkin itulah jalan yang ingin ditempuh Anna Kingsford.
“Oh, aku akan buat n█raka menjadi tempat y░ng lebih menyenangkan untuk ditinggali sebelum kau sampai di sini. Kurasa tempat ini butuh lebih banyak udara segar dan sinar matahari. Aku s▒dah mengambil alih Pengadilan Neraka dan m█mbunuh semua pengawalnya untuk mempersiapkan hal itu! Sekarang, saatnya mencoba pertarungan bos melawan menteri pertama: Raja Iblis Astaroth!! Ayo, CRC!! kita bisa melakukan konstruksi, memasak, dan bahkan melakukan kerajinan tangan! Saatnya mengubah n█raka menjadi taman dan kebun bunga!!!”
Rupanya seorang pakar sejati masih memiliki cukup kekuatan untuk bercanda di neraka.
Apa yang akan terjadi jika Aleister kembali ke alam kehidupan tanpa tubuh?
Jiwa Aleister Crowley terlempar ke atas sebelum dia sempat bertanya.
***
Saat itu pukul 8:30 pagi.
Begitu banyak hal telah terjadi, tapi hari baru telah tiba untuk Academy City. Hampir tidak ada satu pun dari 2,3 juta penduduknya yang tahu berapa banyak usaha yang telah dilakukan untuk mewujudkan hal itu, tapi kekuatan mereka untuk ingin menjalani kehidupan normal — seperti bangun di pagi hari, sarapan, mencuci muka, berganti seragam, berjalan ke sekolah — pasti memainkan peran besar. Karena kekuatan itu telah mengalahkan godaan untuk menyerah. Sesuatu yang sangat mengerikan telah terlewati, jadi tidak apa-apa untuk mengambil cuti sehari.
Ikatan antar masyarakat tetap erat.
Aogami Pierce sedang bermain-main di ruang kelas seperti biasa.
“Beneran! Asrama putra benar-benar hancur! Itu bukan masalah sih buatku karena aku melanggar aturan dengan tinggal bersama orang lain… tapi kuharap ini tidak menjadi bumerang. Misalnya sebagai solusi darurat, semua anak lelaki yang tunawisma diundang untuk tinggal di asrama putri, dan hanya aku yang kehilangan surga penuh kegembiraan itu?! Mengerti kan maksudku?! Bukankah itu terdengar seperti latar yang sempurna untuk film komedi romantis: seorang anak lelaki miskin tanpa tempat tinggal akhirnya berada di asrama yang penuh dengan perempuan?!”
“Imajinasimu membuatku marah dan menurutku ini sudah masuk sebagai pelecehan seksual. Aku ingin sekali meninjumu.”
Kota itu bergantung sepenuhnya pada tenaga manusia.
Kehidupan normal dan alami yang biasa ini hanya bisa terwujud melalui usaha manusia.
“Oke, Aogami-chan, kau harus duduk. Fukiyose-chan, berhenti mengejar si bodoh itu dan duduk di bangkumu. Kalian semua juga duduk di bangku masing-masing.”
Meskipun tidak terasa seperti itu, mengingat kemarin terjadi peristiwa yang sangat tidak biasa yaitu pemakaman teman sekelas mereka, tapi kemarin juga merupakan upacara pembukaan sekolah.
Yang artinya, hari ini adalah hari sekolah biasa.
Bunyi bel seperti biasa terdengar melalui pengeras suara.
Itu menandakan sebuah akhir. Tempat itu telah ditutup.
Tsukuyomi Komoe membacakan nama-nama murid dengan datar, tapi salah satu nama murid yang disebut tidak mendapat respons.
Kamijou Touma belum kembali.
Semester baru telah dimulai sementara dia masih hilang.
Tapi kemudian…
Pintu kelas bergeser terbuka dan seorang anak lelaki berambut jabrik pun masuk.
“M-maaf. Aku terlambat karena harus meminta konfirmasi dokter bahwa aku masih hidup.”
