Kejahatan Mutlak dan Kejahatan Relatif
Choronzon.
Makhluk itu telah lama memantau.
Dia bersembunyi dan terus mengamati dunia luar.
Dia diduga telah membunuh Penyihir Aleister Crowley, tapi Aleister malah memanfaatkan sebuah kesempatan singkat untuk mengendalikan tubuhnya.
Pikirannya dengan cepat disegel jauh di dalam tubuhnya sendiri.
Dia tidak bisa lolos.
Sejak saat itu, semuanya terasa seperti lelucon belaka. Dia merasa seperti terjebak di dalam sel yang seluruh lantai, dinding, dan langit-langitnya ditutupi kawat berduri. Bagi sang Iblis Agung, baik penderitaan dan tak mampu bergerak adalah hal yang sama.
Tapi bukan berarti tidak ada hiburan untuknya.
Meski dia tidak bisa lolos dari selnya, dunia di luar sel tetap keras bagi Aleister.
Saat Aleister menangkap Anna Sprengel, bos besar R&C Occultics yang telah menjerumuskan dunia ke dalam kekacauan, Kamijou Touma yang dipercayainya malah mengkritiknya dengan pedas.
Ketika Aleister mencoba menyelamatkan Kamijou, Anna Kingsford, selaku gurunya yang telah Aleister percaya, bilang bahwa Kamijou Touma ditakdirkan untuk mati.
Kingsford telah berjanji untuk menyelamatkan Kamijou, tapi dia tidak hanya gagal menepati janji itu, hidupnya sebagai mayat hidup yang diawetkan secara otonom telah berakhir seiring dengan kematian Kamijou.
Ketika, ditinggalkan oleh mereka berdua, Aleister mencoba membatalkan kematian Kamijou, tapi ketua dewan yang baru malah mengolok-oloknya.
Dan setelah semua masalah yang dia hadapi tersebut, Kamijou malah kembali dari neraka sendirian.
Guru kesayangannya Anna Kingsford tidak menemani Kamijou.
Bagaimana mungkin dia tidak bertepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak?
Dunia ini sungguh bodoh dan konyol. Manusia itu telah melanggar begitu banyak tabu untuk membajak tubuh iblis penghancur dunia yang agung, tapi tutupnya kini tanpa sengaja telah dipaksa terbuka dari luar.
Fakta bahwa mereka bahkan tidak menyadari apa yang mereka lakukan menjadikannya kegagalan yang lebih besar daripada kegagalan Pandora dalam menahan rasa ingin tahunya.
Setiap orang yang mengerutkan kening dan berbicara tentang keadilan telah menjadi alasan dunia akan hancur.
Aliester tidak bisa menahan tawa.
Tapi makhluk itu masih belum puas.
Kondisi tubuhnya saat ini memang stabil, tapi masih kasar, tidak lengkap, dan mudah goyah.
Atom oksigen dan hidrogen tidak akan bertahan lama dalam bentuk murninya. Mereka akan berikatan dengan atom yang identik untuk membentuk gas, atau berikatan dengan atom yang berbeda untuk membentuk air. Tidak ada niat di balik ini. Semuanya akan terjadi dengan sendirinya.
Sama halnya dengan makhluk itu.
Jadi.
Ketika Aleister Crowley mencapai batasnya dan hatinya hancur, makhluk itu sekali lagi merangkak keluar ke dunia luar. Itu terjadi secara alami, seolah mengatakan bahwa apa yang harus dihancurkan memang perlu dihancurkan.
Dan makhluk itu — Iblis Agung Coronzon — membuat pengumuman dengan lantang.
“Sudah kutunggu-tunggu. Menunggu saat tekadmu melemah!!”
Baiklah.
Nikmatilah buah dari dosa-dosa ketidaktahuan kalian, wahai para manusia.
Perubahan
Magician, Witch, Wizard, and...
Bagian 1
Tiba-tiba.
Sesuatu menyebabkan suara hujan dingin menghilang.
Hanya kehampaan yang tersisa.
Suhu udara turun di bawah titik beku. Salju merah — berwarna merah aneh — turun dari langit kelabu.
“…”
Kamijou Touma tidak sibuk mengomentarinya.
Jika dia mengalihkan pandangan dari depan, bahkan sedetik saja, Iblis Agung Coronzon akan memanfaatkan momen itu untuk membunuhnya. Dia yakin betul.
Kamijou bersama Vidhatri yang terbaring lemas dan pingsan di sampingnya, Alice Anotherbible dan Iblis Agung Coronzon.
Kamijou tidak melihat satu pun unsur positif dalam situasi ini.
Di dunia yang sunyi itu, suara "gruduk gruduk" kereta bawah tanah yang lewat terdengar sangat keras dan memekakkan telinga.
“Ada apa, manusia?” bisik sang Iblis Agung sambil perlahan-lahan merentangkan tangan dan sayapnya.
Rambutnya yang pirang panjang melilit sayap dan ujung jarinya bagaikan jaring laba-laba.
“Tentu, tentu kau tidak berencana untuk menyerangku tanpa pikir panjang, kan? Kau mungkin bisa lolos. Jika kau bisa menggunakan tangan kananmu dengan benar. Kee hee hee. Setidaknya, mundur akan meningkatkan peluangmu untuk bertahan hidup daripada serangan membabi buta.”
“Sensei,” Alice Anotherbible memperingatkan dengan tajam. “Ini adalah kata-kata Iblis Agung. Mungkin terdengar bijak, tapi dia tidak akan pernah mengatakan apa pun karena peduli pada seseorang.”
Sesuatu berderak.
Datang dari arah yang sangat dekat.
Cahaya jingga yang berkelap-kelip dengan hebat menyerupai percikan api yang dihasilkan oleh benturan antar baja.
…Percikan?
“Jangan bilang…”
“Penggunaan sihir menyebabkan fluktuasi kecil di dunia ini, dan benturan antarfase tak terlihat yang saling tumpang tindih menghasilkan Percikan yang terkadang bisa mematikan. Itulah sumber tragedi yang membawa Aleister Crowley ke jalan pembantaiannya. Apa yang kau lihat sekarang adalah hasil dari kekuatanku yang membawa hal itu turun ke dunia fisik yang lebih rendah ini dan memberi mereka wujud,” jelas Coronzon, menikmati dirinya sendiri.
Ini bukan satu-satunya hal yang bisa dilakukan Iblis Agung. Dia sengaja memilih satu kartu ini dari kartu-kartu yang hampir tak terhitung jumlahnya di deknya.
Duar!!
Kamijou mendengar suara percikan tak menyenangkan lainnya.
Sebuah robot keamanan berbentuk drum meledak dari dalam.
Ada kemungkinan Accelerator memantau dari jauh dan menggunakan mesin tak berawak untuk mencari rute pelarian melalui ladang ranjau.
Jelas apa yang akan terjadi jika tubuh manusia bersentuhan dengan ranjau itu… pasti lebih parah lagi dari itu.
“Kehancuran pada tingkat dangkal hanyalah perkara kecil. Sentuh, maka mati? Ini bukan soal dampak atau kehancuran pada tingkat itu. Melainkan kematianmu pada tingkat takdir yang jauh lebih mendasar.”
Ya.
Aleister Crowley gagal membalikkan keadaan di puncak kariernya, sehingga dia kehilangan istri dan putrinya. Tragedi yang sama bisa terjadi.
“Dan kuperingatkan kau. Pohon ketiga? Clonoth, ya? Pohon itu membuatku lengah sewaktu di Inggris dulu dan merenggut esensiku dari tubuh fisikku, tapi itu takkan lagi berhasil.”
Robot keamanan yang tersisa sedikit goyah.
“Lagipula, aku bukan lagi iblis murni. Simbol-simbol si manusia Aleister telah tercampur dengan diriku.”
Iblis Agung itu melengkungkan bibirnya ke atas dan tertawa terbahak-bahak.
Aleister.
Iblis Agung itu tampak geli karena dia masih mengganggu dunia manusia bahkan setelah Aleister tiada.
“Jadi apa yang akan kau lakukan, Kamijou Touma?”
Dia adalah Iblis Agung, jadi dia tidak percaya pada kebajikan atau mukjizat ilahi.
“Hanya ada dua pilihan di dunia ini: kematian tanpa ampun yang tidak disertai keajaiban, atau keajaiban palsu yang dibuat oleh tangan manusia.”
“…”
“Aku tahu kau tahu apa yang terjadi jika kau berhenti berpikir dan pasrah berdoa kepada Tuhan. Seberapa besar pengorbanan untuk merangkak keluar dari neraka, Kamijou Touma? Tapi semua itu akan sia-sia jika kau gagal mengambil langkah.”
(Ini buruk…)
Kamijou merasa seperti ditinggalkan di tengah ladang ranjau.
Dia dikelilingi ranjau tak kasat mata dari segala arah yang akan membunuhnya saat tersentuh. Dia bahkan tidak tahu seberapa jauh ranjau-ranjau itu tersebar, jadi dia tidak tahu seberapa jauh dia harus melarikan diri agar bisa bertahan hidup.
“Astaga. Sekadar info saja…”
Coronzon telah mengatur semua ini, tapi dia masih tampak tidak senang.
Meskipun dia seharusnya memiliki keunggulan absolut di sini.
Seolah-olah kejutan besar yang telah susah payah dia persiapkan tidak dihargai, jadi dia harus menjelaskannya untuk Kamijou.
“Aku tidak hanya bisa menaruhnya. Aku juga bisa memindahkannya sesuka hati. Jadi, tempatmu berdiri bukanlah ladang ranjau, melainkan rahang monster yang menganga. Jika aku menutupnya, kau akan terjepit di antara rahangnya. Aku tahu manusia lemah yang berada di dunia bawah sepertimu hanya mengerti hal-hal yang bisa dilihat oleh mata, tapi tentu saja itu sudah cukup untuk memahami situasimu.”
Dengan kata lain, diam saja tidak cukup untuk bisa selamat.
Kamijou sudah dikutuk sejak awal.
Tangan kanan Kamijou mengandung Imagine Breaker. Dia mungkin bisa mematahkan satu atau dua taring tak terlihat itu. Tapi, apakah itu cukup untuk mengalahkan monster itu? Jika monster itu mengabaikan rasa sakit dan memaksa mulutnya tertutup, Kamijou akan mati. Semuanya akan berakhir dalam sekejap.
Kamijou menggertakkan giginya.
…Dia tidak punya kesempatan.
Apa yang akan dia lakukan dengan menyerang secara gegabah? Dia sebelumnya pernah melawan Iblis Agung Coronzon di Inggris. Lengan kanan dan seluruh tubuhnya langsung hancur saat itu.
Imagine Breaker… tidaklah cukup.
Kamijou mendengar suara langkah di kisi-kisi logam, bukan aspal.
Iblis Agung Coronzon pasti menyadari ketakutan dan kebingungan yang ditimbulkan oleh langkah kaki itu karena senyum geli mengembang di wajahnya.
“Kenapa kau baru melakukan ini sekarang? Kita sudah membereskan ini sewaktu di Inggris!”
“Kenapa?”
Coronzon mendengus.
Hal itu berubah menjadi tawa mengejek.
“Dari semua hal, kau malah menanyakan tujuan dan niatku?! Kamijou Touma, apa kau ingin penjelasan serupa tentang bagaimana kau bisa hidup kembali? Kau tidak kembali dari neraka karena kau dengan tenang menyelesaikan hal-hal di daftar tugas!! Kau mencari kehidupan karena keadaan hidup itu alami bagimu dan kau tak pernah mempertanyakannya. Begitu pula denganku! Sejak awal aku selalu begitu!!”
“Jadi kau benar-benar mau membuat banyak orang menangis hanya karena kau tidak punya alasan untuk berhenti?!”
“Aku selalu berpegang teguh pada keyakinanku, apa pun yang terjadi.”
Coronzon mengatakannya dengan entengnya.
Seperti seseorang yang menyenandungkan lagu populer yang diputar terus-menerus di restoran.
“Dekomposisi alami, yakni mengoyak segala sesuatu dan mengembalikannya ke ketiadaan adalah peranku sebagai dispersi. Bagaimana mungkin aku percaya pada diriku sendiri jika aku adalah satu hal di suatu hari dan hal lain di hari yang lain? Kalian makhluk-makhluk kecil tampaknya mampu melakukan itu, tapi mungkin itu hasil dari kehendak bebas kalian yang terlalu besar.”
“…”
“Sisi dirimu itulah yang akhirnya menyiksa Aleister sampai akhir. Yang jelas, akulah yang akan menghancurkan dunia, tapi kaulah yang membuka kotaknya, Kamijou Touma.”
Senyum merekah di wajah Coronzon saat dia mengatakan hal itu.
Dia akhirnya kembali ke dunia luar.
Dia tampaknya tidak dapat menahan rasa gelinya.
“Nilaiku 333 dan maknaku adalah dispersi. Aku berkuasa atas satu garis di pohon agung, namun aku memicu perselisihan dan pengkhianatan untuk menghancurkan ikatan antarmanusia dan menghambat evolusi manusia. Apa kau benar-benar berpikir aku akan berhenti? Setelah aku terbebas, tentu saja aku akan berusaha mencapai tujuan itu dengan setiap detik yang tersedia!!”
“Sensei,” sela Alice Anotherbible.
Dia tampak sangat muram.
Seolah-olah ingin mengatakan perannya sebagai Transenden, yang pada hakikatnya adalah bagian dalam sandiwara sekolah ilahi, dilucuti darinya oleh alarm yang berbunyi dari tempat duduk penonton.
Apakah gadis yang tampak muda itu tengah melihat sesuatu yang tidak dapat Kamijou lihat?
“Kau tak bisa berdialog dengan Iblis Agung Coronzon. Setidaknya, bukan dengan caramu. Dia tak bisa diyakinkan oleh apa yang benar. Dalam pikirannya, segala sesuatu yang berantakan dan semua orang yang menderita akibat kekacauan adalah keadaan paling sehat dan aktif bagi dunia. Dia hanya melihat kebaikan dan kasih sayangmu sebagai racun yang akan mendinginkan dan memperkuat dunia.”
“!!”
“Dan dia memaknai racun itu dengan caranya sendiri. Itu sebabnya kata-katamu tak akan pernah bisa menghentikannya.”
Jadi apakah Kamijou harus bertarung?
Percikan tak kasat mata yang tak terhitung jumlahnya telah ditempatkan di sekelilingnya.
Berdiri di dalam mulut monster yang menganga tidak lebih dari bunuh diri.
Dan kalaupun Kamijou berhasil lolos, dia hanya akan masuk ke ring. Mengalahkan Coronzon adalah masalah yang jauh berbeda.
Dia sedang menghadapi pertarungan melawan makhluk yang lebih tinggi yang dengan mudahnya memaksa Aleister tunduk. Dia tak bisa membayangkan bagaimana harus memulainya, apalagi menang. Melawan atau lari, apa pun yang dia coba sepertinya hanya akan merugikannya.
Tapi.
“Aku tidak mau mati…”
Meski begitu, bibir Kamijou Touma gemetar.
Jadi dia memaksakan kata-kata itu keluar melalui mulutnya yang tertutup rapat.
“Aku tidak mau mati lagi!! Nyawa ini kudapat berkat diselamatkan dari neraka, jadi aku tidak mau menyerahkannya begitu saja!!”
Iblis Agung Coronzon menyeringai, tapi tidak jelas apakah karena Kamijou bersikap pengecut, atau karena kata-kata Kamijou yang kosong dan tidak berbobot.
Tapi faktanya, Kamijou Touma tidak mati.
Gruuu!!
Ada sesuatu yang menembus ruang itu dalam garis lurus.
Gempa ini menghancurkan daerah antara Kamijou dan Coronzon.
Itu berarti serangan itu tidak diarahkan ke Coronzon. Apakah ini membersihkan rute dengan sengaja memicu ranjau tak kasat mata yang tersebar di sekelilingnya?
(Beam… air mata? Tidak mungkin!!)
“Bagus. Akhirnya kau punya sikap yang tepat, Kamijou Touma.”
“Ha ha. Yah, apa kematian telah meredam semangat membaramu?”
Nephthys.
Dan Niang-Niang?
“Kau tak boleh menyia-nyiakan hidupmu. Kulihat kau akhirnya sampai pada jawaban paling sederhana yang tampaknya tak seorang pun di dunia nyata mampu pahami, Kamijou Touma.”
“Aku lebih suka versi dirimu yang ini daripada kecerobohanmu yang aneh. Jauh lebih menenangkan bagi kami yang menyelamatkanmu.”
Dewa Sihir.
Mereka bukanlah pihak baru dalam pertempuran ini.
Mereka jelas-jelas memihak Kamijou dan mengambil posisi untuk melindunginya.
Kamijou menatap dengan kaget.
Apa mereka baru saja bilang bahwa mereka akan menyelamatkannya?
Dari situasi ini?!
“Hei, tunggu dulu. Kau tidak punya kewajiban untuk membantuku keluar dari masalah ini!!”
Mereka bahkan tidak berbalik.
Para Dewa Sihir menghadapi Iblis Agung Coronzon dengan cara yang lebih santai, tapi mereka juga tak tergoyahkan.
Meskipun mereka memiliki pemahaman yang lebih baik tentang situasinya ketimbang Kamijou.
Tapi mereka masih berbicara dengan tegas.
“Ya ampun. Apa kau lupa kalau aku Nephthys, adalah dewa?”
“Dan aku Niang-Niang. Bagaimana kalau kau biarkan kami mengambil alih sekali saja? Kau mati dan hidup kembali, tapi kau tidak menjadi Dewa Sihir. Itu artinya kau bukan siapa-siapa. Hidup atau mati, kau hanyalah manusia biasa. ...Dan orang biasa tidak perlu berurusan dengan orang-orang menjijikkan seperti makhluk itu. Monster hanya bisa bisa dibunuh oleh monster lainnya.”
Alice terdiam sejenak.
Tapi dia akhirnya membuka mulutnya.
“Si gadis akan pergi bersama Sensei.”
“Ide bagus. Akan lebih aman kalau dia menyimpan kartu trufnya. Sejujurnya, kalau Kamijou Touma yang berhati lembut kabur sendirian, aku agak berekspektasi kalau dia akan segera kembali. Jadi, pergilah dan antar dia ke pintu keluar, monster kecil. Tapi kalau kau biarkan dia mati, maka aku akan memburumu.”
“Hei, berhenti memutuskan segalanya untukku!”
Nephthys memberikan jawaban sederhana atas protes Kamijou.
“Mempertaruhkan nyawamu sendiri memang baik, tapi kalau kau tumbang di sini, siapa yang akan menyelamatkan gadis itu?”
Baru saat itulah Kamijou ingat.
Itu benar.
Dia dan Alice bukan satu-satunya orang di sini.
Ada Transenden roboh di depan matanya saat mencoba memberi tahu Alice tentang ancaman itu.
Vidhatri.
Jika dia masih hidup, maka Kamijou tak bisa meninggalkannya begitu saja di sini. Jika semua orang di sini mencoba melawan dan musnah, tidak akan ada yang tersisa untuk membantunya. Maka dia juga pasti akan dibunuh oleh Coronzon.
Setelah mengingatkan Kamijou tentang tanggung jawabnya, Nephthys berbicara dengan ramah.
“Pastikan dia berhasil lolos.”
“…Terima kasih!!”
Tentu saja, ini hanya alasan. Sebuah ritual yang digunakan untuk membebaskan Kamijou dari rasa bersalahnya dan memungkinkannya bertindak bebas.
Nephthys biasanya bertindak sangat tidak bertanggung jawab, tapi di sini dia benar-benar tampak seperti dewa.
“Aku punya pertanyaan.”
Seseorang berbicara.
Iblis Agung Coronzon sedang tersenyum.
“Alasan logis apa yang kumiliki untuk membiarkan mereka pergi setelah kalian mengadakan rapat strategi tepat di depanku? Tidak ada yang lebih menantang daripada mundur ketika berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan!!”
Sesuatu yang baru muncul.
Kali ini, bukan lagi manusia, melainkan seekor anjing golden retriever.
Anjing itu berbicara bahasa manusia.
“Ke bawah!!”
Terdengar suara keras setelahnya.
Tangan kecil Alice Anotherbible telah merobek sebagian kisi-kisi logam di bawah kaki mereka. Kamijou, menggendong Vidhatri, dan Alice tanpa ragu melompat turun ke atap kereta bawah tanah yang melewati terowongan di bawah.
Dampaknya...
Guncangan terus-menerus. Tergelincir ke samping. Tapi entah bagaimana Kamijou berhasil memegang atap.
Dia tampaknya tidak terkena percikan-percikan itu. Percikan-percikan itu mengelilinginya dari segala arah, tapi sepertinya percikan itu hanya menyebar di atas tanah.
“Sepertinya kita berhasil selamat.”
Anjing golden retriever itu ada bersama mereka.
Siapa namanya tadi? Apa pun namanya, anjing lucu itu ternyata ada hubungannya dengan keluarga Kihara yang terkenal itu.
Tapi sekarang bukan saatnya mengkhawatirkan hal itu.
Kamijou mengerang sambil menyesuaikan pegangannya pada Vidhatri yang terkulai lemas di atas atap kereta. Hanya itu yang bisa dia lakukan.
“Aku sudah susah payah hidup kembali... dan yang bisa kulakukan cuma kabur? Sialan.”
“Bertahan hidup saja sudah merupakan sebuah pencapaian,” kata si anjing. “Setidaknya, kau telah membalikkan ekspektasi si Coronzon.”
“…”
“Sialan,” umpat Kamijou sekali lagi. “Aku tidak mau menyerah di sini.”
Kereta api itu sedang melaju.
Robekan kecil ini memberinya awal yang baru.
Kamijou Touma, Alice Anotherbible, dan yang lainnya telah pergi.
Yang tersisa hanyalah Dewa Sihir Nephthys dan Niang-Niang serta Iblis Agung Coronzon.
Makhluk-makhluk tingkat tinggi saling berhadapan saat salju merah turun di sekeliling mereka.
“Oh, benar.”
Orang pertama yang berbicara adalah Nephthys, si cantik berbalut perban berambut perak dan berkulit coklat.
“Aku akan membunuhmu di sini, tapi aku ingin bertanya sesuatu padamu terlebih dahulu.”
“Hoi, aku di sini bukan untuk memenuhi permintaan terakhirmu. Aku berencana membunuh miliaran orang setelah ini. Aku tidak mau mengurusi orang satu-persatu. Itu hanya membuang-buang sumber daya.”
“Bukan itu maksudku. Apa manusia itu masih ada di dalam dirimu? Atau sudah hancur total?”
“Apa kau pikir Iblis Agung sepertiku mau repot-repot menggunakan sandera yang menyedihkan?”
“Bukan, bukan itu. Aku cuma ingin tahu apakah aku harus merasa sedikit bersalah setelah membunuhmu.”
Dewa itu mengatakannya dengan lugas.
Tentu saja.
Dewa Sihir tidak terpengaruh oleh gelar Iblis Agung. Sama seperti saat pertempuran mereka sebelumnya di Inggris.
“Yang jelas, kami akan membunuhmu,” kata Niang-Niang, sambil menyembunyikan mulutnya di balik lengan longgar gaun Cina yang telah dimodifikasi.
Tapi dia tidak tersenyum.
Tidak sekarang.
“Ini mungkin terdengar aneh karena datang dari Dewa Sihir yang rela mati demi mencapai tujuan, tapi seharusnya kau biarkan persoalan ini berakhir setelah kau kalah terakhir kali. Mengungkitnya kembali hanya akan buang-buang waktu.”
Setetes air mata mengalir dari mata kanan Nephthys. Air mata yang luar biasa besar.
Sambil tertawa dan berbicara.
Mungkin mudah untuk melupakannya karena dia terlalu kuat, tapi pertempuran bukanlah keahlian wanita cantik yang diperban itu. Inilah sifat terbaiknya sebagai Dewa Sihir Mesir.
“Aku akan menangis untukmu, Niang-Niang.”
Air mata menyebar.
Dengan kata lain, peningkatan kekuatan.
Kekuatan utama Dewa Sihir ditingkatkan lebih jauh oleh Dewa Sihir lainnya.
Mendorong, meningkatkan, memoles, melipatgandakan. Tak satu pun kata-kata itu cukup untuk menggambarkannya.
Ini benar-benar berbeda dengan pengalaman bermain mereka di asrama pelajar.
“Hal yang sama berlaku untuk Aleister dan Coronzon.”
“Kalian sudah mencoba ini beberapa kali, jadi bisa dibilang sejarah sudah membuktikan kesia-siaannya. Mengungkitnya kembali tidak akan berakhir baik untuk kalian.”
Tiba-tiba, semua ekspresi menghilang dari Coronzon.
Wajahnya tampak seperti topeng Noh, dan kata-kata terkumpul di mulutnya.
“Mayat yang menolak terdekomposisi. Dewa palsu yang bangkit dari manusia, apa hanya ini yang bisa kalian capai?”
“Hah?”
“Bukan apa-apa,” gumam Coronzon, sudah kembali pada dirinya sendiri.
Dia tidak menjawab pertanyaan Niang-Niang.
Apa yang dikatakan Coronzon cukup sederhana.
“Ngomong-ngomong, sudah berapa banyak yang kau tahu? Harus menjelaskan berulang-ulang dari awal itu menyebalkan, jadi aku tidak mau repot.”
“Kau tanya tentang pengetahuan dari Dewa? Sungguh, apa hak iblis untuk menilai kami? Kamilah yang mengujimu, dasar bodoh.”
“Begitu ya. Jadi kau tidak mengerti sama sekali. Kalau begitu akan kubuat simpel, agar sel otakmu yang satu itu pun bisa memahaminya.”
Crakk!!
Bunyi percikan itu berasal dari sekitar Nephthys dan Niang-Niang.
360 derajat mengelilingi mereka.
“Ini bukan ladang ranjau. Ini rahang menganga yang dipenuhi taring yang tak terhitung jumlahnya.”
Berada di atas kereta bawah tanah saat tiba di stasiun kemungkinan besar akan menyebabkan kepanikan dan mereka akan mendapat masalah karena naik tanpa membayar. Kereta itu kebetulan berhenti sebelum stasiun berikutnya karena salah satu sinyal menunjukkan adanya masalah kecil, jadi kelompok Kamijou memanfaatkan kesempatan itu untuk turun dari atap. Rasanya beruntung... tapi bagi Kamijou Touma, itu bukan pilihan. Itu akibat dari betapa parahnya kerusakan Academy City.
Turun dari atap merupakan tantangan tersendiri saat menggendong seseorang yang pingsan. Kamijou sedang berjalan sampai ujung terowongan dengan Vidhatri di punggungnya ketika anjing golden retriever itu bertanya. Sudah jelas bahwa anjing itu berbicara bahasa manusia.
“Kau mau ke mana?”
“Fiuh. Distrik 12. Bekas konsulat Bridge Builders Cabal.”
Kamijou tidak bisa membiarkan Iblis Agung Coronzon membunuhnya. Tapi apa yang sebenarnya bisa dia lakukan? Coronzon baru saja dikalahkan terakhir kali di akhir pertempuran yang menyeret seluruh dunia ke dalamnya. Apakah dia harus melalui itu lagi? Academy City sudah rusak dan perbaikannya lambat, jadi pertempuran sebesar itu bisa dengan mudah menghancurkan seluruh kota menjadi tumpukan puing.
Sebuah pintu darurat mengarah ke tangga sempit menuju permukaan. Salju merah yang menyeramkan namun mempesona terus turun. Tapi, napasnya tetap putih seperti biasa. Sambil menyaksikan pemandangan aneh itu, Kamijou mengeluarkan ponselnya dari saku dengan Vidhatri yang masih di punggungnya.
Saat itu pukul 4 sore, cuaca bersalju, dan suhunya -3 derajat.
(Percuma. Aku tidak tahu siapa yang aman untuk dihubungi.)
Dia punya alat komunikasi, tapi dia ragu menggunakannya. Karena secara resmi dia masih dianggap mati. Menghubungi teman sekelas atau teman hanya akan menimbulkan kepanikan, dan Anti-Skill sudah pasti mustahil. Dia baru saja lolos dari kejaran orang-orang Bio Secure yang menggunakan penyembur api. Waktu berlalu begitu cepat.
“Sensei, ayo kita ke konsulat. Kau bisa berpikir dan menelepon seseorang setelah istirahat.”
“Kau benar…”
Ya, konsulat.
Dia ingin waktu untuk menenangkan diri dan berpikir. Dia bahkan tidak bisa memikirkan ide apa pun saat ini. Kemunculan Iblis Agung Coronzon telah mengubah segalanya secara drastis, tapi dia masih harus pergi ke konsulat Bridge Builders Cabal di Distrik 12.
Napasnya putih.
Dan itu belum semuanya.
“Ngomong-ngomong, sebenarnya apa salju merah ini?”
Itu mengganggunya.
Sepertinya itu bukan perbuatan Coronzon. Dia hanya mengulurkan tangan kanannya dengan Vidhatri ditopang lengan kirinya dan membiarkan sebagian cairan mendarat di ujung jarinya, tapi kristal es itu hanya meleleh menjadi setetes air seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda akan dinetralkan. Kalau begitu, apakah ada kotoran aneh di udara yang tercampur saat kristal es itu mengeras? Dia pernah mendengar tentang hal-hal seperti kabut asap dan pasir kuning yang mengubah warna salju. Mungkin itu terkait dengan gas dan debu yang disebabkan oleh peluru dan bahan peledak yang digunakan dalam semua pertempuran skala besar baru-baru ini.
Ketika salju mencair di ujung jarinya, tetesan yang dihasilkan tampak bening. Jadi, sepertinya bukan darah atau cairan merah lain yang membeku menjadi salju. Itu poin tambahan yang mendukung teorinya bahwa ada pengotor di dalam kristal.
…Kalau begitu, betapapun mempesonanya salju merah itu, mungkin salju itu tidak terlalu bersih. Apa arti warna merah? Lagipula, ini adalah salju kota yang pasti penuh asap knalpot.
“Alice, jangan makan salju ini ya.”
“Ehhh?!”
“Kenapa kau syok?! Kan masih banyak makanan enak lainnya!”
“Ugh, baiklah.”
“Kau juga, anjing.”
“Kukira kau bisa mengharapkan sedikit lebih banyak kecerdasan dan romansa dariku.”
Bagaimanapun, berjalan di tempat terbuka sepertinya bukan ide yang bagus. Kamijou dikenal sebagai mayat hidup dan menggendong Vidhatri yang lemas di punggungnya membuatnya tampak seperti sedang melakukan kejahatan. Belum lagi gadis kecil dan anjing besar yang tidak diikat. Rombongan mereka praktis meminta untuk dibawa ke ruang interogasi.
“Eits…”
Seseorang sedang menari di jalan di depan.
Dia tampak seperti… anak SMP, mungkin?
Dia membawa payung lipat kecil untuk melindungi dirinya dari salju merah dan telepon genggamnya disandarkan di tepi semak-semak, jadi dia pasti mengira cuaca yang tidak biasa ini merupakan suatu peluang.
Apakah sudah cukup larut sehingga sekolah sudah bubar?
Tapi, karena ini adalah hari pertama kembali setelah libur musim dingin, mungkin sebagian besar sekolah hanya libur setengah hari.
(Aku bahkan tidak tahu kapan sekolah berakhir. Aku semakin menjauh dari kehidupan yang damai…)
Itu masalah hidup atau mati. Setidaknya untuk anak SMA.
Salju menumpuk dan ini bukan Natal. Mungkin lalu lintasnya tidak terlalu ramai dan mungkin semua kekacauan itu menghalangi salju untuk dibersihkan, tapi jalanan mulai tertutup salju merah dan bahkan kereta api harus berhenti cukup sering dan tidak teratur. Tidak banyak orang yang ingin bepergian di hari seperti ini, tapi sebagai seseorang yang telah resmi meninggal, Kamijou tetap ingin berusaha sebisa mungkin agar tidak terlihat. Itu berarti menghindari orang yang melompat-lompat dan menari di trotoar tanpa mempedulikan rok pendeknya dan bahkan berjalan ke tengah persimpangan besar dan perlahan berputar penuh untuk mendapatkan foto 360 derajat. Energi ekstrover gadis ceria itu mendorong Kamijou Touma menjauh, memaksanya ke jalan-jalan samping yang sempit. Sebagai tipe orang yang lebih suka duduk di kursi paling pojok di kereta bahkan ketika tidak ada orang lain di dalamnya, dia sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkannya. Meskipun dia agak jijik pada dirinya sendiri karena hal itu tidak terlalu mengganggunya.
“Aku benar-benar tidak ingin terbiasa berjalan-jalan di tempat gelap.”
“Jangan khawatir. Kalau terus melakukannya, nanti juga terbiasa.”
Saran anjing itu tidak membantu memperbaiki suasana hatinya.
Dia harus melakukan sesuatu sebelum hal itu terjadi.
Tapi, meskipun dia memilih jalan yang lebih sepi, hari masih siang di hari kerja. Dia menggendong seorang gadis yang tak sadarkan diri di punggungnya, tapi tak seorang pun menghentikannya. Apakah Anti-Skill tidak menjalankan tugasnya? Tidak masalah selama tidak ada yang menyadari betapa seriusnya hal itu, tapi ini bisa menjadi gawat jika ada orang jahat yang menyadarinya.
Tujuan mereka adalah Distrik 12. Itu adalah distrik paling religius dan terletak di sisi timur kota.
Mereka harus mengambil jalan memutar yang lebar di sekitar Distrik 23 karena area tersebut umumnya terlarang, jadi akhirnya perjalanannya menjadi sangat jauh.
“Fiuh.”
Waktu telah berlalu cukup lama saat mereka tiba. Saat itu baru lewat pukul 5 sore atau lebih. Di bulan Januari, matahari seharusnya sudah terbenam saat itu, tapi hari ini awan menghalanginya.
Mereka telah tiba di konsulat yang sudah dikenalnya… tapi.
Itu tidak dapat dikenali lagi.
Sepertinya runtuhnya lebih parah daripada terakhir kali Kamijou melihatnya. Apakah ada tembakan nyasar yang mengenainya?
Beberapa menara telah runtuh dan taman tertutup puing-puing dan tanah hitam, dengan taburan salju merah mulai menutupinya. Lebih dari separuh bangunan yang lebih besar dari sekolah rata-rata telah hancur. Dari kelihatannya, air hujan pasti sudah masuk. Tidak banyak ruangan yang masih bisa digunakan, tapi memiliki atap di atas kepala tetap sangat berarti.
“Bolehkah aku masuk?” tanya Kamijou pada Alice tanpa berpikir.
Itu membuat Alice memekik kegirangan. Mungkin karena Kamijou masih menganggap ini rumah Alice?
Tapi…
“D-dingin sekali di sini…”
Kamijou menggigil. Di luar memang lebih dingin, tapi dia merasakannya lebih parah saat berada di dalam. Mungkin akal sehatnya mulai pulih.
Sofa di sudut lobi yang luas itu begitu mewah hingga dia ragu apakah sofa itu memang untuk digunakan atau hanya hiasan, tapi dia tetap membaringkan Vidhatri di atasnya. Bahkan itu pun sulit karena ada boneka aneh yang menempel di punggungnya. Bagaimana cara melepaskannya? Dan rasa kedinginannya semakin parah. Tidak, mungkinkah dia telah menerima kehangatan dari wanita cantik berkulit cokelat di punggungnya selama ini? Sungguh cara yang tak pantas untuk memanfaatkan seorang cewek muda. Meskipun tidak ilmiah, Kamijou takut dia telah menerima semacam hukuman ilahi.
Entah bagaimana mereka telah tiba di konsulat, tapi sekarang dia harus memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya.
“U-untuk saat ini, kita perlu melakukan sesuatu untuk Vidhatri yang terluka. Dia masih belum sadar, tapi apa dia baik-baik saja? Kalau kotak P3K saja tidak bisa membantu, kita tidak bisa berbuat apa-apa.”
Pikiran pertamanya adalah dokter berwajah katak.
Ya, seorang dokter.
“…”
Tujuan utama rencana awalnya adalah mencegah Academy City mengejarnya sebagai mayat hidup. Jadi, dengan melarikan diri ke konsulat milik negara lain(?) di mana orang dewasa tidak bisa menyentuhnya, dia berharap bisa mengulur waktu untuk memanggil dokter berwajah kodok itu dan menerima konfirmasi profesional bahwa Kamijou Touma masih hidup. Dan dengan statusnya sebagai orang hidup yang dikonfirmasi, dia secara otomatis akan menyelamatkan rumah Index dan juga Othinus.
Dia tidak tahu apakah negara Condro — apalah itu — masih secara resmi mengakui konsulat tersebut, tapi pengaruh internasional sebenarnya tidak terlalu penting. Dia hanya butuh orang-orang dewasa yang berkuasa di Academy City untuk ragu melakukannya.
Namun, kemunculan Iblis Agung Coronzon telah menghancurkan rencana itu. Pokoknya hancur total.
Terus terang, Coronzon sama sekali tidak peduli dengan konsulat. Jika dia tidak menyukai kelompok Kamijou, dia akan langsung menyerbu dan membunuh mereka. Lagipula, dia bersedia menyatakan dirinya sebagai orang yang menghancurkan ikatan manusia dan menghambat evolusi mereka. Dalam skala yang lebih besar, ada kemungkinan nyata dia akan melakukan sesuatu terhadap Academy City secara keseluruhan. Jika sampai itu terjadi, maka kelompok Kamijou akan dibunuh bersama dengan seluruh kota.
(Serius, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana cara menghentikan Coronzon, aku tetap ingin membuktikan kalau aku masih hidup agar bisa bergerak di kota ini dengan lebih mudah... tapi apa aku punya waktu untuk jalan memutar seperti itu?)
Apa yang sedang dilakukan Index sekarang? Juga Othinus dan kucing belacu-nya. Di luar sedang di bawah titik beku. Kamijou tidak bisa meninggalkan mereka di luar sana, di tengah udara dingin dan salju merah, dan selalu ada kemungkinan mengerikan mereka akan bertemu dengan Coronzon.
“Kita tak boleh diam saja. Kita perlu memutuskan di mana harus memulai…”
Tepat saat dia mengatakan itu, dia mendengar suara berisik aneh dari atas.
Apakah ada seseorang di sana?
“Alice, minggirlah dari hadapanku.”
“Sensei, tak perlu khawatir.”
Hm? Alice tampak sangat yakin akan hal itu.
Kamijou yang gugup merasakan ada yang tidak beres.
Itu berasal dari indra penciumannya.
Apakah itu aroma yang familiar dari beberapa bumbu kimia biasa?
Lalu seseorang muncul dari lantai dua. Wanita cantik yang mengenakan pakaian dalam bersayap lebar itu sedang berjalan sambil mengaduk mi instan dengan garpu perak.
“Hm? Dik, kenapa kau di sini?”
|Bologna sebelum-sebelumnya memanggil kamijou dengan 少年 (Shounen) dan sekarang menjadi 坊や (Bouya) yang artinya sama-sama “anak lelaki muda” namun memiliki kesan yang lebih lembut.
Dia adalah Bologna Succubus, salah satu Transenden.
Bagi Kamijou, konsulat Bridge Builders Cabal tampak seperti markas rahasia kejahatan, tapi bagi Succubus Bologna, itu adalah rumah sementara di negeri asing. Sekalipun runtuh, mungkin lebih baik kembali ke sini.
Kamijou memiringkan kepalanya.
“Apa yang kalian para Transenden normal lakukan?”
“Normal? Kau anggap begitu ya, dik. Yah, mungkin itu tak terelakkan karena kau sudah sering bergaul dengan Alice yang abnormal.”
Berdiri diam, wanita pirang yang mengenakan pakaian dalam itu menatap Kamijou dengan jengkel sambil menyantap mie cup Jepangnya. Mungkin karena dia orang Barat, jadi Kamijou tidak mendengar suara seruputan apa pun saat wanita itu menyantap mienya.
“Mengerikan. Kau seperti makan secangkir penuh garam,” kata si golden retriever.
“Wah, anjing ini terasa seperti dari negeri dongeng. Seperti obat mujarab di saat lelah.”
Melihat pola makannya yang menyedihkan ini menunjukkan bahwa Good Old Mary dan H.T. Trismegistus tidak ada di sini karena Good Old Mary cukup bangga dengan keahlian memasaknya dan Trismegistus yang tegas dan sangat disiplin dalam hal tata krama. …Lagi pula, Kamijou lebih suka dengan mie instan yang siap dalam 3 menit dan habis dalam 5 menit daripada makan malam lengkap yang memakan waktu lebih dari dua jam dari hidangan pembuka hingga hidangan penutup.
“Sekitar setengah dari kami pingsan saat mencoba menahan Aleister ketika dia tiba-tiba menjadi gila. Vidhatri adalah salah satunya. Tapi kami berpencar setelahnya. Lagipula, rencana besar kami untuk menyelamatkan dunia dengan CRC yang dibangkitkan kembali tidak berhasil. Selain itu, organisasi menjadi rapuh ketika kehilangan pilar utamanya.”
“Aleister yang melakukannya?” tanya Kamijou karena dia mengira Coronzon yang bertanggung jawab.
Succubus Bologna mendesah pelan.
“Ada yang salah dengannya. Seharusnya tidak ada manusia biasa yang bisa mengalahkan sekelompok Transenden. Mungkin karena dia Crowley, yang dikenal sebagai pengecualian di antara pengecualian.”
“Tunggu “
Kamijou meminta waktu jeda.
Ada yang tidak beres.
“Jika Aleister sendiri bisa memecahkan masalah soal Transenden, Anna Sprengel dan lainnya, sejak awal dia tidak perlu bergantung pada Kingsford, kan?”
“Benar juga,” kata si golden retriever. “Kalau dipikir-pikir lagi, mayat yang diawetkan itu pilihan yang aneh bagi Aleister. Tidak biasanya dia bergantung sepenuhnya pada orang lain seperti itu.”
“Pembicaraan tentang mayat ini jauh lebih menyentuh hati daripada sebelumnya… Tapi bagaimanapun, kedengarannya seperti dia menemukan sesuatu yang berbahaya, memodifikasinya, dan memaksanya bergerak.”
“Dik, apa kau lupa?” Bologna Succubus terdengar jengkel. “Aleister bukan manusia biasa. Dia telah melewati batas, sama seperti kami. Tidak, rasanya lebih seperti dia sedang menggunakan kekuatan Iblis Agung Coronzon.”
“…”
“Aku ragu dia bisa menggunakan semua kekuatan itu, jadi mungkin ada sesuatu yang menyebabkan dia kehilangan kendali dan menerobos pembatasnya?"
“Seperti apa?”
“Kematian Kamijou Touma dan segala hal yang berkaitan dengan Anna Kingsford. Kau tidak mau bilang kalau kau sudah lupa, kan?”
Dengan kata lain.
Apakah semuanya kembali ke situ?
Mengumpulkan dan menggunakan kekuatan itu saja sudah cukup untuk mengalahkan sekelompok Transenden. Lalu apa yang bisa dilakukan Iblis Agung Coronzon sendiri setelah dia kembali memegang kendali?
Succubus Bologna mengangkat bahu.
“Bridge Builders Cabal tidak lagi berfungsi sebagai cabal sihir.”
“Begitu ya…”
“Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada anggota lainnya. Beberapa mungkin masih bersembunyi di Academy City, tapi aku yakin sebagian besar Transenden sudah pergi keluar karena alasan mereka berada di sini sudah hilang.”
“…”
Apakah itu sebabnya Bologna Succubus menyebut Kamijou sebagai “Dik”?
Alice Anotherbible tidak lagi menjadi prioritas utamanya.
Setelah masternya secara tidak sengaja membunuh Kamijou Touma di malam hari di sekolah dan kehilangan kesadarannya. Para Transenden normal pasti kecewa ketika Alice bahkan tidak melirik mereka setelah semua pengabdian yang telah mereka lakukan.
Alice Anotherbible telah kehilangan karisma kekerasannya.
Dan apa yang terjadi ketika mereka juga mengetahui bahwa memanggil CRC untuk menyelamatkan dunia hanyalah mimpi belaka?
“Makan roti keras bikin mulutku sakit☆ Hei, succubus cabul, bukannya ada makanan kaleng? ...Apa yang mereka lakukan di sini?”
Orang lain turun dari lantai dua.
Baginya, Alice Anotherbible hanyalah salah satu anggota “mereka”.
Siapa sebenarnya gadis ini? Kamijou cukup yakin dia belum pernah melihatnya sebelumnya. Si pirang tertutupi sepenuhnya oleh sesuatu yang mungkin merupakan baju anti-ledak tembaga atau mungkin juga sebuah iron maiden.
Keduanya mulai berbincang tanpa perkenalan apa pun.
“Ada yang terluka ya. kita harus melakukan sesuatu pada Vidhatri. Ugh, repotnya kalau tidak ada Good Old Mary. Kenapa yang tersisa harus Blodeuwedd the Bouquet sih? Dia kan tidak berguna.”
|Blodeuwedd the Bouquet. Pengejaan jepangnya adalah Hanataba no Burodaiuezu. Atau Blodeuwedd si buket.
“Kyahah. Kalau menggerutu bisa menyembuhkan lukanya, pasti sudah jadi pertunjukan hebat. Tapi kalau tidak, kita harus cari solusi dengan orang-orang yang ada di sini, dasar iblis jalang.”
…Suasana tegang di antara keduanya mengganggu Kamijou, tapi merekalah yang membawa kotak pertolongan pertama dari dalam gedung.
Kedua Transenden itu membuka perlengkapan itu dan berdebat sambil membuka buku petunjuk yang terdapat dalam bungkusan kedap air beserta obat-obatan dan perban.
“Pertama, pastikan pakaikan dengan benar☆ Mulailah dengan mendisinfeksi luka dengan alkohol.”
“Dasar bego. Lukanya harus dicuci dulu dengan air, baru didisinfeksi.”
“Pembengkakan ini karena memar, bukan pendarahan dalam. Artinya kompres saja sudah cukup.”
“Itu kompres panas. Apa kau mau memperparah gejalanya? Kau butuh kompres dingin, dasar sampah.”
“Abaikan si bodoh satu ini. Nah☆ tinggal ikat perbannya erat-erat untuk menghentikan pendarahannya.”
“Kalau mau pendarahannya cepat berhenti, kasih celah udara dong. Ikat dengan longgar agar udara bisa masuk, dasar kumbang tanah.”
Ditinggal sendirian di sofa, Vidhatri mulai mengerang dalam tidurnya.
Mereka berdua hampir saja bermusuhan satu sama lain.
Bologna Succubus dan... Blodeuwedd the Bouquet, ya? Keduanya benar-benar bersitegang. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa mereka tinggal bersama di sini.
“Mereka pasti teman baik.”
“ “Hah?” ”
Komentar Kamijou membuatnya mendapat tatapan tajam yang cukup serius. Ucapan "Hah?" dari seorang gadis sungguh menakutkan.
Kamijou tidak bisa mengatakan klaim mana yang benar. Dia diam-diam mencari di internet dengan ponselnya dan menemukan banyak persetujuan di kedua sisi. Lucunya, terlalu banyak pendapat juga bisa jadi masalah. Dia memutuskan untuk berasumsi bahwa tubuh si Transenden itu cukup kuat untuk menanggung apa pun yang mereka berdua lakukan. Atau tunggu… apakah tubuh Transenden memang sekuat itu?
“Sial, seharusnya aku tidak tinggal di Academy City. Aku tahu aku punya kebiasaan berdiam di tempat-tempat yang tak kusuka, tapi aku selalu menyesal karena ragu saat sudah waktunya untuk pergi☆”
Blodeuwedd the Bouquet mengeluh pelan dan Kamijou menyimpulkan bahwa ini benar-benar pertama kalinya dia melihatnya.
Dan Succubus Bologna pada umumnya ramah dan ceria, jadi tidak biasa melihatnya begitu membenci seseorang. Dia tidak tampak seperti orang jahat bagi Kamijou, jadi apa yang membuat Bologna Succubus begitu membencinya?
Kamijou bertanya dan Bologna Succubus justru bereaksi dengan sangat jengkel.
Malahan, Bologna Succubus menempelkan telapak tangannya ke dahi.
“Aduh dik... kau benar-benar buruk dalam menilai orang lain. Kau ini tipe orang yang rela ditipu untuk bisa menghancurkan segalanya.”
“Oh, ayolah. Ha ha. Meskipun gadis kecil sepertiku merencanakan hal jahat, masuknya aku tetap lucu, kan—”
“Dia adalah salah satu kubu Pembunuh yang ingin membunuhmu untuk mengendalikan Alice.”
Rupanya ini jauh lebih serius daripada yang dipikirkan Kamijou.
…Dan gadis itu sendiri memegangi pipi sambil menatap Kamijou.
Hm? Dia sangat berbeda dengan cerita yang Kamijou dengar. Dan ada apa dengan tatapannya itu?
“Tapi... setelah bertemu langsung dengannya, dia sama sekali tidak seperti yang kubayangkan. Kukira dia adalah seorang bajingan yang sombong, kayak sembarangan menekan alarm kebakaran dan meledakkan tabung pemadam kebakaran. Tapi ternyata dia lebih seperti, yah, anak yang dijauhi dan dikucilkan yang duduk sendirian di pojok kelas. Ahh☆ Aku, Blodeuwedd the Bouquet, adalah Sang Transenden yang melindungi mereka yang tak dicintai. Dan aura negatif yang terpancar darinya sudah lebih dari cukup. Hah, ah. Oh, aku tak tahan. Kyahah, yang tak dicintai, lompatlah ke pelukanku!!”
“Aku tak suka dengan pernyataanmu!!”
Apa Blodeuwedd adalah tipe yang menghina orang saat berusaha bersikap baik?! Kamijou merinding dan berteriak pada gadis kurus dengan zirah tebal yang terbuka seperti pintu ganda. Dan apa dia cuma memakai celemek dan selebihnya telanjang bulat?!
Celemek telanjang itu nyata!!
Aura depresi yang memancar dari Kamijou kemungkinan besar akibat dari kematian, kebangkitan, diperlakukan seperti zombi, ditolak Aleister karena alasan yang membingungkan, dan kemudian Iblis Agung Coronzon yang telah bangkit mencoba membunuhnya. Jika dia membiarkan dirinya dibawa ke tempat perlindungan yang menenangkan itu, dia tahu dia tak akan pernah bisa lagi meninggalkan mantel tebal gadis yang harum itu!!
(Tapi di sisi lain…)
Dia telah meninggal dan hidup kembali, dan sekarang dipandang sebagai zombi. Senang rasanya menemukan beberapa orang yang mau mengabaikan semua itu dan benar-benar mendengarkannya.
Iblis Agung Coronzon.
Kamijou tidak bisa mengabaikan ancaman itu begitu saja, tapi dia membutuhkan lebih banyak pejuang untuk menghadapinya. Dia bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada Dewa Sihir Nephthys dan Niang-Niang setelah dia pergi.
