Proses Menuju Kematian
Silent_Road.
Semua orang sendirian saat mereka meninggal.
Terutama ketika mereka dibunuh secara langsung oleh makhluk seperti Alice Anotherbible yang unik bahkan di antara para Transenden.
Mari kita tinjau pertanyaan mendasarnya.
Apakah dia benar-benar mengira dia akan masuk surga?
Apa pun alasannya, dia selalu menilai musuh dengan aturannya sendiri dan menyerang mereka.
Apakah dia butuh musuh? Dia bahkan tidak pernah memikirkan pertanyaan itu.
Tentu saja orang seperti itu akan masuk neraka.
Orang mati tidak dapat kembali.
Mereka tidak akan pernah bisa hidup kembali.
Perpisahan itu bersifat permanen. Gagasan tentang orang yang benar-benar mati lalu kembali hidup seolah-olah tidak terjadi apa-apa adalah sesuatu yang sangat tidak masuk akal, bahkan seorang anak pun tahu bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi.
Tidak ada pengecualian.
Seorang anak lelaki tertentu tidak diizinkan melewati celah tersebut.
Bahkan Anna Kingsford, yang dikenal sebagai pakar dan guru langsung Mathers dan Westcott yang mendirikan cabal Golden, tidak mencoba melakukannya sendirian. Dia telah menyusun rencana karena dia tahu kemampuannya sendiri saja tidak akan cukup.
Lalu ada pakar lainnya.
Meskipun kekuatannya besar, tapi motivasinya semata-mata hanya untuk hasrat dan kesenangan.
Neraka buatan untuk melakukan ritual rahasia yang diciptakan oleh Christian Rosencreutz — atau orang yang memakai nama tersebut — telah dibajak. Dan karena celahnya sempit, maka peluang untuk berhasilnya juga tidak pasti.
Tentu saja.
Itu tidak akan mudah.
Beberapa orang bahkan bertanya-tanya, apa itu bisa berhasil?
Christian Rosencreutz telah berusaha keras untuk mempersiapkannya namun Anna Kingsford malah membajaknya, bahkan membiarkan si anak lelaki menggunakannya. Walaupun membuat dirinya sendiri tidak selamat.
Kingsford sama sekali tidak punya ruang untuk bangkit.
Ini adalah langkah yang sangat berisiko, Seorang pakar pun harus siap menghadapi kegagalan.
Jadi wajar saja jika hasilnya seperti ini.
“Ki hi hi.”
Kematian adalah sesuatu yang mutlak.
Bahkan Kamijou Touma tidak lagi mempunyai masa depan setelah dirinya mati.
“Ii hi hi hi hi hi hi hi hi ☆”
Lanskap Putih dan Hitam
the_DEATH.
Ini adalah SMA biasa di Distrik 7.
Atau begitu seharusnya.
Sekolah lain menyelenggarakan upacara pembukaan, tapi tidak dengan sekolah ini.
Banyak orang datang silih berganti.
Namun, meskipun ini sekolah, tapi tampak ramai orang dewasa.
♦
“Tukang bunga baru saja tiba.”
“Aku tahu, tapi mana garamnya?! Siapa orang bodoh yang lupa memesannya?!”
“Toko palugada berdiskon tidak buka sampai jam 10.”
“Pesan secara daring tidak akan sampai tepat waktu. Cepat pergi ke minimarket!”
♦
Karyawan berbagai bisnis berlarian ke sana kemari: persewaan pakaian, peralatan tata suara dan lampu panggung besar, dan katering yang menyediakan makanan ringan dan minuman sebagai pemenuh nutrisi dan membantu orang beristirahat. Tempat itu terasa seperti belakang panggung selama suatu acara. Pemandu acara tersebut bukanlah seorang penyiar, melainkan seorang komedian tidak populer. Dia bisa saja mengenakan mikrofon jarak dekat di telinganya, tapi dia bersikeras untuk mengenakan mikrofon besar di dudukan mikrofon. Itu mungkin hanya preferensi pribadinya dan di luar dari tata upacara yang seharusnya.
Aogami Pierce mendesah pelan di ruang kelas yang baru.
“Mengapa orang-orang itu terlihat seperti sedang mengadakan pertunjukan di distrik perbelanjaan?”
“Mungkin karena mereka memang begitu. Mereka pada dasarnya adalah pelawak, tapi mereka mempelajari hal-hal tentang kuil Buddha di perguruan tinggi. Jadi mungkin ini bisa dihitung sebagai latihan bagi mereka?”
Fukiyose Seiri memiliki semua informasinya.
Kalau dipikir-pikir, bukankah dia biasanya menjadi sukarelawan untuk panitia yang menyelenggarakan kegiatan sekolah?
Aogami Pierce mengamati sekeliling kelas yang suram.
“Apa kau lihat orang-orang aneh yang berkeliaran di gerbang depan? Mereka semua pakai ponsel pintar, apakah wartawan zaman sekarang tidak lagi membawa kamera yang berat?”
“Itu sebabnya sekolah membuka gerbang belakang untuk para guru. Mobil jenazah, yang bagian dalamnya diisi es kering agar suhu tetap dingin, akan segera tiba.”
Mungkin itu sebabnya tirai ditutup di pagi hari? Jika kita terlalu dekat dengan jendela, kita mungkin akan mendapati drone mirip mainan yang sedang merekam kita.
Stasiun TV juga mengerahkan reporter ke lokasi kejadian.
Mereka tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Sebagai teman sekelas sang mendiang, hal itu membuat mereka gelisah.
Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi mereka tahu kalau itu adalah masalah besar.
Sesuatu yang besar telah terjadi selama liburan musim dingin.
“Coba mereka kirim reporter wanita seksi dengan setelan rok mini.”
“Benar. Ini bukan pekerjaan yang cocok untuk wanita itu. Ini tidak akan jadi laporan kuliner yang membahas makanan khas daerah yang bahkan belum pernah terdengar. Kelihatannya malah akan jadi berita hantu gentayangan di hari kunjungan orang tua.”
“Maksudmu Nenek Bavaria dari Dunia Pendidikan? Wah, masih pagi kau sudah jadi bahan cerita minat insani, Kami-yan.”
“Itu lebih baik daripada ada seorang spiritualis gadungan datang dan melantunkan mantra Buddha kepadanya, iya kan? Tahu-tahu, mereka bilang bahwa siswa yang meninggal di sekolah kita adalah seorang pejuang yang gugur dan kuburannya sudah ada di sini dari zaman dahulu atau semacamnya. Syukurlah ini adalah Academy City.”
Betapapun tertekannya suasana hati, orang-orang tidak dapat menahan diri untuk tidak berbicara ketika sudah berkumpul. Mungkin itu memang sifat manusia.
Tidak.
Mungkin mereka lebih takut akan tekanan dari keheningan.
Jadi mereka secara tidak sadar menghindarinya.
Seseorang telah meninggal, tapi para guru tak menjelaskan apa-apa.
Serta ada banyak sekali wartawan di sini.
Suasananya terlalu meresahkan untuk bisa diabaikan begitu saja. Hal ini menyebabkan tersebarnya rumor. Ya, rumor yang tak berdasar.
“Ada dugaan tindak kejahatan tapi detailnya tidak jelas, ya?”
“Terdengar seperti Academy City.” hanya itu yang diucapkan Fukiyose.
Meski terdengar masuk akal, mereka tidak punya bukti nyata.
Itu hanya basa-basi. Kalau mereka tahu yang sebenarnya, mereka mungkin tidak akan mengatakan apa-apa.
Aogami Pierce kembali mendesah.
“Aku dengar kita bakal diliburkan tengah hari nanti.”
“Itu untuk kelas lain. Kita akan naik bus ke krematorium, jadi ini akan menjadi hari yang panjang.”
“Bagaimana dengan makan siang? Aku agak khawatir soal itu. Aku sangat sibuk pagi ini sampai ketinggalan sarapan.”
“Apa kau terlalu sibuk untuk melihat pesan yang dikirim ke seluruh kelas? Kita disuruh bawa bekal makan siang sendiri hari ini.”
Jadwal hari itu telah diubah pada detik terakhir, tetapi hari ini hanya dimaksudkan sebagai upacara pembukaan. Para guru tampaknya tidak berpikir ini akan memengaruhi kelas mereka. Yang membuat para siswa bertanya-tanya apa gunanya upacara pembukaan itu. Bukankah itu berarti mereka akan membuang-buang waktu libur musim dingin mereka?
Ekspresi sadar baru muncul pada Aogami Pierce.
“Hm? Tunggu. Berarti aku tak bisa ke kafetaria atau kantin sekolah dong?”
“Kau hanya akan menemukan ruangan kosong dan sepi. Upacara pembukaan seharusnya berakhir pada tengah hari dan kegiatan klub juga tidak ada. Mereka tidak akan menyiapkan menu untuk makan siang.”
“Tu-tu-tu-tunggu, kalau begitu aku pergi ke minimarket dulu!!”
“Coba saja kalau kau mau, tapi yang terdekat mungkin akan penuh dengan wartawan lemas yang saling ngobrol di area tempat makan. Kau yakin mau pergi ke sana? Wajahmu akan muncul di sampul tabloid sebagai teman sekelas yang berduka.”
“Hei, tunggu. Ah!! Sensei sudah datang. Acaranya sudah dimulai!”
Waktu luang mereka telah berakhir.
Saat teman-teman sekelasnya mengobrol, pintu geser di dekat papan tulis terbuka dan Tsukuyomi Komoe, wali kelas mereka pun masuk. Dengan tinggi 135 cm, dia adalah guru yang sangat ramping dan dia memilih pakaian dari kain tebal agar tetap hangat di cuaca dingin. Kalau saja dia tidak mengenakan kerudung di kepalanya, pakaiannya mungkin terlihat seperti seragam SD swasta.
Dia berbicara sambil hanya menjulurkan kepalanya di atas mimbar.
Mungkin untuk itu pun dia berjinjit.
“Himegami-chan, Fukiyose-chan, dan yang lainnya. Sebelum kelas-kelas menuju auditorium satu per satu, aku ingin mengambil absen, jadi silakan duduk. Kelas satu masuk lebih dulu, jadi kita tidak punya banyak waktu.”
“Mengapa kami dikirim ke sana kelas demi kelas?”
“Seseorang mengacaukan desain auditorium, jadi pintu masuknya terlalu sempit. Jika semua orang mencoba masuk sekaligus, aku rasa kita akan terjebak,” jelas Fukiyose, terdengar jengkel.
Seorang guru olahraga memanggil mereka dari luar. Guru berdada besar yang selalu mengenakan baju olahraga.
Para murid berbaris keluar menuju lorong.
Meskipun ini adalah awal semester ketiga, tapi tidak ada upacara pembukaan.
Hari ini adalah hari yang istimewa.
Hari pemakaman Kamijou Touma.
Di dalam asrama pelajar di Distrik 7.
Tepatnya, di dalam kamar lantai tujuh.
Othinus yang seukuran telapak tangan, dewa setinggi 15 cm, berdiri tegak di atas meja kaca. Kotatsu telah disimpan karena penggunaan listriknya terlalu mahal.
Mereka harus mengemas barang-barangnya.
“Tinggalkan kuncinya di dekat telepon.”
“Aku tahu. Aku punya ingatan sempurna.”
Itulah yang terjadi pada Index, seorang gadis yang mengenakan jubah biarawati putih dengan sulaman emas yang membuatnya tampak seperti cangkir teh mewah, tetapi Othinus tidak dapat mempercayai keakuratan gadis itu karena alasan yang sangat berbeda. Dia memang akan mengingat semua yang dilihat dan didengarnya, tapi dia tidak mampu menjelaskan kenapa sekantong besar kerupuk beras untuk dimakan setiap orang sedikit demi sedikit selama bulan Januari sekarang menjadi kosong?
Seekor kucing pun mengeong.
“Oh, benar. Dia.”
“Kita tidak bisa meninggalkan Sphinx di sini, bukan?”
Index mengambil si kucing belacu.
Seperti yang selalu dilakukannya.
Kucing itu tampaknya tidak memahami keadaan manusia.
Othinus tidak ingin terjebak bersama kucing itu, jadi dia mengalihkan pandangannya dari si binatang buas dan bertemu dengan pandangan seekor merpati yang tengah berlindung dari hujan di pagar balkon yang sempit.
Simbol perdamaian itu menatap mata Othinus dan memiringkan kepalanya. Makhluk berbulu itu tampaknya tidak mempermasalahkan dinginnya bulan Januari.
“Hanya itu?”
“Sepertinya begitu.”
Index menggendong kucing itu di tangannya. Dia belum mengatakan apa pun, tetapi Othinus sudah berada di bahunya.
Othinus dengan arogan menyilangkan kakinya dan berbisik dengan suara rendah.
“Baiklah, sudah siap?”
“…Ya.”
“Yakin hanya kucing yang kau bawa dari kamar ini?”
“Karena ini adalah kamar Touma.”
“Kau benar.”
Keadaan mereka berbeda, namun mereka berdua tetaplah tukang numpang di sini.
Kamar itu milik orang lain.
Dan meniliknya kembali, mereka sadar betapa banyak anak lelaki itu telah berbagi dengan mereka. Meskipun dia tidak berkewajiban untuk melakukannya. Dia tidak begitu kaya dan terus-menerus mengeluh sebagai siswa yang miskin. Namun ketika menerima mereka berdua, dia melakukannya tanpa berpikir dua kali.
Index memakai sepatunya di pintu depan.
Apakah dia tidak akan pernah bisa melakukan tindakan santai itu lagi?
Index tidak mengatakan apa-apa untuk beberapa saat.
Setelah mengetukkan jari kakinya ke lantai untuk menyesuaikan kakinya, biarawati putih itu membuka pintu depan. Index menoleh ke dalam ruangan itu sekali saja, tetapi yang dilihatnya hanyalah ruang kosong.
“…”
Pintu tipis ke kamar asrama pelajar itu tertutup dan bunyi klik dari kuncinya berbunyi keras.
Tidak ada rasa kegembiraan pada awal semester ketiga.
“Apa sudah pas?” tanya Misaka Mikoto.
Saat itu jam 8 pagi.
Hanya minimarket dan restoran kasual yang buka saat ini, tapi Mikoto berada di dalam toko kimono di Mall besar. Dia berdiri diam di depan cermin besar. Dia mengikat rambut pendeknya dan tidak mengenakan blazer khas SMP Tokiwadai. Dia mengenakan kimono hitam, yang tampak tidak cocok untuk seorang gadis berusia 14 tahun. Desain sisir setengah bulan adalah lambang keluarga Misaka.
Ini adalah pakaian berkabung.
Dia tentu saja tidak akan menghadiri upacara pembukaan sekolahnya dengan pakaian seperti ini.
(Ini tidak seperti furisode Tahun Baru. Ini lebih berat.)
“Misaka-saaan, apa kau sudah selesai?”
Wajah yang familiar muncul.
Shokuhou Misaki tampaknya memilih pakaian berkabung ala Barat.
Tapi kenapa pakaianannya begitu transparan dan terbuka?
Itu lebih mirip gaun hitam untuk pesta.
Secara spesifik, gaun dan kerudungnya berwarna hitam indah, tetapi nampak belahan di mana-mana dengan aksesori mutiara yang berkilauan di sana-sini. Apa gadis itu mau pamer?
Entah kenapa gadis aneh itu menatap Mikoto dengan tatapan aneh.
“Pakaian Jepang adalah pilihan yang buruk bagi seseorang yang tidak tahu cara mengenakannya. Pilihanku jelas lebih praktis.”
“Tiap pakaian punya kerumitannya masing-masing. Toh, kita tidak sedang memakai kostum, yang tinggal tutup ritsleting belakang lalu selesai.”
“Kalau dipikir-pikir, bukankah kau tidak pernah memakai kaus kaki panjang?”
“Semuanya akan meleleh seperti keju ketika terkena arus bertegangan tinggi, jadi tidak.”
Dan akhirnya dia memilih pakaian Jepang.
Misaka Mikoto tidak ingin berurusan dengan garter belt dan stoking.
…Tetap saja, Mikoto senang telah mendapatkan bantuan dari ratu yang licik itu karena dia tahu cara menyewa toko kimono sebelum toko itu buka hari itu. Kualitas toko ini luar biasa bahkan dengan pekerjaan yang terburu-buru seperti ini. Tapi mungkin itu memang permintaan akan pakaian berkabung. Mikoto sendiri tidak yakin apakah dia akan mempertimbangkan untuk mendapatkan pakaian berkabung. Meski begitu, seragam Tokiwadai terlalu mencolok untuk upacara berkabung, jadi dia ingin sesuatu yang lain untuk dikenakan.
Mikoto tidak terbiasa membawa tas kecil. Meski harus mengurus semua dokumen terkait asuransi yang menyebalkan, dia menyetujui semua rekomendasi karyawan dan kemudian membayar dengan kartu.
Mereka berdua meninggalkan toko bersama-sama.
Shokuhou Misaki langsung memegang bahu dan menggigil. Apakah dia mencoba menonjolkan payudaranya?
“Brr, dingin sekali!! Ini benar-benar bulan Januari, ya? Kupikir dengan banyak belahan dan renda tipis akan terlihat seksi, tapi hawa dingin musim dingin benar-benar menusuk.”
“Oh gitu.”
“Tunggu, kenapa kau tidak merasa dingin sepertiku? Misaka-san, apakah energi pakaian berkabungmu diisi dengan katun halus atau semacamnya?!”
“Hentikan, jangan peluk-peluk aku. Itukan pilihanmu sendiri, dasar eksibisionis bodoh. Tanggung sendiri deritamu.”
Benarkah itu pakaian berkabung musim dingin, jadi mengapa kulitnya terlihat?
Dan bukankah biasanya kita mengenakan selendang atau stola di bahu agar tetap hangat saat berada di luar?
Mikoto menatap ke kejauhan dan bergumam pada dirinya sendiri.
“Katanya anak-anak tidak merasakan dingin atau orang bodoh tidak bisa masuk angin.”
“Aku tidak ingin mendengarnya dari gadis yang memakai celana pendek, tidak peduli seberapa hujan atau beranginnya cuaca.”
Shokuhou beruntung karena dia tidak mengenakan selendang. Karena Mikoto mungkin akan mencekiknya dengan selendang itu.
Tepat saat Ace dan Queen Tokiwadai hendak mulai bergulat di lorong luar lantai 2, sesuatu melintas di sudut pandangan Mikoto.
Sumbernya dari terminal terbuka di bagian dalam mall besar berbentuk C.
Itu lampu depan taksi.
Taksi model wagon beratap tinggi ini dibuat berdasarkan taksi London. Bentuknya sangat bulat dan imut.
Shokuhou Misaki sedang menggunakan ponselnya sambil berjalan.
Dia tampaknya menggunakan aplikasi pemanggil taksi.
“Kita tidak mungkin berjalan-jalan di seluruh kota dengan pakaian seperti ini, kan?”
“Kau benar,” Mikoto mengakui dengan jujur.
Ya…
“Gara-gara kau berpakaian terbuka seperti kanal video yang ingin sekali meningkatkan jumlah pengikutnya. Jika kau berjalan di tempat terbuka, Anti-Skill akan segera muncul bahkan di pagi buta seperti ini.”
“Hah. Aku benar-benar tidak ingin mendengar itu dari gadis 14 tahun yang berlenggak-lenggok dengan kimono berkabhbhbhbhbhbbh?!”
Oh, ternyata rantai dompet pun bisa digunakan untuk mencekik.
Mall itu belum resmi dibuka, jadi eskalatornya belum beroperasi. Setelah menggunakannya seperti tangga untuk mencapai lantai dasar, Mikoto dan Shokuhou naik ke kursi belakang taksi.
Supirnya adalah seorang wanita. Mungkin itu adalah sesuatu yang dapat kita pesan melalui aplikasi tersebut.
“Ke mana?”
“Ke SMA Distrik 7 yang baru saja dibangun ulang. Sekolah yang mewajibkan pakaian serba hitam seperti ini untuk masuk.”
“Baik.”
Hanya itu yang dikatakan si supir.
Taksi itu melaju mulus ke jalan umum.
Supir itu dengan serius mematikan iklan LCD yang terlalu terang.
Pakaian Jepang hangat Mikoto cukup lembut sehingga membuat dia kesulitan memasang sabuk pengaman. Setelah memastikan dia mendengar bunyi klik, dia pun mendesah.
“Jadi, apa mau kita bagi dua ongkosnya?”
“Maaf, tapi ini kendaraan sewaan dengan kontrak yang diperbarui setiap enam bulan, jadi bukan bergantung pada jarak tempuh. Apakah kau mau membayar selama setengah tahun penuh?”
“Masa bodoh.”
Lingkungan mereka yang makmur memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam bisnis yang berhubungan dengan kendaraan seperti ini, biasanya sering dijadikan ajang pamer, tapi di Tokiwadai beberapa gadis bahkan menyewa helikopter. Dan tidak seperti di film, mereka tidak bisa mendarat di atap gedung mana pun, yang membuat mereka sangat tidak nyaman untuk berkeliling kota.
Taksi… atau secara teknis itu adalah kendaraan sewaan? Apa pun itu, mobil itu melaju dengan lancar.
Kota ini memiliki nuansa yang unik di pagi hari.
Beberapa restoran menyajikan menu pagi, tetapi sebagian besar lokasi industri jasa lainnya menutup rolling door mereka. Kota itu masih belum terbangun dari tidurnya. Di beberapa tempat, kedua sisi jalan utama menolak pelanggan.
Tidak.
Bukan hanya itu.
“…”
Karena tidak ada yang perlu diajak bicara dengan si ratu licik, Mikoto pun melihat ke luar jendela.
Academy City hancur berantakan.
Bangunan di sana-sini ditutupi oleh lembaran kedap suara dan peralatan konstruksi seperti buldoser dan truk pengaduk beton melaju ke segala arah. Di beberapa persimpangan, lampu jalan gelap dan orang dewasa mengatur lalu lintas. Mereka pasti menggunakan teknologi peredam kebisingan, karena jika diperhatikan lebih dekat, kita dapat melihat kilatan lampu las yang dilakukan sepagi ini.
Anna Sprengel, Christian Rosencreutz, dan Alice Anotherbible. Perbaikan kota telah tertunda karena munculnya insiden besar satu demi satu.
(Meski begitu, aku tidak terlibat dalam semuanya.)
Apakah hasilnya akan berbeda seandainya dia terlibat?
Mikoto tidak yakin dia bisa selamat dari insiden yang bahkan si bodoh itu pun tidak bisa mengatasinya.
Dia tidak merasa selamat.
Dia merasa ditinggalkan.
Itu lebih akurat menggambarkan perasaannya.
Namun, yang telah kehilangan nyawanya mungkin akan marah jika mendengar dia berkata begitu.
Dia melihat kota berwarna putih, hitam, dan abu-abu.
Keindahan luarnya telah terkikis.
Sekedar melihatnya saja membuat kesuraman menyelimuti dirinya bagai abu vulkanik.
Dia menggumamkan beberapa patah kata sambil matanya masih tertuju ke luar jendela.
“…Berapa lama lagi?”
“Kita hampir sampai.”
Di bandara internasional Haneda.
Kanzaki Kaori adalah orang Jepang, jadi dia bisa berbaur dengan mudah di antara kerumunan (termasuk katana sepanjang 2 meter yang dia sembunyikan di antara barang bawaannya). Dia tahu bahwa dia dipilih untuk peran ini karena tujuan itu.
Amakusa saat ini dilindungi oleh Gereja Anglikan.
Hal ini tentu saja berdampak pada tindakan mereka.
(Tetapi…)
Dia menarik banyak perhatian.
Dan bukan karena dia mengenakan atasan yang memperlihatkan perut dan celana jin dengan sebagian terpotong di pangkal paha.
“Sampai kapan kau akan terus menangis?”
“Tapi…”
Dia bersama Itsuwa.
Mereka telah menerima kabar tentang kematian anak lelaki itu beberapa waktu lalu. Meskipun begitu, Itsuwa telah bersikap seperti ini selama penerbangan. Pramugari terus menatapnya dengan cemas dan anak di kursi di dekatnya terkekeh, mungkin karena dia mengira Itsuwa bereaksi berlebihan terhadap sebuah film.
Tapi Itsuwa seharusnya menjadi anggota Gereja Amakusa yang berpegang teguh pada imannya meskipun harus bersembunyi.
Saat Itsuwa akhirnya menjawab, matanya merah karena terlalu banyak menggosoknya.
Tatemiya, Tsushima, dan yang lainnya berhasil menahan diri, tetapi tidak dengan Itsuwa.
“Apa kau tidak keberatan, Priestess? Maksudku… kita tidak akan… tidak akan bisa lagi melihatnya.”
“…”
Kanzaki gagal menyelamatkan seseorang.
Dia selalu bersikeras akan menyelamatkan semua orang, namun ini adalah perasaan yang sudah tidak asing lagi bagi Saint Kanzaki Kaori. Dia selalu menjadi satu-satunya yang selamat dan dunia tidak pernah berubah.
Anak lelaki itu sudah meninggal, tetapi waktu terus berjalan.
Tanpa ampun.
Tidak, Kanzaki tidak bisa membiarkan kematian terjadi dan melupakannya begitu saja. Tapi ada banyak hal yang harus dilakukan karena seorang telah meninggal.
Kanzaki mendesah pelan.
Aroma kari pagi tercium, mungkin dari ruang tamu. Sama seperti hari-hari lainnya.
Distrik 23 Academy City memiliki bandara internasional. Ada penerbangan langsung ke sana dari Inggris. Jadi mengapa kelompok Amakusa memasuki Jepang melalui Haneda, yang berada di luar kota?
Kanzaki Kaori diam-diam meminta konfirmasi.
“Kau tahu apa yang harus kita lakukan, bukan?”
“Ya…”
Academy City yang kelabu hancur setelah sekian banyak pertempuran beruntun.
Sebuah mobil panjang, ramping dan mengkilap melaju perlahan menembus kota, tampak janggal di antara semua kerusakan yang terjadi terlalu cepat untuk diperbaiki.
Warnanya hitam dan emas.
Itu adalah mobil jenazah.
Para pekerja yang mengatur lalu lintas memutar stik merah mereka untuk menjaga mobil jenazah tetap bergerak, pasti mereka sudah saling paham.
Academy City memiliki ciri yang tidak biasa, yakni 80% penduduknya adalah pelajar. Perumahannya sebagian besar terdiri dari asrama pelajar. Hal ini sangat mengubah metode upacara kematian dan pemakaman dibandingkan dengan kota-kota biasa. Misalnya, mayoritas orang tidak memiliki kerabat sedarah di kota tersebut, sehingga jenazah biasanya tidak dikembalikan ke rumah untuk disemayamkan setelah kematian dikonfirmasi di rumah sakit. Upacara pemakaman diadakan di aula upacara atau jenazah disimpan di kamar mayat untuk beberapa saat.
Selain itu, pemakaman biasanya diadakan di sekolah mendiang.
Hal ini memiliki beberapa tujuan: membantu mengurangi dampak kematian pada guru dan murid, fasilitas khusus apa pun untuk tujuan itu jumlahnya akan terlalu sedikit untuk menampung semua korban tewas di kota, dan yang paling penting, hal ini membuat pernyataan jelas tentang siapa yang memiliki yurisdiksi atas jenazah yang telah melalui program pengembangan esper.
Secara keseluruhan, ini berarti tidak ada yang menyembunyikan tanggal pemakaman.
Karena itu, jika kita mengetahui lokasi awal dan akhir — rumah sakit dokter berwajah katak dan SMA biasa dalam kasus ini — kita dapat memperkirakan rute yang akan dilalui mobil jenazah. Panjang mobil jenazah yang tidak biasa membatasi jalan yang dapat dilaluinya.
Sebuah bangunan miring setelah pembangunannya tertunda.
Di atas atapnya, Manusia Aleister mencengkeram pagar yang bengkok dan menatap tajam ke tanah.
Mobil jenazah itu sangat rentan.
Aleister hanya bisa membayangkan mereka tidak menyadari nilai dari apa yang mereka bawa.
Anjing golden retriever di sampingnya berbicara dengan nada getir.
“Jangan.”
“Tapi ini kesempatan terakhir.”
“Antarkan dia dengan benar. Selaaknya yang dilakukan oleh seorang sahabat sejati.”
“Aku tahu!! Tapi ini satu-satunya kesempatan untuk mencuri mayatnya secara utuh!” teriaknya.
Siapa pun dapat memilih untuk melakukan hal yang benar. Namun, ada jalan yang tidak dapat ditempuh dengan cara itu. Sepanjang sejarah manusia ini, dia dibenci karena menempuh jalan tersebut.
Dia tidak meminta pengertian orang lain.
Dia telah belajar dengan sangat baik sepanjang hidupnya bahwa seseorang yang berpura-pura pintar dengan melontarkan kritik dari posisi aman tidak akan pernah bisa mengarahkan sejarah ke arah yang positif.
Jika dia ingin mengubah keadaan, itu harus dilakukan sekarang.
Peluangnya cepat berlalu. Peluangnya terus berkurang.
Dan tidak akan meningkat.
“Dia akan berada di krematorium dalam beberapa jam lagi!! Begitu tulang-tulangnya terbakar dan tidak ada sehelai rambut pun yang tersisa untuk mengambil peta DNA-nya, semuanya berakhir. Dan aku benar-benar tidak akan bisa berbuat apa-apa. …Melakukan hal yang benar? Omong kosong, itu hanya untuk menghibur diri sendiri, tidak ada yang lain!!! Hidupku selalu saja seperti ini! Sudah terlambat untuk menyesalinya begitu semuanya berakhir!!”
Kematian anak lelaki itu telah dikonfirmasi.
Anak lelaki itu sudah tidak bisa lagi dihidupkan dengan kejut listrik atau pijat jantung.
Mengapa?
Pada tahap ini, mengapa begitu terobsesi dengan tubuhnya?
Mengapa dia harus mencurinya secara utuh?
Pendapat Aleister sederhana.
Aleister tidak bisa menerimanya.
Aleister telah menyaksikan momen kematian berkali-kali.
Tapi bukan berarti dia terbiasa.
“Academy City memiliki teknologi kloning.”
Siapa pun akan berpikir seperti ini.
Jika ada cara untuk membatalkan kematian, apa salahnya mengandalkannya?
Ini benar-benar bisa jadi kesempatan terakhir. Jadi berjuanglah. Dia tidak punya kewajiban untuk menyerah dan melindungi tatanan alam.
Dia berteriak.
Dengan seluruh tenaganya.
“Bagaimana dengan power suit yang diisi dengan perangkat pendukung kehidupan, teknologi cyborg, hantu buatan, atau bahkan memberikan gerakan otonom pada mayat yang diawetkan! Ya, dia memang sudah mati, terus kenapa? Kematian bukanlah alasan untuk menyerah!! Jika aku yang membuat semua kesalahan itu sendiri, maka dia bisa kembali tersenyum di dunia ini!!!”
Si anjing golden retriever tidak berkata apa-apa.
Aleister pasti tahu dia salah.
Namun, Kihara Noukan menyadari betapa bodohnya menolak emosi seseorang berdasarkan apa yang secara logis benar. Selain itu, keluarga Kihara tidak mementingkan apa yang dianggap "benar" oleh masyarakat umum.
Aleister adalah manusia sejati.
Terlepas baik dan buruknya.
Kihara Noukan sebenarnya menyukai sisi Aliester yang lebih berantakan. Itu fakta.
“Tapi.”
Anjing golden retriever menggunakan lengan mekanik kurusnya untuk menaruh cerutu di mulutnya.
Dan dia menyiapkan korek api khusus untuk menyalakannya.
“Tidak semua orang mengerti romansamu.”
Tanpa peringatan dan semurah dalam drama TV, hujan dingin mulai turun.
Kihara Noukan menatap cerutu Kuba kualitas tingginya dengan kecewa.
Atapnya merupakan properti milik pribadi, jadi peraturan dilarang merokok di Academy City seharusnya tidak berlaku di sana.
“…”
Tidak ada tanda-tanda kemajuan.
Hujan ini sungguh tidak alami.
Namun sekali lagi, mungkin salah jika mencari sesuatu yang alami di dalam Academy City.
Sebuah suara berbicara di tengah hujan yang deras.
“Tenanglah.”
Tentu saja wujud sebenarnya tidak ada di sini.
Suara yang familiar itu tidak terdengar dari pengeras suara. Bahkan seorang peneliti dengan nama Kihara pun sedikit terkesan.
“Suara tetesan hujan. Jadi, apa kau menirukan suaramu pada getaran tetesan air hujan?”
Sementara itu, manusia itu berbicara dengan suara rendah.
Seolah-olah dia mengucapkan kutukan yang kuat.
“Ketua Dewan baru, ya?”
“Dan sadarlah. Kau tidak punya pilihan. Orang rendahan itu sudah memutuskan pilihannya di hari itu. Hanya itu. Tak satu pun dari kita bisa masuk seenaknya dan mulai mengacaukan segalanya.”
bukan sekedar tebakan.
Itu benar-benar hujan buatan yang diciptakan oleh teknologi Academy City.
Accelerator dapat dengan bebas mengendalikan seluruh cuaca dan lingkungan dunia, tetapi nyawa satu orang berada di luar jangkauannya. Mengendalikan begitu banyak pengetahuan yang hebat tidak cukup untuk membuat seseorang bahagia.
Tetapi itu semua belum cukup memadamkan obsesi Aleister yang membara bak lahar panas.
Seperti uap, emosi luar biasa muncul dari bahunya.
“Kau tidak bisa membiarkan ini terjadi begitu saja, bukan? Kau harusnya mengerti. Dia tidak perlu mati. Anna Sprengel, Christian Rosencreutz, dan Alice Anotherbible — itu semua adalah masalah yang seharusnya kita selesaikan! Tapi, dia menanggung semuanya sendiri!! Dan sekarang kau mau menyerah? Kau pasti mengerti! Jika kita mengikuti moralitas umum yang dipahami semua orang, kita akan kehilangan dia selamanya!!”
“Ya,” ucap Accelerator.
Accelerator menerima kemungkinan bahwa sesuatu yang seharusnya berakhir dapat terus dilanjutkan dengan menggunakan metode yang kejam dan mengerikan.
Jika yang ingin dilakukan hanyalah membuat daging dan tulang yang disebut Kamijou Touma terus beroperasi, maka itu bisa dilakukan.
Kita dapat memperbaiki otak yang berhenti berfungsi dan mengalirkan kembali sinyal listriknya. Semudah itu.
Tapi.
Akan tetapi…
“Tapi ini bukan kotamu lagi.”
“Kh.”
“Aku tidak merampasnya darimu dengan tidak adil. Kau sendiri yang menyerahkan kuncinya padaku karena kau merasa puas. Mencoba mengambilnya kembali seolah-olah masih menjadi milikmu itu sungguh menyedihkan.”
Bukan berarti Accelerator berhati dingin.
Dia tahu apa artinya ini.
Dia punya pemikirannya sendiri tentang masalah itu. Namun, Accelerator tampaknya sedang melawan emosinya sendiri. Sang peringkat 1 tahu apa yang terjadi saat emosi dan akal sehatnya bertarung lalu emosi yang menang. Setelah merangkak melewati kegelapan kota, dia tahu betul.
Dan dia tahu jalan berdarah itu tidak mengarah ke mana pun.
Maka dia akan menunjukkan bahwa keinginannya untuk tidak kembali dan tetap menempuh jalan satu arah, lebih dari sekedar permainan kata-kata.
“Aku tahu,” kata Ketua Dewan yang baru. Suaranya tegas. “Setelah memilih berpartisipasi dalam eksperimen untuk membunuh 20 ribu klon, aku tahu apa artinya kematian. Dan merupakan kebebasan bagi yang hidup untuk berjuang melawan kematian. Begitulah seharusnya. Tapi, mengusik seseorang yang sudah mati adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Mirip, tapi sangat berbeda, Aleister.”
Jumlah klon yang tadinya 20 ribu telah berkurang menjadi kurang dari 10 ribu.
Bolehkah dia menebus dosanya dengan menggunakan sel DNA yang sama untuk menghasilkan 10 ribu gadis lain dengan wajah yang sama?
Mana boleh.
…Kata-kata yang tak terucap itu membuat Aleister tercengang.
Bahkan orang bodoh pun bisa mengerti ini.
Accelerator benar, tidak dapat disangkal.
Cerutu Kihara Noukan yang basah dan belum dinyalakan bergoyang tak berdaya di mulutnya.
(Klon militer, ya? Eksperimen itu dimaksudkan untuk mengembangkan si peringkat 1. Atau setidaknya begitulah resminya. Eksperimen itu mendorong dia untuk tumbuh ke arah yang tak terduga, dan pendorongnya adalah kau, Aleister.)
“Seseorang tidak boleh menodai kematian orang lain. Pertanyaannya bukanlah apakah itu mungkin atau tidak. Fakta bahwa itu mungkin secara teknologi adalah alasan mengapa kita harus menahan diri.”
“…”
Aleister mendengarkan semuanya.
Dia mendengarkan suara tetesan hujan.
Tapi suara itu tidak sampai padanya.
Bukan berarti dia tidak memahaminya.
Bukan itu yang diinginkannya saat ini.
Bagaimana bisa menemukan kedamaian sejati dengan mengikuti jalan seperti itu?
Manusia Aleister menggertakkan giginya dan berbisik dengan suara sangat rendah.