Dia telah berjuang melawan kehancuran dunia agar bisa mengucapkan kata-kata tersebut.
Jika Kalian membelinya satu per satu, selamat datang kembali. Jika kalian membelinya sekaligus, selamat datang.
Kamachi Kazuma di sini.
Yang ini adalah kisah pelarian Iblis Agung Coronzon!! …Seperti yang bisa kalian lihat jika kalian sudah membaca ITEM jilid 4 atau Zashiki Warashi of Intellectual Village jilid 6, aku sebenarnya suka menulis dari sudut pandang seseorang yang terisolasi serta dalam pelarian. Dan kali ini adalah iblis non-manusia. Aku terus membayangkan berbagai cara agar dia bisa melarikan diri sambil membuatnya terlihat seperti musuh yang kuat. Dibutuhkan penjahat yang menarik untuk membuat protagonis bersinar, jadi bukan berarti aku memihak penjahat!
Bagian favoritku saat menulisnya adalah di akhir Bab 2 ketika ternyata mobil biasa adalah pilihan terbaik karena semua orang mencari lewat sihir dengan seksama. "biasa" tidak berarti tidak berbahaya atau tidak berharga. Ini merujuk pada pengetahuan dan teknik yang sebagian besar orang terima sebagai hal yang berguna. Karena tidak selalu itu tidak berbahaya, "biasa" adalah alat berbahaya yang dapat melukai orang. Mungkin kalian sendiri pernah mengatakannya atau mungkin dengar dari orang lain, tapi bukankah kalian semua pernah mendengar sesuatu seperti “Biasanya bisa sampai segini”?
Untuk pertempuran melawan Coronzon, aku menggunakan Magick aliran Crowley untuk menambah bumbu, lalu mengakhirinya dengan kutukan yang terbentuk secara alami selama pertempuran. Dia tahu kartu as-nya bisa menang. Itu telah terbukti efektif. …Selama pertempuran penting, akankah kita memilih opsi yang aman atau akankah kita memutuskan bahwa terlalu berbahaya untuk terus menggunakannya berulang kali? Manusia cenderung memilih yang pertama. Aku menulis manuskrip ini sambil mengetahui bahwa aku mungkin akan melakukannya. Sekarang, untuk Dakshina Kalika Coronzon, Aku mendasarkan ideku pada istilah-istilah seperti APS dan hard kill. …Tentu saja, aku tidak tahu seberapa akurat hal-hal ini, tapi kemampuan untuk menembak jatuh peluru tank yang terbang dengan kecepatan 5 Mach memberi tahuku bahwa tank berubah menjadi sesuatu yang benar-benar aneh di era drone ini. Meskipun tampaknya lebih dimaksudkan sebagai tindakan darurat yang mereka harap tidak perlu mereka gunakan. Berbeda dengan cara Coronzon yang membuat dirinya tak tersentuh sehingga dia bisa mendekati targetnya secara langsung, menghancurkan pertahanannya dengan serangkaian serangan, dan membunuhnya.
|APS: Attacks Per Second atau Serangan Per Detik.
|Tindakan defensif untuk mencegat atau menetralisir serangan.
Di pihak kelompok Kamijou, mereka mengalami banyak kesulitan hanya untuk mencari Coronzon yang sangat menyebalkan dan sekarang sedang buron. Mereka tidak bisa menggunakan siapa pun yang seaneh Coronzon (kecuali Alice), tapi mereka sudah memiliki persiapan. Masalah terbesar buatku adalah bagaimana membuat Kanzaki dan yang lainnya mendengarkan pendapat seorang amatir seperti Kamijou… jadi aku menggunakan istilah yang sederhana Tsujiura. Suatu bentuk ramalan menggunakan hal pertama yang diucapkan secara santai oleh seseorang yang tidak memahami situasi tampaknya merupakan alat pamungkas untuk menyeret seorang siswa SMA amatir ke dunia sihir!!