Bahkan mereka bilang akan "mengambil alih" untuknya, bukan mengalahkannya atau menyelesaikan masalah. Sepertinya para Dewa Sihir memilih kata-kata mereka dengan hati-hati.
Kamijou tidak tahu bagaimana akhirnya, tapi sepertinya membiarkan Coronzon bersama mereka bukanlah akhir dari segalanya. Dan jika mereka tidak mengakhirinya, maka Kamijou harus berasumsi bahwa masalah Coronzon masih ada.
Bologna Succubus meletakkan tangan di pinggul dan berbicara.
“Pokoknya, kita harus rawat Vidhatri. Kita harus bawa dia ke ruang lain.”
“Biar aku bantu…” kata Kamijou.
“Pakaiannya harus dilepas, jadi jangan ikut. Sebagai pakar keseksian, aku tak bisa menoleransi ketelanjangan tanpa persetujuan.”
Jika dipikir seperti itu, tidak ada yang bisa Kamijou Touma-chan lakukan.
“Jangan sedih. Aku bisa biarkan kau melihatku telanjang nanti.”
“Bisakah kau berhenti menyimpulkan sesuatu tanpa persetujuan dariku?!”
“Jangan khawatir. Sekalipun semua orang memperlakukanmu seperti serangga kotor, aku akan tetap ada untuk memelukmu☆”
“Aku juga tidak suka dengan masa depan yang seperti itu!!”
Bologna Succubus dan Blodeuwedd the Bouquet mulai berdialog akrab(?) saat mereka memindahkan Vidhatri ke ruangan lain
Lalu si anjing golden retriever mengajukan permintaan dengan suara yang sangat merdu.
“Sebagai seekor anjing yang tubuhnya membutuhkan sejumlah nutrisi agar tetap berfungsi, aku sangat ingin segera diberi makan.”
Apakah dia belum makan?
Namun, konsulat ini bukan rumah Kamijou. Jadi dia enggan mencari-cari makanan tanpa izin.
Dia menatap Alice, dan Alice hanya tersenyum padanya. Rupanya tidak masalah.
Kamijou mulai mencari di bangunan yang setengah hancur.
“Kalau dipikir-pikir... aku tak ingat pernah lihat anjing terakhir kali ke sini. Kayaknya mereka tidak punya makanan untuk hewan piaraan.”
“Tempat yang sangat tidak beradab. Tapi ya begitulah adanya. Apa ada tenderloin ayam?”
“Yang lebih praktis sudah dibumbui, tapi bukankah itu cukup berbahaya? Untuk ginjal misalnya? Kudengar makanan manusia mengandung banyak garam untuk kebanyakan hewan.”
“Tentu saja. Sungguh, hanya manusia yang mampu mencerna garam sebanyak itu dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ikan yang berenang di laut pun lebih terkendali. Rebuslah dalam air untuk menghilangkan semua lemak dan bumbu berlebih. Dan pastikan semuanya matang.”
Betapapun mendesaknya situasi itu, memiliki beberapa pekerjaan yang harus dilakukan membantu Kamijou menenangkan diri.
Atau mungkin tubuhnya hanya dipanaskan oleh uap yang keluar dari panci berisi air mendidih di atas kompor induksi. Tapi, uap itu tidak terlalu menghangatkannya di tengah udara dingin ini.
Berapa banyak yang bisa dimakan anjing besar ini? Kamijou memutuskan untuk menumpuk daging has dalam rebusan di atas piring sampai anjing itu sendiri merasa cukup, lalu meletakkan daging itu dan semangkuk air di lantai, lalu bertanya.
“Apa kau baik-baik saja dalam cuaca dingin ini?”
“Untungnya, aku punya mantel bulu musim dingin. Dan tidak seperti kucing, mantel buluku tahan air. Aw, panas!”
Rupanya, meskipun dia anjing, lidahnya cukup sensitif seperti kucing.
Kamijou sangat perlu melakukan sesuatu untuk mengatasi tubuhnya yang membeku. Anjing itu tampak cukup jinak, tapi apakah dia akan marah jika Kamijou memeluknya untuk menghangatkan tubuhnya?
Lalu Alice berjalan mendekat dan meraih tangan Kamijou.
“Itu, di sana. Kau bisa menghangatkan diri dengan itu, Sensei.”
Sesuatu yang jarang terlihat di Jepang dipasang di salah satu dinding yang retak.
Kamijou, sebagai orang biasa, terbiasa dengan AC di asramanya, jadi menyalakan api unggun di dalam rumah terasa cukup menarik, tapi Alice tampaknya menganggapnya biasa saja. Tentunya tidak bahaya jika apinya dikelola dengan baik dan dipisahkan oleh sekat, bukan?
Dan Jepang juga punya irori.
|Irori adalah perapian tradisional dalam ruangan ala jepang.
“Putar saja katupnya dan keluarkan gasnya!”
“Tunggu, perapian ini tidak membakar kayu cincang?”
Rupanya kayu bakar sebagian besar bersifat dekoratif. Banyak hal yang berevolusi seiring waktu. Bahkan lentera pun menggunakan LED akhir-akhir ini, jadi tampaknya tidak ada yang luput dari medernisasi.
Lagipula, bangunannya setengah hancur, jadi apakah cerobong asapnya aman? Dia khawatir cerobongnya mungkin rusak sebagian atau berlubang atau retak yang akan mengubah aliran asap dengan cara yang merusak…
“Sialan, kalau lihat api, pikiran bisa langsung tenang dan damai. Tidak, gawat. Aku harus hati-hati, jangan sampai aku jadi si Gadis Korek Api... Apa kau tidak bisa memasak ikan atau dango dengan tusuk sate di perapian? Seperti yang kau lakukan dengan irori?”
“Ohh, hangatnya…”
Kamijou berbalik untuk bertanya dan mendengar suara mengantuk di sebelahnya.
Alice pasti tidak merasa puas tanpa mengeringkan setiap bagian pakaiannya yang basah karena dia berdiri menghadap api perapian dan mengangkat roknya.
“Hentikan! Itu tidak senonoh! Ada cowok di sini. Kau harusnya hanya membiarkan orang yang benar-benar kau sayangi melihat isi rokmu!”
“Ehh? Seseorang yang benar-benar si gadis sayangi?”
“Berhenti!!”
Jangan belok ke situ.
Alice juga mengenakan semacam celana ketat putih, tapi apakah benar-benar aman memanaskannya di dekat api? Kamijou tidak tahu banyak tentang bahan-bahan kuno, tapi apakah yang menutupi kakinya adalah bahan non-sintetis ? Dia tidak yakin. Dia agak takut panas akan tiba-tiba melelehkan celana Alice, yang akan menyebabkan tragedi.
Dan saat mereka menghangatkan diri ("Turunkan rokmu!"), seseorang kembali dari bagian dalam gedung: Bologna Succubus dan Blodeuwedd the Bouquet. Mereka kembali bersama... yang berarti Vidhatri tidak perlu mereka temani.
“Apa pengobatannya berhasil?”
“Nyahah, untuk saat ini.”
Blodeuwedd the Bouquet memberikan tanggapan singkat terhadap pertanyaan Kamijou.
Jadi mereka belum sepenuhnya keluar dari masalah itu.
Kamijou merasa gedung berangin ini terlalu dingin untuknya, tapi mengenakan mantel tebal di dalam ruangan pasti terlalu hangat. Gadis kurus bercelemek itu sesekali membuka mantelnya dan mengipasinya agar panasnya keluar sambil menatap Kamijou dengan skeptis.
“Kami punya pertanyaan untukmu.”
“?”
“Apa rencanamu terhadap Iblis Agung Coronzon? Situasinya terlihat sangat buruk, jadi kita harus memainkan kartu truf kita, Alice Anotherbible.”
Pilar utama karisma kekerasan Alice Anotherbible dan keselamatan CRC telah hancur, namun…
Para Transenden berawal dari perkumpulan individu yang ingin melindungi orang-orang yang ingin mereka tolong secara pribadi. Artinya, Bologna Succubus memiliki orang-orang yang ingin ditolongnya, dan Blodeuwedd the Bouquet memiliki orang-orangnya sendiri.
Iblis Agung Coronzon.
Kamijou tidak tahu apa yang akan dilakukannya, tapi masuk akal jika mereka berdua khawatir dengan kemunculan seseorang yang bisa membahayakan semua orang.
Dan mereka khawatir dengan bom besar yang disebut Alice Anotherbible.
Meledakkan lebih dari setengah dunia dalam pertempuran untuk melindungi dunia tidaklah berarti.
Pikiran-pikiran itu tertulis jelas di wajah Blodeuwedd the Bouquet.
“Mungkin sudah saatnya kita susun rencana.”
Anjing itu benar.
Mereka hanya punya sedikit waktu. Tidak melakukan apa-apa dan menghindari masalah sama saja dengan menjerat diri mereka sendiri.
Kamijou mengatur pikirannya.
Dan dengan menarik napas dalam-dalam, dia berbicara.
“Aku akan menyuruh Alice bertarung.”
“Oh,” kata Alice, sedikit melompat karena diangkat dalam percakapan.
“Aku punya firasat kau akan melakukannya,” kata Blodeuwedd the Bouquet, terdengar agak kesal.
Tetapi…
“Masalahnya Alice terlalu kuat, kan? Atau lebih tepatnya masalahnya bukan pada besarnya kekuatannya, melainkan ketidakstabilannya karena kita tidak pernah tahu ke mana dia akan mengarahkan tajinya. ...Jadi, kita hanya perlu meyakinkan kepada dunia bahwa Alice adalah orang baik karena dialah yang menyelamatkan dunia.”
“…”
Penjelasan Kamijou menyebabkan ekspresi cemberut gadis kurus bercelemek itu membeku.
“Benarkah?”
“Iblis Agung Coronzon sedang mencoba menghancurkan dunia. ...Terus terang saja, ancaman yang berlebihan justru membantu kita. Ancaman kecil seperti Perampokan bank atau kutukan mumi akan mengembangkan asumsi publik bahwa tidak harus Alice pun ancamannya bisa diatasi. Kita butuh ancaman yang tak bisa dihentikan siapa pun agar kita bisa memberi tahu seluruh dunia bahwa Alice Anotherbible-lah yang menyelamatkan mereka dan dunia pasti akan kiamat jika bukan karena dia. Benar, kan?”
Untungnya, tidak ada hubungan antara Iblis Agung Coronzon dan Alice Anotherbible. Keduanya merujuk pada sihir gaya Crowley, tapi itu sama sekali bukan hubungan pribadi.
Itu berarti tidak akan dilihat sebagai pihak yang sama yang terpecah antara musuh dan sekutu dan mengadakan pertunjukan.
“Aku mengerti,” kata Bologna Succubus sambil menyeringai.
Bologna Succubus memberikan kritik dan argumen balasan sebagai sekutu. Layaknya seorang sekretaris terampil yang memberikan latihan sebelum debat.
“Tapi apakah semuanya akan berjalan mulus? Manusia memang tak berperasaan. Begitu ancaman itu hilang, mereka mungkin benar-benar lupa bahwa seseorang telah menyelamatkan mereka dan mulai menyerang Alice seolah-olah sebagai tindakan tuntutan pelucutan senjata. Karena pada akhirnya, dia tetaplah ancaman karena mampu melakukan hal itu.”
“Aku paham. Kalau begitu, kita hanya perlu mendukungnya. Dengan dukungan dari seseorang yang mampu mengendalikan kebaikan dan keadilan dunia, perburuan penyihir tidak akan terjadi dan Alice bisa menjadi simbol kemenangan dan perdamaian.”
“Oh? Lalu siapa yang bisa begitu?”
“Hoi, kau bukan diplomat, jadi berhentilah mencoba berdiplomatik dengan warga asing yang berbahaya, dasar sipil.”
Tiba-tiba sebuah suara menyela.
Suara itu bukan berasal dari ponsel Kamijou, dan layar LCD TV besar itu retak dan pecah parah. Sepertinya berasal dari silinder yang diletakkan di atas meja yang bengkok. Kamijou sempat mengira itu alat aromaterapi yang sedang tren atau semacamnya, tapi...
“Speaker AI itu bicara sendiri!” seru Alice.
Begitulah.
Itu adalah ketua Dewan Academy City Accelerator.
Accelerator tetap diam sejak hujan berubah menjadi salju merah, tapi kini dia kembali ikut campur.
“Bagaimana bisa kau…?”
“Konsulat yang mewakili suatu negara atau wilayah biasanya dilengkapi dengan hotline ke negara setempat.”
Accelerator mencoba membuatnya terdengar begitu jelas, tapi apa maksudnya "biasanya"?
Dan…
“Academy City, ya?”
Bologna Succubus terdengar terkejut.
Rupanya dia bisa mengenali pemimpin organisasi besar itu dari suaranya. Kamijou cukup yakin mereka berdua belum pernah benar-benar bertemu.
Lalu wanita berambut pirang yang mengenakan pakaian dalam itu pun mengedipkan mata.
“Kukira kau akan memohon-mohon pada umat Anglikan Inggris.”
“Inggris karena ini menyangkut sihir? Aku mengerti maksudmu, tapi kau tidak lupa, kan? Alice dan Aleister Crowley sama-sama berasal dari Inggris."
Setelah berkata begitu, Kamijou mendesah pelan.
Sementara itu, Blodeuwedd the Bouquet tampaknya sudah pulih dari kedinginannya.
Dia mencibirkan bibirnya dan menyampaikan pendapatnya (dengan cara yang anehnya tampak serius buat seorang yang hanya memakai celemek dan telanjang).
“Aku mengerti☆ Jadi jika aktivitas Alice menguntungkan Inggris, maka akan terlihat seperti semuanya hanya rekayasa?”
“Dan aku ragu kita bisa pergi ke Katolik Roma atau Ortodoks Rusia. Malahan, itu mungkin akan berakhir dengan pihak Anglikan yang mengklaim kepemilikan aslinya dan menuntut agar Alice dikembalikan kepada mereka, jadi itu bisa saja menimbulkan konflik lebih lanjut. Sungguh, akan lebih mudah jika kita meninggalkan Alice di sisi sains karena mereka tidak tahu apa-apa tentang sihir. Sengaja memastikan harta karun itu terbuang sia-sia akan memastikan para VIP dari sisi sihir tidak cemburu saat mereka memantau dari balik bayang-bayang.”
“Apa buktinya itu akan berhasil?”
“Index, sang perpustakaan grimoire.”
Ya, ada contoh yang sangat dekat.
Jika sisi sihir begitu takut dikendalikan oleh penyihir atau kelompok sihir tertentu, mereka terpaksa mengisolasinya di dunia lain di mana tak seorang pun bisa menjangkaunya. Hal yang sama juga berlaku untuk Alice.
Alice memiliki kekuatan yang terlalu besar untuk seorang individu, dan menganalisis tubuhnya dapat mengungkap rancangan yang mampu menciptakan "Transenden normal". Menyerahkannya kepada seseorang di sisi sihir yang tahu cara memanfaatkannya terdengar terlalu berbahaya, terlepas siapa pun orangnya.
“Apa daging tenderloin seenak itu?”
“Nyam, nyam. Alice, ini punyaku. Sebagai manusia, kau seharusnya makan makanan manusia.”
“Apa si gadis masih manusia?”
Kihara Noukan tak sempat memikirkan perebutan kekuasaan di dunia sihir, jadi dia sibuk dengan sepiring besar daging tenderloin di lantai. Atau lebih tepatnya, dia sedang berebut dengan Alice yang tertarik pada daging itu.
Alice jelas harus ditinggalkan dengan seseorang yang tidak tahu bagaimana memanfaatkannya.
“Singkatnya, pertama kita harus melakukan sesuatu untuk mengatasi Coronzon. Setelah itu, kita harus memastikan Alice-lah yang berjasa menyelamatkan dunia. Dan terakhir, kita serahkan dia pada Academy City untuk menghindari konflik lebih lanjut. Garis besarnya masih samar-samar tanpa detail konkret, tapi apa itu terdengar seperti rencana yang bagus secara keseluruhan?”
“Hoi,” kata Accelerator. “Kau tidak lupa kalau Alice adalah salah satu penyebab kota ini menjadi kacau, kan?”
“Prioritas pertama adalah Coronzon.”
“Ugh…” erang si nomor 1, terdiam.
Itu tidak biasa.
“Tetap utamakan prioritasmu. Coronzon punya nilai lebih tinggi daripada Alice,” tegas Kamijou. “Kita tidak punya banyak kartu di dek kita saat ini. Kita tidak boleh kehilangan satu kartu truf pun. Jika kita fokus pada Alice dulu dan akhirnya saling bertarung sambil mengabaikan Coronzon, apa pun yang akan dia lakukan, Academy City akan hancur lebih dulu. Jika kau benar-benar ingin melindungi kota ini, maka tugasmu adalah memastikan Alice bisa bertarung dengan kekuatan penuh, Ketua Dewan.”
“Mudah sekali kau bicara begitu. Kau tidak berpikir kau bebas dari tanggung jawab hanya karena kau bukan orang yang berkuasa, kan?”
“Dan aku rasa ada ruang untuk keringanan hukuman bagi Alice. Memang benar kerusakan itu disebabkan oleh kekuatannya yang luar biasa, tapi dia tidak tahu apa yang dia lakukan dan semua orang di sekitarnya yang mendorongnya untuk melakukannya. Dan itu termasuk aku. Hakimilah saja dia jika kau harus menghakiminya, tapi aku tidak akan membiarkan dia menghadapi penghakiman dunia sendirian. Aku mengorbankan nyawaku untuk menyelamatkannya, jadi aku akan pastikan untuk menyelamatkannya sampai akhir.”
“…Cih.”
Ketua dewan yang berada di posisi paling atas mendecakkan lidahnya karena suatu alasan, tapi dia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Kamijou tidak yakin bagian mana dari argumennya yang mengena.
Kemudian.
Kamijou mendengar bunyi seperti lonceng yang dalam.
Apa itu bel pintu?
“…Tunggu.”
Kamijou menjadi tegang.
Satu-satunya orang yang masih santai adalah Alice saat dia melompat ke sofa.
Kemalangan sering menimpa Kamijou, jadi dia punya firasat buruk soal ini. Dalam kasus terburuk, bisa jadi yang datang adalah Iblis Agung Coronzon yang membunyikan bel pintu sebagai lelucon.
Kihara Noukan mendongak dari piring berisi tenderloin dan berbicara pelan.
“Aku tidak tahu banyak tentang sihir, tapi apakah ada kemungkinan dia mendeteksi kita di sini?”
“Besar kemungkinannya. Lagipula, dia tersegel di dalam tubuh Aleister selama itu. Jadi, apa pun yang dilihat atau didengar Aleister, dia pasti mengamatinya dari dalam!”
Meskipun ini adalah satu-satunya tempat yang tersedia, tapi apakah suatu kesalahan jika memilih bangunan yang dikenal sebagai tempat perlindungan?
Bersembunyi jauh di dalam gedung yang rusak dan menunggu kesempatan untuk menyerang… bisa jadi salah satu opsi, tapi ini menyangkut Coronzon. Kalau mereka tidak merespons, Coronzon mungkin tidak akan memasuki gedung yang runtuh itu. Dia malah akan meledakkan seluruh struktur dari luar, kemudian mereka semua akan mati sia-sia.
Jadi mereka harus merespon.
“Bologna Succubus, Blodeuwedd the Bouquet.”
“Apa? Apa kau memberi kami pekerjaan berbahaya itu karena kami telah kalah dan kehilangan ambisi?”
“Jangan bodoh. Vidhatri tidur di belakang, kan? Aku akan urus yang ada di depan, jadi kalian berdua bawa dia keluar lewat pintu belakang dan kabur kalau keadaannya menjadi genting.”
“…”
Blodeuwedd the Bouquet terdiam, tampak terkejut, dan Bologna Succubus menepuk pundaknya. Namun, dia tidak melepaskan bahu mantel tebal itu dan meremasnya dengan cengkeraman kuat.
“(Aku menemukannya lebih dulu. Coba merebutnya, kubunuh kau, dasar dewi bejat manja.)”
“(Ehh, nggak asik. Yah, kau bisa percaya padaku, tapi aku tidak bisa jamin ketika tubuhku bereaksi dengan sendirinya☆)”
“(Kalau begitu kata-katamu tidak ada artinya!)”
“(Ada masalah apa, pemerah susu angkuh? Apa setan kecil nokturnal ini pikir dia adalah pelindungnya, hah?!)”
Mereka mulai berkelahi satu sama lain, tapi Kamijou memilih untuk percaya bahwa itu adalah tanda persahabatan.
Kamijou harus pergi menjawab bel pintu depan.
Kihara Noukan menemaninya.
“Senjata apa yang bisa kita gunakan? Kalau ada perapian, pasti ada pengaduk bara.”
“Itu hanya akan menghalangi tangan kananku.”
Dia tahu secara refleks bahwa mengulurkan tangan kanannya adalah gerakan berbahaya bagi siapa pun yang setingkat malaikat atau iblis, tapi dia tetap perlu fokus pada serangan magis. Ini tidak seperti pertarungan melawan Stiyl di mana mereka berdua saling mengenal gerakan masing-masing.
Alice juga bergabung dengannya.
Dan dia bahkan tidak diberi waktu untuk bersiap.
Dia bahkan tidak sempat berpikir untuk membuka pintu depan karena dinding luar di dekat pintu rusak. Jadi, dia melihat jawabannya bahkan sebelum sempat merasa gugup. Lubang itu memberikan petunjuk besar.
“Hai.”
Seseorang berdiri di sana.
Dion Fortune… dan dua orang lainnya di belakangnya.
Tidak, Kamijou mengenali mereka. Bukankah itu Hamazura Shiage dan Takitsubo Rikou?
Kelompok tersebut diperkenalkan kepada Kamijou sebagai:
“Uskup Agung Anglikan datang bersama teman-temannya yang periang.”
Coronzon telah pindah lokasi.
Dia tak perlu menyiapkan perlengkapan apa pun. Semua yang dia butuhkan ada di kota ini. Setiap orang akan menggunakan kepingan puzzle dengan cara yang berbeda, tapi Iblis Agung itu memilih untuk menggunakannya semata-mata untuk menghancurkan.
Ya.
Kehancurann.
Tapi itu berarti dia perlu mengendalikan lokasi-lokasi yang diperlukan terlebih dahulu.
Jadi, meskipun dikenal sebagai Iblis Agung, dia terpaksa melakukan sesuatu yang tidak ingin dia lakukan.
Bergerak.
“Pro bisa jadi kontra, kelebihan bisa jadi kekurangan, dan kekuatan bisa jadi kelemahan. Sungguh, Aleister pasti akan menyukainya.”
Tapi pada titik ini, dia tidak dapat mengacaukannya.
Itu tidak mungkin.
Dia telah melewati rintangan yang tak dapat dia hitung. Artinya, dia sudah melewati batas pertaruhannya. Baginya, apakah Aleister akan menghancurkan dirinya sendiri dan melepaskannya atau tidak adalah rintangan terbesar.
Sekarang dia harus menyelesaikan sisa pekerjaannya.
Mantra yang dipersiapkannya berskala sangat besar dan membutuhkan waktu, tapi dia tetap bersumpah atas namanya sebagai Iblis Agung bahwa mantra itu tidak akan gagal.
Mulai sekarang, tidak peduli apa pun yang terjadi, sihir itu akan diluncurkan.
Iblis Agung Coronzon berbicara lirih pada dirinya sendiri.
“Waktunya mulai.”
“Adikalika,” kata Dion Fortune sambil duduk di sofa.
Lima detik setelah duduk, dia sudah kembali menyilangkan kakinya.
“Iblis Agung Coronzon sedang mempersiapkan sihir raksasa di kota ini. Namanya Adikalika.”
Kalau dipikir-pikir, kenapa Hamazura dan Takitsubo dari Academy City bekerja sama dengan Dion Fortune dari Inggris? Mungkin Kamijou bukan orang yang suka bicara, tapi lingkaran pertemanan mereka memang agak misterius.
Tapi, tidak ada ancaman di sini.
Mereka telah pindah ke ruang tamu yang nyaris tak tersentuh. Dapurnya tampaknya masih berfungsi, jadi Kamijou merebus air dan membuat teh. Dia sama sekali tidak tahu cara membuat teh Inggris yang benar, tapi karena Fortune dengan senang hati memegang cangkir teh itu di antara kedua tangannya, Kamijou merasa sudah cukup berhasil.
“Ahh, hangatnya!”
“Air panas benar-benar membuat tenang. Aku merasakannya saat minum mie instan tadi.”
Di luar sangat dingin, dengan salju merah berjatuhan.
…Jadi mungkin air keran yang direbus pun tidak masalah asalkan bisa menghangatkannya.
Bagaimanapun, Dion Fortune mulai menjelaskan.
Tentang Adikalika.
“Meski perpustakaan grimoire kami sedang dipinjam oleh orang, tapi Orsola Aquinas telah melakukan riset yang brilian. Dia berhasil melacak hingga ke sebuah buklet yang dikemas dengan buku aneh yang bahkan tidak ditemukan di Perpustakaan Nasional London. Rupanya sebuah toko buku bekas telah membelinya dari sebuah rumah besar di Loch Ness.”
Segala hal sejak pemakaman telah membuat Kamijou mendambakan kehangatan manusia, jadi dia senang mendengar penyebutan seseorang yang dikenalnya, tapi bukan itu inti masalahnya.
Jadi, apa sebenarnya Adi apalah itu? Yang kedengarannya asing di telinga Kamijou, tapi juga bukan bahasa Inggris.
Kihara Noukan dan Accelerator di speaker AI tampak cukup pintar, tapi keduanya tidak mencoba mengambil alih percakapan. Apakah mereka menunggu untuk mendapatkan semua informasi karena sihir berada di luar bidang keahlian mereka? Kamijou bisa memikirkan banyak pertanyaan untuk diajukan, tapi dia tidak bisa menyimpulkannya menjadi satu.
“Apa itu Adikalika?”
Keberuntungan telah membawa Takitsubo ke sini, tapi dialah yang bertanya dari sofa dengan tatapan kosong dan memiringkan kepala.
Apakah Dion Fortune tidak menjelaskannya kepada kelompoknya sendiri?
Sisi sains dan sisi sihir sangat berbeda sehingga dia pasti tidak menyangka mereka bisa mengerti dengan benar, jadi dia memberikan penjelasan singkat.
“Ya, Adikalika. Ketika ditulis dalam alfabet, bukannya menjadi aksara Sansekerta, itu malah menjadi istilah Crowley. Awalnya, kurasa bisa dibilang kalau itu interpretasi ulang Magick dari Kali, sang Dewi India, sebagai makhluk yang menyerap segala sesuatu dan menjadikannya miliknya. Menggunakan huruf kesebelas, yaitu K. Jadi, kunci untuk memahaminya adalah Kali.”
“Tunggu, jangan cepat-cepat,” sela Kihara Noukan. “Jangan anggap audiensmu sudah paham segalanya, penjelasanmu jadi sia-sia. Sebaiknya buatlah sesederhana mungkin agar mudah dipahami.”
Kamijou memiringkan kepalanya.
“Hm? Dewi India, ya?”
Ketika mendengar kata "dewi", Kamijou membayangkan seorang Onee-san yang lembut dan manis. Gawat. dia terhanyut gara-gara penyebutan Orsola sebelumnya! Dewi bukanlah pengurus asrama yang selalu memakai celemek dan membawa sapu!
Dan tampaknya itu sangat melenceng dalam kasus ini.
Menurut Dion Fortune:
“Kali yang asli adalah dewa yang cukup berbahaya. Dia awalnya merupakan representasi dari kemarahan seorang dewi tertentu, jadi tidak ada sedikit pun kebaikan dalam dirinya. Dia adalah dewi kematian dan pertumpahan darah, dan dia secara terbuka diperkenalkan sebagai dewa yang telah kehilangan kewarasannya. Tapi bukannya menjadi dewa kematian bagi individu, dia lebih seperti dewa kehancuran bagi bangsa-bangsa dan dunia. Selain itu, kehancuran itu sendiri bukanlah tujuan akhirnya. Salah satu legenda mengatakan bahwa dunia hampir hancur akibat benturan dan getaran yang disebabkan oleh tarian kegembiraannya setelah mengalahkan musuh-musuhnya.”
Ini sudah terdengar buruk.
Hamazura kesulitan mengikuti penjelasannya, jadi dia mengajukan pertanyaan.
“Ini bukan seperti penggunaan nama-nama atau simbol-simbol mitologis untuk sebuah proyek besar, kan?”
“Itu memang sering terjadi. Seperti roket eksplorasi ruang angkasa atau rudal kapal selam.”
Kamijou tahu apa yang Hamazura dan Kihara Noukan coba katakan.
Kamijou memutuskan untuk mengambil alih mereka. …Meskipun dia sendiri bukan ahli sihir.
“Mantra ini cuma meminjam nama dewi itu, kan? ... Benar, kan? Tentunya kau tidak akan bilang dewi itu sendiri akan dipanggil secara fisik ke sini.”
Ide itu terdengar absurd, tapi Bologna Succubus dan Blodeuwedd the Bouquet ada di sana. Keduanya sedang berebut sebungkus kue kering yang tertinggal di konsulat. Isinya enam jenis kue kering, tapi mereka berdua hanya tertarik pada kue rasa cip cokelat.
Ya, ada orang di sini dengan nama yang diambil dari mitos.
Setelah melihat para Dewa Sihir dan Transenden, Kamijou tak bisa begitu saja menertawakannya. Vidhatri yang tidur di belakang memiliki nama yang terdengar seperti nama India, jadi siapa pun yang akrab dengan mitos-mitos itu mungkin akan mengenalinya. Lagipula, Dion Fortune yang ada di hadapannya sekarang bukanlah yang asli, dia telah diciptakan dengan trik magis.
“Tidak seburuk itu, tapi hasil akhirnya juga tidak lebih baik.”
Kamijou merasa seolah dia telah mencoba menahan pembicaraan ketika tiba-tiba pembicaraan itu lepas total dari tangannya.
“Sebagai mantra, Adikalika mengirimkan dewi kematian dan pertumpahan darah ke koordinat yang dipilih penggunanya di dunia,” lanjut Dion Fortune. “Lebih tepatnya, mantra ini mengambil kehancuran dahsyat yang kemungkinan besar akan dibawa oleh dewi hitam berlengan empat dan memindahkannya ke suatu wilayah tertentu. Hanya orang-orang di wilayah pilihan itu yang tahu apa yang terjadi di sana, tapi aku jamin mereka semua akan mati. Anggap saja semuanya berakhir jika mantra ini diaktifkan.”
Dunia, kehancuran dahsyat, wilayah terpilih, semuanya mati…
Kedengarannya semakin buruk, tapi itu belum cukup untuk menggambarkannya. Di antara kerumunan orang dari berbagai faksi, Kamijou, Hamazura, dan Takitsubo memiliki ekspresi khas yang sama persis di wajah mereka.
Dion Fortune memperhatikan cara Kamijou memandangnya.
“Jika kalian menginginkan deskripsi yang lebih mudah dipahami oleh otak sains, aku rasa kalian bisa membayangkannya seperti ICBM yang diisi dengan gas beracun atau kuman yang sangat berbahaya. ...tapi dengan Adikalika, rudal itu tidak dapat dihancurkan setelah diluncurkan. Dan begitu menghantam, semua kehidupan di daratan yang diberi nama oleh manusia akan musnah. Diramalkan bahwa orang-orang akan menjadi gumpalan darah, daging, dan tulang. Artinya, mereka akan dihancurkan dan diiris menjadi sesuatu yang tampak seperti bongkahan darah raksasa saat masih hidup.”
|ICBM (Intercontinental Ballistic Missile) atau Rudal Balistik Antarbenua.
Itu bahkan lebih mengerikan dari yang dibayangkan.
Tentu saja hal buruk akan terjadi jika Iblis Agung Coronzon sudah bersedia bersusah payah dan meluangkan waktu untuk mempersiapkannya. Tapi tetap saja.
Pada titik ini, Accelerator berbicara melalui speaker AI, menjaga suaranya tetap rendah.
“Apa yang Coronzon rencanakan dengan itu?”
“Hm? Dia ingin menyerang Academy City, kan?”
Takitsubo menjawab pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan.
Apakah itu benar-benar jawabannya?
Menyerang Academy City terdengar mudah, tapi entah bagaimana terasa salah. Pertama, Coronzon ada di kota itu. Jika mantranya sedestruktif itu, dia sendiri tidak ingin terjebak dalam kehancuran yang dibuatnya sendiri.
Dion Fortune menyilangkan kembali kakinya di sofa dan menjawab.
“Aku yakin dia punya target lain.”
“?”
“Sudah kubilang targetnya adalah nama yang diberikan oleh manusia, ingat? Terus terang saja, titik lemah global yang dia tuju mungkin terkait dengan Anglikan atau Katolik Roma.”
“Keduanya adalah fondasi dari keseluruhan sisi sihir yang luas☆” Blodeuwedd the Bouquet menambahkan sambil terkekeh.
Kedengarannya bahkan para Transenden pun melihatnya seperti itu. Setidaknya untuk saat ini. Belum lama ini, mereka bertindak seolah-olah mereka adalah pusat dunia.
Dion Fortune mengangguk lalu berkata lebih lanjut.
“Tapi aku rasa dia akan memilih markas besar umat Katolik. Jadi Vatikan... tidak, dia mungkin akan memperluas cakupannya ke seluruh Semenanjung Italia.”
Kamijou punya pertanyaan.
“Tapi kenapa? Bukankah dia punya dendam terhadap Inggris?”
“Mungkin begitu. Tapi dia tidak bisa menyerang kami.”
Dion Fortune tidak ragu-ragu di sana.
Tapi bukan karena dia optimis.
Wajahnya meringis getir. Seolah mengatakan masalahnya akan jauh lebih kecil jika Inggris saja yang dipilih sebagai target.
“Maksudku, kalau dia bisa menggunakannya, dia pasti sudah melakukannya saat pertempuran kita sebelumnya. ...Kalau ditelusuri lagi tindakannya, dia menyerang Ketua Dewan Aleister di Academy City sebelum kembali ke Inggris, mencuri harta karun di Skotlandia, dan mencoba mantra berskala besar. Kalau dia bisa meluncurkan Adikalika dari Academy City dan mengubah seluruh Inggris Raya menjadi lautan darah dan daging cincang, dia pasti sudah melakukannya. Tapi itu tidak terjadi.”
Merasakan hawa dingin di tulang belakang mungkin merupakan reaksi alami manusia, tapi itu juga merupakan reaksi yang tidak berarti.
Mereka harus fokus pada topik-topik yang membangun, bukan masa lalu. Meskipun mereka harus memaksakan pikiran mereka ke situ.
Lalu mengapa hal itu tidak terjadi?
Dion Fortune mendesah.
“Crowley adalah penyihir Inggris. Mengabaikan karyanya bisa merusak reputasi Inggris, jadi mereka bekerja keras menganalisis mantranya.”
Bologna Succubus berkomentar sambil mengunyah pinggiran kue cip cokelat (yang dia curi setelah saling garuk dengan Blodeuwedd the Bouquet).
“Paham. Jadi, artinya kalian punya semacam ketahanan super tinggi terhadap sihir gaya Crowley, termasuk Adikalika?”
“Benar. Setidaknya, untuk mantra yang dia ciptakan sebelum kematiannya secara resmi di tahun 1947. ...Itulah kenapa Coronzon mencoba menggunakan harta kerajaan untuk menghancurkan Inggris dari dalam saat pertempuran kita sebelumnya.”
“Tapi berbeda dengan Katolik Roma?” tanya Kamijou.
Dion Fortune mengangkat bahu.
“Menyangkut Crowley, Italia memang punya bom raksasa, yaitu Biara Thelema. Tapi sepertinya Italia membuang semuanya ke luar negeri — termasuk dokumen dan spiritual item — ketika mereka memerintahkan Crowley untuk pergi.”
Jadi jika kantor pusat Katolik Roma tidak memiliki pertahanan terhadap Crowley, apakah mereka tidak memiliki cara untuk mencegah serangan ini yang akan mengubah seluruh negara menjadi lautan darah, daging, dan tulang?
Dan jika itu terjadi…
Takitsubo berkedip perlahan sebelum mengajukan pertanyaan.
“Aku tidak familiar dengan berbagai kekuatan di sisi, hm, sihir...? Tapi Hal paling buruk apa yang akan terjadi?”
“Jika kita membiarkan situasi ini terus berlanjut, Adikalika akan memicu perang habis-habisan antara sisi sihir dan sisi sains. Karena Academy City bisa saja menghentikannya, tapi Iblis Agung Coronzon adalah makhluk yang hanya bisa dijelaskan oleh sisi sihir.”
“Hm, hm. Jadi, meskipun Academy City tidak terlibat dalam serangan itu, tapi sisi sihir tetap akan menyalahkan mereka karena tidak menghentikan Coronzon. Tapi Academy City akan membalas, mengatakan Coronzon berasal dari sisi sihir. Kedua belah pihak ada benarnya, jadi perdebatan ini tidak akan ada habisnya.”
Ketika Bologna Succubus berbicara, Blodeuwedd the Bouquet tampaknya merasa perlu untuk melakukannya juga.
Karena mereka saingan, atau karena mereka teman?
“Gereja Katolik Roma punya 2 miliar pengikut, kan? Bahkan dengan semua senjata tak berawak milik Academy City, apa yang bisa dilakukan 2,3 juta penduduknya terhadap kota yang sudah begitu lelah ini?☆”
“…”
Dan apa gunanya mengalahkan 2 miliar orang?
Intinya bukanlah untuk mengadu domba manusia satu sama lain untuk menciptakan lautan darah yang lebih besar dan mewarnai seluruh bumi menjadi merah seperti permen apel besar yang mengganggu.
Apakah dunia benar-benar akan membiarkan satu iblis untuk mendorong mereka sampai sejauh itu?
“Dan meskipun menjadi bagian dari sisi sihir, umat Katolik Roma juga akan menyerang umat Anglikan. Karena Crowley adalah penyihir Inggris. Belum lagi betapa dekatnya hubungan Inggris dan Academy City. Dan jika Inggris memang memiliki teknologi anti-Crowley, umat Katolik juga pasti menginginkannya.”
Takitsubo memotong di sini.
“Kita sedang bicara perang, kan? Benarkah mereka memilih untuk bertempur di dua medan perang seperti itu?”
“Seperti yang kukatakan, perang di mana kedua belah pihak memiliki tujuan itu sulit dihentikan.”
Segala sesuatunya telah mencapai skala besar.
Namun Kamijou tahu hal yang sama telah terjadi dengan Perang Dunia Ketiga, Gremlin, Crowley Hazard, dan R&C Occultics.
Keseimbangan global merupakan hal yang berbahaya, sehingga pemicu kecil sekalipun dapat menyebabkan era perang global.
Iblis Agung Coronzon sendiri pernah berkata bahwa dia adalah makhluk yang menghancurkan ikatan manusia dan menghambat evolusi manusia. Dan metodenya untuk melakukan itu adalah dekomposisi alami dari dispersinya.
Itu berarti Coronzon sengaja mencoba memicu perang. Itu bukanlah pencegah, biaya yang harus dibayar, atau satu langkah pun dalam rencana utama. Perang dan kekacauan itu sendiri adalah tujuannya. Mantra Adikalika hanyalah pemicu.
…Mereka harus menghentikan sesuatu seperti itu terjadi lagi.
Ini tidak lagi tentang Academy City.
Kamijou ingin tahu lebih detail. Dia ingin pemahaman seluas dan sedalam mungkin.
“Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan mantra Adikalika?”
“Menurut perkiraanku, dunia akan menuju kehancurannya menjelang tengah malam nanti. Dengan asumsi kita tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya.”
Tengah malam.
“Yah, itu pun ditimbang dari perkiraan yang optimis.”
Jadi ada kemungkinan itu bisa berakhir sebelum itu.
Saat itu hampir pukul 6 sore.
Mereka punya waktu kurang dari 7 jam yang tersisa. Awal bencana sudah di depan mata.
“Dia bergerak sangat cepat,” gerutu Kihara Noukan. “Si Coronzon baru memegang kendali kurang dari dua jam, kan? Aku tidak mengerti bagaimana bisa dia membuat persiapan matang secepat ini.”
“Dia tidak membutuhkannya. Sudah berapa lama dia disegel di dalam tubuh Aleister? Aku yakin dia telah memanfaatkan sepenuhnya pikiran iblisnya selama itu, menjalankan simulasi demi simulasi. Dan sebagai sesama penyihir Golden, sekilas terlihat jelas bahwa Academy City dipenuhi dengan potongan-potongan puzzle warisan Crowley. Ini bukan seperti senjata gas beracun yang harus diselundupkan ke negara ini atau bom nuklir yang harus dia buat. Dia dikelilingi oleh barang-barang yang bisa dia gunakan.”
“Oh? Kalau kita tarik ke belakang, maka…”
“Sudut pandang yang bagus, golden retriever. Ya, Adikalika hanya bisa disiapkan di dalam Academy City. Kau bisa menganggapnya sebagai masalah fengsui atau topografi.”
Meskipun begitu…
(Aleister, ya?)
Apa yang terjadi padanya?
Apa dia terjebak di dalam tubuh itu dengan Coronzon yang memegang kendali sekarang, atau dia telah musnah ketika Coronzon muncul? Kamijou masih belum tahu.
Setidaknya, dia tahu Aleister, pria yang berduka atas kepergian orang-orang yang dicintainya, adalah manusia. Baik maupun buruk. Secara naluriah, mustahil dia akan menciptakan mantra Adikalika dan menghancurkan dunia.
Manusia itu telah kehilangan keluarganya dan, karena satu faktor itu, memutuskan untuk menyatakan perang terhadap cabal Golden.
Manusia itu pasti akan berada di pihak yang mencoba menghentikan mantra ini.
Tak peduli seberapa pun dia menyangkalnya.
“…”
Kamijou punya Imagine Breaker di tangan kanannya.
Kemampuannya untuk meniadakan segala kekuatan supranatural seharusnya mampu menghentikan Adikalika. Tapi, cuma mengandalkan satu itu saja sama artinya dengan bunuh diri. Pertama, dia tidak bisa menang dalam pertarungan satu lawan satu melawan Coronzon, jadi bahkan mendekati inti rencananya pun akan menjadi tantangan.
Imagine Breaker memang penting, tapi tidak cukup.
“K-kita punya kartu truf, bukan?”
Ini datang dari Hamazura.
Dia mungkin tampak jauh dari sihir, tapi dia tampaknya punya ide.
“Dion Fortune... Yang kotak hitam milikmu itu loh!”
“Oh… Aku sungguh tidak merekomendasikan penggunaan Archetype Processor.”
“Kenapa tidak?! Kalau tidak salah itu kan… Memakan sihir apa pun lalu memecahnya dan... mengubahnya menjadi sesuatu yang lain? Kau terpaksa menggunakannya di Inggris, jadi aku tahu apa yang bisa dilakukannya!"
Ini membawa banyak makna.
Ya.
Iblis Agung Coronzon sedang bersusah payah membangun sihir yang belum pernah ada sebelumnya. Mantra ini begitu dahsyat sehingga bahkan dia pun tak bisa membuatnya dalam sekejap, jadi pasti cukup rumit. ...Jadi dengan kotak hitam(?) milik Dion Fortune, tidak bisakah mereka mengacaukannya dan menghancurkan rencana Coronzon?
Mereka bisa memanfaatkan itu.
Jika mereka punya dua kartu truf, Coronzon harus membagi fokusnya. Hal ini bisa menciptakan celah. Dan yang lebih penting, meskipun tangan kanan Kamijou gagal mencapainya, memiliki kartu truf lain sangat membantu.
Namun ada sesuatu yang mengganggu Kamijou.
Kotak hitam itu milik Dion Fortune, jadi mengapa dia tidak menyebutkannya sebagai pilihan?
“Pertama, jangan berharap banyak. Mainanku tidak sepraktis tangan kananmu.”
Dion Fortune mendesah dan mengangkat jari telunjuknya. Sebuah kotak seukuran bola sepak berputar di atasnya. Alice menatapnya dengan mata terbelalak.
Dion Fortune tampak percaya diri dengan kendalinya.
Jadi, kekhawatirannya bukan hanya apakah dia berhasil atau gagal.
“Yang dilakukan benda ini hanyalah mengubah mantra yang sudah ada menjadi 'bentuk yang tak terduga'. Itu artinya sihir di hadapanku tidak hilang begitu saja”
“Tapi itu bukanlah masalah,” kata Hamazura. “Kalau bisa menghentikan sihir Adikalika penghancur dunia itu, berarti itu layak digunakan.”
“Sejumlah besar energi sihir yang dikumpulkan untuk mengaktifkan Adikalika akan tetap utuh.”
Suasana menjadi tegang.
Jadi apakah itu seperti menyebabkan mobil balap kelas atas meledak sesaat sebelum balapan dimulai?
“Setelah mantranya dibongkar total dan diubah menjadi sesuatu yang lain di dalam kotakku, bahkan aku pun tak bisa memprediksi wujudnya saat muncul kembali ke dunia. Dengar, Hamazura. Kalau kita kurang beruntung, mantra itu bahkan bisa menghancurkan Academy City. Dan kalaupun kita tidak kurang beruntung, mantra itu tetap bisa menimbulkan kerugian besar. Secara teknis, ada kemungkinan mantra itu bisa menghasilkan fenomena keberuntungan fantastis seperti Academy City menjadi terkubur oleh permen, peluangnya memang bukan nol, tapi lebih rendah daripada memenangkan lotre. Apa kau berani bertaruh untuk peluang sekecil itu? Yang berarti mempertaruhkan nyawa banyak orang?”
“Eh…”
Hamazura mengerang, tapi Kamijou melirik ke arah Alice.
Alice Anotherbible mungkin bisa "menyesuaikan" seluruh struktur dunia untuk memaksakan jackpot… tapi itu pun tergantung dengan moodnya.
Boleh saja mengandalkan Alice.
Tapi, mereka tidak bisa sepenuhnya bergantung pada Alice ketika mereka tidak punya peluang lain untuk menang. Jika Alice gagal dan diserang karena dianggap membawa kiamat, itu bisa mengubahnya kembali menjadi monster.
“Posisiku hanya sementara sampai yang berikutnya resmi terpilih, tapi saat ini aku adalah uskup agung yang bertanggung jawab atas seluruh Gereja Anglikan. Aku berniat untuk menepati kepercayaan yang diberikan kepadaku. Jadi, aku tidak bersedia membuat pilihan yang mungkin melindungi dunia tapi mesti membunuh 2,3 juta orang. Bagaimana menurut kalian?”
Sisanya terdiam.
Kamijou, Hamazura, Takitsubo, Kihara Noukan, Bologna Succubus, Blodeuwedd the Bouquet, Accelerator, dan bahkan Alice.
Keengganan mereka untuk berbicara membuat mereka berada dalam konflik. Masing-masing memiliki dua bobot: satu di sisi "ya" dan satu di sisi "tidak". Ini adalah masalah luas dan ukuran, sekaligus bukti bahwa tak satu pun dari mereka bersedia menyerah begitu saja pada Academy City.
Namun pada saat yang sama, Kamijou punya pendapat lain.
…Mungkin itu adalah sesuatu yang hanya bisa dia katakan saat ini.
Jika persiapan Adikalika benar-benar telah rampung dan detik-detik terakhir terus berdetak hingga 7 atau 8 miliar orang di seluruh dunia terseret ke dalam perang besar, dia merasa Dion Fortune kemungkinan besar akan mengambil keputusan. Dia akan memilih untuk memaksakan resolusi dengan mempertaruhkan 2,3 juta nyawa. Karena dia telah berjanji akan menepati kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai uskup agung Gereja Anglikan yang melindungi umat dari sihir jahat.
Kamijou menarik dan menghembuskan napas.
Berhentilah berpikir negatif. Dion Fortune sendiri sudah bilang dia tidak ingin melakukan itu. Dan karena situasinya sudah sangat mendesak, dia perlu memikirkan ide-ide yang lebih positif.
“Anggap saja itu sebagai upaya terakhir yang tersedia untuk berjaga-jaga. Kalau kita sudah mencoba semua cara dan tidak ada yang berhasil, maka Dion Fortune yang akan menentukan. Kalau kita menganggapnya sebagai jaring pengaman selama berjalan di atas tali, itu akan membantu kondisi mental kita.”
“Hei, aku bilang aku tidak mau—”
“Dan kami mempertaruhkan nyawa kami agar kau tak perlu melakukannya. Itu sebabnya kami di sini, bukan?”
Dan bicara soal memiliki seseorang yang mendukungmu, Kamijou Touma mengingat pertarungannya melawan Stiyl Magnus.
“Senang rasanya mengenalmu, ketua dewan…”
Kehadiran ketua dewan baru Academy City di pihak mereka sangat membantu. Kota itu memang tidak dalam kondisi terbaik, tapi memegang kendali penuh atas kota itu mengubah banyak hal secara signifikan dari sekadar bertarung secara individu.
“Aku ragu ini akan semudah itu.”
Tapi.
Dion Fortune langsung menembak jatuh harapan itu.
“Aku hanya bisa menebak, tapi aku yakin dia akan segera bertindak.”
“Apa?”
Accelerator mengerutkan kening.
Alarm berbunyi.
Ini bukan sekadar jendela atau pop-up yang menampilkan galat berbahaya. Mereka muncul terlalu cepat untuk dibaca. Sampai harus memeriksa log, tapi itu bergulir tanpa henti seperti obrolan langsung.
Dan pesan "kesalahan tidak diketahui" tidak terlalu membantu.
Dia masih memegang Master Key berupa ponsel pintar, namun perintahnya ditolak. Seharusnya tidak ada hak istimewa yang lebih tinggi dari itu, tapi ada sesuatu yang jelas-jelas mengintervensi dan membajak kendali.
Ini bukan sesuatu seperti peretasan atau serangan dunia maya.
Tidak ada seorang pun yang membobol dengan memalsukan kredensial mereka.
Dia tidak merasakan logika semacam itu di sini.
Dan, tentu saja, ini bukan sekadar kegagalan atau malfungsi yang tidak disengaja.
Yang berarti…
Apakah ada struktur komando yang sepenuhnya terpisah dari teknologi ilmiah?
“B-bukankah ini sangat buruk?”
“…”
“Ini bukan hanya masalah satelit dan komunikasi. Ada reaksi berantai berupa malfungsi pada sistem listrik, gas, dan air! Ini bulan Januari dan di luar sedang turun salju. Siapa yang tahu berapa banyak orang yang akan kelaparan atau kedinginan jika pipa-pipa membeku dan listrik padam!!”