“Setelah aku mendengarkanmu...”
“Hahh?”
“Bagaimana jika aku tetap menolak?”
“Tentu saja aku akan menghentikanmu, orang luar. Aku tidak akan membiarkanmu mengubah Academy City kembali seperti semula. Seperti yang sudah kukatakan padamu: ini bukan kotamu lagi.”
Suara yang terbawa oleh rintik hujan yang menghantam atap menyampaikan niat membunuh yang dingin.
Academy City mulai bergerak.
Rotor mengiris udara dengan keras.
“…”
Ini adalah helikopter serang Six Wings tak berawak.
Helikopter-helikopter itu telah digunakan dalam pertempuran selama beberapa waktu, tapi baru diketahui oleh media massa pada Perang Dunia Ketiga, yang diatur secara rahasia oleh Fiamma si Kanan. Dunia dikejutkan oleh pemandangan helikopter-helikopter yang secara akurat menemukan batalion tank musuh di tengah badai salju yang mengamuk dan kemudian hanya menghancurkan senjata musuh sambil menghindari semua tembakan anti-udara.
Itu adalah senjata tua.
Konon kemajuan terjadi dari hari ke hari, tapi nilai setiap menit dan detik memiliki efek yang jauh lebih besar di Academy City.
Senjata yang beberapa generasi lebih maju dari standar saat ini pasti tersembunyi jauh di dalam laboratorium di seluruh kota.
Ini adalah serangan dengan jumlah yang sangat banyak dengan teknologi yang sudah dikenal. Serangan itu efektif, tapi tidak menimbulkan risiko bagi orang yang memberi perintah. Itu adalah strategi "mengambil keuntungan besar tanpa ada resiko" yang membosankan. Pemimpin yang dikelilingi oleh tembok tebal dengan aman hanya perlu melihat masa depan yang jauh dan melontarkan argumen yang logis.
Itu adalah metode Ketua Dewan Academy City.
Aleister merasa seperti melihat dirinya yang dulu.
(Terlepas dari baik dan buruk, kau harus berurusan denganku, seseorang yang tahu Academy City luar dalam. Kupikir dia setidaknya akan diam-diam menyebarkan perangkat nano yang meniru virus mematikan, tampaknya dia tidak lagi punya banyak hal yang tersisa?)
“Itu saja?”
Aleister tidak merasa takut.
Dia hanya merasa marah.
Tanggapilah dengan serius.
Ini adalah garis pertahanan terakhir untuk menentukan nasibnya.
“Cuma begitu saja? Kau pikir itu saja cukup untuk membuat orang keras kepala sepertiku menyeraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah?!”
Kegelapan raksasa muncul dengan kekuatan yang begitu besar sehingga tampaknya siap menelan dunia sebelum terkonsentrasi dengan kuat ke satu titik di atas telapak tangan Aleister.
Hitam.
Itu adalah api hitam pekat yang tidak ditemukan di alam.
Itu adalah kehancuran pamungkas yang dikendalikan oleh "penjahat paling jahat di dunia" yang menubuatkan pecahnya Perang Dunia Pertama dan, karena dia tidak dapat mencegah jatuhnya korban jiwa, memutuskan untuk menggabungkan semua darah yang tertumpah di sana menjadi satu formula sihir raksasa.
“Penjaga Abyss, yakni, penghalang yang tak dapat ditembus siapa pun, dan monster yang memutuskan ikatan antar manusia untuk mencegah evolusi. Angkamu 333, maknamu dispersi. Wahai Iblis yang telah kuberi nama, berkumpulkan di tanganku, CORONZON!!!”
Aleister merasakan jantungnya sendiri berdebar-debar dengan tidak menentu.
Sesuatu yang tak terlihat telah diukir.
Dia sendiri bisa mengetahuinya.
Namun, inilah yang dimaksud dengan berpegang teguh pada pendirian.
Apakah dia pikir dia bisa melakukan hal ini tanpa risiko apa pun terhadap dirinya sendiri?
Selama tidak memaksakan kemalangan dan tragedi pada pihak ketiga yang tidak dikenal, Aleister akan menggunakan segala sihir terlarang.
Hal ini akan menyebarkan "percikan" dari tabrakan antar fase, tapi dia akan mengarahkan efek samping tersebut ke dirinya sendiri.
Keringat dingin yang sangat berbeda dengan hujan dingin terbentuk di wajahnya, tapi dia memamerkan giginya dan berbicara.
“Kau bukan monster. Kau sama manusianya seperti aku.”
“…”
“Kau telah mengumpulkan semua keburukan manusia, biar aku beri kau puncak kebodohan. …Inilah kematian. Jika kau menganggap kematian manusia sebagai sesuatu yang 'tidak dapat dihindari', maka angkat kepalamu dari tumpukan dokumen-dokumen itu dan tatap mataku. Akan aku uji seberapa parah kematian itu padamu!!!”
Sang suara bahkan tidak merespons.
Itu adalah penolakan total. Kurangnya pengertian yang mendalam. Mungkin itulah sebabnya Ketua Dewan yang baru sangat kecewa.
Tidak berakhir dengan menjatuhkan Six Wings.
Jauh di bawah, di permukaan, muncul monster yang tampak seperti senapan tank yang terpasang di atap truk lapis baja 8 roda. Itu adalah Predator Octopus. Dengan menghancurkan pilar-pilar sesuai dengan perhitungan yang cermat, bahkan bangunan seperti ini dapat dirobohkan.
Hanya senjata 120mm?
Menggelikan.
Siapa yang mau kau hancurkan dengan itu?
Semuanya terasa seperti usaha putus asa untuk menutupi kekurangan pasukan. Setelah serangan beruntun Anna Sprengel, Christian Rosencreutz, dan Alice Anotherbible, Academy City hancur. Tidak banyak pasukan tersisa.
Jika seseorang ingin mewujudkan keinginannya di dalam kota, sekarang adalah satu-satunya kesempatan.
Kendaraan roda 8 itu mengarahkan senjatanya untuk membidik Aleister.
Kendaraan itu tidak peduli dengan perlindungan atau pun rute pelarian.
Itu menunjukkan bahwa kendaraan itu tak berawak.
Terdengar suara ledakan.
Itu adalah suara gemuruh.
Yang diproduksi oleh tubuh manusia. Dinding udara terkompresi menerbangkan peluru udara, menghancurkan kendaraan tak berawak, dan menyebabkan aspal tenggelam secara melingkar. Jauh ke dalam.
(Aku tidak akan membiarkan dia dibawa ke krematorium.)
Jadi, Aleister sedang mencondongkan tubuhnya ke depan.
(Selama aku bisa mengamankan seluruh tubuh Kamijou Touma, masih ada pilihan. Banyak pilihan!! Aku bahkan tidak butuh bantuan dari Akademi Ci—)
Jdeeeer!!!
Tanpa peringatan, sambaran petir yang kuat jatuh dari langit, menusuk tubuh Aleister saat jatuh.
Accelerator belum meninggalkan penjara Distrik 10.
Tidak satu langkah pun.
Itulah batasan yang dia tetapkan pada dirinya sendiri.
Dan dia bahkan tidak membutuhkannya.
“Hm.”
Pipa gas, pipa air, dan kabel serat optik.
Segala macam pipa dan kabel ditata seperti jaring laba-laba di bawah Academy City. Panjang totalnya bisa melingkari bumi dua setengah kali lipat dan masih ada yang tersisa.
Jadi.
Dengan kekuatan pengendalian vektor yang luar biasa, tidak perlu meninggalkan penjara yang dijaga ketat. Selama dia tahu jalur yang efektif, dia dapat dengan mudah menggunakan benda-benda buatan di bawah tanah untuk memanipulasi atmosfer, menciptakan perbedaan tekanan, dan mengirimkan serangan listrik seperti tombak yang menusuk manusia yang berada beberapa stasiun kereta jauhnya.
Dia tidak pernah mengatakan dia tidak berdaya hanya karena dia tidak mau pergi.
Apa pun alasannya, dia tidak akan menggunakan krisis sebagai alasan untuk memperpendek hukumannya. Namun, dengan begitu banyak kekuasaan yang dimilikinya, dia tidak bisa membiarkan orang mati begitu saja ketika dia mampu menyelamatkan mereka. Keduanya adalah hal yang mutlak dalam benaknya.
Dia akan membuat keduanya bekerja sama.
Jadi Ketua Dewan yang baru telah mengasah kekuatan Level 5 peringkat 1-nya hingga ke titik ini.
Bisakah Accelerator menang melawan bajingan itu sekarang?
(Omong kosong.)
Accelerator menggelengkan kepalanya.
Apa gunanya menang?
Ngomong-ngomong, apakah dia memang butuh musuh?
Menciptakan dunia tanpa perlu adanya pemisahan antara kawan dan lawan akan menjadi tantangan yang jauh lebih besar. Namun, ada seorang anak lelaki yang telah mencapai sesuatu yang mendekati itu. Dia tidak terlalu peduli dengan sistem level, dia memahami orang dewasa dan anak-anak, dan dia tidak peduli apakah seseorang berasal dari dalam atau luar Academy City. Itu adalah hal remeh, tapi seseorang telah menciptakan dunia seperti itu.
Orang itu tidak takut gagal.
Sekalipun itu berarti malu, cedera, atau bertindak sia-sia, dia tidak ragu untuk mengulurkan tangannya.
Hal yang sama juga terjadi pada Accelerator. Dalam hidupnya yang terbilang singkat, saat-saat dia merasakan pertumbuhan yang nyata dalam dirinya biasanya adalah saat dia merangkak di lumpur. Si peringkat 1 dapat menghitung pengalamannya seperti itu dengan satu tangan, tetapi orang itu telah melakukannya setiap hari seperti hal yang biasa.
Orang itu telah tumbuh jauh lebih baik.
Yang menjelaskan mengapa Accelerator tidak pernah mampu mengejar ketertinggalannya.
Ketua Dewan Academy City?
Mungkin semua bentuk informasi terkumpul di sini.
Tapi bidang pandang orang itu pasti jauh lebih luas.
(Fokus pada isu yang ada.)
Accelerator melihat ke salah satu dinding selnya.
Monitor LCD di sana menampilkan segala macam informasi sekaligus dan saat ini sedang mengeluarkan suara.
Itu bukan suara kemarahan yang berapi-api.
Emosinya lebih menyerupai rasa dendam dengan konsistensi lumpur yang lengket.
Itu suara binatang yang terpojok.
“Kira-kira satu miliar volt. Apa itu telah menyadarkanmu, manusia?”
“Hm, jadi hujan buatan itu hanya tes. Untuk menguji seberapa jauh pengendalian vektor dapat memengaruhi kondisi atmosfer dan meteorologi!!”
Accelerator tidak menggunakan es kering atau perak iodida.
Pengendali cuaca ini menggunakan prinsip yang sepenuhnya berbeda untuk mengubah tekanan atmosfer.
Haruskah dia menciptakan plasma yang membakar untuk serangan selanjutnya?
“Tipuan seperti itu lumrah di sisi gelap. Orang-orang punya kebiasaan buruk untuk menerima kebohongan yang gampang mereka kunyah. Sungguh konyol. Kenapa aku perlu mengubah cuaca hanya untuk mendinginkan kepalamu. Banyak perusahaan swasta punya aplikasi prakiraan cuaca akhir-akhir ini. Jadi ada banyak orang akan memberikan nilai jelek setelah satu lelucon semacam ini keluar.”
Membakar bukanlah kata yang tepat.
Semua molekul oksigen di udara dipecah menjadi atom-atom individual sebelum terikat kembali dan mengeluarkan bau khas ozon.
Aleister menggertakkan giginya sambil membungkuk di atap saat serangan kedua yang dahsyat dijatuhkan ke arahnya. Kilatan yang menyilaukan dan ledakan yang memekakkan telinga menyusul.
“Gahhhhhhhhhhhhhhhh?!”
“Aku tidak butuh serangan pamungkas yang keluar satu kali.”
Kata-kata ini menampik segala hal yang dulu ada di Accelerator.
Dan dia mengucapkannya tanpa sedikit pun keraguan.
Apakah logika pertempuran ofensif dan pertempuran defensif sepenuhnya berbeda?
“Jika aku punya cara untuk menguras staminamu sedikit demi sedikit, aku harus terus melakukannya selama yang diperlukan. Aku bisa perlahan tapi pasti melemahkan pertahananmu. Aku akan terus bertarung dengan sumber daya yang kumiliki. Bisakah kau membunuhku sekarang juga? Jika tidak, maka kau akan tamat. Tidak masalah seberapa membosankan dan konyol kemenangan ini nantinya.”
“Ghhh!!”
Sambaran ketiga. Sambaran keempat.
Namun Aleister masih belum hancur.
Aleister Crowley tidak tumbang.
Semua orang menerima kematian anak lelaki itu.
Aleister harus mempertimbangkan apa yang akan hilang jika dia merusaknya.
Sekali lagi saja!!
“Masih… belum!! Kali ini aku akan berhasil… Aku akan menggunakan setiap pengetahuan yang kumiliki!! Tapi bukan untuk diriku sendiri. Agar dia bisa bangkit dan sekali lagi mengulurkan tangan kanannya untuk menyelamatkan lebih banyak orang! Aku akan mendobrak segala tabu yang menghalangi jalanku. Selama tidak menyerah pada kehidupan, maka aku akan mengalahkan musuh yang paling kuat sekalipun!”
“Kalau sudah mengalahkannya, lalu apa? Kenapa kau perlu membuat musuh?”
Aleister tidak punya jawaban.
Dia tidak dapat menemukan sesuatu untuk dikatakan.
Dia bukan hanya manusia yang pernah menjadi anggota cabal sihir terbesar di dunia dan telah memanfaatkan sepenuhnya ketenarannya di dunia itu, tapi juga telah membuat banyak musuh dan akhirnya menghilang dalam bayang-bayang sejarah. Aleister sendiri tahu apa yang akan terjadi jika dia membanggakan diri sebagai penyihir paling terkenal di dunia.
Kehidupan yang penuh dengan membuat musuh dan mengalahkan musuh tidak akan membawa pada kebahagiaan.
Daripada mengerahkan tenaga untuk menyelesaikan masalah dengan membunuh, dia seharusnya berupaya lebih keras untuk menjelaskan keadaannya. Agar tidak terjadi konflik atau kesalahpahaman. Upaya ke arah itu jauh lebih sehat dan benar.
Cabal Golden merupakan cabal terbesar di dunia.
Aleister Crowley adalah penyihir yang menang dan selamat dari Pertempuran Blythe Road.
Namun.
Pada akhirnya.
Apakah dia menemukan kebahagiaan hanya dengan menguasai sihir dan memiliki kekuatan untuk bertarung?
Apa pentingnya menjadi yang terkuat?
Orang lain pernah menempuh jalan itu.
Ketua Dewan yang lama tetap bertahan di sana, tetapi Ketua Dewan yang baru mulai mencari jalan keluar lain dalam kegelapan.
Sang suara pun berbicara.
Kumpulan suara tetesan air hujan membawa emosi manusia.
Tidak peduli berapa banyak jalan memutar yang diambilnya di sepanjang jalan, usahanya yang berkelanjutan untuk menebus dosa-dosanya telah memungkinkan monster ini untuk memulai jalan yang berbeda dari Aleister.
“Kau boleh mempertaruhkan nyawamu untuk membantu. Kau berada di kota, jadi kau bukan sekedar penonton. Kau memiliki apa yang diperlukan untuk ikut menentukan hasil. Tapi, sekarang bukan saatnya untuk itu.”
“!!”
“Ini sudah berakhir.”
Satu per satu, kata-kata lirih dari Ketua Dewan yang baru itu menusuk dalam ke dadanya sendiri.
“Kau berada di kota, bukan? Jadi, lokasi bukanlah masalahnya. Seperti yang aku katakan, masalahnya ada di waktu. Kau memilih waktu yang salah untuk memainkan kartu trufmu.”
Mulut Aleister terbuka tutup, tapi tidak ada kata yang keluar.
Bukan karena sambaran petir.
Mereka berdua adalah orang jenius yang tidak biasa, jadi Aleister mengerti apa yang ingin dikatakan sang peringkat 1.
Sederhananya…
“Terimalah kenyataan. Berhentilah menyalahkan orang lain. …Ini semua adalah hasil dari pilihanmu sendiri. Berusaha menutupi kegagalanmu sendiri hanya akan merusak dunia di sekitarmu.”
“Oh, ohh.”
Aliester hancur.
Dia bahkan tidak bisa bernapas.
Suaranya akhirnya berubah jadi teriakan, teriakan ratapan manusia.
…Pada awalnya, dia memang tidak peduli dengan anak lelaki itu.
Tidak peduli seberapa tidak lazimnya mereka, rencananya adalah mengamati semua penduduk Academy City secara setara.
“Ayo kita mulai.”
“Tak perlu berkata-kata. Kau dan aku sudah saling akrab, bukan?”
Namun sebenarnya, anak lelaki itu telah menggali jauh ke dalam Gedung Tanpa Jendela dan, dengan bantuan Mina Mathers, menghancurkan rencana Aleister dengan tangan kanannya.
“Kalau begitu buktikan bahwa kita bisa mengalahkan Coronzon tanpa menggunakan Lilith!! Kalau tidak, kita takkan bisa melindungi bayi kesayanganmu!!!”
Dia telah menyelamatkan Bayi Lilith dan melawan Iblis Agung Coronzon.
Selama pertempuran skala besar yang bisa menelan seluruh Britania Raya, bahkan seluruh dunia, Aleister entah bagaimana akhirnya bertarung bersama anak lelaki itu.
Seberapa besar hal itu menyelamatkan dirinya dari dalam meskipun dia tetap bersikap sinis terhadap dunia?
Tanpa melihat gaya hidup anak lelaki itu dari dekat, Aleister tidak akan pernah bisa menghadapi rasa rendah diri yang dimilikinya dan pasti sudah dibunuh oleh Mathers saat itu.
“Ahhhh!! Ahhhhhhh!! Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!”
Ketika Alice Anotherbible muncul dan memberikan pukulan telak pada sisi gelap, Aleister sekali lagi memasuki Academy City.
Monster itu sendiri telah lupa bagaimana anak lelaki itu menangis ketika mengetahui Manusia Aleister Crowley selamat.
“Larilah bersamaku, Anna Sprengel!!!”
Aleister dan anak lelaki itu berdiri di pihak yang berlawanan dalam pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan terhadap Anna Sprengel.
Dari sudut pandang efisiensi dan keselamatan, Aleister tidak salah.
Dia yakin akan hal itu.
Namun Kamijou Touma benar.
Anak lelaki itu jelas benar.
Aleister tahu bahwa penjahat wanita itu tersenyum bahagia di samping Kamijou Touma setelah racunnya disingkirkan dan ancamannya dinetralisir. Itu merupakan kemenangan bagi keyakinan anak lelaki itu pada manusia.
Aleister tidak bisa meninggalkannya.
Bahkan jika mereka berpisah setelah gagal mencapai kesepakatan.
Tetapi.
Inilah keinginan egois manusia.
Bukankah itu yang diinginkan anak lelaki itu dan tidakkah itu akan membuatnya bahagia?
Keinginan ini tidak akan membuahkan hasil.
Kenangan tentang anak lelaki itu yang susah payah Aleister kumpulkan telah tumpah.
Sudah waktunya.
Menyerah.
Jika kau memang memprioritaskan kehidupan secara keseluruhan lebih dari kehidupanmu sendiri.
“Ohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!”
Ya.
Orang terakhir itu akhirnya menerimanya.
Menerima kematian anak lelaki itu.
Di dalam rumah sakit Distrik 7, hari masih pagi.
Tidak ada seorang pun di dalam ruang tunggu lorong tempat beberapa mesin penjual otomatis berjejer. Dokter berwajah katak duduk sendirian di sofa kulit buatan sambil menatap ke luar jendela saat tetesan air hujan menghantamnya.
Gelas kertas di tangannya tidak bergerak selama beberapa saat. Kopinya sudah lama dingin.
“…Fuh.”
Dia menghela napas berat.
Dia telah mengantar kereta jenazahnya pergi.
Meski sudah prosedur, tapi itu adalah pekerjaannya yang tersulit sebagai seorang dokter.
Apakah pemakamannya akan segera dimulai?
Di sinilah garis pembatasnya ditarik.
Sebagai dokter yang gagal menyelamatkan seseorang, dia merasa bersalah jika harus pergi ke pemakaman. Dia berharap keluarga anak lelaki itu yang masih hidup setidaknya bisa melampiaskan semua kemarahan mereka kepadanya, tapi orang tuanya bahkan tidak akan berada di kota itu.
Ada nyawa yang tidak bisa diselamatkannya.
Tidak peduli apa pun nama aneh yang dia gunakan, tidak ada yang dapat dia lakukan ketika jantung dan aktivitas otak pasien telah berhenti saat mereka tiba di rumah sakit. Dokter berwajah katak itu hanya bisa menyelamatkan yang masih hidup.
Meski begitu, dia tidak dapat menahan rasa penasarannya.
Bagaimana kalau?
Bagaimana kalau dia melanggar lebih banyak aturan, apakah sesuatu bisa berubah?
(Apakah aku menjadi berhati dingin jika aku dapat dengan tenang mengatakan aku tidak boleh melakukan itu secara khusus karena secara teknis hal itu memungkinkan?)
“…”
Langkah kaki yang tergesa-gesa menyadarkan dokter berwajah katak itu dari lamunannya.
Seseorang menjulurkan kepalanya dari sudut lorong.
Itu wajah yang dikenalnya.
Itu milik seorang dokter muda yang sedang magang.
“Dokter, kami mengalami keadaan darurat! Ambulans Distrik 7 sedang menuju ke sini. Terjadi kecelakaan di lokasi konstruksi dan tangan seorang pekerja terjepit mesin.”
“Dimengerti. Segera bersiap.”
Dia menelan sisa cairan di gelas kertas, menghancurkannya dalam genggamannya, dan membuangnya ke tempat sampah terdekat.
Dia berdiri dari sofa.
Dokter berwajah katak itu berbalik.
Mantel putihnya berkibar-kibar di sekelilingnya.
Dia membalikkan punggungnya.
Dia memutus semua perasaan yang berhubungan dengan Kamijou Touma yang sudah tiada.
Atas kemauan sendiri.
Tak ada yang dapat dilakukannya untuk menghidupkan kembali orang mati.
Namun ada pasien darurat lain yang masih bisa dia selamatkan.
Di SMA baru di Distrik 7, Komoe-sensei berbicara kepada para murid di kelasnya.
“Fukiyose-chan, Aogami-chan… dan yang lainnya. Upacara akan segera dimulai, jadi silakan masuk ke auditorium.”
Mereka pun keluar.
Sekarang semuanya bergerak.
♦
Rintangan terakhir — Aleister Crowley — telah disingkirkan.
Dunia telah menerimanya.
Pemakaman Kamijou Touma akhirnya dimulai.
Pemakaman
Good_Bye_Bad.
Hujan dingin yang tidak bisa berubah menjadi salju turun dari tebalnya awan kelabu.
Sudah tidak sederas sebelumnya.
Tapi tampak lebih stabil, yang menunjukkan bahwa hujannya akan bertahan lebih lama.
Pemakaman sedang berlangsung.
Dimulai di auditorium sekolah.
Seluruh murud berkumpul di sana, jadi mereka harus berbaris secara teratur. …Kecuali Aogami Pierce dan Fukiyose Seiri yang membeku. Rupanya Komoe-sensei panik, jadi barisannya kacau. Tapi, anak lelaki itu mungkin akan senang dengan respons yang manusiawi seperti itu.
Ruangan itu cukup besar untuk menampung ratusan orang.
Itu berarti pemanas hanya efektif sampai batas tertentu. Bahkan dengan AC dan pemanas halogen, hawa dingin tidak dapat sepenuhnya hilang.
Itu adalah hawa kematian.
Sesuatu yang biasanya tidak kita rasakan, tapi tiba-tiba muncul pada semua orang.
Aogami Pierce merasa seolah-olah dunia itu sendiri mengatakan bahwa upaya untuk bersikap ceria tidak akan mengubah secara mendasar tujuan mereka berada di sini.
Ini adalah pemakaman.
Seorang anggota kelas telah meninggal.
“Terima kasih atas kehadiran kalian semua meskipun cuaca sedang buruk. Mungkin surga juga sedang berduka atas kepergian sang mendiang. Aku pun turut sedih kehilangan seseorang yang masih muda.”
Seorang biksu Buddha yang masih muda memulai pidatonya dengan mikrofon di tangannya. Fukiyose Seiri hanya mengenal istilah "kepala biara" sebagai gelar untuk biksu Buddha, tapi dia tidak yakin apakah ada hierarki di sana.
“Kepala biara adalah kepala satu kuil,” jelas Aogami Pierce. “Mereka adalah orang yang memimpin biksu-biksu di sana. Namun, ada cukup banyak kuil di mana kepala biara adalah satu-satunya biksu karena populasi yang menua atau karena kekurangan SDM, sehingga banyak orang yang salah mengartikan istilah biksu dan kepala biara. Tidak biasa bagi seseorang yang semuda itu untuk menjadi biksu.”
“Kenapa kau tahu begitu banyak soal ini?”
“Apa, kau benar-benar tidak membaca komik komedi media sosial yang menjadi viral di Tahun Baru? Judulnya 'Aku Bereinkarnasi dan Mendapat Koin hipnotis 5 Yen yang Mampu Membuat Orang Melakukan Apa pun yang Aku Katakan, tapi Aku Berakhir di Kuil Buddha yang Penuh dengan Biksu Macho'. Sungguh patahan premis yang tak terpikirkan!! Nasib apa yang menanti heroin kita yang suram setelah kehidupan pertapa dan makanan vegetarian membersihkan jiwa dan raganya?!”
“Kenapa sih tidak ada yang melarang keberadaan orang ini?” tanya Fukiyose dengan jengkel.
Namun, apakah akal sehat Fukiyose telah tumpul selama liburan musim dingin? Fukiyose tampaknya telah lupa bahwa penghinaan semacam itu bagi Aogami adalah sebuah hadiah. Fukiyose bisa bersikap dua atau bahkan tiga kali lebih kasar dan Aogami tetap akan menerimanya.
Layar pada dinding di belakang panggung auditorium menjadi hidup.
“Aku sungguh bersyukur kalian semua berkumpul hari ini demi putra kami.”
Komentar jarak jauh dari orang tua Kamijou Touma disiarkan di layar. Mereka tampaknya menggunakan lebih dari sekedar telegram di zaman ini.
Suara bantingan keras terdengar dari bagian belakang auditorium.
Seseorang tidak dapat menahan diri dan bergegas keluar sambil menutup mulutnya. Untuk sesaat, cahaya luar menyinari auditorium yang gelap. Anehnya, orang ini bukan dari kelas mereka. Dari asal tempat duduknya, dia pasti murid dari kelas lain.
“Kau sungguh dicintai, Kami-yan.”
“Sebab dia punya banyak koneksi aneh. Aku kadang lihat dia bicara dengan siswi senior.”
Tampaknya telah terjadi semacam kecelakaan yang menyebabkan gangguan dalam audio, tapi pemakamannya sendiri tetap berjalan tanpa hambatan.
Aogami Pierce mengucapkan beberapa patah kata sambil menatap ke depan.
“Mengapa…?”
“Hm?”
“Mengapa orang begitu mudah mati?”
Ini agak berbeda dari sebelumnya.
Kematian.
Kata itu memiliki bobot yang jauh lebih berat. Bukan suara kosong dan ringan seperti jumlah nyawa dalam gim yang berkurang, kata ini memiliki bobot realitas yang berat.
Mungkin begitulah arti pemakaman.
Itu tentang mengucapkan selamat tinggal.
Namun dengan cara yang berbeda dari situasi teman sekelas yang pindah sekolah.
Bukan berpisah sementara, tapi berpisah selamanya. Orang-orang tidak bisa langsung menerima kenyataan itu, jadi mereka butuh cara untuk memperhalus sisi kasar dari kenyataan tersebut atau masyarakat kecil yang merupakan sekolah itu mungkin akan runtuh.
Seperti mengatur fokus kamera.
Gawat.
Memang tidak masalah jika pemandangan di depan mata Aogami menjadi kabur. Dia bisa menahannya. Namun, begitu matanya kembali fokus, maka sudut matanya bisa bermasalah.
Masalah?
Siapa bilang menangis itu salah? Ini bukan kompetisi, Tidak ada yang menang atau kalah. Rupanya fase pemberontakan di masa remaja bisa menimbulkan masalah dalam kehidupan orang lain bahkan di saat-saat seperti ini..
“…”
Aogami menyadari sudah lama dia tidak mendengar suara Fukiyose.
Ketika Aogami fokus, dia bisa mendengar beberapa napas yang tampaknya ditutupi oleh tangan yang tak terlihat.
Atau mungkin Fukiyose hanya mengeluarkan sapu tangan.
Namun, Aogami tidak mau mengintip ke kursi sebelahnya.
Dia iri dengan orang-orang yang bisa menangis di sini. Dia selalu berteriak di dalam kelas, tapi di sini dia merasakan ada semacam penghalang yang memaksa dirinya untuk menahan diri.
Aogami Pierce bukanlah seorang siswa yang rajin.
Selama kelas biasa pun dia akan menatap ke luar jendela dan melamun tentang memerangi teroris.
Selama ini Aogami kira Kamijou Touma akan bertahan sampai akhir.
Aogami bisa melakukan apa saja dalam fantasinya, tapi entah kenapa anak itu selalu bertahan hidup lebih lama daripada Aogami sendiri. Aogami terkadang menyelamatkan semua orang dan berakhir dengan harem dan terkadang dia tertembak dan mati secara dramatis, tapi apa pun yang terjadi, Kamijou Touma akan selalu bertahan hidup sampai akhir, tidak peduli seberapa babak belurnya dia.
Tapi.
Kenyataanya adalah sesuatu yang sama sekali berbeda.
Aogami bisa memikirkan banyak kata seandainya dialah yang mati, tapi dia tidak bisa memikirkan satu kata pun jika Kamijou Touma-lah yang mati.
“Aku benar-benar bodoh.” gerutunya pada dirinya sendiri.
Aogami tidak menduga hal ini.
Sesuatu telah terjadi di suatu tempat yang tidak disadarinya.
Aogami menduga seluruh orang mungkin berpikir hal yang sama ketika mereka hidup dengan penyesalan.
“Selanjutnya, para hadirin dipersilakan maju untuk membakar dupa. Ya, pastikan menaiki tangga di sebelah kanan dan menuruni tangga di sebelah kiri. Terima kasih.”
Sementara itu, dua gadis memiliki perspektif yang berbeda.
♦
Distrik 7
SMA biasa.
Seluruh murid berkumpul di auditorium. Namun, meskipun tubuh ratusan orang terasa hangat, udara dingin tidak dapat sepenuhnya dihilangkan oleh AC yang terlalu lemah untuk ukuran ruangan dan pemanas halogen yang dipasang dengan tergesa-gesa.
Yang bertindak sebagai napas kematian yang kontras dengan kehangatan manusia.
Sebuah foto potret berukuran besar diletakkan di atas panggung.
Itu merupakan foto wajah Kamijou Touma.
Mereka pasti tidak menduga hal ini. Dia tampak seperti penjahat pada potret yang diambil paksa dari kartu identitas pelajarnya. Tapi rasanya foto identitas siapa pun yang diambil dari depan, tanpa ekspresi dan tanpa memperhatikan sudut, mungkin akan terlihat seperti ini.
Seorang biksu paruh waktu, yang tampaknya adalah seorang pelawak yang kurang sukses yang melakukan ini sebagai pekerjaan sampingan, memegang mikrofon.
Suaranya yang aneh namun ceria mungkin berasal dari menggabungkan dua pekerjaannya.
“Terima kasih atas kehadiran kalian semua meskipun cuaca sedang buruk. Mungkin surga juga sedang berduka atas kepergian sang mendiang. Aku pun turut sedih kehilangan seseorang yang masih muda.”
Selain tempat untuk para siswa, ada juga tempat yang disediakan untuk para tamu di sisi lainnya.
Mikoto dan Shokuhou duduk di sana.
Salah satu dari mereka gemetar.
“Brrrrrr. Misa…Misaka-sa…Misaka-san, dingin sekali, kau harus menghangatkanku.”
“Apa kau benar-benar mengenakan pakaian?”
Mikoto mendesah sambil mendorong wajah si ratu bodoh dengan tangannya — yang mulai dicurigai Mikoto kalau dia cuma memakai body painting untuk pakaiannya — sambil menggigil dan mencoba untuk berpegangan pada Mikoto dari samping.
Ini adalah SMA.
Bagi seorang anak SMP, tempat ini seperti dunia yang berbeda.
Tapi ketegangan yang biasa Mikoto rasakan tidak muncul.
Mikoto sebenarnya pernah ke sini sebelumnya, tapi…
(Aku tak pernah membayangkan akan mengunjungi SMA si bodoh itu untuk hal ini.)
Desahan beratnya tak kunjung berhenti.
Akan tetapi, dia tidak melihat seorang pun yang mungkin adalah orangtuanya di bagian tamu.
Tidak mengherankan.
Mengingat semua syarat-syarat dokumen dan persetujuan, tidak ada waktu untuk mengundang seseorang ke Academy City.
“?”
“Ada apa, ratu licik?”
“Oh, aku hanya ingin tahu siapa ketua pelayatnya. Ahn, pemanas halogen☆”
Mata Shokuhou Misaki meleleh melihat mesin yang seperti "kipas hangat" yang telah diletakkan seorang petugas di lorong terdekat. Dia tampak siap untuk merentangkan tangannya dan memeluk pemanas dengan hati yang terpancar di pupil matanya. Untuk apa sebenarnya dia datang ke pemakaman?
Selain itu…
(Ketua pelayat.)
Kalau dipikir-pikir, ini aneh.
Meski semua ini tampak indah, pilar-pilar pentingnya hilang.
Semuanya terasa hampa dan dibuat-buat.
“Meskipun begitu, kita tidak boleh membiarkan sang mendiang di sini selamanya. Meski menyakitkan, kita harus melanjutkan upacaranya agar sang mendiang bisa sampai ke alam baka dengan tenang.”
Suara lembut menyelimuti auditorium.
Musik klasik yang komposer dan judulnya tidak diketahui mulai dimainkan.
“…?”
Mikoto tahu cara memainkan piano dan biola, tapi dia mengerutkan kening. Dia tidak mengenalinya. Mungkin itu hanyalah musik menenangkan yang baru-baru ini diciptakan sepenuhnya di komputer. Itu memang cocok untuk Academy City.
Bersamaan dengan alunan musik, tayangan dari slide foto-foto pun diputar.
Jelaslah apa yang akan terjadi.
“Daihaseisai, Ichihanaransai. Kamijou Touma-san benar-benar tersenyum cerah selama acara ini.”
Uh, uwah…
Isak tangis pun terdengar dari sana-sini.
Tapi tunggu.
Tunggu.
Apa ini? Bahkan di sekolahnya, berapa banyak orang yang mengenal Kamijou Touma? Dia tidak pernah menjadi bagian dari klub mana pun dan tidak memiliki koneksi di luar kelasnya. Dia bukan pemain shogi yang handal dan tidak mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian praktik nasional. Jadi mengapa semua siswa yang tampak seperti siswa kelas dua atau tiga itu meneteskan air mata?
Mikoto tercengang.
Mungkin itu merupakan respon Pavlovian, seperti orang yang selalu menangis ketika mendengar kotak musik dimainkan saat sedang sedih.
“Mereka seperti anak nakal yang hanya menangis saat wisuda.”
Sekarang setelah dia pulih menggunakan pemanas halogen, bisikan Shokuhou menusuk tajam ke dalam Mikoto.
Kita tersenyum di Tahun Baru dan menangis di pemakaman.
Hanya itu.
Seperti membalik saklar atau memutar tombol putar.
Apakah kau puas dengan ini?
Apakah dengan ini hidup seseorang sudah berakhir?
Tentu saja, Mikoto juga akan kesal jika ada yang mengobrol atau menggunakan ponsel di tengah-tengah upacara, tapi ini terasa berbeda. Air matanya terasa murah. Dia ingin berdiri dan berteriak bahwa ini tidak benar.
Mikoto sedih.
Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang karena waktunya telah tiba untuk mengucapkan selamat tinggal.
Tapi.
Dia merasa hatinya menjauh saat melihat pemandangan yang dia temukan di sini. Jarak itu terus melebar. Hatinya telah kehilangan kemampuan untuk merasakan perasaannya.
Mengapa?
Itu sudah berakhir. Dia tahu itu. Namun, dia merasakan semacam ketidaksabaran yang kuat tumbuh di dalam dirinya.
Apakah kau benar-benar puas dengan ini?
Apakah ini menandai akhir kehidupan seseorang?
“Untuk mewakili kalian semua, Aku minta guru kelasnya, Tsukuyomi Komoe-sensei untuk mempersembahkan beberapa bunga.”
“Uhh.”
Mungkin semuanya terlihat emosional, tapi semua itu tidak lain hanyalah mencentang semua yang ada pada daftar.
Itu suatu rutinitas.
Itu adalah upacara untuk memisahkan seseorang dari masyarakat, melupakan mereka, dan menghapus mereka.
Dan.
Mikoto melihat titik merah di sudut matanya.
“?”