Selain itu, Accelerator mengalami kerusakan parah akibat serangan jarak jauh, jadi aku juga harus mengatasinya. Untuk itu aku menggunakan Isabella yang tidak sempat bersinar di kesempatan sebelumnya. Tapi, Isabella tidak menggunakan Voodoo yang sebenarnya, jadi harus hati-hati. Dan jika ada yang akan menghidupkan kembali sang nomor 1, aku tahu siapa orangnya, jadi aku mengirim si menara kontrol.
Gagasan bahwa Kamijou Touma terputus dari berkah Tuhan karena dia lahir dengan Imagine Breaker dan itulah penyebab kemalangannya telah dikemukakan sejak awal seri, tapi penting bahwa hal ini memberinya kesamaan dengan Coronzon. Apa perbedaan antara mereka yang membusuk dan mereka yang tidak? Aku harap kalian bisa memahaminya.
Dan aku menggunakan kata-kata Kamijou untuk memberikan tanggapan terhadap pernyataan Hamazura sebelumnya bahwa dunia ini busuk dan harus dihancurkan. Beberapa dari kalian mungkin setuju dengan Hamazura saat itu. Bandingkan keduanya dan kalian akan melihat perbedaan antara pendirian Kamijou dan Hamazura. Jika kalian terlahir kembali di dunia lain, apakah kalian ingin hidup di dunia yang adil atau dunia yang tidak adil?
Dan berbicara tentang kejadian sebelumnya, Shokuhou Misaki benar-benar ditinggalkan begitu saja, tapi dia memastikan untuk memanfaatkannya sebaik mungkin. Dia hanya muncul dalam satu adegan, tapi dia mengklaim sebuah peristiwa yang memengaruhi akhir cerita. Bahkan, aku merasa menggunakan dia sebagai bahan rahasia seperti itu adalah cara terbaik untuk menggunakannya dalam cerita utama Index, tetapi bagaimana menurut kalian?
Aku mengucapkan terima kasih kepada ilustratorku, Haimura-san dan Itou Tateki-san, serta editorku, Miki-san, Anan-san, Nakajima-san, dan Hamamura-san. Kelompok pengejar terdiri dari berbagai macam orang dan Coronzon melarikan diri ke mana-mana, jadi pembuatan item dan latar belakang pasti membutuhkan banyak kerja keras. Seperti Distrik 19 bertenaga uap atau kapal induk nirawak yang terpotong-potong! Sekali lagi terima kasih atas kesabaran kalian dalam menghadapi semua ini.
Dan aku ucapkan terima kasih kepada para pembaca. Bagaimana pendapat kalian tentang kisah pengejaran ini di mana sihir dan sains bercampur aduk? Terima kasih karena terus membaca buku-buku ini!
Saatnya menutup halaman-halaman ini untuk sementara waktu sambil berdoa agar halaman-halaman buku berikutnya akan dibuka.
Dan untuk saat ini, aku letakkan dulu penaku.
Aku kira Kingsford juga telah memanfaatkan situasinya dengan sebaik mungkin.
-Kamachi Kazuma
Ruangan itu kecil dan gelap.
Satu-satunya pintu terkunci sangat rapat dan kokoh. Yang membuatnya menjadi ruangan kotak baja keputusasaan.
Terdengar suara berderak, jadi apakah lelaki itu sedang dibawa ke suatu tempat?
Mungkin lelaki itu akan selamanya dilupakan.
“…”
Hamazura Shiage duduk dengan punggung bersandar ke dinding dan kepalanya tertunduk.
Apa-apaan itu?
Bagaimana mungkin hal seperti itu bisa terjadi?
Apakah mereka akan begitu saja menerima kematian Coronzon? Dia hanya seorang gadis. Gadis kesepian yang tidak mengharapkan siapa pun untuk membantunya! Tapi mereka semua menyebutnya iblis, mengeroyoknya dengan kejam, dan bahkan mengambil nyawanya!! Dan sekarang seluruh dunia akan mengangkat tangan untuk merayakan dan memperingati hari ini sebagai hari libur?!
Itu salah.
Akhir cerita ini sangat salah.