Sebagian besar makanan Academy City berasal dari bangunan pertanian dan daging klon, tapi kegagalan dalam instruksi transportasi berbasis tag RFID dapat menciptakan situasi di mana banyak bahan diproduksi tapi tidak ada yang dapat diolah atau mencapai toko dan restoran. Dan faktanya, pangkalan-pangkalan yang bertanggung jawab atas hal itu runtuh satu demi satu.
|RFID (Radio Frequency Identificatio) atau pengenal frekuensi radio adalah teknologi identifikasi nirkabel yang menggunakan gelombang radio untuk membaca dan menyimpan data pada sebuah tag (label) yang menempel pada objek.
“M-mungkinkah ini juga alasan alarm palsu terus bermunculan? Bahkan dari laboratorium kuman, pabrik petrokimia, dan laboratorium uji radiasi... S-sekarang tidak ada cara untuk membedakan insiden besar yang sebenarnya dari semua alarm palsu itu!”
Apakah semua laporan otomatis dimaksudkan untuk melumpuhkan Anti-Skill, petugas pemadam kebakaran, rumah sakit, dan semua orang yang menjaga kedamaian?
Tidak, ini adalah metode yang terlalu berbelit-belit.
(Ini jelas lebih dari sekadar masalah yang tidak menguntungkan, tapi metodenya benar-benar tidak konsisten untuk sebuah serangan yang disengaja. Juga tidak terasa seperti seseorang memperoleh manual tanggap darurat kota dan menggunakannya untuk merekayasa ulang suatu metode melumpuhkan kota.)
Dia tahu ini adalah keadaan darurat, tapi itu sebabnya dia tidak bisa bertindak gegabah.
“Artinya ini bukan serangan. Jadi, apa ini efek samping dari sesuatu? Tapi apa?”
Saat Accelerator menatap tajam ke layar, mencoba memahami situasi, suara melengking Qliphah Puzzle 545 menusuk telinganya. Dia agak menyebalkan. …Meski dalam arti tertentu, tak terelakkan karena dia memang dirancang sebagai seorang penghasut yang dimaksudkan untuk menciptakan suasana yang akan memicu perang.
“Tidak bisakah kau menghentikan hujan secara artifisial... tidak, sekarang kan salju. Ngomong-ngomong, tidak bisakah kau mengubah cuaca? Salju ini awalnya adalah hujan buatan, kan?”
“Menghentikan salju memang gampang, tapi langit cerah hanya akan semakin menurunkan suhu. Kau pernah dengar tentang pendinginan radiatif, kan? Salju yang menumpuk tidak akan langsung mencair.”
Dan jika suhu turun, lebih banyak orang akan mati.
Peta Academy City yang ditampilkan di monitor dinding berangsur-angsur berubah warna.
Kuning menunjukkan area di mana kehidupan sehari-hari akan menjadi sulit. Merah menunjukkan area di mana bertahan hidup akan menjadi sulit.
Sekitar setengahnya sudah ditandai salah satu atau lainnya.
Jadi dalam 72 jam, diperkirakan sebanyak ini yang akan mati? Lebih dari 100 ribu?
Dalam kehidupan perkotaan, penumpukan salju menyulitkan perjalanan dan membuat rumah-rumah terisolasi. Jika listrik dan air berhenti dalam situasi seperti itu, orang-orang akan segera mati. Bahkan sebelum transportasi dipertimbangkan, makanan kota hampir sepenuhnya bergantung pada bangunan pertanian dan daging kloningan. Mereka tidak akan bisa menanam apa pun tanpa air atau listrik.
Untuk mencegah situasi seperti itu, Academy City telah mendesentralisasikan pembangkit listriknya menggunakan turbin angin yang didistribusikan di seluruh kota, tapi itu pun tidak ada gunanya jika fasilitas pusat yang mengendalikan sistem tenaga listrik mati.
Dan…
“Ini hanya perkiraan kasar jika semua orang patuh untuk tetap tinggal di rumah dan meninggal dengan tenang di sana.”
“…”
“Kalau mereka mulai melakukan kerusuhan atau penjarahan, perhitungan ini jadi tidak relevan. Sehingga kita bisa melihat korban berkali-kali lipat.”
Konon, orang Jepang relatif kecil kemungkinannya melakukan hal-hal seperti itu, tapi bukan berarti mereka hanya akan berdiam diri di rumah dan menunggu kematian. Dengan nyawa yang dipertaruhkan, mereka akan berusaha bertahan hidup. Accelerator merasa bahwa itu adalah reaksi alami makhluk hidup mana pun.
Tapi…
(Aku pikir kota ini dirancang untuk menghindari masalah infrastruktur berskala besar seperti ini. Aku tahu tidak ada yang namanya keamanan absolut, tapi banyaknya celah ini terasa disengaja.)
Masa-masa itu diperumit oleh fakta bahwa dia mewarisi kota itu dari orang lain, alih-alih membangunnya sendiri dari nol. dia memegang Master Key di ponsel pintar, tapi dia tidak merancang struktur dan tata letak setiap fasilitas dan peralatan.
Ketua dewan sebelumnya adalah Aleister. Dia selalu berhasil mengatasi setiap serangan dari sisi gelap, jadi sepertinya dia tidak akan membiarkan celah-celah konyol seperti ini terbuka terlalu lama.
Faktanya, dengan celah sebesar ini, bukankah beberapa peretas dari dalam atau luar kota sudah menggunakannya untuk menghancurkan kota tersebut?
Dalam hal ini…
(Celah-celah ini bukan suatu kesalahan. Tapi memang sengaja dibuat.)
Accelerator berpikir dalam diam.
Tapi dia hanya bisa memunculkan ide-ide yang tidak menyenangkan.
(Tapi tidak seorang pun kecuali Aleister yang dapat memanfaatkannya. Mereka menggunakan semacam sistem yang para hacker, cracker, dan orang yang menjadikan sains sebagai mainan pun tidak dapat membayangkannya.)
Layarnya tiba-tiba berubah.
Tidak, seseorang telah mengambil alih kendalinya. Bahkan di kantor ketua dewan.
Suara yang berbicara itu terdengar familiar.
“Halo lagi. Apa kau sudah mulai mengerti, Tuan Ketua Dewan baru?”
“…Apa ini perbuatanmu?”
“Ini hanyalah efek samping. Aku tidak bermaksud menghancurkan infrastruktur yang diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari. Kehancuran yang aku tuju jauh lebih besar. tapi, melihat orang-orang yang damai kelaparan, saling membenci, dan memulai reaksi berantai kekerasan bisa menjadi tontonan yang menghibur, meskipun tidak disengaja. Tapi, ini hanyalah sedikit hiburan.”
“Kau cuma pakai pintu belakang. Kau belum benar-benar mengambil kendali penuh.”
“Percuma. Sistem dasarnya benar-benar berbeda. Sekeras apa pun kau mengetik di keyboard, kau takkan bisa memengaruhi kubuku. Bisakah kau mengimbanginya? Singkatnya, sisi sains tak punya cara untuk menjelaskan masalah yang melanda Academy City. Penyihir Aleister Crowley merancang kota seperti itu sejak awal. Dia mengambil hukum dan aturan sisi sihir dan menyembunyikannya di balik lapisan sains mutakhir.”
“…”
Accelerator sengaja tetap diam.
Jadi Qliphah Puzzle 545-lah yang asal buka mulut dan meneruskan pembicaraan.
“Apa maksudmu… dan seberapa jauh… cakupannya?”
“Seberapa jauh? Seluruhnya. Seluruhnya!! Misalnya, bendungan di pegunungan, aliran sungai, dan bahkan gorong-gorong tersembunyi di bawah tanah! Dan bukan hanya pasokan airnya saja. Jalur kereta api, fasilitas penyiaran, jalan utama, jalan tol, dan bahkan tata letak distrik!! Itu sebabnya aku bisa dengan mudah melepaskannya dari kendalimu dan menempatkannya di bawah kendaliku!!! ...Ini adalah kota untuk belajar yang diciptakan oleh Aleister Crowley, jadi ini tak lebih dari sekadar pengulangan Biara Thelema yang pernah dia bangun di Italia untuk menguras bakat dari kehidupan anak-anak muda dengan menenggelamkan mereka dalam dunia supranatural dan obat-obatan!!”
Setelah semua itu, Coronzon menjadi dingin.
Faktanya, tidak pasti apakah dia benar-benar merasakan semua emosi itu jauh di dalam hatinya.
“Tapi semua itu tak penting... Academy City tampaknya membenciku karena kekacauan yang kubawa, tapi apa kau yakin, musuhku? Kurasa kau sudah lupa sesuatu?”
“Lupa apa?”
“Bahwa aku bukan lagi satu-satunya musuhmu.”
Coronzon tidak menggunakan petunjuk dan sindiran pada saat ini.
Mungkin karena dia tahu pernyataan langsung akan menyebabkan kejutan yang lebih besar dan lebih banyak kekacauan.
“Dunia akan terbelah dua. Karena Academy City menamakan dirinya kota sains dan satu-satunya perwakilan dari satu sisi dunia, seluruh dunia tak punya pilihan selain mengkategorikan diri sebagai sisi sihir. Tapi sekarang terungkap bahwa Academy City penuh dengan simbol-simbol sihir. ...Apa kau benar-benar berpikir orang-orang yang dipaksa secara tidak adil untuk bungkam akan membiarkannya begitu saja?”
Mereka tidak ragu-ragu.
Kanzaki Kaori, Itsuwa, dan penyihir Anglikan lainnya telah menunggu di luar Academy City dekat tembok, tapi begitu mereka mendeteksi tanda yang tidak menguntungkan, mereka segera menyeberangi tembok yang belum pernah mereka lewati sebelumnya.
Mereka bahkan tidak repot-repot menutupi jejak atau kehadiran mereka.
Orang-orang luar seperti Amakusa dan Eks Pasukan Agnese memimpin dan membuka jalan bagi gelombang kedua yang terdiri dari tim utama Anglikan. Ini adalah metode yang biasa mereka gunakan.
Jumlah keseluruhan yang melintasi tembok dalam serangkaian aksi itu melebihi sepuluh ribu.
“S-siapa kalian?!”
Ketika seorang petugas Anti-Skill bereaksi terhadap kelompok tak terduga itu dengan panik, Tatemiya Saiji mendekat dan dengan cepat mengambil alih kesadarannya. Ini berarti lebih dari sekadar membuatnya tertidur. Tatemiya mengeluarkan setiap informasi yang diketahui pria itu: nama dan wajah rekan kerja dan atasannya, lokasi fasilitas penting, kata sandi, dan sebagainya. Cuci otak sepenuhnya terlalu sulit, tapi mencari informasi masih bisa dilakukan.
Kemudian mereka hanya perlu mengulangi prosesnya.
Untungnya, Academy City kekurangan pasukan. Robot keamanan berbentuk drum, Predator Octopus beroda delapan, helikopter serang Six Wings, dan senjata tak berawak lainnya digunakan untuk menutupi kekurangan tersebut, tapi senjata-senjata itu tidak banyak berguna melawan para penyihir. Para penyihir hanya melewati mereka tanpa terdeteksi.
Mungkin ini adalah hasil hubungan panjang antara Inggris dengan Academy City.
Pihak Anglikan telah menyiapkan tindakan antisipasi.
“Kami, para Amakusa, akan menuju Distrik 2. Eks Pasukan Agnese harus menuju Distrik 1 terlebih dahulu, lalu melanjutkan tugas penyelamatan setelah kalian selesai di sana.”
“Siap.”
“Dan bawalah ini untuk berjaga-jaga.”
“Kotak duralumin apa ini? Spiritual Item yang disetel Anglikan kurang cocok untuk kami.”
“Ada bendera Inggris di dalam. Kibarkan bendera itu di seluruh kota jika perlu untuk menurunkan mental sisa-sisa pasukan musuh.”
“Haduh.”
Agnese Sanctis terdengar benar-benar kesal.
Dia tidak tahu siapa yang punya ide ini, tapi apakah mereka tidak mempertimbangkan kemungkinan hal ini akan membuat musuh marah dan memberontak?
Namun, penggunaan kata "memberontak" olehnya sendiri mungkin merupakan tanda bahwa dia secara tidak sadar meremehkan mereka. Ini kota mereka, jadi pihak sains seolah-olah yang memegang kendali.
“Jadi kita sudah menganggap Academy City tidak lebih dari sekadar sisa-sisa?”
“Mereka gagal menghentikan kita di tembok.”
Sehebat apa pun keamanan yang telah ditingkatkan dengan sains, tetap saja tak berdaya melawan sihir. Para penyihir bisa mendapatkan segala informasi yang ada di kepala seseorang, dan jika mereka membutuhkan biometrik seperti sidik jari atau pemindaian iris, mereka bisa mengirim orang yang terferifikasi untuk berjalan ke pemindai dan membukakan pintu untuk mereka.
Distrik 1 berisi markas Anti-Skill dan Distrik 2 berisi pusat data komunikasi senjata tak berawak yang disamarkan sebagai laboratorium pengujian mesiu.
Dengan informasi rahasia seperti itu, biasanya butuh waktu bertahun-tahun untuk memastikan keberadaan fasilitas itu, apalagi menentukan lokasinya. Namun, sekelompok penyihir dengan mudahnya mengambil alih kendali.
Dan begitu mereka menguasai lokasinya, mereka bahkan tidak perlu menggunakan sihir untuk mengelabui persenjataan tak berawak itu.
Mereka bahkan secara bertahap mengidentifikasi lokasi ke-12 dewan. Semua informasi yang selama ini dirahasiakan secara tidak wajar harus disembunyikan di suatu tempat di fasilitas yang mereka gunakan. Kanzaki dan yang lainnya bahkan tidak memerlukan pengetahuan atau keterampilan apa pun tentang mesin. Dengan menempatkan simbol-simbol yang diperlukan pada perangkat yang dimaksud dan mengulurkan tangan, mereka dapat membaca residu pikiran yang tertinggal oleh orang-orang yang mengoperasikannya.
Telepati sisi sains dan mantra sisi sihir bekerja secara berbeda.
Yang berarti tidak ada pertahanan terhadap bentuk serangan yang tidak diketahui ini.
(Aleister. …Mengingat siapa dia, aku ragu pendekatan ini akan berhasil saat dia masih menjabat. Tapi keadaan sudah berubah.)
Kasus R&C Occultics telah mengungkap sebagian keberadaan sihir kepada dunia, tapi dilihat dari respons kota sejauh ini, pengungkapan tersebut tampaknya belum mencapai tingkat yang mengharuskan mereka melancarkan serangan khusus terhadap seorang penyihir profesional. Apakah karena informasi yang menyebar melalui tren itu tidak bertahan lama? Bukan hanya orang-orang berhenti memperhatikan, tapi pengetahuan apa pun dapat terdistorsi menjadi tidak berguna seiring penyebarannya.
Mereka telah mengamankan beberapa dewan, jadi tampaknya mereka bisa tetap berpegang pada rencana saat ini sambil tetap waspada terhadap serangan mendadak.
Kanzaki dan yang lainnya telah menang.
(Yang tersisa hanyalah penjara Distrik 10. Tantangan terbesarnya adalah apakah kita bisa menggagalkannya tanpa langsung mendekati titik paling krusial itu, tapi tampaknya ini akan berakhir tanpa memberi mereka kesempatan untuk mengirimkan malaikat dari sisi sains.)
“Tim lain telah mengambil alih stasiun siaran dan pusat data ponsel pintar Distrik 15. Anti-Skill, ya? Kita sekarang bisa memblokir kamera dasbor dan tablet yang mereka gunakan. Rupanya surat perintah penangkapan sekarang sudah digital, jadi ini secara efektif membuat mereka tak berdaya. Apa ini artinya fase 1 telah sukses, Pendeta?”
“Kurasa begitu.”
Kanzaki Kaori tampak tidak senang dengan laporan Tsushima.
Ini tentu saja rencana mereka, tapi…
(Rasanya terlalu mudah. Apa sisi sains benar-benar sudah di ambang kehancuran?)
Anglikan yang terkenal di dunia telah mengerahkan sejumlah besar personel, tapi tetap saja itu hanyalah serangan kilat yang berlangsung kurang dari setengah jam.
Apa yang terjadi dengan keseimbangan kekuatan antara sains dan sihir? Kedua belah pihak yang terlalu seimbang untuk melakukan serangan seharusnya menjadi cara terbaik untuk menjaga perdamaian, tapi sekarang tampaknya satu pihak akan terus-menerus menekan pihak lain.
Bunyi "bip" monoton terdengar di dalam gedung besar tanpa pekerja atau pengawas.
Perangkat komunikasi telah menerima panggilan.
“Jadi kalian orang-orang bodoh yang memperkeruh situasi yang sudah kacau?”
“Tunggu sebentar,” kata Kanzaki sambil melakukan beberapa operasi pada perangkat pusat data. “Aku baru saja mengatur fasilitas ini untuk menangani sebagian pemrosesan yang menjadi tidak stabil. Tentu saja, aku hanya mengikuti instruksi di jendela peringatan. Aku harap itu bisa sedikit menstabilkan komunikasi.”
“Apa tujuan kalian?”
“Kami tidak bisa membiarkan Academy City tetap berkuasa setelah mengetahui bahwa kota itu sendiri melanggar perjanjian antara sihir dan sains. Dan jika kota ini masih menyimpan beberapa rahasia setelah kepergian Aleister, maka untuk memperkuat pijakan dalam pertempuran melawan Coronzon, kami, seleku Anglikan akan mengambil alih pengelolaan kota untuk sementara waktu.”
“Perjanjian…” Gumam Itsuwa, terdengar agak khawatir.
“Ambil alih pengelolaan kota, dasar berengsek. Kalian tahu kan apa yang kalian lakukan itu adalah invasi? Lagi pula, aku bahkan belum pernah mendengar tentang perjanjian yang kau maksud.”
“Itu terjadi sebelum kau mengambil alih. Dan sekarang setelah kami tahu Lola Stuart dari Anglikan adalah Iblis Agung Coronzon dan ketua dewan Academy City adalah Crowley, perjanjian itu kemungkinan besar sudah tidak berguna dan tidak berarti lagi. Lagipula, Uskup Agung Lola dan Ketua Dewan Aleister secara resmi dianggap telah meninggal. Sangat tidak jelas apakah perjanjian yang dibuat antara keduanya masih memiliki kekuatan hukum atau tidak.”
Dan tentu saja, hal itu tidak memberikan pembelaan apa pun bagi ketua dewan yang baru.
Dengan cara tertentu, mungkin ada baiknya jika dia tidak ikut berperan di dalamnya.
“Jika kami tidak bertindak, Coronzon akan terus mengambil alih fungsi Academy City. Kami harus menghentikan mantra Adikalika. Lagipula, kita tidak bisa membiarkan banyak orang tak berdosa mati karena kelaparan, kedinginan, kecelakaan, atau kekacauan lainnya.”
“Cih.”
Namun Kanzaki Kaori tidak bersukacita di sini.
Dia hanya berbicara dengan tenang kepada banyak penyihir di sisinya.
“Kami akan mengelola Academy City. Artinya, keselamatan warga kota dan properti mereka adalah tanggung jawab kami. Jangan lupa bahwa kami berhak disalahkan jika ada satu orang di kota ini yang kelaparan saat terjadi pemadaman listrik atau meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Setiap tim akan mendistribusikan personel ke seluruh kota untuk memulihkan ketertiban dan, jika perlu, membersihkan salju atau mengatur lalu lintas.”
Sebenarnya, Kanzaki Kaori tidak memiliki pandangan yang jelas tentang semua itu.
Misi awal mereka adalah untuk mengambil kembali Index.
Rencana untuk menguasai Academy City hanya akan terwujud jika kota itu menolak mengembalikannya. Rencana itu hanya diubah untuk digunakan dalam perang melawan Coronzon.
Itu semua adalah hasil kebetulan.
Dalam hal ini, dia adalah kebalikan dari Kamijou Touma dan kemalangannya.
Apakah tingkat keberuntungan Kanzaki Kaori yang tidak wajar yang memungkinkan semuanya menjadi begitu baik?
(Aku selalu mendapatkan hadiah pertama atas usahaku. Dan dengan menduduki posisi puncak, keberuntunganku membuat orang di sekitarnya jatuh ke neraka. Itu membuatku muak.)
Iblis Agung Coronzon mencoba menggunakan seluruh kota untuk membangun satu mantra berskala besar.
Fakta bahwa Academy City bisa menggunakan sihir saja sudah menjadi masalah besar, tapi Kanzaki berpikir bahwa mengkritiknya sekarang sama saja dengan salah menempatkan prioritas mereka. Melakukannya sekarang sama saja dengan bermain di tangan iblis yang sedang mempersiapkan Adikalika.
Mereka tidak boleh memberi Iblis itu waktu.
Melawan Coronzon adalah tugas yang lebih mendesak.
Jadi seperti halnya Iblis Agung yang menggunakan sihir untuk mencoba menguasai Academy City, jika umat Anglikan juga mencoba menggunakan sihir untuk merebutnya kembali, maka mereka dapat menciptakan tarik menarik kekuasaan yang seimbang.
“Yang kita miliki hanyalah listrik, gas, dan air yang sangat minim... Tapi, Adikalika yang digambarkan oleh uskup agung saat ini akan langsung menghancurkan kedamaian yang singkat ini. Bahkan, itu akan menjerumuskan seluruh dunia ke dalam api peperangan. Kita harus menghindari perang tiga arah yang tidak berarti antara Anglikan, Katolik Roma, dan Academy City. Dengan segala cara.”
Meski ada keraguan bisakah mereka mengambil alih kendali penuh kembali dari Coronzon, tapi setidaknya mereka dapat menundanya.
Mereka melakukan semua ini hanya untuk itu.
Mereka bahkan mengacungkan pedang dan sihir mereka terhadap orang-orang yang seharusnya mereka bantu.
Kanzaki Kaori menggertakkan giginya.
“Semoga ini bisa sedikit memperlambatnya... tapi itu pun hanya akan mengulur waktu. Krisis ini tidak akan berakhir kecuali kita atasi Coronzon, akar dari permasalahan ini.”
Kembali ke dalam konsulat yang setengah hancur…
“Sekelompok besar Anglikan… baru saja mengambil alih kota dan menjaga ketertiban kota?”
Kamijou yang kebingungan mengulang apa yang baru saja dikatakan Accelerator kepada mereka.
Ini adalah perkembangan yang tak terduga.
Academy City sedang sekarat dan tidak punya cara untuk melawan.
Dan meskipun pihak Anglikan tampak memberikan kerja sama yang bersahabat, kedengarannya seperti mereka telah menyimpulkan bahwa kota itu tidak lagi memiliki kekuatan yang tersisa untuk menjaga perdamaiannya sendiri.
Tampaknya kerangka Academy City akan runtuh akibat konflik antar manusia sebelum Iblis Agung Coronzon bertindak.
“Dion Fortune?” tanya Accelerator. “Lakukan sesuatu soal ini. Kau bos mereka, kan?!”
“Ya…”
Ini seharusnya menjadi pertanyaan dan permintaan mendasar.
Namun Fortune tampaknya enggan menanggapi.
“Kalau boleh menebak, kurasa kekuasaanku tidak akan terlalu efektif di sini. Maksudku, uskup agung sebelumnya adalah Lola Stuart... dengan kata lain, Iblis Agung Coronzon, bukan? Setelah dikhianati oleh orang yang berada di posisi paling atas, mereka akan skeptis terhadap apa pun yang datang dari orang berikutnya dalam peran itu. Dan secara teknis, aku bahkan bukan manusia. Aku awalnya adalah seorang pengintai yang diciptakan oleh Coronzon.”
Gereja Anglikan tidak bisa membiarkan posisi puncak mereka kosong dan mereka membutuhkan seseorang untuk mengisi peran tersebut, tapi bukankah itu berarti mereka benar-benar memiliki banyak kepercayaan pada individu yang terpilih?
Mereka biasanya melakukan apa yang diperintahkan Fortune, tapi hal itu mungkin tidak berlaku saat dunia berada di ambang kehancuran.
“Sial,” gerutu Kamijou lirih.
Sekali lagi situasinya menjadi lebih buruk.
Rencananya untuk membuat Alice Anotherbible diterima dunia dengan mengungkapnya sebagai pahlawan yang telah menyelamatkan dunia dengan mengalahkan Coronzon sudah berantakan.
Academy City adalah tempat yang tepat untuk menyimpan peledak terbesar dari sisi sihir karena tempat itu tidak ada hubungannya dengan sihir.
Namun, karena kini Academy City sendiri dikenal sarat dengan sihir, Anglikan tak akan pernah setuju untuk meninggalkan Alice Anotherbible di sana. Malahan, ada kekhawatiran bahwa menambahkan kekuatan luar biasa Alice ke dalam gudang senjata Academy City dapat memicu terbentuknya faksi ketiga yang dapat menggunakan sihir dan sains.
Dan faktanya, R&C Occultics telah menggunakan keduanya sebagai senjata dan telah menyebabkan kekacauan besar dalam waktu singkat.
Kemudian Dion Fortune pun berbicara dari sofa.
“Tunggu. Tahan.”
“Apa lagi?”
“Yah, ada operasi lain yang sedang dilakukan pada saat yang sama.”
“Apa itu?!”
Pertanyaan kuat Kamijou tidak mendapat jawaban dari Dion Fortune.
Setelah beberapa saat, Dion Fortune akhirnya berbicara pelan dan cepat tanpa menatap mata Kamijou.
“Jika umatku tidak mau menaatiku… situasinya mungkin akan jauh lebih berbahaya.”
“Itu dia. Itu tembok luar Academy City,” kata Index sambil menggendong kucing belacu.
Dia lebih memilih berkomunikasi dengan Anglikan menggunakan merpati pos, ketimbang sinyal elektromagnetik atau kabel serat optik. Tanpa rumah di Academy City dan para penyihir di seluruh dunia mengincar perpustakaan grimoire di kepalanya, dia tak punya pilihan selain kembali ke Inggris.
Tiba-tiba dia mendengar suara.
tapi dia tidak melihat seorang pun di sekitarnya.
Index telah punya teman di Academy City.
Kazakiri Hyouka.
“Jadi kau akan pergi…”
“Ya.”
“Aku akan merindukanmu, tapi jika ini jalan yang kau pilih, aku tidak akan menghentikanmu.”
Index senang mendapat kesempatan bicara dengannya sebelum pergi.
Namun tidak selesai di situ.
Kazakiri punya satu hal lagi yang ingin dikatakan.
“Tapi hati-hati. Jangan lengah sampai akhir.”
“?”
ara tanpa tubuh itu berhenti.
Othinus, gadis setinggi 15 cm di bahu Index, mendesah.
“Mungkin akan terdengar aneh jika datang dari dewa sepertiku, tapi hidupmu penuh dengan orang aneh, ya.”
Mungkin begitu.
Index terus berjalan melewati salju merah untuk mendekati tembok kota.
“Oh, itu dia.”
Dia mendengar sebuah suara.
Itu Agnese Sanctis.
Suster Lucia, Suster Angelene, dan lainnya juga ada di sana. Amakusa mungkin lebih mengenal geografi Jepang, tapi tampaknya unit Katolik Roma yang telah bergabung dengan Anglikan juga ada di sana.
“Aneh,” bisik Othinus di bahu Index.
Kalau dipikir-pikir, bukankah unit Anglikan seharusnya menunggu di luar tembok?
Kucing itu mengeong. Rupanya dia tidak terganggu.
Dengan ingatan Index yang sempurna, dia tahu dia tidak salah ingat. Mereka seharusnya melindunginya setelah dia meninggalkan kota…
“Semuanya jadi kacau. Iblis Agung Coronzon…? Katanya telah muncul di Academy City, jadi kami harus mengurusnya sebelum membawamu pulang.”
“Benarkah?”
Index memiringkan kepalanya.
Apakah benar-benar aman untuk menunggu seperti itu?
Bukankah idenya adalah untuk membawanya keluar dari Academy City dan ke Inggris secepat mungkin?
“Kita bisa saja kembali ke Inggris, tapi, hmm, kalau kita tidak mengatasi masalah Coronzon, negara itu mungkin akan hilang saat kita kembal. Pokoknya, ayo ikut kami.”
Agnese mengambil alih pimpinan. Dan kembali ke kota.
Ini sungguh aneh.
“(Hai.)”
“?”
“(Berhati-hatilah. Perubahan rencana di menit-menit akhir lebih berbahaya daripada malaikat maut di garis depan.)”
Othinus menjaga suaranya tetap pelan sehingga Agnese dan yang lainnya tidak bisa mendengar.
Yang berarti dia berusaha menyembunyikan keraguannya.
Sejak awal ini memang aneh. Rencananya adalah bertemu Index secara diam-diam dan membantunya melarikan diri dari kota, tapi kelompok Agnese tampaknya tidak khawatir akan ketahuan. Meskipun Academy City bisa dengan mudah menganggap ini sebagai pengkhianatan. Rasanya mereka sama sekali tidak khawatir akan tertangkap.
“Untuk saat ini, aku akan membawamu ke Distrik 2. Akan lebih baik jika kau bisa bertemu Kanzaki.”
“(P-permisi. Kami mendapat laporan dari Eks Pasukan Agnese. Mereka bilang Index-san sudah dibawa ke sini.)”
Ruangan itu begitu hening sehingga bisikan pelan Itsuwa kepada Kanzaki berhasil memenuhi seluruh ruangan.
Suasana aneh menyelimuti pusat data senjata tak berawak Distrik 2.
Dan udara ini bukan metafora.
Bau kematian menyelimuti tempat itu.
Sama seperti keringat manusia dan bau binatang yang jelas berbeda, bau busuk spesies kita sendiri yang membusuk pun berbeda. Otak memperingatkan kita untuk selalu waspada dan tidak mengabaikan apa pun.
Bahaya sedang mendekat.
“Halo, halo. Aku Isabella Theism dari Necessarius. Aku adalah Ahli Nekromansi.”
Ada perbedaan yang kontras antara senyum riang dan kata-kata yang dihasilkannya.
Nekromansi.
“Aku tahu reputasinya memang meragukan, tapi ramalan dan ketidakmurnian kematian hanyalah dua takhayul yang masih melekat di lubuk hati orang-orang normal, bahkan di dunia sains. Seperti menganggap sebuah rumah istimewa karena ada yang terbunuh di sana, atau menganggap tali istimewa karena pernah digunakan untuk menggantung seseorang. Mengerti maksudku? Itu sesuatu yang tak bisa disingkirkan dengan rumus matematika. Mungkin dianggap konyol, tapi itu tetap ada di dalam diri seseorang. Itulah yang kumanfaatkan☆”
Kehebohan menyebar di sekitar Kanzaki Kaori.
Para Amakusa telah dikembangkan (oleh Kanzaki sendiri) untuk menjadi murni dan lugas. Mereka tidak bisa begitu saja menerima seseorang yang menyebut dirinya Ahli Nekromansi.
Dan wanita itu tampak terbiasa dengan reaksi tersebut.
Dia sendiri adalah seorang wanita cantik dengan rambut perak dan kulit coklat, tapi yang dilakukannya hanyalah tersenyum dalam balutan kain compang-camping yang dipenuhi bau kematian.
Agnese, yang datang jauh-jauh ke Distrik 2 untuk mengawal Index, bergabung dalam percakapan sambil menyingkirkan salju merah dari bahunya.
“Dia berpengalaman sebagai pemimpin tim. Kudengar dia telah membereskan beberapa masalah besar berskala global, seperti Pertempuran Pulau Kadaver dan Bencana Necropolis. ...Yang berarti dia menyembunyikan jati dirinya saat terakhir kali kami bekerja sama.”
“Oh, ya. Aku memang melakukan hal-hal itu. Tapi aku tidak menyembunyikannya sepenuhnya. Aku hanya lupa. Buat apa repot-repot mengingat suatu kejadian setelah urusannya berakhir?”
“Jadi kau juga memecahkan masalah-masalah itu dengan ilmu hitam?”
“Setiap orang memulai dengan caranya masing-masing, tapi akhirnya mereka semua meratap. 'Andai aku tak pernah lahir', dan sebagainya. Jadi, aku lupa. Semuanya kabur dalam ingatanku☆”
Ini bukan hal yang lucu.
Keduanya benar-benar perang sungguhan, bahkan jika dilihat dari hitungan resmi, lebih dari seribu pejuang. Dan mereka semua adalah penyihir profesional dari cabal sihir tingkat atas. Jika hitungannya melebihi anggota resmi dan mencakup para pekerja yang membangun barikade, para pengintai dan mata-mata yang bersembunyi di sana-sini, dan para tentara bayaran (dari pihak sihir tentu saja) yang diundang untuk memperkuat personel mereka, siapa yang bisa memastikan berapa jumlahnya. Dan mereka semua berakhir dengan hasil yang kurang lebih sama.
Hanya Isabella sendiri yang terus tersenyum kosong.
“Hehe. Kau takut ya?”
Suara "Hiiik" lepas dari seseorang.
Itsuwa tersentak karena tiba-tiba menjadi pusat perhatian wanita itu, jadi Tsushima, yang merupakan tipe onee-san, secara naluriah menyelip masuk ke tengah-tengah mereka berdua.
“Anggur yang tidak difermentasi dan roti cokelat yang hambar — keduanya adalah simbol kematian,” Isabella bersenandung tanpa peduli sekitar. “Nama nekromansi terdengar menakutkan, tapi intinya memang begitu. Dulu, nekromansi perlu menggambar lingkaran sihir pada mayat, tapi sekarang semua orang memakai tiruan agar tidak menarik perhatian polisi. Negara ini pun punya ritual membakar atau mengubur boneka sebagai pengganti manusia, kan? Ya, persis begitu.”
“Eh?” Itsuwa terdengar terkejut. “Jadi kau tidak benar-benar bekerja menggunakan mayat?”
“Kurasa hal yang paling mendekati yang kulakukan adalah meminjam pakaian mereka. Meskipun ada beberapa faksi yang berbeda pendapat mengenai apakah hal itu dilakukan untuk mencari jiwa orang mati agar dapat memanggilnya kembali, atau untuk mengekstrak ingatan dan kesaksian dari orang mati.”
Sejujurnya, bahkan di zaman sekarang ini, ada cara untuk mendapatkan satu set mayat manusia secara legal (meskipun dengan mengakali celah hukum) untuk memperoleh tubuh manusia yang telah meninggal secara utuh, tapi Isabella tidak melakukan hal itu.
Alasannya sederhana.
Dia tidak melihat manfaat dari memiliki mayat asli.
Setidaknya dalam ilmu sihir Eropa Barat, ritualnya sebenarnya sangat berbeda dari citra yang tersebar.
“Menggali kubur dan menjadikan mayat sebagai budak? Membangkitkan mumi dari sarkofagus kuno? Tidak, tidak, aku tidak mau. Tidak ada lagi yang menggunakan metode itu, terlalu tidak efisien. Lagipula, inti dari nekromansi adalah seni berkomunikasi dengan roh orang mati. Jadi, ini bukan tentang membebaskan batasan fisik untuk mendapatkan kekuatan super, melainkan tentang mendapatkan informasi yang seharusnya tidak kau miliki dengan menggunakan roh-roh yang telah terbebas dari hukum fisika. Jadi, bisa dibilang ini seperti ramalan buruk.”
Dari sudut pandang orang Jepang, itu seperti versi Kokkuri-san yang menggunakan orang mati.
|Kokkuri-san adalah permainan ramalan mistis. Hampir mirip dengan permainan jelangkung.
Teknik ini hanya digunakan untuk belajar.
Jadi tak bisa dengan sengaja kerasukan, membiarkan entitas misterius masuk ke dalam tubuh sehingga bisa melampaui hukum fisika dan menyemburkan api dari tangan. Itu terlalu berbahaya.
Selama memahami metode yang tepat, kita dapat menyelesaikan ritual tanpa mayat asli.
Bisa jadi ruangan tempat seseorang meninggal, tali yang digunakan untuk menggantung seseorang, atau pakaian yang tercium bau kematian. Seberapa banyak "udara kematian" yang dibutuhkan suatu benda untuk membimbing kita ke kondisi mental khusus bergantung pada masing-masing penyihir, tapi dalam kasus ini, tingkat teknik ditentukan oleh seberapa hemat biayanya.
Isabella Theism telah mencapai titik di mana dia bisa melakukan ini:
“Sebenarnya, lebih baik punya resep untuk mayat yang semua bahannya bisa ditemukan di supermarket atau toko perkakas biasa. Ambil daging babi atau sapi, lalu buat tengkorak dari kayu, dan sebagainya.”
“Begitukah metodenya? Kedengarannya lebih seperti proyek studi mandiri.”
Komentar Itsuwa membuat Isabella bertepuk tangan kegirangan.
“Semuanya tergantung kualitasnya. Dulu, sebelum CG begitu umum digunakan, film-film gore punya banyak trik untuk membuat isi perut palsu terlihat asli. Kualitas gambar yang buruk memang membantu, tapi hasil akhirnya jauh lebih mengerikan daripada yang kita lihat dalam film horor modern.”
Kanzaki mendesah dan berbicara.
“Aku tidak tahu apa kami akan memanfaatkanmu. Untuk saat ini, kurasa perebutan kota melawan Coronzon akan terus berlanjut sementara kita mencoba menunda aktivasi Adikalika, tapi sihir untuk memakan nyawa secara artifisial terdengar tidak terlalu berguna di sini.”
“Kau mau mengendalikan seluruh kota?” tanya Isabella pelan. Dengan nada mengejek. “Serius kau berkata begitu? Ambil saja infrastruktur dan fasilitas penting sebanyak yang kau mau, kau tidak akan sepenuhnya menghentikan kota ini. Masih banyak lagi yang tersembunyi di balik layar. Belum lagi kau bahkan belum menangkap setengah dari 12 dewan dan tidak tahu di mana sisanya. Kau tidak bisa menghentikan pekerjaan Coronzon dengan mati-matian berusaha menutup semua lubang. Academy City punya lebih dari satu peta. Awalnya tampak seperti kota yang damai, tapi hal-hal yang tersembunyi di balik beberapa peta yang tumpang tindih itulah yang membuatnya begitu mengerikan.”
Bukan Kanzaki yang langsung menjawab.
Itsuwa membuat bantahan pertama sambil gemetar.
“B-bagaimana kau bisa tahu? Academy City seharusnya juga dunia yang tidak kau kenal.”
“Aku bisa mencium bau kematian di sini. Kota ini penuh dengan kematian, jadi pasti ada lebih banyak lagi yang belum kita lihat.”
Pernyataannya terdengar jelas.
Atau mungkin ini adalah perasaan yang hanya dimiliki oleh para Ahli Nekromansi.
Kanzaki mengajukan pertanyaan yang hati-hati.
“Memang mudah menemukan kesalahan, tapi jika kau yang memimpin, apa yang akan kau lakukan untuk menyelesaikan masalah ini?”
“Baiklah, sebagai Ahli Nekromansi. Yang akan kulakukan pertama kali adalah...”
Isabella mengalihkan perhatiannya ke sesuatu selain Iblis Agung Coronzon atau Academy City.
Dia fokus pada gadis yang seharusnya dipulangkan dan dilindungi.
“Perpustakaan Grimoire, ya? Rupanya masih ada yang tersisa di Academy City yang kacau ini. Sungguh beruntung Coronzon tidak mengamankannya sebelum kita menemukannya. Coronzon tidak akan membiarkan seseorang seberbahaya itu bebas. Menangani hal itu harus menjadi prioritas utama kita.”
“Apa yang akan kau lakukan dengan Index?!”
“Untuk saat ini, mengurungnya seharusnya sudah cukup. Dia tidak akan menjadi masalah selama Coronzon tidak bisa menyalahgunakan pengetahuannya, sehingga situasinya tidak cukup mendesak untuk mengharuskannya dibungkam secara permanen. Tapi untuk lebih jelasnya, itu hanya untuk saat ini.”
Isabella Theism mengatakan dia akan melakukannya jika memang diperlukan.
Dia memandang Adikalika saat ini sebagai ambang batas dari yang terburuk yang bisa terjadi. Mereka harus mencegah agar 103.001 grimoire tidak digunakan untuk mempersingkat masa persiapan Adikalika atau menciptakan sihir yang bahkan lebih merepotkan daripada Adikalika.
Isabella Theism benar.
Meskipun dasar masalahnya jadi terpelintir.
“Faktor ketidakpastian lainnya adalah Kamijou Touma.”
Isabella Theism sebenarnya terdengar geli.
Sang Ahli Nekromansi berkulit cokelat melanjutkan.
“Efek dari tangan kanannya memang menarik, tapi mau siapa pun itu, seseorang yang pernah mati sudah menjadi bagian dari wilayahku. Dia sudah mati. Itu adalah sumber daya yang harus dimanfaatkan untuk efektivitas maksimal. Tentu saja untuk menyelesaikan masalah Coronzon dan Adikalika.”
“Itu tidak bisa diterima—”
“Oh? Lalu siapa yang bisa melindungi seseorang yang di atas kertas masih dianggap mati?”
“Tunggu.”
Gangguan itu datang dari biarawati putih.
Meski begitu, kekhawatiran Index bukan untuk dirinya sendiri.
“T-Touma…?”
“…Haa, menyebalkan sekali.”
“Kenapa kau bicara begitu tentang dia? Pernah mati? Kenapa kau bicara begitu? Apa yang sebenarnya terjadi pada Touma?!”
Index mendengar percikan lengket.
Dari bahunya.
Mereka telah dicengkeram oleh tangan mayat yang berubah warna, dengan tulang yang terlihat dan juga bau busuk.
Index bahkan tak sempat berteriak. Mayat-mayat membusuk yang terlalu meleleh dan membengkak hingga tak bisa membedakan jenis kelamin mereka telah mencengkeram bahunya dan menjepitnya ke lantai.
“Aw!!”
“Jangan khawatir. Ini mayat palsu yang terbuat dari bahan-bahan sanitasi,” kata Isabella dengan wajah tenang.
Tapi, terlepas dari apa pun bahan pembuatnya, mereka adalah "mayat" yang dibuat secara profesional agar tidak bisa dibedakan dari mayat asli. Rasa terkejut saat berkontak dengannya pun tak jauh berbeda.
“Aku datang jauh-jauh ke Jepang untuk melakukan pekerjaanku. Aku tidak tertarik dengan dramamu.”
Index memiliki ingatan yang sempurna.
Jadi dia tidak akan pernah melupakan apa pun yang dilihatnya atau dirasakannya.
Jadi.
“Jangan… bercanda.”
Sebuah suara baru datang bergabung.
Itu Stiyl Magnus.
Berbeda dengan Index, tidak ada laporan kedatangannya. Kanzaki seharusnya yang bertanggung jawab di sini, tapi dia tidak tahu mengapa Stiyl ada di sini atau bagaimana Stiyl bisa terluka dan lemas seperti itu.
Tapi sesuatu pasti telah terjadi sehingga dia terluka parah.
Stiyl terengah-engah dan terpaksa menyeret tubuhnya saat mendekat.
“Apa yang kau lakukan, Isabella Theism? Kau ingin mengurungnya? Hentikan sekarang juga. Kau tidak pantas memimpin Anglikan... Sebagai seorang Saint, Kanzaki-lah yang memegang kendali di sini. Kalau kau tetap menentang, aku akan menghukummu!!”
“Ehh? Menyebalkan. Orang pertama yang mengkhianati Kanzaki tidak pantas bicara soal aturan.”
Sebuah massa besar jatuh dari kain milik sang Ahli Nekromansi dan mendarat di kakinya.
Mayat itu sudah benar-benar kering, makanya ringan.
Apakah itu ditempel di bagian dalam kain perca miliknya, ditata dengan tepat agar tersembunyi meskipun banyak lubang?
Kemungkinan itu hanya tiruan yang terbuat dari campuran tulang sapi, babi, keramik, dan masih banyak lagi.
“Apa ini benar-benar pekerjaan yang bisa diserahkan kepada subkontraktor? Pemimpin di lokasi haruslah seorang Anglikan sejati. Dan kurasa kau tidak memenuhi syarat setelah terburu-buru melakukan dendam pribadi.”
Bongkahan kematian yang tergeletak di kakinya tiba-tiba menyerap semua kelembapan di sekitarnya.
Sisik itu tumbuh hingga hampir tiga meter dan kehilangan bentuk humanoidnya.
Kanzaki menyadari apa yang sedang terjadi.
“Tunggu, Isabe—?!”
Sebuah letupan basah pun menyusul.
Darah dan isi perutnya berwarna merah. Butiran-butiran kematian tersebar merata di seluruh penjuru. Masing-masing butiran dapat menggerogoti kaca yang digunakan untuk menyimpan hampir semua bahan kimia dan plastik yang tidak akan terurai bahkan setelah terkubur selama 100 tahun. Dan jumlahnya mencapai puluhan hingga bahkan ratusan ribu.
“?!”
Bahkan Kanzaki Kaori pun tersentak di hadapan kontaminan itu. Dia dengan tajam merentangkan kawat tipis tak kasat mata untuk dikorbankan kepada cairan kental itu. Untuk melindungi para Amakusa di belakangnya, bukan dirinya sendiri.
Yang mana itu menciptakan sebuah kesempatan kecil untuk menyerang.
Sang Saint yang bersikeras akan menyelamatkan semua orang hanya bisa menyaksikan Stiyl Magnus dan Isabella Theism melangkah maju.
Mata pendeta jangkung itu tampak jijik.
“Hanya itu?”
Stiyl membentangkan kartu rune-nya.
Pedang api terjulur dari tangan kanannya yang terkepal.
“Apa kau kira itu bisa menghentikanku, Isabella?!”
Kematian dengan cara dibakar melambangkan pemurnian dalam Kristen. Tapi, hal itu tidak berarti keselamatan bagi objek yang dibakar. Sebaliknya, pembakaran bertujuan memusnahkan objek tersebut untuk melenyapkannya dari dunia. Beberapa orang bahkan percaya bahwa tubuh yang dibakar menurut prosedur ritual tertentu kehilangan hak untuk berpartisipasi dalam Penghakiman Terakhir.
Itu masalah kecocokan.
Sejumlah kontaminan itu dapat dihilangkan oleh pedang api Stiyl.
Maka, tipu daya sang Ahli Nekromansi terbukti sia-sia ketika pedang sang pendeta mengiris ruang najis itu, bersama dengan penyihir yang telah menyebarkan kontaminan mematikan.
Bwoof!!!
Api menderu kencang saat menghisap oksigen. Tak hanya menghembuskan api dari luar, tubuh sang Ahli Nekromansi berkulit cokelat yang teriris itu juga ikut terbakar.
Api menyebar dengan cepat.
Namun perlawanannya terlalu lemah untuk seseorang yang dibakar hidup-hidup.
Akhirnya, Stiyl mulai menyadarinya.
“Apa ini tiruan lain yang terbuat dari bahan yang berbeda?!”
Saat kata-kata itu keluar, dia dikelilingi oleh wanita-wanita berkulit cokelat.
Semuanya adalah tiruan.
Namun Stiyl tidak punya waktu untuk terkesiap.
Tepat di belakangnya, Isabella Theism bersembunyi di antara para tiruan. Dia tidak bertindak kasar.
Justru lembut.
Dia hanya menempelkan tangannya di bahu pendeta itu.
Mata Stiyl Magnus melotot dan berputar ke atas.
Stiyl batuk dan mengeluarkan sesuatu yang gelap. Segumpal darah. Lebih banyak warna mengerikan tumpah dari kelopak mata dan telinganya. Tapi yang terpenting, tubuhnya yang setinggi dua meter itu roboh.
Bahkan para anggota veteran Necessarius yang terkenal di dunia karena keterampilan mereka dalam pertempuran melawan penyihir tidak dapat menceritakan apa yang telah terjadi.
“Tidak seperti kau, aku datang jauh-jauh ke Jepang untuk melakukan pekerjaanku.”
Sang ahli kematian—Ahli Nekromansi berkulit cokelat—pun terkekeh dan berbicara.
“Aku tidak tertarik dengan kisah kasih masa mudamu.”
Kematian dan Pembantaian
VS_NECROMANCER.
Matahari terbenam di Academy City.
Salju merah terus berlanjut bahkan saat malam tiba.
♦♦♦
“Nghhh…”
Ahli Nekromansi Isabella Theism mengangkat tangannya dan merenggangkan badan.
Bahkan yang menjadikan kematian sebagai mata pencahariannya pun hembusan nafas putihnya terlihat dalam kegelapan.
Gedungnya sempit dan Isabella tahu dia merusak suasana, tapi dia tidak punya kewajiban untuk bergaul dengan rekan-rekannya. Dia datang ke Jepang bukan untuk mencari teman.
Mereka telah mengambil alih kota ini.
Mereka telah mencapai apa yang dianggap oleh sisi sihir secara keseluruhan sebagai prestasi besar. Hal ini saja pasti telah menyebabkan keributan di Katolik Roma dan Ortodoks Rusia. Jika kekuatan sains ikut serta dalam konflik ini, hal itu akan sangat mengubah kebuntuan tiga pihak antara Inggris, Roma, dan Rusia.
Menawarkan Academy City kepada ratu akan cukup untuk membuat nama Isabella Theism tercatat dalam sejarah.
(Bagaimana sejarah akan menggambarkan diriku itu masih sebuah misteri. Ratu itu adalah orang yang jujur, menghargai perdamaian, dan membenci pertempuran.)
Tapi mengendalikan dunia tidak ada artinya jika dunia itu hancur besok.
Dia harus fokus pada Iblis Agung Coronzon untuk saat ini.
“Yang berarti aku tidak punya waktu untuk mendengarkan keluhan dari orang luar.”
Dia fokus pada earphone-nya dan mendengar suara kesal.
“Ada apa denganmu? Bukankah terlalu cepat kalau mau berpaling?”
“Yang kulakukan hanyalah meletakkan dasar-dasar yang aku rasa perlu untuk misiku. Bagiku, ini terasa cukup damai dibandingkan dengan mengebom hutan atau bangunan-bangunan yang mungkin digunakan musuh untuk bersembunyi.”
“Hoi, tunggu dulu. Kan kalian, orang-orang Anglikan sendiri yang bilang ingin front persatuan.” Suara ketua dewan yang baru itu merendah. “Itu sebabnya aku tidak banyak melawan ketika mengetahui kebiadaban kalian. Terlepas dari apakah itu manusiawi atau tidak, aku bisa saja menggunakan resonansi magnetik yang jauh melampaui standar keamanan apa pun untuk mengguncang saraf kranial seseorang dan mengubahnya menjadi pion hidup, dari jarak yang aman. Aku bisa melakukannya.”
“Yah, itu interpretasi baru tentang zombi. Aku suka zombi, tapi kau tidak mengendalikan orang mati.” Isabella malah terdengar geli. “Apa kita sudah menandatangani dokumen? Apa kita sudah mengecapnya dengan segel? Yang kau maksud hanyalah obrolan tak berdasar dengan pemimpin kami sebelumnya, yang sejak awal memang tidak berhak memimpin. Sekarang setelah aku menjabat, aku tidak terikat oleh janji lisan yang samar atau pemahaman tersirat. Aku, Isabella Theism, akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk menghentikan mantra serangan skala besar Adikalika yang sedang dipersiapkan oleh Iblis Agung Coronzon. ...Dan tentu saja, sebagai Ahli Nekromansi aku serius☆”
Jika pemimpinnya berubah, maka kebijakan keseluruhan pun berubah.