Penasaran, dia menoleh untuk melihat video yang sedang diputar.
Karena dia tidak terbiasa dengan pemakaman, dia pikir mungkin itu adalah cara untuk meninggalkan kenangan, tapi…
“(Itu perusahaan pemakaman. Aku yakin mereka akan memotong videonya dan menggunakannya dalam video promosi mereka.)”
Shokuhou lebih berhati dingin.
Mungkin dia lebih terbiasa dengan kematian daripada Mikoto.
Tapi dari mana?
Tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu. Saat Shokuhou menghadap ke depan, raut wajahnya tampak kesepian.
Pelawak yang memandu acara pun melanjutkan.
“Kami sekarang akan menampilkan pesan dari orang tua Kamijou Touma-san.”
Tayangan slide acara sekolah beralih ke hal lain.
“Aku sungguh bersyukur kalian semua berkumpul hari ini demi putra kami.”
Apakah mereka menggunakan aplikasi rapat daring?
Dinding putih di belakang panggung auditorium berfungsi sebagai layar besar untuk memproyeksikan seseorang yang mungkin adalah ayahnya.
Beliau mungkin ada di rumah. Ruangan di belakangnya tampak penuh kehidupan.
Mungkin karena terlalu mendadak jadi beliau tidak sempat untuk berberes.
Nama pengguna ditampilkan di bagian bawah dalam teks kecil.
Kamijou Touya.
Kata-katanya yang mengalir deras sama sekali tidak dingin.
Bahkan melalui layar, Mikoto dapat merasakan seberapa keras orang dewasa itu menggertakkan giginya untuk bisa berbicara.
Tempat yang jauh itu membawa suasana yang jauh lebih pas ketimbang tempat pemakaman ini.
Atau begitulah yang terlihat oleh Mikoto.
Mikoto merasakan sesuatu yang autentik di sana.
“Aku yakin kehidupan Touma di Academy City penuh dengan senyum dan kenangan bersama kalian semua. Dia tidak pintar di sekolah dan dia tidak mengembangkan kekuatan esper apa pun, tapi kami berterima kasih kepada kalian semua karena telah membiarkan dia untuk bergembira untuk melupakan semua itu. Putra kami tampak begitu bahagia dalam semua email dan pesan yang dia kirim kepada kami. Dia juga mengirim banyak foto dan video. Melihat cuplikan sekilas tentang hidupnya saja sudah cukup untuk mengetahui bahwa waktunya di sana adalah waktu yang cerah dan bahagia. Dan aku bisa rasakan kalau dia lebih bahagia daripada yang dia katakan kepada kami. Aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas nama putra kami. Meski hanya sebentar, dia benar-benar beruntung dikelilingi oleh begitu banyak teman-teman yang luar biasa— kh... tidak, aku tidak kuat!!”
Suaranya yang bergetar menjadi tegang di tengah pembicaraan.
Wajah lelaki paruhbaya itu memenuhi layar. Dengan air mata mengalir di matanya.
“Dia keluarga kami!! Putra kami sudah meninggal!!! Tapi kami tidak diizinkan masuk ke kota!! Mereka bahkan tidak memberi tahu kami penyebab pasti kematiannya!! Bukankah di dalam tembok itu aman?! Yang benar saja! Apa yang sebenarnya terjadi di kota itu— (Suara hilang)”
Mulutnya mengepak tanpa suara selama beberapa detik sebelum videonya terputus.
Pembawa acara memasang senyum palsu dan berusaha menutupinya.
“Ya ampun. Sinyalnya tampaknya tidak stabil dan belum pulih betul, jadi mari kita lanjutkan ke sesi berikutnya.”
Bagaimana mereka bisa melupakan hal itu?!
Mikoto hendak berdiri dari kursi lipatnya, tetapi Shokuhou menahan tangannya.
Dengan kuat, untuk menahannya untuk tetap di tempat.
Bahkan pemberontakan orang tuanya yang sepenuh hati pun tidak menghasilkan apa-apa.
Itu hanyalah satu cabang pada bagan alir.
Dengan menelusuri balik cabangnya, mereka dapat mengembalikan upacara ke jalurnya.
“Selanjutnya, para hadirin dipersilakan maju untuk membakar dupa. Ya, pastikan menaiki tangga di sebelah kanan dan menuruni tangga di sebelah kiri. Terima kasih.”
Jika seluruh siswa membakar dupa, akan memakan waktu seharian. Sebaliknya, setiap kelas mengirimkan satu perwakilan ke altar. Staf memegang stopwatch dan menjaga semuanya sesuai jadwal yang ditentukan selama gladi bersih. Seseorang telah meninggal, tapi mereka tidak membiarkan segalanya melenceng.
Itu seperti pasir dalam jam pasir.
Setelah persediaan habis, semuanya berakhir. Peti mati akan ditutup dan dimasukkan ke dalam mobil jenazah untuk dibawa ke krematorium. Setelah itu, tidak akan ada yang tersisa. Kamijou Touma akan dibakar menjadi abu, tidak menyisakan apa pun, bahkan pada tingkat genetik.
Biksu pelawak itu melanjutkan sambil tersenyum.
“Terakhir, aku ingin membacakan pesan telegram yang dikirim dari orang-orang dekat sang mendiang. Pertama, ada Nona Leivinia Birdway dari Inggris.”
Sudah berakhir.
Pemakaman benar-benar akan berakhir.
“Kau salah dalam melihatnya.”
Masih menghadap ke depan, Shokuhou berbicara pelan namun jelas dalam pakaian berkabungnya.
Meskipun Mental Out tidak seharusnya bekerja pada Mikoto.
Suaranya agak kaku, tapi dia berhasil mengatakannya.
“Kita sendirilah yang harus mengakhiri hidupnya. Jadi, Misaka-san, kau harus mempersiapkan diri untuk benar-benar mengucapkan selamat tinggal.”
Di luar kota pada bulan Januari yang dingin, Index dan Othinus berdiri di tengah hujan.
Tanpa payung.
Waktu sarapan telah lewat, tapi kali ini Index tidak berselera makan.
Di bahunya, Othinus memegang pinggiran topinya dan mendongak.
“Astaga. Bahkan ramalan cuaca pun mengkhianati kita… Hujan yang tidak alami ini sangat cocok dengan kemalangan manusia itu.”
“Sama seperti Touma.”
“Termasuk kondisi langit yang tampak begitu palsu itu.”
“?”
Sebuah kendaraan panjang melewati mereka. Mobil aneh itu dihiasi dengan warna hitam dan emas.
Itu adalah mobil jenazah.
Dua bus mengikutinya.
Setelah benar-benar lewat, Othinus membisikkan sebuah pertanyaan.
“Kau yakin tidak ingin pergi?”
“Bagaimana denganmu?”
“Aku adalah dewa perang, sihir, dan tipu daya. Ini bukan pengadilan Baldr dan aku bukan tipe orang yang menangis di pemakaman. Tapi kau seorang biarawati, bukan? Ini benar-benar kesempatan terakhirmu. Kau mungkin baik-baik saja sekarang, tapi penyesalan karena tidak mengantarnya pergi akan membebanimu nanti.”
“Aku masih pemula dan masih dalam tahap pelatihan.”
Index menundukkan kepalanya.
Dia pasti merasakan sesuatu.
Othinus tidak membahasnya.
Dewa bermata satu dengan tombak jarang digambarkan sebagai sosok yang baik hati.
“Sekarang, apa yang akan kita lakukan? Kita adalah sampel hidup dari Dewa Sihir dan perpustakaan grimoire. Jika kita pergi ke dunia tanpa perlindungan Academy City, cabal sihir di seluruh dunia akan mengejar kita berdua. Jika kau tidak berniat mengikutinya sampai mati, maka kau harus terus berusaha untuk bertahan hidup.”
Kota itu dikelilingi oleh tembok tebal, gelombang elektromagnetik dan inframerah tak kasat mata yang digunakan untuk memutus semua komunikasi nirkabel antara bagian luar dan dalam. Meski begitu, udara di kedua sisi sama dan serangga serta burung dapat terbang melintasi tembok dengan mudah.
Jadi.
Index mengangkat kepalanya dan memberikan jawabannya.
“Ikuti apa yang dikatakan merpati pos itu.”
“Astaga. Apakah saking kunonya metode itu sampai-sampai mereka mengabaikannya? Tapi, begitu Academy City mengetahuinya, mereka mungkin akan mengisi celah itu dengan feromon atau cahaya atau semacamnya.”
Jika mereka pergi ke sekolahnya sekarang, mereka mungkin akan sampai tepat waktu.
Namun mereka tidak melakukannya.
Mereka tidak bisa.
Index memberikan alasannya.
“Jika aku ada di sana untuk mengucapkan selamat tinggal, aku yakin aku akan merusak upacaranya karena tangisanku yang terlalu keras.”
Kucing yang berada di pelukan gadis itu pun tidak berkata apa-apa.
Si kucing seharusnya tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi karena beberapa alasan dia tampaknya mengerti.
“Sudah berakhir,” gumam Aogami Pierce.
Semua tenaga meninggalkan tubuhnya.
Dia membuatnya terdengar seperti timnya baru saja kalah dalam turnamen besar.
“Itulah akhir pemakaman Kami-yan.”
“Tenangkan dirimu. Komoe-sensei memanggil kita untuk pergi ke krematorium.”
Mungkin Fukiyose merasa lebih tenang jika dia memfokuskan pikirannya pada suatu tugas. Dia tampak terus mencari tugas baru.
Aogami mengusap perutnya.
“Aku sangat lapar… Aku ingin melahap makan siangku sambil menonton anime isekai tema memasak untuk memberikan dorongan psikologis dengan memakan bento dari toko swalayan.”
“Mending kau kunyah sapu tangan.”
Hanya teman-teman sekelasnya yang akan pergi ke krematorium. Meskipun mereka menangis tersedu-sedu selama pemakaman, para siswa dari kelas-kelas lain tidak menunggu sebelum meninggalkan auditorium. Hampir seperti iklan film dengan orang-orang yang memberikan komentar yang tidak tulus saat pemutaran awal. Jenis iklan yang membuatnya terdengar seperti rekor film paling mengharukan abad ini dipecahkan setiap detik.
Aogami melihat seorang siswi senior, berambut hitam dan berdada besar menoleh sekali di pintu keluar sebelum pergi.
“Apakah mereka akan datang jika kita yang mati?”
“Justru bagus begitu. Memang biasanya kau menitikkan air mata saat membaca berita di TV atau daring?” tanya Fukiyose dengan suara kering.
Bahwa nada bicara Fukiyose lebih serak dari biasanya mungkin merupakan pujian terbesar untuk Kamijou Touma yang telah menghilang dari sekolah mereka.
Seorang wanita berpakaian krem berdiri di tengah kota yang berwarna putih dan hitam.
Itu adalah si Manusia Aleister Crowley.
Hujan buatan yang konyol terus turun.
Si anjing golden retriever tetap berada di sisinya dalam udara dingin tanpa mengeluh, tapi dia mengajukan pertanyaan
“Kau tidak mau melihatnya sampai akhir?”
“Kau tahu betul kalau aku tidak punya keberanian. Untuk apa aku berjuang sekuat tenaga jika aku punya keberanian?”
“Penyesalan selalu datang di akhir.”
“Aku tahu. Lebih tahu daripada siapa pun di dunia ini,” gerutu Aleister.
Aleister tidak ingin mempercayainya.
Dia telah berjanji akan melanggar aturan apa pun yang diperlukan untuk menyelamatkan anak itu.
Apakah dia akhirnya mengingkari janjinya?
Itu berarti ada sesuatu yang bahkan Anna Kingsford tidak dapat lakukan.
Dia tahu ini sama absurdnya dengan menginginkan orang tuamu tetap menjadi makhluk yang tidak pernah salah, tapi tetap saja.
“Andai aku bisa menyelamatkannya,” gumam Aleister.
“?”
“Tindakan itu pasti akan sangat berarti. Tindakan itu akan memicu reaksi berantai yang memperbaiki segalanya. Namun, tindakan itu gagal pada domino pertama. … Anak itu tetap mati.”
Kihara Noukan adalah seorang jenius yang tidak biasa bahkan untuk seorang Kihara, tapi dia pun kesulitan memahami apa yang dimaksud Aleister.
Aleister tidak akan menjelaskannya.
Apa pun itu, yang jelas itu adalah mimpi yang pupus tak terwujud.
“Apa rencanamu ke depannya?” tanya si anjing.
“Aku tidak akan berkeliaran seperti ini jika aku bisa menjawabnya.”
♦
Apakah ada makna dalam kehidupan ini?
Pertanyaannya telah mencapai tingkat itu.
Di dunia yang luas ini, kepada siapa dia harus menggantungkan hidupnya?
Hujan sedang turun.
Pemakaman di auditorium telah berakhir, jadi sebagian besar siswa menggunakan jalan setapak untuk kembali ke gedung sekolah utama.
Mereka menjumput sesuatu dan menaburkannya di kepala mereka. Rupanya itu adalah garam.
Mikoto mendesah pelan saat dia berjalan keluar.
“Bahkan para siswa di sekolahnya pun memperlakukan kematiannya sebagai sebuah najis.”
“Aku ragu banyak orang di Academy City memahami simbolisme itu. Sama seperti sangat sedikit orang yang mau repot-repot mencari asal usul kata 'halo' dan 'selamat tinggal'. Kebanyakan orang menganggapnya tidak lebih dari sekedar hal yang biasa, seperti menundukkan kepala saat memasuki ruangan. Dan kenapa dingin sekali sih!”
Nafas teriakan Shokuhou sudah terlihat.
Dan hujan dingin sedang turun di luar.
Shokuhou awalnya memegang bahunya sendiri, tapi saat pandangannya tertuju pada Mikoto, dia pun memegangnya.
“Lepasin, Shokuhou. Kimono susah diperbaiki jika sudah mulai rusak, jadi jangan pegang aku.”
“Oh, ayolah. Menjadi botol air panas adalah satu-satunya hal yang bisa kau lakukan, Misaka-san.”
“Hmm…? Padahal kebetulan sekali aku bawa penghangat portabel?”
Shokuhou Misaki membatu.
Sudut bibirnya berkedut.
Harga dirinya tampak bimbang mengenai apakah dia harus memasang senyum sopan atau tidak.
“Kalau kau tidak mau ya tidak apa-apa. Aku akan simpan rapat-rapat di bagian bawah dompetku. Di tempat yang tidak bisa kuambil lagi.”
“Tunggu, Misaka-saaan! Kau menang, aku mengakuinya! Jadi tolong tunjukkan cintamu pada Gadis Korek Api yang kedinginan di musim dingin ini!!”
“Semua orang memanggilmu ratu, kenapa sekarang kau malah bertingkah seperti Gadis Korek Api yang malang?
Mikoto mempermainkan gadis yang tidak atletis itu dengan melemparkan penghangat portabelnya satu demi satu seolah-olah menyuruhnya untuk memainkannya.
…Seluruh percakapan ini mungkin merupakan cara untuk menjaga keseimbangan mental mereka. Bagi Mikoto, keceriaan yang dipaksakan hanya membuat seluruh hidupnya tampak seperti sandiwara.
“Ahh…☆”
“Hei, di mana kau taruh penghangatnya, Shokuhou?! Pergi ke mana rasa malumu?!”
Shokuhou memejamkan matanya, gemetar, dan mendesah seperti sedang tenggelam ke dalam sumber air panas, tapi rinciannya sebaiknya tidak disebutkan.
Shokuhou mampu memprioritaskan apa yang benar-benar penting, artinya dia adalah tipe orang yang akan memutuskan untuk berpelukan telanjang agar tetap hangat jika mereka terdampar di gunung bersalju di musim dingin. Sekarang Mikoto yakin akan hal itu.
Petugas di samping mobil jenazah membentuk megafon dengan tangannya dan mengarahkan mereka.
“Busnya ada di sini! Untuk pihak sekolah, naik bus 1. Untuk pihak tamu, naik bus 2.”
Ya, itu belum berakhir.
Banyak payung yang mekar seperti bunga dan berkumpul bersama.
Dibawa oleh orang dewasa.
Peti matinya dimuat ke mobil jenazah.
Kendaraan hitam dan emas itu menuju ke Distrik 10.
Tepatnya ke krematorium.
Seluruh siswa tidak akan muat di sana, jadi hanya kelas Kamjou saja yang akan pergi.
Sebuah bus cukup untuk mengangkut sebanyak itu.
Dan bus kedua sudah cukup untuk para tamu.
Batas waktu lainnya telah muncul.
Mikoto melihat jarak ke krematorium seperti penghitung waktu yang berdetak pada bom waktu.
Namun, pada titik ini apa pentingnya batasan waktu itu?
Kematian tidak dapat dibatalkan.
Semua sudah berakhir.
“…”
“Uhh, AC mantap. Kepraktisan alat modern memang sungguh luar biasa…”
Dari samping Mikoto, sang ratu mengatakan sesuatu yang menunjukkan bahwa hanya butuh sebuah kotatsu untuk memenangkan hatinya.
Kedua bus itu meninggalkan bagian belakang sekolah untuk mengikuti mobil jenazah. Para wartawan di depan tampak membuat keributan kecil, tapi bus-bus itu tidak berkewajiban untuk menunggu mereka.
Tak seorang pun di dalam bus yang cukup besar itu mengucapkan sepatah kata pun.
Sistem navigasi GPS memberikan beberapa instruksi dengan suara perempuan, tapi si supir tampaknya mengabaikannya. Mungkin ada semacam etika di baliknya, meski begitu mobil jenazah itu tampaknya menghindari rute terpendek dan memilih rute yang lebih panjang.
Di kursi sebelah Mikoto, Shokuhou berbisik sebentar sambil menatap ke luar jendela yang dihujani oleh tetesan air hujan.
“Misaka-saaaan.”
“Duh, siapa sih yang mengirim drone ke arah kita?”
Dengan suara percikan, multicopter itu pun kehilangan kendali di tengah hujan.
Namun, siapa yang ingin diserang oleh para wartawan ngotot itu dengan artikel-artikel mereka? Tentunya bukan Alice Anotherbible atau Transenden dari sisi dunia yang tersembunyi.
“Mungkin bisa dibilang kita juga yang mengirimnya ke kematian. Kita memang tidak menghalangi dan menyerangnya, tapi kita mendorongnya dari belakang.”
“Misaka-san. Jika kau menjelek-jelekkan keputusannya dan tekadnya lagi, aku akan menamparmu.”
Namun Shokuhou tidak menyangkalnya.
Mungkin itu juga mengganggunya.
Hal yang sama terjadi saat mereka melawan Christian Rosencreutz. Diperlukan kekuatan yang besar untuk mengusirnya dan Kamijou akan terbunuh jika kekuatan mereka tidak cukup.
Meskipun begitu.
Jika kekuatan mereka tidak cukup, akankah Kamijou melarikan diri?
“Tidak mungkin.”
“Tidak mungkin. Aku tidak bisa membayangkan dia menyerah dalam pertarungan setelah dia memulainya.”
Kamijou sendiri sebenarnya tidak memulai pertengkaran itu, tapi betapa pun tidak adilnya dia terseret ke dalamnya, dia selalu berjuang untuk mengakhirinya. Jadi dia bisa dengan lembut mengurai benang-benang yang kusut itu.
“…”
Tidak butuh waktu lama.
Mereka tiba di krematorium.
Atap besar menutupi area di depan pintu masuk.
Apakah tempat itu dirancang dengan mempertimbangkan cuaca buruk seperti ini?
Sepertinya mereka harus menunggu para pekerja menangani peti matinya.
“Ayo, Misaka-san.”
Atas perintah Shokuhou, Mikoto turun dari bus.
Mikoto tidak terbiasa menuruni tangga bus dengan pakaian berkabung ala Jepang. Pakaian itu sudah mirip seperti tabung, jadi apakah pakaian itu memang dirancang untuk menaiki dan menuruni tangga?
“Tentu saja. Apa kau lupa kalau kuil Shinto dan kuil Buddha memiliki tangga batu?"
“Oh, tidak. Aku diceramahi si bodoh.”
“Oh? Misaka-san, apa kau lupa kalau aku ini gadis pintar? Mau tanding peringkat siapa yang lebih tinggi di ujian semester nanti?"
Kalau dipikir-pikir, bukankah dulu ada pagoda lima lantai di zaman Edo? Dan gedung-gedung itu tidak memiliki lift atau eskalator.
Shokuhou Misaki terus menggosokkan penghangat portabel ke pipinya. Panasnya pasti sudah habis sekarang, jadi apakah dia memanfaatkan efek plasebo? Atau mungkin hawa dingin membuatnya berhalusinasi.
Seorang petugas memandu mereka ke dalam gedung.
Ada ruang tunggu beralas tatami bernomor dengan ruang kremasi yang berjejer.
Mungkin ada aturannya, tapi ruang kremasi yang tidak digunakan memiliki pintu yang terbuka lebar. Pintu logam berbentuk persegi mengarah ke ruang tertutup yang tampaknya terbuat dari batu bata atau balok. Bentuknya seperti tungku pembuat roti yang dimodifikasi.
Mikoto mengintip ke dalam dan terdiam.
“…”
Bahkan ukurannya tidak sebesar tempat Laundry.
Namun terasa sangat rapi dan optimal.
Mikoto pun mendesah pelan.
(Aku tidak terbiasa dengan ini.)
Sebenarnya Mikoto merasa sedikit lega ketika melihat beberapa mesin penjual otomatis tua yang ditumpuk berantakan di sudut lorong panjang. Dia ingin melihat sesuatu yang dapat menghilangkan kesan rapi di tempat itu.
“Di dalam gedung memang tempat yang hangat. Ugh, tapi sekarang aku malah jadi pingin ke toilet.”
“Aku memang bodoh. Bisa-bisanya aku mencari keselamatan dari orang bodoh berantakan seperti dia…”
Mereka dapat mendengar percakapan para pejabat di beberapa ruangan di sana.
Suara-suara itu merayap naik dari lantai bagaikan hawa dingin.
“Anak SMA sehat? Dia seharusnya punya tulang yang tebal.”
“Kita harus membakarnya selama empat jam penuh. Dengan begitu, tidak akan ada jejak peta DNA atau bahan kimia yang digunakan untuk pengembangan esper yang tersisa.”
Terdengar suara gesekan yang berat.
Itu berasal dari sesuatu seperti pecahan tembikar seukuran bola voli. Rupanya ada sesuatu menggesekkan tutupnya.
“Berapa tinggi badannya yang tertera di tabel? Apa ukurannya sesuai”
Itu adalah guci pemakaman.
Apakah manusia utuh benar-benar bisa muat dalam sesuatu yang sekecil itu?
Mikoto yang memakai pakaian berkabung pun mengerut.
“Tunggu. Aku tidak masalah dengan kremasinya, tapi siapa yang akan menerima abunya?”
“Guci jenazah dapat dipindahtangankan kepada orang lain setelah ditaruh di dalam liang lahat.”
Jari Shokuhou bergerak ragu-ragu di depan mesin penjual otomatis, tapi dia hanya gelisah tanpa benar-benar membeli kopi hangat. Ketakutannya terhadap bahan tambahan buatan tampaknya muncul kembali.
“Untuk saat ini, dia mungkin akan dimakamkan sementara di pemakaman umum.”
Bisakah mereka benar-benar melakukan hal itu?
Bahkan sebagai abu, dia secara resmi masih dianggap “mayat”.
Lagipula. Orang tuanya tampaknya tidak ada di kota, jadi siapa yang telah menyerahkan surat pemberitahuan kematian ke kantor pemerintah? Memang boleh mengkremasi seseorang sebelum suratnya diterima.
(Tapi ini adalah kota yang mengubur lebih dari sepuluh ribu klon secara rahasia, jadi mereka pasti punya trik untuk mengakalinya.)
Mereka memasuki ruang tunggu.
Luas ruangannya sekitar 45 meter persegi.
Mungkin setiap orang menginginkan ruangnya sendiri.
Teman-teman sekelasnya di SMA ada di sini, tapi Mikoto tidak mengenal mereka dengan baik. Dia tentu saja menjaga jarak.
Itu adalah perasaan yang aneh.
Mengapa dia tetap berada di sisi Shokuhou?
Dan sementara Mikoto kebanyakan mengaitkan pemakaman dengan bunga dan dupa, aroma lilin yang menyala lebih kuat. Mungkin karena aroma itu jauh lebih berminyak.
Sebuah TV LCD besar terletak di ruang beralas tatami. Selain siaran langsung dan kabel, ada juga aplikasi siaran daring. Ada juga tablet dengan SIM publik. Mungkin agar makanan hangat dapat dipesan dengan layanan pengiriman sepeda. Mikoto mengenali beberapa aplikasi yang berjejer di layar.
Shokuhou menunjuk ke layar geser di dekat dinding yang sepertinya mengarah ke ruang penyimpanan.
“Sepertinya mereka punya selimut tidur di sana.”
“Kita tidak akan mimpi indah kalau tidur di kondisi seperti ini .”
Empat jam.
Itu menjelaskan mengapa mereka memiliki begitu banyak pilihan hiburan untuk menghabiskan waktu.
“Shokuhou.”
“Ya?”
“Bisakah kau bertahan selama empat jam?”
“Maaf, permisi sebentar, aku mau membetulkan riasanku dulu.”
Shokuhou yang mengenakan pakaian berkabung ala Barat menghilang entah ke mana dengan ekspresi serius di wajahnya. Dia tampaknya pergi ke toilet wanita. Karena tidak dapat bersantai tanpa sesuatu untuk difokuskan, Mikoto meraih remot TV dan menghadap layar raksasa. Waktu untuk acara spesial Tahun Baru telah berakhir. Seorang siswi SMP seperti dia tidak tahu apa yang biasanya ditayangkan pada pagi hari kerja.
(Tapi yah, mungkin akan terlihat lebih natural jika aku tak terlalu memaksakan diri?)
Kita seharusnya tersenyum di Tahun Baru dan menangis di pemakaman.
Mikoto muak melihat orang-orang berganti mode seolah-olah menggunakan sakelar atau tombol putar.
Dia menggonti-ganti salurannya.
Acara bincang-bincang hari ini terlalu banyak, jadi dia terus mengganti saluran untuk menghindarinya, tapi yang tersisa hanyalah acara belanja dan drama lawas.
Setelah memutuskan untuk menonton acara siaran satelit tentang binatang, dia melihat seekor beruang kutub raksasa menyerang sekawanan anjing laut tanpa ampun. Dia terkejut. Padahal dia mengharapkan rekaman anak kucing atau anak anjing yang sedang bermain-main. Dia tidak sedang mencari kenyataan alam yang berdarah-darah dan mengerikan saat ini!!
“Apa yang sedang kau lakukan, Misaka-saaan? Kenapa kau tidak pindah ke acara pelayaran keliling dunia yang lebih menentramkan?”
Gadis itu kembali, tampak jengkel.
Tapi mengapa Shokuhou Misaki begitu akrab dengan acara TV di pagi hari waktu kerja?
“Apa kau benar-benar anak SMP?”
“Jika kau mau bilang bahwa aku adalah seorang wanita tua, kupukul kau.”
Ada sesuatu yang diletakkan di samping TV.
Awalnya, Mikoto mengira itu adalah karya seni ala Jepang yang dimaksudkan untuk membantu menciptakan suasana.
“Ini kan…” kata Mikoto tanpa berpikir.
Mereka telah menyiapkan plakat nisan.
Awalnya, Mikoto bingung untuk siapa benda itu. Karena nama yang tertera di sana adalah nama dharma.
“Selama ini kupikir tidak ada makna lebih dari sebuah nama.”
“Di Academy City, rupanya ada situs web yang secara otomatis memberikan nama dharma pada kita. Kau tahu, sama seperti program untuk mengusulkan nama peliharaanmu jika kau belum kepikiran.”
Bukankah kota ini memiliki peraturan bahwa hal itu tidak akan dianggap kecuali kalau berasal dari kepala biara ternama?
Tentu saja, tampaknya para kepala biara di Academy City adalah pekerja paruh waktu yang juga bekerja sebagai pelawak.
Di dalam penjara Distrik 10, sebuah monitor menampilkan petugas Anti-Skill dan guru SMA Yomikawa Aiho saat dia memberikan laporan.
“Pemakaman berakhir tanpa masalah.”
“Begitu ya.”
“Mobil jenazah sudah berangkat ke krematorium. Di sini, kami sedang mengadakan upacara pembukaan versi singkat. Dan sebenarnya lokasimu lebih dekat ke krematorium.”
Krematorium itu berada di distrik yang sama, tapi fakta sederhana itu jauh dari pikiran Ketua Dewan yang baru.
Itu tidak terasa nyata.
(Menerima kematiannya? Mengapa aku yang mengatakan omong kosong itu?)
Accelerator kira saat kita berada di ambang kematian, yang muncul adalah kemarahan. Namun, sekarang setelah batas itu terlewati, dia harus menyingkirkan semua emosi itu? Accelerator tidak bisa berkata apa-apa. Apakah dia menghadapi ini sebagaimana mestinya, atau akal sehatnya sudah mati rasa?
Dia tidak mampu melupakan bagaimana rasanya kehangatan manusia.
Tak peduli berapa banyak yang diselamatkannya dengan cara-cara yang kejam, dia hanya akan mengulang kesalahan masa lalu Academy City.
Jadi apa yang harus dia lakukan?
Apakah lebih manusiawi jika membiarkan emosinya meledak dan menghancurkan semua yang terlihat?
“…”
Monster nomor 1 Academy City mendongak.
Dia tidak bisa melihat surga di sana. Hanya langit-langit yang terbuat dari pelindung tebal khusus.
Penjara itu telah mengalami kerusakan yang cukup parah akibat serangan salah satu Transenden. Ruangan ini sebenarnya adalah sel sekunder tempat dia dipindahkan. Namun, monster putih itu belum mati. Meskipun ada banyak alasan untuk membunuhnya. Apakah memang seperti ini kehidupan?
“Bisa-bisanya kau mati duluan sebelum sang penjahat, dasar bego…” gerutunya.
Kematian tidak memihak.
Kematian dapat mengunjungi siapa saja, kapan saja, tidak peduli seberapa baiknya orang tersebut, siapapun akan kehilangan nyawa.
“Aneri.”
Bunyi bip pun terdengar.
Dia menolak.
Rupanya orang lain memiliki hak administrator. Ketua Dewan yang baru tidak terlalu peduli.
“Qliphah Puzzle 545.”
“Ya, ya. Ki hi hi.”
Dalam hal ini, iblis buatan tidak punya masalah semacam itu.
Dan dia juga tahu banyak tentang dunia di luar sains.
Sang nomor 1 hanya punya satu pertanyaan.
“Ada di mana orang yang telah membunuhnya sekarang?”
Hujan dingin sedang turun.
Hujan yang buruk itu tidak dapat menjadi salju, tapi dia menolak semua kehangatan manusia sementara dia secara alami meresap ke dalam kota dengan teknologi sains mutakhir.
Hujan mencuri panas dari seluruh kota secara merata.
Bahkan di gang belakang.
Tetesan air hujan yang tak terhitung jumlahnya jatuh dari langit tanpa ampun menghampiri semua orang, bahkan seorang wanita yang terdiam dan sempoyongan, dan basah kuyup.
Badannya tinggi. Mengenakan sabuk kulit hitam yang melilit secara kompleks tubuh telanjangnya, membuatnya menonjol bahkan di Academy City, yang terisolasi dari dunia luar.
Rambut pirangnya yang panjang dan bergelombang menempel di kulitnya yang putih.
Dia tampaknya bahkan tidak memiliki kemauan untuk merapihkan rambutnya.
“…”
Alice Anotherbible.
Dia menatap langit yang hujan yang tampak terpotong oleh gedung-gedung di sekitarnya.
Diam tidak bergerak.
Alice sudah tahu anak lelaki itu akan mati bahkan sebelum mereka bertemu.
Alice sudah bilang.
Namun anak lelaki itu telah meninggalkan jalur selamatnya agar bisa menyelamatkan nyawa orang lain.
“Kau akan mati.”
“Itu tidak mengubah jawabanku.”
Alice telah melihat anak lelaki itu berlari menuju kematian.
Alice pikir anak lelaki itu akan meminta bantuan.
Namun, anak lelaki itu tidak melakukannya.
“Jadi lawan aku!! Alice Anotherbible!!!”
Kamijou Touma pernah menolaknya sekali.
Alice telah kehilangan akal dan membangkitkan Christian Rosencreutz seperti yang diperintahkan kepadanya.
“Tunggu dulu. Jangan bilang…?”
Ya, anak lelaki itu terguncang saat pertama kali mengetahui bahwa dirinya ditakdirkan mati.
Namun pada akhirnya anak lelaki itu tetap memilih nyawa orang lain.
Anak lelaki yang terkutuk itu tetap pada jalan hidupnya dan akhirnya menyadarkan Alice Anotherbible.
“…Aku…”
“Aku tidak…”
“Aku tidak ingin melihat orang lain lebih malang daripada aku!! Kenapa, kau tidak suka?!”
Anak lelaki itu tidak akan kembali.
Alice Anotherbible dapat dengan mudah mengubah dunia sesuai keinginannya, tapi itulah sebabnya orang yang telah dibunuhnya tidak dapat kembali. Apa pun yang terjadi.
Inilah hasilnya.
Aradia, Bologna Succubus, dan para Transenden dari cabal Bridge Builders lainnya sudah tidak ada di sini.
Itu berarti Alice Anotherbible bukan lagi seorang pemimpin yang menakutkan.
Alice bisa menipu orang agar melihat bentuk kecantikan dengan membawa kematian dan kekerasan ke titik ekstrem, tapi itu tidak ada artinya tanpa titik ekstrem tersebut. Menjadi yang kedua terbaik atau lebih rendah hanya membuatnya menjadi pembuat onar.
Sebuah suara serak berbicara.
Gadis yang telah kehilangan segalanya berbisik ke dalam kekosongan.
“Sen…sei.”
Saat-saat terakhir telah tiba.
Mereka tidak akan pernah melihat wajah Kamijou Touma lagi.
Peti matinya sudah ditutup.
Meskipun peti mati itu peti mati ala Jepang, ada pintu ganda kecil yang terbuka di bagian muka. Ruang persegi kecil itu tampaknya secara bertahap terpotong dari dunia luar.
“…”
Mikoto mengulurkan tangannya sedikit dan menyentuh pipi anak lelaki itu. Dengan lembut.
“?”
“Tunggu. Kasihan sekali kalau riasannya sampai luntur di saat-saat terakhirnya.”
“Ah, iya. Aku hanya…”
“Apa?”
Mikoto tidak punya jawaban atas tatapan bingung Shokuhou.
Sementara itu, sang Ratu peringkat 5 mulai bergerak. Dia mengangkat tangannya ke samping kepalanya dan mengangkat kerudungnya sebelum menundukkan kepalanya ke arah jendela kecil dari peti mati.
Sesaat sebelum dia mencium pipi si anak lelaki, Mikoto menyikutnya dari samping.
Dengan sangat tajam.
“Jangan disentuh.”
“Ubwogh?! Aku benar-benar tidak mengerti apa salahnya mendoakan dia agar beruntung di kehidupan berikutnya!!”
“Kau tidak ingin merusak riasannya, kan? Lagipula, kau kan pakai lipstik.”
Misaka Mikoto tumbuh di Academy City tempat sains adalah segalanya, tapi dia tetap tahu bahwa tidaklah pantas untuk mengkremasi seseorangnya dengan bekas lipstik di wajahnya.
Masing-masing dari mereka tidak diberi banyak waktu untuk mengucapkan selamat tinggal.
Mikoto dan Shokuhou pindah.
Aogami Pierce meletakkan sebuah benda persegi panjang kecil di atas bantal milik sahabatnya yang matanya sedang tertutup itu.
Itu adalah ponsel pintar.
Fukiyose mengerutkan kening.
“Apa kau boleh menaruh itu di sana?”
“Kami-yan sangat senang saat dia mendapatkan ponsel pintar pertamanya…”
Seorang karyawan mungkin akan marah padanya jika tahu, tapi setelah membakar semua gigi emas dan tulang buatan beserta tubuhnya, mereka tampaknya akan menemukan kembali tanah jarang tersebut. …Dan mereka tidak akan tahu bahan apa yang telah dimasukkan ke dalam aksesori emas murni mahal milik orang kaya itu.
Pelawak yang tidak sukses yang bekerja paruh waktu sebagai biksu mulai berbicara ke mikrofon yang dipegangnya.
“Sekarang, panjatkan doa terakhir untuk ketenangan sang mendiang. Sebentar lagi saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal terakhir kita.”
Dan.
Dan.
Kemudian.
…
…
…
Kamijou Touma diam-diam membuka matanya di ruang kecil dan gelap.
Ya.
Anak lelaki berambut jabrik itu membuka matanya.
“?”
(Di mana aku? Aku tidak tahu, tapi ini jelas bukan neraka buatan. Lalu apa aku hidup kembali? Apa Kingsford benar-benar menepati janjinya—)
“Bweh, uhuk! Uhuk, Uhuk!!”
Sekarang bukan saatnya untuk bersikap emosional.
Sesuatu tersangkut dalam tenggorokannya. Dia terbatuk-batuk sampai berhasil mengeluarkan suatu gumpalan. Terlalu gelap untuk melihat gumpalan apa itu. Dia meraba-raba di sekitar ruang sempit itu hingga menemukan sesuatu. Entah mengapa, sebuah ponsel genggam ada bersamanya di dalam kotak kecil itu.