Dan begitu Hamazura mulai mempertanyakannya, sisanya datang dengan cepat. Dunia di sekitarnya tampak berbeda.
Tidak ada yang namanya keadilan. Yang ada hanyalah kekerasan dari mayoritas yang memaksakan kehendak mereka kepada orang lain.
Tidak seorang pun benar-benar merasakan kebahagiaan. Itu tidak lebih dari hak orang lain yang telah dicuri dalam permainan yang tidak menguntungkan siapa pun.
Tidak ada keindahan dalam bunga. Bunga adalah kotoran yang mencuri napas manusia dari udara dan menancapkan akarnya di tanah yang penuh dengan sampah busuk.
Matahari bukanlah cahaya yang diberkati. Itu adalah neraka termonuklir yang sangat berbahaya.
“Akhirnya aku mengerti,” gumam Hamazura.
Kobaran api gelap berkobar di hatinya bahkan saat dia terduduk lemas.
“Akhirnya aku bisa melihat apa yang kau lihat, Coronzon.”
Inilah dunia yang dilihat melalui mata orang jahat.
Tidak, ini adalah sistem nilai yang oleh mayoritas dianggap jahat.
…Apakah mengetahui hal itu merupakan perbuatan jahat yang perlu dihukum? Akankah mereka membunuh Hamazura karena menyadari sesuatu yang mereka anggap mengganggu? Apakah ada orang yang membunuh orang lain hanya karena nilai-nilai mereka tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan secara sewenang-wenang oleh seseorang yang berada di atas menara gading? Kalau memang begitu, maka mereka pastilah sangat "budiman".
(Cara berpikir seperti ini mungkin akan ditolak oleh yang berkuasa.)
Hamazura tidak akan menelan mentah-mentah konsep keadilan. Dia tidak akan langsung menolak mereka yang disebut jahat. Dia akan mengamati segala sesuatu di depan matanya, mempertanyakan segala sesuatu, dan kemudian memutuskan sendiri apa yang benar. Itu adalah kemampuan yang seharusnya dimiliki setiap orang. …Tapi itu akan menjadi setetes racun terbesar bagi orang-orang yang mencoba mengendalikan semua orang dengan paksa. Karena itu akan tanpa henti menciptakan lebih banyak orang seperti Hamazura yang akan mulai melawan gagasan mereka tentang apa yang baik dan benar. Begitu kita tahu — begitu kita menyadarinya — Kita secara alami akan bisa melihatnya.
Pikiran-pikiran ini adalah langkah pertama menuju perlawanan terhadap kuasa yang lebih tinggi.
“…”
Tapi yang Hamazura lakukan hanyalah melihat sesuatu.
Cara pandangnya terhadap dunia telah berubah, tapi memangnya kenapa?
Hamazura adalah Level 0 yang tak berdaya. Tanpa kemampuan istimewa seperti kemampuan langka untuk melakukan sesuatu yang lebih. Dia benar-benar tidak berguna. Berjuang pun tidak ada artinya. Nama dan identitasnya diketahui dan sebuah kelompok asing telah menangkapnya karena dianggap sebagai ancaman. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan sesuatu untuk Coronzon dalam kondisi seperti ini?
Dia bahkan tidak bisa keluar dari kotak logam kecil ini, jadi bagaimana dia bisa melawan seluruh dunia?
Tapi.
Kemudian dia mendengar sebuah suara. Sesuatu jatuh ke lantai. Sebuah ponsel. Dan sesuatu bergerak-gerak di dalam ventilasi yang lebarnya kurang dari 15 cm di dinding dekat langit-langit. Tapi itu belum tentu makhluk hidup.
Terdengar bunyi bip kecil dari lantai.
Hamazura dengan ragu-ragu mengangkat ponsel itu untuk melihat sesuatu di layarnya yang retak.
Kalau diingat-ingat… Hamazura memang punya sesuatu.
“… Aneri?”
AI tersebut merespons.
Ini adalah kemampuan yang langka.
Level 0 ini masih memiliki sesuatu yang istimewa.