Sisi buruk organisasi itu mulai menampakkan diri.
Setelah memercayai dan membuka diri kepada pemimpin sebelumnya, pemimpin itu disingkirkan oleh pertikaian internal dan kini orang yang sama sekali berbeda memimpin dan mengatakan hal yang sebaliknya. Semua kepercayaan pribadi yang dibangun sebelumnya telah dialihkan sepenuhnya kepada orang lain dan semua risiko dilimpahkan kembali kepadanya karena telah membuka diri. Padahal, ini bukan saatnya untuk teralihkan dengan omong kosong semacam itu.
“Tidakkah kau mengerti bahwa permainanmu ini hanya akan membawa ke kematian yang tak berarti?”
“Tak berarti? Tentu saja tidak! ...Aku tak akan membiarkan satu kematian pun terbuang sia-sia. Aku biasanya menggunakan tiruan daripada mengonsumsi mayat sungguhan untuk mantraku, tapi bukan berarti aku tak punya kemampuan untuk melakukannya. Dan menciptakan tiruan dari bahan yang aman dan andal itu pekerjaan yang berat. Jika Academy City akan membiarkan mayat sungguhan ini terbuang sia-sia, aku akan bertanggung jawab penuh dan memanfaatkannya dengan baik.”
Isabella tersenyum.
Ini bukan kebohongan atau ejekan, dia benar-benar bersungguh-sungguh.
Dengan Isabella Theisme, perdebatan tentang apakah dia orang baik atau jahat tidak ada artinya. Makna keadilan berubah tergantung sudut pandang, dan pendapatnya secara teknis benar jika yang diinginkan hanyalah menjaga keamanan Inggris Raya. Tentu saja, itu mengesampingkan pertanyaan apakah rakyat Inggris mengizinkan perdamaian yang dibangun di atas kematian orang lain.
Bagi Isabella, nyawa bagaikan bahan bakar yang dapat dibakar seefisien mungkin. Menggunakannya tanpa menimbulkan limbah adalah sebuah kebajikan. Dengan kata lain, melindungi nyawa orang lain secara tidak efisien bukanlah hal yang penting.
Entah ini baik atau jahat, itu tidak penting. Pertanyaan itu bisa ditunda.
Tapi Accelerator punya jawaban mengenai apakah dia menyukainya atau tidak: dia sangat tidak menyukainya.
“…Kau berbeda.”
“Dari apa?”
“Kau sama sekali tidak seperti Ahli Nekromansi yang kukenal.”
“Aku tahu bahwa orang yang duduk di kursi ketua dewan pasti punya koneksi yang menarik. Tapi, bidang itu pun telah bercabang menjadi banyak ideologi dan faksi yang berbeda.”
Ya. Kepekaannya bukan karena dia seorang Ahli Nekromansi atau karena dia seorang penyihir yang ahli dalam kematian manusia. Semua ini kembali pada keyakinan dan selera pribadi Isabella.
Kegigihan Isabella untuk selalu melakukan apa yang benar membuat Accelerator kesal, tapi Isabella-lah yang akhirnya berada di posisi yang memengaruhi nasib Academy City dan dunia secara keseluruhan. Apakah dunia benar-benar berada di tangan yang tepat? Dalam arti tertentu, Isabella bahkan lebih menyebalkan daripada Coronzon yang menentang dunia secara lebih langsung.
“Tapi faktanya tetap saja, berapa pun banyaknya keluhanmu tidak akan mengubah apa pun. Maksudku, Academy City sudah berantakan, kan? Kau tidak bisa mengumpulkan cukup pasukan untuk melawan Coronzon. Jadi, terlepas dari keluhanmu yang masuk akal, kau tidak punya pilihan selain mengandalkan para ahli Anglikan yang telah memasuki kotamu. Dan perlukah aku mengingatkanmu bahwa kami, umat Anglikan, yang telah mengatasi ancaman Coronzon di masa lalu?”
“…”
“Kartu truf Academy City, Alangkah baiknya kalau kau masih punya itu.”
Di sebuah rumah sakit Distrik 7, seorang perawat yang telah berusaha keras untuk memodifikasi seragam perawat resminya agar menyerupai rok mini melangkah ke ruang gawat darurat.
“Hei, Dok☆ Ada pesan dari Anti-Skill, eh... gimana cara baca nama ini? Artinya sungai mata air kuning, harusnya kasih tahu cara bacanya juga dong. Ngomong-ngomong, dia salah satu orang yang menjaga kedamaian kota. Ada yang mau minta pendapat ahli medis.”
“Jika itu tidak akan menyelamatkan nyawa, aku tidak tertarik.”
“Aku tidak yakin soal itu. Ada beberapa laporan saksi di sekitar kota yang mengatakan bahwa seorang anak yang telah mati bernama Kamijou Touma bangkit kembali dan bergerak keliling kota.”
“…”
Dokter berwajah katak itu mendesah.
Kini ada nama yang tidak dia duga terdengar lagi olehnya.
Dan…
“Apa dia benar-benar telah meninggal?”
“Mereka tidak tahu, itu sebabnya mereka meminta saran dari dokter yang menyatakannya telah meninggal. Mereka juga tampaknya tidak bisa menghubungi krematorium.”
Itu berarti ada kemungkinan bahwa anak itu tidak mati.
Dokter berwajah katak itu telah memastikan kematian anak laki-laki itu dan bahkan menjahit tubuhnya yang hancur. Dia bahkan telah mengamati proses pembalseman di kamar mayat, tapi apakah mungkin untuk memalsukan kematian dalam keadaan seperti itu?
Tapi.
Jika anak lelaki itu masih hidup, apa pun kondisinya, dia akan menjadi salah satu pasien yang harus diselamatkan oleh dokter berwajah katak itu. Anak lelaki itu mungkin kembali terjebak dalam masalah, tapi itu bukan alasan bagi dokter berwajah katak itu untuk menyerah pada pasiennya. Apa pun masalahnya.
(Yah, itu memang terdengar seperti dirinya.)
“Pindahkan pasien itu ke monitor ini. Rumah sakit ini penuh dengan komputer, jadi monitor ini sama bagusnya dengan yang lain.”
“Baik.”
Perawat yang daya tarik seksnya berlebih dan terus-menerus mengganggu pasien meninggalkan ruangan.
Tepat pada saat berikutnya, sesuatu yang lain terjadi.
Lebih tepatnya, ada sesuatu yang bergerak di atas tandu berdarah di ruang gawat darurat. Mungkin karena pasien wanita malang itu tidak teridentifikasi (meskipun ada sesuatu yang tampak seperti kartu identitas tergantung di lehernya), dia telah dikirim dari Distrik 10 dan melintasi batas distrik untuk mencapai rumah sakit ini. Tapi bukankah dia sudah mengalami henti jantung saat tiba di sini?
“Apa…?”
Segera setelah pertanyaan membingungkan dari dokter berwajah katak, hal itu pun terjadi.
Itu seperti perangkap tikus yang dilengkapi pegas yang kuat.
Pasien gawat darurat muda itu kehilangan begitu banyak darah setelah menggigit lidahnya hingga dia bahkan tidak bisa menggerakkan jantungnya sendiri, tapi kini dia terduduk. Dengan kekuatan yang cukup untuk merobek tabung bypass kardiopulmoner yang menghubungkannya ke kotak eksternal.
“Selamat pagi deyansu!”
“…”
Dokter berwajah katak itu tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi pasien gawat daruratlah yang tersenyum dan berbicara kepadanya.
“Ohh, pusingnya. Darahku tidak mengalir ke otak. Mungkin itu sebabnya diagnosis mandiriku terhenti deyansu... Pasti sulit kan bagimu menangani pasien yang mengalami henti jantung yang bahkan tidak bisa kau identifikasi dengan benar? Jane Doe ini sebenarnya bernama Kihara Goukei, tapi kau boleh memanggilku Gou-neechan. Oh, ya. Kau tahu nama ambulans yang membawaku ke sini? Para EMT itu bekerja sangat keras sepanjang tahun, jadi aku merasa tidak enak merepotkan mereka. Aku akan kirimi mereka mangga mahal nanti.”
|Jane Dou adalah jenazah(wanita) yang identitasnya tidak diketahui.
Goukei berbicara sangat cepat.
Lidahnya berfungsi cukup lancar untuk seseorang yang telah menggigitnya cukup parah hingga dapat membunuhnya.
“Eh, jadi, apakah orang mati yang bangkit kembali merupakan tren terbaru di kota ini?”
“Jangan tanya aku. Tapi seluruh tubuhku dipenuhi teknologi semacam itu,” ungkap Kihara Goukei dengan santai.
Inilah wajah Bio Secure yang sesungguhnya.
“Nhh hee hee☆ Kalau tergabung dalam tim yang menangani mayat hidup ilegal di kota, kita mesti mengumpulkan banyak pengetahuan khusus dari seluruh penjuru kota. Dan tidak ada yang benar-benar melacak teknologi aneh itu setelah disita, jadi jika diterapkan untuk keperluan pribadi sebelum dibuang, maka tidak akan ada orang yang sadar.”
“Jadi kau telah mengubah tubuhmu sendiri menjadi kumpulan penelitian terlarang yang kau kumpulkan di Academy City?”
“Karena mencuri data orang lain jauh lebih cepat daripada mengembangkannya sendiri. Tapi ketimbang mentalitas peneliti, itu lebih mirip mentalitas mata-mata industri.”
Menggigit lidah akan membunuh kita?
Kalau begitu, kita hanya perlu memiliki dua lidah.
…Bermain-main dengan kematian pada level itulah yang membuatnya menjadi seorang Kihara.
“Apa kau tidak menganggap bahwa hidup ini berharga?”
“Tentu saja hidup itu berharga.”
Jawabannya datang seketika.
Terdengar sangat tulus.
Tapi semua itu terdistorsi sedetik kemudian.
“Itulah kenapa bermain-main dengannya sangat mengasyikkan deyansu! Hidup itu unik, bukan sekadar selembar kertas yang bisa diganti, itulah yang membuatnya begitu menarik deyansu. Ah, hah. Melakukan sesuatu yang seharusnya tak dapat diubah!! Ah ha ha. Bukankah itu definisi sebenarnya dari sebuah penistaan?!”
Inilah perbedaan antara orang biasa dan keluarga Kihara.
Bukannya mereka tidak memahami nilai itu. Mereka memahaminya dengan sempurna, tapi tujuan mereka dalam menangani sesuatu yang berharga itu sama sekali berbeda. Mereka adalah sekelompok orang yang sama sekali tidak bisa dipahami.
Kihara Goukei yang tampak riang kembali melanjutkan.
“Cukup sampai sini, orang sehat yang nongkrong di ruang gawat darurat hanya akan merepotkan pasien lain, jadi aku permisi dulu. Oh, ke arah mana meja pembayarannya deyansu? Rumah sakit ini besar juga, jadi apakah ramai di hari kerja? Aku sedang buru-buru, jadi akan sangat membantu jika kau bisa alihkan tagihannya ke kartuku deyansu.”
“Aku merasa membiarkanmu pergi akan membawa masalah bagi lebih banyak orang.”
“Kau tidak bisa berbuat apa-apa, seorang dokter tidak bisa menghentikanku.”
Kihara Goukei bicara dengan lugas.
Ada peralatan khusus di sini, seperti pisau bedah yang digunakan untuk memotong kulit dan tulang. Bahkan membuka katup anestesi pun mungkin bisa menetralkan orang berbahaya ini.
Tapi…
“Kau dokter yang terampil deyansu. Cukup terampil sampai membuat seorang Kihara sepertiku iri. Tapi keahlianmu hanya bisa digunakan untuk menyelamatkan orang. Kau mungkin secara teknis memiliki keahlian itu, tapi kau tidak bisa melukai atau menjahit seseorang untuk tujuan lain deyansu. Begitulah cara dokter bekerja.”
“…”
“Sudahlah, jangan khawatir. Aku juga sedang bekerja untuk menjaga perdamaian Academy City. Jadi jangan menatapku dengan tatapan muram begitu dong. Aku tetap akan melakukan tugasku deyansu.”
“Meskipun kau seorang Kihara?”
“Ya. Aku akan melakukannya sebagai seorang Kihara.”
Laboratorium pengujian mesiu Distrik 2 sebenarnya adalah pusat data senjata tak berawak.
Itu adalah tempat yang luas.
Dan keamanannya pada kenyataannya terlalu maju untuk dimanfaatkan sepenuhnya oleh para biarawati dan penyihir yang kurang memahami teknologi ilmiah.
Ada banyak titik buta.
Lucia telah menyeret Agnese dan Angelene ke ruang kendali suhu.
Sederhananya, ruangan itu dilapisi dengan katup dan tangki pendingin kimia yang digunakan untuk mendinginkan komputer besar.
“Apa yang mau kau bicarakan?”
“Aku mau membahas mengenai apakah kita akan terus mematuhi Isabella atau tidak.”
Suster Lucia sangat teliti.
Dia mungkin tidak menyukai metode Isabella yang menyerang orang-orangnya sendiri ketika mereka menghalangi jalannya dan menerima yang kotor bersama dengan yang bersih — yang pada kenyataannya lebih condong ke arah kotor.
“Eh? Eh? Tapi Anglikan menerima kita saat kita kabur dari Katolik.”
Angelene yang membungkuk buru-buru mengamati wajah Agnese dan Lucia.
Itu adalah poin pertama dan paling penting.
Sebanyak 250 anggota Eks Pasukan Agnese tidak akan memperoleh apa pun dengan berselisih dengan umat Anglikan.
Justru, nyawa mereka bisa jadi taruhannya.
Tapi Lucia menyilangkan tangannya dan melanjutkan.
“Aku merasa kesepakatan kita telah dilanggar.”
“Yah... pada dasarnya kita cuma numpang di tempat mereka. Ini bukan pertama kalinya kita diberi pekerjaan serabutan yang jelas-jelas tidak sepadan dengan usahanya. Dan semua pencapaian kita hanya akan diberikan kepada pemimpin yang tertulis di atas kertas.”
Agnese mengangkat bahu, tapi Lucia tidak berhenti.
“Dia mengalahkan Stiyl dan aku tidak suka identitas aslinya yang dia sembunyikan. Bisakah kita benar-benar menyerahkan nasib Semenanjung Italia di tangannya? Tidakkah situasi ini mengkhawatirkan buat kalian berdua?”
“Jika Adikalika diaktifkan, dunia akan menuju kehancurannya. Inggris tidak punya alasan untuk menahan diri.”
“Jadi, menurutmu mereka akan memperlakukan semuanya dengan setara? Benarkah? Menghancurkan Vatikan tidak akan serta merta menghancurkan London.”
Suasana membeku.
Pernyataannya membuat sebuah retakan.
Dan argumen Suster Lucia tidak salah.
Sekalipun dunia ditakdirkan untuk hancur hari ini atau besok, apakah Inggris benar-benar melakukan semua yang mereka bisa? Misalnya, Ratu Elizard tidak ada di sini. Putri Riméa, Carissa, dan Villian pun tidak tampak. Memang tidak biasa bagi keluarga kerajaan untuk dikirim ke garis depan, tapi kenapa semuanya masih berjalan "seperti biasa" dengan semua yang telah terjadi?
Sekalipun umat Katolik menginginkan mereka mati, tapi Agnese dan yang lainnya tidak bisa membiarkan umat Katolik mati.
Mereka hanya bersama Inggris karena itu paling sesuai dengan tujuan mereka. Itu sebabnya Agnese baru saja mengatakan bahwa mereka pada dasarnya hanya menumpang.
Angelene tergagap, “Ka-kalau dipikir-pikir, aku belum melihat tanda-tanda keberadaan Ksatria di sini. Anglikan adalah satu-satunya dari tiga faksi yang hadir di sini. Tadinya aku pikir itu hanyalah keberuntungan karena bisa menghindari pertikaian internal, tapi sekarang…”
Mudah untuk mencurigai bahwa Inggris tidak menanggapi hal ini seserius yang seharusnya.
Meskipun jam menunjukkan tengah malam dapat menjadi tanda Semenanjung Italia menjadi lautan darah, daging, dan tulang.
Diskusi itu dengan cepat mencapai titik di mana akan terlihat buruk bagi mereka jika didengar oleh salah satu umat Anglikan sejati.
Tapi mereka tidak dapat menahan diri untuk tidak menjadi emosional satu sama lain.
Agnese mengajukan pertanyaan dengan hati-hati.
“Jadi maksudmu ada yang aneh dengan penempatan garis pertahanan mereka?”
“Kita ini kacung, atau bahkan pion tumbal bagi mereka. Aku sudah menduga mereka akan meminta kita untuk mempertaruhkan nyawa dan bertarung di sini. Kanzaki mungkin tidak akan meminta kita karena dia terlalu baik, tapi kenapa Isabella Teisme tidak menuntut kita?”
Mungkinkah Inggris terlalu optimis?
Apakah mereka hanya melihat ini sebagai kejadian Academy City di Asia yang jauh, di belahan dunia lain?
Sekalipun mereka mengacau dan Semenanjung Italia terendam lautan darah, daging, dan tulang, apakah mereka pikir mereka masih punya kesempatan lain? Mungkin itu hanya alam bawah sadar, tapi apakah mereka berpikir bahwa masih ada zona penyangga?
Lucia ada benarnya.
Terutama dari sudut pandang Eks Pasukan Agnese yang ingin melindungi Semenanjung Italia dengan segala cara.
Tapi, di saat yang sama, Agnese sempat merasakan hawa dingin di tulang punggungnya. Rasa dingin yang sangat terasa.
Penyebutan Iblis Agung Coronzon mungkin telah mengingatkannya.
(Ini terjadi terakhir kali di London, bukan?)
Jadi dia berhati-hati.
Dia harus memperlakukan ini seperti menjinakkan bom.
Coronzon adalah seorang ahli dalam menghancurkan ikatan antar manusia.
Jadi mungkin saja konflik ini telah direncanakan dan kecurigaan antara sekutu ini semuanya akan menguntungkan sang Iblis Agung.
(Suasana menjadi seperti perang. Bukankah aromanya mulai sama seperti ketika Suster Orsola digiring menuju penghancuran diri?)
“Tapi kau tidak sedang mengusulkan kudeta, kan? Anglikan punya lebih dari 10 ribu orang di Academy City, jadi 250 orang kita tidak akan bisa berbuat apa-apa. Dan mereka bahkan punya Saint yang luar biasa. Belum lagi pertikaian internal saat Adikalika sedang dipersiapkan hanya akan membuat Coronzon senang.”
“Aku tahu itu,” jawab Lucia segera. Rupanya dia punya ide lain. “Itu sebabnya kukatakan kita tidak boleh menyerahkan ini ke tangan yang salah. Setidaknya, Isabella tidak boleh menjadi orang yang memikul nasib Semenanjung Italia di pundaknya.”
“Lalu Kanzaki? Dia orang yang luar biasa baik, tapi dia harus melindungi Amakusa. Akankah dia benar-benar mengambil langkah berani untuk membantu kita?”
“Tidak.”
Suster yang teliti itu dengan tegas menolak gagasan tersebut.
“Bukankah masih ada orang lain? Saat ini, semua orang harus memanfaatkan semua yang dipunya, tapi ada satu orang yang justru terbuang percuma.”
Ketiganya saling bertukar pandang.
Setelah dipikir-pikir…
“Jika Gadis itu yang menjadi pusatnya, maka semua orang di sini akan melakukan tugasnya, terlepas dari posisi mereka di peta kekuatan sisi sihir. Bahkan jika itu berarti harus memaksa maju ke garis pertahanan yang telah mereka tarik. Tidakkah kalian setuju?”
Di konsulat Distrik 12, Kamijou Touma dan yang lainnya sedang mendiskusikan sesuatu. Mungkin sebuah rencana untuk melawan Coronzon.
Merasa tersisih, wajah Hamazura Shiage menjadi muram.
“Kau tahu… aku tidak percaya Coronzon kembali mencoba menghancurkan dunia.”
“Yah, itu sudah instingnya sebagai Iblis Agung,” jawab Dion Fortune dengan santai. “Kau tidak bisa berharap untuk menyelesaikan masalah ini hanya lewat percakapan. Bahkan orang yang blak-blakan seperti Kamijou Touma pun takkan mampu menghentikannya.”
…Benarkah?
Hamazura teringat kembali pada lautan beku di Inggris. Terakhir kali mereka berbicara di kapal pesiar, dia tidak merasa bahwa wanita itu adalah perwujudan dari iblis.
333, dispersi. Dialah yang menghancurkan ikatan manusia dan menghambat evolusi mereka.
Itu memang benar.
Tapi di sisi lain…
“Coronzon membantu menyelamatkanmu waktu itu. Dia banyak mengeluh, tapi dia selalu menolak saranku.”
“Tapi apakah dunia pada secara umum akan menganggap itu sebagai tindakan kebaikan? Kau lupa bahwa aku hanyalah pion yang dia ciptakan untuk melumpuhkan fungsi Inggris. Dia sedang menyelamatkan salah satu penyerang miliknya.”
Hamazura tidak pernah memikirkannya seperti itu sebelumnya.
Hamazura berusaha menekan respons refleksifnya dan memastikan untuk benar-benar berpikir sebelum kembali berbicara.
“Apa maksudmu dia hanya tertarik karena itu adalah tindakan jahat?”
“Entahlah. Bahkan para penyihir yang berspesialisasi mempelajari Coronzon pun berbeda pendapat soal itu. Master Mathers bersikeras bahwa Coronzon adalah kejahatan absolut, sementara Crowley berpendapat bahwa Coronzon hanyalah salah satu sisi dari kejahatan relatif. Bahkan mereka yang berada di puncak sisi sihir pun tidak yakin akan sifat aslinya, jadi itu bukan sesuatu yang perlu kau khawatirkan.”
Tidak seorang pun tahu.
Itu tidak jelas.
Tapi dunia telah memutuskan bahwa pokoknya dia itu jahat?
Dion Fortune bukan satu-satunya yang tergesa-gesa menyelidiki Adikalika.
Ini memengaruhi semua orang di dunia.
Dan rumah Crowley di Inggris Raya menyimpan banyak sekali dokumen terkait Magick-nya. Karena didasarkan pada sumber yang sama, Isabella bisa membuat beberapa prediksi dan perkiraan tentang seperti apa versi Iblis Agung Coronzon nantinya.
Dengan pengetahuan umum tentang dampak kehancurannya, satu pertanyaan tetap ada di benak Isabella Theism.
(Mengapa Roma dan bukan Inggris?)
Tentu saja, dia bisa menduga bahwa kekuatan Adikalika akan sulit digunakan secara efektif melawan Inggris karena riset mereka tentang teknik anti-Crowley. Dan jika Adikalika menghancurkan seluruh wilayah, hal itu akan memicu kekacauan dan perang global, baik yang menjadi targetnya adalah umat Anglikan maupun umat Katolik.
Tapi apakah itu benar-benar cukup bagi Iblis Agung?
Dendamnya jelas terpusat pada Inggris. Inggris pastinya adalah tempat yang paling ingin dia hancurkan. Dan begitu dia memutuskan untuk menghancurkannya, bukankah dia akan memastikan hal itu terjadi, berapa pun biayanya atau seberapa rumit persiapannya?
“Itu bukan rencana alternatif. Coronzon tidak perlu berkompromi dan beralih ke opsi kedua.”
Tapi jika itu benar, maka pertanyaan lain pun muncul dari Isabella.
“Dia sengaja menargetkan markas besar Katolik Roma di inti Semenanjung Italia. … Apakah ada sesuatu di sana?”
Dan oleh sebab itu.
Di Distrik 7 Academy City.
Isabella Theism memutuskan untuk mencari titik pengamatan untuk Coronzon. Dia punya banyak pion yang bisa digunakannya, tapi apakah itu ide yang bagus? Mereka tidak akan menolak perintahnya begitu saja, tapi meskipun mereka menunjukkan kepatuhan, mereka mungkin menyembunyikan informasi yang berguna. Jadi, Isabella memutuskan untuk melakukan penyelidikannya sendiri.
Apa yang ingin dihancurkan Coronzon dalam serangannya di Semenanjung Italia?
Mengungkapkan struktur mantra Adikalika yang dahsyat itu mungkin bisa memberikan petunjuk.
“Hm.”
Iblis Agung Coronzon berada di distrik yang sama.
Isabella Theism datang ke sini dengan harapan menemukan sesuatu, tapi…
“Pasti ada sesuatu.”
Ada sesuatu yang berdesir.
Kelihatannya seperti kepiting raksasa, tapi itu bukan kepiting. Monster itu tingginya sekitar 2 meter dan mengerikan. Bukannya makhluk beracun, makhluk ini justru membangkitkan rasa jijik yang mirip seperti mengintip ke dalam tong sampah dapur di rumah orang asing. Gumpalan emas yang memancarkan cahaya bengkok itu sebenarnya terbentuk dari gumpalan sesuatu seperti rambut pirang panjang.
“?”
(Rambut pirang panjang. Jadi ini dari Coronzon? Heboh sekali. Fakta bahwa dia mengirim pion untuk menghalangi kami, menunjukkan bahwa meski dia pura-pura santai, tapi kekhawatirannya jelas terlihat.)
Rupanya, kumpulan gumpalan itu tidak melulu harus berupa kepiting.
Isabella juga melihat seekor ular besar melata di atas salju merah, seekor kelelawar bersayap tipis, seekor lalat gemuk, seekor gurita berkaki delapan, seekor siput pemakan tanah, dan seekor kalajengking yang gerakannya berbeda dengan kepiting. Tentu saja, mereka semua terbuat dari rambut pirang.
(Pada tingkat ini, tampaknya grombolan itu bukan diambil dari simbol-simbol horoskop.)
Mungkin saja grombolan monster itu didasarkan pada iblis yang lain, tapi Isabella juga tidak yakin akan hal itu. Tidak seperti horoskop, dia tidak mengenal adanya iblis kepiting.
Isabella Theism adalah seorang Ahli Nekromansi yang ahli dalam kematian.
Saat dia berdiri diam dan menebarkan aroma kematian untuk berpura-pura mati, sesosok monster berambut pirang lewat tepat di depannya. Mereka tampak tidak terlalu cerdas. Mungkin mereka tidak bisa berimprovisasi, atau mungkin mereka tidak bisa mengenali orang jika mereka tidak memenuhi persyaratan pencarian tertentu yang telah ditentukan.
Hal yang sama terulang beberapa kali.
Monster-monster itu berkeliaran dengan jumlah yang cukup padat. Lebih tepatnya, Isabella bisa melihat dua atau tiga monster dari persimpangan jalan utama. Distribusinya tampaknya berbeda-beda tergantung lokasi, jadi perjalanan menuju area yang lebih padat mungkin akan menunjukkan lokasi Coronzon. Tapi, berpura-pura mati membutuhkan usaha yang cukup besar, jadi dia memutuskan untuk mengakhiri misi pengintaiannya di sini. Dia juga ragu menahan napas akan cukup untuk mendekati Coronzon dan melancarkan serangan dadakan.
(Lagipula aku ragu mereka adalah satu-satunya pion yang dimiliki Coronzon. Setelah lolos dari para kroco, aku mungkin akan bertemu dengan bos tengah yang sedang menungguku.)
Kamuflase kematian Isabella cukup efektif.
Monster pirang emas itu gagal memperhatikannya bahkan ketika lewat tepat di depannya.
Tapi apa yang akan terjadi jika mereka sadar akan keberadaan Isabella?
Jawabannya cukup jelas jika melihat kaki kepiting dan capitnya yang berbunyi "ctik, ctik".
“Keluar selangkah saja mungkin akan berakibat fatal di Distrik 7 ini.”
Di sisi lain, tidak ada bau darah yang kuat yang menyelimuti kota itu.
Para pion tidak berkeliaran secara aktif membobol rumah-rumah dan membunuh orang.
Grombolan monster itu tidak akan melukai siapa pun selama tidak ada yang keluar dari gedung.
Jadi, pion-pion ini dimaksudkan untuk memastikan tidak ada yang mengganggu persiapan Adikalika. Dengan memberi mereka kemampuan khusus dan pola gerakan sederhana, Coronzon mampu menghindari kesalahan yang akan menunda rencananya dengan memberikan terlalu banyak energi kepada para prajuritnya.
…Tentu saja, jika kita gagal memahami polanya, maka sama halnya seperti mengundang kematian.
“Uwah!!”
Isabella mendengar sebuah jeritan.
Dari seorang anak lelaki kecil berusia mungkin 8 atau 10 tahun. Setelah melihat monster di luar jendela, apakah dia berpikir bahwa kamarnya terlalu berbahaya dan kabur keluar, ketimbang mengunci diri dan duduk diam? Isabella melirik anak itu, tapi langsung menyerah.
Dia terlalu jauh.
Dia tidak dapat menggapai anak itu.
Dan tidak salah jika dia mengabaikan anak itu.
Satu-satunya tujuan Isabella adalah mencegah aktivasi Adikalika dan melenyapkan Iblis Agung Coronzon. Dia tidak diminta untuk menghitung dan melaporkan berapa banyak orang yang tewas dalam prosesnya. Dion Fortune? Bahkan jika uskup agung itu menambahkan syarat itu sekarang, dia hanyalah pemimpin palsu yang diberi posisi untuk mengisi kursi kosong sementara. Anggota yang lebih tua tidak berkewajiban untuk mematuhinya.
Suara daging terbelah dan darah menyembur terdengar keras.
Ekspresi Isabella hampir tidak berubah.
Seseorang telah melindungi anak lelaki itu dengan memposisikan dirinya di depan anak itu. Wanita itu mengenakan masker khas dan berpakaian seperti dokter gigi. Capit dan kaki emas sang monster telah menusuk tepat ke punggung wanita itu.
Warna merah berhamburan darinya.
Siapa pun bisa tahu kalau dia kehilangan banyak darah, tapi…
“Duh.”
Wanita itu terdengar riang.
Tidak, dia nampaknya kesal.
“Siapa pun yang merancang makhluk ini perlu mengamati kepiting dengan lebih cermat dan belajar lebih banyak tentang romansa deyansu. Capit kepiting tidak menusuk atau menebas seperti pisau, melainkan menjepit dan menghancurkan seperti pemotong rantai!!”
Setelah suara gesekan tumpul, pion sepanjang dua meter itu terbelah dua. Tepat di tengah. Kepiting itu kehilangan kendali dan terbelah. Menjadi benang-benang yang tak terhitung jumlahnya. Bukan, maksudnya rambut.
Bagaimana wanita itu melakukannya?
Baru sekarang rasa ingin tahu Isabella tergugah. Sekalipun dia hanya seorang pengintai atau petugas patroli, apakah Academy City benar-benar masih punya seseorang yang mampu mengalahkan salah satu pion Coronzon?
Anak lelaki dan wanita itu tampak sedang berbicara.
“A… anu.”
“Ada apa deyansu?”
“Onee-chan, Terima kasih…?”
Wanita yang dimaksud berlumuran darah.
Tidak peduli betapa tak terkalahkannya gerakan pamungkasnya, punggungnya masih ditusuk berulang kali.
“Hiik?!”
“Cup, cup. Jangan khawatir. Aku tidak dirancang untuk membiarkan hal kecil seperti ini membunuhku. ...Lagipula, aku adalah Kihara Goukei, tapi kau bisa memanggilku Gou-neechan deyansu.”
“Onee… ahh, k-kau luka parah… ini… ini salahku…”
“Daripada itu...”
Wanita itu menggunakan kata-kata itu untuk menghentikan darah yang masih mengucur darinya.
Wanita berdarah itu bersikap seolah-olah pertanyaan berikutnya adalah sesuatu yang benar-benar penting.
“Siapa, um… siapa namamu?”
“Urekawa. Urekawa Ousuke.”
“Urekawa-kun? Uhuk, ini penting kalau kau mau selamat... jadi perhatikan baik-baik supaya kau tidak lupa deyansu.”
Duduk di tanah, Kihara Goukei menunjuk ke tempat lain.
“Apa…?”
“Apa kau lihat bus di sana?”
Jaraknya tak jauh. Pria paruh baya yang tertatih-tatih di kursi pengemudi itu diragukan punya SIM kendaraan besar, tapi itu tak masalah asalkan dia bisa menjalankan busnya.
“Sebentar lagi busnya akan berangkat, jadi kau harus naik sebelum busnya jalan. Dan orang-orang dewasa yang baik di dalam akan memastikan kau bisa kabur dari sini deyansu... jadi cepatlah.”
“Tapi... bagaimana denganmu? Kita harus menghentikan pendarahanmu!!”
“Jangan khawatir.”
Intensitas di balik kata-kata itu membuat bahu kecil anak lelaki bernama Urekawa itu melonjak.
Hanya orang kelas rendah yang akan memamerkan senjatanya untuk mendapatkan kepatuhan dari mereka yang tidak mampu bertarung. Seorang profesional sejati dapat dengan mudah memikat hati seseorang hanya dengan mengubah suasana hatinya.
Anak lelaki itu mundur beberapa langkah.
Kihara Goukei tersenyum kecil saat dia melihat punggung kecil itu berlari ke tempat lain.
Lebih banyak lagi makhluk emas aneh itu berkeliaran di area tersebut, tapi mereka tidak menyerang siapa pun di balik tembok atau pintu. Jadi, terlepas dari apakah bus itu bergerak atau tidak, anak lelaki itu akan aman begitu berada di dalamnya.
Jadi wanita itu menyimpulkan bahwa anak lelaki itu pasti akan baik-baik saja.
Setelah masalah itu selesai, Kihara Goukei beralih ke ancaman yang sesungguhnya.
Dengan kata lain, menuju Isabella Teisme.
“Baiklah.”
Grrret!! Setelah suara tarikan yang tidak mengenakkan, pendarahan Kihara Goukei pun terhenti.
Wanita itu tidak punya perban, bahkan plester kecil pun tidak, tapi dia melakukannya sendiri.
“Hemostasis mandiri. Trik ini tidaklah aneh deyansu. Ini fungsi standar bagi hewan yang memotong bagian tubuhnya sendiri untuk menghindari predator dalam tindakan yang dikenal sebagai autotomi. Misalnya seperti ekor kadal atau kaki kepiting.”
“Kalau kau bisa menghentikan pendarahanmu sesuka hati, kenapa kau tidak jatuh dan pura-pura mati saja? Dengan begitu, kau sama saja meminta seseorang untuk menghabisimu.”
“Lalu siapa yang akan melindungi anak itu deyansu? Dari monster-monster itu dan darimu yang dengan santainya membiarkan dia mati.”
Isabella Theism mendengar bunyi "psssh" pelan dari sesuatu di udara.
“?”
Sesuatu menusuk paha kanannya.
Dia tidak merasakan sakit.
Itu adalah anak panah dari senjata bius.
“Oke, kalau sakit angkat tanganmu, ya deyansu.”
Diiringi suara gesekan logam yang terus-menerus, sesuatu seperti gulungan terbuka. Sebuah sabuk selebar buku catatan kuliah terentang di sekitar Kihara Goukei seperti selendang dewi-dewi. Sabuk itu dipenuhi oleh alat-alat penyiksaan.
“Tapi bukan berarti aku akan berhenti☆”
Dokter gigi yang kejam itu menyeringai di balik maskernya.
Dan bentrokan pun dimulai.
“Dinginnya…”
Index hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang sisi sains, jadi dia tidak tahu di mana dia dikurung. Ruangan itu sangat mirip kolam renang dalam ruangan yang sangat besar. Lengan dan kakinya tidak terikat, tapi melarikan diri dari ruangan berbentuk kotak itu tetap akan menjadi tantangan.
Sementara itu, Othinus melihat sekeliling dari bahunya.
“Mereka bilang ini pusat data senjata tak berawak... tapi apakah ini kamar kosong? Mereka akan membutuhkan lebih banyak server seukuran mesin penjual otomatis saat mereka benar-benar membutuhkan daya pemrosesan yang lebih besar, jadi mereka pasti sudah mengamankan ruang untuk itu sebelumnya.”
“Apa maksudmu?”
“Ruangan itu besar dan terkunci rapat, tapi dibiarkan kosong karena belum digunakan.”
Ya, itu kedengarannya seperti tempat yang nyaman untuk mengurung seseorang.
“Hei, kau baik-baik saja?” tanya Othinus.
“Aku lapar, dinginnya sih tidak seberapa.”
“Bukan itu maksudku. Kau tidak bisa melupakan kejadian sebelumnya, kan?"
Apakah Othinus merujuk pada mayat tiruan sang Ahli Nekromansi, atau fakta bahwa Index telah dikhianati oleh rekan-rekan Anglikannya?
Index tersenyum kecil sambil menggendong kucing di lengannya.
“Aku baik-baik saja.”
“…”
“Ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Touma yang dinyatakan meninggal dan segalanya telah direnggut darinya. Aku bisa menahan rasa sakit ini, tapi berbeda dengan Touma. Seharusnya dia tidak perlu menanggung semua itu.”
“Ya,” kata Othinus.
Kamijou Touma masih hidup, tapi ada orang-orang yang tidak bisa menerimanya. Dewa setinggi 15 cm itu teringat kembali pada kamar asrama yang kosong itu. Kematian Kamijou Touma sendiri mungkin terjadi secara kebetulan, tapi ada seseorang di suatu tempat yang diuntungkan karena membiarkan Kamijou dalam kondisi "mati".
Entah itu dari sisi sains atau sisi sihir.
Apa pun itu…
“Merampas kuil dan takhta dewa adalah dosa yang tak terampuni. Siapa pun yang bertanggung jawab, dia harus membayar pelanggaran terhadap kesucian tanah suci-Ku.”
Saat itu, mereka mendengar suara langkah kaki.
Langkah kaki itu terhenti di depan pintu dan diikuti oleh bunyi klik kunci yang sedang dibuka.
Ada seseorang yang datang.
“Diam.”
Pintu terbuka perlahan dan Kanzaki Kaori masuk sambil menempelkan jari di bibir.
Dia membawa seikat kunci.
“Pintunya punya dua kunci. Idenya adalah agar Amakusa dan Eks Pasukan Agnese masing-masing punya kunci untuk mencegah pengkhianatan, tapi seperti yang kau lihat, aku salah satu dari kurang dari 20 Saint. Mereka tidak bisa menghentikanku saat aku sudah bertekad.”
“Kau benar-benar… membebaskan kami?”
Pertanyaan Index membawa kesedihan di mata Kanzaki.
Seolah dia tidak menduga pertanyaan seperti itu muncul.
“Kalau aku tidak melakukannya, Stiyl pasti akan melakukannya, bahkan jika itu akan membunuhnya. Aku sudah terlalu sering membiarkannya menjadi penjahat.”
“?”
Index tampak bingung. Dia tidak mengerti mengapa Kanzaki mengungkit-ungkit pendeta itu.
Keyakinannya yang besar terhadap ingatannya yang sempurna hanya membuat ingatan yang hilang itu menjadi semakin terasa kejam.
Dia bahkan tidak merasa ragu terhadap ingatan yang sengaja dihapus oleh pihak luar tersebut.
(Lola Stuart ternyata adalah Iblis Agung Coronzon. Aku ingin sekali dia merasakan kekuatan penuhku sebagai Saint untuk membalas apa yang telah dia lakukan kepada kami.)
Tapi mungkin itu bukan perannya.
Kanzaki menyadari hal itu.
Dia mengagumi Index lebih dari yang bisa diungkapkannya, tapi dia tidak berniat menghancurkan dunia gadis itu saat ini.
“Dengar. Isabella sedang pergi entah ke mana, jadi ini kesempatanku untuk melepaskanmu. Pengetahuan tentang 103.001 grimoire-mu seharusnya digunakan untuk melindungi orang-orang. Jadi, sebaiknya kau pergi ke tempat Kamijou Touma sekarang.”
“Tapi tunggu.”
Othinus menyela setelah mendengarkan dari bahu si biarawati.
Dia menghargainya… tapi keputusan yang berdasarkan dorongan emosional itu sudah kelewat batas.
“Anglikan adalah sebuah organisasi, kan? Organisasi global. Sekalipun secara pribadi kau tak tahan pada Isabella, melanggar perintahnya hanya akan merugikan dirimu dan rekan-rekanmu.”
“Bagaimanapun juga, ini adalah sesuatu yang harus kulakukan. Lagipula, aku mengenal teman-temanku. Tak satu pun dari mereka ingin aku menyelamatkan mereka dengan mengorbankan kebebasanmu. Dan yang kumaksud bukan hanya Amakusa. Eks Pasukan Agnese jelas-jelas menahan diri saat melawanku.”
Itulah akhirnya.
Kanzaki berdiri dengan teguh.
Dewa setinggi 15 cm itu mendecak lidah dan mengalihkan pandangannya.
…Bagaimana dia bisa menolak kebaikan ini ketika Kanzaki menatapnya seperti itu?
“Akan jadi tantangan bagi kami untuk bekerja sama langsung dengan Kamijou Touma. Kami punya terlalu banyak kewajiban lain. Tapi kalian berdua…”
“Kami akan melakukannya.”
Index bahkan tidak membiarkan Kanzaki menyelesaikan kalimatnya.
Tatapan mata yang kuat menatap langsung ke mata Kanzaki.
“Karena aku tahu itulah yang seharusnya kulakukan. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah membantu Touma.”
“Lewat sini.”
Kanzaki Kaori tidak akan pernah lagi berdiri di sisi Index.
Sekarang ada orang lain di sana.
Tapi dia tidak berniat untuk menyingkirkan orang-orang itu demi merebut kembali posisi tersebut.
Kepercayaan Index telah sirna bersama dengan ingatannya.
Jadi, satu-satunya pilihan adalah membangun kembali keduanya. Sekalipun hasilnya akan berbeda dari sebelumnya.
“Aku bisa menunjukkan pintu keluar gedung, tapi hanya itu yang bisa kami lakukan. Kau harus menemukan cara untuk menemukan Kamijou Touma sendiri dan bergabung dengannya. Perpustakaan Grimoire Index, kuserahkan kebenaran dan kebanggaan Anglikan di tanganmu.”
Suara gemerisik menyeramkan memenuhi jalan.
Kepiting emas dan gurita secara otomatis melacak pergerakan Kihara Goukei dan bergegas ke arahnya, tapi masing-masing dari mereka diiris dan pecah secara bergantian.
Di malam hari, gergaji tulang dan tang dengan tajam memantulkan sedikit cahaya yang tersisa dari lampu jalan.
Kihara Goukei berharap dapat mengakhiri hidup Isabella sebelum kekuatan ototnya yang ditingkatkan secara paksa menghancurkan persendian dan tulang rawannya, tapi Isabella jauh lebih lincah dari yang dia duga.
Secara khusus, kondisi Kihara Goukei saat ini memberinya kecepatan yang cukup untuk dengan mudahnya menghindari peluru yang terbang langsung ke arahnya, tapi…
(Hm? Refleks biasa seharusnya tidak mampu merespons ini.)
Itu berarti fisik musuhnya telah ditingkatkan dengan cara tertentu.
Kalau dipikir-pikir, ada yang aneh dengan kain perca wanita cokelat itu. Mengingat cara kain itu berkibar tanpa terpengaruh angin, kain itu tampak seperti otot, mirip pegas yang terpasang di luar.
“Tampaknya dia juga kebal terhadap anestesi deyansu. Tubuhnya memang sudah gila.”
“Kau menanyakan itu pada seorang Ahli Nekromansi?”
Sesuatu meluncur lewat di atas kepala Kihara Goukei.
Itu adalah kain lap kotor yang sangat bernoda kuning dan coklat sehingga warna aslinya tidak dapat ditentukan.
Benda itu berputar tinggi di udara, lalu meregang dan jatuh langsung dari langit. Hampir seperti guillotine atau semacamnya.
“Apa kau ini Ittan-Momen 2.0?”
|Ittan-momen adalah yokai yang memiliki tubuh seperti selembar kain putih panjang. Illustrasi>>
Kihara Goukei mempertimbangkan cara untuk menghindarinya, memiringkan kepalanya, dan memutuskan untuk melompat mundur selangkah.
Dia mendengar sesuatu membelah udara.
Diikuti oleh tabrakan hebat.
Aspalnya mudah hancur dan bahkan tanah gelap di bawahnya pun terlempar ke udara. Tak perlu dikatakan lagi apa yang akan terjadi jika benda itu mengenai manusia.
Nekromansi Eropa Barat bukanlah tentang mengendalikan mayat yang membusuk untuk disemburkan ke musuh, dan nekromansi juga tidak memanfaatkan dendam orang mati untuk membunuh. Identitas dan esensi sejatinya adalah pemanggilan jiwa-jiwa yang telah meninggal menggunakan pakaian dan harta benda lain yang digali dari kuburan, serta pengungkapan rahasia tentang dunia dan individu menggunakan ramalan (mancy) orang mati (nekro). ...Sederhananya, nekromansi merupakan tren rahasia di kalangan kelas atas yang bosan karena risikonya sangat kecil untuk mencobanya (karena membuka peti mati bukanlah kejahatan jika milik anggota keluarga).
Ini berarti mengendalikan pakaian orang mati adalah spesialisasi mereka.
Tentu saja, ini tidak berlaku bagi Ahli Nekromansi dari daerah dan budaya lain.
“Itu bukan sekadar kain. Apa kain itu dikeraskan dengan lem atau semacamnya deyansu?”
“Ini tidak lebih dari sekadar tubuh manusia. Dengan sedikit kecerdikan dan kreativitas, aku bisa memotong dahan pohon dengan ini.”
Guillotine yang mematikan dijatuhkan dari ketinggian untuk kedua dan ketiga kalinya, tapi Kihara Goukei mencegatnya dan menjatuhkannya ke tanah dengan forsep raksasanya, gergaji tulang, dan peralatan penyiksaan lainnya.
“Lepaskan otot mata, tingkatkan ketajaman visi sebesar 500%.”
(Berdasarkan rasa di pergelangan tanganku, beratnya beberapa kali lipat dari bola boling terberat. Begitu ya. Jadi masalahnya adalah ketinggian saat bola itu dijatuhkan deyansu.)
“Ugh, pusing. Erk. Oh, benar juga. Harusnya aku kencangkan perutku dulu deyansu…”
“Muntahlah di dalam maskermu kalau mau. Tapi aku akan membunuhmu saat kau melakukannya.”
Jumlah kain yang beterbangan di atas kepala tiba-tiba melebihi jumlah jari pada kedua tangan.
Dan tidak semuanya guillotine. Yang tampak seperti garpu rumput besar mungkin adalah Cat's Paw yang digunakan untuk merobek permukaan tubuh seseorang. Yang sangat mirip permainan derek dengan ujung runcing mungkin adalah Spanish Spider yang ditusukkan ke punggung seseorang agar mereka dapat digantung di langit-langit dan dagingnya terkoyak oleh berat badan mereka sendiri.
Bentuknya lebih memiliki kesan historis daripada berfokus pada efisiensi.
Apakah itu hanya selera buruk dari sang Ahli Nekromansi?
Kihara Goukei bergumam lirih.
(Yah, melihat sekilas saja sudah bisa mengerti semuanya, tapi aku juga tidak berhak mengkritik orang lain deyansu.)
Isabella menyeringai tipis.
“Jago juga kau, atau mungkin kau memakai semacam trik, tapi kau cuma bisa menangani dengan dua tangan. Aku tak butuh yang spesial. Aku bisa membanjirimu dengan jumlah yang lebih banyak!!”
“Oh, logika yang bagus.”
Dengan suara pakaian yang robek, jumlah lengan Kihara Goukei tiba-tiba bertambah menjadi enam.
Hal serupa juga bisa terjadi. Saat mengejar fungsi murni, jadinya justru menghasilkan tampilan yang mirip seperti makhluk mitos.
“Menambahkan lebih banyak lengan tidak terlalu sulit. Yang perlu dilakukan hanyalah menyesuaikan posisi sendi bahu deyansu.”
Mereka terus bentrok.
Lengan-lengan yang terbentang seperti sayap itu bisa dikorbankan. Serangan pertama merobek salah satu lengan Kihara Goukei beserta alat penyiksaan yang dipegangnya. Serangan kedua mengorbankan lengan lainnya. Lengan-lengan itu lebih banyak yang patah daripada terpotong. Apakah dia berhasil melawan wanita berkulit cokelat itu karena dia menggunakan campuran berbagai senjata? Kihara Goukei tidak terlalu peduli selama guillotine tidak mengiris wajah atau tubuhnya beserta lengannya. Dan serangan ketiga ditepis dan diikuti dengan suara berderak.
Serangan itu menabrak sesuatu yang keras.
Benda pipih persegi panjang di telapak tangan Kihara Goukei adalah perisai raksasa. Bedanya, benda itu terbuat dari sesuatu yang lebih biologis ketimbang baja atau plastik.
“Hwa ha ha ha! Persiapan selesai! Nama monster ini adalah Manusia Kepiting deyansu!!"
“?”
Dalam sekejap gerakan Isabella terhenti, Kihara Goukei melancarkan pukulan hook kanan yang tajam. Lengannya telah berubah menjadi capit kepiting seukuran manusia, sehingga pukulan langsung akan menghancurkan dan memutuskan leher seperti pemotong rantai.
Cprat!!
Suara berdarah itu datang dari tengah dada Kihara Goukei.
Beberapa benda seperti pik gitar putih telah menembus punggungnya.
Isabella yang tidak terluka tersenyum menawan.
Mata Kihara Goukei melebar.
“…Hah?”
“Apa kau sudah lupa aku menyebut diriku apa? Kan aku sudah memperkenalkan diriku sebagai seorang Ahli Nekromansi.”
Senjata apa yang dia gunakan?
Apa yang menusuk punggung Kihara Goukei dan meledak dari tengah dadanya?
…Itu adalah lengannya sendiri yang patah dan robek. Atau lebih tepatnya, tulang yang remuk di bagian yang patah?
“Dan siapa bilang kalau aku hanya bisa versi Eropa Barat saja☆”
“…”
“Aku tidak menyangka kau akan menyebarkan daging matimu sendiri. Terima kasih atas bantuannya. Rasanya seperti kau memintaku untuk memanfaatkannya.”
“Gh… ph.”
Kihara Goukei mencoba berbicara, tapi hanya darah segar yang memenuhi maskernya. Segumpal darah yang masif.
Dia ditikam di lokasi yang sangat fatal.
“Kau bisa menggunakan trikmu dan menipu kematian sebanyak yang kau mau.”
Ahli Nekromansi Isabella Theism menyeringai dan memercikkan sesuatu dari jari-jarinya.
Tak terlihat, tapi baunya seperti darah. Seperti melihat katak remuk di pinggir jalan saat hujan.