Ponsel itu memberinya cahaya.
Kamijou mencoba membuka matanya untuk melihat, tapi ada sesuatu yang salah dengan penglihatannya.
“Aw!! Mataku sakit?! Apa-apaan ini?! Ini bercanda, kan?! Ada sesuatu di mataku?!”
Kamijou ragu-ragu mencubit kelopak matanya dan menggunakan jari telunjuk tangan satunya untuk meraba-raba. Benda itu besar. Dia menarik sesuatu yang lebih besar dari koin 100 yen dari bawah kelopak matanya. Dia memeriksa dengan lampu LED dan menemukan benda itu adalah kapas penyerap yang berat karena air matanya. Dia menggigil.
Dan benda yang ada di tenggorokannya ternyata sejenis kain.
Mungkin agar lidahnya tidak jatuh ke tenggorokannya atau mungkin agar serangga tidak masuk ke dalam tubuhnya? Dia tidak tahu mereka melakukan semua itu di pemakaman.
Dan sesuatu yang lain perlahan-lahan mulai menyadarkannya.
Ini bukan kamar mayat rumah sakit. Dia mengira ini adalah salah satu ruang penyimpanan seperti loker yang terlihat dalam drama TV, tapi ternyata tidak. Dia sama sekali tidak merasa kedinginan.
Itu hanya menyisakan satu kemungkinan.
“Tunggu…”
Kamijou berbaring telentang di tempat yang terlalu sempit untuk bergerak. Dia mencium aroma kayu dan bunga di sekelilingnya. Langit-langit? Dia merasakan kayu itu kurang dari 30 cm darinya. Mengandalkan lampu ponsel, dia mencoba menekannya dengan telapak tangannya dan hambatan itu menghilang lebih cepat dari yang diharapkan. Oh? Sama sekali tidak berat?
Tidak.
Kamijou hanya membuka pintu ganda kecil yang sudah ada di sana. Lebarnya sekitar 20 cm.
“Tunggu, tunggu, tunggu…”
Ruang di balik jendela kecil itu juga gelap. Dan tercium bau logam. Setelah semua makanan murah yang dimasak di asramanya, dia menyadari apa yang dilihatnya.
Itu adalah oven.
Tapi yang ini besarnya cukup untuk memasak manusia secara utuh.
“Ubwahhhhhh!! Berarti aku ada di krematorium?!!”
Memahami keadaan sendiri itu penting.
Karena sekarang tekanan di hatinya jauh lebih kuat.
Apakah itu berarti kotak kayu yang ada di dalamnya adalah peti mati?! Dia mendorong penutupnya dengan telapak tangan untuk mencoba keluar kali ini, tapi… oh, tidak. Penutupnya tidak terbuka. Tampaknya tidak dipaku dengan rapat. Penutupnya akan terbuka ke atas beberapa sentimeter sebelum terpentok oleh sesuatu. Rupanya ruang kremasi itu tingginya sangat pendek, jadi pintu peti matinya membentur bagian atas.
Tunggu, apa itu berarti dia tidak bisa keluar?
Kalau Kamijou tetap di sini, dia punya firasat kuat mereka benar-benar akan membakarnya!
“Tolong!! Aku tahu ini sudah terlambat, tapi Kamijou Touma masih hidup, jadi tungguuuuuu!!”
Kamijou berteriak sekuat tenaga… tapi apakah itu ada gunanya?
Tidak ada reaksi.
Kamijou bahkan tidak yakin suaranya bisa terdengar dari luar ruangan. Dia belum pernah ke krematorium, tapi bukankah ruangan kremasi memiliki dinding logam tebal? Dan dia adalah si tukang sial Academy City. Sepertinya dia akan luput dari perhatian dan dipanggang karena keceroboh ini. Sangat mungkin.
“T-t-t-t-telepon! Aku harus menelepon seseorang di luar dan… mgwah?! Kenapa tidak ada sinyal?! Apa karena dindingnya terlalu tebal?! Apa ruang kremasi dari batu dan logam ini menghalangi sinyal?!”
Sepertinya dia tidak bisa mengandalkan bantuan dari luar.
Dia harus merangkak sendiri keluar.
Namun, ruangannya sangat sempit. Sepertinya tutup peti mati tidak akan bisa dibuka di dalam ruang kremasi, tapi itu berarti dia harus kreatif.
“Hwah!!”
Secara khusus, dia bergerak ke satu sisi peti mati persegi panjang untuk menggeser pusat gravitasi. Kemudian dia berguling ke samping. Seperti berguling-guling dalam bola raksasa, dia memiringkan seluruh peti mati hingga 90 derajat.
Ruang horizontal akan lebih lebar daripada ruang vertikal.
Akhirnya dia bisa mendorong tutup peti yang besar itu dan keluar dari peti mati itu… atau begitulah yang dia kira sebelum sebuah pukulan keras menghantam punggungnya. Dia tersedak keras dan kemudian menyadari bahwa dia telah jatuh dari sesuatu. Langit-langitnya tampak begitu rendah karena peti mati itu diletakkan di atas sesuatu seperti tandu. Bau logam itu jauh lebih kuat sekarang. Namun, tempat itu gelap dan dia tahu bahwa dia berada di dalam oven raksasa yang akan membakar daging dan tulangnya menggunakan gas kota. Bahkan sekarang, dia berasumsi bahwa perpisahan yang emosional dengan khidmat masih berlangsung dan mulai mendekati klimaksnya. Jika tetap dibiarkan, dia akan menemui nasib yang sama seperti ikan saury yang disiapkan oleh seorang teman masa kecil yang merupakan juru masak yang payah.
(Berapa lama sampai ini dinyalakan? Sial, aku tidak bisa dengar suara apa pun dari luar!!)
Mungkin satu jam dari sekarang, tapi mungkin juga satu menit dari sekarang.
Bagaimana pun, begitu api mulai menyala, semuanya berakhir.
Kamijou mengarahkan ponselnya ke sekeliling dan menemukan pipa baja setebal ibu jarinya yang membentang di dekat langit-langit yang rendah. Dia memilih untuk tidak membayangkan apa sebenarnya komposisi utama jelaga hitam yang dilihatnya. Bahkan, dia berusaha keras untuk tidak memikirkannya. Bentuk tempat itu memang mirip dengan oven yang biasa dipakai untuk memanggang ikan. Itu berarti ada beberapa penyemprot gas dan busi pengapian di sana.
(Aku akan tamat kalau itu berfungsi dengan baik.)
“!! Oh, sial!!”
Atau dengan kata lain, dia harus menghancurkannya jika dia ingin hidup! Dia meraih apa pun yang bisa dia ambil dan menariknya hingga pipa terlepas dengan bunyi yang keras.
Kamijou belum bisa merayakannya.
Bau busuk yang menyengat menusuk hidungnya.
Ancaman yang sudah tidak asing lagi bagi siapa pun yang pernah bekerja di dapur mencengkeram hatinya. Bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
(Tunggu sebentar. Apa itu gas kota?)
“Gwohhhhh!! Bukankah itu berarti ruangan ini terisi gas, meskipun tidak terbakar?! Kalau begitu aku akan mati lemas!!”
Kamijou tidak tahu apakah dia telah menambah atau mengurangi batas waktunya.
Berusaha meronta-ronta tidak akan membantu.
Kamijou tahu apa yang harus dilakukan. Dia harus keluar dari sini. Apa pun yang terjadi.
Tidak ada yang seperti cerobong asap. Dia berasumsi cerobong asap itu memiliki lubang pembuangan di suatu tempat, tapi dia tidak dapat menemukannya dengan lampu ponselnya. Apakah ada lubang kecil yang tersembunyi di suatu celah di suatu tempat? Paling tidak, sepertinya tidak mungkin dia bisa menyelinap keluar melalui saluran seperti bintang film laga.
Yang tersisa hanya satu pilihan.
Satu-satunya jalan keluar adalah pintu tempat dia masuk.
“Kh.”
(Tapi apa akan terbuka? Aku tidak tahu banyak soal pemakaman, tapi bukankah pintu ruang kremasi terbuat dari logam yang sangat tebal?!)
Kamijou dengan putus asa mengarahkan lampu LED ponselnya ke situ… dia tak melihat kenop apa pun. Bahkan, dia terkejut menemukan bagian belakang pintu logam itu tertutup benda-benda. Beberapa panel dan sambungan logam saling terhubung dengan kompleks.
Itu mungkin mekanisme yang memungkinkan pintu dibuka dengan tuas besar di luar.
Apakah kelihatannya seperti satu panel besar di luar, tapi alat pembuka dan penutupnya tersembunyi di bagian dalam?
Yang berarti…
“Bisakah aku merusaknya dengan tendangan?”
…Masalahnya adalah gas kota yang mudah terbakar mulai memenuhi bagian dalam ruangan.
Jika Kamijou tetap menunggu, dia pasti akan mati lemas, tapi bagaimana jika dua potongan logam bertabrakan dan menghasilkan percikan?
Terima saja.
Percaya pada harapan.
Menyerah pada rasa takut hanya akan membuatnya tercekik.
“Terbukalah.”
Dia harus melakukannya.
Sekalipun dia ketakutan dan sekalipun jantungnya menjerit sesaat setelah mulai berdetak sekali lagi.
Kamijou Touma berulang kali membantingkan tumitnya ke pengunci kompleks di belakang pintu ruang kremasi.
“Terbukalaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!!”
Datangnya dari dalam.
Pintu logam itu ditendang hingga terjatuh disertai suara gemuruh yang keras.
Semua orang terkejut.
Ada suara.
Hari ini adalah ulang tahunku di bulan Januari.
Hari ini adalah hari kelahiranku.
Di hari ulang tahun ini akulah bintangnya.
Hari ini hari ulang tahunku di bulan Januari.
Dia mengenakan pakaian pemakaman.
Sebuah kain segitiga diikatkan ke dahi di bawah rambut jabriknya.
Dia merangkak keluar.
Dan mulai berbicara.
“Hai semuanya! Maaf kalau aku mengejutkan kalia—”
“Ahhhh, ada zombi! Dia akan menginfeksi kita semua entah dengan apa!!!”
Mereka bahkan tak membiarkan Kamijou menyelesaikan kalimatnya.
Di sudut kelas, Air mata mengalir dari mata si anak lelaki, yang tidak menjadi bintang bahkan setelah bangkit dari kematian.
Kepanikan dan kekacauan sudah mulai terjadi.
Tentu saja.
Berdasarkan layar ponselnya, sudah beberapa menit berlalu sejak kematiannya. Siapa pun pasti takut jika seseorang yang jantungnya sudah lama berhenti berdetak tiba-tiba hidup kembali.
(Aku senang bisa bangkit kembali, tapi tidak bisakah kau bekerja lebih cepat, Kingsford?!)
“Abababawawa, tidak, tidak, ini benar-benar aku, Kamijou Touma, memang aku sudah mati, tapi aku hidup kembali, yah, secara teknis hari ini bukanlah hari ulang tahunku, tapi tidak bisakah kalian memberiku reaksi yang lebih damai seperti ketika picu jantung berhasil dilakuk—”
“Diam, semuanya! Diam!! Tarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri dan tetaplah di tempat. Sekarang, apa yang kau lakukan di sana? Siapa kau?!”
Biksu yang bekerja paruh waktu itu berteriak lewat mikrofonnya.
Lalu Kamijou mendengar suara mekanis yang aneh.
Beberapa orang pun datang.
Orang-orang ini mengenakan zirah perak berkilau yang menutupi badan dari kepala sampai kaki.
Tidak, apakah itu power suit?
“Apa dia mayat istimewa?!”
“Bakar.”
Mereka memegang sesuatu di pinggul.
Kelihatannya mirip selang semprot pemadam kebakaran, tapi sebenarnya bukan.
Nyala api kecil seukuran korek api berkedip-kedip di depan ujung selang.
“Penyembur api?!!”
Seberapa siapnya mereka?!
Mengapa mereka sudah menyiapkan unit seperti ini? Apakah mayat punya kebiasaan bangkit kembali di kota ini?!
Bagaimana pun, Kamijou tidak bisa membiarkan dirinya terpanggang setelah nyaris lolos dari nasib buruk.
Kamijou tidak punya pilihan selain berlari keluar dari krematorium dengan kaki telanjang.
“Sial!!”
Kamijou Touma membuka jendela kaca buram dan memanjat keluar.
Hujan dingin turun di luar.
Dan gadis yang menunjukku dan memanggilku zombi tepat setelah aku hidup kembali adalah Fukiyose, bukan? Kamijou-san tidak akan pernah melupakannya!!
Kamijou Touma bukan satu-satunya yang terkena masalah.
Aogami Pierce, Fukiyose Seiri, dan orang lain yang tertinggal di krematorium tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya menatap.
Situasinya sedang berubah.
“Uwah?!”
Bwoosh!!!
Suara itu berasal dari luar jendela. Lebih banyak orang yang mengenakan power suit menyemprotkan sesuatu dari tabung besar. Suara itu mengingatkan kita pada penyemprotan bahan kimia pertanian di ladang, tapi itu bukan pestisida. Dalam waktu singkat, Bagian luar jendela segera menebal dan mengeras serta tampak agak transparan.
Aogami Pierce tidak dapat mempercayai matanya.
“Apa itu lem resin? Itu seperti versi yang lebih hebat dari lembaran pengaman yang dipasang di jendela.”
“Dengan itu, mereka dapat mengkarantina suatu lokasi dalam waktu kurang dari 5 menit. Sekarang aku ragu ada orang, bakteri atau virus yang dapat keluar masuk."
Di rumah sakit lapangan, lembaran plastik tebal digunakan untuk membatasi ruang dan tirai udara digunakan untuk mengendalikan aliran udara, tapi apakah ini adalah versi yang lebih tinggi dari itu?
Lalu Fukiyose mengomentari frasa yang dia gunakan dan menarik perhatiannya.
“Seseorang…?”
“Ada mayat yang baru saja terbangun lalu kabur. Ini sudah keadaan darurat. Apa kalian tidak sadar bahwa kita sekarang terjebak di dalam sini?”
Namun reaksinya terlalu cepat.
Mayat Kamijou Touma yang bangkit dan melarikan diri dari krematorium tentu saja merupakan suatu kejutan, meskipun belum beberapa menit berlalu sejak saat itu.
Kecepatan itu hanya mungkin terjadi apabila orang-orang tersebut sedari awal sudah dalam keadaan siaga.
Artinya, mereka harus selalu memantau kremasi siapa pun yang meninggal dalam “kondisi mencurigakan”.
“(Jika mereka sudah dipersiapkan, apa hal seperti ini sering terjadi di Academy City?)”
“(Apa pun bisa terjadi di sini. Maksudku, kota ini menciptakan manusia super, yakni esper Level 5.)”
Tak satu pun terdengar nyata.
Kamijou Touma telah bangkit. Itu fakta.
Namun, apa yang sebenarnya terjadi? Mengatakan bahwa virus misterius yang menjadi penyebabnya terdengar cukup masuk akal, tapi tidak sesuai dengan kenyataan. Itu sama saja dengan mengatakan bahwa hantu sebenarnya adalah plasma. Dengan sombong menjelaskan hal itu di gedung tua yang gelap tidak akan menenangkan pikiran kita.
Dan selain itu…
“Apa yang akan terjadi pada kita?” tanya Aogami.
“Pindah dari sini bisa jadi berbahaya.”
Bahwa dia tidak mencemooh pertanyaannya berarti Fukiyose sadar mereka terjebak di sini.
Ini tidak seperti lamunan tentang memerangi teroris selama kelas yang membosankan.
Seluruh bangunan itu tertutup rapat dari luar oleh dinding plastik tebal. Sebuah pel atau tongkat logam tidak akan bisa menembus jendela. Bahkan sebuah pistol mungkin tidak akan cukup. Sebuah pintu khusus anti-gas telah dipasang sebagai satu-satunya jalan masuk atau keluar, tapi para prajurit berkumpul di sekitarnya.
Dan seseorang terdengar mendekat dengan suara keras dari sana.
Pada suatu titik, jumlah power suit telah bertambah lebih dari 10.
“Semuanya, tenang! Kami dari Bio Secure!”
Orang ini juga mengenakan power suit.
Mungkin tampak mencurigakan, tapi rasanya mereka sengaja membuat diri mereka tidak bisa dibedakan satu sama lain. Seperti perampok bertopeng.
“Pergerakan kalian akan dibatasi sementara, tapi jangan khawatir. Setelah kami memastikan keadaan sudah aman, kalian akan dibebaskan, jadi kuminta kerja samanya dan jangan membuat keributan.”
Orang itu “meminta” bekerja sama, tapi dia tidak menunggu jawaban ya atau tidak dari mereka.
Orang itu seolah mau bilang bahwa silahkan kalau mau menentang, tapi risikonya tanggung sendiri.
Dia menjelaskan siapa yang memimpin di sini.
Bagaimana mereka bisa "tidak khawatir" saat orang itu mengenakan pakaian serba guna yang tertutup rapat dan dilengkapi dengan penyembur api? Di wajahnya yang tersembunyi, tertulis bahwa kemungkinan ada sesuatu yang tidak terlihat di udara tapi timnya akan baik-baik saja.
“T-tunggu…” protes seorang pekerja krematorium berwajah pucat.
Bahkan orang dewasa pun tidak tahu apa ini.
Hal itu membuat Aogami Pierce dan Fukiyose Seiri semakin khawatir. Dan mereka meragukan Komoe-sensei akan banyak membantu di sini.
“Tunggu! Apa yang terjadi? Dokumen itu tidak menyebutkan apa pun tentang penyakit menular, tapi apa kita akan aman? Dan apa kita memiliki izin untuk terus menjalankan fasilitas ini?!”
“Kami tidak berwenang menjawabnya. Ketua Kihara Goukei belum datang, tapi semua akan dijelaskan begitu beliau tiba. Jadi simpan dulu pertanyaanmu.”
Terdengar suara seperti uap.
Para power suit itu melemparkan benda-benda ke dalam tong kaca persegi panjang besar yang penuh dengan asam kuat. Mereka melakukannya dengan santai, mungkin karena percikan cairan dan asap tidak akan membahayakan mereka.
Itu adalah karangan bunga dan barang-barang milik Kamijou Touma yang disiapkan untuk pemakaman.
Tentu saja mereka tidak meminta izin siapa pun terlebih dahulu.
Meski hanya melalui sebuah layar, tapi selama pemakaman, Aogami Pierce telah melihat wajah penuh air mata dari sang ayah yang marah atas kematian putranya. Barang-barang yang seharusnya diterima sang ayah dan ibunya justru dilenyapkan tanpa belas kasihan.
Sekalipun diarahkan oleh para profesional, tapi pemandangannya seolah merusak suasana lembut di hari itu.
Napasnya pendek dan keringat dingin tak henti-hentinya mengalir di dahinya, tapi Aogami mungkin masih belum paham betul mengenai ancaman itu. Jika dia memahaminya, dia bisa saja pingsan karena hiperventilasi.
Jika Aogami tidak bisa memanfaatkan ketidaktahuannya sendiri, dia akan mendapat masalah.
Instingnya mengatakan demikian.
Apa yang akan terjadi pada kita?
Apakah infeksi akan menyebar?
Jika iya, maka apakah kita juga akan kena?
Namun situasi terus berjalan terlepas apakah dia suka atau tidak.
Tak jauh dari situ, satu power suit sedang berbicara dengan power suit lainnya.
“Ada apa?”
“Ketua Kihara Goukei telah tiba.”
Orang mati telah hidup kembali.
Itu termasuk hal baik atau buruk?
Dan ini adalah Academy City.
Kalau Kamijou tertangkap, dia akan dikirim ke laboratorium untuk direndam dalam formalin atau langsung dipanggang dengan penyembur api.
Atau dengan segala cara…
“Gawat!! Kalau sampai tertangkap, tamat sudah riwayatku!!”
Kamijou Touma berlari keluar di tengah hujan yang dingin.
Pakaian pemakamannya, yang merupakan kostum Halloween, tidak bisa menahan hawa dingin sama sekali. Dan dia bertelanjang kaki. Ingatlah bahwa sekarang adalah bulan Januari. Terjebak di tengah hujan dengan pakaian seperti ini akan membunuhnya dalam waktu satu jam setelah hidup kembali!!
“Ahh, brrr. Bahkan tidak ada gadis basah kuyup karena hujan musim panas yang tiba-tiba turun. Musim dingin memang menyebalkan. Tidak ada hal bagus dari basah kuyup di musim ini.”
Kota itu rusak parah.
Dampak akumulatif dari pertempuran melawan Anna Sprengel, Christian Rosencreutz, dan Alice Anotherbible benar-benar telah membuat kota ini hampir runtuh. Perbaikan tidak dapat dilanjutkan, sehingga perancah konstruksi dan lembaran kedap suara dapat terlihat di mana-mana.
Kamijou Touma telah menerima serangkaian serangan mematikan yang sama dengan tubuhnya yang terbuat dari daging dan darah.
Jadi aneh sekali jika dia tetap hidup.
Kamijou mendengar suara deritan
Itu adalah suara otot buatan dari sebuah power suit yang sedang beroperasi.
“Sial, mereka sangat cepat!!”
Kaki power suit dapat berlari pada kecepatan 40-50 km/jam tanpa bantuan roda atau mesin gerak.
Manusia biasa tidak akan bisa lolos dengan hanya berlari di jalanan yang lebar.
“Kh.”
Mereka hampir menyusul.
Jari-jari tebal power suit itu mendekati bagian belakang lehernya.
“Sial!!”
Kamijou mendecakan lidah dan mengubah arah.
Dia meluncur melintasi trotoar basah, menyelinap di bawah lembaran kedap suara, dan terjatuh ke lokasi konstruksi perbaikan gedung yang ada di dekatnya.
Tempat seperti ini dapat ditemukan di mana saja berkat pertarungan melawan musuh kuat seperti Anna Sprengel, Christian Rosencreutz, dan Alice Anotherbible.
Kamijou mendengar bunyi retakan logam.
Setelah jari-jari tebal power suit itu hanya menangkap udara kosong, barikade luar yang terbuat dari lembaran kedap suara dan panel logam pun terkoyak seperti kertas basah.
Cara kerjanya seperti paruh penghancur bangunan yang diikatkan pada ujung lengan mekanik.
Serangannya akan menghancurkan tubuhnya meski hanya mengenai bajunya sedikit.
“Mengapa kita tidak diizinkan menggunakan penyembur api?!”
“Tanyakan saja pada Ketua Kihara Goukei. Dialah bos Bio Secure, bukan aku.”
Kamijou mendengar beberapa suara menakutkan dari belakang, tapi dia tidak bisa berhenti begitu saja.
Suara logam tebal yang terkoyak terus berlanjut.
Para power suit yang mengejar tidak mau repot-repot berputar-putar atau memanjat rintangan. Mereka akan mendorong tumpukan pipa ke samping dengan satu lengan atau menjegal hutan balok baja yang berdiri, menyebabkan seluruh bangunan yang setengah diperbaiki menjadi miring.
Tertangkap akan menjadi akhir bagi Kamijou.
Dia tidak bisa tinggal di sini, di lokasi konstruksi.
“Hik!!”
Suara keras dan berat dari logam yang bengkok memenuhi udara.
Dua dari power suit yang bergerak cepat itu tampak bertabrakan.
“Su… suit-mu bocor!”
“Jangan khawatirkan aku, kau lanjutkan saja! Cepatlah!!”
“Berhentilah bersikap heroik sambil mengacungkan penyembur api! Seram tahu!” teriak Kamijou sambil marah-marah dan melarikan diri.
Dalam benak mereka, mereka tidak mengeroyok korban untuk menindasnya — mereka tampaknya menganggap diri mereka sedang berjuang untuk melindungi Academy City. Yang berarti mereka tidak akan berkompromi atau lengah. Tapi terus kenapa? Menurut Kamijou, seseorang yang bisa membunuh orang asing tanpa berpikir dua kali adalah orang yang mengerikan.
Kamijou melihat lereng yang mengarah ke bawah tanah, jadi dia berlari menuruni lereng itu. Dia mengira itu adalah mall bawah tanah, tapi yang dia dapatkan justru udara yang berbau busuk. Dia tampaknya telah masuk ke gorong-gorong tempat sungai mengalir di bawah kota.
Di lantainya, dia mendapati peralatan komunikasi nirkabel besar, peralatan yang tampak profesional, dan kabel listrik panjang yang mengarah ke suatu tempat.
Tampaknya perbaikan juga sedang dilakukan di sini.
Kamijou takut posisinya diketahui, tapi di sini gelap. Terpeleset dan jatuh ke sungai musim dingin bukanlah hal yang lucu, jadi dia menekan rasa takutnya dan menyalakan lampu LED.
“Ponsel pintar serba guna benar-benar merupakan salah satu penemuan terbesar umat manusia.”
Kamijou berharap bisa menelepon Anti-Skill dan meminta mereka datang untuk menyelamatkan, tapi dia mendapat kesan bahwa dia tidak bisa mempercayai sistem orang dewasa.
Dimana pintu keluarnya?
Apakah pergi keluar merupakan pilihan terbaiknya?
Atau haruskah dia bersembunyi di struktur bawah tanah yang berliku-liku ini sampai para pengejarnya pergi?
Dan berapa menit dia harus menunggu sampai rencana itu berhasil?
Dia punya terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Di belakangnya, dia mendengar suara mesin yang aktif. Apakah mereka masih mengejarnya?!
(Tapi mereka tidak bergerak secepat sebelumnya. Apakah mereka tidak memiliki perlengkapan penglihatan malam karena masih siang hari, atau apakah mereka takut jatuh ke air dan tenggelam seperti batu?)
Kalau tidak dipaksa untuk tetap berpikir positif, Kamijou merasa dia akan pingsan karena ketakutan.
Dia harus terus berlari dan melarikan diri.
Sungguh tidak adil.
Kamijou hampir saja meninggal, tapi karena suatu alasan dia tertawa terbahak-bahak saat dia berlari menjauh dalam keadaan basah kuyup.
Dia tidak bisa berhenti.
“Ha ha ha…”
Kamijou takut mati.
Tentu saja.
Karena tidak peduli apa yang dikatakan orang lain, Kamijou Touma masih hidup!!
“Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha!!!”
Dia masih hidup.
Dia tidak pernah merasa begitu sadar akan kehidupan di dalam dirinya.
Dia bukan hantu atau zombi atau semacamnya.
Menjadi manusia adalah perasaan yang luar biasa!!
Meskipun jika Anna Kingsford melihat ini, dia mungkin akan memegang kepalanya sendiri karena jengkel atau malah akan memukul kepala anak lelaki itu dengan tinjunya.
(Meski begitu…)
Ketua Kihara Goukei.
Mereka mengungkit nama Kihara.
Apakah itu Kihara yang sama?
Selain Kihara Kagun, dia cukup yakin pernah mendengar nama itu terkait dengan insiden saat pertama kali bertemu Alice Anotherbible. Operasi itu dimaksudkan untuk membersihkan sisi gelap yang bersembunyi di balik bayang-bayang Academy City, tapi pengaruh luar telah mengubahnya menjadi tragedi besar. Banyak orang yang mati. Tapi... mereka masih ada di sana.
“Apa itu berarti sisi gelap masih terus hidup dan berkembang bahkan setelah semua yang terjadi? Sialan!”
Kamijou mendengar suara gemuruh yang menakutkan.
Itu adalah suara api yang menghisap oksigen.
Kamijou menoleh ke belakang sambil berlari dan matanya terbelalak. Sebuah bola api menyala-nyala di udara.
Itu adalah ujung penyembur api.
“Ya-yang benar saja?!”
Meskipun bercabang ke segala arah, ini tetaplah ruang tertutup. Bio Secure mungkin bisa bertahan hidup berkat power suit tebal dan pasokan oksigen yang mereka punya, tapi Kamijou akan langsung terpanggang atau mati lemas dengan paru-parunya yang gosong
(Bukannya si Kihara siapalah itu melarang mereka memakainya!)
Sudah terlambat untuk mengeluh.
Dan mungkin salah jika harus bergantung pada keadaan musuh yang tidak pasti.
Tanpa ragu, ujung penyembur api itu diarahkan ke arah Kamijou dan menyemburkan oksidan dan cairan seperti jeli yang mudah terbakar.
Dan beberapa saat kemudian…
Terjadi ledakan.
“Wahgyahhh!!!”
Kamijou basah oleh keringat saat dia melompat ke percabangan jalan yang berbeda.
Apa?
Dia masih hidup, tapi kenapa?!
Memang ada api, tapi rasanya ada yang beda. Jika penyembur api itu berfungsi normal, dia juga pasti diselimuti api. Power suit itu telah melakukan kesalahan. Karena pengejarnyalah yang pada akhirnya terbakar.
Api putih.
Ledakan macam apa itu?
Sepertinya ada sesuatu di kaki power suit itu yang meledak sesaat setelah penyembur api diaktifkan.
(Apakah karena gas asetilen yang digunakan untuk pengelasan?!)
Gas mudah terbakar khusus itu digunakan untuk menciptakan api bersuhu sangat tinggi yang dibutuhkan untuk melelehkan dan menggabungkan baja tulangan. Power suit itu tampaknya dirancang untuk menahan panas penyembur api, tapi ledakan dalam jarak sedekat itu pasti setidaknya telah merusaknya.
Apakah ulah Kihara Goukei?
Ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa bos para power suit melarang mereka menggunakan penyembur api. Dengan propana, gas kota, dan lainnya, kota padat penduduk itu menyimpan sejumlah besar bahan yang mudah terbakar dan meledak. Pemulihan akhirnya dimulai setelah banyak pertempuran. Bahkan ada kemungkinan peluru atau rudal yang belum meledak tergeletak di sekitar.
“Haa, haah!”
Bagaimanapun, Kamijou Touma masih hidup.
Jika dia terus bermain kejar-kejaran dengan para power suit ini, dia akan terbunuh. Jika dia ingin kabur, maka lakukan saat mereka panik atas kesalahan mereka sendiri.
Bio Secure(?), atau apa pun namanya, tampak tidak khawatir di dalam kobaran api yang melelehkan baja.
Kamijou merasakan tatapan mereka tertuju padanya.
Suara deritan pun terdengar.
Mereka mengalami masalah, tapi mereka hanya perlu menunggu sampai suit mereka berhasil diaktifkan kembali di dalam kobaran api. Kamijou tahu dia tidak bisa menyerang dan menghancurkan mereka. Begitu pemindaian dan pemulihan galat mereka selesai, dia tidak akan punya pilihan lagi. Dia tidak akan bisa melarikan diri.
Jadi bergeraklah.
Gorong-gorong itu berada satu langkah dari saluran pembuangan. Dia kelelahan karena semua aktivitas dadakan yang diterimanya, tapi dia sama sekali tidak ingin bersandar ke dinding. Dia menggunakan lampu LED ponselnya untuk berjalan menyusuri jalan kecil di gorong-gorong gelap yang berbau lumpur dan akhirnya menemukan sebuah pintu kecil.
Mungkin pintu akses kerja atau mungkin juga pintu keluar darurat, tapi di sisi lain, ada tangga sempit yang mengarah ke permukaan.
“Haa, haah…”
Kamijou pun kembali ke dunia hujan.
Sejujurnya dia sama sekali tidak merasa telah melarikan diri.
Dia yakin para power suit dengan penyembur api itu akan segera kembali menemukannya.
Apakah kembali dari kematian benar-benar sesulit itu?
Ini sama sekali tidak seperti reaksi emosional terhadap pengalaman ajaib yang telah diharapkannya.
(Tapi apa yang harus kulakukan sekarang? Kalau aku diperlakukan seperti orang mati, kamar asramaku mungkin sudah tidak ada lagi. Dan sepertinya tidak ada kenalan yang bisa kuandalkan.)
“?”
Kamijou melihat robot keamanan yang dilengkapi kamera dan secara naluriah berpindah dari jalan utama ke gang untuk bersembunyi.
Dia merasa seperti semakin menjauh dari matahari.
Kalau terus begini, apakah dia akan mendapati dirinya merangkak di bawah pot bunga di halaman sekolah?
“Sejujurnya...”
Kematian telah membuatnya takut.
Menemukan cara untuk kembali hidup adalah satu-satunya hal yang ada dalam pikirannya.
Tapi.
Mungkinkah?
“Tidak adakah yang menginginkan dunia dengan aku di dalamnya?”
Kamijou menunduk.
Itu sungguh menyakitkan.
Namun, dia hanyalah seorang siswa SMA. Dia bukanlah seorang biksu Buddha penting yang jasadnya akan diawetkan setelah kematiannya. Jadi mungkin tidak ada seorang pun yang ingin melihatnya lagi dan harus menghadapi sesuatu yang aneh seperti ini...
Dia telah meninggal dan bangkit kembali.
Dibunuh oleh Alice Anotherbible membuat masalah menjadi rumit, tapi dia sebenarnya sudah mengalami hal serupa beberapa kali dengan Othinus ketika dalam kekuatan penuh dan Good Old Mary… tapi apakah semua menjadi berbeda sampai pada tahap pemakaman? Bukan hanya kematian secara fisik, tapi kematiannya telah diterima secara sosial. Butuh sebuah kematian baginya untuk menyadari bahwa kematian terjadi secara bertahap.
Suara mesin menderu lewat di atas kepala.
“Hiik?!”
Sekarang bukan saatnya untuk berfilsafat.
Kamijou menjerit pendek lalu bersembunyi di bawah AC yang menempel di dinding di gang sempit itu. Drone terbang melewatinya. Sisi gelap seharusnya sudah mereda tapi mereka masih bisa melakukan semua ini? Saat ini dia benar-benar tidak ingin ditemukan oleh orang dewasa. Apalagi mereka memang punya penyembur api!
Dan itu bukan hanya sekedar alat pengintai.
Juga bukan alat yang aman.
Sangat berbeda dengan robot keamanan berbentuk drum.
Secara spesifik, ada sebuah benda seukuran bola rugbi yang tergantung di sana. Dia cukup yakin itu adalah roket anti-tank.
Jika drone itu menyadari keberadaan Kamijou dan melepaskan benda mirip bola rugbi, maka Kamijou akan hancur bersama sudut gang ini. Peledak seharga 8000 yen per buah itu sudah cukup untuk mengubah makna perangkat elektronik itu sepenuhnya.
Semuanya berakhir jika Kamijou ketahuan.
Kamijou Touma menahan napas dengan putus asa.
Mungkin dia melakukan sesuatu yang sangat bodoh. Lagipula, itu bukan makhluk hidup. Tetap diam di balik perlindungan seperti ini mungkin tidak jadi masalah, tergantung pada jenis sensor apa yang digunakannya untuk memindai.
30 detik berikutnya seakan membakar jantungnya.
Itupun kalau asumsi akan persepsinya tentang waktu akurat.
Drone itu terbang menjauh begitu saja. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Pada saat terakhir, gerakannya tampak seperti gerakan manusia, mungkin drone itu telah beralih dari penerbangan terprogram ke kendali manual jarak jauh.
Apapun yang terjadi, itu berarti ancamannya sudah berlalu… benar kan?
“Fiuh…”
Dan dia pun pun terkejut.
Saat semua fokusnya tertuju ke atas kepalanya, dia mendengar suara dari depan.
Langkah kaki pelan.
Ada seseorang di sana.
Orang itu terpaku di tempatnya, menatap Kamijou dengan mata terbelalak.
Seorang yang cantik, tinggi dan ramping. Rambut pirangnya yang panjang dan bergelombang basah karena hujan dan tubuhnya yang kurus diikat erat oleh sabuk kulit hitam, membuatnya terlihat mencolok bahkan untuk Academy City.
Dia adalah Transenden.
Alice Anotherbible.
Alice terpaku karena terkejut, matanya yang melebar tertuju pada Kamijou.
“K-kau bisa… melihatku???”
Si bodoh itu telah kehilangan rasa kepercayaannya terhadap kemanusiaan sehingga dia harus menanyakan hal semacam itu dengan suara gemetar.
Air mata keluar di sudut mata si gadis.
Air matanya menggenang besar.
Hujan dingin masih turun, tapi tetesan ini terasa berbeda dan membawa panas tubuh.
“Se…”
Tubuhnya menegang dan gemetar.
Kemudian…
“Sensei!!”
Alice merentangkan tangannya dan melompat ke arah Kamijou.
Momentumnya terlalu kuat, jadi Kamijou Touma terjatuh ke belakang.
Ya, Kamijou bisa merasakan Alice.
Rambutnya basah karena hujan yang dingin, kulitnya, aroma tubuhnya yang harum, dan suaranya yang melengking menusuk telinga Kamijou. Sensasi yang tidak pernah bisa dialami orang mati membingungkan indranya dan menusuk langsung ke otaknya. Kamijou Touma masih hidup, termasuk otaknya.
…Alice pikir mereka tidak akan pernah bisa bertemu lagi.
Jantung Kamijou sudah berhenti berdetak, jaringan saraf otaknya hancur, dan dia meninggal sepenuhnya.
Mengatakan kalau Kamijou akan hidup kembali adalah sebuah fantasi yang tidak masuk akal.
Namun dia telah melakukannya.
Kamijou telah kembali hidup-hidup dari neraka.
Akan tetapi, dia tidak pantas mendapatkan penghargaan itu.
Neraka itu adalah neraka buatan yang diciptakan Christian Rosencreutz untuk membangkitkan dirinya sendiri tapi Anna Kingsford telah membajaknya. Dan Anna Kingsford juga tidak ragu untuk menyerahkan tiket kebangkitan kepada Kamijou Touma.
Kamijou telah diselamatkan pada setiap langkahnya.
Anak lelaki berambut jabrik itu tidak melakukan apa pun sendirian. Para pakar sejati itulah yang telah melakukannya.
Mereka telah mengajarinya apa artinya menyelamatkan orang.
Tapi.
Anak lelaki itu tidak melakukan hal yang salah.
Di tengah dunia yang setengah hancur ini, anak lelaki itu akhirnya menemukan sesuatu yang membuatnya yakin akan hal itu.
“Kau masih hidup, kau di sini, ohh, si gadis bisa menyentuhmu, Sensei benar-benar di sini. Uwahhhhhhhhhhhhhhhhh!!”
Tak peduli sedingin apa pun hujan, Kamijou bisa merasakan kehangatan dari gadis ini.
Kembali ke kehidupan tidak ada artinya?
Jangan konyol.
Jika Kamijou tidak kembali ke alam kehidupan, dia tidak akan pernah merasakan sesuatu itu dari si gadis.
“Syukurlah… Sensei, kau masih bernapas, kau masih hidup. Si gadis, uh, si gadiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiis…”
Alice bahkan tidak bisa mengeluarkan kata-katanya.
Masih terkulai, Kamijou Touma meletakkan tangannya di kepala Alice yang terisak.
Kamijou bisa menyentuhnya.
Kamijou bisa melakukan banyak hal.
Kamijou bisa menyelamatkan seorang gadis yang menangis.
Anak lelaki berambut jabrik itu tidak diragukan lagi masih hidup.
“Hehe…”
Benar-benar hari yang buruk.
Butuh waktu lama bagi Kamijou untuk hidup kembali sampai-pampai sekarang dia dianggap sebagai mayat hidup. Orang-orang tampaknya mengira dia telah terinfeksi oleh sesuatu di Academy City, jadi sekelompok orang dewasa dengan penyembur api pun mengejarnya.
Tetapi.
Akan tetapi…
“Kembali hidup… jelas lebih baik.”
Kamijou akhirnya bisa mengatakan itu.
Setidaknya untuk hari ini, dia bisa tersenyum.
Dunia Yang Lebih Buruk Dari Kematian
Soul_Hazard.
Kamijou akhirnya hidup kembali.
Alice Anotherbible telah meyakinkannya.
“Sensei.”
Gadis berambut pirang dan bermata biru itu menolak melepaskan pelukannya. Dia memeluk Kamijou erat-erat sambil tersenyum lebar. Dia bersandar pada Kamijou seperti anjing besar yang kurang terlatih.
Merasakan kehangatan manusia dan berbicara dengan seseorang memang luar biasa.
(Kalau dilihat-lihat lebih seksama, pakaianmu terlalu heboh, Alice.)
Bagaimana pun, Alice sedang dalam mode dewasa.
Alice jauh lebih tinggi daripada saat pertama kali bertemu dengan Kamijou. Dan dada serta bokongnya juga sangat dewasa.
Alice yang lebih besar ini mengganggu Kamijou.
Setiap detailnya jelas Alice Anotherbible. Namun, wajahnya tampak dewasa. Dia tampak seperti gadis kampus di lingkungannya. Dan dalam spektrum wanita muda, dia lebih condong ke Oriana yang seksi daripada Orsola yang lembut. Wanita kharismatik yang manis namun tidak mudah didekati itu berjalan di samping Kamijou sambil "berpakaian" hanya dengan sabuk hitam yang diikatkan dengan kompleks di sekujur tubuhnya yang telanjang. Di luar. Jelas itu tidak normal.
Saat terakhir kali melihat Alice, Kamijou dipukuli, kehilangan banyak darah, dan sedang menunggu hitungan mundur menuju kematian, jadi Kamijou tidak bisa fokus pada detail khusus ini. Tapi sekarang bisa.
Hmm.
Haruskah seorang remaja lelaki melihat hal ini dari jarak sedekat itu?
Kamijou Touma menatap ke kejauhan.
“Wah, ini benar-benar mulai terasa berdosa…”
“Apanya?”
Jantung Kamijou berdebar kencang saat melihat orang yang telah membunuhnya, mungkin ini akhir baginya. Sekarang dia tidak bisa lagi mengolok-olok Aogami Pierce.
Tapi Kamijou memutuskan untuk menunda memikirkan hal itu.
Untuk saat ini mereka tidak bisa hanya diam di gang belakang.
Bio Secure ya? Kelompok itu masih mengejarnya. Terlepas dari itu pun, bukanlah ide bagus untuk berlama-lama di luar di tengah hujan Januari yang dingin.
Juga…
“Eh, Alice? Bisa kau menghentikannya?”
“?”
Alice tampak bingung.
Dengan lengannya masih melingkari leher Kamijou serta pipi yang saling menempel.
Karena, seperti yang telah disampaikan beberapa menit lalu, Alice tampak seperti wanita pirang berkulit putih yang berbadan seksi saat ini. Dan dia berdiri di luar hanya dengan sabuk kulit hitam untuk menutupi ketelanjangannya. Terus terang saja, pakaiannya tidak pantas dipakai di depan umum.
Berada di dekat Alice merupakan suatu masalah.
Jangan tanya kenapa! Bahwa Kamijou adalah seorang lelaki sudah cukup sebagai penjelasan!!
“Sensei, apa menurutmu ada yang salah dengan pakaian si gadis?”
“Eh, iya.”
“Kalau begitu, si gadis akan melepasnya.”
“Jangan telanjang! Jangan lepas di luar!!”
Baru setelah mengatakannya, Kamijou menyadari bahwa itu artinya tidak apa-apa jika mereka ada di dalam. Oh, tidak. Dan mata Alice kini berbinar. Kamijou mungkin telah mengajarinya pelajaran yang salah.
“Maksud sensei si gadis butuh pakaian baru?”
“Aku tidak punya uang.”
“Tah dah!! Kau beruntung, sensei. Si gadis menemukan ini!”
“A-apa itu?!”
Gadis yang berlekuk tidak alami itu pun tersenyum.
Sambil menunjukkan sesuatu yang terbentang di antara kedua tangannya.
“Umm, di sini tertulis 'Maid Malaikat Jatuh Erotis'? Bahasa Jepang sangat sulit dibaca karena banyak campuran katakana, kanji, alfabet, dan stempel kaomoji.”
“Gadis bernama Alice tidak boleh memakai itu!! …Tapi tunggu dulu. Ada yang aneh. bukankah pakaian 'Maid Malaikat Jatuh Erotis' itu malah lebih tertutup dibanding pakaiannya sekarang?”
“???”
Alice masih polos.
Meskipun tinggi dan ukuran payudaranya termasuk dalam kategori siswi senior.
Sadarkah kau betapa brengseknya Kamijou-san, Alice?
“Terima kasih, tapi aku malu, um, aku malu dipeluk olehmu yang berbadan besar.”
“Hm? Kalau begitu si gadis akan menjadi kecil.”
“Tunggu, tidak, itu mengerikan! Jangan peluk aku dengan cangkang kosong yang masih menempel sebagian!!”
Wanita muda seksi itu terbelah di bagian tengah dan Alice kecil versi buku dongeng pun muncul. Dengan senyum. Hasil akhirnya tampak seperti kentaur!! Dan apa-apaan semua lendir lengket itu?!
Mereka telah melihatnya.
Misaka Mikoto dan Shokuhou Misaki dengan jelas menyaksikan momen itu.
Sosok itu merangkak keluar dari pintu logam tebal ruang kremasi dan kemudian berlari menuju pintu keluar krematorium.
Apa itu tadi?!
“T-tunggu.”
Shokuhou yang mengenakan pakaian berkabung tersenyum kaku sambil mencubit dan meregangkan pipinya.
“I-ini semua bukan mimpi, kan?”
“Reaksi kuno macam apa itu, Shokuhou? Umurmu yang sebenarnya jadi ketahuan— wah!”
Sang ratu, yang ahli dalam mengendalikan pikiran tapi tidak berhasil menganalisis Misaka Mikoto, mengulurkan tangan dan menusuk pipi kanan Mikoto.
“Kau juga harus periksa, Misaka-san. Coba remas pipimu.”
“…”
“Aduh, duh, duh, duh, payudaraku! Jangan mencakarnya dengan tangan besimu! Payudaraku bisa robeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeek!!!”
Misaka Mikoto tanpa sepatah kata pun, dia meraih bongkahan lemak itu dengan tangannya dan menariknya untuk melakukan uji ketahanan, tapi hal ini sama sekali tidak membangunkannya dari mimpi dan menghancurkan dunia ini.
“Reaksimu berlebihan. Tidak mungkin itu robek hanya karena hal kecil seperti ini.”
“Tapi, um, Misaka-san, kalau begitu suara retakan apa yang kudengar barusan?”
“Dasar bodoh. Itu cuma suara kalung mutiara yang putus, jadi bukan masalah.”
“Tidakkkkk, ini pakaian sewaaaaaaaaaaaaaaaannnnn!!!”
Shokuhou memiliki aura “tidak kekurangan uang”, tapi Mikoto sadar bahwa merusak pakaian sewaan berarti kehilangan suatu “kredibilitas” yang tidak bisa dibeli.
Ratu Shokuhou juga tampak tersenyum kaku dan penuh air mata saat benar-benar terdesak. Itulah pelajaran untuk hari ini, semuanya!!
“Tapi apapun itu…” kata Mikoto (yang telah membeli pakaian berkabungnya dan tidak bisa mengembalikannya karena lambang keluarganya ada di pakaian tersebut).
Shokuhou ada benarnya.
Mikoto menyadari ada sesuatu yang aneh.
Saat Mikoto menyentuh wajah Kamijou Touma melalui jendela peti mati.
Mikoto mengira kulitnya akan kering. Lagipula, sudah seharian penuh sejak Kamijou meninggal.
Tapi sebaliknya… anehnya kulitnya justru terasa lembab???
(Tapi kematiannya telah dipastikan. Dan rentang waktunya sudah cukup lama. Sudah jauh melewati titik di mana dapat menghidupkannya kembali dengan CPR.)
“Jika kita tidak bermimpi, apa yang sebenarnya terjadi?”
“M-mungkin saking dinginnya sampai kita berhalusinasi?”
“Itu cuma kau, dasar ratu eksibisionis bodoh,” gerutu Mikoto sambil meletakkan tangan di keningnya.
Ini tampaknya bukan mimpi buatan. …Sayangnya, teknologi Academy City dapat melakukan versi sains dari “semuanya hanya mimpi”, tapi kali ini bukan itu yang terjadi.
Seorang petugas krematorium mendesah pelan sambil menyeka keringat di wajahnya dengan sapu tangan.
Petugas itu memancarkan kegelisahan dan frustrasi.
“Ke-kesampingkan itu, orang-orang Bio Secure itu sebenarnya siapa?”
“(Misaka-san, kau belum pernah dengar tentang mereka?)”
“(Belum.)”
Bio Secure.
Mereka mungkin berfungsi sebagai pertahanan terhadap ancaman nuklir, biologi, dan kimia. Kelompok yang mengenakan pakaian serba tebal itu jelas mencolok. Biksu paruh waktu yang telah menyempurnakan keterampilan bermusik klasik dan berbicaranya telah menghancurkan total suasana upacara.
Sebagian besar kelompok power suit telah pergi keluar.
Mereka tampaknya tertarik pada Kamijou Touma.
Meski begitu, mereka tidak mengabaikan krematorium begitu saja.
Para pekerja krematorium dan siswa SMA tampak putus asa untuk mencoba dan mengikuti situasi yang berubah dengan cepat, tapi mereka tidak akan bersikap seperti itu jika mereka memiliki pemahaman yang benar. Ancaman kematian sudah dekat.
“Kihara.”
“Aku juga belum pernah dengar yang namanya Goukei.”
Orang-orang bilang bahwa pimpinan mereka telah tiba. Jika Bio Secure beroperasi dengan anggota Keluarga Kihara di pucuk pimpinan, Mikoto sangat meragukan bahwa mereka adalah organisasi yang jujur.
“Pe-permisi. Kapan kami bisa keluar dari sini?”
“Bisakah kita setidaknya menelepon seseorang ke sini? Aku benar-benar ingin makan pizza.”
Teman sekelas Kamijou Touma tidak melakukan kesalahan apa pun. Namun, mereka mungkin tidak memahami beratnya nama Kihara. Mereka juga pasti tidak akan mengeluh sembarangan kepada para pasukan power suit. Tentu saja, jika mereka bisa tetap tidak tahu, itu akan menjadi yang terbaik bagi mereka, tapi itu bukanlah pilihan bagi sang peringkat 3 dan 5.
“Si bodoh itu, setelah mati pun masih terseret masalah.”
“Jangan berasumsi bahwa Kihara yang terdengar penting itu tahu betul apa yang sedang terjadi.”
Apa pun masalahnya, mereka tidak bisa tinggal diam di sini.
Pertanyaannya adalah apakah power suit itu akan membiarkan mereka pergi.
Seorang wanita yang berdiri di depan kelompok power suit adalah satu-satunya yang tidak mengenakan power suit.
Wanita itu mengenakan mantel putih di atas blus putih polos dan rok ketat. Dan wanita itu mengenakan stoking putih. Namun, citranya secara keseluruhan tidak cocok dengan topi yang menutupi seluruh rambutnya dan masker besar yang dikenakannya. Kalau boleh jujur, dia mungkin terlihat seperti dokter gigi…
“Ketua Kihara Goukei,” bisik sebuah power suit.
Sambil melihat ke arah Mikoto dan yang lainnya.
“Kita punya dua orang yang tidak biasa. Kalau cek data Bank, mereka adalah yang peringkat 3 dan 5. Tapi aku tidak tahu apa kepentingan mereka di sini.”
Mikoto dan Shokuhou bergerak-gerak dan bereaksi pelan.
Wanita itu benar-benar Kihara.
Mengapa monster seperti itu muncul sekarang?
Mikoto bahkan tidak mau memberi isyarat kepada Shokuhou dengan matanya. Memalingkan muka selama itu saja sudah membuatnya takut. Jika sampai pada titik itu, Mikoto mungkin harus melancarkan serangan pembuka sendirian.
Itulah yang ada dalam pikirannya.
Lalu wanita itu melihat ke arah mereka.
Sebuah suara lembut mendekati mereka dari balik masker besar seperti dokter gigi.
“Perkenalkan, namaku Kihara Goukei deyansu. Tapi jangan sungkan untuk memanggilku Gou nee-chan.”
Mikoto mengira dia akan pingsan sesaat.
Seolah sudah mengetahuinya, petugas krematorium pun hanya mengalihkan pandangannya. Secara perlahan.
(De…yan…su?)
Apa-apaan?
Dia bisa saja berdada besar dan menarik, tapi dia harus membuatnya aneh, bukan!?
Sementara itu, sebuah baju zirah bertenaga mendekat.
“Ketua Kihara Goukei.
“Ya ya. Kau penanggung jawab fasilitis ini, bukan? Kalau begitu, mari kita berdiskusi secara dewasa deyansu.”
Sambil mendesah jengkel, wanita bernama Kihara Goukei itu berbalik menghadap pejabat itu sambil diapit oleh para prajurit berbaju besi.
Matanya menyipit seolah tersenyum.
“Pertama-tama, aku harus bertanya deyansu. Kau yang mengaku sebagai penanggung jawab di sini, bukan?”
“Kau pasti bercanda!! Aku tidak tahu bagaimana menangani mayat yang terinfeksi entah karena apa. Krematorium tidak dalam bahaya, kan? Kalau kita perlu melakukan sesuatu untuk mendekontaminasi, katakan saja padaku. Aku tidak sanggup kehilangan tempat kerjaku!!”
“Kau ingin melimpahkan semua wewenangnya kepadaku. Kalau begitu serahkan saja semuanya pada Kihara Goukei yang hebat ini deyansu☆”
Mikoto merasa konyol karena telah bersikap siaga setelah mendengar nama Kihara.
Namun…
“T-tapi, Kihara-san. Kenapa, um, kenapa kau begitu cepat percaya akan adanya mayat yang telah bangkit?”
“Ah, Tuan staf. Tidak perlu segan padaku deyansu. Dan aku yakin itu bukan hal yang mustahil di Academy City deyansu. Dulu, aku pernah melihat segerombolan semut yang mampu mengubah manusia menjadi sarang semut dengan wujud manusianya yang masih utuh, dan lapisan cairan transparan yang dapat bergerak yang dapat menutupi mayat dan kemudian meregang dan berkontraksi sebagai respons terhadap frekuensi tertentu deyansu.”
Apa-apaan ini?
Mikoto belum pernah dengar satu hal pun dari pernyataannya itu.
Mikoto tidak dapat membayangkan dari mana datangnya teknologi itu atau kejahatan macam apa yang telah dilakukannya.
“Kita harus mengambil spesimen itu supaya bisa memeriksanya dan menentukan apa yang menyebabkan mayat itu bangkit kembali. Mengendalikan mayat bukanlah teknologi yang aneh deyansu. Aku seharusnya bisa menjelaskannya setelah membedah mayat dan mengintip ke dalamnya deyansu. Dan begitu aku menentukan dari mana teknologi itu berasal, aku akan menemukan siapa dalangnya deyansu.”
(Me-memang terdengar konyol, tapi aku takut kalau apa yang dia katakan itu benar!!)
Mikoto menjadi marah dan hampir berteriak keras.
Mikoto tak bisa membiarkan penampilan dan tingkah konyolnya membodohi dirinya.
Seorang Kihara tetaplah seorang Kihara.
Sementara itu, perhatian Shokuhou beralih ke tas kecilnya. Tepatnya, ke remot TV di dalamnya.
“Membunuhku tidak akan menghasilkan apa-apa deyansu.”
Kihara Goukei berbisik dari baslik maskernya sebelum Shokuhou mencabut remotnya.
Goukei mungkin bertemu dengan para anggota keluarga yang kesal atas perlakuannya terhadap sang mendiang.
Penjahat sejati memang menakutkan, tapi orang baik yang menggila bisa lebih menakutkan.
“Kejahatan Bio Secure didasarkan pada bagan alir sehingga dapat terus berfungsi tidak peduli siapa yang terinfeksi deyansu. Jadi, kematianku sendiri tidak akan menghentikan tim untuk bertindak.”
Untuk satu hal, mayat itu telah berdiri dan pergi dengan kedua kakinya sendiri.
Apakah itu benar-benar terjadi?
Mikoto telah melihatnya sendiri dan bahkan dia sendiri merasa sulit mempercayainya.
Jadi…
“Shokuhou, apa kau melakukan latihan aneh tanpa sepengetahuanku? Sungguh, aku terkejut kau belajar pentingnya kerja keras yang dilakukan setiap hari. Aku tidak pernah membayangkan akan tiba saatnya Mental Out-mu bisa mencapai otakku.”
“Bisakah kau berhenti menggunakan aku sebagai pelarian dari kenyataan yang tidak memiliki dasar ilmiah?! Aku juga melihatnya bangkit! Apa sih yang sebenarnya terjadi?!”
Shokuhou pasti benar-benar panik karena dia menangis sambil mencengkeram Mikoto. Sang ratu benar-benar kalah jika dia mengandalkan orang yang sama yang baru saja mencengkeram payudaranya tanpa izin.
(Hm.)
Masih mengenakan kimono hitam yang tampak sangat tidak pantas untuk seorang gadis berusia 14 tahun, Misaka Mikoto menyilangkan lengannya dan menatap langit-langit. Saat dia merasa kesal, dia tampak lebih seperti istri bos yakuza daripada seorang pelayat.
Beberapa pilihan muncul dalam pikiran.
Dan kemungkinan besarnya adalah…
“Mayatnya dalam keadaan mati suri, mayatnya diganti dengan mayat yang masih hidup, atau laporan kematiannya adalah berita palsu. Itu mungkin satu-satunya yang mungkin secara fisik dan realistis.”
“Kau tahu itu semua tidak masuk akal, bukan?! Kau melihat mayatnya sebelum pemakaman. Tidak mungkin dia mati suri atau mayat itu adalah orang yang mirip dengannya. Tapi apa pun itu, orang dewasa akan melakukan sesuatu yang buruk padanya jika kita tidak menangkapnya terlebih dahulu!!”
Setelah mereka saling mengomel (seperti teman baik?), Mikoto tiba-tiba terdiam.
Jika mereka menemukannya… apa yang terjadi selanjutnya?
Akankah mereka memasukkan Kamijou kembali ke dalam peti mati, menutupnya, memasukkannya ke dalam ruang kremasi, membakarnya, dan hidup bahagia selamanya?
Rasanya itu seperti kehilangan inti permasalahan.
Kalau Kamijou sudah bangkit, kenapa tidak dibiarkan saja? Biarkan saja dia kabur?
Tepat pada saat itu, Kihara Goukei bertepuk tangan seolah meminta agar semua diam.
“Baiklah, semuanya. Sudah waktunya untuk memulai pencarian mayat deyansu. Tidak perlu memperumit masalah. Tidak perlu memecahkan misteri yang rumit di dunia nyata deyansu. Jika kita menangkapnya dan mengautopsinya, kebenarannya akan terungkap.”
“Kh.”
Tubuh Mikoto seolah bergerak sendiri.
Dia hanya punya satu target.
Mengenakan kimono tidak jadi soal. Mikoto melesat ke belakang Kihara Goukei setajam pisau lalu melingkarkan lengannya di leher Kihara.
Entah kenapa, respon terkejut itu bukan datang dari Kihara Goukei sendiri, melainkan dari Shokuhou Misaki.
“Misaka-san, apa yang kau lakukan?!”
“Aku tidak tahu. Pokoknya aku tidak bisa membiarkan mereka mengotopsi orang lain seenaknya!!”
Dan mengapa kau tidak menggunakan Mental Out-mu, peringkat 5?! Jangan menahan diri karena takut!!
Sementara itu, Kihara Goukei merasa senang.
Dia dicekik dari belakang, tapi dia malah tersenyum.
“Oh, cekikan deyansu? Aku nyerah, aku nyerah.”
“Kau tahu aku adalah peringkat 3 Academy City, bukan? Jika aku menghasilkan satu miliar volt, otak Keluarga Kihara-mu yang berharga akan terbakar. Mau tahu seperti apa memiliki kecerdasan rata-rata?”
“Itu adalah nasib yang lebih buruk dari kematian.”
Kihara Goukei telah dipanggil sebagai "ketua". Semua power suit telah meminta instruksi darinya. Tidak peduli apa yang dia katakan, menyandera dia seharusnya mencegah Bio Secure bertindak.
Wanita deyansu itu pun tersenyum.
“Baiklah, ikuti saja bagan alirnya☆”
Mikoto mendengar suara robekan tumpul.
Meski tidak pada tempatnya, hal itu mengingatkannya pada saat dia menggigit makanan lidah sapi yang alot.
Dan itu tidak sepenuhnya salah.
Masker itu diwarnai merah. Kihara Goukei tampak mengeluarkan darah kental berwarna merah tua dari mulutnya. Banyak sekali.
“Sial!! Kenapa kau menggigit lidahmu sendiri?!”
“Bgoh bgobububugoh gbogoboh.”
Wanita itu mencoba mengatakan sesuatu sambil tersenyum, tapi kata-katanya tidak dapat dipahami.
Tidak ragu sama sekali?
Ini adalah bentuk ekstrim dari orang yang lemah.
Pertarungan sesungguhnya dimulai setelah dia kalah. Kepergiannya dari medan perang tidak lebih dari sekadar pemicu.
Kihara Goukei. Mikoto pernah bertemu dengan beberapa anggota Keluarga Kihara sebelumnya, tapi wanita ini tampak menyebalkan dengan cara yang berbeda dari yang lain.
Mikoto segera melepas maskernya dan memasukkan handuk ke mulutnya, tapi dia tidak yakin bagaimana seharusnya memperlakukan seseorang yang lidahnya tergigit. Salah satu pelayat tampaknya adalah dokter sekolah, jadi dia tidak punya pilihan selain menitipkan wanita itu dalam perawatannya.
(Astaga!! Dia menghancurkan rem organisasi itu tepat di depan mataku! Harusnya aku setrum saja sebelum dia sempat mengatakan apa-apa!!)
Pada saat itu, Shokuhou, yang gaun hitamnya membuatnya tampak seperti penyihir jahat, membisikkan sesuatu. Dengan kepala tertunduk.
“Di luar sedang hujan.”
“Apa hubungannya dengan—“
“Aku tidak tahu persis sudah berapa lama dia meninggal, tapi bagaimana kalau dia basah? Bukankah dia akan membusuk?”
“…”
“…”
Mereka berdua terdiam.
Dan kemudian mereka berdua berlari menuju pintu keluar.
Mereka tidak tahu seperti apa kondisi Kamijou Touma saat ini. Namun, jika mereka tidak segera menangkapnya dan memasukkannya ke dalam pengering tubuh atau semacamnya, dia pasti akan berakhir dalam keadaan yang mengerikan!!
Efek Doppler mendistorsi suara sirene yang lewat.
|Perubahan frekuensi suara akibat pergerakan sumber bunyi terhadap pendengar. Seperti bunyi sirene yang sama akan terdengar makin kencang saat mendekat dan akan makin kecil saat menjauh.
Kendaraan khusus Anti-Skill pasti lewat di jalan utama terdekat.
“Kh.”
Kamijou terkaget karena dia mengenakan pakaian pemakaman berwarna putih dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pakaian itu lebih mirip jubah mandi Jepang ketimbang kimono.
Kamijou sekarang seorang buronan. Dia sudah hidup kembali, jadi kenapa sekarang dia harus menghindari jalan utama dan tetap berada di gang-gang belakang? Dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika dia tertangkap.
(Si-si-sial, dasar Kingsford!! Aku akui kau menepati janjimu untuk mempulangkanku dari neraka, tapi tidak bisakah kau sediakan antisipasinya?! Kalau ada mayat yang lebih dari sehari tiba-tiba bangkit ya sudah pasti bakal jadi kehebohan besar!!!)
Hujan pada bulan Januari merupakan masalah lain.
Kamijou bisa merasakan air meresap melalui pakaiannya, menembus kulitnya, dan menyerap panas tubuhnya. Namun, indranya tidak mati rasa begitu saja. Istilah "dinginnya sampai ke tulang" kini terasa lebih nyata ketimbang hanya sebuah kiasan.
Mengesampingkan nilai-nilai ilmiah, Kamijou cukup yakin salju akan lebih baik daripada ini.
“Alice, kau baik-baik saja?”
“Hm, hm♪ Selama bersamamu, si gadis baik-baik saja, sensei☆”
Napasnya putih dan tubuhnya menggigil, tapi Alice kecil tersenyum di tengah hujan yang sama. Meskipun gaunnya berlengan pendek seperti yang ada di buku-buku dongeng. Dia memegang lengan Kamijou dari samping dan menolak melepaskannya.
Alice memeluk dan meremasnya dengan erat.
Tapi kalau dipikir-pikir, Bologna Succubus juga Transenden, tapi ketika dia terluka di Shibuya akhir tahun, bukankah dia kesakitan dan menggigil kedinginan?
Mungkin ini adalah area lain di mana Alice Anotherbible merupakan Transenden yang abnormal.
“?”
Alice memiringkan kepalanya sambil tersenyum lebar dan tertawa terbahak-bahak.
Gadis kecil itu mungkin baik-baik saja, tapi dia begitu basah kuyup hingga membuat Kamijou khawatir melihatnya.
…Kamijou merasa lebih nyaman dengan versi kecilnya ini, mungkin karena Kamijou lebih terbiasa dengan versinya yang ini. Namun, Kamijou tetap tidak ingin Alice berjalan-jalan di jalanan dengan pakaian sabuk kulit hitam seperti ini.
Kamijou mengenakan pakaian pemakaman dan Alice mengenakan celemek dan gaun yang tampak seperti di buku dongeng. Ditambah lagi, mereka berdua basah kuyup dan tanpa payung. Kamijou bertelanjang kaki. Konstitusi negara ini menjamin banyak jenis kebebasan. Dia tahu itu, tapi dia masih cukup yakin berpakaian seperti ini di mana pun kecuali Shibuya pada hari apa pun selain Halloween akan berakhir dengan penahanan oleh pihak berwenang. Dan bukan dengan cara yang lembut seperti "bagaimana kalau kau datang dan berbicara dengan kami" tapi dengan cara kasar seperti menahannya dengan paksa.
“o-o-omong-ngomong, aku ingin pergi ke suatu tempat yang hangat.”
“Apa kau kedinginan, Sensei? Biarkan si gadis menghangatkanmu!”
“Alice, kita belum sampai pada tahap 'terdampar di gunung bersalju'!!”
Kamijou ingin waktu untuk berpikir.
Kamijou ingin bersantai dan beristirahat di suatu tempat yang hangat, tapi jika dia mencoba pergi ke sebuah minimarket atau warnet dengan pakaian yang aneh dan basah kuyup, dia pasti akan diusir karena melanggar aturan berpakaian.
Kantor bersama seukuran bilik telepon itu kosong, tapi dia tidak yakin kalau kantor-kantor itu memiliki sistem pemanasnya sendiri. Dia bisa masuk dengan mudah, tapi dia akan mati kedinginan jika pergi ke sana pada bulan Januari dalam keadaan basah kuyup.
Kamijou Touma mendesah pelan.
Desahan itu keluar dengan nafas putih.
Alice kecil dengan polosnya menelan napas itu.
Ini semua mungkin tampak seperti lelucon, tapi Kamijou berada dalam situasi yang cukup serius.
Kamijou harus membuat keputusan.
“Kurasa satu-satunya tempat yang tersisa adalah kamar asramaku.”
Saat hujan dingin turun, listrik berderak di celah antara dua gedung.
Jder!!! Suara sambaran petir pun terdengar.
Hanya dengan tambahan hujan dingin saja sudah cukup untuk mengubah sifat serangannya. Alih-alih menyerang dengan satu titik, serangannya menjadi serangan dengan area luas.
“Distrik 7?” Mikoto yang memakai pakaian berkabung melihat sekeliling dengan skeptis. “Ada lebih banyak orang Bio Secure di sekitar sini. Apa itu berarti si bodoh itu bersembunyi di distrik ini?”
Kalau mayatnya(?) benar-benar berkeliaran, apa yang ingin Mikoto lakukan?
Mikoto masih belum menemukan jawabannya.
Tapi setidaknya Mikoto tahu bahwa dia tidak bisa membiarkan pasukan khusus Kihara menangkapnya, mengiris-irisnya, dan kemudian membakarnya.
Ini adalah kota sains, tapi masih ada etika dalam acara pemakaman.
Sementara itu…
“Brrrr, dingin sekali, brrrrr.”
“Kenapa kau sangat sensitif terhadap dingin padahal lemak subkutanmu sangat banyak?”
“Karena semua lemakku terkumpul di payudara.”
“(Mesin penjual otomatis di sana menjual dashi dengan nama merek restoran yang terkenal karena cuma memakai bahan-bahan alami, tapi akan kuberitahu dia nanti.)”
“☆☆☆Misaaaaka-saaan☆☆☆”
“Bfh?! Jangan pegang-pegang aku sambil meneteskan air liur dengan mata bergambar hati!! Apa kau dirasuki succubus?!”
“Ahh…”
Shokuhou pulih setelah mendekatkan ponselnya ke mesin penjual otomatis dan menempelkan kaleng minuman hangat itu ke pipinya. Kemudian dia melingkarkan tangannya di sekitar kaleng dan menyeruputnya sedikit.
Dan betapapun khawatirnya ratu bodoh itu tentang bahan-bahan makanan, dia tampaknya tidak keberatan minum dari kaleng dan botol plastik buatan industri. Obsesinya itu mungkin hanya plasebo. Bagaimanapun, dia memang bodoh.
Kepala Mikoto terangkat.
Tidak ada peringatan.
Mikoto bisa merasakan gangguan listrik dan magnet yang kecil sekalipun. Dan power suit adalah peralatan elektronik yang beratnya lebih dari 300 kg. Tidak ada yang bisa mencegahnya membocorkan elektromagnetisme yang tak terlihat.
“Mereka datang. Saatnya gelombang kedua.”
“Kita menuju ke arah yang benar, bukan?”
Suara kehancuran terdengar keras.
Power suit Bio Secure berhasil menembus dinding logam yang didirikan di sekitar lokasi konstruksi dan Mikoto meluncurkan tombak petir untuk menembusnya.
Kemudian mereka dipaksa berlari melewati kota yang hujan.
Shokuhou tidak perlu membaca residu pikiran dengan Mental Out.
Kerusakan di beberapa lokasi konstruksi terlihat jelas. Itu pasti ulah power suit yang menggila, bukan Kamijou. Ikuti saja kehancurannya maka mereka bisa mengejar Kamijou.
Namun ada masalah lain.
Twang twang twang!!! Suara mekanis tumpul pun terdengar.
“Cih!! Sepertinya pasukan power suit Bio Secure juga menanggapi ini dengan serius!”
“Yah, mereka pasti melihat kita sebagai kandidat infeksi.”
Kandidat.
Dengan kata lain, itu hanya sebuah kemungkinan.
Dan itu mengasumsikan bahwa beberapa virus menular misterius tersebut benar-benar ada.
Melihat mayat hidup tidak cukup untuk langsung menerima keberadaan virus zombi. Dan meski ada pun, tidak ada yang menyiratkan bahwa virus itu sangat menular.
Mikoto tidak mau dibunuh karena kemungkinan-kemungkinan dan asumsi-asumsi.
Mikoto mungkin bisa menghancurkan power suit Bio Secure itu dengan Railgun yang ditembakkan dengan kecepatan tiga kali kecepatan suara.
Namun jika Mikoto melakukan hal itu pada setiap power suit, dia akan cepat lelah.
Mikoto ingin menghindari kehabisan bensin dan pingsan sebelum dia berhasil menemukan Kamijou Touma.
Jadi Mikoto ingin mengeliminasi mereka sebanyak mungkin dengan berjalan kaki, tapi…
“Cepat, Shokuhou!! Meskipun haknya rendah, sepatu itu tetap akan memperlambatmu!! Lepaskan sekarang!!”
“Haa, haah. Ga-gaunku basah karena hujan dan menyerap begitu banyak air dan kerudungnya membuatku sulit bernapas… Astaga, kenapa aku memilih pakaian berkabung ala barat yang seksi ini sih?”
Tapi, bagaimana bisa dia dengan pakaian yang fleksibel kalah dari Mikoto yang kimononya seperti tabung?
Saat si peringkat 5 terengah-engah, jari-jari tebal dari sebuah power suit mendekatinya dari belakang. Mungkin itu ditujukan pada rambut pirangnya yang panjang.
Apakah mereka menyerang yang lebih lambat terlebih dahulu?
(Aku bisa meninggalkannya di sini, tapi dia masih berguna.)
Mikoto secara magnetis meraih balok baja tebal dari lokasi konstruksi di dekatnya dan mengayunkannya lurus ke samping untuk menjatuhkan power suit berat itu. Mirip seperti pentungan yang membunyikan lonceng besar di kuil-kuil Buddha.
“Heh…heh heh. Jadi kau akhirnya mengakuinya, Misaka-san? Kau akhirnya mengakui bahwa kau membutuhkanku? Hwa ha ha. Kau akhirnya mengakui bahwa kemampuanku mengendalikan manusia jauh lebih berguna daripada kemampuanmu mengendalikan mesin!!”
“Harusnya kutinggalkan saja si bodoh ini dan menempelkannya ke dinding gedung.”
Shokuhou yang terus-terusan memeluknya di tengah hujan benar-benar menyebalkan. Dia pasti menganggap serius lelucon Mikoto.
Marah, power suit lain menyiapkan sesuatu di pinggulnya.
Sebuah penyembur api.
Apakah mereka telah menerima izin untuk menggunakannya pada target sekunder seperti Mikoto dan Shokuhou? Atau apakah mereka telah melepaskan limiter tersebut atas kebijakan mereka sendiri?
Jika hal ini terjadi, seberapa besar krisis yang dialami si bodoh itu?
“…”
Percikan berwarna putih kebiruan menyebar dari poni Mikoto.
Dia bahkan tidak perlu menghunus tombak petir atau pedang pasir besi.
Tidak peduli seberapa kuat mereka, power suit tetaplah perangkat elektronik. Dengan kekuatan peringkat 3 milik Misaka Mikoto, dia dapat dengan mudah mematikannya secara eksternal.
Tapi…
“Shokuhou, apa yang terjadi padamu?! Cepat dan hentikan manusia yang ada di dalam!!”
“Sudah aku coba, tapi ada yang aneh dengan mereka!!”
Teriakan Shokuhou Misaki yang sambil menangis adalah hal yang biasa, tapi sangat tidak biasa jika menyangkut masalah psikologis.
Mental Out tidak berfungsi.
Itu berarti ada hal lain yang mengganggu.
(Apakah seluruh tubuh manusianya dikontrol secara presisi tanpa menggunakan otak?)
Parasit, pengendali kelembapan, virus, obat, rangsangan listrik, atau paduan memori bentuk mikroskopis yang bereaksi terhadap frekuensi tertentu. Mikoto mengemukakan beberapa kemungkinan, tapi dia tidak yakin ada yang benar-benar dapat mengendalikan tubuh seseorang seperti ini.