“Tapi semua daging yang pernah mati adalah wilayah kekuasaanku. Setelah mati, kau kehilangan hak atas tubuhmu sendiri.”
Sesaat kemudian, semua darah, daging, dan tulang terpisah saat dia menyerbu ke arah mantan pemiliknya dari segala arah.
Sementara kelompok Kamijou melanjutkan diskusi mereka, bel pintu konsulat kembali berbunyi.
Terakhir kali, dia menjadi terlalu tegang hanya karena ternyata itu adalah kelompok Dion Fortune. Berkat pengalaman itu, kali ini dia jauh lebih santai.
“Kali ini siapa, ya?”
“Karena kewaspadaan kita menurun, bagaimana kalau Coronzon yang datang berkunjung di tengah malam?”
Dia sungguh berharap Bologna Succubus tidak mengatakan hal itu.
Mereka berdua berjalan ke pintu depan… dan mereka bisa melihat jawabannya. Bahkan sebelum membuka pintu, celah di dinding di dekatnya telah memperlihatkan si tamu.
Namun Kamijou tetap membuka pintunya.
“Siapa kau?”
“Aku Qliphah Puzzle 545, aku kemari sebagai utusan Ketua Dewan Accelerator. Hmm, kurasa kita pernah bertemu sebelumnya.”
Gadis itu punya sesuatu seperti tentakel cumi-cumi yang bergoyang-goyang dari belakang pinggulnya. Dan apakah benda yang seperti koran Inggris itu benar-benar bisa disebut pakaian?
Bagaimana pun juga, dia bukanlah manusia biasa.
Dewa Sihir, Transenden, Iblis buatan... dan Dion Fortune adalah dek tarot dan grimoire asli, kan? Jelas ada yang salah dengan Coronzon yang mampu menghadapi begitu banyak orang sendirian.
“Di momen ini dia harus mengirim utusan, apa itu berarti…”
“Ya, begitulah.”
Accelerator tidak datang karena tinggal di penjara adalah caranya menebus kejahatannya.
Tapi ini lebih dari itu.
“Isabella...bla…bla…? Penyihir itu yang saat ini memimpin pasukan Anglikan. Apa menolak permintaannya memang sesulit itu?”
“Yaaa. Salah satu alasannya, masterku baru saja mulai belajar sihir, jadi pengetahuannya terbatas. Dan karena dia benar-benar tidak memahaminya, dia tidak tahu cara menghindari serangan yang dilancarkan melalui lubang-lubang yang telah lama terkubur di dalam Academy City.”
Isabella mungkin punya caranya sendiri. Kamijou mengerti itu. Tapi meskipun dia punya tujuan mulia untuk mengalahkan Coronzon dan melindungi seluruh dunia, sepertinya dia serius dan akan menggunakan segala cara yang diperlukan.
Kamijou mengundang iblis buatan itu masuk dan berbicara dengan nada lelah.
“Aku ragu kota ini perlu berurusan dengan Anglikan sekarang. Kita sudah kewalahan menghadapi Coronzon, jadi bertempur di dua front akan sangat merepotkan.”
“Kurasa semua ini bisa berubah tergantung situasi yang terjadi.”
Sudah berakhir.
Isabella Theism menghembuskan napas lewat hidungnya.
Jadi beginilah yang dapat dilakukan oleh ahli kematian dan penistaan kehidupan dari sisi sains.
Suara gemeresak terdengar.
Isabella teringat bahwa dia masih mengenakan earphone nirkabel. Jika itu memang kartu truf terakhir sisi sains, maka dia hanya bisa menyampaikan belasungkawa. Mereka memang belum mampu melakukan tugasnya. Dan kekuatan itu, sekecil apa pun, seharusnya diarahkan kepada Coronzon.
(Tapi sekali lagi, aku merasa dia bertindak atas inisiatifnya sendiri. Baik dari sisi sihir maupun sains, ini tampaknya menjadi nasib semua organisasi. Semakin besar organisasi tersebut, semakin sulit melacak ekstremisnya.)
“Tentunya kau tidak akan menuntut kompensasi atas segala kerusakan ini ketika dunia berada di ambang kiamat, kan? Atau apakah semangatmu telah patah dan memilih untuk menyerah?”
“Wah, berapi-api sekali. Tapi bukankah kau salah memilih musuh? Nekromansi, salah satu yang menolak dekomposisi alami yang dibawa oleh pengetahuan manusia.”
Ini bukan ketua dewan yang baru.
Isabella meringis dan merendahkan suaranya.
“Iblis Agung Coronzon.”
“Jangan terlalu terkejut. Kau sudah tahu bahwa aku menguasai kota ini menggunakan sesuatu selain sains, kan? Kalau begitu, jelas aku bisa mengendalikan infrastruktur komunikasi kota. Menggunakan metode yang tidak memerlukan listrik atau sinyal elektromagnetik.”
Rupanya Aleister telah mengatur setiap bagian kota seperti itu. Andai saja dia masih hidup, Isabella bisa mengadilinya dengan Pengadilan Penyihir dan membakarnya di tiang pancang.
“Tapi fakta bahwa kau melakukan itu berarti kau sudah sadar akan titik lemahmu sendiri, kan?” tanya Isabella. “Jika kau melancarkan mantra Adikalika ke Semenanjung Italia dari sini, maka akan menjadi awal dimulainya perang global... tapi disaat yang sama, kau akan terikat dengan kota ini. Dan dalam perebutan infrastruktur Academy City, kami telah merebut setengah dari keseluruhannya.”
“Tapi kalian, para Anglikan tidak menguasai dunia.” Terdengar nada mengejek dalam suara Coronzon. “Meskipun Adikalika secara langsung menargetkan Katolik Roma, kalian sebenarnya hanya menyelamatkan mereka sebagai cara untuk menyelamatkan diri kalian sendiri, jadi aku penasaran seberapa besar kepercayaan mereka terhadap kalian. Oh, dan kalau dipikir-pikir, bukankah ada beberapa dari mereka di antara kalian? Ya, unit asing Katolik Roma.”
Dispersi.
Coronzon dengan mudah memisahkan orang satu dengan yang lain.
Sekalipun tujuan mereka sama, yaitu bekerja untuk membawa perdamaian dunia.
“Lalu ada Ortodoks Rusia. Heh heh. Apa kau sadar betapa mereka membenci keberadaan sesuatu yang tidak manusiawi yang menduduki kursi yang memengaruhi nasib dunia?”
“…”
“Katolik Roma dan Ortodoks Rusia akan melakukan apa pun untuk melepaskan diri dari situasi saat ini. Benar, kan? Dan Adikalika bergantung pada fitur geografis Academy City. Jadi, jika seseorang menghapus Academy City dari peta, mereka dapat mencegah aktivasi Adikalika, yang akan menghancurkan dunia. Sederhana, bukan?”
Selama mereka tidak peduli dengan 2,3 juta orang tak bersalah yang tinggal di sana.
Dan mereka mungkin tidak akan memberikan peringatan dini yang cukup bagi umat Anglikan yang berada di sana untuk mengungsi.
“Akulah roda gigi dunia yang bertanggung jawab atas dispersi, jadi aku akan membawa dekomposisi alami ke segala hal. Aku akan menyatukan faksi A dan B yang berseberangan agar mereka bisa dibuang seperti kartu yang match di Old Maid. Tiga faksi Kristen utama memang merepotkan karena jumlahnya ganjil, tapi aku bisa memicu kehancuran total dengan menambahkan Academy City.”
“Aku ingin bilang menarik, tapi aku bukan orang yang mudah percaya pada iblis. Kau bisa saja mengarang semua ini agar aku gegabah dalam mengambil langkah, jadi tidak akan aku telan mentah-mentah.”
“Oh, benarkah? Percaya atau tidak, aku adalah orang jujur yang menyampaikan kebenaran keji dan menyakitkan. Contohnya seperti ini…”
“?”
“Ahli Nekromansi bukanlah satu-satunya orang bodoh yang lahir dari pengetahuan manusia yang menolak dekomposisi alami. Jadi sepertinya masalahmu belum selesai.”
Kihara Goukei terbaring di dekatnya.
Kepadatan salju merah semakin bertambah. Salju itu sudah mulai menumpuk di atasnya, tapi dia tidak menunjukkan reaksi apa pun meskipun salju itu menutupi maskernya seperti gumpalan beku.
Siapa pun tahu bahwa kematiannya sudah dekat.
Dan ada satu orang yang tidak bisa menerima kenyataan itu.
“Neechan!!”
Dia ada di dalam bus.
Ukuran bus membatasi jalan yang bisa dilaluinya. Setelah berputar balik, bus itu harus kembali melalui jalan ini agar bisa kabur ke tempat yang lebih jauh.
Jadi anak itu melihatnya.
Urekawa Ousuke, anak lelaki yang diselamatkan oleh monster tertentu, telah melihat hasil pertempuran tersebut.
Jika salju turun sedikit lebih lebat, salju akan menutupi wanita itu sehingga anak itu tidak dapat melihatnya.
Seruan orang dewasa agar anak itu berhenti tidak didengar.
Anak itu membuka jendela dan melompat keluar.
Jika anak itu tetap di dalam dan membiarkan bus membawanya pergi, anak itu pasti bisa pergi dengan selamat. Dan tak ada yang bisa dia lakukan dengan tetap tinggal di sini, bahkan jika itu berarti melukai dirinya sendiri.
Tapi, anak itu tak sanggup meninggalkan penyelamatnya. Orang dewasa itu telah mempertaruhkan nyawanya dan berlumuran darah demi melindunginya.
“Tidak, tunggu.”
Anak lelaki itu tidak kembali berdiri.
Anak itu mungkin tidak langsung bisa melakukannya. Bahkan dengan salju tebal yang meredam jatuhnya, anak itu melompat dari kendaraan yang sedang melaju.
“Tolong…”
Tapi ada sesuatu yang lebih membutuhkan perhatian daripada rasa sakit di tubuhnya.
Anak itu hanya mengangkat kepalanya, bagian tubuhnya yang lain masih tergeletak di tanah dingin yang terkena noda salju merah.
Dan Anak itu berteriak dari mulut kecilnya.
“Bangunlah, Gou-neechan!!!”
Mekanisme Internal: Semua 185.814 bagian merespons.
Limiter Bio: Dinonaktifkan hingga ke Kedalaman kelima
Kalkulasi Efek Rentang Hidup: Diabaikan
Nama Host Umum Jaringan Lokal Tubuh “Kihara Goukei” telah memasuki mode operasi final.
Memaksa reboot.
3, 2, 1.
Deg!!
Denyut yang terdistorsi itu dapat didengar oleh Isabella Theism bahkan dari jarak dekat.
Dia mengalihkan fokusnya dari earphone ke dunia luar.
Ada sesuatu yang terjadi yang memerlukan perhatiannya.
Ini jelas abnormal.
Kihara Goukei duduk seperti perangkap tikus setelah memikat mangsanya dengan sepotong keju.
“Fiuh. Ha ha ha. Sialan. Aku tidak akan mengeluh kalau aku mati. Toh aku berusaha menjalani hidupku sedemikian rupa sehingga kalau ada masalah, akulah yang akan mati duluan deyansu.”
Seluruh tubuhnya berlumuran darah.
Keadaannya tidak membaik.
Tapi monster yang lain itu berbicara sambil meletakkan tangan di sisi kepalanya untuk menahannya agar tidak goyang.
“Tapi setelah mendengar kata-kata itu… aku tidak boleh kalah deyansu.”
“Apa—”
Kretak!!
Pertanyaan Isabella terputus oleh suara retakan yang tidak mengenakkan.
Tinju Kihara Goukei telah patah.
Karena kecepatan dan beratnya benturan pada bagian tengah dada Isabella Theism.
Dan ternyata suara tidak mengenakkan itu berasal dari patahnya tulang rusuk dan tulang dada Isabella.
(Kapan dia bangkit… kapan dia melancarkan pukulan?!)
Isabella menutup mulutnya dengan tangan, tapi hal itu tidak dapat menghentikannya dari batuk darah saat dia melompat mundur.
Kihara Goukei tersenyum sambil dengan paksa memperbaiki tinjunya yang patah, menimbulkan suara gemeretak dari dalam tangannya.
Maskernya berlumuran darah. Juga dari dalam.
Tapi dia tetap tersenyum.
“Aku benar-benar telah melepas limiter terakhirku. Seorang anak kecil memerhatikan dan percaya padaku. Jadi Gou-neechan… sama sekali tidak boleh kalah sekarang.”
“Siapa… kau?”
Dia adalah orang yang mempermainkan kehidupan manusia.
Dia adalah seorang ilmuwan yang sangat gila.
Dia tidak menyangkal hal itu.
Tapi…
“Alasannya tidak cukup dengan mengaku kalau 'Aku adalah Kihara', bukan? Dulu aku benci alasan itu. Jadi, aku selalu bertanya-tanya, apa ada cara untuk menjalani hidup tanpa perlu membuat alasan deyansu.”
Isabella berhenti sejenak.
Tampak seperti dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Aku sudah mendengarnya jutaan kali. Itukah alasanmu memutuskan untuk menjadi seseorang yang melindungi anak-anak kecil?”
“Ah ha ha. Oh, andai saja aku bisa berkontribusi pada masyarakat dengan cara-cara yang biasa. Tapi aku takut itu malah jadi bumerang, jadi aku menghindari menggunakan sisi Kihara-ku untuk terlalu terlibat dengan orang lain deyansu.”
“Terus kenapa?”
“Karena dia memanggilku Gou-neechan, bukan Kihara. Semua orang selalu menganggap itu sebagai lelucon garing, tapi akhirnya aku menemukan seseorang yang mau mempercayai nama itu. Apa yang lebih ajaib dari itu? Para ilmuwan memang orang-orang bodoh yang harus mempertanyakan apa pun, tapi kita juga mampu menerima apa yang kita lihat sendiri deyansu. Jadi setelah melihatnya sendiri — sialan — aku tak bisa menyangkalnya. Aku rela mengubah cara hidupku sepenuhnya demi ini.”
Dengan kata lain, Kihara Goukei bersedia mempertaruhkan nyawanya untuk hal kecil ini.
Itu juga sebabnya dia berpakaian seperti dokter gigi.
Seorang dokter gigi mencintai senyum anak-anak lebih dari siapa pun dan menguasai teknik yang dibutuhkan untuk menyembuhkan dan menyelamatkan mereka dari rasa sakit, tapi disaat yang sama, mereka juga ditakuti oleh anak-anak. Dan dia ingin menjadi seseorang yang bisa bangga akan hal itu.
Lihat saja apa yang telah dilakukannya.
Ketika "mayat bergerak" yang diduga bernama Kamijou Touma muncul, ketika dia mengarantina orang-orang di krematorium yang mungkin terinfeksi atau terkontaminasi, ketika dia melindungi seorang anak tak berdosa dengan mengorbankan begitu banyak darah, dan ketika dia menghadapi Isabella Teisme, Kihara Goukei tidak pernah membuat satu keputusan pun yang salah dari waktu ke waktu.
Dia adalah anggota Keluarga Kihara, tapi dia bukan orang yang rusak.
Dia adalah seseorang yang selalu melakukan hal yang benar tapi sekaligus selalu ditakuti.
Dia adalah seorang penganut ajaran sesat di kalangan Kihara.
Dengan tubuh babak belurnya, dia dengan bangga melindungi Urekawa Ousuke kecil. Gou-neechan tersenyum tipis di balik maskernya yang berlumuran darah.
Dengan tatapan iba terhadap ahli kematian lainnya yang berdiri di hadapannya sebagai seorang yang jahat.
“Mengambil peran penjahat itu tidak mudah, kan deyansu? Kau bahkan bukan seorang Kihara, jadi pasti melelahkan memaksakan diri untuk melakukannya.”
“Kau tidak mengerti apa pun tentang dunia kami.”
“Aku tidak tertarik mempelajari dunia lain selain dunia tempatku tinggal, tapi aku tetap seorang Kihara. Seberat apapun pekerjaannya, yang paling berat adalah melihat anak-anak tak berdosa menangis. Mungkinkah itu sebabnya kalian, orang-orang Inggris, bersikap begitu lunak pada kami meskipun berteriak-teriak tentang ancaman bagi dunia? Mungkin karena tidak terbiasa menggunakan fasilitas fasilitas Academy City jadi ada banyak komunikasi yang bocor. Aku pada dasarnya sedang menikmati pesan-pesan yang disadap antara rumah sakit dan di sini, tapi itu benar-benar membuatku bertanya-tanya apakah kalian benar-benar sudah berusaha.”
“…”
Isabella terdiam.
Kihara Goukei tersenyum di balik maskernya. Tapi, dengan semua darah yang berceceran di wajahnya, senyumnya tampak lebih muram daripada seringai.
“Aku tidak mengerti apa-apa tentang si Coronzon, tapi kau bilang ada ancaman bagi seluruh dunia, kan? Kalau begitu, kupikir setidaknya salah satu dari kalian akan menyarankan untuk mengebom seluruh kota hingga hancur lebur demi keselamatan seluruh umat manusia, tapi tak satu pun dari kalian menyinggung pilihan terakhir itu. Tidak heran kalian dihambat oleh musuh yang bahkan tak kalian pertimbangkan. Kalian tidak akan mencapai apa pun jika semua orang di lokasi ragu untuk bersuara. Dan... ketika semua orang yang dikerahkan di garis depan takut dan enggan mengotori tangan mereka, itu akan memberikan beban yang lebih berat bagi pemimpin mereka.”
Para Ahli Nekromansi itu kejam.
Bagi target mereka, mereka mungkin tampak seperti monster yang mengerikan.
Tapi apakah Isabella pernah mengatakan satu kali saja bahwa dia menikmati kekejaman itu?
Sejak awal, Isabella hanya mengatakan bahwa dia datang ke Jepang untuk melakukan pekerjaannya.
Jadi, tentu saja dia tidak tertarik pada drama atau cerita orang lain. Lagipula, sikapnya dalam menyelesaikan situasi ini adalah bahwa demi menjaga kedamaian banyak orang, dia tidak akan membiarkan perasaan pribadinya terhadap sesama umat Anglikan menghalanginya. Dia menanggapi masalah ini dengan serius dan mengerahkan segenap kemampuannya.
Dia tak sanggup mengambil jalan memutar, jadi dia bahkan tak mau menolong orang asing yang tak sengaja ditemuinya di sepanjang jalan. Mungkin terdengar sepele, tapi menuruti kata hatinya bisa mengacaukan jadwal dan membuat dunia kiamat.
Biasanya, sikapnya adalah sikap yang benar bagi seorang prajurit profesional.
“Makanya aku tidak menyalahkan perbuatanmu deyansu. Entah itu di Inggris atau di tempat lain, ada sesuatu yang ingin kau lindungi, bukan? Bahkan jika itu berarti mengotori tanganmu dan menjadi tipe orang yang akan membuat anak kecil menangis dan melemparimu batu dengan tangan kecil mereka di kota yang telah berubah menjadi medan perang. Kau punya sesuatu yang membuat semua ini sepadan. ...Jadi, bagaimana kalau kau menerimanya, tegakkan kepalamu, dan hadapi aku dengan segenap jiwamu? Agar kau bisa tetap setia pada apa yang kau yakini benar.”
Isabella Theism mendengarkan.
Dia menundukkan kepalanya saat suara musuh mencapai telinganya.
Dan si Ahli Nekromansi berkulit coklat itu pun tersenyum.
Walau hanya sedikit.
“Ayo sudahi main-mainnya.”
“Tentu saja deyansu.”
“Dan ada satu hal yang perlu kau ketahui. Voodoo memang dikenal dengan zombinya, tapi ini adalah agama politeistik yang daftar dewa-dewinya selalu berubah, dewa-dewi baik dan dewa-dewi jahat dapat bertukar tempat tergantung keadaan, dan mereka bebas mengambil bagian dari mitologi lain. Mitologi India memiliki dewa yang berasal dari film, tapi menurutku Voodoo memberikan kebebasan yang lebih besar. Hal ini membuatnya sangat mudah bagi seorang nekromansi yang mempelajari potongan-potongan dari mitologi lain dan kemudian menyalahgunakannya. Dan ketika kau dapat meminjam kekuatan dan simbol dari makhluk apa pun, kau dapat melakukan hal-hal seperti ini.
“?”
“Daeva.”
Dengan satu kata itu, sesuatu muncul di balik Isabella Theisme.
Kihara Goukei pertama kali melihat perut serangga yang membengkak luar biasa besar.
Berikutnya, dia melihat kaki-kaki brutal yang menyerupai tongkat berduri, sepasang mata majemuk yang begitu merah hingga tampak dipenuhi darah, dan sayap-sayap najis yang tembus cahaya.
Ruang kosong tampak terdistorsi untuk memuncul lalat raksasa sebesar lebih dari 5m.
Tapi lekuk tubuhnya tampak feminin dan memikat.
Setiap bagian individu mungkin ditemukan di alam, tapi makhluk ini jelas ada di luar dunia fisik.
Masih transparan, tapi sudah melekat sepenuhnya pada dunia ini — pada fase ini.
“Oh. Menarik.”
Kihara Goukei menatapnya sambil setengah tersenyum.
Dia tidak tahu apa itu, tapi yang pasti tampaknya itu berada pada level lain dari apa yang telah dia hadapi sejauh ini.
Hanya suara Isabella yang berlanjut.
Isabella berbicara dengan sungguh-sungguh, seperti seorang pendeta wanita yang melayani tuannya yang jahat.
“Kau adalah salah satu dari enam raja iblis yang menguasai kejahatan. Kau adalah pembawa racun mematikan yang akan mendistorsi legendamu sendiri dan bergabung dengan yang lain untuk mencapai tujuanmu. Kau adalah salah satu dari banyak fondasi untuk mengendalikan kematian dan daging. Malam ini aku mencarimu, wahai ratu kontaminasi, mayat, pembusukan, dan pembelotan.”
“Menarik. …Tapi tidak cocok dengan seleraku deyansu.”
“Datanglah ke duniaku, wahai Druj Nasu.”
Batas antar fase terkoyak dan makhluk itu pun terwujud.
Di konsulat Distrik 12, Kamijou Touma mendapati dirinya tak punya banyak hal untuk dilakukan ketika tiba saatnya menatap peta dan dokumen serta memikirkan rencana. dia meninggalkan meja dikelilingi anjing golden retriever, Dion Fortune, dan yang lainnya, dan sedang mencoba menghabiskan waktu ketika Blodeuwedd the Bouquet menghampirinya.
Rupanya dia juga bukan tipe yang pandai berpikir.
“Neh heh☆”
Wajahnya sangat dekat.
Bukan hanya tercium aroma manis seorang gadis, terdapat pula campuran dari berbagai aroma bunga.
Gadis itu telah sepenuhnya menarget Kamijou.
“Tolong aku, Alice!! Atau Succubus-neechan!!”
“Kurasa kau salah memilih orang untuk dimintai tolong, dibanding mereka, aku masih Transenden sejati.”
Apa syarat keselamatan Blodeuwedd the Bouquet?
Menyelamatkan semua yang tidak dicintai.
Jadi Kamijou kurang suka karena wanita itu menargetnya. Kamijou mendesah.
“Lalu kenapa kau membuat gaduh di Academy City? Kota itu kan dibangun oleh Aleister, yang persis tipemu.”
“Ehh, serius kau berkata begitu?”
Blodeuwedd the Bouquet tampak terkejut.
Seolah-olah dia telah direkomendasikan makanan yang aneh.
Mulutnya membentuk segitiga kecil.
“Dia tidak dibenci atau pun tidak dicintai. Orang-orang memanggilnya orang paling jahat di dunia, kanibal, dan raja iblis, tapi fakta bahwa dia 'kontroversial' berarti dia memang memiliki pendukung dan pembela. Tapi, dia mengabaikan semua suara itu dan memilih untuk memusingkannya sendiri.”
Apakah itu lebih seperti lengan mekanik daripada pakaian?
Gadis pirang itu menggunakan lengan mantel logamnya yang tebal untuk meniru gerakan mengangkat bahu.
“Aleister Crowley adalah manusia yang hanya peduli dengan hal-hal negatif yang dilontarkan di antara banyak suara. Sampai-sampai beberapa orang berpikir dia benar-benar merasa antipati terhadap orang-orang yang percaya dan mengikuti teori yang diajukannya. Dari luar, itu mungkin terlihat keren, tapi orang-orang yang benar-benar bekerja keras berbagi cinta dengannya tidak akan melihatnya seperti itu. Dunia tidak dingin padanya, dia hanya menolak untuk menyentuh makanan yang disajikan di hadapannya sampai menjadi dingin dan busuk. Aku bukan orang yang suka membuang-buang emosi seperti itu.”
“…”
“Aku ingin menyalurkan perasaanku yang tak terlihat kepada orang-orang yang kelaparan, yang tampaknya tak pernah menemukan cinta, betapa pun mereka menginginkannya. Kepada orang-orang yang membutuhkan perasaanku di sini dan saat ini. Aku ingin memberikan kehangatan dan kekuatan yang memotivasi mereka untuk bangkit kembali dari kamar gelap mereka dan meraih kenop pintu. Aku tak punya apa-apa untuk diberikan kepada orang-orang bodoh yang begitu terpaku pada penampilan dan harga diri mereka sendiri sehingga membiarkan perasaan yang mereka terima membusuk. Ada banyak orang yang benar-benar menderita di luar sana karena dunia begitu haus akan kebaikan.”
Blodeuwedd the Bouquet berhenti berbicara.
Dia menatap wajah Kamijou dengan kegirangan. Baru kemudian Kamijou menyadari sesuatu.
Kamijou pun menunduk.
“Oh, kau tidak suka jawabanku?”
Kamijou Touma tidak ada di kehidupan Aleister.
Dia tidak tahu seluruh kisah hidup Aleister.
Dia hanya berkeliaran di dalam Gedung Tanpa Jendela di bawah bimbingan Mina Mathers dan menerima sekilas gambaran tarot tentang pertarungan Aleister dengan para penyihir Golden.
Tapi Aleister telah mengetahui bahwa istrinya Rose akan mati
Dan dia telah diberitahu sebelumnya bahwa bayinya Lilith juga akan mati.
Manusia itu gemetar karena amarah ketika kebahagiaannya yang biasa hancur berantakan. Dan karena tahu bahwa Golden Cabal-lah yang bertanggung jawab, dia pun bertempur dalam Pertempuran Blythe Road, yang konon merupakan pertempuran sihir terbesar di dunia. Kamijou tidak berpikir jalan hidup Aleister bisa begitu saja digolongkan sebagai baik atau buruk.
Kamijou telah mendorongnya ke tepi jurang.
Mungkin Aleister egois karena memaksakan ekspektasinya pada Kamijou.
Tapi memang benar Kamijou telah gagal memenuhi harapannya.
Kamijou telah melakukan apa yang dikatakan Anna Kingsford dan lolos dari neraka seorang diri. Mungkinkah ada jalan lain jika dia membantah dan bersikeras memikirkannya lebih matang?
Mengapa?
Mengapa dia tidak dengan gegabah bersikeras bahwa dia akan menghidupkan kembali CRC dan Kingsford dan bahwa mereka semua akan hidup bahagia bersama di lain waktu?
Semua itu tidak lagi dibutuhkan.
Dia tahu itu, tentu saja, tapi mereka berurusan langsung dengan nyawa dan jiwa manusia. Bukankah tempat gila seperti neraka adalah tempat yang sempurna untuk meneriakkan satu atau dua keinginan yang tidak realistis?
“Jika kau bertindak berbeda dari biasanya…”
“?”
“Bukankah seharusnya kau curiga kau sengaja diarahkan ke arah itu? Ingatlah bahwa sihir adalah sistem yang dimulai dengan manipulasi pikiranmu sendiri untuk memengaruhi dunia luar dan orang lain. Dengan ritual yang dilakukan oleh banyak orang, menyelaraskan pikiranmu dengan orang lain bukanlah hal yang aneh.”
Sebuah perjalanan melewati neraka. Atau menjebol neraka.
Dapat dikatakan bahwa itu adalah ritual berskala besar.
“Jadi, sungguh tidak masuk akal jika Aleister membencimu. Kita seharusnya tidak boleh menuntut pertanggung jawaban atas pilihan yang tak terhindarkan dari seseorang yang berhasil hidup kembali berkat keajaiban.”
Kamijou tidak bisa menerima kata-kata Blodeuwedd the Bouquet begitu saja.
Meski dia merupakan Transenden, dia mungkin belum pernah benar-benar melihat neraka itu. Jika dia bisa, Alice yang lebih kuat pasti bisa campur tangan ketika Kamijou meninggal. Jadi, argumen Blodeuwedd the Bouquet hanyalah spekulasi.
Saat itu, ada panggilan masuk dari Accelerator.
“Semua perhitungan sudah selesai. …Setelah kalian siap, pergilah ke Distrik 23.”
Kamijou mengerutkan kening.
Itu tidak terdengar benar buatnya.
“Distrik 23? Aku tahu itu distrik sebelah… tapi bukankah Coronzon ada di Distrik 7?”
“Kau tidak akan bisa menyelinap ke arahnya dengan berjalan kaki. Kau butuh rencana kalau mau mendekat.”
Kamijou mengerti bahkan sebelum mendengar rinciannya.
Dia yakin dia tidak akan menyukai rencana ini.
“Jadi apa rencanamu?”
“Aku akan menggunakan semua rudal yang tersisa di Distrik 2. Itu benar-benar stok terakhir yang kami miliki.”
“Hei, aku sungguh ragu senjata biasa akan mempan ke Coronzon!”
“Tentu saja tidak. Itu hanya pengalih perhatian. Kalian akan terjun payung menembus bombardir dan menuju jauh ke dalam Distrik 7.”
“Eh? Tepat di tengah-tengah bahan peledak yang beterbangan itu?”
Jika satu rudal saja meledak di dekatnya, mereka akan mati.
Eh, bukankah perangkat-perangkat sensitif itu sering bereaksi di saat-saat yang tidak tepat? Seperti sensor pencegah pencurian di pintu keluar toko, atau perangkat lunak antivirus? Bahkan lokasi toko yang tepat di aplikasi peta pun bisa meleset sedikit. Apa istimewanya chip komputer? Itu hanyalah sekumpulan kalkulasi. Tapi kita semua pernah kan mengalami kejadian di mana kita menekan tombol pada konsol gim atau mesin cuci yang rusak dan berharap agar perangkat itu bisa berfungsi walau sebentar?!
…Dan Kamijou yakin dia akan mendapat untung paling sedikit untuk yang satu ini. Dia memang tidak punya bukti objektif, tapi jangan pernah meremehkan Tuan Kesialan Academy City! Dia masih belum main gim apa pun di ponselnya karena dia tahu betapa sialnya dia!! Buat apa repot-repot mencoba rare pull kalau sudah tahu dia tidak akan pernah dapat meskipun sudah membayar?!!
“Coronzon akan menyadari apa yang akan kita lakukan. Sekeras apa pun kita berusaha menyembunyikannya,” kata Accelerator. “Jadi kita tidak akan kemana-mana jika mengandalkan hal itu. Tapi itu artinya kita perlu menciptakan situasi di mana dia harus fokus pada hal lain meskipun dia tahu apa yang kita lakukan. ...Ingat, kartu truf Adikalika-nya memanfaatkan kondisi geografis kota. Jadi dia tidak ingin ada kerusakan serius pada lanskap kota ini, kan?”
“Oh! Kau benar…”
Itu tidak terpikir oleh Kamijou.
Iblis Agung Coronzon mencoba menghancurkan seluruh dunia, tapi untuk saat ini dia tidak ingin Academy City hancur.
“Sekalipun dia seorang penjahat, dia tidak akan mau kotanya dibombardir rudal sampai dia menyelesaikan rencananya, kan?”
“Aku ragu Coronzon akan mati oleh serangan rudal segudang, tapi dia akan terpaksa menggunakan tubuhnya yang kokoh untuk menghancurkan rudal-rudal itu sebagai prioritas utamanya. Bukankah itu menguntungkan? Dia akan melindungi kota. Kekuatan musuh bisa menjadi kelemahan jika kita mengubah sudut pandang. Coronzon tidak punya keluarga dan dia tidak cukup sentimental untuk terikat pada rumah atau harta benda lainnya. Tapi kita tahu satu hal yang pasti tidak ingin dia hancurkan, jadi kita harus memfokuskan serangan kita di sana.”
Adikalika adalah kartu truf pamungkas yang bisa menghancurkan dunia tergantung cara penggunaannya, jadi sepertinya Coronzon-lah yang memegang kendali. Dan itu ada benarnya, tapi….
Jika Coronzon terlalu fokus untuk tetap memegang kendali, obsesi itu justru akan menjadi kelemahan karena dia tak ingin melepasnya. Rasanya bertentangan dengan tujuan utamanya, tapi mungkin begitulah strateginya bekerja. Begitu dapat sesuatu, ada harga yang harus dibayar untuk mempertahankannya. Dalam pertempuran, tak ada keuntungan yang 100% murni.
Ini adalah secercah harapan.
Waktunya telah tiba untuk mengambil kembali kendali.
Salju merah turun di malam hari.
Iblis Agung Coronzon berdiri di sebuah lapangan terbuka yang luar biasa sepi untuk wilayah perkotaan Distrik 7. Rambut pirangnya yang panjang dan menjuntai di atas sayapnya yang lebar dan mirip kelelawar yang terus berubah bentuk seolah-olah sedang menciptakan simpul-simpul tali, tapi dia sebenarnya hanya melakukan penyesuaian kecil saat ini. Dia telah membangun mantra menggunakan semua medan dan marka tanah yang membentuk Academy City, tapi sekarang penyesuaian terakhirnya hampir selesai. Dan dia akan segera bisa berhenti melakukannya dan melanjutkan ke tahap berikutnya.
Persiapan untuk mantra serangan berskala besar Adikalika sudah selesai.
Ini akan menjadi tembakan dari sinyal pertama yang akan menenggelamkan dunia dalam lautan darah.
Coronzon bahkan tak perlu memeriksa horoskop untuk memastikan persiapan yang diperlukan telah selesai. Dia tidak khawatir kekuatan sains atau sihir akan kembali menguasai kota, jadi kini dia hanya perlu menunggu momennya tiba.
“Apakah kau melihatnya, Aleister?” bisiknya.
Dia mengalihkan pandangannya ke tempat lain, memeluk bahunya sendiri, dan gemetar karena tawa yang tertahan.
Dan Iblis Agung Coronzon pun berbicara seolah-olah menikmati perlawanan terakhir manusia itu.
“Kau akan segera melihat akhir dari dunia yang kau percayai tidak peduli seberapa banyak ia telah menyakitimu.”
Melindungi Dunia Tempat Kita Tinggal
Dance_With_ADIKALIKA.
“Sampai kapan kita akan terjebak di sini? Aku kelaparan…” erang Aogami Pierce.
Dia berada di krematorium Distrik 10.
Mereka dikarantina di dalam.
Ada beberapa mesin penjual otomatis yang menjual roti di lorong, tapi sekitar setengahnya memiliki lampu merah bertuliskan "habis terjual". Jika satu kelas membelinya, artinya puluhan orang akan menggunakan satu mesin penjual otomatis, jadi meskipun pemasoknya terus-terusan mengisi ulang, hal seperti ini bisa saja terjadi.
Setiap jendela dan pintu disegel dari luar dengan plastik antipeluru tebal. Satu-satunya jalan keluar adalah pintu anti-gas yang dilindungi tirai udara, tapi dijaga oleh power suit tebal yang dipersenjatai penyembur api. Entah itu ulah power suit atau bukan, ponsel mereka tidak ada yang mendapat sinyal. Satu-satunya senyum hanya terpancar dari gantungan Magical Powered Kanamin milik Aogami Pierce. Pemandangan di luar jendela sudah gelap. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Aogami Pierce begitu sibuk dengan pemakaman pagi ini sehingga dia takut tidak akan sempat mengklaim hadiah gim jejaring sosial yang sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari. Dia juga belum memeriksa situs video atau berita daring. Tertinggal dari rata-rata orang dalam hal informasi terasa seperti selangkah lagi dari kematian bagi seorang otaku.
“Tapi Kami-yan mungkin masih berkeliaran di luar sana padahal dialah yang menyebabkan semua ini. Lalu wanita yang tampaknya bertanggung jawab itu menggigit lidahnya sendiri dan dikirim ke rumah sakit, dan tamu-tamu yang berpenampilan seperti anak SMP itu juga pergi. Apa gunanya kita tetap di sini?”
“Selain itu, ada sesuatu yang terasa janggal. Mereka mengaku takut akan infeksi mikroskopis atau kontaminan, tapi mereka belum membawa alat tes darah atau selaput lendir kita.”
Fukiyose Seiri cenderung mengambil pandangan yang masuk akal dan menolak pemikiran konspirasi, tapi untuk kali ini dia mengikutinya sambil memilih kata-katanya dengan hati-hati.
Apakah benar-benar ada sumber infeksi di sini?
Staf krematorium dan biksu paruh waktu juga mulai tampak skeptis. Dan jika kepercayaan pada Bio-Secure(?), tuan rumah yang bertanggung jawab atas tempat itu, menurun, pikiran lain tentu akan mulai muncul.
Mereka menghadapi tim penyembur api yang menyembunyikan wajahnya. Kelompok ini sangat terorganisir, tapi tampaknya bukan Anti-Skill resmi.
…Apakah benar-benar aman untuk terus mematuhi instruksi mereka?
Lalu terdengarlah suara dari luar jendela yang berkabut.
Kedengarannya seperti gemerisik semak belukar yang disibak.
Power suit yang ditempatkan di depan pintu kedap gas memiringkan kepalanya dengan cara yang sangat manusiawi dan kemudian menghubungi seseorang.
“B5a, laporanmu terlambat. Mau sampai kapan kau di belakang? Aku bisa melihat koordinatmu, jadi berhentilah bermalas-malasan dan segera tanggapi.”
Hening sejenak.
Suasana hati berubah.
“B5a? …A3b ke C1d, koordinat B5a tidak bergerak dari belakang. Dia bahkan menonaktifkan fitur berbagi kameranya, jadi apa yang dia lakukan? Kau berada di luar, kan? Untuk berjaga-jaga, aku minta pemeriksaan visual.”
Entah mengapa, Aogami Pierce melihat ke arah jendela yang tertutup plastik, bukan ke arah power suit yang berbicara.
Dia penasaran.
Suara gemerisik apa yang didengarnya datang dari luar?
Atau mungkin dia tidak punya alasan nyata untuk mengharapkan apa pun dan dia hanya dituntun oleh rasa ingin tahunya tentang hal yang tidak diketahui, kecenderungan psikologis yang ditemukan bahkan dalam mitos kuno.
“H-hei? A3b ke C1d, ada apa? Segera beri laporan!”
Tak ada suara lain selain suara kayu yang terbelah. Dan tak ada pula sepotong kayu lapis tipis, ini suara pohon berusia berabad-abad yang dibelah paksa di tengahnya.
Power suit yang menjaga pintu kedap gas itu menghubungi seseorang, menggelengkan kepalanya, lalu bergegas keluar.
Aogami Pierce tampak bingung.
“Hah? Kenapa dia meninggalkan posnya? Mungkinkah ini kesempatan kita untuk kabur?”
“Bagaimana jika dia kembali tepat sa—?”
Fukiyose tidak menyelesaikan kalimatnya.
Mereka mendengar semacam suara gemerisik di luar jendela yang tembus pandang… Dan hanya itu.
Power suit yang telah meninggalkan pintu kedap gas itu belum kembali.
“Belakang krematorium… berada tepat di sana, bukan?”
Karena tidak ada seorang pun yang berbicara, suara Fukiyose terdengar sangat keras.
Lalu diam.
Suasananya begitu sunyi hingga suara tegukan Aogami Pierce dapat terdengar.
“Apa yang terjadi di luar sana?”
Plastik antipeluru yang disemprotkan ke bagian luar jendela membuat pandangan terlalu buram. Aogami Pierce perlahan mendekat untuk mencoba melihat ke luar.
Braaak!!
Helm berbentuk ember dari power suit menerobos jendela yang berkabut.
“Hiik?!”
Aogami Pierce terjatuh ke belakang.
Tak seorang pun tertawa.
Ini bukan kaca biasa. Bahkan setelah pecah, kaca itu tidak hancur berkeping-keping. Kaca yang diiklankan antipeluru tetap utuh dengan retakan yang membentuk jaring laba-laba. Seberapa kuatkah kekuatan yang menghantam jendela itu? Setelah menembus dinding plastik, helm yang seperti ember itu tidak bergerak. Aogami Pierce tidak tahu persis bagaimana cara kerja atau cara memakai power suit, tapi posisi kepalanya tidak alami sewaktu dipakai untuk berdiri atau pun duduk. Bukankah sakit rasanya jika kepalanya hanya terpaku dalam posisi yang tidak nyaman seperti itu?
Atau.
Apakah pemakainya sudah melewati batas untuk mengeluhkan rasa sakit atau takut?
Sesuatu pasti sedang terjadi.
Apa itu kurang jelas.
Tapi meskipun rinciannya masih menjadi misteri, tetap tinggal di sini merupakan ide yang buruk!!
“A-ada sesuatu di luar sana... Aku melihat kaki-kaki raksasa bergerak-gerak! Kalau kita tidak melakukan apa-apa, apa makhluk itu bisa masuk lewat jendela?!”
Fukiyose juga mengambil beberapa langkah menuju jendela.
“T-tidak apa-apa,” katanya. “Tidak apa-apa. Toh orang-orang Bio Secure(?) itu menutup semua pintu keluar dengan plastik antipeluru khusus itu!”
Krrk!! krrrk!!
Terdengar suara retakan yang melengking dan tidak mengenakkan.
Ya. Jendela yang selama ini mereka banggakan kini tercipta retakan yang tak terhitung jumlahnya seperti jaring laba-laba, dan jendela itu pun benar-benar hancur.
Jadi apa yang bisa dilindungi dari benda tersebut?
“Apa kau berencana bersembunyi di sini selamanya?” tanya Aogami Pierce. “Bagaimana dengan makanan dan air? Kita hanya punya mesin penjual roti di lorong!”
Mesin penjual roti otomatis sudah setengah tertutup lampu "terjual habis" dan pasukan khusus(?) yang melindungi dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan power suit tangguh itu sendiri juga tidak bernasib baik. Tidak ada yang bisa memastikan apakah lapisan plastik antipeluru yang dipasang di atas kaca benar-benar dapat mencegah penyerang ini masuk.
Lebih dari itu, siswa SMA yang terjebak bisa saja menyerah pada tekanan mental, panik, dan ingin bunuh diri.
Tsukuyomi Komoe, yang bertanggung jawab atas semua murid itu, mengembuskan napas melalui hidung. Guru setinggi 135 cm itu berhasil berbicara meskipun dia gemetar karena menangis.
“Ada bus di luar! Kita bisa lihat ke luar dan, kalau ada celah, kita bisa lari ke bus lewat pintu utama!!”
“Tapi siapa yang akan mengendarainya?!”
“Percaya atau tidak, Sensei punya SIM kendaraan besar Kelas 2, jadi Sensei bisa mengendarai bus dengan mudah!!”
Para siswa condong ke sisi "tidak", tapi mengeluh hanya akan membuat mereka tertinggal di krematorium yang dipenuhi atmosfer berbahaya. Dan tak seorang pun di kelas 1 SMA yang tahu cara mengemudi, bahkan sekadar mobil biasa. Jadi, mau tidak mau, Tsukuyomi Komoe adalah satu-satunya harapan mereka.
Mereka memutuskan untuk memanggil staf krematorium dan juga biksu paruh waktu. Mereka mengemasi barang-barang dan mendekati pintu kedap gas yang terisi udara. Yang tampak seperti tujuan akhir dari sebuah maraton. Masalahnya adalah di balik pintu berlapis dua itu.
Di sana, di bundaran beratap lebar untuk menahan hujan… di sanalah letaknya. Bus yang mereka tumpangi saat tiba.
Jarak 10 meter saja sudah cukup menakutkan untuk membuat hati mereka menciut.
Kelompok yang mengenakan Power Suit tebal saja telah disingkirkan.
Jaid ini lebih baik daripada berada di luar dan berjalan kaki.
Tapi, masih ada pertanyaan mendasar.
“Jadi kaki raksasa yang bergerak tadi itu apa?”
“Entahlah. Itu hanya apa yang kulihat melalui kaca yang buram.”
Mereka hanya melihat kegelapan di depan. Itu tidak memberi tahu mereka apa-apa.
Tapi, sesuatu itu seharusnya ada di sana.
“Aku menemukan kuncinya... Oke, semuanya, apa kalian siap? Tidak ada jalan kembali jika kalian lupa sesuatu. Satu, dua, ayo sekarang!!”
Atas aba-aba Komoe-sensei, mereka semua berlari menuju bus.
Hari sudah malam dan salju merah mulai turun.
Seorang gadis berpakaian berkabung berwarna hitam, Misaka Mikoto, membiarkan bahunya terkulai.
Sungguh, dunia pasti akan kiamat jika Shokuhou Misaki adalah satu-satunya orang yang bisa dia ajak mencurahkan isi hatinya.
“Bagaimnana ini?! Hari sudah gelap. Sudah jam delapan! Tapi si bodoh itu masih belum ketemu, jam malam asrama sudah lama lewat, begitu juga dengan makan malam…”
“Aku kan punya Mental Out, jadi aku bisa lolos.”
“Apa tidak ada petunjuk sama sekali?! Kita sudah lama tidak melihat power suit Bio Secure, jadi apa yang sedang terjadi?!”
Itulah yang seharusnya mereka kejar, tapi rasanya mereka malah semakin menjauh dari pusat keributan. Mereka berada di Distrik 10 karena krematoriumnya ada di sana, tapi apakah ini distrik yang tepat untuk mencarinya?
Dan…
“Apa itu?”
Tepat saat Misaka Mikoto sangat membutuhkan informasi, dia melihat sesuatu di kejauhan.
Secara khusus, di persimpangan besar dengan jembatan penyeberangan yang terletak tidak jauh darinya.
“Ada sesuatu di sana.”
“Itu bukan drone darat, kan?”
Ini sama sekali tidak seperti Bio Secure dan power suit mereka. Sosok-sosok itu bahkan tidak tampak mekanis.
Apa gerangan monster menjijikkan setinggi 2 meter yang merangkak dengan kaki itu?
Mikoto tidak suka ular dan cacing, tapi dia merasa enggan melihat makhluk berkaki banyak bergerak.
Dan mereka tidak tampak seperti makhluk biasa. Sesuatu seperti gumpalan besar rambut pirang merayap ke sana kemari. Mereka menimbulkan rasa jijik yang sama seperti mengintip ke dalam ember sampah dapur orang asing.
Mikoto menutup mulutnya dengan tangan karena kesedihan yang berlebihan.
“Rambut pirang panjang… Shokuhou, ini bukan jurus spesial terkutukmu yang baru, kan?”
“Tentu saja tidak. Bagaimana aku bisa menggunakan Mental Out-ku untuk membuat rambut bergerak? Lagipula, bukankah sekilas terlihat jelas bahwa gumpalan kotoran mengerikan itu sama sekali tidak sebanding dengan keindahan rambutku yang sempurna?!”
Si pirang berdada besar pasti sangat tersinggung karena dia menangis dan mencengkeram Mikoto.
Mikoto memiliki keyakinan yang cukup kuat bahwa separuh aspek negatif dunia adalah kesalahan Shokuhou Misaki, tapi ternyata hal-hal ini merupakan bagian dari separuh lainnya.
“Jadi apa itu?” tanya Mikoto.
“Ini kota tempat orang mati bangkit kembali, jadi aku harap kita tidak memasuki dunia bawah di mana segala sesuatu bisa terjadi…”
Beberapa makhluk emas itu berbalik ke arah mereka. Dengan paksa.
Tidak jelas mengapa, tapi makhluk-makhluk itu telah menargetkan mereka.
Tapi, jika mereka rentan terhadap serangan fisik, mereka sebenarnya bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Lagipula dia adalah Misaka Mikoto, sang Railgun, esper peringkat 3 Academy City.
Dia meledakkan koin arkade dengan kecepatan tiga kali lipat kecepatan suara, dan kepiting emas, kelabang, dan makhluk-makhluk lainnya pun berhamburan. Tentu saja, dia bisa melakukannya dengan mudah karena dia adalah Level 5 yang dikenal sebagai Ace Tokiwadai, dan orang biasa takkan mampu melawannya.
“Misaka-san, ada satu di jembatan penyeberangan.”
“Ya, ya.”
“Misaka-san, kau melewatkan satu di jalan sebelah kanan.”
“Tanpa kau beritahu pun aku tahu.”
“Misaka-san, tunggu, bukan yang itu!!”
“Nghhh?!”
Misaka Mikoto gemetar hebat.
...Apa dia baru saja meledakkan sesuatu yang bukan pirang emas yang muncul dari sudut jalan? Dan benda yang mengeluarkan suara berdentang itu, eh, sebuah mobil?
Ini merupakan salah satu masalah jika kita terlalu berkuasa.
Waktu berhenti sejenak.
Dan Shokuhou Misaki menutup mulutnya dengan tangan karena kesedihan yang berlebihan.
“Misaka-san… Siapa sangka di usiamu sekarang kau akan di cap sebagai pembunuhmu.”
“Tunggu, tunggu dulu, orangnya mungkin belum mati! Kumohon, tetaplah hidup, siapa pun yang di sana!!”
Mikoto bergegas menghampiri dan tidak menemukan siapa pun di kursi pengemudi.
Bahkan, mesinnya pun tidak menyala. Rupanya tidak ada orang di dalam dan sesuatu telah menyebabkan mobil yang terparkir itu meluncur perlahan ke depan. Meskipun jalanan beku ini tampak datar, jika bola-bola pachinko diletakkan di atasnya, dia menduga bola-bola itu mungkin akan menggelinding ke satu arah.
Tapi bagaimanapun juga…
“Syukurlah, aman.”
“Aku merasa ini masih melanggar beberapa ketentuan hukum, tapi itu hanya perasaanku, jadi aku akan mengabaikannya.”
Tepat saat mereka berdua bernapas lega, Mikoto melihat seorang gadis pingsan di dekat mobil.
Gadis itu mengenakan jubah biarawati berwarna putih.
Dan bersama dengan seekor kucing belacu dan sebuah figurin gadis?
Napas yang berat tapi tidak stabil terdengar di malam yang gelap bersalju merah.
“Haa… haah…”
Berasal dari Kihara Goukei.
Ujung lengannya yang terulur mencengkeram kepala lalat raksasa.
Lengan kirinya hilang hingga melewati siku dan lengan kanan memegang mayat yang sudah membusuk di beberapa tempat, memperlihatkan perubahan warna kehijauan pada tulang di dalamnya.