Tetap saja, kekuatan Mental Out peringkat 5 benar-benar berhasil ditangkis.
Mereka adalah orang-orang abnormal yang telah menerima berkah yang diberikan oleh seorang Kihara.
“Sial, sekarang rasanya seperti ada zombi di kedua sisi!!”
Kalau dia harus berhadapan dengan sekelompok orang seperti itu, Mikoto yang akan kelelahan terlebih dulu.
Apakah mereka sengaja dirancang seperti itu?
Sekumpulan orang biasa yang dapat diganti tanpa henti digunakan untuk mengalahkan individu yang tidak biasa. Dengan menghilangkan individualitas, kelompok itu telah membuat dirinya abadi. Kihara Goukei telah menggigit lidahnya dan segera menarik diri dari pertarungan, tapi mungkin dia tidak tertarik untuk membuat dirinya istimewa.
Di sisi lain, mereka tampaknya merupakan kelompok yang dibentuk oleh orang dewasa untuk melawan “mayat yang bangkit kembali”.
Sambil melepaskan arus 1 miliar volt secara sporadis, Mikoto berbalik tepat saat mereka menuruni lereng yang mengarah ke gorong-gorong.
Mikoto menempelkan dompetnya secara magnetis ke perutnya untuk membebaskan tangannya, lalu menjentikkan koin arcade dengan ibu jarinya.
Railgun pun ditembakkan.
Deru udara yang terkompresi. Garis oranye. Sesaat kemudian, gelombang kejut menyapu seluruh tempat kejadian, dan pintu masuk yang seperti terowongan itu pun runtuh.
Mikoto menyalakan lampu ponselnya sehingga bisa melihat.
“Ini hanya akan memberi kita sedikit waktu. Gorong-gorong sebesar ini pasti memiliki pintu keluar masuk lain dan pasukan power suit itu mungkin memiliki tenaga kuda yang mampu menggali puing-puing beton.”
“Haa… Kenapa kau… tampak kembali hidup… saat tiba waktunya bertarung?”
Si peringkat 5 tampak siap jatuh ke tanah, jadi Mikoto meraih lengannya dan merogohnya lebih dalam.
Ada lebih sedikit petunjuk dibandingkan dengan semua tanda-tanda kehancuran di lokasi konstruksi, tapi radar gelombang mikro Mikoto dapat memindai debu di tanah dan jejak air secara mendetail sementara Shokuhou dapat membaca residu pikiran.
Jadi mereka bisa mencari tanda-tanda di sepanjang jalan.
Atau begitulah seharusnya, tapi…
“Tunggu,” kata Shokuhou secara refleks. “Apa ini?”
“Sepertinya telah terjadi sesuatu di sini.”
Bukan berarti tidak ada tanda-tanda.
Justru terlalu banyak tanda-tandanya.
Singkatnya, sesuatu telah meledak. Apa pun yang terjadi di sini, tidak ada yang bisa lolos tanpa cedera.
Satu petunjuk kecil bisa menunjukkan jalan, tapi ini kebalikannya. Ibarat kertas selofan merah transparan yang diletakkan di atas kertas hasil ujian, ada terlalu banyak tanda di mana-mana sampai bingung menentukan mana yang benar.
Mikoto, si petarung fisik mereka, berbicara dengan hati-hati.
“Tulangan baja itu meleleh. Ledakan ini bahkan lebih panas daripada gas kota. Mungkinkah itu api oksiasetilena?”
Ledakan itu sendiri memang dahsyat, tapi itu berarti jejaknya berakhir di sini.
Ke mana Kamijou Touma pergi di dunia yang dingin dan sedang hujan ini?
Pada akhirnya…
“Hmm,” gerutu Shokuhou sambil memutar remot TV-nya seperti pistol.
Shokuhou mungkin merasa kesepian.
Shokuhou fokus pada helm power suit yang bentuknya seperti ember.
Dia tampak sedang membaca sesuatu dengan perlahan dan mendalam.
“Bio Secure. Ahli dalam memecahkan masalah Academy City tanpa sepengetahuan Ketua Dewan. Namun, mereka kemudian mengirimkan tagihan kepada perusahaan atau laboratorium yang bertanggung jawab dalam sejumlah persentase tertentu dari perkiraan kerusakan yang akan ditimbulkan masalah tersebut jika tidak ditangani.”
Mikoto bahkan tidak terkejut.
Dia sudah menyerah untuk mengharapkan apa pun dari orang dewasa di Academy City.
“Yah, jika sebuah perusahaan membiarkan bakteri atau logam paduan yang membangkitkan mayat keluar dari area aman, mereka bisa dengan mudah bangkrut. Jadi, tidak mengherankan jika ada ahli yang membereskannya sebelum ada yang mengetahuinya.”
Pada saat itu, Mikoto mengerutkan kening.
“Tapi, mereka mengirim tagihan setelah masalahnya terpecahkan? Aku kira orang dewasa yang tidak bermoral akan enggan membayar kecuali mereka diancam.”
“Apakah orang tertinggi Academy City benar-benar bisa ditipu semudah itu? Aku menduga kemampuan sembunyi-sembunyi mereka tidak seefektif yang mereka kira. Namun, sistem pengawasan tampaknya menjadi jauh lebih longgar akhir-akhir ini.”
Bio Secure mungkin punya kuasa yang lebih dari ini.
Tidak seperti anak-anak esper yang mengandalkan kualitas, orang dewasa yang memperkuat diri dengan senjata generasi berikutnya akan mengandalkan kuantitas.
“…”
Wup wup wup wup!!! Suara baling-baling terdengar.
Beberapa helikopter serang tak berawak Six Wings terbang di atas kepala.
Mikoto mungkin bisa mengambil alih kendali helikopter itu secara paksa… tapi dia takut melakukannya di tengah perkotaan. Jika meleset sedikit saja, helikopter itu bisa hancur dan meledak.
Dan terlepas dari ancaman langsung itu, gadis remaja berusia 14 tahun yang mengenakan pakaian berkabung ala barat pun angkat bicara.
“Aku merasa seperti telah melupakan sesuatu.”
“Merasa? Kuharap itu ingatan runtutan kronologis? Kalau tidak, maka kau bisa meramalkan akhir dunia sesukamu.”
“Atau sesuatu yang terjadi di balik layar yang tidak aku ketahui? Ada kemungkinan ada sesuatu di kota ini yang hanya bisa aku lihat sekilas."
Rasanya seperti menggenggam awan.
Atau mungkin bukan?
Hal-hal ini terjadi di kota yang sama, tidak peduli seberapa besar kota itu.
Lagi pula, bagaimana anak lelaki itu meninggal pun tidak jelas. Mungkin ada sesuatu yang menjelaskan bagaimana dia bisa hidup kembali.
“Kurasa kita tidak punya banyak waktu.” Shokuhou yang mengenakan pakaian berkabung ala barat mendesah sedikit jengkel. “Ayo cari air dan makanan. Bahan-bahan itu penting. Aku lebih suka tidak mengonsumsi gelatin, balok, atau bahan kimia lainnya.”
“Kita bahkan tidak tahu apakah si bodoh itu masih hidup atau sudah mati.”
Mikoto yang menggigit bibirnya sambil menundukkan kepalanya.
“Tidak mungkin aku bisa menelan makanan saat ini.”
“Oke, sensei. Katakan 'ah'.”
“…”
Haruskah Kamijou melakukan ini?
Di gang belakang, Alice yang berseri-seri memberi Kamijou camilan yang dipegangnya di antara jari-jari. Karena jika Kamijou tidak mengizinkannya, dia merasa Alice tidak akan pernah bergerak selangkah pun dari tempat ini.
Camilan bertekstur renyah itu bukanlah keripik kentang. Melainkan…
“Cumi goreng!! Jepang punya banyak camilan aneh yang menarik untuk dicoba.”
“Hm? Alice, kukira budayamu tidak suka memakan benda-benda yang menggeliat.”
“Padahal ini cumi-cumi tapi kok renyah☆”
Alice Anotherbible mungkin adalah tipe orang yang menikmati tekstur makanannya. Baik itu plastik atau logam, kantong makanan ringan anti-air berarti hujan dingin tidak dapat merusak rasanya.
Dan Kamijou merasakan garam dan minyak meresap ke dalam tubuhnya.
Tidak peduli apa yang dikatakan orang, dia lapar di dunia nyata. Dan kalau dipikir-pikir, dia belum makan apa pun setelah meninggal, bukan?
(Aku kira ini lebih baik daripada tidak dapat memproduksi asam lambung dan memuntahkan semuanya.)
Kamijou hampir tertidur dalam kenyamanan yang dipaksakan itu.
Tapi kemudian dia menyadari sesuatu.
“Tunggu dulu, Alice. Di mana kau dapat cumi goreng itu?”
“Si gadis beli dari uang yang si gadis temukan di jalan!”
“Kau tidak boleh melakukan itu.”
“?”
Alice Anotherbible memiringkan kepalanya dengan bingung, mengisyaratkan bahwa dia perlu belajar lebih banyak tentang sosial. Namun, sungguh menggemaskan bagaimana dia melangkah maju menuju kehidupan bermasyarakat.
(Academy City telah melalui banyak hal baru-baru ini. Mungkin banyak orang yang kehilangan dompet.)
Kamijou bersama Alice.
Mereka berjalan menyusuri jalan-jalan bulan Januari saat hujan dingin turun.
Tidak sendirian adalah suatu hal yang indah.
Kamijou menyadari betapa orang-orang di sekitarnya telah mendukungnya sepanjang hidupnya. Bahkan ketika dia berakhir di neraka, Kingsford selalu ada untuknya.
Kamijou tidak boleh melupakan rasa terima kasihnya itu.
Pokoknya jangan.
“Haa, brr, dingin sekali. Rasanya seperti baru saja berenang di air dingin. Mungkin seharusnya aku menggali tong sampah untuk mencari payung atau semacamnya.”
“Hm? Kok boleh, padahal si gadis dimarahi ketika memakai uang hasil nemu di jalan?”
Mereka telah tiba di beberapa asrama pelajar Distrik 7.
Mereka memasuki salah satu dari banyak gedung yang identik dan menaiki lift ke lantai tujuh. Suasana di area itu sepi, dan untungnya, tidak ada satu pun penghuni sekolahnya yang ada di sekitar. Mereka mungkin masih ada di sekolah.
(Tidak, tunggu dulu. Mereka pasti hadir di pemakamanku. Aku merasa agak bersalah jika mereka melakukan itu saat aku masih hidup.)
Alice memiringkan kepalanya saat mereka berjalan menyusuri lorong panjang itu.
Alice tampak bingung, bukannya terkejut.
Kalau dipikir-pikir, ini bukan pertama kalinya dia ke asrama Kamijou. Waktu pertama kali bertemu, Alice pernah menyelinap ke kamar mandinya, kan?
“Tapi, Sensei, apa kau punya kuncinya?”
“…”
Oh, benar. Kamijou mengenakan pakaian pemakaman.
Kalau dipikir-pikir lagi, aneh juga kalau ada ponsel di dalam peti matinya. Jangankan dompet, dia bahkan tidak mengenakan pakaian dalam saat ini. Kalau dipikir-pikir, ini benar-benar pakaian yang cabul! Dan sekarang remaja lelaki itu jadi penasaran siapa yang menaruhnya di sana!!
“Eh heh heh. Mungkin dia seorang onee-san dengan aura manajer asrama yang lembut.”
“Apa?”
Bagaimanapun, Kamijou Touma membuka pintu pemanas air yang menempel di dinding luar dan mengambil kunci cadangan yang tersembunyi di sana.
Entah kenapa Alice tampak kegirangan.
“Sensei, itu sangat tidak aman.”
“Dengar, Alice. Ada kalanya aku hanya punya uang kurang dari 100 yen. Tidak memiliki apa pun yang layak dicuri adalah keamanan terkuat di dunia ini.”
Selain itu, kunci murah di pintu asrama anak lelaki pada awalnya tidak terlalu dapat dipercaya. Seseorang mungkin dapat mengambil foto kunci dari jarak jauh dan menggandakannya dengan printer 3D.
Kamijou membuka pengunci dan pintunya.
Udara dingin yang tak menyenangkan berhembus ke wajah Kamijou. Di dalam lebih dingin daripada di luar.
“Hah?”
Tidak ada seorang pun di sana.
Udara sangat dingin.
“Index dan Othinus juga keluar. Pergi ke mana mereka di tengah-tengah hujan begini?”
Kamijou mempertanyakannya, tapi dia akan mati jika dia tidak menghangatkan tubuhnya yang basah dan menggigil.
Kamijou tidak punya waktu untuk melakukan tindakan lain.
Begitu masuk ke dalam ruangan, dia menyalakan pemanas air elektrik untuk memanaskan air. Saat air mendidih, dia meraih pintu lemari di ruangan kecil itu. Seorang siswa miskin tidak memiliki banyak pakaian. Pakaian terhangatnya adalah seragam musim dingin yang ditetapkan sekolah, yang menunjukkan betapa parah kemiskinannya.
(Sekedar berganti pakaian saja tidak cukup. Ugh, aku harus menghangatkan tubuh secara langsung.)
Bahkan belum malam, tapi dia pergi ke kamar mandi dan mulai mengisi bak mandi dengan air panas. Itu adalah kemewahan terbesar bagi seorang pelajar miskin.
Kamijou mengira dia akan mati kedinginan dalam waktu 15 menit sebelum air hangat siap, jadi dia mengambil handuk yang tergeletak di luar. Dia melemparkan handuk lain ke Alice dan mulai mengeringkan tubuhnya.
(Tunggu, apa yang harus kulakukan untuk mengganti pakaian Alice?)
Asramanya tidak dilengkapi dengan pakaian untuk gadis setinggi 130 cm. Membiarkannya mengenakan pakaian olahraga yang pas untuk semua orang atau semacamnya sampai pakaiannya yang basah mengering mungkin akan menjadi pilihan terbaik. …Oh, pengering. Kamijou Touma menatap ke kejauhan. Itu menghabiskan lebih banyak daya daripada menggunakan setrika atau pengering rambut, jadi dia biasanya tidak pernah menggunakannya.
Kemiskinan yang hampir saja dia hindari kini kembali menghampiri si Lelaki Malang.
Pada keadaan seperti ini, hari di mana bahunya perlu ditepuk sudah semakin dekat.
Di sebuah rumah di Kanagawa, Kamijou Touya menundukkan kepalanya. TV LCD besar yang terhubung ke komputernya masih menampilkan kata “offline” dengan dingin.
Mereka telah memutus koneksinya.
Mereka tidak mengizinkannya untuk terhubung kembali.
Tak satu pun yang masuk akal.
Dengan tembok Academy City yang menghalangi, keluarga Kamijou benar-benar merasa terkucilkan.
Orang tuanya seharusnya menjadi pusat dari semua ini, tapi mereka tidak diizinkan masuk. Dengan semua dokumen yang rumit, mayatnya akan dibakar sebelum mereka bisa masuk ke dalam kota.
“Gh…”
Dia gagal melindungi anaknya.
Lebih buruknya lagi, dia bahkan tidak berhasil mengetahui bagaimana nyawa anaknya bisa melayang.
Abunya tampaknya akan dikembalikan kepada mereka, tapi apa pentingnya?
Bubuk itu pasti sudah dibakar sampai tidak ada peta DNA yang tersisa, jadi bagaimana mereka bisa membuktikan bahwa itu adalah anak mereka? Bagaimana mereka bisa menerimanya?!
Seseorang melingkarkan lengannya di bahu Kamijou Touya dari belakang.
Tapi dia tidak menanggapi hiburan dari sang istri.
“Persetan dengan… Academy City,” gerutu Kamijou Touya, yang suaranya tercekat di tenggorokannya.
Layar hitam menolak memberikan respons apa pun.
“Kenapa mereka memutus koneksinya?! Putra kami sudah meninggal! Dan begini balasannya— kami ini bukan chatbot di situs web perusahaan!! Mana mungkin kami bisa menerima kematiannya begitu saja!! Uwwwahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!”
“Sensei. Peluk☆”
“…”
Haruskah Kamiijou benar-benar melakukan ini sekarang?
Kamijou Touma mendapat pelukan sekuat tenaga dari Alice yang manja. Rasanya seperti perubahan mendadak telah terjadi dalam kehidupannya yang menyebalkan. Kehangatan gadis manis telah memuncak.
Mungkin aneh membicarakan hal ini di kota sains seperti Academy City, tapi Kamijou takut akan mengumpulnya karma buruk dari semua tindakannya ini. Karma yang cukup untuk membuatnya dihukum!!
Mereka berada di kamar asrama.
Ini adalah situasi aneh di mana Alice kecil akan menempel erat padanya setiap ada kesempatan, tapi Kamijou masih pucat dan kedinginan sampai ke tulang.
(Sial, teleponnya tidak diangkat. Ayah sedang apa sih?)
Namun, hal ini sudah cukup menimbulkan kegaduhan di kota sains. Jika ayahnya mengangkat telepon, dia mungkin akan mengira itu adalah ketakutan akan hantu atau keusilan yang kejam.
Bagian yang aneh adalah tidak ada seorang pun yang membicarakan hal ini di media sosial sekolah. Kamijou-san (menurut dirinya sendiri) adalah orang yang cerdas yang benar-benar dapat menggunakan ponsel pintar dan dia tahu cara melihat grup media sosial kelasnya, tapi tidak ada seorang pun yang membicarakannya. Bahkan, tak ada seorang pun.
… Atau apakah mereka terputus darinya karena suatu alasan?
Itu mengganggunya, tapi mengkhawatirkannya sekarang tidak akan memberikan jawaban. Dia tidak bisa kembali ke krematorium.
Bagaimanapun juga, dia ingin memastikan dirinya aman dan kemudian memperkuat posisinya.
Dia sedang bersiap untuk mandi, tapi butuh beberapa saat sebelum air panas memenuhi bak mandi.
Dia kedinginan.
Dia merasa seperti akan mati.
Apakah rasa dinginnya sudah mati rasa? Begitu dia masuk ke kamarnya, dia akhirnya ingat bahwa saat ini adalah bulan Januari.
Setelah melepaskan diri dari Alice, Dia pergi ke kamar mandi. Saat melakukannya, dia berganti ke seragam sekolahnya di ruang ganti. Dia memeriksa bak mandi dan memastikan bahwa memang butuh waktu lebih lama.
“Haa… kurasa aku tidak bisa menunggu selama itu. Itu bertentangan dengan prinsipku, tapi mungkin aku harus berganti pakaian dulu sebelum mandi.”
“Yey, mandi bareng sensei!”
“Tunggu! Apa aku baru saja mendengar sesuatu yang janggal dari luar sana?! Tidak, bereaksi adalah langkah yang salah! Aku harus pura-pura jadi lelaki ala komedi romantis yang bodoh yang juga mengalami gangguan pendengaran!”
Kamijou ceroboh, jadi sekarang dia harus menempelkan bahunya sekuat tenaga ke pintu ruang ganti untuk menahannya.
Kunci kamar mandi dapat dibuka dengan satu obeng pipih. Jadi cuma cara ini yang dapat dipercaya.
“Ohh, sensei mau main dorong-dorongan pintu!”
“Gwahh, kuat sekali dorongannya?! Apa ada gajah yang mengamuk di seberang pintu?!”
Dan saat dia meneriakkan itu, ada sesuatu yang terasa aneh.
“…?”
Kamijou menggunakan palang gantungan baju dalam ruangan untuk mengganjal pintu dan kemudian dengan agak gemetar memasukkan tangannya ke dalam bak mandi sebelum menariknya kembali.
Apakah itu air es?
Dan kenapa tidak ada uap yang keluar dari bak mandi?!
“I-ini bukan air panas!! Kenapa bak mandinya penuh dengan air dingin Januari?! A-apakah ada yang mengacaukan pengaturan yang direkomendasikan mesin dan mengubahnya ke mode training? Aku tidak mau itu! Aku cuma mau mesin bekerja seperti biasa, bukan fitur baru yang aneh ini!!”
“Sensei, apa pemanas air di luar bermasalah?”
Kamijou membatu.
Kamijou tidak menyangka akan ditegur oleh Alice.
Meski begitu, Kamijou berjalan keluar pintu depan sambil menggigil.
Bagaimana jika rusak? Apakah tukang reparasi akan menerima pekerjaan tersebut ketika dia sedang dikejar oleh Anti-Skill?
(Tapi apakah ada cara agar si tukang mengerjakannya tanpa harus menemuiku? Seperti memesan barang, si kurir akan meninggalkan barangnya begitu saja di depan pintu? Tidak, tidak. Akan aneh jika ada orang lain selain aku selaku pemilik kamar meminta pemanas air-nya diperbaiki. Duh, tapi…)
“Sensei? Ketika mesin rusak, tiup saja bagian logamnya lalu pasang lagi.”
“Nasihatmu membuatku serasa kembali ke zaman dulu. Oh, benar juga. Kau sebenarnya lebih tua daripada aku, bukan?”
“Hm? Kenapa kau melamun, sensei?”
Tunggu, tapi bukankah sekarang piringan CD pun sudah dianggap kuno? Kamijou merasakan semacam distorsi dalam ruang-waktu.
Dan selagi mereka berdiskusi, Kamijou malah mendengar sebuah suara.
Kamijou perlahan menoleh ke arah nada yang dikenalinya sebagai suara lift yang datang.
Dan gadis kecil yang kesepian itu berbalik bersamanya.
(Apa?)
Pintu lift murah itu terbuka dan seorang pendeta berpakaian hitam dengan rambut merah panjang melangkah keluar. Mungkin karena arah angin atau kelembapannya... dan mungkin kadar tar atau nikotinnya sangat tinggi, meski dari jarak sejauh ini, Kamijou mengira bau asap rokok itu meresap ke dalam dirinya.
Untuk sesaat, suara hujan bulan Januari terdengar semakin kencang.
Hampir seperti dia mendengar suara alat penyiram yang terhubung ke alarm kebakaran.
(Apa-apaan ini?)
Kamijou tidak ingat apa-apa soal ini.
Tapi tempat ini, suara ini, dan orang ini.
Serta pemandangan yang ada di depan matanya membuat jantungnya berdebar-debar?
“Sti…” kata anak lelaki berambut jabrik itu sebagai refleks.
Ya…
“Stiyl Magnus?”
Itu dia.
Tapi Kamijou tidak tahu mengapa orang itu ada di sini.
Pertama-tama, bagaimana seorang penyihir Anglikan bisa masuk ke Academy City?
Lalu, dia tersadar.
“Pemakamanku…”
“Aku sama sekali tidak berniat meratapi kepergianmu. Itu hanya alasan yang tepat bagi orang luar sepertiku untuk menyelinap masuk lewat gerbang depan dan memasuki kota. Tim lain tampaknya mengalami kesulitan, tapi aku yakin mereka sekarang berada di luar tembok.”
Itu menjelaskan caranya.
Namun ada pertanyaan yang lebih mendasar.
Mengapa Stiyl datang ke Academy City padahal dia seharusnya berada di Inggris?
“…”
Kamijou tetap berhati-hati.
Dia melirik ke arah Alice.
Apakah kaum Anglikan telah bekerja keras untuk menyelesaikan masalah Bridge Builders Cabal dengan cara mereka sendiri? Kalau begitu, waktu yang dipilih Necessarius sangatlah buruk. Tidak peduli siapa yang mungkin memiliki keluhan sekarang, masalah dengan Alice telah terpecahkan. Alice tidak akan lagi menghancurkan orang lain atau dunia.
Stiyl Magnus tidak mengatakan apa-apa.
Pemandangan di sekelilingnya berubah.
Kamijou merasa seperti ditarik ke arahnya.
Jubah hitam pendeta perokok itu berkibar kencang di udara dan kemudian setumpuk kartu pun bertebaran, seperti pusaran air. Kartu-kartu itu menempel di dinding dan lantai serta tidak bisa dilepas. Seperti kelopak bunga sakura yang menutupi danau atau jalan setelah hujan yang tak berhenti-berhenti. Saking banyaknya, warna permukaannya pun jadi terlihat samar.
Semuanya dilaminasi…
“Kartu… Rune?”
“Sensei…” bentak Alice Anotherbible sebelum pengalaman masa lalu Kamijou bisa memberitahunya tentang ancaman itu.
Dan tepat setelah peringatan dari Alice…
Fwoosh!!!
Stiyl menarik pedang api dari udara hampa seperti trik sulap, bentuk pedangnya berubah, dan api menyembur keluar seperti banjir bandang.
Tangan kanan Kamijou terangkat seakan hendak meraih sesuatu.
Kamijou tidak akan berhasil tepat waktu tanpa peringatan Alice.
Imagine Breaker.
Kamijou meniadakan api yang membakar lebih dari 3000 derajat Celsius, tapi Kamijou masih tidak dapat mempercayainya.
“Stiyl?!”
“Ini bukan tentang Alice Anotherbible.”
Kata-kata yang diucapkan penyihir api itu lebih dingin dari es.
“Sejujurnya, aku tidak peduli padanya.”
Sekarang sudah jelas.
Satu tatapan mata tajam Stiyl Magnus sudah cukup untuk mengetahui siapa target sebenarnya.
“Kau kemari untuk membunuhku?!”
“Maaf, tapi ini bahkan bukan bagian dari pekerjaan Anglikan.”
Sol sepatu Kamijou bergesekan dengan lantai saat terdorong mundur.
Kamijou kembali menjaga jarak.
Lorong yang lurus dan sempit tidak menyisakan ruang untuk bergerak ke kiri dan kanan.
Kamijou tidak menyangka akan terjadi seperti ini, tapi dia tetap senang karena telah berganti ke seragam sekolahnya.
Orang luar seperti Kamijou tidak tahu bagaimana Gereja Anglikan akan memandang seseorang yang telah meninggal lalu bangkit kembali. Apakah dia seorang pembuat onar yang telah mengganggu tatanan alam, atau apakah dia contoh hidup dari karya seorang ahli sihir? Apa pun itu, yang dia tahu mereka tidak akan membiarkannya begitu saja. Terutama saat dia berada di dalam Academy City, markas besar pihak sains yang menentang pihak sihir.
Kamijou telah membuat beberapa prediksi, tapi apa yang keluar dari mulut Stiyl adalah sesuatu yang tidak Kamijou duga sama sekali.
“Dengan kepergianmu, hak atas kepemilikanmu akan jatuh ke tangan orang lain.”
“?”
Awalnya, Kamijou tidak tahu apa maksudnya.
Tapi Stiyl serius.
Hak atas kepemilikannya? Stiyl bersedia membunuh hanya demi itu?
Pendeta perokok itu menjelaskan.
“Perpustakaan Grimoire, yakni Index Librorum Prohibitorum untuk sementara dititipkan pada Kamijou Touma.”
“…”
Kamijou merasa seperti sedang menggunakan teropong koin yang ditemukan di lokasi-lokasi indah. Jawaban yang jauh dan tak terjangkau itu perlahan mulai terlihat jelas.
Dan gambar yang ditemukannya membuatnya terdiam.
Tidak.
Tunggu, itu tidak mungkin!
“Itu hanya sementara. Kalau kau mati, maka tak jadi masalah. Karena pemilik sementaranya sudah tiada, gadis itu tentu akan dikembalikan ke Inggris, tempat asalnya. Banyak penyihir mengharapkan hal itu. Terutama mereka yang berhubungan dengan Anglikan. Termasuk aku.”
Ya.
Itu benar.
Index adalah tukang numpang di kamar asrama Kamijou. Kamijou tidak tahu perjanjian khusus apa yang dibuat Gereja Anglikan dan Academy City, yang jelas sekarang situasinya stabil.
Tapi apa yang akan terjadi pada Index jika Kamijou mati?
Dan bagaimana kalau si anak lelaki berambut jabrik itu tanpa alasan yang jelas bangkit kembali???
“Tapi secara janggal kau hidup kembali. Ya, ya. Aku tidak punya niat untuk mencari tahu rincian mantranya. Yang terpenting adalah Kamijou Touma sekali lagi berhasil lolos memakai cara curang! …Berhentilah mempermainkan kami. Apa kau tahu betapa terguncangnya dunia setiap kali kau mati atau hidup kembali sesuka hati?!”
Mungkinkah tidak seorang pun menginginkan Kamijou untuk hidup kembali?
Kamijou bertanya-tanya tentang hal itu saat pertama kali keluar dari ruang kremasi. Namun, dia berasumsi bahwa itu adalah masalah emosional suka atau tidak suka — perlu atau tidak perlu.
“Dengan begitu, situasi ini menguntungkanku. Kau sudah siap untuk dikremasi. Dan bahkan setelah kau melarikan diri, Academy City telah berusaha membakarmu dengan penyembur api. Tidak seorang pun akan mempertanyakannya jika sekarang kau terbakar sampai mati. Memang butuh sedikit penyesuaian waktu, tapi bukankah akulah orang terbaik untuk pekerjaan itu?”
“…”
“Aku tidak yakin Kanzaki Kaori atau Orsola Aquinas mampu melakukan pekerjaan ini.”
Itu murni karena kepentingan pribadi semata.
Bagaikan sebuah tong mesiu.
Kamijou tidak meramalkan hal ini akan mengguncang keadaan sebegitu buruknya hingga bahkan dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan antara tiga faksi Kristen utama di pihak sihir.
“Yang mati sebaiknya tetap mati, Kamijou Touma,” gerutu Stiyl Magnus.
Apakah sudah ada pertarungan tersembunyi mengenai siapa yang akan menjadi rumah bagi Index selanjutnya?
Mata yang memancarkan campuran amarah dan penghinaan itu adalah mata orang-orang yang menghibur diri dengan menyebarkan informasi palsu di media sosial setiap kali terjadi bencana atau perang.
“Itulah tugasmu.”
Kamijou tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
Terdengar satu langkah kaki pelan.
Itu datang dari Alice Anotherbible yang berdiri di samping Kamijou.
“Masa bodoh dengan apapun alasanmu.”
Suara Alice terdengar dingin.
Namun jangan lupa.
Alice tidak marah untuk dirinya sendiri.
Pertempuran yang akan datang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Alice.
Namun Alice tetap marah.
“Jika ada seorang di dunia ini yang mengatakan sensei harus mati, maka si gadis akan menutup mulut orang itu rapat-rapat. Sebagai yang pertama sekaligus prototipe bagi semua Transenden, si gadis dapat mengalahkan satu atau dua penyihir biasa. Dengan sangat mudah.”
Alice tidak membual.
Setelah masalah yang dia sebabkan pada Academy City, Alice mungkin benar-benar mampu melakukannya.
Namun…
“Khah...?!”
“Sensei!!”
Dbuk!!
Benturan tiba-tiba menusuk bagian tengah perut Kamijou. Sesuatu yang tak terlihat telah memukulnya. Dia tertunduk, tapi tidak dibiarkan jatuh. Karena tidak dapat bernapas, Kamijou Touma memuntahkan semua udara di paru-parunya. Mungkin ada darah yang ikut keluar.
Alice ada di sampingnya, namun tangisannya terdengar jauh.
Rasa sakit Kamijou langsung hilang.
Apa yang terjadi pada tubuhnya benar-benar tidak masuk akal sampai indranya tidak dapat memahaminya.
Tapi bagian yang paling menakutkan bukanlah itu.
Tidak seperti Othinus yang tingginya 15cm, Alice Anotherbible masih memiliki kekuatan uniknya, tapi dia tidak menyadarinya selama berada di sisi Kamijou.
Sebenarnya apa yang telah menyerang Kamijou?
Baik Aradia maupun Bologna Succubus tidak dapat melakukan ini.
Lalu siapa?
Kemungkinan besar, bukan Stiyl Magnus yang berdiri di hadapannya! Lagipula, Alice telah memberi Kamijou Touma peringatan yang akurat saat Stiyl pertama kali mengayunkan pedang apinya!!
“Ya ampun. Baumu mulai tercium seperti bau kematian sejak terakhir kali kita bertemu, Kamijou Touma.”
“Lihat, ini persis seperti yang kutakutkan. Bukankah kau semakin mirip seperti kami?”
Bahu Kamijou melonjak.
Dia mengenali suara-suara itu.
Yang satu adalah suara memikat dari wanita cantik, bagai buah manis yang terlalu matang hingga mulai membusuk. Yang satu lagi suara seorang gadis muda, bagai buah segar tapi masih mentah.
Bukankah kedua suara itu adalah…?
“Nephthys… dan Niang-Niang?”
Mereka adalah Dewa Sihir yang setara dengan Othinus.
Mengapa monster-monster itu mengikuti Stiyl?
Wanita muda berambut perak seksi dengan kulit coklatnya yang dibalut perban adalah Nephthys.
Dia adalah Dewa Sihir yang ada sebagai kumpulan orang-orang yang dikubur hidup-hidup di pemakaman firaun sebagai bekal kubur dalam mitologi Mesir.
Gadis kecil berambut hitam, berkulit pucat pasi, dan mengenakan gaun mini Cina yang dimodifikasi adalah Niang-Niang.
Dia adalah Dewa Sihir, seorang Shijie-Xian, yang memalsukan kematiannya untuk memutus semua koneksi dengan alam kehidupan.
|Shijie-Xian adalah sebuah konsep dalam Taoisme yang merujuk pada individu yang secara sukarela mensucikan diri dari kekotoran dunia dan melepaskan diri dari dunia fana hingga mencapai keabadian (Xian).
…Mungkin akan kasar jika menanyakan apa yang telah mereka lakukan selama ini.
Bagaimana pun juga, mereka adalah Dewa.
Mereka tidak peduli dengan masalah manusia dan hanya datang kapan pun mereka mau. Mereka tampaknya pernah bergaul dengan Hamazura Shiage di London, tapi itu pun hanya karena ketertarikan sesaat. Entah itu satu dunia atau satu fase, tidak pernah jelas berapa lama mereka akan tinggal di satu tempat.
“He he.”
“Keh keh.”
Kedua makhluk luar biasa itu menempel pada Stiyl Magnus dari kedua sisi, tapi ada sesuatu yang tidak beres.
Memang benar Stiyl menggunakan rune Nordik.
Namun, pada dasarnya dia adalah bagian dari Gereja Anglikan. Dia adalah seorang pendeta yang percaya pada monoteisme Kristen. Bagaimana mungkin dia bekerja dengan mumi piramida dan mayat Shijie-Xian yang disamarkan?
Ketidakmampuan Kamijou untuk berbicara pasti sudah cukup bagi mereka untuk mengetahui di mana letak kebingungannya karena tawa Nephthys dan Niang-Niang semakin keras.
“Sebegitu anehnya kah?”
Setelah itu.
Wanita perban itu pun berbicara.
“Apakah mengejutkan bahwa ada orang asing yang bergabung dengan Necessarius. Maksudku, sekarang Uskup Agung di puncak Gereja Anglikan adalah Dion Fortune. Meski bukan orang yang asli, melainkan setumpuk kartu tarot yang sebenarnya adalah grimoire asli yang disusun sedemikian rupa.”
Bicaranya santai.
Seolah sedang bertemu kembali dengan teman lama.
“Dan asal kau tahu, Dewa Sihir adalah tipe yang bersedia mati dalam mengejar kebijaksanaan. Christian Rosencreutz, Anna Kingsford, dan neraka, meskipun itu cuma neraka buatan. Akan jadi masalah jika proses membangkitkanmu meninggalkan jejak aneh dari para pakar legendaris itu, bukan?”
“Tidak berdaya adalah hal yang wajar bagi manusia normal. Tapi Transenden? Ketika seorang individu sepertimu dapat mengumpulkan mereka dan memengaruhi dunia luas, segalanya menjadi sangat terbatas dan menyebalkan. Kami ini ingin hidup bebas.”
Sepertinya mereka berdua tidak berubah pikiran sehingga berpihak pada Necessarius.
Yang berarti itu terjadi hanya karena kepentingan mereka selaras.
Lagipula, memakai seluruh 103.001 grimoire Index dengan benar berpotensi untuk mengubah siapapun menjadi Dewa Sihir. Nephthys dan Niang-Niang mungkin tidak ingin membiarkan benang merah itu menggantung hingga dapat menyebabkan semakin banyak Dewa Sihir tercipta.
Kamijou mendengar bunyi dentingan logam yang berat.
Sesuatu berguling ke arahnya.
Itu adalah helm berbentuk seperti ember dari sebuah power suit.
Dewa Sihir Niang-Niang telah melemparnya di depan Kamijou sambil menyeringai.
“Kami tidak ingin ada gangguan, jadi kami memburunya terlebih dahulu.”
“…”
Mereka merupakan ancaman yang lebih besar daripada Bio Secure.
Tentu saja, mereka adalah Dewa Sihir. Ingatlah kekuatan Othinus dulu. Dia telah mengubah dunia atas kemauannya sendiri.
Bahkan tidak ada gunanya menghitung berapa kali dia telah menghancurkan Academy City.
Dengan melibatkan Dewa Sihir, bagan yang sudah terbangun selama ini akan menjadi berantakan.
“Alice…”
“Tidak masalah.”
Suara Alice menenggelamkan sebagian suara Kamijou.
Seolah ingin mencegah Kamijou mengatakan sisanya.
“Siapa pun yang mengancam hidup sensei yang baru bangkit, si gadis akan mengalahkannya.”
Itu hanya membuat Kamijou makin khawatir.