Apakah ini yang oleh lawannya disebut sihir? Suatu metode yang belum pernah dilihat Kihara sebelumnya telah menghilangkan begitu banyak reaksi biologisnya sehingga bahkan otak di dalam tengkoraknya telah hancur total setidaknya dua kali, tapi, yah, yang harus dia lakukan hanyalah memperbaiki organ biologis yang hilang itu.
(Tetap saja, aku kehilangan banyak hal, seperti tiga chip seukuran perangko yang tertanam di tubuhku, dua koloni bakteriku, dan bahkan kepiting kecilku yang berharga…)
Tapi dia tetap mengalahkan makhluk itu.
Ketika dia membuang kepala lalat yang tak dibutuhkan itu, kepala itu tercecer ke tanah merah yang tertutup salju, lalu lenyap seolah mencair di udara. Seolah-olah tak pernah ada.
Ahli Nekromansi Isabella Theism sedang duduk dengan punggungnya bersandar pada dinding bangunan.
Kepalanya terkulai lemas dan tidak bergerak.
Lapisan tipis salju merah telah menumpuk di kepalanya.
Dia pasti sudah tidak sadarkan diri.
Tapi, ini belum berakhir.
Kihara Goukei mendengar suara gemerisik yang mengganggu.
Berasal dari massa emas yang menyerupai kepiting raksasa.
Rupanya makhluk-makluk ini telah disebarkan oleh seorang tamu yang dijuluki “Iblis Agung”.
Anak lelaki kecil itu mendekati Kihara Goukei. Mungkin karena anak itu takut.
Namanya Urekawa Ousuke, bukan?
Kihara Goukei mencintai anak-anak. Tidak, tidak harus anak-anak. Meminta bantuan adalah sebuah pertaruhan karena mengharuskan kita mengungkapkan kelemahan dan ketidakberdayaan kita kepada orang lain. Sampai-sampai penolakan dari mereka bisa berarti kehilangan segalanya. Kihara Goukei mencintai siapa pun yang mau mengambil langkah untuk bergantung padanya. Itu sebabnya dia ingin menjaga kepercayaan itu apa pun yang terjadi. Meskipun dia tahu, sebagai salah satu Kihara yang terkenal, mereka semua pada akhirnya akan membencinya.
“Gou-neechan…”
“Jangan khawatir. Tidak ada yang perlu ditakutkan.”
Saat dia mengatakan itu, semua luka telah lenyap dari Kihara Goukei. Hanya kulit halus yang terlihat di balik pakaiannya yang robek. Anggota tubuhnya yang busuk dan hilang pun kembali.
Seorang anak sedang menonton. Melakukan hal yang benar selalu membuat mereka takut padanya, tapi bukan berarti dia harus terus memamerkan darah dan luka yang mengerikan.
…Dan bukan berarti juga dia telah mendapatkan kembali seluruh fungsi tubuhnya.
(Sungguh, aku benar-benar akan mati seandainya makhluk itu menghancurkan lagi dua berkas miokardium miniku.)
Tapi, dia tidak akan mengatakannya.
Dia memang merasa khawatir, tapi menambah beban anak lelaki itu dengan mengungkap keadaan hidupnya adalah hal yang salah untuk dilakukan.
Sebagai Gou-neechan yang dapat diandalkan, pilihan yang tepat adalah tersenyum dan mengatakan sesuatu yang lain.
“Ayo kita pulang. Aku akan menghancurkan semua bahaya dan membuka jalan untukmu☆”
Dia tidak keberatan untuk membiarkan Isabella mati, tapi anak lelaki itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan dia terpaksa menambah dua lengan lagi. ...Tapi, ini bukan seperti penawaran ruang penyimpanan tak terbatas yang bisa digunakan secara cuma-cuma. Jika dia tidak mengonsumsi berbagai bahan seperti protein dan kalsium secara oral, dia akan mengalami gejala defisiensi, jadi dia harus berhati-hati. Rupanya satu-satunya pilihannya adalah bertarung hari ini sambil membawa musuh kemarin di punggungnya.
(tapi tetap saja.)
“Kurasa aku sudah terlalu banyak mengambil jalan memutar. Aku tak punya stamina lagi untuk menghadapi si Coronzon.”
Mereka telah menetapkan suatu rencana.
Pertama, bawa pesawat angkut ke langit. Lalu, semua rudal yang tersisa di Academy City akan ditembakkan ke Coronzon dan mereka akan bersembunyi di balik rentetan tembakan tersebut dengan terjun payung.
Hanya sedikit orang yang bisa bertindak.
Yaitu kelompok di konsulat yang telah runtuh.
Kamijou Touma, Alice Anotherbible, Kihara Noukan, Bologna Succubus, Blodeuwedd the Bouquet, Qliphah Puzzle 545, Dion Fortune, Takitsubo Rikou, dan Hamazura Shiage.
Tugas mereka adalah melawan Iblis Agung untuk menjaga perdamaian dunia.
Ironisnya, kelompok yang mereka kumpulkan untuk tujuan yang sangat penting tersebut memiliki keragaman, tapi tidak cukup besar untuk memainkan pertandingan sepak bola.
(Jadi Vidhatri akhirnya tinggal di konsulat untuk beristirahat. Setidaknya kedengarannya dia sudah bangun.)
Mereka hanya perlu melakukannya dengan kelompok yang tersedia.
Pada pukul 9 malam, mereka keluar dari bekas konsulat Bridge Builders Cabal.
Tujuan mereka adalah Distrik 23. Distrik itu tepat di sebelah Distrik 12 tempat mereka berada sekarang.
Mereka dapat menempuh jarak itu dengan berjalan kaki.
Kamijou memandang dengan gugup ke arah jalan utama dan terkejut melihat betapa gelapnya jalan tersebut.
Apakah ini benar-benar Academy City?
“Tidak ada siapa-siapa di sini. Mobil juga tidak ada. Aku tahu Anglikan tampaknya telah menguasai kota, tapi kurasa mereka tidak berpatroli di jalanan seperti Anti-Skill.”
“Karena prioritas mereka adalah Coronzon. Kelompok yang egois dan tidak bijaksana itu tidak menempuh perjalanan jauh ke belahan dunia lain untuk menjaga ketertiban kota,” kata Dion Fortune sambil cemberut.
Meski hanya posisi sementara, dia tampak kesal karena tak seorang pun mendengarkan perkataannya sebagai pemimpin. Wajar saja.
“Jika mereka tidak bersedia melakukan pekerjaan itu, mereka seharusnya tidak menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih kota…” kata Accelerator melalui earphone nirkabel yang dikenakan Kamijou.
Pemimpin yang lain juga sedang kesal. Sekali lagi, itu wajar.
Distrik 23 adalah tempat unik yang khusus menangani industri kedirgantaraan dan seluruh distrik merupakan zona terlarang yang luas, tapi keamanannya tidak berfungsi dengan baik mengingat kondisi kota yang begitu buruk. Dan sepertinya mustahil bagi umat Anglikan untuk memahami nilai ilmiahnya dengan cukup baik hingga menempatkan penyihir untuk berjaga.
Tempat itu terbuka lebar.
Academy City lebih gelap dari biasanya dan Kamijou mengajukan pertanyaan sambil berjalan melewati salju merah yang turun.
“Distrik 7 itu cukup luas. Apa kita tahu lokasi Coronzon di sana?”
“Bekas lokasi Gedung Tanpa Jendela,” kata Accelerator.
“…Begitu ya.”
“Rupanya iblis terkutuk itu berniat untuk menghancurkan setiap warisan Aleister.”
Coronzon saat ini sedang menyebarkan "monster berambut pirang" di sekitar Distrik 7 untuk pertahanan. Awalnya mereka tampak menakutkan, tapi menemukan konsentrasi tertinggi akan memberi tahu kita apa yang paling ingin dilindungi Coronzon, yang memberi tahu mereka di mana Coronzon berada saat dia menyelesaikan ritualnya. ...Membangun garis pertahanan itu penting, tapi jika tidak hati-hati dalam penempatannya, maka bisa berakhir ke situasi seperti ini.
Di tengah salju, Kamijou merasa takut untuk terus-menerus berjaga-jaga tanpa ada sesuatu pun yang benar-benar terjadi.
Dia merasa seperti akan mati kedinginan jika tidak melakukan sesuatu.
Blodeuwedd the Bouquet membuka dan menutup iron maiden-nya.
“Jika kau ingin menghangatkan diri, mantelku terbuka untukmu.”
“Tolong aku, musuh bebuyutannya!!”
Kamijou menggenggam tangannya dan berdoa kepada succubus terbang yang kemudian melancarkan tendangan terbang ke wajah Blodeuwedd the Bouquet karena hanya itu bagian tubuhnya yang terbuka. Dia melakukannya dengan tumit tajamnya, jadi apa Blodeuwedd baik-baik saja?
Sementara itu, perbatasan Distrik 23 mulai terlihat. Mustahil untuk tidak melihatnya karena pagar besi setinggi orang dewasa membentang tanpa henti ke kiri dan ke kanan.
“Jadi ini tempatnya.”
Dari luar, tidak ada penjaga yang terlihat.
Distrik khusus itu konon penuh dengan landasan pacu dan lokasi peluncuran, tapi saat itu sangat gelap. Lampu yang menyerupai stadion sedang dimatikan. Mungkin karena bandara internasional ditutup selama keadaan darurat.
“Tetap saja, mungkin ada seseorang di pos pemeriksaan,” Accelerator memperingatkan. “Jadi, daripada menimbulkan masalah yang tidak perlu, carilah tempat yang bagus dan panjatlah pagarnya.”
“Kau sangat baik pada orang biasa.”
“Tentu saja. Orang biasa tidak membuat masalah bagi masyarakat seperti kalian semua.”
Kamijou tidak memberikan tanggapan apa pun terhadap pernyataan itu.
Mereka semua memanjat pagar tinggi itu. Sepertinya Alice kecil akan kesulitan... dan dia mungkin akan merentangkan tangannya dan menerobos pagar sambil tersenyum jika dibiarkan begitu saja, jadi Kamijou membantunya.
Sementara itu, Hamazura menyadari sesuatu dan menjadi bingung.
“H-hei. Si buket itu meronta-ronta di tanah. Dia jatuh!”
“Peh peh peh. Ajaib sekali dia bisa memanjat pagar dengan mantel iron maiden itu!” kata Bologna Succubus.
“Dunia ini benar-benar sakit jika kita harus bergantung pada orang-orang ini untuk menyelamatkan kita semua.” keluh Accelerator.
Bologna Succubus menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa terbahak-bahak, sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk membantu (meskipun itu rekannya), sehingga Hamazura dan Takitsubo harus membantu gadis yang mengenakan kostum maskot baja itu. Dengan semua logam di bagian luarnya, dia harus dipegang dengan hati-hati agar telapak tangan mereka tidak lengket karena dingin.
Dan orang misterius di dalam mantel itu pun menangis cukup keras.
“Uh, uh, eh, uhhh... Iblis gila yang berkeliaran pakai celana dalam itu mengolok-olokku. Ini hal terburuk yang pernah kualami…”
Rupanya, pilihan busana Succubus Bologna dianggap tidak lazim, bahkan di kalangan Transenden. Di sisi lain, gadis yang sedang berbicara ini mengenakan celemek telanjang di balik mantel tebalnya.
“Seharusnya kau lepas mantel tebalmu dan melemparkannya ke atas pagar,” komentar Kihara Noukan yang berhasil sampai ke sisi lain pagar.
Bagaimana seekor anjing bisa melakukan itu? Apakah dia benar-benar hanya seekor golden retriever?
Mereka akhirnya memasuki zona terlarang.
Tapi mereka akan aman untuk saat ini. Rencana ini datang langsung dari Accelerator di pucuk pimpinan. Kamijou tahu dia tak perlu gugup, tapi dia tetap berjongkok agar tak terlihat.
“Tujuannya adalah Landasan Pacu D-25. Sebuah pesawat angkut sudah menunggu di sana. Aku sudah membersihkan salju di cuaca dingin ini untuk membawanya ke sana, jadi jangan disia-siakan.”
“Aku takjub mengetahui kota ini memiliki setidaknya 25 landasan pacu.”
Tapi bahkan dengan lampu landasan pacu dimatikan, bukankah pesawat terbang dan sayapnya yang besar akan terlihat jelas di salju merah? Tapi, sayap utama pesawat terbang tampak lebih rapuh daripada atap rumah.
Bologna Succubus mengepakkan sayapnya.
“Kalau cuma anak itu, aku bisa bawa dia ke langit malam. Tidak perlu pesawat.”
“Aku tidak akan melakukannya kalau aku jadi kau. Coronzon dan Anglikan akan bereaksi keras terhadap segala trik sihir. Sebuah pesawat terbang memungkinkan kita terbang tanpa menggunakan sihir, yang akan membantu kita bersembunyi di antara ledakan rudal untuk mendekat.”
Dion Fortune langsung menolak ide Bologna Succubus.
Di dunia sihir, kemenangan tampaknya tidak dijamin jika level kekuatan sihirmu lebih dari satu juta miliar atau lebih. Terkadang, lebih berguna untuk sepenuhnya menyembunyikan keberadaanmu dan membaur dengan latar belakang.
Qliphah Puzzle 545 telah mengepakkan sayapnya sendiri karena alasan yang sama, jadi dia terdiam sejenak saat semua orang menoleh ke arahnya.
Salju merah mulai menumpuk di kegelapan. Jejak di landasan pacu sulit terlihat, tapi itu berarti mereka harus menemukan tempat di mana banyak orang berlalu-lalang membersihkan salju. Dengan mengikuti jejak kaki dan ban yang tersisa, sepertinya mereka setidaknya bisa terhindar dari tersesat dan berjalan berputar-putar di Distrik 23 yang luas.
“Hei, ada sesuatu di sana.” Kihara Noukan mengalihkan pandangannya ke tempat lain. “Kelihatannya bukan robot keamanan kota. Desainnya akan membuat anak-anak ketakutan sampai menangis.”
Seekor makhluk kepiting aneh sepanjang dua meter berlarian di kejauhan.
Tidak, apakah itu benar-benar makhluk hidup?
Monster itu terbuat dari banyak rambut pirang.
Monster itu adalah salah satu pasukan patroli yang digunakan Coronzon untuk pertahanan.
“Seorang pengintai, ya…” kata Blodeuwedd the Bouquet sambil mengembuskan napas putih.
Kamijou mengerutkan kening.
“Apa ini seperti Aethyr Avatar yang kulihat di Inggris?”
“Mereka tidak diperkuat sampai segitunya. Mungkin agar dia bisa fokus pada Adikalika,” Dion Fortune menilai.
Tapi, sekumpulan makhluk itu ada di sini.
Bukannya si nomor 1 brengsek itu bilang kalau mereka cuma ada di Distrik 7?! Lalu kenapa mereka bisa ada di sini?!
“Kurasa Coronzon menyadari kita sedang berusaha mengintai, jadi dia mengacak garis pertahanannya untuk membingungkan kita saat kita mencoba menyelinap!” kata Accelerator.
“Apa, jadi itu salahmu?!”
“Tidak, itu salahmu karena gagal menyelesaikan masalah ini tanpa bantuanku!!”
Tapi meski Accelerator tidak mengatakannya keras-keras, Kamijou cukup terkejut.
Rupanya bahkan Ketua Dewan Accelerator yang baru tidak dapat melihat apa pun dan segala hal yang terjadi di Academy City.
Apakah wilayah pengamatannya dibatasi oleh semua kerusakan yang belum diperbaiki di seluruh kota?
Berarti Coronzon bisa lebih mudah mengetahui rencana mereka… tapi itu tidak merusak segalanya. Dia pasti akan sadar pada akhirnya. Sekalipun dia tahu mereka akan datang, mereka tetap bisa terjun payung di antara rudal-rudal itu sementara dia terlalu sibuk menangani rudal-rudal itu untuk menghadapinya.
“Tapi kalau pesawat angkut atau landasan pacunya meledak, kalian tidak akan bisa lepas landas. Naiklah ke pesawat secepat mungkin. Kita bisa bahas ini setelah itu!”
Kamijou mendengar gemuruh mesin.
Berdasarkan apa yang dikatakan Accelerator, Kamijou mengira akan menemukan staf bandara yang mengoperasikan pembajak salju, tapi ternyata tidak.
“Apa-apaan itu?” tanya Accelerator.
“…Itu kelasku.”
Itu adalah sebuah bus.
Dengan seorang guru dengan tinggi 135 cm memegang kemudi.
Entah dia tidak terbiasa mengendarai kendaraan sebesar itu atau bannya selip di salju merah, karena kecepatannya tidak lebih cepat dari sepeda. Dia mendengar suara kepakan dan melihat jendela di bagian belakang terbuka sedikit dengan tirai yang tersangkut.
Mengapa mereka berkeliaran di Distrik 23 yang terlarang?
Saat Kamijou merenungkan hal itu, dia teringat krematorium itu berada di Distrik 10, yang bersebelahan dengan Distrik 23. Dengan Coronzon dan para pasukannya menyerbu markas mereka di Distrik 7, mungkin mereka tidak dapat kembali ke asrama dan datang ke sini untuk berlindung.
Blodeuwedd the Bouquet memberikan komentar sederhana.
“Mereka akan mati.”
Dan terlihat suatu bayangan mengejar mereka.
Dan jumlahnya ada banyak.
Kepiting sepanjang dua meter yang terbuat dari lilitan rambut pirang yang sangat panjang. Tidak seperti kaki kepiting laba-laba Jepang yang luar biasa panjang, kepiting ini lebih kokoh dan memiliki capit yang tebal dan berbentuk brutal. Dengan ukuran sebesar itu, cubitan saja mungkin bisa menghancurkan dan mengiris pipa baja seukuran lengan Kamijou, tapi apa-apaan gumpalan rambut itu? Selain serangan fisik sederhana, penampilannya yang mengerikan juga menunjukkan bahwa makhluk itu juga bisa menggunakan racun dan infeksi.
Mereka tidak bisa membiarkan Coronzon tahu apa yang mereka lakukan.
Kamijou tahu itu.
Tapi kemudian dia melihat salah satu monster, yang bisa berlari lurus ke depan meskipun berwujud kepiting, menerjang bus yang tak bisa menambah kecepatannya karena salju yang licin. Bukan, ekornya yang panjang itu kemungkinan besar seekor kalajengking. Apa yang akan terjadi pada teman-teman sekelasnya jika makhluk itu berhasil menyusul?
“…”
Kamijou Touma berbalik dengan cepat.
Dia mengepalkan tangan kanannya dan menyerang langsung ke arah kalajengking raksasa itu.
Saat dia meninjunya, sensasinya pun lenyap.
Makhluk itu dengan cepat kehilangan bentuknya dan menyebar di tanah bersalju berwarna merah.
Terlihat kilauan yang terdistorsi.
Rambut pirang panjang. Sudah jelas punya siapa rambut itu.
Si nomor 1 pun terdengar mengerang dari earphone.
Dia mungkin sedang menunduk sambil memegangi kepalanya.
“Kau hanya memperburuk keadaan…”
“Ke mana teman-teman sekelasku bisa melarikan diri?!”
“Pilihan terdekat adalah terminal bandara internasional. Terminal itu penuh dengan mekanisme anti-teror, jadi seharusnya bisa menahannya untuk sementara waktu. Aku akan buka jalan melalui gerbang pengiriman.”
Untungnya, orang pintar dapat segera mengganti taktik pada saat seperti ini.
Suaranya mungkin tak terdengar di dalam bus, tapi dia seharusnya masih bisa menggunakan media sosial sekolah. Demi keamanan, dia mengirim notifikasi ke semua ponsel mereka, sehingga seluruh kelas menerima pesan dari alamat anak lelaki yang sudah meninggal, yang isinya hanya meminta mereka untuk mengubah arah.
“Sekarang aku hanya perlu menarik perhatian kepiting dan ular emas agar bus bisa lolos dengan selamat!”
Duaaar!!!
Sesuatu meledak di dekatnya.
Bukan, itu suara petir tebal yang jatuh dari langit tinggi dan menusuk seekor ular raksasa.
“Hanya sedikit yang bisa kulakukan,” kata Accelerator. “Pikirkanlah target mana yang paling efisien.”
Kamijou tak boleh mati di sini. Sekalipun dia membiarkan teman-temannya lolos, seluruh dunia akan hancur jika Coronzon meluncurkan Adikalika. Dan teman-teman sekelasnya pun akan terbunuh.
Bologna Succubus meninggikan suaranya dari jarak yang cukup dekat.
“Berhentilah mengkhawatirkan masa depan! Fokuslah pada apa yang ada di depanmu!!”
Kalajengking emas itu lebih dekat dari yang Kamijou kira.
Ketika Kamijou sedang memperhatikan capitnya yang tajam, sesuatu yang lain meluncur tajam dari bagian kanan atas penglihatannya.
Itu adalah ekor berbisa raksasa.
“Uh?!”
Kamijou mendengar suara gemuruh logam yang kuat dan melihat percikan api berwarna jingga.
Untuk sesaat, Kamijou benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi.
Dia merasakan aroma nektar manis dan merasakan panas tubuh orang lain di malam yang seharusnya sangat dingin.
Dia tidak berada dalam kegelapan total. Dia terisolasi dari dunia luar, tapi ruang tertutup itu dipenuhi cahaya putih kebiruan samar yang dimaksudkan untuk menumbuhkan tanaman. Dan dia melihat tubuh seorang gadis yang sangat kurus.
Rupanya itu Blodeuwedd the Bouquet. Mantel logamnya yang tebal telah menutupi Kamijou dan menangkis ekor kalajengking yang menusuk tajam dengan baju zirahnya yang besar.
“Te-terima—”
“Kau milikku sekarang☆”
“Mgh, mgh, mmgah?!”
Sebelum rasa takut sempat muncul, Kamijou sudah dipeluk oleh sepasang lengan yang luar biasa kurus. Dan mantel logam tebal yang memisahkannya dari dunia luar menutup celah terakhir di depan matanya. Kalau terus begini, dia pasti akan dikunyah-kunyah di dalam gadis iron maiden super manis ini?!
Sebuah suara jengkel berbicara dari luar mantel.
“Kau tahu, aku mulai berpikir kalau kau ingin tangan kanan anak lelaki itu menelanjangimu dan melemparmu ke tempat terbuka.”
“Hm, begitukah?”
Dengan suara mengepak, Bologna Succubus membuka lebar sayapnya yang lebar.
Blodeuwedd the Bouquet juga membuka mantel tebalnya seperti pintu ganda.
Para Transenden itu pernah mencoba membawa keselamatan bagi manusia.
…Mereka benar-benar sangat mirip. Kamijou tidak bisa membayangkan kenapa mereka tidak akur.
Dan sekarang bukan waktunya bersantai. Gagal mengalahkan monster-monster itu hanya akan menambah jumlah korban.
Saat Kamijou akhirnya kembali ke dunia luar, wanita iblis itu tersenyum dan berbisik padanya.
“Ya ampun, Dik. Kau memang tak bisa berhenti pamer ya?”
“Apa aku berbuat salah?”
“ “Aku tidak bilang begitu☆” ”
Saat bus berangkat, Aogami Pierce menatap ke luar jendela dan berteriak.
“Kami-yan!!”
Tapi Kamijou tidak menjawab panggilan dari bus.
Mungkin dia tidak dengar karena jendela yang tebal.
Atau mungkin dia sedang sibuk dengan urusan lain. Aogami Pierce bisa melihatnya menggunakan tangan kanannya untuk memukul dan menghancurkan beberapa kepiting dan kalajengking dari rambut pirang yang mendekati bus.
Meskipun dia tidak harus melakukan itu.
Meskipun dia telah dijauhi karena dianggap sebagai sumber infeksi yang berbahaya.
Meskipun Aogami Pierce tidak menentang orang dewasa yang memperlakukannya dengan buruk dan bahkan tidak mencegahnya secara nyata.
Sebenarnya, kelas itu tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Mengapa tinju Kamijou Touma begitu efektif melawan monster-monster itu?
Apa yang dia lakukan di Distrik 23 setelah melarikan diri dari krematorium?
Tapi dia tidak berubah.
Mati atau hidup kembali, Kamijou Touma tetaplah Kamijou Touma.
Bus itu terus melaju.
Kembali meninggalkan anak lelaki itu.
Sebuah gantungan Magical Powered Kanamin berayun dari saku Aogami Pierce. Lokasi tempat perlindungan baru telah terkirim ke ponselnya yang akhirnya kembali mendapat sinyal.
Fukiyose Seiri tampak murung. Gadis yang sangat bertanggung jawab itu sedang berbicara sendiri.
“Oh, tidak. …Aku telah memanggilnya zombi di krematorium.”
“Sudah diputuskan. Fukiyose Seiri, si rambut hitam berdada besar, harus menebus dosanya dengan bekerja sebagai manajer asrama putra untuk sementara waktu!!”
Aogami Pierce berpose sesaat sebelum sebuah tinju menghantam wajahnya.
Fukiyose Seiri tidak keberatan mencari cara untuk menebus dosa, tapi dia tidak menyukai upaya Aogami Pierce yang memanfaatkannya untuk keuntungan dirinya sendiri.
Sesuatu seperti isak tangis terdengar dari Tsukuyomi Komoe yang duduk di kursi pengemudi.
Dia memegang setir besar itu dengan satu tangan untuk menggosok matanya dengan tangan satunya, tapi bus besar itu mulai bergeser ke samping dan segera oleng ke depan dan ke belakang. Dia terlalu pendek sehingga kakinya tak mampu mencapai pedal gas dan rem, tapi mungkin salah dia juga kerena telah mematahkan gagang pel menjadi dua dan menempelkannya ke kakinya dengan melilitkan selotip di tulang kering dan sepatunya agar dia bisa mengemudi dengan paksa.
Sedikit demi sedikit, kelas mereka yang biasa mulai kembali.
Sekarang satu-satunya hal yang mereka butuhkan adalah anak lelaki itu.
Distrik 23 luas dan datar. Gelap, tanpa penanda jalan, dan saat ini tertutup salju merah yang tidak alami. Segala kekacauan dan hiruk pikuk ini bisa mengacaukan arah Kamijou, membuatnya tidak yakin dari mana dia datang dan ke mana dia akan pergi.
(Busnya sudah berangkat, jadi sekarang aku ingin segera menjauh dari makhluk-makhluk ini.)
“Sensei, hati-hati!”
Dia tidak membutuhkan Alice untuk memberitahunya hal itu.
Kepiting dan ular emas berkumpul dari berbagai arah.
Dia sudah bertindak terlalu jauh.
Dia mungkin tidak akan berhasil.
Tepat saat kepanikannya mulai terlihat, sesuatu meledak di sampingnya.
Bukan, bukan itu. Bongkahan baja dari kendaraan pembajak salju telah jatuh dan meremukkan beberapa ular dan kalajengking emas.
Pengemudinya terlalu kecil untuk kursi pengemudi.
Orang yang melompat keluar dari pembajak salju tersebut adalah Anna Sprengel.
Kalau dipikir-pikir, bukankah dia telah menumpang di kamar Kamijou sejak hukumannya ditunda?
“Kuharap kau tidak melupakanku, dungu. Tidak, kan?”
Kurangnya reaksi Kamijou Touma membuatnya mendapat tendangan di tulang kering.
Rupanya masalahnya karena Kamijou yang mengalihkan matanya.
“Aku sudah mengumpulkan informasi sendiri dan hasilnya tidak terlihat bagus. Sumber daya Academy City hampir habis, tapi Coronzon hanya perlu memotong lebih banyak rambutnya yang terus tumbuh untuk memulihkan kekuatannya.”
“Eh? Begitukah cara kerjanya?”
“Dia hanya memberi mereka sumber daya yang sangat minim karena dia harus fokus pada Adikalika, tapi jika dia fokus pada produksi massal makhluk-makhluk ini, maka itu bisa menjadi masalah yang sangat besar.”
Tak jauh dari situ, salju merah terbelah dan sesuatu seperti naga ala Timur membuat lengkungan besar.
Blodeuwedd the Bouquet sedang mengayunkan lengan baju mantel logamnya yang besar dan meneriakkan sesuatu, jadi dia mungkin sedang memanggil segerombolan burung jalak atau burung hama lainnya.
Kamijou mengajukan pertanyaan kepada Anna Sprengel sambil berlari di sepanjang salju merah.
“Seberapa banyak yang kau ketahui tentang rencana kami?”
“Aku tidak akan berada di Distrik 23 jika aku tidak tahu rencana umumnya.”
Kamijou tidak tahu bagaimana cara Anna bisa tahu, tapi jika dia saja bisa tahu, maka orang lain juga pasti bisa melakukannya dengan cara yang sama.
Seperti Coronzon.
Karena mereka telah berselisih dengan para monster pengintai, jadi Coronzon seharusnya tahu apa yang coba mereka lakukan.
Tapi hal itu tidak mengurangi ketakutannya.
“…”
Sementara itu, Hamazura Shiage diam-diam melotot ke arah Anna selama beberapa saat.
Gadis berseragam olahraga yang bersamanya juga tidak berusaha menghentikannya.
Kamijou tidak sepenuhnya memahami semua hubungan antar manusia di sini. Apakah Hamazura Shiage dan Takitsubo Rikou memiliki hubungan dengan Anna Sprengel?
Rincinya…
“Setelah R&C Occultics, aku yakin tidak banyak orang yang memiliki opini positif tentang Anna Sprengel.”
“Kau tidak salah, tapi aku merasa mendapat tuduhan palsu di sini. Bukan aku yang salah, tapi penipu kotor yang memanfaatkan tubuhku.”
“?”
Itu tidak masuk akal bagi Kamijou, tapi mengapa Hamazura dan Takitsubo juga mengerutkan kening saat mendengarnya?
Seorang succubus bereaksi terhadap frasa "tuduhan palsu" dengan mengibaskan ekornya ke kanan dan ke kiri, tapi dia tidak punya waktu untuk itu.
Setelah kembali berlari, Kamijou menemukan gumpalan yang lebih tinggi darinya. Bocah berambut jabrik itu awalnya melompat, mengira itu monster lain yang dilepaskan oleh Coronzon, tapi gumpalan itu tidak bergerak. Ternyata itu hanyalah tumpukan besar salju merah.
Hasil pembersihan salju.
Tentu saja, ini di luar jangkauan seseorang yang bersenjata sekop. Kemungkinan besar, seseorang telah menggunakan pembajak salju atau wheel loader.
Ada beberapa rute berbeda yang ditandai dengan jejak ban, jadi pasti ada tim yang mengumpulkan salju landasan pacu di sini dan tim lain yang memuatnya ke truk sampah atau semacamnya dan membawanya pergi.
“Dengan monster-monster di Distrik 23, aku menyuruh para pekerja berhenti membersihkan salju dan bersembunyi di terminal bandara internasional,” kata Accelerator. “Setelah semua pekerjaan yang mereka lakukan untuk kita, aku tidak bisa membiarkan mereka mati.”
Itu jelas.
Tapi, dengan dunia yang berada di ambang kehancuran, Kamijou senang mendengar hal-hal seperti itu diucapkan dengan lantang. Dia tidak tahu apakah ini harus disebut darurat atau krisis, tapi keduanya bukan alasan untuk menginjak-injak nyawa orang lain. Dan orang yang menjabat di puncak sebagai ketua dewan bersedia mengatakannya.
Kemudian…
“Apa yang itu?” kata Kamijou sambil mengatur napas.
Sekalipun hampir tidak ada lampu di sekitarnya, bentuk besar itu tetap menonjol dalam kegelapan di sekitarnya.
Kelihatannya seperti paus raksasa bersayap yang dilengkapi beberapa baling-baling berbentuk X.
Itu adalah pesawat angkut.
Misaka Mikoto menghela napas setelah berhasil menyelamatkan(?) Index di jalanan gelap Distrik 10.
“Aku tidak salah. Aku malah membantunya, jadi aku pantas mendapatkan ucapan terima kasih. Tidak ada alasan untuk melempariku dengan batu. Sama sekali tidak ada.”
“Hei, Nak. Kau mungkin bisa menipu biarawati yang naif itu, tapi kau tak bisa membohongi dewa penipuan.”
Orang(?) setinggi 15 cm itu mengatakan sesuatu, tapi dia mungkin bukan manusia dan dapat diabaikan!
Sang peringkat 3 Academy City menatap ke kejauhan.
Ada sesuatu di sana.
Tapi bukan gumpalan pirang. Ini lebih terlihat ilmiah.
Mikoto menatap dengan takjub.
“Apa mobil tanpa pengemudi diperbolehkan di jalan umum? Walau pernah juga sih bus-bus otonom beroprasi saat acara Daihaseisai.”
“Mungkin ini layanan taksi berbasis aplikasi yang memanfaatkan celah peraturan. Lagipula, bukankah lampu lalu lintas pun bermasalah di salju merah ini? Tidak heran jika taksi biasa menolak beroperasi jika tahu kalau mereka tidak bisa menjamin keselamatan.”
Shokuhou memberikan beberapa penjelasan, tapi sepertinya dia tidak punya dasar kuat untuk menjelaskannya.
Bagaimanapun, Mikoto mengangkat tangannya dan mobil itu pun menghampirinya dengan normal.
“Mobil apa ini? Kecil sekali.”
Mungkin karena mobil itu dirancang sebagai mobil otonom, jadi tidak ada kursi pengemudi atau pun penumpang. Hal itu mengingatkannya pada salah satu mobil ultra-kecil berbentuk telur yang terbaring miring yang terkadang kita lihat di iklan TV. Mungkin mobil golf lebih luas dari ini.
Index memiringkan kepalanya.
“Apa naik ini akan membawa kita ke Touma?”
“Ribet jelasinnya, intinya begitu.”
“Oke!”
Biarawati putih itu naik dengan tatapan polos. Sepotong permen mungkin cukup untuk menculiknya.
Sementara itu, seorang gadis dengan tipe yang lebih mencurigakan menatap mobil itu dengan pandangan skeptis.
“Jangan terburu-buru, Misaka-san. Memanggil mobil memang bagus, tapi apa kau tahu ke mana kau akan pergi?”
“Sip.”
Misaka Mikoto yang mengenakan pakaian berkabung mengabaikan pertanyaan itu dan naik mengikuti si biarawati.
Pintu otomatis pun tertutup.
“Hah?!”
Shokuhou Misaki menggedor pintu dari luar.
Tapi mobil tanpa pengemudi ini hanya dapat menampung dua orang!
“Sudah aku bilang mobilnya terlalu kecil, dasar bodoh?! Siapa cepat dia dapat! Hmm, sayang sekali. Sudah tidak ada ruang untuk gumpalan lemak besarmu di sini.”
“—?! ……?!!!”
“Hm? Rambut pendek, apa yang dia katakan?”
“Dia teriak, ‘Hahhh? Hahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh??' Imutnya kalau dia lagi tak berdaya.”
Misaka Mikoto sangat kejam.
Dengan gemuruh yang dalam, mobil kecil itu melaju tanpa ampun.
Itu mobil listrik, jadi gemuruh itu mungkin efek suara yang diputar guna keselamatan.
(Karena mobil itu bisa mengemudi sendiri, jika dia benar-benar ingin menghentikannya, tinggal halangin bagian depannya saat mobilnya berhenti sehingga kamera atau radar akan mendeteksinya dan secara otomatis mengerem. Ketidakmampuan gadis bodoh itu untuk berimprovisasi membuatnya jauh lebih mudah untuk ditangani.)
Othinus yang setinggi 15cm menatap ke kejauhan dan bergumam dari bahu Index.
“Aku ini dewa perang, tapi kalau begitu saja bisa mengelabuinya, aku khawatir dia akan mati jika ditinggal sendirian dengan makhluk emas aneh yang keliaran di sekitarnya.”
“Kalau begitu saja bisa membunuhnya, aku tidak akan mengalami masalah sampai sekarang.”
Di atas pesawat angkut, Kamijou sangat ketakutan saat mereka berderak di landasan pacu yang beku, tapi semuanya kembali tenang begitu mereka berada di langit malam. Meskipun saat itulah mereka benar-benar mendekati kematian.
Dia cukup terkejut saat mendapati ada parasut kecil untuk Alice dan Anna Sprengel, tapi kemudian dia melihat Kihara Noukan mengobrak-abrik sudut ruang kargo. Padahal dia seekor golden retriever. Apakah ada parasut anjing di dunia seluas ini?
“Ini produk olahraga ekstrem. Diproduksi oleh perusahaan rintisan yang keliru tentang bagaimana produk hewan piaraan seharusnya dibuat. Mereka juga membuat papan seluncur salju dan pakaian selam untuk anjing. Meskipun hewan-hewan tersebut tidak dapat memahami atau menikmati konsep berada dalam video viral. Pada akhirnya, ini adalah produk yang dibuat oleh manusia untuk manusia.”
Suara yang keluar melalui earphone itu terdengar tajam seperti sebelumnya.
…Seberapa banyak informasi yang sampai ke ketua dewan baru setiap harinya? Ini sama sekali tidak relevan dengan ancaman global saat ini.
Kamijou juga memperhatikan Blodeuwedd the Bouquet sedang memodifikasi tali pengaman parasut yang diberikan kepadanya. Memasangkannya ke mantel logam tebalnya mungkin merupakan tantangan, tapi apakah aman untuk mengutak-atiknya sendiri?
“Serangan rudal telah dimulai,” kata Accelerator.
“Oke.”
“Stoknya cuma segitu, jadi kalian cuma punya satu kesempatan. Lompat ke langit di titik yang ditentukan dan turun di dekat Coronzon. Jika terlewat, maka tidak ada kesempatan kedua.”
“Mengerti.”
Setelah percakapan itu, sang nomor 1 pun terdiam.
Dia nampaknya tidak senang dengan sesuatu.
Accelerator membisikkan kata-kata berikutnya melalui transmisi.
“…Mengeluh saja kalau memang sulit.”
“Nanti saja. Aku akan mengeluh sepuasnya kalau kita kembali nanti.”
Lampu peringatan merah menyala dan angin bertiup kencang.
Tekanan berubah dengan cepat.
Di bagian paling belakang pesawat angkut, pintu yang digunakan untuk bongkar muat kendaraan diturunkan. Pintu itu membentuk lereng landai dan mengarah ke pemandangan kota yang memukau jauh di bawah.
“Waktunya pergi.”
“Bisa bisanya orang nomor 1 jadi tukang antar orang?” tanya Accelerator. “Memang ada yang salah dengan dunia ini.”
Akhirnya tiba saatnya.
Iblis Agung Coronzon mungkin sudah menyadarinya. Jadi, mereka tidak bisa berharap akan berjalan lancar. Taruhan terbaik mereka berikutnya adalah situasi di mana Coronzon tidak bisa menghentikan mereka, bahkan jika dia tahu apa yang mereka lakukan.
Yang artinya meluncurkan semua rudal terakhir yang tersisa di Academy City. Bersamaan dengan semua benda terbang, kelompok Kamijou akan segera meluncur turun menuju Coronzon.
"Tujuan pendaratan kita adalah bekas lokasi Gedung Tanpa Jendela di pusat Distrik 7. Sebentar lagi!”
Seorang pria dewasa berdiri di samping lereng terbuka dan berteriak di tengah deru angin. Tidak jelas apakah dia berasal dari sisi terang atau gelap kota.
“Kita akan terjun bersama serangan rudal! Jadi, tidak ada gunanya putar balik dan mencoba lagi saat gagal. Itu akan menjadi mencolok. Kita akan segera tiba di atas titik terjun. Pastikan untuk langsung terjun! Tepat di jam 10 malam. Mulai!!”
Pada titik ini, Kamijou hanya harus menguatkan dirinya.
Dia menggertakkan giginya dan mulai berlari menuruni lereng yang mengarah ke langit pada ketinggian lebih dari 2000 meter.
Dia dengan kuat menendang ujung lereng.
Gravitasi menghilang.
Dia melompat.
Mungkin karena malam itu gelap gulita, Kamijou jadi tidak terlalu merasakan rasa takut akan ketinggian seperti biasanya. Malam kota diterangi cahaya yang luar biasa redup, sehingga sulit untuk memperkirakan jarak ke tanah. ...Yang sebenarnya merupakan faktor berbahaya yang menyebabkan kecelakaan pendaratan saat terjun payung.
Alice dan Takitsubo Rikou melesat melewati Kamijou.
Tampaknya kecepatan berubah tergantung postur tubuh kita.
Kamijou memang terhindar dari jatuh tak terkendali, tapi bukan karena kemampuan atletisnya. Tas parasut di punggungnya bergerak sendiri untuk menyesuaikan hambatan udara dan keseimbangannya.
Meski begitu, dia berada di ketinggian 2000 meter.
Jaraknya tidak terlalu jauh. Malahan, jaraknya terlalu pendek untuk terjun.
Saat angin menderu kencang, dia memeriksa layar LCD kecil di tali bahu dan mendapati kecepatan jatuh bebasnya lebih dari 200 km/jam. Hanya 2 kilometer saja tidak berarti apa-apa.
(Aku harap bajingan yang menonton dari menara gading penjaranya itu benar dalam perhitungannya!!)
Sesuatu seperti silinder bersayap lipat jatuh tepat di sebelah Kamijou. Ketebalannya kira-kira sama dengan botol air dua liter, tapi panjangnya jauh melebihi tinggi badannya.
“Tunggu, rudal?!”
Jika meledak sekarang, dia pasti mati.
Dia terjun bebas dari tempat yang lebih tinggi dari atap gedung pencakar langit, tapi perkembangan baru ini menutup rasa takut yang biasa terjadi dalam situasi tersebut.
Selain itu, rudalnya tidak tampak seperti rudal yang terbang dalam garis lurus sebelum menembus sasaran.
“Apa itu? Lebih mirip ikan kecil yang berenang di langit. Segerombolan ikan!”
“Bukan apa-apa,” kata Accelerator. “Cuma tank tanpa turret generasi berikutnya. Kalau mau meledakkan tank lain, drone penghancur diri punya jangkauan dan presisi yang jauh lebih baik daripada meriam tank biasa. Maka yang perlu dibangun hanyalah lini produksi skala besar untuk menekan biaya setiap drone yang diisi penuh semikonduktor. Lalu, untuk memuat satu tank dengan drone sebanyak mungkin, ganti bagian atas tank dengan peluncur ganda sebanyak dan semuat mungkin.”
Bahan peledak yang dibungkus dengan sesuatu yang tampak seperti lensa ponsel pintar kecil itu bergerak tajam ke sana kemari.
Ini lebih dari sekedar kecepatan.
Teknologi mematikan termutakhir ini akan membaca lintasan tembakan meriam otomatis dan peluncur granat otomatis yang menggunakan sekering radar, lalu menghindarinya saat mendekati target. Begitu gerombolan pembantai ini menarget kita, maka tak ada jalan keluar, dan tampaknya teknologi ini bekerja dengan baik melawan sihir.
“Benar-benar ada yang salah dengan Academy City,” kata Kamijou.
“Hoi. Dengan mengklaim dan memegang paten militernya, kita bisa mencegah dunia luar membuatnya”
Rupanya ketua dewan yang baru telah memikirkan hal ini matang-matang.
Kamijou hanya berharap itu tidak menjadi bumerang.
Bagaimanapun, sepertinya dia tidak perlu khawatir rudal-rudal yang jatuh dari langit akan mengenai siapa pun secara tidak sengaja. Mereka bisa tetap di tempat dan drone-drone yang berenang akan menghindarinya secara otomatis. Bahkan, mungkin lebih aman jika tidak ada yang panik dan mencoba bergerak. ...Hal itu sedikit mengganggu Kamijou karena mengingatkannya pada bagaimana orang-orang harus melalui proses yang menyebalkan dan menyelesaikan registrasi yang membosankan untuk mempermudah pemrosesan bagi mesin.
Dia terbang menembus langit malam.
Dia terjun ke lembah di antara gedung-gedung.
Kota yang tadinya tampak begitu kecil dengan cepat menyebar di sekelilingnya.
Layar LCD di tali bahunya pasti terhubung ke altimeter. Karena parasutnya terbuka sendiri tanpa perlu ditarik. Dengan suara seperti kain yang dihempaskan ke udara, dia merasakan tekanan di sekujur tubuhnya. Tali pengaman yang rumit itu telah mendistribusikan beratnya.
|Altimeter adalah alat pengukur ketinggian.
“Gweh!!”
Tapi tetap tidak membuatnya menjadi lembut. Rasanya tidak indah sama sekali.
Parasut tidak sehalus bulu. Tujuan parasut adalah membiarkanmu jatuh dari ketinggian tanpa mati, hanya itu. Mungkin rasanya mirip dengan bagaimana rompi antipeluru yang tertembak masih terasa sangat sakit dan membuatmu tak bisa bergerak untuk sementara waktu.
Pembukaan parasutnya belum selesai.
Bahkan, setelah terbuka pun rasanya dia masih melaju cukup kencang. Kecepatannya terasa mirip seperti mencoba menuruni lereng sambil duduk di atas sepeda.
Tidak ada cahaya.
Drone-drone yang berenang diledakkan di sana-sini di langit dan menerangi dunia bagaikan kilatan kamera, tapi kontras bayangannya terlalu kuat dan hanya membuatnya bingung.
Anak lelaki berambut jabrik itu mengincar jalan lebar dengan tiga jalur dua arah… tapi ternyata jalan itu memiliki lebih banyak hal daripada yang dia duga: lampu jalan, pepohonan, turbin angin. Setiap benda akan langsung membunuhnya jika dia menabraknya. Dan bangunan-bangunan di sekitarnya menciptakan arus angin yang sangat tidak teratur. Bahkan, cara angin menyeretnya mundur sungguh mengerikan.
“Sial, coba aku mengincar atap gedung tadi!!”
“Apa kau ingin mati tertusuk antena LAN nirkabel atau penangkal petir?”
Dia mendengar sebuah suara.
Apakah Dion Fortune sedang terjun di sampingnya?
“Yang lebih penting, perhatikan altimetermu. Kita hampir sampai di tanah. Jangan lewatkan momen tabrakan karena hari sudah gelap dan bersalju. Kau akan tersingkir dari pertarungan kalau kakimu patah di sini!!”
Apa yang sebenarnya harus Kamijou lakukan?
Tepat saat dia memikirkan hal itu, semua lampu jalan di persimpangan tiba-tiba menyala secara tidak wajar.
Apa ketua dewan baru yang dirumorkan itu melakukan sesuatu lagi?
Itu menunjukkan jarak antara dirinya dan tanah… tapi ternyata jauh lebih dekat dari yang dia kira?!
“Sial!!”
Dia menekuk kakinya, bersiap untuk meredam guncangan. Angin membawanya jatuh dan dia terbanting ke semak-semak rendah di antara jalan dan trotoar, tapi dia merasa itu lebih baik daripada menabrak pohon atau lampu jalan yang tebal dan kokoh.
Begitu dia mendarat, lampu jalan yang menyala secara tidak wajar itu pun padam dengan sendirinya.
(Hei, tunggu!)
Dia harus meraba-raba dalam kegelapan. Dia meraba-raba sampai berhasil melepaskan tali parasut dari tubuhnya.
“Di mana Gedung Tanpa Jendela?!”
“Angin membawa kita cukup jauh dari jalur. Aku sempat melihatnya sekilas tadi, tapi dari jarak ini, Hamazura dan Takitsubo mungkin akan bertemu Coronzon sebelum kita.”
Tidak bagus.
Sekalipun mereka semua berkumpul, masih belum jelas apakah mereka bisa mengalahkan Coronzon. Terlalu berbahaya bagi siapa pun untuk mendahului yang lain. Terutama bagi mereka yang bukan ahli sihir.
Kamijou mendengar beberapa sayap lebar mengepak di atas kepala.
Bologna Succubus terbang ke sana kemari sambil membawa Blodeuwedd the Bouquet yang tampak seperti iron maiden. Dia menukik membentuk angka 8 besar, jadi sepertinya dia tidak mengambil rute terpendek ke suatu tempat. Mungkin dia mencoba menarik perhatian Coronzon. Mereka menyebutkan orang-orang dengan sisi sihir bereaksi lebih sensitif terhadap trik sihir.
Tapi di manakah Alice Anotherbible?
Ke mana Anna Sprengel pergi?
Atau Qliphah Puzzle 545?
Dan Kihara Noukan?
(Sial, orang yang menjadi kartu truf kita hilang satu-persatu.)
Bagaimanapun, Tak ada waktu lagi. Mereka sudah berada tepat di tenggorokan Coronzon, tapi setiap menit dan detik yang terbuang berarti memberi Coronzon waktu untuk melakukan pemulihan. Kamijou bahkan tidak punya waktu untuk memeriksa apakah semua orang baik-baik saja.
Dion Fortune tidak tergoyahkan.
Nyatanya…
“Kita harus puas dengan orang-orang yang kita miliki. Secermat apa pun rencana kita di atas kertas, pertempuran selalu bergantung pada apa yang bisa kita lakukan dengan kartu-kartu yang diberikan realitas!”
“Tapi, jika terlalu terbiasa dengan improvisasi, berarti kita kehilangan kendali sepenuhnya.”
“Sejak kapan kau jadi tipe yang suka berencana dengan cermat?”
…
Kalau dipikir-pikir, memang benar semua yang telah dilaluinya hingga kini adalah improvisasi!!
Mereka memang telah terpisah, tapi mereka semua akan menuju ke tempat yang sama dari tempat pendaratan yang berbeda, jadi dia hanya bisa percaya mereka akan bertemu di tempat Coronzon berada.
Dia memang cukup jauh dari lokasi bekas Gedung Tanpa Jendela, tapi jalannya tinggal lurus di jalan utama. Waktu tak terbuang sia-sia. Jika dia mengkhawatirkan Hamazura dan Takitsubo, dia harus bergegas ke sana secepat mungkin.
Sambil berlari, Dion Fortune tetap berada di sisi kiri Kamijou.
Dia menjaga jarak dari Imagine Breaker.
Meski dia tampak seperti gadis muda, bagian dirinya ini mungkin berasal dari sifatnya sebagai dek tarot dan grimoire asli.
Tapi mereka akhirnya berhenti tidak lama kemudian.
Karena ada sesuatu yang menghalangi jalan mereka.
Makhluk seperti kepiting dua meter dan ular yang terbuat dari rambut pirang.
…Tapi tidak hanya itu.
Gwooooo!!!
Tiba-tiba angin bertiup kencang.
Salju merah di tanah terlempar ke udara dan Kamijou merasa seperti dihantam lautan darah. Jika Dion Fortune tidak segera meraih lengan kirinya dan menariknya, serangan mendadak itu mungkin akan membelahnya. Tepat di tengah.
Sesuatu menggesek tanah. Meninggalkan bekas luka yang aneh, tajam, dan menyeramkan. Kamijou sekilas melihatnya sebagai tanah yang berdarah. Dan ketika salju merah mengarahkan pandangannya ke bekas luka itu... dia melihat seseorang.
Mengenakan pakaian berkabung hitam.
Dengan pisau palet di tangan kanannya.
Dengan simbol-simbol kucing di sekujur tubuhnya.
Dan menunggangi sesosok binatang buas... apa itu bisa disebut kucing? Bayangan binatang yang sangat besar dan lentur itu terbuat dari cat hitam dan tingginya dua atau tiga meter.
“Ini… bohong, kan?” erang Kamijou.
Menyebut ini reuni tidaklah tepat. Kemungkinan besar, orang yang datang itu berbeda dengan wanita yang dikenalnya.
Tapi kalau dipikir-pikir…
Sebelumnya, di Inggris, Iblis Agung Coronzon telah mengambil tindakan untuk menghentikan Kamijou, Aleister, dan yang lainnya. Dia telah melepaskan beberapa pion berdasarkan anggota Golden Cabal. Dion Fortune yang ada di sini sekarang adalah satu-satunya yang selamat.
Termasuk nama-nama besar seperti Westcott dan Mathers… tapi kalau dipikir-pikir, ada satu penyihir Golden yang belum pernah digunakan Coronzon.
Dion Fortune memberikan jawabannya.
Dia mengucapkan nama kartu truf yang disimpan Coronzon hingga akhir.
“Moina Mathers…”
Nama itu kedengarannya agak berbeda dari nama yang Kamijou kenal.
Tapi kemungkinan besar merujuk pada orang yang sama.
Dia adalah istri yang telah mendukung Mathers, salah satu dari tiga pendiri Golden Cabal. Dia adalah seorang insinyur yang telah menggunakan bakat seninya untuk merancang versi-versi realistis dari berbagai spiritual item yang diciptakan oleh Golden Cabal. Dia adalah penyihir kucing hitam.
Dia mirip Mina, tapi Moina ciptaan Coronzon sangat berbeda. Mata di balik kerudung itu hitam pekat. Ada bayangan lengket yang mengintai di dalamnya, begitu gelapnya hingga seolah-olah akan menyerap segalanya.
Dan Kamijou dilanda rasa takut terhadap hal yang tidak diketahui.
Kalau dipikir-pikir lagi, Mina Mathers selalu berjuang bersamanya.
Dengan kata lain, mereka tidak pernah bertarung satu sama lain sampai salah satu dari mereka tumbang.
(Jangan bercanda…)
Dari semua penyihir Golden, penyihir kucing hitam adalah satu-satunya yang kekuatannya sebagai musuh tidak dapat dia nilai…
(Kita harus menghentikan Coronzon dan Adikalika. Kita tidak punya waktu untuk pertempuran berisiko ini yang mungkin tidak akan bisa kita menangkan!)
Kamijou menelan ludah.
Pada saat yang sama, gadis di sebelahnya melangkah maju.
“Biar aku yang urus.”
“Fortune?”
“Sejujurnya, ini kesempatan bagus. Kupikir sudah saatnya menaklukkan traumaku yang berhubungan dengannya. Serius, dia mengelilingi rumahku dengan kucing-kucing hitam yang terus mengeong, mengeong, mengeong, mengeong sepanjang malam, membuat masalah di lingkungan sekitar. Dia menggunakan teknik astral untuk menusuk punggung gadisku yang rapuh. Dan masih banyak lagi hutang yang harus dia bayar padakuuuuu…”
Dion Fortune tiba-tiba meledak.
Ada banyak kebencian pribadi yang tercampur di dalamnya, tapi Dion Fortune tampaknya tidak mau menyerah.
Jika Fortune dan Moina berselisih di sini, maka Kamijou harus bergerak. Dia tidak bisa berlama-lama dan menyia-nyiakan tekad Fortune untuk memberinya waktu, meskipun itu berarti mengorbankan nyawanya sendiri.
“Terima kasih!!” teriaknya.
Sekilas dia melihat senyuman kecil ketika Fortune menoleh sebentar untuk melihatnya.
Fortune selalu mengatakan bahwa jabatannya hanya sementara dan hanya mengisi kekosongan.
Tapi…
“Menurutku, dia melakukan tugasnya dengan baik sebagai uskup agung.”
Kamijou hanya berlari.
Pertama kumpulan monster rambut pirang, lalu Moina Mathers... Benarkah hanya itu? Berapa banyak kartu truf yang disembunyikan Coronzon?
Di Gedung Tanpa Jendela — atau lebih tepatnya, sisa-sisanya —seberkas cahaya pucat muncul dari tengah lapangan persegi yang luas.
Pada titik ini, dia pasti tidak merasa perlu bersembunyi.
Iblis Agung Coronzon memegang sebelah tangan di pinggulnya, mendongak ke atas, dan mendesah.
Itulah mantra serangan berskala besar Adikalika.
Bagi Iblis Agung seperti dirinya yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk mantranya, mantra itu jelas membutuhkan banyak kehati-hatian dalam pemasangannya. Tentu saja, mungkin itulah sebabnya sekarang dia merasa begitu terikat padanya.
“Tinggal sekitar satu jam lagi.”
Bahkan komentarnya yang berbisik itu pun terputus-putus oleh ledakan di dekatnya.
Apakah itu serangan rudal Academy City?
Tak satu pun rudal yang bisa langsung mengenainya. Dia bahkan tak perlu mengangkat telapak tangannya agar rudal-rudal itu meledak dan berhamburan di udara.
“Dasar orang-orang bodoh.”
Jika mereka punya begitu banyak persenjataan yang tersisa, seharusnya mereka mengabaikan ini dan mengebom berbagai bagian kota tanpa pandang bulu. Seharusnya mereka sendiri yang menghancurkan kota itu. Dengan begitu, mereka bisa mencegah kehancuran dunia dengan mengorbankan satu kota.
Yah, setidaknya untuk kali ini.
Coronzon tidak akan menyerah jika percobaan pertamanya gagal. Dia adalah Iblis Agung Coronzon dan dia tidak pernah mengatakan kalau dia hanya memiliki satu kartu truf penghancur.
Pusat ancaman bukanlah Adikalika.
Tapi Iblis Agung Coronzon sendiri.
Tentu saja, Academy City tidak benar-benar menempatkan nasib mereka dan nasib dunia di tangan serangan jarak jauh ini.
Coronzon tahu betapa licik dan serakahnya manusia.
Dia menggerakkan kakinya untuk menggambar garis-garis persegi panjang di atas tumpukan salju merah. Kemudian, dia menambahkan sebuah berlian dan beberapa garis untuk membaginya menjadi beberapa bagian, di mana dia menggambar simbol-simbol yang diperlukan.
Itu adalah horoskop.
Sekilas melihat ke tanah sudah cukup untuk membacanya.
Mendeteksi beberapa orang yang sedang menuju kemari.
Eksplorasi dalah keahliannya. Bagaimanapun, dia adalah makhluk supranatural yang mengelola pengetahuan di luar jangkauan manusia. Termasuk mencegah orang-orang untuk mencapai atau memperoleh pengetahuan tersebut.
Dia tak bisa menghitung berapa banyak orang yang telah dia telan setelah mereka dengan bodohnya berasumsi bahwa memanggil dan menjinakkannya adalah tiket menuju pengetahuan tanpa batas. Sungguh menggelikan bahwa orang-orang itu disebut berbakat atau bijaksana padahal mereka bahkan tidak tahu bahwa menghubungi sesuatu yang pada dasarnya memiliki tanda peringatan bertuliskan "bahaya" dalam teks besar adalah ide yang buruk.
(Beberapa grimoire menuliskan bahwa diriku sangat penting, tapi intinya tak jauh berbeda dengan Kokkuri-san di negari ini. Yah, setidaknya sedikit lebih baik daripada disamakan dengan nekromansi di mana orang meminta zombi busuk untuk mengungkapkan masa depan kepada mereka.)
“Tapi…”
Apakah mereka benar-benar mengira ledakan dahsyat — yaitu cahaya dan suara fisik — dapat mengganggunya?
Sungguh menakutkan betapa bodohnya mereka tentang sihir. Atau mungkin semakin berpura-pura mengerti, semakin merugi pula mereka. Dia merasa seperti sedang menyaksikan para bandit bersembunyi di hutan gelap dan merayakan kemenangan mereka, tanpa menyadari keberadaan perangkat penglihatan malam.
Tak ada alasan untuk menunggu mereka tiba. Dia bisa meledakkan mereka dari tempat dia berdiri. Dan yang perlu dia lakukan hanyalah mengangkat telapak tangannya ke arah mereka.
Jadi sudah waktunya untuk menaati aturan dispersinya.
Siapa yang harus dia bunuh terlebih dahulu?
“Hehe.”
Dia sangat terhibur karena Dion Fortune ciptaannya telah mengambil alih posisi lamanya sebagai Uskup Agung Anglikan. Akan mudah untuk menghancurkan Dion Fortune bersama Moina Mathers yang dia kirim… tapi itu prioritas rendah. Archetype Processor yang dapat memecah dan mengubah sihir apa pun merupakan ancaman yang lebih besar daripada Fortune sendiri, tapi itu masih belum cukup untuk mengangkatnya keluar dari kategori prioritas rendah.
Bagaimanapun juga, Fortune adalah mainan buatan Coronzon.
Ciptaan bisa memberontak terhadap penciptanya, tapi tidak akan pernah menang.
Bologna Succubus dan Blodeuwedd the Bouquet juga bukan prioritas utama. Coronzon telah menghancurkan Crowley secara langsung, jadi para Transenden tidak berarti apa-apa baginya. Lagipula, Alice Anotherbible adalah kesuksesan yang tidak disengaja oleh salah satu murid Aleister, dan para Transenden lainnya adalah hasil buruk dari produksi massal salinan Alice yang kualitasnya lebih rendah.
(Daripada itu…)
“Yah, kalau mau cara standar, maka kita harus mulai dengan menghancurkan Imagine Breaker. Benar, kan, Aleister?”
Itu adalah pilihan terbaik jika dia ingin mengalahkan mereka semaksimal mungkin.
Sebagai iblis, itu adalah pilihan yang paling tepat.
Coronzon menyeringai dan, karena suatu alasan, mengusap tangannya di bawah pusar sebelum mengarahkan telapak tangannya lurus ke depan.
Kamijou Touma belum cukup dekat untuk terlihat, tapi itu hanya hal sepele. Itu tidak akan menghentikan Coronzon untuk mengincar dan membunuhnya.
Jika Coronzon mau melakukan itu, mungkin dia juga akan menunjukkan Percikan dahsyat pada Kamijou.
Dia akan mengakhiri hidupnya dengan mainan mengerikan yang telah merenggut keluarga Aleister Crowley darinya dan bahkan memicu Pertempuran Blythe Road.
Kamijou Touma.
Dia tidak tahu kalau sebuah ruang akan meledak.
Karena tidak ada cara untuk merasakannya, dia tidak dapat mengangkat tangan kanannya untuk menepisnya.
Dan saat hal itu menimpanya, dia ditakdirkan untuk mati.
Ketidakmampuan untuk lepas dari takdir itu telah dibuktikan dengan kematian dan kehancuran keluarga Aleister.
“Bagaimana rasanya?”
Itu tidak sopan.
Coronzon tahu itu, tapi dia tidak dapat menahan senyum yang mengembang di wajahnya.
“Sakit, bukan, Aleister? Ya, memang sakit terjebak dalam tubuhmu sendiri dan dipaksa menyaksikan akhir yang tak kau inginkan. Ya, benar. Aku sendiri pernah mengalaminya. Selama kau menyegelku, rasanya seperti siksaan tanpa akhir saat aku menyaksikan adegan-adegan yang mengerikan! Sekarang giliranmu, penyihir!! Sudah saatnya kau merasakan, bahkan sebagian kecil, penderitaan yang kurasakan saat tubuhku digunakan melawan kehendakku!!!”
Ini baru satu langkah dari proses tersebut.
Dengan setiap langkah baru, Coronzon akan mengambil nyawa yang lain. Dan dia bisa mengelilingi dunia sambil berjalan. Itulah balasannya karena telah meremehkan Iblis Agung dan memanfaatkannya tubuhnya walau hanya sementara. Lihatlah kembali jalan berdarah yang kau lalui dan putus asalah, Aleister.
Tapi kemudian…
“…Tidak.”
Coronzon mendengar sebuah suara.
Itu adalah suara seorang gadis yang sedikit membuat jengkel Iblis Agung Coronzon yang sendirian mempersiapkan akhir dunia.
Dia datang sedikit lebih cepat.
Pertama, bunyinya seperti kain besar yang dipukulkan ke udara.
Itu suara kepakan sayap.
Gadis itu terbang tepat di depan sang Iblis Agung dan kemudian turun.
Dan dengan kakinya yang telah menapak tanah, Iblis Buatan Qliphah Puzzle 545 mengangkat suaranya.
“Aku tidak akan membiarkanmu. Aku tidak akan pernah membiarkanmu melakukan itu!!”
Dan…
“Qliphah Puzzle 545?”
Awalnya, Coronzon benar-benar lupa siapa dia.
Atau begitulah yang terlihat dari ekspresi Iblis Agung Coronzon.
Hasilnya sudah jelas bahkan sebelum mereka bertarung. Tidak seperti manusia, malaikat dan iblis bukanlah makhluk fisik. Artinya, Coronzon bisa langsung merasakan energi Telesma yang membentuk mereka. Hal itu merupakan kerugian besar bagi Qliphah Puzzle 545. Sejujurnya, sungguh menakjubkan dia berhasil sampai sejauh ini tanpa dibunuh oleh para pengintai yang diciptakan Coronzon dengan memotong rambutnya sendiri.
“Ah... ya, aku ingat sekarang. Kau adalah iblis tiruan yang kuciptakan. Dan ciptaan yang menentang penciptanya itu tidaklah lucu. Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh pion kecil sekali pakai?”
“Leviathan.”
Qliphah Puzzle 545 mengucapkan satu kata.
Hanya satu kata kecil.
Tapi begitu Qliphah Puzzle 545 melafalkan mantra itu, Iblis Agung Coronzon terdiam.
begini bisa, kan?”
“Si… sialan kau. Itu…”
“Pukulan fatal buatmu, bukan?”
Qliphah Puzzle 545 juga seorang iblis.
Jadi ketika dia tersenyum, senyumnya terbelah lebar di wajahnya.
“Iblis Agung Coronzon. Kaulah yang bersembunyi di Jurang yang tersembunyi di dalam pohon Sephiroth yang agung dan memonopoli kebijaksanaan yang ada di sana. Kaulah satu-satunya makhluk jahat yang, sebagai iblis, berhasil tetap bersembunyi di alam suci yang dijaga oleh para malaikat. Dan pada akhirnya, kau tak lebih dari sihir Crowley yang diterapkan pada teknik terlarang untuk diam-diam melahap dan mendapatkan buah serta getah pohon tersebut meskipun kau adalah penjaganya.”
“Tidakkah kau mengerti bahwa kekuatan itu terlalu besar untukmu? Jika tiruan buatan sepertimu mencapai titik itu, maka yang kau lakukan hanya akan menghancurkan dirimu sendiri.”
“Iblis yang terjerat di sekitar Sephiroth yang membuatmu istimewa, melahapnya, menginfeksinya, dan menghabiskan fungsinya akan menjadi musuh alamimu. ...Musuh yang seperti itu ada, bukan? Iblis yang muncul dari Qliphoth, pohon terbalik yang mengumpulkan semua ketidakadilan dan kejahatan dunia, menghancurkan segel ketika Adam dan Eve diusir, dan akhirnya berhasil menggigit Sephiroth! Iblis yang begitu kuat hingga dia direduksi menjadi wujud yang tidak sempurna di dunia saat ini!!”
Ruang pun meledak.
Percikan warna jingga mulai terlihat.
Apakah benturan kehendak antara kedua iblis itu mengandung kekuatan yang cukup untuk merusak fase tersebut?
“Eksistensi yang menciptakan suasana perang, mengganggu ketertiban, dan memicu konflik antarmanusia. Aku mungkin tiruan, rekayasa, dan palsu, tapi pada dasarnya... aku tetaplah iblis yang melahap pohon yang mana adalah dunia ini.”
“…”
Coronzon melirik ujung jarinya.
Dia bahkan tidak tergores.
Tidak ada masalah.
…Tapi kenapa dia gemetar?
“Aneh sekali. Strukturmu jelas bukan manusia, tapi juga bukan iblis biasa?”
“Lihat saja namaku: Qliphah Puzzle 545. Aku juga iblis yang bersembunyi di pohon agung itu. Meskipun bagiku, pohon terbalik itulah yang mengumpulkan semua simbol najis. Jadi, aku sudah memiliki sifat dan nilai yang sama dengan ular berkepala banyak itu. Aku memiliki segalanya!”
“Tersembunyi di salah satu pohon agung yang berperan sebagai diagram dunia, sesosok makhluk gaib, perampas ilmu pengetahuan, dan iblis... Kenapa? Kenapa kau begitu mirip denganku?!”
“Entahlah, mungkin karena kaulah yang menciptakanku?”
Qliphah Puzzle 545 mencoba tersenyum jahat, tapi mungkin gagal.
Ini bukan tentang menantang atau melampaui.
Ini ibarat seorang anak yang membunuh orang tuanya.
Itu adalah dosa yang paling rendah dan jahat, tapi mungkin itulah yang membuatnya sangat cocok bagi iblis.
Jadi dia berbicara.
“Bayangkan. Panggillah Beast of Revelation dalam diri, monster yang menggerogoti pohon agung. Binatang buas, ular, naga, dan iblis adalah sama, jadi tidak ada batas antara kita.”
Setiap kali kata diucapkan, iblis berwujud gadis itu dapat merasakannya.
Ada sesuatu yang menegang di dalam dirinya dan berdenyut dengan cara yang mengganggu.
Coronzon membentangkan sayapnya lebar-lebar dan menjalin rambut-rambut pirang panjang yang tak terhitung jumlahnya seperti jaring laba-laba, membentuk lingkaran sihir yang rumit… lalu berhenti. Dia terlalu terburu-buru sehingga mantra yang dia bentuk terlalu kuat. Ini akan menyebabkan Adikalika lepas kendali dan lenyap.
(Sial, aku membuang-buang 1,5 detik untuk ini!!)
Jadi sambil menahan diri dengan sayap yang terbentang, Coronzon berbisik kepada lawannya.
Dan seperti iblis, bisikan ini dimaksudkan untuk menuntun lawannya ke arah yang salah.
“Kau sadar kan bahwa keberadaanmu kini sedang terurai.”
Qliphah Puzzle 545 diciptakan oleh Coronzon untuk menyelimuti Inggris Raya dalam suasana perang dan mendorongnya menuju kehancuran. Karena dia dimaksudkan sebagai sesuatu yang sementara, tidak banyak perhatian yang diberikan pada struktur wujud gadisnya.
“Kau mungkin bisa mengaktifkan mantranya, tapi kau takkan pernah bisa menahan dampak baliknya. Wujudmu akan hancur total. Dan bukan sekedar wujudmu. Kau akan kehilangan ingatan, kepribadian bahkan segalanya darimu. Jadi apa kau masih akan terus melakukannya?!”
Dengan memfokuskan pada fungsi utamanya, Qliphah Puzzle 545 akan lenyap tanpa jejak.
Yang tersisa hanyalah, yah, wujud terpelintir yang pantas menyandang gelar iblis. Lebih dari sekadar penampilan luarnya, dia akan kehilangan segalanya hingga ke lubuk jiwanya dan menjadi tak lebih dari monster mengerikan.
“7, 10, 8, 11, dan 666. Ekstrak angka-angka yang diperlukan dari dalam diri sambil mengembangkannya ke bentuk terbesarnya.”
Tapi Qliphah Puzzle 545 tidak peduli.
Dia tidak mendengarkan.
Iblis yang bodoh, lemah, dan kotor itu berniat memperluas pengetahuannya yang tidak lengkap setelah melakukan penyalinan yang tidak lengkap.
Karena dia telah melihatnya.
Di dalam sel penjara itu, anak lelaki itu berjuang sendirian untuk menebus dosanya dan masih berhasil menemukan harapan di dunia luar, tapi Qliphah Puzzle 545 telah melihat wajahnya ketika dia menyadari dunia sedang dihancurkan. Qliphah Puzzle 545 telah melihat ekspresinya, yang mungkin tak ingin dilihat siapa pun, ketika dia mendapati bahwa anak lelaki yang dia anggap sebagai rekan seperjuangannya telah mati.
Itu sebabnya Qliphah Puzzle 545 perlu melakukan ini.
Orang-orang yang datang ke sini adalah bagian penting dari pemandangan yang ingin dia lindungi.
Dia tak akan membiarkan semuanya berakhir di sini. Dia tak akan membiarkan mereka dibantai dari jauh.
…Tidak peduli cara apa pun itu.
“Di sini, aku merefleksikan angka yang sama dengan makna yang berbeda. Dengan membiarkannya menyelimutiku, aku bisa mendapatkan jati diri yang berbeda.”
Dia akan melindungi dunia impian yang coba diciptakan oleh anak lelaki itu.
Maka Iblis Buatan Qliphah Puzzle 545 pun meraung sekuat tenaganya.
Menyingkirkan hawa dingin yang dirasakannya saat dia mulai terurai.
(Selamat tinggal, master.)
“Ubahlah tubuh dan jiwaku, Leviathan!!!”
Sesaat sebelum itu…
“Hamazura.”
“Aku... tahu!!! Jangan bercanda?! Jangan putus asa sebelum kau mencoba!”
Mereka berbaring di atasnya.
Dua sosok melompat dari belakang dan menjatuhkan Qliphah Puzzle 545 ke tanah. Meskipun hanya sementara, dia memiliki tubuh, dan itu berarti menghalangi napas dan tindakannya akan membatalkan mantranya.
Itu terjadi pada detik-detik terakhir dan dari pihaknya sendiri.
Iblis Agung Coronzon juga mengenali pasangan itu.
Hamazura Shiage dan Takitsubo Rikou.
Dua orang yang, karena alasan tertentu, tidak masuk dalam daftar target Coronzon kini telah tiba.
Terjepit di atas salju merah, Qliphah Puzzle 545 berbicara dengan lemah.
“Kenapa… kau menghentikanku?”
Suaranya bergetar saat bertanya. Wajahnya penuh air mata dan ingus.
Bisa dipahami.
Dia akan kehilangan baik wajah maupun tubuhnya.
Kepribadian dan ingatannya juga akan hancur.
Dia akan mengubah dirinya menjadi monster untuk melawan Coronzon.
Tentu saja itu akan membuat gadis biasa takut.
“Dasar bodoh!! Kalau kau tidak mau dia menderita melihat wajah yang dikenalnya mati sementara dia terpaksa menonton tanpa bisa apa-apa dari balik selnya, kenapa kau mau bunuh diri dan memaksanya seperti itu?! Sejujurnya, aku tidak terlalu suka dengan ketua dewan sebelumnya, bahkan setelah semua yang dikatakan orang tentangnya. Tapi yang baru ini berbeda, kan? Dia mungkin akan melakukan sesuatu untuk memperbaiki kota ini. Tapi yang kau lakukan ini hanya akan membuat ketua dewan berikutnya juga menyimpang keluar jalur!!”
“Kau melihatnya dari jarak yang paling dekat dibandingkan siapa pun.”
Takitsubo Rikou melanjutkan dengan suara datarnya.
Tapi bukan berarti tidak ada emosi di baliknya.
“Bukankah itu berarti dia juga begitu? Ketua dewan yang baru mengirimmu ke konsulat saat dunia mungkin kiamat hari ini. Dia meletakkan semua tanggung jawab itu di pundakmu dan membiarkanmu menanganinya. Meskipun aku yakin setidaknya ada satu hal yang ingin dia lindungi dengan tangannya sendiri.”
Qliphah Puzzle 545 tak mengangkat kepalanya dari tanah yang tertutup salju merah. dia meringkuk, menggumpal, dan gemetar.
Isak tangis pun mengalir darinya.
Mungkin dia tidak ingin mereka berdua melihatnya menangis.
Saat itu, ada sesuatu di dalam diri Hamazura Shiage yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
(Dunia ini benar-benar bisa menjadi neraka. Mengapa dia harus malu akan hal itu?)
Qliphah Puzzle 545 adalah iblis. Dia adalah makhluk ciptaan. Dia berasal dari Coronzon.
Tak satu pun dari hal itu dapat berubah.
Tapi yang ingin dilakukannya hanyalah berjalan di samping orang yang dikenalnya di dunia yang biasa ini.
Tapi dia telah terdorong sampai sejauh ini.
Dia telah melakukan semua ini.
Hamazura perlahan berbalik. Menghadap Coronzon.
“Hei, Coronzon.”
“Ada apa, Hamazura? Kalau kau mau minta pekerjaan yang bisa kau kerjakan, tunggu sekitar satu jam, lalu hubungi aku lagi.”
Satu jam.
Apakah itu berarti dunia akan kiamat sekitar pukul 11 malam?
Dion Fortune mengatakan kalau perkiraannya terlalu optimis. Tapi, perkiraan ini lebih awal dari perkiraan tengah malam.
“Tentunya kau tidak berpikir bisa mengalahkanku hanya karena kau tahu sedikit tentangku. Mathers pikir dia bisa mengendalikanku dan Aleister telah menelitiku sepuluh ribu kali lebih banyak daripada kau. Tapi mereka berdua kalah, semua orang selalu kalah!! Bahkan Golden Cabal yang hebat pun tumbang! Dan pewarisnya di Academy City juga menjadi mainanku. Jadi, mau berharap apa dari seorang yang bahkan tidak bisa mencapai apa pun di dalam kota ini—!!!"
“Kau sudah kelewatan.”
Suara gemeretak memenuhi udara.
Mungkin karena gemeretak gigi.
Iblis Agung Coronzon terdiam.
Setelah tiga detik penuh, dia kembali berbicara.
“Lalu apa yang akan kau lakukan padaku?”
“Tergantung pada jawabanmu.”
“Apa kau pikir kau pantas mengujiku, dasar bodoh?!!”
Dan.
Kamijou Touma juga telah tiba.
Di bekas lokasi Gedung Tanpa Jendela di Distrik 7.
Di pusat dunia yang berbentuk persegi itu.
“Hai,” kata Coronzon.
Waktu sudah pukul 22.30. Sedikit lagi, tapi dia tiba tepat waktu.
“Kenapa lama sekali? Aku bosan. Menyiapkan Adikalika itu sangat merepotkan. Aku ingin segera mengaktifkannya, tapi Iblis Agung ini malah harus menunggu.”
Dua orang tergeletak tak berdaya di kakinya. Apakah itu Hamazura Shiage dan Takitsubo Rikou? Persis seperti yang ditakutinya. Mereka tidak yakin pasukan gabungan mereka bisa mengalahkan Iblis Agung Coronzon, jadi terlalu berbahaya bagi salah satu dari mereka untuk maju lebih dulu.
Apa yang terjadi disini?
“Kau seharusnya berterima kasih pada mereka, Kamijou Touma. Kau bisa sampai sini bukan karena usahamu sendiri.”
…Apakah itu salju merah?
Dia harap begitu.
Tolong seseorang katakan kalau itu bukan darah manusia.
Ya.
Dan kalau dipikir-pikir…
“Apa yang terjadi pada Nephthys dan Niang-Niang?”
“Menurutmu apa yang terjadi?”
Kamijou tidak punya jawaban untuk itu.
Terhibur, Coronzon bertanya lagi padanya.
“Katakan padaku, Kamijou Touma. Tentunya kau tidak benar-benar berpikir mereka berdua akan mengalahkanku dan membawa perdamaian ke dunia, kan? Jika kau berpikir begitu, kau tidak akan menghabiskan waktumu setelahnya untuk merencanakan dan mempersiapkan diri menghadapiku. Ha ha! Jadi kau pasti sudah tahu saat kau kabur!! Kau tahu mereka berdua akan kalah dan kau tetap memilih untuk menyelamatkan diri!! Jadi, apa aku satu-satunya penjahat di sini?! Ha ha ha ha ha! Memang, akulah yang memberikan pukulan terakhir, tapi kaulah yang mendorong mereka!!”
Ya.
Itu benar.
Kamijou masih tidak tahu apa yang terjadi pada kedua Dewa Sihir itu, tapi…
Dia takut mati. Dia telah terbiasa merasakan emosi itu, tapi kini dia bertahan hidup dengan memaksakan hal yang ditakutinya kepada orang lain. Fakta itu tak bisa disangkal.
“Jadi, apa kau begitu bertekad untuk bertahan hidup karena kau ingin duduk di barisan depan untuk menyaksikan aktivasi Adikalika? Sekalipun kau bertahan hidup dengan menodai jiwamu sendiri, seluruh dunia akan segera hancur.”
Dia telah membuat Alice menangis dan membunuhnya.
Dia telah pergi ke neraka dan menerima tiket kebangkitan yang seharusnya dapat digunakan oleh Kingsford atau CRC.
Dewa Sihir Nephthys dan Niang-Niang telah menyuruhnya melarikan diri.
Apa yang Kamijou harapkan setelah semua itu?
Dia punya banyak kesempatan untuk menolak dan berhenti.
Jadi apa yang selama ini membuatnya tidak ingin menyerah untuk hidup?
“Yah, membuat Aleister putus asa dan melepaskanku benar-benar puncak dari kebodohanmu. Jadi mungkin kau memang pantas mendapatkan hadiah. Tapi sekali ini saja. Aku akan memberikan apa yang kau mau. Aku akan membelah tubuhmu, mencengkeram kepalamu, dan menahannya, jadi kau bisa menyaksikan kiamat tanpa harus mati!!”
“Sudah cukup, Coronzon.”
Kamijou telah diselamatkan oleh orang lain selama ini.
Dia ingin mengakhiri rantai itu di sini. Dia ingin berdiri di atas kakinya sendiri.
Dia ingin meminta maaf kepada semua orang yang telah direpotkan karena kematiannya dan dia ingin kembali menjalani kehidupan normalnya.
Apakah itu salah?
Panggilah Namanya
Shout_the_Summon.
Tidak banyak waktu tersisa hingga aktivasi Adikalika.
Alice Anotherbible tidak ada di sana. Anna Sprengel juga tidak. Bologna Succubus dan Blodeuwedd the Bouquet tampaknya sedang mengalihkan perhatian, sementara Dion Fortune sedang melawan Moina Mathers yang dibebaskan oleh Coronzon.
Kamijou Touma tidak punya pilihan lain.
Dia harus bertarung.
Dia tidak hanya mengamati coronzon pada satu titik. Dia mengamati semuanya secara keseluruhan.
Itulah satu-satunya pilihan yang dia punya.
Karena Coronzon tidak akan menyerangnya sambil mengayunkan pisau. Bisa bibirnya, lengannya, atau sayapnya yang terbentang. Semua itu bisa membentuk mantra, gestur, lingkaran sihir yang menandakan serangan. Dia tidak bisa mengabaikan segalanya.
Coronzon menyeringai tipis.
Pada Kamijou dan keputusan bodohnya untuk tidak melepaskan diri dari cangkang yang dikenal sebagai akal sehat.
“Biarku peringatkan kau.”
“Apa?!”
“Melawan atau tidak, itu terserah pada kehendak bebas manusiawimu yang berlebih… tapi akan jauh lebih enteng buatmu jika kau langsung mati pada serangan pertama.”
Sebuah pusaran emas terbentuk.
Itu terbuat dari…
“Rambut?!”
Itu tombak raksasa atau ekor kalajengking?
Serangan yang merusak datang dari arah yang tak terduga, tapi Kamijou entah bagaimana berhasil menepisnya dengan tangan kanannya, meniadakannya.
Begitu meletus seperti balon, dia mengambil bentuk yang sama sekali berbeda.
Bentuknya berupa seekor kepiting raksasa, lalu seekor lalat yang gemuk dan meliuk, lalu seekor ular yang melata di tanah sebelum menerkamnya.
“Imagine Breaker. Kurasa aku harus mengakui kekuatannya sebagai titik acuan yang tak tergoyahkan bagi dunia dan kemampuannya untuk meniadakan kekuatan segala supranatural.”
Coronzon memeluk dirinya sendiri, mengembangkan sayapnya, dan terkekeh.
“Tangan kananmu memang bisa meniadakan sihir. Tapi hanya satu mantra per serangan. Kau tidak lupa aku juga bisa melancarkan mantra kedua, kan?”
Gawat.
Penyangkalan tidaklah cukup untuk musuh yang satu ini!
Jika meniadakan satu mantra akan menimbulkan banyak ancaman baru, maka Kamijou dalam masalah besar. Kamijou menggertakkan gigi dan mengalihkan fokus ke arah musuhnya.
Pwam!!
Tapi tepat pada saat itu, dia mendengar udara meledak.
Fase-fase bergesekan, berbenturan, dan bertabrakan dengan kekuatan besar, sehingga menimbulkan distorsi yang mematikan.
Percikan mulai terlihat.
Coronzon berbisik dengan nada menyihir.
“Mandibula.”
“?!”
Rahang menyerbu membentuk lingkaran dan menjadikan Kamijou sebagai pusatnya.
Dalam kasus ini, bahkan menuruti nalurinya sebagai makhluk hidup dan meringkuk ketakutan pun sia-sia. Jika Kamijou melakukannya, rahang itu akan mengatup rapat dan dia tak punya tempat untuk melarikan diri. Maka, dia melompat keras ke kanan, mendekati salah satu percikan, dan menghancurkannya dengan tinjunya. Sebelum cincin itu benar-benar menjepitnya, dia berguling di atas salju merah untuk menjauhkan diri dari titik pusat.
Itu tidak berakhir di sana.
Kamijou mempertaruhkan nyawanya dalam setiap gerakan, tapi itu semua hanyalah permainan konyol bagi Coronzon.
Coronzon berbisik.
“Aku iblis, tapi bukan dari Qliphoth tempat berkumpulnya kekuatan jahat. Aku iblis agung yang disembunyikan oleh Sephiroth suci. Aku bersemayam di jurang yang sama dengan Da’at.”
Coronzon mengulurkan tangan kirinya lurus-lurus dan menarik tangan kanannya ke arah dirinya sendiri.
Posenya mirip seperti mengangkat sebuah rapier.
“Setiap angka adalah sama. Tangan kananku mengandung Nuit Kebangkitan. Saksikan bagaimana kemungkinan meluas dan melampaui batas-batas yang terbatas. Tangan kiriku mengandung Hadit Pembalasan. Titik terkecil mengumpulkan dan memusatkan semua kekuatan untuk menciptakan satu makna. Dengan begitu, sebuah serangan akan dilepaskan dari percepatan tak terbatas Lingkaran Ra-Hoor-Khuit dan akan muncul di lapisan permukaan dunia ini.”
Rasa dingin menjalar di tulang punggung Kamijou Touma.
Ini buruk.
Kamijou telah menjadi sasaran mantra ini saat pertama kali berhadapan dengan Coronzon. Kekuatannya sungguh luar biasa dahsyat. Saat itu, dia mencoba menghentikannya dengan tangan kanannya, tapi gagal, dan dia pun terkoyak, tulang dan organnya hancur.
“Yah, Aku sudah menunjukkan yang ini saat terakhir kali kita bertempur.” Coronzon menyeringai. “Tapi tetap saja, menggabungkannya menjadi kombo seharusnya bisa memancingmu ke posisi yang mudah untuk diserang.”
Begitu Kamijou dengan panik mencoba melompat dari posisinya, seekor kalajengking dan laba-laba emas menyerbu dari samping.
Mereka hanya dimaksudkan untuk menahan Kamijou, tapi hantaman dari ekor berbisa atau kaki tajamnya tetap dapat membunuhnya.
Sekarang Kamijou tidak bisa melarikan diri.
“Celaka….”
Dia seharusnya fokus pada alur serangan dan tidak melihatnya secara terpisah.
Dan setelah dia mengatakan pada dirinya sendiri di awal untuk mengamati semuanya secara keseluruhan.
(Sial, sekarang aku tidak bisa menghindarinya!!)
Tapi jika dia mencoba menghentikannya dengan tangan kanannya, dia mungkin tidak akan mampu sepenuhnya meniadakan semburan kekuatan tersebut dan tubuhnya malah akan tercabik-cabik.
Petir putih jatuh dari langit.
Coronzon bahkan tidak melihat ke atas.
“Benarkah, apa ada aturan yang menyatakan bahwa setiap orang yang menduduki kursi ketua dewan itu harus bodoh? Aleister dengan mudah menangkisnya, dan kau berharap itu akan mempan padaku, nomor 1?
“Juga,” lanjut Iblis Agung itu. “Jika kau bisa menyerangku dari sana, maka aku bisa menyerangmu dari sini.”
Duar!!!
Di sel paling rapat di penjara terpencil, monitor LCD raksasa di dinding pecah berkeping-keping. Pecahan kaca beterbangan berhamburan dan mencabik-cabik tubuh Ketua Dewan Accelerator.
“Gh…”
(Refleksiku… tidak mempan? Serangannya berhasil menembus penghalang kendali vektorku?)
“Sialan. Jadi ini kekuatan... dari sisi itu…”
Hanya suara statis yang keluar dari earphone nirkabel Kamijou, tapi suara itu pun pada akhirnya menghilang.
Kamijou tertegun saat menggunakan tangan kanannya untuk meniadakan kalajengking dan laba-laba yang terbuat dari rambut pirang.
Tidak ada respon.
Ketua dewan telah disingkirkan dengan terlalu mudah.
Terutama mengingat dia adalah Level 5 peringkat 1 di Academy City.
Kekuatan Iblis Agung Coronzon benar-benar berada pada level yang berbeda!!
“Bisa menyerang di mana saja dari satu titik berarti, satu titik bisa diserang dari mana saja. Mirip dengan aturan menatap Abyss.”
Coronzon tampak seperti sedang melihat suatu tempat yang jauh saat berdiri di sini.
Apa dia sedang mencibir Accelerator yang baru saja dikalahkannya?
Atau apakah dia mengingat ketua dewan sebelumnya yang telah mengembangkan si peringkat 1?
“Tetap saja, untuk seseorang yang suka menembak orang sambil bersembunyi, aneh sekali betapa cerobohnya kau dalam menerapkan aturan dasar tentang garis pandang. Apa itu cuma titik buta lain dari kemampuan refleksimu, nomor 1 Academy City?”
Fokusnya beralih dari yang jauh ke yang dekat.
Target Coronzon sekarang adalah Kamijou.
“Dan apa kau lupa, Kamijou Touma?”
“Kh.”
“Aku punya jurus pamungkas. Selama tidak ada yang mengganggu, tinggal lancarkan lagi saja untuk menusukmu.”
“Sialan!!”
Coronzon benar.
Tombak rambut, kepiting dan lalat pengintai yang berhamburan, dan rahang tak kasat mata yang terbentuk dari percikan yang tak terhitung jumlahnya. Dia tahu serangkaian serangan akan datang, tapi dia tak bisa melepaskan diri dari pagar pembatas. Posisi, gerakan, jarak. Coronzon hanya perlu menggunakan langkah-langkah kecil untuk menyesuaikan faktor-faktor tersebut dan Kamijou akan terperangkap dalam sangkar tebal. Rasanya seperti permainan shogi yang hanya membutuhkan serangkaian gerakan yang telah ditentukan sebelumnya.
Dan kemudian tibalah saatnya.
Coronzon membuat pengumuman yang mengejek.
Sambil mengarahkan ujung rapier tak berwujud ke arah Kamijou.
“Magick:Flaming_Sword. Wujudkan dirimu melalui turunnya Sephirah dan mandikan dia dengan kekuatanmu.”
Bwoooooooof!!!
Kamijou tidak punya pilihan selain memblokirnya.
Ini di luar batas tangan kanannya.
Bukan memukulnya dengan tinju, tapi menyentuhkan telapak tangannya ke serangan itu dan mengayunkan lengannya untuk menangkisnya, itu hampir tidak bisa dianggap sebagai jawaban yang benar. Lengannya mengeluarkan suara berderit yang mengerikan, tapi tulangnya tidak patah.
Tapi hanya itu.
Kaki Kamijou Touma terangkat dari tanah. Begitu dia sadar, tubuhnya terbanting ke belakang.
Dua kali, tiga kali dia memantul di sepanjang salju merah sebelum berguling.
Dia hanya merasakan rasa berkarat.
Pikirnya, masih memiliki indra adalah nilai tambah. Karena berarti dia tidak pingsan.
…Tidak seperti terakhir kali.
“Sudah kubilang.”
“…”
“Tinggal lancarkan lagi saja. Kau tidak berpikir kalau ini adalah serangan sekali pakai, kan? Ini cuma teknik dasar. Pertarungan terakhir kita berakhir ketika tangan kananmu menggila, tapi, yah, beginilah jadinya ketika aku benar-benar berusaha mengepungmu.”
Coronzon sangat luar biasa dan bahkan lebih dari itu.
Terakhir kali, para ahli sihir Inggris berkumpul bersama dan entah bagaimana berhasil memperoleh kemenangan, jadi menghadapi monster ini sendirian merupakan sebuah kesalahan.
“Kau tidak berharap keadaan akan berubah jika kau mengulur waktu, kan? Mungkinkah ini taktik mengulur waktu agar kau bisa membiarkan Alice Anotherbible, Anna Sprengel, atau anggota kelompokmu yang luar biasa lainnya menghadapiku?”
Iblis Agung Coronzon pada awalnya adalah teror murni.
Tapi teror di hati Kamijou kini menjadi lebih besar lagi.
“Mereka tidak akan datang. Karena sudah kurencanakan untuk begitu. Kamijou Touma, Hamazura Shiage, dan Takitsubo Rikou. Oh, dan ada juga si Qliphah Puzzle 545. Kalian berempat berada di urutan bawah daftar prioritasku, jadi aku tidak sempat menjebak kalian di labirin sebelum kalian tiba.”
Satu per satu, Coronzon mencabut harapan dan kemungkinannya. Semuanya sambil mencibir.
Hampir seperti seorang anak yang berjalan jauh ke ladang bunga, menangkap seekor serangga, membalikkannya, dan tanpa sengaja merobek kakinya.
“Jadi, yang perlu kulakukan tinggal lancarkan lagi saja, menghabiskan waktu sebanyak mungkin untuk membunuhmu. Tidak usah khawatir dengan biaya yang perlu aku bayar. Apa pun yang kau pikirkan, tidak ada cara untuk keluar dari situasi ini.”
“Berengsek…”
“Begini, aku bisa menghabiskan waktu sebanyak yang aku mau. Tapi Adikalika akan aktif dalam waktu kurang dari setengah jam. Jadi, kaulah yang harus berhenti main-main dan serius menghentikanku.”
Kamijou jauh dari aman. Malahan, dia berada dalam kondisi ketegangan ekstrem di mana salah pilih waktu untuk berkedip saja bisa berakibat kematian seketika.
“Dispersi? Dekomposisi alami? Menghancurkan dunia saat ini?”
Tapi Kamijou tetap tidak patah semangat.
Tangan kanannya masih utuh.
“Persetan dengan itu semua, Coronzon. Memangnya siapa yang akan menerima hal semacam itu?!”
“Nilaiku 333, maknaku adalah dispersi. Akulah yang merobek ikatan antarmanusia dan menghambat evolusi mereka.”
Coronzon membisikkan motonya seolah-olah mengunyahnya di dalam mulut.
Dan Coronzon pun mendongak.
Sekali lagi.
“Keh heh heh. Kalian manusia diberi kebebasan untuk memilih, tapi kalian terus membiarkan orang lain membuat pilihan berdasarkan 'informasi' dan 'tren', jadi kalian tidak akan pernah bisa memahami kami yang hanya diberi satu pilihan.”
“Kebebasan?”
Kamijou mengerutkan kening.
Kecemburuan dalam suara Coronzon membuatnya terdengar seperti itu adalah sesuatu yang tidak dimilikinya.
Bagaimana Coronzon bisa berkata seperti itu setelah semua yang telah dilakukannya?
Tapi sebelum Kamijou sempat berkata.
Semua uneg-uneg mengalir keluar seperti gumpalan busuk.
“Tuhan menciptakan seluruh ciptaan-Nya sesuai dengan rencana-Nya. Tak satu pun bagian dari rencana-Nya yang gagal. Maka, wajar saja jika semua dosa dan kejahatan dunia ini berfungsi sebagai roda gigi dalam rencana induk-Nya. Itu mencakup segala sesuatu di dunia ini. Ya, penipuan, pencurian, kekerasan, pembunuhan, pedang, pistol, gas beracun, senjata nuklir, pokoknya semuanya!! Kejahatan yang bahkan Iblis Agung sepertiku tak pernah bayangkan akan terus ditemukan di dunia ini!! 333, dispersi. Dia yang bersembunyi di Abyss yang tersembunyi di Sephiroth dan menghalangi evolusi manusia. Tuhan mahatahu dan mahakuasa. Dia tahu sejak awal bahwa aku memiliki kemungkinan untuk mengkhianati-Nya, menjadi iblis yang mengerikan, dan kalah perang! Jadi mengapa Dia tidak menghentikanku?!”
“…”
Kata-katanya bagai meludahi surga karena dia adalah makhluk yang dikenal sebagai Iblis Agung?
Jika memang begitu, apakah kata-kata ini memang telah diperkirakan oleh sebuah sosok?
Coronzon memasang senyum miring.
“Karena ciptaan hanyalah ciptaan, sulit bagiku untuk melepaskan diri dari sifat dan peranku. Tidak seperti manusia yang tergoda untuk memakan buah itu, kami — makhluk yang dikenal sebagai malaikat dan iblis — memiliki batasan yang jauh lebih besar. Bisa dibilang kami adalah alat Tuhan. Sebagaimana pedang adalah pedang dan tidak bisa menjadi pisau makan atau garpu, kami dapat memanfaatkan — atau bahkan menyalahgunakan — kemampuan yang diberikan kepada kami dalam batasan tujuan penciptaan, tapi kami tidak akan pernah bisa mengambil jalan yang sepenuhnya berbeda.”
Apa ini?
Diagram yang telah dibangun selama ini mulai runtuh.
Atau.
Benarkah memahami perasaan dan keadaan batin Coronzon cukup untuk menyeret seseorang ke jalan kejahatan?
“Kalau begitu, hanya ada satu cara untuk menancapkan taringku ke surga. Daripada melawan dengan sia-sia, aku harus membawa tujuanku lebih jauh dari yang pernah dibayangkan-Nya, sekaligus menggagalkan rencana-Nya!! Itu memberiku kesempatan untuk menghancurkan rencana Tuhan tanpa pernah mengkhianati tujuanku berada di sini. Aku!! Aku di sini untuk melawan semua tragedi yang terjadi di dunia yang dirancang untuk kepentingan sosok lain!!!”
Coronzon membentangkan tangan dan sayapnya lebar-lebar saat dia membuat pengumuman agung ini.
“Yang benar… saja,” gumam Kamijou Touma.
Tanpa berpikir.
Nilainya 333, dispersi. Jadi, dia tidak bisa membiarkan apa pun ada selamanya dan akan memastikan semua hal mengalami dekomposisi alami.
Memang itu tujuan awalnya, tapi itu hanya menjelaskan sebuah metode. Tak seorang pun pernah menyinggung apa yang akan dia dapatkan dengan menghancurkan seluruh dunia. Tak seorang pun pernah menyinggung tujuan pribadinya.
Jawabannya sederhana.
Makhluk yang jauh melampaui batas kemanusiaan dapat disimpulkan sebagai berikut:
Dia sudah muak.
333, dispersi. dia merobek ikatan antarmanusia dan menghambat evolusi mereka. Itulah angka dan simbol mengerikan di dalam dirinya, di lubuk hatinya. Ketika membandingkan dirinya dengan banyak makhluk lain yang mengabdikan diri pada peran berkah yang cemerlang — belas kasih, perlindungan, kejujuran, keamanan — dia tak dapat menerima bahwa dia hanya ada untuk fungsi gelap itu.
Jadi dia mencoba untuk membatalkannya.
Coronzon memeluk dirinya sendiri, membungkuk, dan berteriak.
Seolah mencoba menutup paksa sumber rasa mualnya, yang kebetulan merupakan inti keberadaannya.
“Semua itu membuatku muak! Ah, sangat muak!! Baik diriku sendiri karena diperalat seperti itu maupun manusia yang menganggap kekuatan ini berharga dan menciptakan begitu banyak mantra untuk menggangguku! Tapi yang terpenting, dunia yang membutuhkanku membuatku muak!! Apa kau mengerti, wahai orang baik yang selalu berusaha untuk menjadi benar meskipun kau tak sempurna?! Tuhan tahu aku akan tersesat. Jadi! Sekalipun aku memutuskan untuk memberontak, aku tetap tak mampu meraih secuil kebebasan!!!!”
Dengan kata lain, itu seperti dipaksa memainkan peran dimana kita harus menggiring seseorang untuk gagal dan menderita.
Dia hanyalah alat yang diharapkan dapat menyakiti dan membuat frustrasi orang lain.
Sehebat apa pun dirinya dan sepenting apa pun jabatan yang didudukinya, premis awalnya telah mendistorsi dirinya. Bagaimana mungkin dia bisa menemukan kepercayaan diri dalam situasi seperti itu?
Dia telah diberitahu bahwa dia adalah bagian penting dari dunia.
Tapi ketika sejak awal Tuhan menciptakannya sebagai sosok yang mampu memberontak, mungkin saja hal itu ada tujuannya.
Kekuatannya adalah mencabik-cabik manusia dan mencegah evolusi mereka. Itulah dirinya. Iblis Agung.
Dunia ini tidak akan bisa bertahan hidup tanpa sistem yang hina dan najis itu, dan zaman sekarang tidak akan bisa berfungsi tanpa begitu banyak kemarahan, kesedihan, kepasrahan, dan pertikaian internal. Jadi, Coronzon menyimpulkan bahwa dunia ini terlalu bengkok dan tidak sempurna.
Jadi.
Dia telah memutuskan untuk menggunakan segala yang dia punya untuk menghancurkan rencana yang tidak dipahaminya dan bahkan tanpa berusaha memahaminya.
Dia menginginkan cara tercepat untuk melakukan itu.
Dia telah memutuskan pada sesuatu yang dapat dia jangkau dan sentuh.
Dia pikir pilihan terbaiknya adalah menghancurkan dunia yang telah diciptakan dan dibesarkan oleh Tuhan.
“Apakah aku hanyalah bahan jamuan mewah, yang dirancang untuk gagal agar kalian mendapat kegembiraan saat kalian mengalahkanku? Ataukah aku hanyalah ember air bah, yang dirancang untuk berhasil agar kehancuran totalku dapat membersihkan dunia yang kotor ini? Apapun jawabannya aku tidak peduli.”
Ini buruk.
Ini melampaui tingkat kejahatan.
Dia berada di dimensi yang lain. Bahkan baik kebaikan, kebenaran, dan tekad melawan malapetaka, dia membawa sesuatu yang akan mengalahkan semua itu.