Itu hanya pernyataan niat. Itu tidak membuktikan kemampuan Alice.
Ini akan menjadi Transenden VS Dewa Sihir.
…Apa yang akan terjadi?
Othinus tidak masuk hitungan karena dia telah kehilangan kekuatannya, jadi bukankah ini bentrokan kekuatan penuh pertama antara kedua kelompok? Alice Anotherbible tentu saja berkuasa di puncak Transenden, tapi tidak jelas seberapa besar kekuatannya di luar kategori itu.
“Dasar bodoh.”
Sebagai jawaban, Nephthys dengan bosan memainkan sejumput rambut peraknya.
“Biarkan kami saling bertarung, maka semua pertanyaan itu akan terjawab.”
Sang dewi berkulit coklat mendekatkan ujung rambut ke bibirnya dan meniupnya dengan lembut.
Dwoooom!!!!
Sesuatu yang lebih besar dari kepala terbang tepat melewati wajah Kamijou dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Hembusan angin datang setelahnya. Dan suara kehancuran terdengar jauh setelah serangan itu terjadi.
“…”
Kamijou tidak bisa bereaksi.
Apakah Kamijou bertindak lambat karena hal itu tidak terlihat, atau apakah rasa takut telah merekatkan kakinya ke lantai? Bahkan dia sendiri tidak tahu kenapa.
Nephthys berbicara sambil sekali lagi menyisir rambut perak panjangnya.
“Oh, maaf. Apa kau terjebak oleh delusi seorang anak kecil, berpikir kami akan bersikap lembek padamu hanya karena kita saling kenal? Kali ini kami benar-benar akan membunuhmu, Kamijou Touma.”
Kamijou serasa membeku.
Sang Dewi Mesir menatapnya dengan tatapan tajam.
Suaranya jauh lebih dingin daripada hujan musim dingin.
Bagian terburuknya adalah pernyataan Dewi itu benar.
Ini bukan pertemuan pertama mereka. Mereka sudah saling kenal.
Mereka bukan sembarang Dewa Sihir, mereka adalah Nephthys dan Niang-Niang.
Memang Kamijou telah saling paham dengan Othinus.
…Tapi bisakah Kamijou sekali lagi melakukan hal itu? Fakta bahwa mereka berdua hadir di Academy City berarti niat mereka sudah bulat.
Mereka adalah Dewa Sihir sejati.
Tidak seperti Othinus yang telah dibuat tidak berbahaya, keduanya masihlah berbahaya dan mematikan.
Dan mereka benar-benar datang ke sini untuk membunuh.
Mungkinkah….
Hal itu akan terjadi lagi kali ini?
Pertarungannya melawan Alice Anotherbible harusnya mengajarkan Kamijou bahwa kata-kata tidak menjamin apa pun!
Membayangkannya saja sudah membuat Tubuh Kamijou terasa berat.
Seolah-olah darahnya diganti oleh timah cair.
… Kali ini aku mungkin tidak bisa menang.
Itulah pikiran jujur Kamijou Touma. Menghadapi Stiyl dan apinya yang bersuhu 3000 derajat saja sudah membuatnya ragu, tapi dia juga harus berhadapan dengan dua Dewa Sihir sejati. Pertarungannya di masa lalu melawan Othinus dan Biksu Agung sudah cukup baginya untuk memahami keputusasaan. Mereka bukanlah lawan yang bisa dia hadapi tanpa persiapan.
Kamijou menelan ludah.
Dan kemudian menyadari sesuatu karena Alice tidak mengeluarkan suaranya.
“Alice…?”
Alice tidak dapat menahan getaran di sekujur tubuhnya, tapi dia masih menggigit bibirnya agar tidak berteriak.
Dengan usahanya sendiri, Alice bisa bertahan hidup dari apa pun.
Lalu apa yang begitu ditakutkannya?
Jawabannya jelas.
Alice Anotherbible takut jika harus kembali kehilangan Kamijou Touma.
…Hal itu membuat Kamijou kesal. Mengapa dirinya tidak mampu mempertimbangkan nilai hidupnya sendiri?
Selain itu, juga ada ruangan kosong.
Index dan Othinus… Dan masih banyak lagi orang yang hidupnya sudah dia ganggu? Stiyl pernah berkata bahwa hidup kembali adalah hal yang salah dan telah menyebabkan berbagai macam kekacauan. Mungkin benar. Jika melihat dunia secara keseluruhan atau kepentingan publik, mungkin Stiyl ada benarnya.
Tapi.
Apakah Kamijou harus menerimanya begitu saja dan mati sekali lagi?
Kamijou bahkan tidak tahu berapa banyak air mata yang telah ditumpahkan untuknya. Dia telah diperlihatkan gambaran Index dan Alice di neraka buatan. Tapi bisa jadi ada lebih banyak orang lain yang menangis tapi dia tidak menyadarinya. Apakah Kamijou benar-benar akan menyerah karena dia tidak dapat mengalahkan dua Dewa Sihir serta seorang penyihir lalu menerima kematiannya begitu saja sebagai tatanan alam tanpa pernah tahu siapa saja yang menangisinya?!
Sesuatu terjadi di pusat tubuhnya.
Jantungnya berdetak.
Itu membuktikan bahwa dia masih hidup.
“…tidak…”
Kamijou tidak punya trik sulap apa pun.
Tidak peduli dia telah melihat bukti bahwa jiwa dapat direbut dari kematian jika seorang pakar menciptakan neraka buatan.
Kamijou Touma.
Apakah kau benar-benar merasa menyesal saat di neraka? Apakah kau merasakan sesuatu saat menjalani jalan penyesalan yang ditempuh lelaki yang menyebut dirinya sebagai Christian Rosencreutz dan saat pakar bernama Anna Kingsford tetap setia pada jalan hidupnya dengan memberikan tiket menuju keselamatan yang mustahil itu padamu?
“Jangan khawatir, Alice.”
Kamijou membuat sumpah.
Kepada gadis yang menangis untuknya.
Kepada gadis yang telah melihat seseorang bangkit dari kematian, menangis karena lega bukannya takut, dan merentangkan tangannya untuk memeluknya.
“Aku tidak akan mati di sini!!!”
Lebih baik kalau dirinya mati? Sudah saatnya untuk menghancurkan ilusi konyol itu.
Mereka Yang Menolak Hasil
Ultra_VS_Wisdom.
Asrama pelajar yang tidak menarik untuk sekolah yang biasa-biasa saja berdiri di Distrik 7.
Lima orang saling berhadapan di lorong lantai 7.
Kamijou Touma dan Transenden Alice Anotherbible.
Stiyl Magnus dan Dewa Sihir Nephthys serta Niang-Niang.
Bentrokan yang tidak terpikirkan akan dimulai di tengah suasana asrama yang sangat biasa itu.
Dewa Sihir dan Transenden.
Keduanya telah melampaui batas kemanusiaan. Para petinggi Gereja Anglikan dan Gereja Katolik Roma tidak dapat meramalkan bahwa mereka akan berselisih di sini.
Orang pertama yang berbicara adalah Nephthys.
“Transenden. Kami sudah abaikan sandiwara sekolah ilahi kalian, tapi tampaknya kalian sudah mulai berani omong besar sekarang.”
“Dewa Sihir? Kenapa si gadis harus mendengarkan orang yang terlahir tidak bisa apa-apa?”
Gagasan itu baru terlintas di benak Kamijou.
Alice benar-benar berbeda. Stiyl telah memilih jalan sihir untuk melawan kenyataan yang tidak kooperatif. Bahkan Niang-Niang dan Nephthys pun sama meski dalam skala yang berbeda. Tapi Alice Anotherbible adalah sesuatu yang lain. Dia memang berada di sisi sihir, tapi dia berbakat .
“Hanya karena tidak memiliki sesuatu bukan berarti bisa mengambil sesuatu dari orang lain. Ini adalah masalah yang tidak bisa kalian pahami sebagai penyihir. Bahkan si gadis mencari uang saat si gadis menginginkan camilan, tapi kalian para penyihir tidak mau melakukan itu.”
“Kaulah yang mencuri dari kami,” kata sebuah suara. Suara Dewa Sihir Nephthys entah bagaimana terdengar kering. “Para Transenden adalah seorang yang menyebut diri mereka dewa… atau yang ingin disebut dewa. Sementara itu, kami para Dewa Sihir adalah seorang yang disebut dewa oleh orang lain. Meski tampak serupa, tapi dasarnya berbeda. Kalian bercita-cita menjadi dewa yang sudah ada dan bekerja keras untuk mencoba dan mencapai posisi itu, tapi kami menyempurnakan diri kami sendiri sampai titik di mana kami layak untuk disebut sebagai dewa baru. Tidak perlu repot bertarung, hasilnya sudah jelas terlihat, bukan?”
Transenden VS Dewa Sihir.
Karena kedua belah pihak sama-sama makhluk super, Kamijou tidak memiliki gambaran yang baik mengenai kekuatan relatif mereka atau ancaman yang mereka timbulkan, tapi mungkin itu salah satu cara untuk melihatnya.
Tapi Alice Anotherbible berbicara.
Dengan tenang.
“Apa kau yakin soal itu?”
Salah satu alis si cantik berkulit coklat pun berkedut.
“Mungkin kalian memang yang asli dan mungkin kalian memang dewa, tapi apa kalian benar-benar memiliki tekad dan tanggung jawab untuk disebut sebagai dewa?”
Nephthys khususnya adalah kumpulan budak dan pelayan yang dikubur hidup-hidup sebagai bekal kubur di piramida. Dia adalah Dewa Sihir yang secara tidak sengaja diciptakan melalui campuran perangkat sihir besar dan nyawa dari banyak orang.
Alice telah mengacaukan dunia tanpa rencana apa pun.
Kamijou tidak yakin kalau Alice telah mencari tahu info rinci mereka sebelumnya.
Tapi Kamijou tahu bahwa jika ada orang yang bisa mengambil kartu keberuntungan tepat saat Alice membutuhkannya, maka orang itu adalah Alice sendiri.
“Kalian tidak lebih dari manusia terbaik. Kalian menginginkan kekuatan yang melampaui kekuatan dewa, tapi kalian tidak siap untuk benar-benar menjadi dewa dan mengurus semua orang. Jadi, penciptaan semua dewa baru itu tidak benar-benar memperbaiki dunia. Sama seperti kalian yang sedang memburu sensei demi alasan kalian sendiri.”
“Beraninya seekor tikus lab yang diculik dan tubuhnya diotak-atik berlagak sombong.”
“Mungkin benar, tapi si gadis dan para Transenden lainnya memang ingin menyelamatkan orang-orang. Memang menyerahkan segalanya pada CRC adalah cara terburuk untuk melakukannya, tapi itulah tujuan kami.”
Kalau sudah begini, sepertinya mereka akan mulai bertarung.
Dan si anak lelaki, yang bukan Transenden maupun Dewa Sihir, menoleh ke arah manusia lainnya.
“…”
Ya, Stiyl Magnus.
Kamijou Touma kini memiliki kekuatan untuk melakukannya. Ketika Alice Anotherbible menemukan anak lelaki itu meringkuk di gang belakang, Alice menangis dan memeluknya dan bukan merasa takut atau merinding. Alice mengajarinya bahwa kehidupan barunya di sini adalah hal yang baik.
Kamijou tidak akan membiarkan mereka menyangkal gagasan itu.
Ini bukan tentang keseimbangan kekuatan antara tiga faksi Kristen utama.
Kamijou tidak peduli dengan segala konfrontasi antara pihak sains dan pihak sihir.
Aturan dunia yang menjadi perhatian para Dewa Sihir bukanlah persoalannya.
Dia hanya ingin hidup.
Itu saja.
Apa salahnya jika orang yang masih hidup ingin terus hidup? Mengapa Kamijou harus meminta izin dulu?!
“Kau salah paham,” gerutu Stiyl, membaca pikiran Kamijou dari sorot matanya. “Kau seharusnya sudah mati. Jadi, kenapa aku perlu izin untuk kembali membunuhmu?”
“Sensei,” kata Alice.
Gadis kecil itu sepenuhnya mengabaikan Stiyl dan berbicara kepada Kamijou.
Matanya terbelalak dan berbicara dengan cara yang sangat dingin.
Itu pertanda kalau Alice sedang dalam suasana hati yang buruk.
“Alice Anotherbible ada di pihakmu. Jadi jangan khawatir. Si gadis akan mengalahkan semua orang ini.”
“Oh, benarkah?”
Nephthys tertawa dan menjentikkan jari tangan kanannya di dekat wajahnya.
Terdengar suara kasar setelahnya.
Tubuhnya mulai dari bahu hingga ke bawah pecah berserakan menjadi semacam bubuk kering dan menyerang seperti cambuk.
Cambuknya melahap udara, merobek pagar logam dan apa pun yang menghalangi jalannya, dan menghilangkan jarak 10 meter di antara mereka.
Kamijou merinding.
Dengan lenyapnya tetesan hujan dingin secara tidak langsung memberitahunya seberapa besar daya serangnya.
“?!”
Kamijou terpaku dengan tangan yang masih terkepal.
Ini seperti melangkah keluar ke jalan dan mendapati sebuah truk besar melaju ke arahnya. Kamijou bisa melihat serangannya datang, tapi keterkejutannya justru membuatnya membeku.
Kamijou benar-benar salah mengartikan jaraknya.
“Jangan khawatir.”
Alice melangkah maju.
Dia mengangkat kedua lengannya ke depan dan merentangkannya ke samping, memunculkan tembok yang menjulang tinggi dari kehampaan. Perisai itu terbuat dari cairan lengket yang bahkan lebih merah dari darah.
“Perhatian, wahai prajurit kartu!! Sekop 2, 5, dan 7, segera cat ulang segala yang ada di depan si gadis. Apa pun yang diwarnai dengan cat itu, bahkan mawar yang salah warna sekalipun, akan menjadi bagian dari pasukan ratu!!”
Dinding itu tidak sepenuhnya menangkis serangan.
Dinding merah lengket itu melilit, mengelilingi serangan Nephthys, dan mewarnainya dengan warnanya sendiri. "Menelan" mungkin adalah deskripsi yang paling tepat.
“Wah, hebat.” bisik si wanita berbalut perban, tapi nadanya menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak terkesan.
Dewi unik itu tidak mempunyai mitos yang menonjol selain air mata yang tumpah di pemakaman dewa agung.
Bagi seorang wanita yang memakai tetesan bening sebagai senjata, mungkin nilai dari respons emosionalnya memang hanya sebatas itu.
“Tapi kondisi penggunaan cat justru membatasi dirimu. Memang, memperkuat citra dengan membatasi diri adalah taktik yang umum digunakan.”
“Kh.”
“Tapi bukankah di Alice's Adventures in Wonderland tertulis bahwa mawar-mawar putih berusaha dicat merah, tapi pekerjaan itu tidak selesai tepat waktu? Dengan kata lain, semakin banyak yang harus ditangani, semakin lama pula waktu yang dibutuhkan. Memproses banyak hal sekaligus itu ada batasnya.”
“Wahai prajurit kartu!! Simbol 2, 5, dan 7 yang berdasarkan pedang, cepat buat korespondensi dengan Sephirah yang terkait dengan simbolmu!!!”
Sekali lagi Alice berteriak.
Terdengar suara regang yang aneh.
Itu bukan bunyi yang ditimbulkan dari cat yang lengket. Dan Alice jelas menggertakkan giginya karena kesakitan sambil terus mengangkat lengan kecilnya ke depan.
Ini bukan karakter Alice Anotherbible yang tak tersentuh, yang bisa melanggar semua aturan untuk melakukan apa pun.
Apakah ada pengecualian yang berlaku dalam konflik antara Dewa Sihir dan Transenden?!
“Alice…”
“Jangan… khawatir!! Ini bukan apa-apa!!!”
Bersamaan dengan teriakannya, Alice mencondongkan tubuhnya ke depan.
Alice menahannya.
Demi Kamijou.
Mungkin Alice bisa melakukannya dengan cara yang berbeda jika dia hanya sendirian dan hanya berfokus untuk meraih kemenangan. Dengan mendistorsi lanskap dan dunia di sekitarnya. Namun, gadis itu malah mengulurkan tangan kecilnya dan menjaga dinding cat tetap aktif sehingga bisa menjaga Academy City agar tidak hancur oleh ledakan yang dihasilkan oleh sang Dewa Sihir.
Kalau dipikir-pikir, Alice adalah bagian dari sisi sihir, tapi baru pertama kalinya Kamijou mendengarnya melafalkan mantra.
Bukan karena suasana hatinya atau kemauannya semata.
Mungkin karena Alice sadar bahwa tidak boleh ada kesalahan di sini?
Dan mungkin ini tidak seberapa dibandingkan dengan kerusakan yang telah ditimbulkannya di masa lalu.
Namun ada sesuatu yang jelas berbeda.
“Sen… sei…” erangnya.
Alice menahan rasa sakit yang tidak akan dialaminya jika dia hanya tertarik untuk membunuh.
Alice tampak seperti seseorang yang pindah ke belakang. Yakni, yang siap membiarkan orang lain menyelesaikannya. Ingat, jika yang ingin Alice lakukan hanyalah membunuh, maka akan lebih cepat jika Alice melakukannya sendirian. Tapi karena masih merupakan misteri mana yang akan selamat di antara Dewa Sihir atau Transenden, jadi Alice tidak boleh bermain-main atau mengambil jalan pintas.
Alice menyerahkan hasilnya pada Kamijou.
Dia membiarkan Kamijou mengambil alih.
Karena tidak ingin kejadian yang sama terulang, Alice memilih untuk keluar dari jalur stabil yang seharusnya ditempuhnya. Butuh waktu lama baginya untuk mencapai titik ini, bahkan sekarang pun dia masih takut.
Ini adalah pertumbuhan yang tidak dapat disangkal.
Apa lagi namanya kalu bukan kekuatan?
Dan setelah Alice menunjukkan tekad seperti ini, Kamijou Touma tahu apa yang harus dia katakan.
Karena Kamijou memang hidup, jadi dia membuka mulutnya.
Lihatlah ini, Christian Rosencreutz dan Anna Kingsford.
Sedikit demi sedikit, aku akan memenuhi harapan kalian di dunia ini.
Aku akan membalas budi kalian!!
Maka dari itu.
Kamijou tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan Transenden Alice Anotherbible.
Terus kenapa?
“Terima kasih, Alice.”
Mereka melawan sepasang Dewa Sihir yang luar biasa kuat dan seorang pemburu penyihir dari Anglikan yang menggunakan kelicikan berhati dingin untuk mengejar buruannya.
Kamijou tahu dia bukan tandingan mereka, tapi dia tidak boleh membiarkan hal itu menghentikannya.
Kamijou harus menebus perbedaan itu dengan segala cara dan meraih kemenangan.
Jangan sampai terkecoh.
Pertanyaannya bukanlah apakah dia bisa menang atau tidak. Dia tidak mencari pertarungan yang aman dan tanpa risiko melawan seseorang dalam daftar lawan yang dapat dikalahkannya dengan mudah.
Anak lelaki biasa itu melirik ke arah Alice.
…Pertama-tama, ada alasan mengapa dia harus memenangkan ini.
Jadi dia tidak boleh mundur. Tidak boleh menyerah.
Katakan.
Orang bisa mati. Kamijou tahu dia bisa dibunuh kapan saja jika dia gagal berusaha untuk bertahan hidup. Tapi, itu sebabnya dia tidak boleh berkompromi atau menyerah dan memperlakukan nyawanya satu-satunya sebagai hal yang tidak berharga.
Dia harus mengatakannya dengan lantang.
Semuanya dimulai di sana.
Dia harus menyatakan alasan mengapa dia layak mempertaruhkan nyawanya untuk bertarung!!
“Aku bersyukur telah menyelamatkanmu.”
Gadis kecil itu terkesiap.
Kamijou langsung bergerak tanpa menunggu.
Kamijou Touma sekali lagi menjejakkan kakinya dengan kokoh di lantai lorong sempit.
Dia membungkuk rendah, menendang pijakannya, dan melesat seperti anak panah ke arah Dewa Sihir Nephthys.
Sehingga dia bisa memperpendek penderitaan Alice walau sedetik.
Tapi apakah Kamijou lupa?
Lawannya adalah Dewa Sihir sejati. Dan dia pun tidak sendirian.
“Neh heh he.”
Sesuatu melesat sangat rendah.
Hampir tampak seperti bayangan yang bergerak cepat di tanah.
Itu sebenarnya Niang-Niang yang memakai gaun mini Cina yang dimodifikasi.
Bruak bruak!!!
Beberapa senjata melesat berbarengan dari lengan bajunya yang longgar. Bukan, itu adalah Pao-Pei yang dibuat dengan mengubah jari-jemarinya.
Senjata itu menyebar ke samping seperti sayap saat sang Dewa Sihir mencibir sambil tampak melayang di atas lantai.
Di lorong yang lurus dan sempit itu, dia tidak bisa melarikan diri ke samping.
“Apa kau benar-benar berpikir kau bisa mengalahkanku dalam pertarungan langsung?! Aku adalah Xian! Bahkan tanpa Pao-Pei-ku, aku bisa berlari menyeberangi air dan membunuh harimau dengan tangan koso— Ah?”
Suara Niang-Niang terdistorsi secara tidak wajar.
Tanpa memperlambat momentumnya sedikit pun, Kamijou Touma langsung menukik ke lantai. Dia tengkurap, merentangkan kedua lengannya ke depan, dan meluncur dengan kepala terlebih dulu sekuat tenaga.
Kamijou berakhir di posisi lebih rendah.
Meluncur langsung di lantai, Kamijou menyelinap di bawah dagu Niang-Niang dan tepat melewati dadanya yang rata.
Kamijou mencengkeram pergelangan kaki ramping Niang-Niang dengan tangannya yang terentang dan membuat Niang-Niang yang mengenakan gaun mini Cina yang telah dimodifikasi tersandung.
Penggunaan kecepatan supernya tampaknya justru merugikannya.
Anak lelaki berambut jabrik itu mendengar suara menggelinding diikuti oleh suara benturan keras. Mungkin Alice telah memberikan pukulan. Mirip seperti pemain bola yang menendang bola sekuat tenaga saat bola itu menggelinding ke arahnya.
Kamijou tidak sempat menoleh ke belakang saat dia menggunakan kekuatan kakinya untuk melompat dan mendekati Nephthys. Nephthys telah mengubah lengan kanannya menjadi cambuk, yang berarti Nephthys tidak bisa menggunakan lengan itu untuk menangkis. Ini adalah kesempatan terbaik yang bisa Kamijou dapatkan.
Dagu rampingnya berada tepat di depan Kamijou.
Jadi Kamijou mengepalkan tangan kanannya.
Kamijou mampu meraihnya!!
“Owahhhh!!!”
Tepat saat Kamijou meraung, dia mendengar suara robekan yang tidak mengenakkan.
Wajah Nephthys terbelah tepat di tengah.
Tidak, Nephthys telah mengubah kepalanya menjadi bubuk kering dan membelahnya di bagian tengah untuk menghindari pukulan Kamijou Touma. Nephthys tidak tampak kesakitan sama sekali. Wajahnya yang terbelah seperti huruf V bahkan tampak sedang tertawa.
“?!”
Tidak ada manusia yang bisa melakukan hal itu.
Tapi Kamijou tidak punya waktu untuk membeku karena keheranan.
Mungkin ini menjadi bukti perkembangan Kamijou Touma karena dia mampu fokus pada pintu besi di sampingnya, ketimbang pada tangan kiri Dewa Sihir Nephthys yang masih bebas.
Pintunya bersinar jingga karena panas.
Dan si pendeta perokok pun tidak terlihat!
“Cih!!”
Pukulannya meleset, tapi itu tidak berarti momentumnya telah hilang. Sambil membidik lokasi lengan kanan Nephthys yang tidak ada, Kamijou menjatuhkan dirinya ke depan.
Tesss!!!
Pintu depan kamar asrama meleleh dari dalam dan campuran api merah dan biru yang tidak alami pun keluar. Api itu melelehkan pagar besi lorong seolah seperti gulali yang dipanggang.
Stiyl rupanya menggunakan balkon ruangan lain untuk mendekat.
Siluet wanita yang mempesona terlihat berlenggak-lenggok di dalam kobaran api. Hampir seperti sedang berkaca di cermin kamar ganti.
“Hei. Aku juga ikutan kena tahu.”
“Kau tidak akan kenapa-kenapa, bukan?”
Shiiiiing!!!
Pilar api itu pun terkoyak dari dalam dan menghilang. Nephthys dengan lesu mengibas rambut perak di bahunya. Sepertinya Stiyl tidak melakukan apa-apa. Nephthys-lah yang telah memadamkan apinya, tapi tidak dengan air. Tapi lebih seperti memadamkan api dengan menutupinya dengan pasir.
“Baiklah, waktunya serangan penghabisan.”
“Kau yakin ingin membunuhnya terlebih dulu? Aku rasa Alice akan mengamuk setelahnya.”
“Itu jauh lebih baik daripada Kamijou Touma yang mengamuk.”
“Benar juga.”
Mereka berdua sekali lagi berbalik untuk menghadap Kamijou Touma dalam diam.
Yang berarti mereka berpaling dari sang Alice Anotherbible, tapi mereka tampak tidak khawatir.
Niang-Niang dapat menahannya sendiri.
Apakah ini suatu bentuk kepercayaan dari Stiyl dan Nephthys?
“…”
(Baiklah, harus apa aku sekarang?)
Lorong lurus di lantai tujuh terbuka ke udara di satu sisi.
Satu hal yang menguntungkan Kamijou dan Alice adalah mereka berhasil mengepung kelompok musuh, tapi ini tidak terasa seperti serangan penjepit. Pihak Stiyl memiliki jumlah yang lebih banyak. Dengan kelompok musuh yang saling membelakangi, itu berarti pertarungan menjadi 1 lawan 1 dan 1 lawan 2. Karena salah satu dari mereka harus melawan banyak lawan, pihak Kamijou berada dalam posisi yang kurang menguntungkan.
Yang berarti…
“Alice!! Mari berpencar!!”
“Baik!”
Ini adalah asrama pelajar yang sangat murah. Banyak gedung serupa yang berhimpitan di area ini, jadi jarak antara gedung ini dan gedung di sebelahnya kurang dari 2 meter.
Jadi…
“Kita lompat ke seberang!!”
Setelah bertukar anggukan kecil dengan Alice yang berada di sisi lain serangan capit, Kamijou segera meletakkan kakinya di pagar.
Kamijou tidak ragu untuk melompat.
Pada sudut -30 derajat.
Dengan kata lain, melompat turun.
Rupanya sol sepatunya tergelincir di pagar tangga yang basah terkena hujan.
“Ahh!”
Kamijou merasa seperti orang bodoh.
Dan memang begitu, karena dia sedang berada di lantai tujuh.
Orang yang benar-benar malang itu tergelincir dari celah sempit selebar 2 meter dan akan jatuh hingga tewas.
Tapi tepat setelah itu, Kamijou mendengar sesuatu seperti bunyi siulan.
Dewa Sihir Niang-Niang tampak menghirup udara lewat sudut bibirnya.
Dan sesaat kemudian…
Sendirian.
Gadis kecil itu berhasil menerobos.
Zwoooosss!!!
Di momen yang sangat singkat itu, seluruh area bergetar hebat. Apa yang terjadi? Kamijou melongo sampai lupa kalau dia sedang terlempar ke udara kosong. Dia pun dapat melihat lanskap di seberangnya yang tembus lewat sebuah celah selebar lebih dari 1 meter.
Lanskap itu adalah beton-beton bertulang sekitar lebih dari 10 ribu ton.
Jika Kamijou benar-benar melompat ke seberang, dia akan terbunuh seketika.
Hanya ada satu alasan mengapa hal itu tidak terjadi.
“Hnh.”
Alice.
Sang Transenden, Alice Anotherbible.
Hanya Alice seorang yang hidup di dunia ini. Kalau saja dia tidak menerobos lorong lantai 7, berlari melewati lorong lantai 6, menangkap Kamijou yang jatuh dengan tangan kecilnya, dan menariknya, Kamijou pasti sudah tewas tanpa merasakan rasa sakit.
Alice tampaknya lebih memilih menarik Kamijou ke lorong lantai 6 di gedung yang sama ketimbang pergi ke gedung sebelahnya, tapi Kamijou belum boleh bersantai.
Bagaimanapun, mereka adalah Dewa Sihir.
Bagi mereka, sebuah gedung beton bertulang mungkin sama saja dengan kertas.
(Sial!! Jika para Dewa Sihir tetap memegang kendali, maka kita hanya sedang menunda kematian!!!)
Kamijou dan Alice sekarang berada di lantai bawah.
Jika mereka tetap berada di lorong panjang dan lurus tanpa tempat bersembunyi, hal yang sama akan terjadi lagi.
Jadi apakah lebih baik untuk mundur ke tangga darurat?
“Lewat sini, Alice!”
“Tidak!”
Kamijou terkejut.
Tangan kecil Alice menariknya dengan kuat ke arah yang berlawanan. Tapi, Kamijou tidak bisa mengeluh.
Sesaat kemudian, sesuatu menyebabkan seluruh bangunan miring. Muncul lubang selebar satu meter yang menembus semua langit-langit dan lantai. Kamijou tidak bisa melihat seperti apa bentuk dari proyektil tersebut.
Tapi Alice Anotherbible bisa.
“Gadis bakpao itu sedang menggila, jadi kau akan mati jika tidak bisa menebak ke mana dia akan menyerang.”
“Aku bisa dengar tahu, dasar gadis jadi-jadian. Jangan mengarang cerita tanpa dasar. Hanya karena aku adalah Xian dengan gaun mini Cina modifikasi, bukan berarti aku bakal berjalan-jalan sambil menguleni bakpaooooooooooooo…”
Apa dia benar-benar tidak pernah melakukan hal itu?
Tidak sekalipun???
Pengaruh stereotip malas Alice membuat Kamijou tidak dapat mengingat kembali rincian ingatannya.
Dan Kamijou takut karena suara Niang-Niang berasal dari tanah. Apakah Dewa Sihir itu sama sekali tidak terluka setelah jatuh dari lantai enam dengan kecepatan lebih cepat daripada jatuh bebas?
“…”
Kamijou bahkan belum melihat Niang-Niang.
Secepat itulah pergerakan Niang-Niang.
Niang-Niang adalah lawan yang tangguh dan kuat, dia juga terus-menerus melancarkan serangan yang dapat membunuh Kamijou seketika jika Kamijou mencoba menirunya.
Sejauh ini, Kamijou telah terhindar dari kematian dengan mengalahkan ekspektasi mereka dengan melakukan hal-hal yang tak terduga, tapi akankah dia punya kesempatan jika terjadi bentrokan langsung melawan para Dewa Sihir? Jika tinju mereka beradu, jelas lengan Kamijou akan hancur dan terkoyak.
Kamijou tahu betul.
Ingat saja Othinus. Atau Biksu Agung.
Jika sendirian, semangat Kamijou mungkin telah hancur sejak dia tahu bahwa dia sedang berhadapan dengan dua Dewa Sihir. Berlutut dan menyerahkan kepalanya kepada mereka akan lebih baik daripada mencoba melawan. Dengan standar yang masuk akal.
Tapi Kamijou tidak sendirian.
Kamijou memiliki Alice Anotherbible.
Gadis yang gemetar itu berdiri tepat di belakangnya.
Kamijou sudah menyerah pada hidup, pergi ke neraka palsu, dan dihidupkan kembali oleh dua orang pakar. Dan sekarang gadis ini gemetar karena takut jika harus kembali kehilangan si anak lelaki yang malang itu.
Alice adalah kebalikan dari Niang-Niang.
Sesuatu mengalir turun dari lantai tujuh di atas.
Seperti air terjun yang kasar dan kering.
Seperti badai pasir atau kabut tebal, kehadirannya tampaknya tidak memiliki massa namun mengingatkan pada ketakutan akan kematian yang pasti.
Air terjun dari pasir itu membentuk wanita berambut perak dan berkulit coklat yang dibalut perban.
Dewa Sihir Nephthys.
Kamijou melotot ke arahnya dan bergerak untuk melindungi Alice kecil yang berada di sampingnya sambil berbicara pelan.
“Aku tidak akan mati.”
“Apa kau pikir dewa ini akan mengabulkan doamu?”
“Tidak, tapi aku tetap tidak akan mati di sini!!!”
Kamijou Touma mengepalkan tangan kanannya erat-erat.
Rentang jarak mereka sekitar 5 meter. Yang pasti tidak lebih dari 7 meter. Meski tinju Kamijou belum cukup untuk mengenai Nephthys, tapi rentang jarak mereka sudah kurang dari tiga langkah.
Pada jarak yang dekat itu, si cantik yang diperban itu perlahan mengedipkan matanya.
Setetes cairan bening pun menetes dari mata kanan wanita itu.
Air mata.
Nephthys bisa menangis kapan saja dia mau, kapan saja sepanjang tahun. Dia bisa memaksakan emosinya seperti seorang aktor.
Ini buruk.
Sangat buruk.
Bagaimana jika Nephthys telah memasukkan teknik mentalnya itu ke dalam sihir—
“???!!!”
(Tidak sempat!!)
Kamijou segera mengayunkan kepalanya ke samping untuk meniadakan serangan Nephthys dengan tangan kanannya.
Tetesan itu tidak jatuh ke bawah kaki Nephthys melainkan melayang dan kemudian melesat di udara seperti sinar laser berkecepatan cahaya. Tapi, butuh beberapa detik bagi Kamijou untuk menyadari apa yang telah terjadi.
Wanita itu bisa menangis sesuka hatinya.
Dewa Sihir itu menggunakan air mata sebagai senjata.
Mata Nephthys berkaca-kaca, namun bibirnya menyunggingkan senyum lembut yang tak wajar.
“Kau sudah merasakan kematian, jadi kau tahu kan kalau itu bukanlah masalah besar?”
Itu bukan sekedar ekspresi dangkal.
Emosi Nephthys sudah berubah.
Nephthys dapat langsung mengalihkan emosinya seolah-olah sedang menekan tuas. Dan sekarang, dia berbisik lembut.
Mungkin Nephthys sendiri pun tidak tahu perasaannya yang sebenarnya.
Bagi Kamijou, itu tampak seperti harga yang harus dibayarnya untuk mendapatkan kekuatan yang besar.
“Kami tidak mengatakan bahwa hidup atau mati lebih unggul dari yang lain. Faktanya, manusia hidup dalam berbagai kondisi. Baik terjaga, tidur, cemas, dan rileks. Orang yang hidup hanya dapat belajar tentang kondisi kehidupan, tapi tidak demikian halnya dengan kami. Kami dapat memanfaatkan kondisi dari eksistensi lainnya, yakni kondisi kematian, yang memungkinkan kami untuk berpikir pada tingkat yang disebut sebagai kebijaksanaan.”
“…”
“Othinus gantung diri dan Biksu Agung dikubur hidup-hidup. Karena tindakan itu perlu. Kira-kira pemandangan warna-warni macam apa yang terhampar di depan matamu? He he. Mungkin itu tarian cahaya yang sangat berbeda dari kebijaksanaan yang kuketahui.”
Ada sesuatu yang terasa aneh.
Akhirnya, Kamijou Touma menyadari ada yang sedikit salah tentang perkataan Nephthys dan Niang-Niang.
“Tapi… aku…”
Kamijou merenungkannya.
Dan kali ini, lelaki mungil itu mengangkat kepalanya.
Menatap tajam ke arah Dewa Sihir Nephthys.
“Aku tidak menjadikan hidupku sebagai bagian dari rencana untuk memperoleh lebih banyak poin pengalaman secara efisien.”
Itu berbeda dari para Dewa Sihir.
Kematian bukan sarana untuk naik level.
Kamijou benar-benar mengira semuanya sudah berakhir. Namun Kamijou masih belum menyerah.
Kamijou rela mati demi gadis itu. Kamijou ingin menyelamatkannya, apa pun yang terjadi padanya. Kamijou telah bertemu dengan seorang gadis yang membuatnya yakin akan hal itu. Bukan tentang seberapa lama Kamijou mengenalnya. Kamijou hanya berpikir bahwa meninggalkan gadis kesepian yang tidak bisa mengendalikan diri itu adalah keputusan yang lebih buruk daripada kematian.
Para penyihir ini bahkan menggunakan kematiannya sendiri untuk mencapai tujuannya?
Makhluk-makhluk ini telah mengasah pikiran dan energi kehidupan mereka hingga pada titik di mana mereka dapat melakukannya tanpa ragu-ragu?
Terus kenapa?
Apakah itu sesuatu yang bisa dibanggakan?
Kok bisa hal itu membuat mereka jauh lebih unggul dibandingkan seseorang yang tidak menyerah pada kehidupan dan berusaha mati-matian untuk hidup di masa depan?!
“Hmph.”
Rasa manis telah lenyap dari suara wanita perban itu.
“Sepertinya kau mengerti. Kau tidak mati begitu saja lalu samar-samar melihat neraka. Apakah memiliki pemandu yang hebat bisa membuatmu menyerapnya lebih cepat, Kamijou Touma?”
Kamijou merasakan sesuatu yang aneh di antara alisnya.
Seperti ada yang menusukkan jarinya di sana.
Atau bahkan seperti senjata tajam.