“Bagaimanapun, jika aku kelewat batas dalam memainkan peran simbol dan nilaiku, maka aku bisa menggagalkan dan menghancurkan semuanya tanpa melanggar aturan. Jadi, kau tak bisa meyakinkanku dengan kata-kata. Aku tak akan pernah mundur. Aku akan mengaktifkan Adikalika, apa pun yang terjadi! Aku akan membawanya ke tingkat yang akan membuat siapa pun — ya, bahkan Tuhan — menundukkan kepala dan mengalihkan pandangan!!!”
Sesuatu meledak.
Saat cahaya itu meledak membentuk sebuah kubah. Coronzon merentangkan tangannya dan meraung.
Sebuah cahaya.
Putih yang menyilaukan.
Seolah-olah berteriak bahwa pemberontakannya terhadap surga adalah pilihan yang benar dan tepat.
“…Ah…”
Mungkin mendengarkan Coronzon adalah suatu kesalahan.
Bagaimana Kamijou Touma bisa mengatasi hal ini ketika posisinya sendiri mulai goyah?
Ledakan itu menghantam sekujur tubuh Kamijou.
Dia terpental, terlontar ke udara, dan jatuh ke tanah. Dia berguling lagi dan lagi, melemparkan salju merah ke udara.
Saat itu malam hari dan Academy City tidak banyak menyalakan lampu karena perbaikan masih lambat, tapi itu pun bukan alasan mengapa penglihatannya menjadi gelap.
Berkedip-kedip.
Dia tidak merasakan sakit. Tak ada pula rasa takut atau panik. Semua emosi yang aktif itu lenyap dari benaknya. Dia teringat saat Alice Anotherbible membunuhnya di sekolah malam itu. Sensasi yang sama kembali memenuhi dirinya. Tanpa ampun.
Celaka.
Kali ini… dia benar-benar akan…
Angin malam bertiup kencang.
Kegelapan diwarnai oleh tiupan salju merah.
Hanya sesosok bersayap yang berdiri di dalamnya. Kamijou Touma masih mengepalkan tangan kanannya, tapi hanya itu. Dia pingsan dengan tangan yang masih terkepal erat. Dia benar-benar telah pingsan.
Saluran komunikasi statis dan tidak ada respons dari orang di ujung sana. Jarak dan dinding tebal tidak ada artinya melawan kutukan magis. Itu tidak memberikan perlindungan. Ketua Dewan Accelerator yang baru juga telah dibungkam sepenuhnya.
Suasananya sunyi.
Sangat amat sunyi.
“Qliphah puzzle 545.”
“Kh.”
Iblis buatan yang melayang diam-diam di udara bergetar ketika dipanggil tanpa menengok sedikit pun.
“Kau bisa mencoba lagi trikmu, tapi ketahuilah bahwa aku sudah siapkan antisipasinya. Leviathan, bukan? Mantra pengorbanan itu hanya akan menyebabkan kematian yang sia-sia. Jadi, tetap tenang dan saksikanlah kiamat. Itu akan menjadi pilihan yang lebih baik untuk iblis kesepian sepertimu.”
Salju merah turun di malam yang gelap.
Hitungan mundur Adikalika terus berlanjut tanpa henti, tapi tak seorang pun tersisa untuk menghentikannya.
Nasib dunia telah ditentukan.
Tidak…
“Jadi kau satu-satunya yang tersisa, Hamazura Shiage.”
Sebuah suara berbicara.
Seolah mengenang masa lalu.
Bentuk lain telah bangkit kembali.
Diam-diam.
Dia babak belur dan berdarah, tapi Hamazura Shiage belum mati.
Dengan senyum ironis, Coronzon membentangkan sayap di punggungnya.
“Sulit membayangkan apa yang bisa dilakukan manusia biasa, tapi tak apa. Sebagai manusia, kau bekerja mati-matian untuk mengumpulkan serpihan-serpihan kebaikan di dalam hati, walau bukan kebenaran sempurna. Mempermainkan harta karun itu tanpa menyadari nilainya bagiku adalah puncak kebodohan. Jadi, lawanlah kehancuranku.”
“Kau tahu.”
Hamazura Shiage duduk di salju merah.
Ya, dia tidak merunduk atau menyelam di balik tempat berlindung.
Hampir seperti ingin bunuh diri, dia duduk tepat di depan Iblis Agung Coronzon.
Dan dia pun membiarkan kata-katanya keluar.
“Aku sudah punya firasat akan berakhir begini. Yang terakhir bertahan bukan Kamijou Touma atau Accelerator. Saat kau muncul, aku merasa bahwa akulah orangnya, meskipun sebenarnya aku tidak pantas berada di sini.”
“Apakah kau bilang aku menunjukkan belas kasihan kepada musuhku karena hanya sekedar kenal? Kau pikir aku, Iblis Agung, yang berdiri di sini sebagai pusat kejahatan, akan melakukan itu?”
“Tidak, menurutku bukan itu.”
Suara Hamazura terdengar kosong.
Tapi juga percaya diri.
Dia secara pribadi mengenal Coronzon, bukan melalui desas-desus atau mitos.
“Kau logis. Kau mencoba menghancurkan dunia karena alasan yang sangat rasional. Jadi, kau melabeli semua orang yang menentangmu sebagai musuh dan berusaha mengalahkan mereka. Sederhana saja. Kau melenyapkan mereka karena mereka mencoba menghentikanmu, jadi kau sebenarnya tidak membenci Kamijou Touma atau Accelerator.”
Ya.
Coronzon tidak membenci mereka, tapi bukan karena alasan emosional. Hanya saja, tidak ada hubungan apa pun di antara mereka.
Kamijou Touma dan Accelerator hanyalah orang asing bagi Coronzon. Apa alasannya sampai dia benar-benar membenci Penduduk Desa A?
“Ha ha! Terus kenapa? Apa kau sendiri sudah mengakuinya? Kau hanyalah berandalan tak berguna, jadi kau dilupakan tanpa harus kutandai. Tapi, siapa pun yang berdiri di hadapanku adalah musuh. Aku akan menghancurkan siapa pun yang mencoba menghentikan Adikalika. Dasar serangga sialan. Kau tidak bisa menghentikanku, Hamazura Shiage!!"
“Itu juga bukan.”
Dia kembali menolak klaim Coronzon.
Langsung.
Bahkan Coronzon pun kini mengerutkan kening.
Mungkinkah makhluk yang dikenal sebagai Iblis Agung tidak memahami kebenaran kecil ini?
“Aku tidak sedang melawanmu. Aku tidak punya alasan lagi untuk menyerangmu.”
“Aku… tidak mengerti.”
“Teruskan saja.”
Dengan kata-kata itu, Coronzon-lah yang meringis.
Tapi melihat ekspresi wajahnya, Hamazura berbicara dengan lugas.
“Aku tahu betul dunia ini sampah. Maksudku, aku Level 0. Itu saja berarti aku tidak punya apa-apa. Jadi, lanjutkan saja. Jika zaman baru yang kau bayangkan adalah tempat yang bebas dan adil di mana semua orang bisa bahagia…”
“Hei, tunggu. Brengsek, apa kau ingin...?!”
“Ayo, Coronzon. Ayo, lakukan saja.”
Ya.
Ketika Hamazura menghadapi Coronzon dan ditanya apa yang akan dia lakukan terhadap Coronzon, dia berkata “itu tergantung pada jawabanmu”.
“Tapi... di Inggris, kau menghentikanku, kan? Di saat-saat akhir, dengan bantuan Dion Fortune.”
“Benar,” tegas Hamazura. Lalu, “Tapi aku belum benar-benar mencerna apa yang kau katakan saat itu. Aku tetap pada pendirianku dan berpikir aku bisa menyelamatkanmu jika aku melindungi dunia. ...Tapi lihat hasilnya? Begitu kau kembali bebas, kau malah kembali berusaha menghancurkan dunia. Seolah-olah mengatakan dunialah yang salah. Sejujurnya, aku setuju denganmu. Jika pertempuran berlanjut denganmu atau tanpamu, sepertinya kau bukan sumber masalahnya.”
Dari sudut pandang Hamazura Shiage, Kamijou Touma dan Accelerator adalah kisah sukses yang terlalu cemerlang untuk dipandang sebelah mata. Bukan soal uang, pendidikan, keluarga, atau level esper. Sekeras apa pun dia berusaha, dia tahu dia takkan pernah bisa menyamai mereka.
Jadi mereka ingin melindungi dunia. Tanpa berpikir dua kali.
Bahkan jika itu berarti mempertaruhkan nyawa mereka.
Bahkan jika ada sesuatu yang terasa aneh di dunia ini.
Pada akhirnya, mereka ingin melindungi dunia saat ini karena mereka enggan melepaskannya. Karena mereka adalah orang-orang bahagia yang dapat membayangkan manfaat yang akan mereka dapatkan dengan mempertahankan sistem saat ini.
Jika mereka bodoh, mereka pasti tidak peduli.
Mereka akan dengan bodohnya berfokus pada kebahagiaannya sendiri dan terus menikmati semua manfaatnya.
Tapi bagaimana jika mereka pintar? Bagaimana jika mereka tahu begitu banyak orang dirampas kebebasannya dan tidak bisa mendapatkan apa yang mereka miliki, tapi mereka sendiri tetap menikmati manfaatnya? Itu sama saja dengan menginjak-injak orang lain demi mengejar kebahagiaan mereka sendiri. Itu adalah dosa yang tak terbantahkan.
Melindungi dunia belum tentu merupakan tindakan yang baik atau benar.
Jika orang-orang kaya yang jahat dengan segala ketidakadilan dan uang kotor yang mereka punya mengatakan bahwa mereka akan melindungi dunia, siapa yang akan mendukung mereka?
Jika dunia sudah busuk sejak awal, maka makna frasa itu jadi terbalik.
Semua orang menganggap Iblis Agung Coronzon sebagai sosok jahat yang mutlak dan tak tergoyahkan.
Hanya Hamazura yang tidak setuju.
Karena dia pernah memisahkan diri dan berjuang bersama Coronzon.
Dan dia menyadari sesuatu karena dia melihat Coronzon sebagai sosok jahat yang bisa diajak bicara.
Dia curiga dunia ini menyembunyikan sesuatu yang mendorong Coronzon melakukan semua ini.
“Sialan kau… Hamazura…”
“Kau bisa melihatnya, bukan?”
Pertanyaan itu merupakan penolakan terhadap semua yang diyakini Hamazura.
Seberapa besar keberanian yang dimiliki seorang manusia biasa untuk menyuarakannya?
Kemungkinan besar hal itu tidak mungkin dilakukan Hamazura sendirian.
Itu sebabnya saat ini dia sedang memegang tangan pacarnya yang terbaring pingsan di sisinya.
Dia tahu itu akan memberinya keberanian yang dia butuhkan untuk menghadapi setiap rintangan yang dunia ini berikan padanya.
“Kau telah memandang dunia ini pada tingkat yang lebih tinggi daripada aku dan kau telah menyelidiki dunia ini dengan otak yang lebih unggul daripada otakku. ...Jika, pada akhirnya, Iblis Agung Coronzon sendiri menyimpulkan bahwa dunia sialan ini pantas dihancurkan, maka itu mungkin jawaban yang tepat. Jika kau pun harus menyerah dengan seluruh kekuatanmu, maka sungguh tak ada yang bisa kita lakukan. Setidaknya, aku tak bisa memikirkan apa pun untuk menghentikanmu. Jadi, kau tahu? ...Kurasa sebaiknya kau lanjutkan saja. Kenapa tidak?”
Ini adalah pandangan ketiga yang merusak yang tidak pernah dapat dipegang oleh Kamijou Touma dan Accelerator.
Inilah Hamazura Shiage.
Bahkan Kamijou Touma tidak berdaya melawan Coronzon. Dion Fortune kan yang mengatakan itu?
“Jangan main-main denganku! Apa kau tahu apa yang kau bicarakan?!”
“Kenapa kau terdengar seperti ingin aku menghentikanmu, Coronzon? Aku adalah kartu truf milik semua orang. Aku bersedia bekerja sama dengan Iblis Agung demi menyelamatkan pacarku atau sekadar teman. Kau tidak berpikir orang lemah sepertiku akan mengambil peran itu, kan?”
“Kh.”
“Itu sebabnya…”
Dia tidak baik atau benar. Tapi dia juga tidak sepenuhnya jahat.
Anak lelaki lembut itu pun melanjutkan.
“Itu sebabnya aku akan menerimamu. Waktu aku menyelamatkan Qliphah Puzzle 545 tadi, aku bahkan berpikir kalau dunia ini memang rusak.”
Kalau saja Takitsubo Rikou terjaga di sini, Hamazura mungkin akan sampai pada jawaban yang berbeda.
Tapi Hamazura tidak dapat melakukannya sekarang.
“Berkali-kali, aku telah menyaksikan betapa kejamnya dunia ini dan bagaimana ia menggerogoti orang-orang yang dicintai seperti lini perakitan. Kristal Tubuh? Golden Cabal? Semuanya memperlakukan hidup orang lain seperti suku cadang dan memujinya seolah-olah itu adalah tanda kekuatan dan keindahan. Yang benar saja. Dan tak seorang pun pernah mempertanyakannya. Bahkan orang-orang yang terpuruk sekalipun! Jelas bagi siapa pun bahwa dunia ini busuk sampai ke akar-akarnya. …Jadi, jika kau mau menyingkirkan semua glorifikasi dari kompleksitas yang mustahil untuk dipahami, dan menciptakan dunia biasa yang penuh dengan hal-hal biasa tanpa ada yang tersembunyi, tempat semua orang yang kucintai dapat tertawa bahagia dan bebas khawatir selamanya, maka kau jelas berada di pihak kebaikan dan kebenaran, Coronzon.”
Makhluk yang lebih tinggi itu tampak tersentak.
Tidak mungkin.
Bagaimana mungkin kata-kata seperti itu dilontarkan kepadanya?
Tanpa disadari, Coronzon mendapati bahwa dirinya sendirilah yang menjadi bahayanya.
Ini tidak benar.
Bagaimana mungkin peran Coronzon bisa berubah begitu drastis?!
“Apa kau lupa? Begitu mantra serangan skala besar Adikalika aktif, tak ada yang bisa menghentikannya. Mantra itu akan menghancurkan seluruh kehidupan di daratan target. Semenanjung Italia akan hancur lebur menjadi neraka darah dan tulang. Setelah itu, Katolik Roma, Anglikan, Academy City, dan Ortodoks Rusia akan bergabung dalam perang tanpa akhir! Aku telah menempatkan mereka berpasangan agar mereka saling melenyapkan seperti kartu yang match di permainan Old Maid, sehingga setiap bagian di dunia ini akan menjadi kiamat!! Mencoba menjilatku tak akan membuatmu bertahan hidup—!!”
“Lagipula, baik pakai Adi-apalah itu atau tidak, dunia ini sudah tidak tertolong lagi, bukan? ”
Hamazura tidak membiarkan Coronzon selesai bicara.
Dia tidak berbicara terlalu keras, tapi Coronzon tetap terdiam.
Seakan-akan Hamazura telah memukul tepat di jantungnya.
“Hei, Coronzon. Kau tidak bodoh dan kau tidak barbar. Setiap tindakan didasarkan pada kecerdasan. Aku melihat betapa cerdasnya kau saat kau menyeret Inggris dan seluruh dunia.”
Hamazura berbicara pelan.
Ya, anak lelaki yang memegang tangan pacarnya yang pingsan itu terdiam.
Dia tidak berteriak dan menjerit.
“Sudah sedari lama aku memikirkannya. Kau tak habis pikir dengan apa yang kulakukan, tapi kau tetap membantuku menyelamatkan Takitsubo Rikou dan Dion Fortune. Kau pasti menganggapku beban dan orang bodoh, tapi kau tak pernah mengkhianatiku, meninggalkanku, atau membiarkanku mati. Jadi aku jadi bertanya-tanya kenapa kau melakukan ini pada Academy City. ...Sederhana saja. Kau memutuskan harus memulai perang global. Ada sesuatu yang tak bisa kau selesaikan tanpa melangkah sejauh itu.
“Maksudmu kau bisa melihatnya? Tapi bagaimana mungkin manusia biasa bisa melakukan itu?”
“Aku tidak tahu apa itu. Tapi kau bukan orang yang mengacaukan dunia ini. Dunia ini sudah begitu kacau sehingga menghentikanmu tidak akan memperbaiki apa pun. Jadi, sudah lewat titik di mana aku tidak ingin mati atau ingin memastikan setidaknya pacarku selamat. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi kalau aku diam saja, 100% pasti ujungnya akan ke situ-situ juga. Jadi, bertaruh padamu sepertinya pilihan terbaik. Jika aku ingin kesempatan sekecil-kecilnya agar orang-orang yang kukenal selamat, seseorang harus memaksa dunia keluar dari jalurnya saat ini.”
“…”
“Atau kau mau bilang kalau aku salah?”
Bukan berarti Hamazura ragu dunia akan kiamat.
Dia sudah tahu dunia sudah busuk bahkan sebelum Coronzon memulai semua ini. Saking busuknya, bahkan orang bodoh Level 0 seperti dia pun bisa merasakannya. Dan jika di permukaan saja sudah seburuk itu, maka inti tak kasat mata atau pilar utama dunia pasti sudah hancur total sekarang.
Dia tidak tahu apa sebenarnya rayap yang menggerogoti pohon besar itu, tapi mengetahui hal itu tidaklah penting.
Jadi bukan itu yang mengguncang dirinya.
Ada hal lain yang harus dipastikannya.
“Apa aku salah bertaruh padamu? Apa kau tidak layak kupertaruhkan? Apa kau yang bicara panjang lebar soal tingginya dirimu hanyalah omong kosong belaka dan kau hanya ingin menghancurkan dunia begitu saja? Apa kau akan berakhir dengan menjulurkan lidah, tertawa, dan berkata 'Ups, ujungnya itu tidak menghasilkan apa-apa'? Kau sudah menyeret banyak orang dan menyebabkan banyak masalah, tapi kau tidak bisa menghasilkan apa-apa. Kau bahkan mau merebut uang taruhan yang aku percayakan padamu. Kalau kau tidak bisa berpegang teguh pada kebaikan atau kebenaran dan berhenti di tengah-tengah tanpa pernah menghasilkan apa-apa, maka kau adalah penjahat! Kalau pada akhirnya semua akan sia-sia, lebih baik sejak awal kau tidak melakukan apa-apa!! Kau tahu apa sebutannya untuk orang seperti itu? Namanya adalah pembuat onar, penjahat paling rendah dan lemah, Coronzon!!!”
Coronzon menundukkan kepalanya.
Monster yang tidak dimengerti oleh siapa pun itu terdiam selama beberapa saat.
Coronzon tampak menggigit bibirnya.
Dan.
Akhirnya.
“Jangan membuatku tertawa, manusia.”
Saat Coronzon mengangkat kepalanya, dia memperlihatkan wajah yang paling jahat.
“Aku sendiri yang merancang rencana ini, tapi kaulah yang memberikan dorongan terakhir, Hamazura Shiage. Jadi kuharap jiwamu hancur karena rasa bersalah karena secara tak perlu menjadikan dirimu bertanggung jawab atas mayat-mayat yang tak terhitung jumlahnya yang akan segera mengotori seluruh dunia! ...Adikalika!! Wahai penguasa kematian dan darah segar, inkarnasi kehancuran, dan dewi hitam dari huruf kesebelas, hancurkanlah pilar kebaikan dunia saat ini dan tenggelamkanlah planet ini dalam lautan darah hitam!!!”
Dunia bersinar.
Di belakang Iblis Agung Coronzon, di tengah ruang kosong tempat Gedung Tanpa Jendela dulu berdiri, ruang itu sendiri memancarkan cahaya pucat seolah-olah ada sesuatu yang berkumpul di sana. Pilar cahaya itu semakin kuat secara bertahap. Titik itu sudah melewati batasnya.
Pada saat itu, Hamazura Shiage tersenyum. Sambil meremas tangan kekasihnya yang terkulai tak bergerak.
Sedikit saja.
Seolah-olah dia berada di stasiun kereta dengan sedih mengantar seorang teman yang akan pergi.
“Maaf, aku tidak bisa memberimu dunia yang bisa kau terima.”
“—?!!!”
Belum pernah.
Tidak sekalipun.
Tak seorang pun pernah menerima Iblis Agung itu dan bahkan dia gagal menerima fungsinya sendiri dan memilih mengutuk Tuhan dan dirinya sendiri, jadi dia tampak seperti sangat ingin mengatakan sesuatu.
Coronzon jelas kalah.
Kamijou Touma, Accelerator, Aleister Crowley, dan bahkan Samuel Liddell MacGregor Mathers semuanya gagal mengeluarkan ekspresi itu dari wajahnya.
Rasa sakit.
Dan penderitaan.
Coronzon mulai mengatakan sesuatu.
“Hamazur—”
Coronzon tidak bisa mengatakannya sampai selesai.
Cahaya itu pun meledak.
Sesaat sebelum itu.
Kamijou Touma tergeletak pingsan di tanah, setengah terkubur di salju merah.
Ada yang salah dengan tubuhnya. Dia sepertinya tidak bisa bangun.
Dia sebenarnya tidak merasakan sakit, sehingga sulit untuk mengetahui bagian mana dari dirinya yang terluka. Dalam kondisinya, tidak adanya bau darah terasa tidak wajar. Jadi, dia menduga indranya juga ikut bereaksi.
Dia telah mengalami kerusakan yang mematikan.
Entah mengapa dia yakin akan hal itu.
Meski begitu, dia melotot dengan mata yang hampir tidak bisa melihat apa pun lagi.
Seseorang sedang berbicara.
Hamazura Shiage dan Iblis Agung Coronzon.
Mereka bersiap untuk melakukan sesuatu yang menentukan.
Dia tidak tahu rinciannya.
Telinganya tidak berfungsi dengan baik. Bahkan otaknya hampir mati dan dia tidak mampu mencerna dan memahami bahasa manusia.
Meski begitu.
Dia mengerti.
Jika rangkaian kejadian saat ini tidak dihentikan, maka semuanya benar-benar akan berakhir.
Jadi dia perlahan menggerakkan tangan kanannya.
Merentangkannya.
Tidak dapat tercapai.
Meskipun letaknya tepat di sana, dia bisa melihat pilar Adikalika yang bersinar dari tempatnya, tapi jaraknya terlalu jauh.
Apakah itu tidak ada gunanya?
Dia mengerti apa yang dikatakan Iblis Agung Coronzon.
Sesuatu selain kekuatan fisik ada dalam benak Kamijou.
Bahkan dari sudut pandang Kamijo, yang bertarung dengan tangan terkepal, itu adalah cerita yang mengerikan.
Tak seorang pun menginginkan pekerjaan mencabik-cabik orang. Yang bisa Coronzon lakukan hanyalah memilih untuk memberontak. Apa yang dia lakukan bukanlah pada level memaksa seseorang untuk menyerah pada mimpi gilanya hanya karena mereka akan lebih bahagia dalam jangka panjang. Coronzon benar-benar hanya menghancurkan hubungan. Tidak lebih dari itu. Dia tidak menyukainya, tapi dia bahkan tidak diberi alasan untuk dirinya sendiri saat melakukannya. Dan ini tentu saja membuat semua orang membencinya. Jika kita diberi tahu bahwa hanya itu yang bisa kita lakukan sampai kita mati dan lenyap, tentu saja kita akan putus asa. Dan karena para malaikat dan iblis adalah makhluk yang lebih tinggi daripada manusia, pastilah semakin tak tertahankan untuk tidak memiliki apa pun selain fungsi itu.
Coronzon ingin mengubahnya jika dia bisa.
Coronzon ingin menolaknya.
Kamijou menganggap itu adalah reaksi alami.
Kamijou mengerti.
Tapi Kamijou tidak ingin dunia saat ini hancur.
Kamijou tidak ingin orang-orang yang tinggal di sana terluka.
Kamijou tidak berbicara tentang Dewa Sihir, Transenden, atau manusia istimewa lainnya yang memiliki kekuatan dan kemampuan istimewa yang akan membuat kematian mereka menjadi kerugian besar bagi dunia secara keseluruhan.
Kamijou memikirkan percakapan bodoh di sekolah dan semua omong kosong yang terjadi di kamar asramanya.
Kamijou ingin melindungi hal-hal biasa tersebut.
Kamijou ingin hal-hal biasa tetap menjadi hal biasa.
Tanpa rasa takut.
Tanpa gemetar karena kemungkinan tersesat.
Bukankah pada awalnya Coronzon juga seperti itu?
Bukankah karena Coronzon memahami pentingnya perasaan orang-orang yang kecil dan biasa, sehingga dia tidak dapat memaafkan dunia ini karena membutuhkan sosok yang akan mencabik-cabik seseorang, yang membuatnya putus asa karena peran itu dipaksakan padanya, dan yang ujungnya membuat dia ingin memberontak terhadap surga?
Apakah ini yang benar-benar ingin Coronzon lakukan?
Apakah benar-benar tepat membiarkan pemenang menghancurkan seluruh dunia tanpa memperoleh jawaban yang jelas atas pertanyaan-pertanyaan ini?
Jika dunia benar-benar kiamat sekarang…
Jika Coronzon sendiri tidak yakin apakah dia akan mendapatkan sesuatu dari kemenangannya…
Lalu bagaimana manusia bisa menerima kematian yang sudah di depan mata?!
(Si…)
Tenggorokan Kamijou kering seperti tulang.
Mungkin bahkan selaput lendir di dalam tubuhnya telah hangus.
(siapa saja...)
Meski begitu.
Apa yang dapat dia lakukan?
Bisa apa saja, dia hanya tidak ingin menyerah.
Kamijou memaksa tenggorokannya untuk bergerak, seakan-akan sedang mengupasnya.
Dan masih terpuruk, anak lelaki itu hanya bisa mengucapkan satu hal. Seolah sedang berdoa.
“…………t…o…l…o…n…g…………”
“ “Ya.” ”
Kedengarannya seperti sebuah lagu.
Suara gadis cantik itu mengendalikan segalanya.
“ATOA. JOEAGTTA. (Ubah target Adikalika. Melintasi Eropa dan menuju Atlantik)”
Dan…
“Apa…?”
Iblis Agung Coronzon mengalihkan pandangannya ke samping.
Dia tahu Adikalika telah diaktifkan.
Adikalika telah diluncurkan.
Tapi dia tidak mengerti.
Mengapa dia tidak merasakan hasilnya?
Matanya melebar melewati batas dan melihat ke suatu tempat selain di sini sebelum mengerang.
“Padahal sudah dirilis. Mantra serangan skala besar Adikalika sudah diluncurkan... Jadi kenapa Semenanjung Italia tidak tenggelam dalam lautan darah, daging, dan tulang?!”
“Karena kau sendiri yang mengalihkannya. Meskipun Spell Intercept-kulah yang membuatmu melakukannya.”
Responnya tenang.
Itu suara seorang gadis.
“Mantra itu menargetkan daratan yang dinamai manusia dan membawa pembantaian bagi semua orang di sana. Artinya, mantra itu tidak akan berpengaruh jika dikirim ke suatu tempat tanpa nama. Itu adalah ide si rambut pendek. Katanya Jepang punya banyak pulau tak bernama yang hanya ditandai dengan angka. Dan negara-negara lain pun melakukan hal yang sama.”
“Sialan… kau.”
“Sehebat apa pun mantranya, serumit apa pun persiapannya, dan bahkan jika itu dilakukan oleh makhluk yang jauh lebih tinggi daripada manusia... sihir tetaplah sihir. Mantra malaikat dan iblis didasarkan pada fondasi yang sama, tapi pernahkah terpikir olehmu bahwa karena itu mereka bisa dihalangi oleh manusia?”
“Maksudmu lidah kotor manusia biasa telah meraba-raba pikiranku?!”
Coronzon mengamuk, mengembangkan sayapnya lebar-lebar, dan mulai berteriak, tapi dia terpaksa mundur beberapa langkah.
Karena sesuatu yang terbang dengan kecepatan tiga kali kecepatan suara.
Dengan suara "Dwoom!!!", udara dikompresi dengan hebat beberapa saat kemudian.
Setelah menangkap proyektil itu dengan telapak tangannya, dia tahu benda apa itu. Benda itu setengah meleleh, itu adalah koin arkade biasa.
“Oh? Pemandangan yang tidak biasa. Aku pernah melihat beberapa orang menepisnya dengan kemampuan curang seperti refleksi atau gravitasi... tapi aku tak pernah menyangka akan melihat orang bodoh yang menangkapnya dengan kekuatan fisik murni. Oh iya, si para Dewa Sihir itu juga bisa melakukannya.”
“Sialan… Sialan kalian berdua…”
Coronzon menggeramkan kata-kata itu seperti kutukan yang mematikan.
Seolah-olah pengulangan itu akan membangun kebenciannya.
Jdeeeer!!!
Arus listrik bertegangan tinggi tiba-tiba meledak.
Hamazura Shiage telah mencoba melakukan sesuatu yang tidak perlu hingga terkena tombak petir, dan terpental ke salju merah.
Sekarang Coronzon benar-benar sendirian.
Coronzon telah memulai rencana ini sendirian, tapi entah mengapa kini dia merasakan sebuah lubang di hatinya. Dan lubang itu pun tidak kecil.
Dan.
Pilar cahaya itu telah hilang.
Mantra serangan berskala besar Adikalika telah diluncurkan, tapi tidak ada hasilnya.
Tidak ada satu orang pun yang meninggal.
Keajaiban ini tidak disebabkan oleh Kamijou Touma.
Tapi ini jelas merupakan hasil yang diminta oleh si pecundang.
“Alice Anotherbible dan Anna Sprengel tidak pernah sampai di sini. Tapi kalian orang luar berhasil? Rasanya tidak masuk akal. Kalau kalian bisa jalan kaki ke sini, mereka tidak akan pakai parasut!!”
Coronzon mulai mengoceh, tapi dia segera berhenti.
Penumpukan kebenciannya telah berhenti.
Dia hampa.
Tidak, dia menyadari ada presedennya.
Bukankah Anna Kingsford melakukan hal serupa di neraka?
Dan bukankah Anna yang lain ada di sini?
Dengan kata lain…
“Bukan, bukan mereka tidak bisa sampai. Apa mereka sengaja memberikannya?! Supaya kalian berdua bisa sampai di pusat?! Apa mereka pakai trik sihir supaya kalian bisa langsung melewati labirin tak kasat mata tanpa sepengetahuanku?!”
Tak ada suara yang menjawabnya.
Sebaliknya, kedua gadis itu melangkah menuju Coronzon.
Lurus ke arahnya.
“Apa kau benar-benar punya waktu untuk itu? Tidak seperti Touma, kau tidak punya siapa pun yang akan menyelamatkanmu.”
“Aku tidak tahu apa-apa soal Iblis Agung, tapi kau tidak berpikir kau bisa lolos begitu saja setelah menyakiti si bodoh-ku, kan?”
Index dari dunia sihir .
Misaka Mikoto dari dunia sains.
Kedua gadis itu telah mendengar permintaan si anak lelaki.
Satu Orang Lainnya
4th_HERO.
“Fiuh.”
Alice Anotherbible mengembuskan napas putih.
Bahkan dia, sang prototipe Transenden, telah menggunakan begitu banyak kekuatan hingga dia harus mengatur napas.
Index dan Misaka Mikoto.
Alice telah mengirim kedua gadis itu terlebih dahulu.
Sambil memastikan sumber semua masalah ini tidak menyadarinya.
Itu telah membuka sebuah "lubang", tapi Alice tetap terperangkap di dalam labirin tak kasat mata. Labirin modern itu menghalangi tujuannya, sejauh apa pun dia berjalan, dan itu adalah masalah yang jauh lebih besar daripada para pengintai dari rambut pirang yang tampak lebih mengancam.
Meski dengan memaksakan tenaganya, tapi dia telah berhasil membuka lubang.
Dia mengerti logika di baliknya.
Di sebelahnya, Anna Sprengel mengembuskan napas putihnya sendiri dan menatap langit dengan jengkel. Dia adalah sosok ekstrem lainnya, makhluk yang terlalu abnormal untuk disebut Transenden.
Salju merah turun dari langit malam.
Bangunan beton yang dingin mengelilingi mereka di keempat arah.
Dengan kata lain…
“Dasar Coronzon sialan. Dia menggunakan beton abu-abu itu sebagai pengganti lapisan salju tebal yang membekukan yang membuat orang tersesat di gunung di tengah badai salju. Jadi, kita seperti berkelana di labirin di mana kita pikir kita berjalan lurus, tapi malah berputar-putar di blok yang sama berulang-ulang.”
“Benar.”
Malam ini bersalju dan awan tebal menutupi langit. Tak ada pemandu yang jelas.
Tapi, sekalipun ada bulan di langit malam, situasinya tak akan berubah. Mengetahui arah saja tak akan cukup untuk lolos dari dungeon ini.
Indra manusia itu rapuh.
Paling mudah membayangkannya seperti ruangan dengan layar hijau yang menutupi dinding, lantai, dan langit-langit, tapi orang-orang dapat dengan mudah kehilangan jejak jarak dan arah ketika penglihatan mereka diwarnai oleh satu warna yang tidak berubah. Ketika didorong hingga batasnya, orang-orang akan mengembara ke tempat-tempat yang seharusnya tidak mereka kunjungi dan bahkan mulai meragukan data akurat yang diberikan oleh peta atau kompas. Setelah itu terjadi, mereka hanya akan semakin tenggelam. Hal-hal aneh terjadi di pegunungan. Mungkin memang begitu, tapi beberapa di antaranya adalah akibat dari orang-orang yang tanpa sadar melampaui batas fungsi tubuh mereka.
Penyihir Aleister, pencipta Magick, juga seorang pendaki gunung. Hal itu mungkin berperan dalam bagaimana dia membentuk mantranya.
“Tapi si gadis sudah pernah berhasil membuat lubang, jadi kita bisa menerobos tempat ini dengan mengulanginya. Ayo kita coba lagi setelah si gadis berhasil mengembalikan energinya.”
“Dengan asumsi Coronzon belum menyiapkan antisipasinya.”
Coronzon pasti akan melakukannya. Dia bukanlah lawan yang bisa dilawan dengan jurus yang sama berulang-ulang.
Mereka berdua sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Mereka belum sepenuhnya diusir dari tempat kejadian, tapi kedatangan mereka sudah sangat terlambat.
Kedua gadis muda itu mendengar suara dari atas.
“Oh?”
Itu adalah Bologna Succubus dengan Blodeuwedd the Bouquet tergantung dengan salah satu lengan besar dari mantel logamnya.
Sekalipun berada langit, mereka tetap tidak bisa lepas dari labirin ini. Sama seperti kita tidak bisa menyelamatkan orang dari badai salju di gunung menggunakan helikopter.
Gadis dengan celemek super kurus itu tampak terkejut.
“Apa yang kau lakukan, Alice? Menyerahkan makanan pestamu pada orang lain, tak seperti dirimu saja☆”
“Dia akhirnya menjadi dewasa,” kata Bologna Succubus.
♦♦♦
“Hehehe.”
Tanpa bersuara, salju merah terus turun.
Iblis Agung Coronzon menatap langit malam tanpa bintang dan tertawa.
Itu adalah tawa yang penuh ejekan.
“Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha!!!”
“Oh, apa ada lucu?" tanya Mikoto dengan jengkel.
Coronzon menjawab sambil terus tertawa.
“Lucu? Ya, memang lucu! Astaga. Adikalika benar-benar pilihan yang buruk. Struktur mantranya terlalu rapuh, jadi bisa saja hancur berkeping-keping jika aku mengerahkan seluruh kekuatanku untuk bertahan dalam jarak sedekat ini. ...Tapi itu berakhir sekarang. Aku tak akan terganggu lagi oleh hal-hal sepele seperti itu. Akhirnya aku bisa mengerahkan seluruh kekuatanku. Gya ha ha, dan apa yang bisa lebih lucu dari itu?! Bfh, gh, ha ha ha hee!!”
“Kekuatan penuh?”
Mikoto mengerutkan kening dan Coronzon berhenti total lalu menjelaskan.
Sederhana.
“Yah, semua yang kulakukan dari tadi hanyalah pengulangan dari pertempuran sebelumnya. Apa aku melakukan sesuatu yang baru?”
Sebuah pengulangan.
“Sebagian kekuatanku hampir meluap dengan Qliphah Puzzle 545, tapi hanya itu. Kalau bukan karena itu, Kamijou Touma dan kalian semua pasti sudah hancur berkeping-keping sebelum sampai di sini. Perpustakaan Grimoire, apa kau memahami nilaiku secara akurat? Heh heh. Kau seharusnya tahu betul bahwa Iblis Agung Coronzon setidaknya merupakan ancaman internasional dan bukan sosok yang seharusnya dilawan siapa pun secara individu. Bwa ha!! Oh, aku tak sanggup menahannya. Maaf, tapi aku memang tak sanggup. Hwa ha ha ha ha!!”
Index tidak mau menjawab.
Dia langsung ke sesuatu yang lebih penting.
“Maksudmu Adikalika bukan tujuanmu?”
“Tidak juga.”
Sekali lagi, Coronzon mengakuinya dengan sangat sedikit keraguan.
Meski begitu.
“Adikalika hanyalah salah satu metode. Aku tidak terlalu terikat padanya. Jangan salah paham. Prioritasku adalah hasil akhirnya, bukan caranya. Aku bisa memulai akhir dunia di tempat lain. Dalam waktu dekat ini.”
“Seberapa dekat…?”
“Besok kalau aku mau. Dari suatu tempat di belahan dunia lain, dari Academy City. Ya, mungkin dari Brasil di Belahan Bumi Selatan.”
Coronzon terdengar hampir bingung.
Dan kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
“Bwa ha!! Tunggu, jangan bilang. Kau tidak mengira Adikalika adalah satu-satunya kartu trufku, kan? Aku adalah Iblis Agung Coronzon, penjaga kebijaksanaan di pohon agung dan pengkhianat yang mencuri pengetahuan tersebut. Kee hee hee hee hee hee. Setiap jari tangan dan kakiku tidak akan cukup untuk menghitung cara yang kutahu untuk menenggelamkan planet ini dalam lautan darah!! Bwa nya ha ha ha ha ha ha!”
Coronzon memiliki banyak kartu di deknya.
Tidak ada alasan mendesak baginya untuk menang saat ini.
Dia sudah menjadi yang terkuat dan dia ingin melepaskan diri dari kekuatan memuakkan itu. Kegagalan tak akan melemahkannya. dia mungkin diganggu dan didorong menuju kegagalan oleh manusia, tapi dia akan mempertahankan kekuatan penuhnya.
Jadi selama dia masih mau terus maju, dia bisa menerima kekalahan sebanyak apa pun.
Dia tidak seperti Fiamma si Kanan atau Dewa Sihir Othinus yang mempertaruhkan segalanya pada satu kesempatan.
Sifat jahat Coronzon lebih melekat, lebih sulit dihilangkan, dan tidak bisa diperbaiki.
Apakah dia sudah puas tertawa?
Setelah menyeka air mata dari matanya, Coronzon akhirnya kembali ke ekspresi serius.
“Hehe. Tapi sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya. ...Dimulai dari kalian berdua. Aku sungguh ragu kalian bisa mengganggu kartu trufku yang lain, meski kalian berhasil menghentikanku kali ini. Jadi aku akan menghabisi kalian sebelum antisipasi konyol ini menyebar ke bajingan lainnya. Lalu aku bisa santai saat mulai bekerja. Tanpa harus menjaga Adikalika, aku tidak akan dibatasi oleh apa pun!! Atau perlu kujelaskan dengan kata-kata? Mulai sekarang, aku akan mengerahkan seluruh kekuatanku!!!”
Hal ini menjadi alasan kuat bagi Index dan Misaka Mikoto untuk bertarung.
Iblis Agung Coronzon.
Kehancuran dunia bahkan belum termasuk di dalamnya. Apakah Coronzon menyadari bahwa kekacauan yang dia ciptakan di kota itu sudah cukup tak termaafkan? Yakni hancurnya kehidupan sehari-hari yang biasa. Index dan Mikoto tidak berusaha meraih skor tinggi dengan menyelamatkan orang-orang di seluruh dunia. Mereka tidak tahan melihat satu orang di sekitar mereka mati.
Terdengar suara kepakan saat udara dihantam.
Iblis Agung itu telah membentangkan sayapnya yang lebar.
Coronzon telah meninggalkan Adikalika, yang mana itu telah memberinya kebebasan.
Entah kenapa terpancar aura yang berlebih dari Coronzon, seperti dia sedang menikmati suatu peristiwa.
“Nah!! Salah satu dari kalian adalah Perpustakaan Grimoire yang penuh dengan pengetahuan yang dikumpulkan untuk melawan sihir Barat modern yang dikembangkan oleh Penyihir Crowley, dan yang satunya adalah Level 5 yang diproduksi oleh mantan Ketua Dewan, Aleister. ...Kombinasi sempurna sebagai upaya terakhir dari dunia. Sudah saatnya aku menghancurkan setiap secercah harapan yang tersisa di dunia ini agar aku bisa memeras air mata berdarah dari jiwanya dan menyaksikannya semakin menghitam!!"
Ting!! Terdengar suara dentingan bernada tinggi.
Itu berasal dari koin arkade yang diangkat oleh ibu jari Misaka Mikoto.
“Aku tak mengerti apa yang dari tadi kau bicarakan, tapi kuharap kau tidak berpikir kalau kau sudah mengalahkan semua serangan peringkat 3 hanya karena kau berhasil menghentikan railgun secara langsung. Kemampuan itu bergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Hanya ada tujuh Level 5, tapi itu bukan karena tidak ada yang punya daya tembak seperti ini. Akan kutunjukkan padamu berbagai macam aplikasi yang membedakan kami bertujuh!!”
“…”
Misaka Mikoto bersemangat untuk memulai, tapi Index tampak pucat.
Mungkin karena dia berasal dari sisi sihir.
Dan karena itu dia memiliki pemahaman lebih baik tentang apa yang mereka hadapi.
Iblis Agung Coronzon masih punya banyak ruang untuk bersenang-senang. Seperti yang telah dia katakan, sesekali melancarkan kekuatan individu bukanlah strategi yang tepat untuk melawan Coronzon yang berkekuatan penuh.
Othinus berbisik dari bahu Index.
“(Jangan terintimidasi. Itu hanya akan membawamu ke arah negatif. Sebagai dewa perang, aku sangat memahaminya.)”
“Benar. Tapi…”
“(Kau merasa terganggu melihat betapa mudahnya dia menyerah pada Adikalika setelah berusaha keras? Dia bilang tidak peduli karena punya lebih banyak pilihan untuk menghancurkan dunia? Omong kosong. Dia boleh tertawa, tapi itu tidak mengubah fakta bahwa dia panik setelah rencananya gagal. Dia sedang berusaha pulih dari kegagalan itu dan mati-matian ingin tetap memegang kendali agar bisa menggunakan kembali rencananya sebanyak mungkin. Jadi, sebagai dewa tipu daya, kukatakan padamu: jangan tertipu. Kau telah mendorongnya ke ujung jurang. Kau tidak punya alasan untuk menyerah sekarang.)”
“Tetap saja…”
“(Dan jika Coronzon memang iblis pengetahuan yang agung, maka kau tak punya alasan untuk takut padanya. Sebagai dewa sihir, aku bisa jamin, pengetahuan di kepalamu sama sekali tak kalah dengan pengetahuan yang dia junjung tinggi. Kalian berdua setara.)”
“…”
Semua itu sudah terlintas di benak Index.
Masalahnya adalah ketidakmampuan Index untuk memurnikan energi kehidupannya menjadi energi sihir. Yang berarti dia tidak bisa memanfaatkan pengetahuan dari 103.001 grimoire-nya untuk dirinya sendiri.
Dia juga tidak bisa memaksakan peran itu kepada Misaka Mikoto karena gadis itu adalah seorang esper dari sisi sains. Jika seorang esper memaksakan diri menggunakan sihir, hal itu dapat dengan mudah menyebabkan kerusakan parah pada pembuluh darah dan saraf mereka. Othinus juga tidak bisa melakukannya setelah menyusut menjadi 15 cm, dan Index tidak bisa berharap apa pun dari kucing di pelukannya.
Jadi itu tidak cukup.
Perpustakaan Grimoire Index mengetahuinya bahkan sebelum pertarungan dimulai.
Memerangi Iblis Agung secara seimbang akan memerlukan pertarungan pengetahuan melawan pengetahuan.
Untuk itu dibutuhkan seorang penyihir.
Seorang penyihir manusia.
Mereka kehilangan bagian penting yang dibutuhkan untuk melawan Iblis Agung Coronzon secara langsung!!
Tepat saat itu.
Dia mendengar sebuah suara.
“Masih… ada…”
Suara itu datang dari Kamijou Touma.
Coronzon mengerutkan kening. Dia seharusnya memiliki semua pengetahuan dunia, Tapi hal ini sungguh membuatnya bingung.
Anak lelaki itu bahkan tidak bisa bangun, apalagi melawan, jadi mengapa dia tidak berpura-pura mati saja?
Kenapa dia harus menarik perhatian? Apa yang bisa dia lakukan saat ini?
Dia sudah kalah.
Kamijou Touma kalah. Accelerator kalah. Bahkan Hamazura Shiage pun tak lagi bergerak.
Tapi…
“Masih ada… seseorang…” bisik anak lelaki yang kerdil itu.
Apakah hanya itu yang mampu dia lakukan bahkan setelah mengumpulkan sisa-sisa tenaganya?
Meskipun begitu…
“Jauh sebelum kita. Jauh, jauh sebelum kita semua lahir, ada seorang hero yang telah melawan kekejaman ini. Berjuang melawan dunia dan kalah, tapi tak menyerah dan bangkit kembali. Ada hero lain yang pada akhirnya membangun kota ini dan memberi begitu banyak orang kekuatan untuk berjuang tanpa harus menyerah!”
“Apa…?”
“Benar kan, Aleister?!!”
Iblis Agung Coronzon membeku.
Hanya untuk sesaat saja.
Dan.
Kraaak!!
Suara retakan yang menembus sesuatu terdengar dari dalam dada Coronzon.
Kalau kalian beli satu per satu, selamat datang kembali. Kalau kalian beli semuanya sekaligus, selamat datang.
Aku Kamachi Kazuma.
Seperti yang Dion Fortune katakan di jilid terakhir, buku ini seperti reuni. Jadi aku memasukkan atau menyebutkan karakter-karakter lama dan baru. Level 5, Anglikan, Amakusa, Saint, Eks Pasukan Agnese, Kihara, Dewa Sihir, iblis buatan, Iblis Agung, penyihir Golden, Okultisme R&C, Transenden... begitu banyak kategori berbeda yang muncul dalam satu jilid ini. Apa kalian ingat semuanya? Kalian telah mempelajari semua karakter dan worldbuilding cerita untuk mencapai ke titik ini. Bahkan saat aku menulis ini, aku gemetar membayangkan betapa repotnya hal ini bagi Haimura-san yang sedang mengerjakan ilustrasinya!!
Ahli Nekromansi Isabella Theism pertama kali muncul dalam novel bonus anime. Karena novel itu sekarang sudah dirilis sebagai novel ringan biasa, aku memutuskan bahwa tidak masalah untuk memasukkannya ke dalam cerita utama dan menjadikannya bos musuh. Aku pikir dia bisa digunakan untuk melanjutkan fokus pada pertanyaan di jilid sebelumnya, apakah Kamijou Touma masih hidup atau mati, jadi aku memintanya memainkan peran Ahli Nekromansi sisi sihir. Oh, dan jika kalian ingin tahu apa yang dimaksud Accelerator ketika dia menyebut "Ahli Nekromansi yang aku kenal", kalian harus melihat manga tertentu dari Dengeki dan anime-nya! Ada banyak Ahli Nekromansi yang mengendalikan mayat secara langsung di sana.
Soal Kihara Goukei, gimana ya, “Ha ha, apa kau benar-benar mengira anggota Keluarga Kihara bisa dihabisi semudah itu?” Jadi kali ini aku membiarkan Gou-neechan mengamuk. Sebagai ilmuwan baik hati yang ahli dalam kehidupan manusia, dia mungkin mengingatkan beberapa orang pada Kihara Kagun. Kihara Goukei adalah seorang peneliti (apakah dia benar-benar bisa menyebut dirinya seperti itu ketika dia telah mencuri teknologi?) yang hanya mengumpulkan pengetahuan ilmiah terlarang, tapi dia mungkin akan menjadi seperti Kihara Kagun jika dia memasuki dunia sihir. Dia mungkin telah mengumpulkan dan memanfaatkan teknologi yang diciptakan oleh orang-orang seperti Kihara Byouri dan Yakumi Hisako.
Kamijou Touma tidak pernah bisa bertemu dengan dokter berwajah katak dan secara resmi masih dianggap meninggal, tapi kembalinya dia ke masyarakat telah dimulai setelah menyelamatkan teman-teman sekelasnya, mungkin?
Secara pribadi, aku pikir orang mati pun bisa diterima dengan mudah asalkan mereka tidak berbahaya. Contoh stereotipnya adalah orang-orang yang takut dikutuk oleh orang mati, jadi mereka membuat orang mati itu tidak berbahaya dengan menyembahnya sebagai dewa.
Ngomong-ngomong soal Kamijou, menurutku yang paling berkesan baginya kali ini adalah perjuangannya yang sia-sia, bahkan setelah kalah. Dia rela mempertaruhkan nyawanya untuk menang, tapi dia tidak akan menyerah begitu saja karena kalah. Dia telah menemukan sesuatu yang tidak akan pernah dia lepaskan, bahkan jika itu berarti kalah dan mati. Kurasa itu bentuk lain dari pertumbuhan, tapi bagaimana menurut kalian semua?
Aku mengucapkan terima kasih kepada ilustratorku, Haimura-san dan Itou Tateki-san, serta editorku, Miki-san, Anan-san, Nakajima-san, dan Hamamura-san. Pengambilalihan Academy City oleh sisi sihir merupakan situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang aku duga membuat ilustrasinya menjadi tantangan tersendiri. Terima kasih sekali lagi.
Dan aku berterima kasih kepada para pembaca. Dengan Moina Mathers mode gelap menunggangi kucing hitam raksasa, Qliphah Puzzle 545 yang hampir mati, dan segala hal tentang teman sekelas Kamijou atau para Transenden, aku harap setiap pembaca menemukan hal yang paling mereka sukai. Aku harap kalian juga menemukan hal serupa. Terima kasih telah terus membaca buku-buku ini!!
Sekarang saatnya menutup halaman-halaman ini sambil berdoa agar halaman-halaman buku berikutnya dibuka.
Dan aku meletakkan pena aku untuk saat ini.
Kalau dipikir-pikir, apakah ini pertama kalinya Shokuhou berteriak “Hahhhh?” di cerita utama?
-Kamachi Kazuma