Nephthys sebenarnya tidak melakukan apa-apa — hanya melotot ke arah Kamijou — tapi Kamijou merasa seperti ada sesuatu yang tajam namun tak terlihat sedang menusuk kepalanya.
Ini buruk.
Detik berikutnya, semacam serangan mengerikan akan datang!!!
“Sensei!!”
Tangan kanannya terasa aneh.
Penglihatannya tiba-tiba kabur.
Kemudian, di mana ini…?
“Di atap?”
Apakah itu perbuatan Alice?
Alice tampak mencondongkan tubuhnya ke pagar lorong lalu mengayunkannya lurus ke atas. Kamijou pasti telah terbang setinggi beberapa lantai, tapi Kamijou sudah terduduk di atap datar tanpa satu pun tulang yang patah. Kamijou bahkan mendarat dengan lembut. Rasanya seperti bola kendama raksasa.
Ledakan dan getaran terdengar dari bawah. Alice kecil pasti sedang bertarung melawan kedua Dewa Sihir sekaligus.
Kamijou tidak bisa meninggalkannya begitu saja di sana.
Tapi, dia hanya akan menghalangi Alice jika dia kembali tanpa rencana. Apa yang kurang? Kamijou memanfaatkan sepenuhnya otaknya yang jarang dia gunakan.
(Tinju kananku bisa bertindak sebagai kartu truf, tapi kartu truf yang diketahui tidak akan cukup. Baik Stiyl maupun para Dewa Sihir sudah tahu tentang Imagine Breaker. Aku butuh pengantar. Aku butuh kartu lain yang bisa mengantarkanku pada serangan pemungkas.)
Kamijou memandang ke seberang atap saat hujan dingin turun.
Entah mengapa, beberapa sepeda diparkir bersama-sama. Dan bukannya sepeda wanita yang biasa ditemukan di trotoar di depan stasiun kereta, sepeda-sepeda ini jelas merupakan sepeda jalan raya yang mahal. Memang di sekolahnya ada yang mengendarainya?
Tidak bisakah mereka meninggalkannya di tempat parkir sepeda di lantai dasar?
Pencarian cepat di ponselnya menemukan toko daring yang menjual sepeda tersebut seharga 490 ribu yen dan sedang obral untuk awal tahun ajaran baru.
Berapa banyak ikan sarden kering yang dapat Kamijou beli dengan uang 490 ribu yen?
“…Argh.”
Kamijou tidak ragu untuk mematahkan sepeda itu dengan kakinya. Dia membengkokkannya tepat di tengah.
Siswa miskin itu tidak menunjukkan belas kasihan. Rasakan, dasar kaum borjuis.
Beberapa batang logam, rantai, roda gigi, ban karet — sepeda itu merupakan harta karun, namun anak lelaki berambut jabrik itu terlebih dahulu mengambil sebuah tabung silinder yang sedikit lebih besar dari tongkat estafet.
“Pompa udara portabel.”
Benda itu kecil, tapi berfungsi sama seperti pompa udara yang dioperasikan dengan menaikkan dan menurunkan pegangan berbentuk T. Itu berarti dia dapat menggunakannya. Dia menarik keluar tabung karet di ujung pompa dan mengambil beberapa mur seukuran ibu jari dari lantai. Ukurannya tidak pas untuk lubang kecil itu, tapi itu berarti dia harus menggunakan penahan agar udara tidak bocor. Dengan melepaskan tuas rem dan sedikit mengutak-atik kabelnya, kini dia pun memiliki pelatuk.
Kamijou meraih barang rongsokan yang telah dibuatnya dan mengarahkan lengannya ke samping.
Dia memegangnya dengan satu tangan. Dia menarik tuas itu seperti alat pemadam kebakaran dan “bzum!!”. Antena TV satelit yang terpasang di pagar besi itu pun hancur.
Tenaganya cukup.
Pertanyaannya adalah apakah dia dapat mengenai sasaran yang dibidiknya. Dia dapat membuat kekeran seperti pada senapan, tapi dia tidak memiliki jaminan bahwa mur heksagonal akan terbang lurus. Larasnya tidak memiliki jalur ulir dan peluru murnya pun tidak memiliki bulu-bulu.
Lagi pula, dia tidak punya waktu untuk mengkhawatirkannya.
(Aku ragu Alice sanggup menghadapi dua Dewa Sihir sekaligus!)
Kamijou melihat sekeliling atap yang dingin dan hujan kemudian menemukan tangga.
Suatu suara pun terdengar.
Suara langkah kaki.
Alice ada di bawah. Begitu pula Nephthys dan Niang-Niang.
Jadi.
“Hai.”
Stiyl Magnus.
Toh lawannya adalah Dewa Sihir yang luar biasa, jadi alasan semacam itu tidak berlaku di sini.
Kamijou harus menang dengan kekuatannya sendiri.
“Sebagai makhluk fana, apakah kau siap mati demi terjaganya stabilitas dunia?”
“Diamlah,” gerutu Kamijou.
Kamijou hampir membeku di tengah hujan yang dingin, dia dikejar oleh tim aneh dari Academy City, dia diserang oleh Dewa Sihir yang luar biasa, dan sekarang dia berhadapan langsung dengan Stiyl dan pedang apinya.
Berapa banyak kartu rune yang menutupi gedung ini? Seribu? Puluhan ribu?
Jika Kamijou tidak melakukan sesuatu, dia akan mati di sini.
Tapi itulah sebabnya dia merasakan panas yang mengalir dari hatinya seolah-olah ingin melawan hujan yang tak berperasaan itu. Itulah sebabnya dia memiliki kaki yang mampu lari dari tim aneh itu. Dan jika dia mengepalkan tinjunya dan melotot kearah lawannya, dia dapat membangun tekad untuk menghadapi musuh yang paling kuat sekalipun.
Ya.
Kamijou Touma lebih hidup daripada sebelumnya!!
“Menyedihkan, egois. Sebut saja aku sesukamu.”
Jadi, Kamijou membuang keraguannya.
Hidup adalah hal yang berantakan. Tidak seperti sampel makanan yang terbuat dari lilin atau plastik yang ditata rapih.
Jika itu menyedihkan, maka biarlah.
Terima saja.
Terimalah hasratmu dengan tekadmu sendiri!!
“Aku tidak peduli jika ruangan ini sempit atau jika aku miskin sampai harus mengurangi jatah makan. Aku masih ingin kembali ke ruangan hangat itu bersama Index dan yang lainnya!!!”
“Ya…” kata Stiyl Magnus.
Stiyl tidak tertawa.
“...begitu juga aku. ”
Pada akhirnya, semuanya bermuara di situ.
Kamijou Touma dan Stiyl Magnus mempertaruhkan hidup mereka untuk mencoba dan mendapatkan hal yang sama persis.
Mereka menyimpang dari hati nuraninya.
Mereka tidak selalu bisa melakukan apa yang benar.
Mereka tidak istimewa.
Mereka tidak dipilih.
Mereka bukan yang terkuat.
Mereka tidak berada di pusat segalanya.
Mereka tidak bisa menjadi Dewa Sihir seperti Nephthys dan Niang-Niang. Mereka juga tidak bisa menjadi makhluk abnormal di antara para Transenden seperti Alice Anotherbible. Mereka tidak akan pernah bisa.
Tapi.
Mereka berdua sampai ke kesimpulan yang sama di waktu yang bersamaan.
“ “Terus kenapa?” ”
Ya, dialah orangnya.
Kamijou Touma harus mengakuinya. Gelar, level, pangkat, dan hal semacam itu tidaklah relevan. Musuh terbesar dan terberatnya adalah Stiyl Magnus.
Mereka berdiri di atap yang luas dari salah satu dari banyak asrama pelajar.
Bentrokan antara Transenden dan dua Dewa Sihir di bawah sana pasti memanas karena bangunan itu terkadang bergetar tak stabil dan mulai miring. Beberapa mur setebal ibu jari tergeletak tak wajar di atap. Mur-mur itu kemungkinan besar terlepas dari antena TV atau tangga menuju toren setelah gagal menahan pembengkokan struktur.
Pertarungan telah dimulai.
Sesuatu menghasilkan suara gemuruh yang meledak-ledak.
Merah dan biru. Pedang api yang membara meledak dari masing-masing tangan Stiyl. Dengan suhu lebih dari 3000 derajat Celsius, bilah pedang itu dapat melelehkan baja.
“!!”
Sebagai tanggapan, Kamijou mengangkat suatu benda dengan tangan kanannya.
Itu adalah senapan kompresi yang terbuat dari pompa udara portabel.
“Kau tahu apa yang mengakhiri era pedang? Tentu saja senapan!!”
Bentrokan langsung mereka telah dimulai jauh sebelum ini.
Kamijou memfokuskan pikirannya pada pelatuk yang menyerupai tuas pemadam kebakaran. Mur setebal ibu jari itu merobek udara beserta tetesan air hujan dalam perjalanannya menuju hidung Stiyl.
Arahnya akurat.
Namun gagal mengenai sasaran.
Bwoof!!!
Api bertiup dari kedua sisi.
Seperti sebuah sayap.
Stiyl bergerak cepat ke kiri dan kanan seolah-olah dia telah dilengkapi dengan booster. Bukan untuk menyerang. Dia telah membuat kecepatan tambahan pada dirinya sehingga dia bisa memperoleh posisi serangan terbaik.
Dengan kata lain…
“Kau bisa terbang?!”
“Terbang memakai sihir itu mudah dilakukan, tapi juga mudah dijatuhkan. Itu adalah aturan standar dunia kami, tapi aturan itu berubah saat lawanmu tidak dapat menggunakan mantra intersep.”
Kamijou menggertakkan giginya dan bersiap untuk bertarung.
Stiyl bahkan tidak perlu mendekat dan menyerang dengan pedang apinya.
Dengan memecah apinya dan menyemburkannya seperti banjir bandang, Stiyl bisa langsung memanggang Kamijou di atap datar ini.
Stiyl dapat terbang bebas di angkasa dan mengeluarkan api yang dahsyat untuk membakar apa pun di permukaan sesukanya.
Stiyl mungkin saja menjadi seekor naga dalam cerita dongeng.
Pikiran itu menyebabkan denyutan tidak wajar di tangan kanan Kamijou.
(Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku mundur dulu ke dalam?!)
“Hasilnya sama saja. Jika kau kabur ke lorong atau kamar, kau tidak akan punya tempat untuk kabur saat aku meluncurkan bola api ke dalam untuk memenuhi ruangan dengan api. Atau aku bisa menyelimuti seluruh gedung dengan api.”
Dwooom!!!
Cahaya putih yang menyilaukan jatuh langsung dari langit.
“Kh.”
Stiyl benar-benar terkesiap.
Apa yang lebih menakutkan di sini: kekuatan penghancur yang mampu menyebabkan toren meledak dari dalam, atau Stiyl yang mengudara berhasil berputar dan menghindarinya di detik terakhir?
Pendeta berpakaian hitam itu menelan ludah dan menatap awan hujan.
“Apa karena hujan? Tidak, ada yang tidak beres. Momentum dari sambaran Petirnya terlalu pas!!”
Kamijou pun berpikir begitu.
Kemalangan merupakan hal yang biasa dalam hidupnya, jadi dia ragu bencana alam akan menyelamatkannya hanya karena kebetulan semata.
Kemudian…
“Yo.”
Suaranya berasal dari tetesan air hujan.
Suara yang familiar terdengar bercampur dengan suara jatuhnya tetesan air hujan.
Cukup jelas bagi Kamijou untuk menebak suara siapa ini.
“Ini pertempuran. Toh kau tidak datang sendirian, jadi jangan bilang ini tidak adil, ya?”
“Tentu saja tidak!!”
Stiyl benar-benar mencibir sambil bergerak ke kiri dan kanan dengan pendorongnya untuk menjaga keseimbangannya.
Kemudian dia menaruh sebatang rokok baru di mulutnya.
“Orang itu sangat terus terang, aku jadi bosan. Pertarungan sampai mati yang sesungguhnya membutuhkan ketegangan. …Teknologi hujan buatan dan petir buatan, ya? Sepertinya kau menggunakan sudut pandang ilmiahmu untuk mensimulasikan kondisi meteorologi yang rumit untuk mengubahnya menjadi mainanmu, tapi dapatkah simulasimu menjelaskan ini?”
Kamijou merasa merinding.
Dia punya firasat buruk.
“Keluarlah, Innocentius!!!”
Groooooo!!!
Sesaat, sensasi tanah menghilang dari bawah kaki Kamijou. Dia pikir itu hanya ilusi optik. Sebuah api raksasa muncul, seakan memenuhi seluruh penglihatannya dan membentang dari tanah hingga atap.
Wujud humanoidnya menghilang saat berubah menjadi pusaran besar. Badai api berwarna jingga membentuk menara yang menyala-nyala menjulang ke langit.
“Cih!!”
Petirnya mulai belok.
Petir tersebut malah menyambar jalan yang jauh dari gedung, bukan ke atap.
“Ha ha!! Makhluk ini tidak memiliki bentuk pasti. Semuanya berdasarkan jumlah dan penempatan rune. Aku lebih suka tidak melakukan ini karena Makhluk ini menghabiskan begitu banyak energi sihir, tapi aku tidak akan ragu untuk menggunakan kartu trufku jika diperlukan. Baiklah, penyembah sains yang kurang ajar, bisakah kau secara akurat memprediksi perubahan numerik pada arus udara yang disebabkan oleh api magis?!”
Mungkin suatu saat bisa.
Tapi yang penting adalah apakah dia bisa melakukannya sekarang.
Bwof bwof bwof!!!
Stiyl bergerak zig-zag dengan cepat di langit.
Ini buruk.
Jika Kamijou sampai terlena, dia akan kalah dengan satu serangan saja.
(Tapi senjata proyektil masih merupakan pilihan yang tepat!!)
Kamijou menekan kepanikannya dan fokus pada senjata kompresinya.
Dia membidik langsung ke atas untuk mencoba mengikuti lintasan yang rumit dari Stiyl, tapi kemudian rasa dingin merambati tulang punggungnya.
Dia sudah menarik pelatuk seperti alat pemadam kebakaran dengan telapak tangannya yang penuh. Peluru tebal sudah dilepaskan.
Tapi dia mempercayai indranya dan memutar tubuhnya dengan sekuat tenaga.
Duaaar!!!
Terjadi ledakan. Pedang api telah meledak. Dan Kamijou hampir terbunuh oleh peluru yang dilepaskannya sendiri. Itu seperti mengubur bom di tepi sungai yang penuh batu dan meledakkannya. Stiyl telah menggunakan ledakannya sendiri untuk memukul mundur mur-mur yang beterbangan dan hampir saja membelah tengkorak Kamijou.
Kelebihan dari senjata proyektil tidak berlaku melawan lawan supranatural yang menakutkan.
“Sial!!”
Kamijou baru saja terhindar dari kematian mendadak, tapi berbalik terlalu cepat telah menempatkannya dalam posisi yang buruk.
Stiyl sudah menginjakkan kakinya di atap dan dengan cepat berbalik ke arah Kamijou.
Dengan pedang berikutnya.
Ledakannya akan menghancurkan Kamijou hingga berkeping-keping.
Ini adalah kesempatan terakhirnya.
“Stiyl!!!”
“Jangan memelas padaku, musuhku!!”
Kamijou menarik pelatuknya.
Dan melepaskan peluru.
Dalam posisi yang buruk, yakni dengan memutar tubuhnya.
Terdengar suara yang membelah udara, hanya itu.
Dan kemudian terjadi ledakan.
Stiyl menerobos ledakannya untuk melesat menyerang Kamijou.
Stiyl melaju lebih cepat.
Apakah Stiyl menduga bahwa api magis yang jangkauannya luas akan dinetralisir oleh Imagine Breaker?
Stiyl telah meledakkan kedua pedang apinya tepat di belakangnya untuk mempercepat lajunya. Ada senyum di wajah Stiyl saat dia mendekat.
Tapi.
Kamijou tidak membidik Stiyl yang terlalu cepat untuk bisa dikenai oleh senapan rakitannya.
Kamijou membidik unit AC luar ruangan raksasa.
Dan atapnya sudah basah oleh hujan yang tertiup angin.
Si lelaki mungil itu bersandar pada dinding beton. Dinding itu melindunginya dengan sempurna dari hujan yang bertiup secara diagonal. Kecuali di sekitar lift berbentuk kotak.
Ya.
Pendeta itu tidak menangkis serangan petir Accelerator, dia menghindarinya.
Stiyl tidak terkalahkan.
Ada alasan mengapa Stiyl harus menghindarinya.
“Ap—?”
Stiyl Magnus bahkan tidak sempat untuk bicara.
Kamijou mendapatkan jawabannya saat dia meringkuk di sepotong beton kering.
Jdeeeer!!!
Setelah ledakan listrik yang memekakkan telinga, pendeta berpakaian hitam itu pun terjatuh ke atap.
Stiyl Magnus tergeletak tak bergerak di atap.
“…”
Anak lelaki berambut jabrik itu melirik senjatanya dan kemudian melemparkannya ke beton yang basah karena hujan. Penggunaannya yang berlebihan telah membuat penahan di ujungnya pecah dan tidak dapat digunakan.
Kamijou menghela napas berat sebelum sesuatu mengganggu pikirannya.
Tetesan hujan.
Kebisingan yang teratur dan tabrakan gelombang suara yang kompleks menghasilkan suara manusia yang jernih.
Kamijou mengenalinya. Suara itu adalah milik orang nomor 1 di Academy City.
“Kenapa kau masih hidup?”
“Ceritanya panjang.”
Accelerator memang bersinggungan dengan sejumlah kecil sihir, tapi Kamijou ragu Accelerator bisa mengunyah informasi yang melimpah tentang pergi ke neraka dan kembali dan bahwa neraka yang dikunjunginya sebenarnya adalah ladang buatan yang diciptakan oleh Rosencreutz.
Kamijou memang telah mengalaminya sendiri, tapi tetap tidak memahami semuanya.
“Yang lebih penting, bukankah kau Ketua Dewan, orang tertinggi di kota? Aku tahu aku bangkit setelah mati selama lebih dari 24 jam, tapi aku jamin aku bukanlah zombi yang terinfeksi oleh patogen baru yang misterius. Ini bekerja dengan cara yang berbeda. Memang sih Dewa Sihir masih menjadi momok, tapi tidak bisakah kau setidaknya melakukan sesuatu terhadap orang-orang Bio Secure itu?"
“Aku tidak punya info tentang mereka. Sekarang aku memang memakai Master Key untuk mengumpulkan informasi, tapi aku tidak bisa memerintahkan mereka untuk segera mundur. Karena ketua mereka, yakni Kihara Goukei, sengaja mengundurkan diri. Dia menggunakan fakta bahwa aku tidak bisa menghubungi orang yang bertanggung jawab untuk memberikan kebebasan kepada bawahannya.”
“Mengundurkan diri?”
“Dia menggigit lidahnya sendiri. Menyebabkan kehilangan banyak darah dan serangan jantung. Sungguh menyebalkan.”
Kamijou berharap dia tidak bertanya. Para Kihara memang tidak beres.
Academy City sudah hancur. Bukan berarti kota itu bisa bertahan melawan dua Dewa Sihir sejati dalam kondisi terbaiknya. Othinus dengan kekuatan penuhnya dapat menghancurkan dan memulihkan dunia ini ribuan atau jutaan kali.
Metode standar tidak berlaku.
Satu-satunya cara untuk mengalahkan mereka adalah dengan memicu semacam reaksi kimia yang di luar standar.
Jadi Kamijou akan mengalahkan mereka dengan Imagine Breaker dan Alice Anotherbible.
“Kita hanya perlu melakukan segala yang kita bisa.”
“Orang yang bicara seperti itu akan mati dalam hitungan detik, dan membiarkan orang lain membersihkan kekacauannya.”
Kamijou tidak bisa membantah ketika dia memang telah mati melawan Alice. Sungguh menyedihkan.
Koneksi ke Accelerator terputus.
Accelerator tampaknya ingin fokus pada Bio Secure.
“…”
Kamijou terhuyung.
Tapi dia masih tidak boleh tumbang.
Napasnya yang berat berwarna putih saat keluar dari mulut. Dia bisa mati jika terlalu lama berada di luar di tengah hujan.
Meski begitu, dia masih tidak boleh tumbang.
Tidak, jika kehadirannya bisa menyelamatkan seseorang hanya dengan terus hidup.
Anak lelaki itu perlahan berbalik.
“Berikutnya…”
Suara gemuruh yang amat keras mengguncang seluruh bangunan.
Kamijou mengambil rantai sepeda yang putus dan pipa logam lalu menyelipkannya di ikat pinggangnya.
Dia menuruni tangga darurat.
Ke lantai tiga.
Alice sedang bertarung di lorong panjang.
Dewa Sihir Nephthys dan Niang-Niang.
Kamijou sudah babak belur dan hampir mati setelah melawan Stiyl. Langsung ikut bertempur melawan Dewa Sihir yang lebih luar biasa jelas merupakan bunuh diri. Bahkan dengan kartu truf pelanggar aturan yaitu Alice Anotherbible sekalipun.
Meski begitu, dia tidak boleh menyerah.
Kamijou tidak akan membiarkan siapa pun mengatakan bahwa akan lebih baik seandainya dia tidak pernah hidup kembali.
Alice Anotherbible menangis.
Alice menangis sekeras-kerasnya untuk Kamijou.
Bahwa Kamijou Touma masih hidup.
Kamijou telah menerima tangisannya.
Teriakan itu adalah satu hal yang tidak dapat Kamijou pungkiri.
Kamijou tidak tahu seberapa cerdas Dewa Sihir dengan kebijaksanaan anehnya dan mengapa mereka menganggap Kamijou sebagai ancaman karena merangkak keluar dari neraka. Itu tidak penting. Jika kesalahpahaman mereka akan membuat mereka menghancurkan dunia kecil tempat Index, Othinus, si kucing calico, dan semua orang tinggal, maka dia akan bertarung dan melindungi tempat itu di dunia ini. Karena hidup berarti Kamijou dapat bertindak secara fisik.
Kamijou tidak memiliki peluang nyata untuk menang.
Si tukang sial tidak akan pernah bisa memainkan kartunya dengan mengandalkan keajaiban dari keberuntungan semata.
Meski begitu, Kamijou Touma tetap menghadap ke depan.
Dan berjalan dengan kedua kakinya sendiri.
Dia tidak akan mati.
Ada sesuatu yang berbeda dari saat dia bertarung melawan Dewa Sihir Othinus.
Dan sejak dia melawan Alice Anotherbible.
Anna Kingsford dan Christian Rosencreutz telah mengajarinya sesuatu sebelum memberinya tiket kebangkitan.
Kematian tidak bisa diperindah.
Itulah realitanya, yang menjadi alasan mengapa tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat membatalkannya, tapi bukan berarti kita harus meremehkan atau merasa putus asa atas keterbatasan hidup yang kita miliki.
Kamijou telah merebut kembali kehidupannya sendiri.
Jadi dia harus memanfaatkannya semaksimal mungkin.
Dia sudah lama mendambakan hal ini di neraka. Apa yang ingin dia lakukan di dunia konyol ini? Apa yang ditunjukkan Kingsford kepadanya saat dia sudah pasrah, mengatakan bahwa dia tidak punya lagi alasan untuk kembali hidup?
Dia ingin meminta maaf kepada semua orang yang mengkhawatirkannya, kembali ke ruangan tempat Index dan Othinus berada, pergi ke sekolah seperti biasa, dan tak ada lagi alasan untuk melawan Aradia, Anna Sprengel, dan yang lainnya, serta menjadikan Alice sebagai bagian dari mereka semua.
Dia hanya merasa bahwa kata “tidak masuk akal” menghampirinya karena dia masih belum mempunyai rencana yang konkret.
Dia harus mencari tahu seberapa jauh dia harus melangkah.
Ketimbang berbicara tentang harapan yang samar, dia harus menghitung setiap anak tangga untuk mewujudkan mimpinya.
Memang tidak akan mudah.
Jadi dia tidak punya waktu untuk beristirahat.
Dia tidak bisa berhenti berjalan sampai dia menyelesaikan semua yang dia bayangkan saat berjalan melewati neraka dan menatap alam kehidupan yang berada jauh di atasnya.
Dua Dewa Sihir — Nephthys dan Niang-Niang — yang akan menyakiti Alice adalah rintangan pertamanya.
Jadi dia tidak boleh mati hanya karena mereka begitu kuat.
Dia tidak hidup kembali agar bisa kabur, bersembunyi dalam bayangan, dan memaksakan senyum kaku sambil menghindari segala risiko.
Dia sudah berhenti untuk menahan hasratnya.
Nephthys dan Niang-Niang tampaknya menyadari kemunculan anak lelaki itu dari belakang Alice.
“Oh?”
“Hee… jadi kau berhasil mengalahkan Stiyl?”
Mereka tampaknya tidak peduli sama sekali.
Pertarungan belum berakhir.
Kamijou menarik pipa logam yang panjangnya pas dari ikat pinggangnya di sisi pinggulnya.
(Berapa kali aku mati melawan Othinus?)
Kamijou tidak menghitungnya.
Dan bahkan setelah semua itu, dia tidak pernah benar-benar mengalahkannya.
Dan sekarang Kamijou melawan dua Dewa sihir sekaligus.
“Terus kenapa?”
Pada saat yang sama, Nephthys dan Niang-Niang berhenti di tempat mereka berada. Mereka perlahan mengangkat tangan. Seolah seperti sebuah lelucon.
Kamijou meraung sambil menggenggam pipa itu erat-erat.
“Hah?! Apa yang kau lakukan?!”
“Kami sudah tidak punya alasan lagi untuk bertarung,” jawab Niang-Niang sambil menyeringai.
Aneh sekali.
Para Dewa Sihir mungkin hanya menghancurkan dunia demi bersenang-senang, tapi mereka selalu setia pada tindakan mereka.
Kamijou tidak dapat memikirkan alasan kenapa mereka ragu-ragu ketika mereka memiliki jalan menuju kemenangan.
Dan tidak ada pula tanda-tanda terjadinya insiden yang tidak diharapkan dari pihak mereka.
Lalu apakah ini akhir yang diharapkan Nephthys dan Niang-Niang?
Apa yang mereka dapat dari tindakannya ini?
(Tunggu.)
Kamijou teringat akan apa yang dikatakan Nephthys.
Kamijou meninjau ulang premisnya.
(Dewa Sihir adalah seseorang yang tidak ragu untuk memperbaiki diri dengan segala cara yang ada, termasuk sampai membunuh dirinya sendiri. Memang tidak ada jaminan mereka akan menjadi Dewa Sihir, mereka juga pasti tidak akan menginginkan hal itu terjadi.)
“Ini sama sekali bukan soal aku. Kalian khawatir tentang Stiyl?” tanya Kamijou keheranan.
Wanita yang diperban itu menurunkan tangannya yang terangkat dan mengangkat bahu.
“Pendeta itu sangat bertekad melindungi si perpustakaan grimoire dengan segala cara, sudah jelas dia akan mencoba sesuatu yang sangat gegabah dalam waktu dekat. Jika dia mencoba melakukan ritual mematikan itu, kemungkinan besar dia hanya akan berakhir dengan kematiannya yang sia-sia, tapi akan ada konsekuensi yang sangat menyebalkan jika dia sampai berhasil.”
“Apa jadinya kalau seorang pria polos dan lurus seperti dia menjadi Dewa Sihir dan mulai serius memikirkan perdamaian dunia? Dunia menjadi jauh lebih ketat. Dan kami tak mau hal itu terjadi.”
Niang-Niang terkekeh dan melambaikan lengan bajunya yang longgar.
Kamijou kira ini aneh. Nephthys dan Niang-Niang adalah Dewa Sihir setingkat Othinus. Alice Anotherbible adalah satu hal, tapi mereka seharusnya bisa membunuh Kamijou dalam sekejap mata. Itu akan benar-benar terjadi seketika. Namun, mereka tidak melakukannya.
Kamijou menghela napas kasar.
“Jadi apa yang akan kalian lakukan sekarang?”
“Pergi. Academy City bukan rumah kami.”
Dan begitulah.
Mungkin konflik di antara manusia lemah tidak berarti apa-apa bagi para dewa di surga.
Bagaimanapun, Kamijou senang dia tidak akan dipaksa ke dalam situasi mengerikan di mana dia harus memulai perkelahian dengan dua Dewa Sihir sampai salah satu pihak tidak dapat melanjutkannya. Dia benar-benar berharap para Dewa Sihir yang suasana hatinya suka berubah-ubah itu pergi meninggalkan Academy City sebelum mereka berubah pikiran dan memutuskan untuk mulai bertarung lagi.
“Kalau begitu, pergilah sekarang. Kalian bisa lihat sendiri keadaan kota ini, bukan? Kami bahkan tidak bisa memperbaiki bangunan yang rusak, jadi kami tidak dalam kondisi yang layak untuk menghibur wisatawan.”
“Iya, iya."
“Kami bisa mampir untuk bermain kapan saja kami mau, sih? Toh, kami adalah Dewa Sihir sejati.”
Dan selama percakapan itu…
“Gah?!”
Terdengar suara seperti sedang tercekik.
Nephthys dan Niang-Niang keduanya menempelkan tangan ke tengah dada mereka.
Mereka membungkuk tapi tetap tidak dapat menahannya dan terhuyung sebelum akhirnya jatuh ke lantai.
Meskipun konon katanya merupakan salah satu ancaman terbesar.
Kamijou melirik Alice, tapi gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.
Ini bukanlah sihir pelanggar aturan milik Alice.
Kalau begitu…
(Tunggu.)
Siapa lagi yang bisa menjadi dalangnya?
(Jangan bilang...)
Perlahan — tidak, dengan ragu-ragu — Kamijou Touma berbalik untuk melihat ke arah belakang.
Stiyl Magnus.
Stiyl tidak dapat berdiri tegak.
Stiyl tampak siap pingsan kapan saja.
Namun, pendeta jangkung itu tetap berdiri. Sekali lagi. Garis bahunya goyang tak menentu. Hampir seperti semacam efek fatamorgana.
Sepertinya itu bukan gas.
Suara seperti buih darah yang lebih basah dan lengket keluar dari mulut si pendeta.
“Dewa Sihir awalnya adalah manusia, tapi terus berkembang hingga akhirnya menjadi sesuatu yang dikenal sebagai dewa, benar kan?”
Terdengar suara retakan yang tidak stabil.
Krak krek krak krik!!!
Badan pendeta itu cukup tinggi. Tidak normal untuk usianya yang baru 14 tahun. Tapi, tubuhnya semakin menegang.
Seperti Stiyl secara paksa menerima sesuatu yang tidak manusiawi yang menyebabkannya perlahan-lahan hancur dari dalam.
“Stiyl…?”
“Tidak ada bedanya dengan Telesma. Pada dasarnya orang dapat menarik energi dari objek yang lebih murni dan presisi. Dari luar.”
Dengan jimat bertuliskan nama atau simbol konstelasi, kita dapat meminjam energi dari bintang-bintang.
Dengan cara yang sama, dapatkah kita secara langsung menarik energi dari Dewi Nephthys dengan menggunakan simbol piramida?
“Sejauh apa pun kau menguasainya, pada dasarnya sihir adalah sebuah teknologi. Tidak seorang pun dapat memonopolinya selamanya. Setelah tahu cara kerjanya, kau mungkin tidak dapat membuatnya secara langsung, tapi setidaknya kau dapat memanfaatkannya dengan mengembangkan suatu trik.”
“Tunggu, Stiyl!! Apa yang kau lakukan?!”
“Mencuri energi sihir yang secara khusus disempurnakan dari energi kehidupan para Dewa Sihir.”
Stiyl melemparkan satu buah kartu ke udara.
Simbol yang berbeda digambar di atas rune itu dengan darah. Sebuah lingkaran digambar di dalam segitiga yang menyerupai piramida. Jika Niang-Niang melihatnya, dia mungkin akan ikut melongo dan merinding.
“Mungkin seperti memasukkan bahan bakar roket ke dalam mobil komersial. Hal paling buruk yang bisa terjadi adalah mesinnya akan meledakkan, tapi jika berhasil memasangnya dengan benar, maka itu akan memberikan akselerasi yang luar biasa. Yah, aku lebih suka tidak memikirkan berapa biaya yang harus aku keluarkan.”
Biaya.
Kamijou melihat petunjuk di sana-sini bahwa sihir adalah hal yang berbahaya. Misalnya, jika esper mencoba menggunakan sihir, maka akan berisiko menghancurkan semua pembuluh darah dan saraf mereka. Lalu ada pembicaraan Aleister tentang percikan yang dihasilkan dari tabrakan fase… yang menyebabkan nasib mematikan yang tidak diharapkan yang telah merenggut keluarganya dan memicu Pertempuran Blythe Road.
Tapi bagaimana dengan ini?
Apakah ini akan menciptakan bentuk risiko baru?!
“Aku menyebutnya Crossroad,” kata Stiyl. “Aku menciptakan mantra itu dari nol, tapi idenya sendiri tidak terlalu unik, bukan? Aku dengar laporan yang mengatakan bahwa ide untuk menggabungkan berbagai agama dan dewa sebagai kepunyaan pribadi pernah menimbulkan masalah bagi Orsola Aquinas.”
“…”
“Itulah nama mantraku. Akanku gabungkan budaya lain selama itu bisa membantuku mencapai tujuanku yang jahat dan memalukan!!”
Kamijou segera membuang pipa logam yang dipegangnya.
Itu tidak akan membantu.
Pendeta itu mencengkeram rokoknya dengan dua jari dan menghancurkannya.
Bwooof!!!
Terdengar suara gemuruh yang dahsyat.
Api pun berkobar dengan cepat.
Pipa logam meleleh hingga lenyap sebelum menyentuh lantai.
Pagar bersinar merah menyala dan catnya terkelupas dari dinding disertai suara berderak.
Tapi Stiyl tidak menghunus sepasang pedang api merah dan biru.
Stiyl hanya mengandalkan satu kepalan tangannya.
Apa sebenarnya makna di balik tindakannya itu?
Jika Stiyl hanya ingin menjebak dan membunuh Kamijou Touma, dia bahkan tidak perlu menunjukkan kehadirannya. Dia bisa saja mengirim laporan ke Anti-Skill dan membiarkan orang-orang dewasa itu menghancurkan Kamijou. Atau dia bisa saja menonton sementara kedua Dewa Sihir sibuk menyerang Kamijou.
Namun Stiyl tidak melakukan hal-hal itu.
Tidak peduli seberapa buruk dan egoisnya tindakannya dan bahkan jika itu berarti mengabaikan perintah Anglikan dalam suatu tindakan pengkhianatan, penyihir itu tetap datang ke garis depan untuk melakukannya sendiri.
“Fortis931…”
Sesuatu keluar dari bibir Stiyl Magnus.
Nama sihir.
Kata-kata yang terukir di hatinya dan alasan dia menantang dunia yang hebat ini.
Pendeta ini rela mengorbankan seluruh hidupnya demi seorang gadis.
Bagi seseorang yang telah menempuh jalan yang berbeda, memilih untuk membakar sebagian masa hidupnya demi melakukan satu sihir mungkin merupakan hal yang wajar.
(Ya…)
Kamijou Touma menerimanya.
Itulah sebabnya Kamijou mengepalkan tinjunya lebih keras dari sebelumnya.
Tipu daya sudah tidak akan mempan.
(Dia benar-benar tembok penghalang yang menjulang tinggi. Dialah musuh terbesarku!!!)
Kali ini tidak ada trik.
Di lorong yang sangat panjang dan lurus itu, Kamijou dan Stiyl mengepalkan tangan kanan mereka dan berlari mendekati satu sama lain.
Pukulan pertama akan mengakhirinya.
Semua orang mengetahuinya.
Itu sungguh barbar dan primitif.
Tapi, hal itu memberikan kesan menyegarkan, mirip seperti duel antar kesatria di atas kuda.
“Ohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!”
“Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!”
Waktu sebenarnya mungkin terjadi hanya beberapa detik.
Momen bentrokan itu hampir tiba.
Stiyl adalah orang pertama yang bergerak.
Tinggi badannya sekitar 2 meter, jadi walaupun ini adalah sebuah duel yang adil, tapi jangkauan serang dari keduanya berbeda.
Terus kenapa?
Kamijou bahkan tidak ambil pusing soal pertahanannya.
Kamijou bersiap untuk lolos dari serangan pertama Stiyl agar dia bisa melancarkan pukulan pamungkasnya sendiri.
Tepat sebelum benturan terjadi, lutut kanan Stiyl pun jatuh secara tidak wajar.
Itulah biayanya.
Lagi pula mencoba merampas energi Dewa Sihir tanpa tahu dan bisa menciptakannya sendiri itu sudah tidak masuk akal. Dan karena dia menyebut kalau ada biaya yang harus dia bayar, maka Stiyl seharusnya menjadi yang paling mengerti daripada siapa pun.
Jadi, seberapa banyak biaya yang harus dibayar Kamijou Touma?
Pertanyaan itu terus terngiang dalam benaknya, tapi lelaki mungil itu tetap mengepalkan tangan kanannya erat-erat.
Stiyl begitu peduli pada Index, dia mungkin telah menjadikan Gereja Anglikan dan Academy City sebagai musuhnya demi merebut kembali dunia kecil yang telah direnggut darinya.
Maka dari itu.
Kamijou harus menang, berapa pun biaya yang harus dibayarnya.
“Jika…”
Mata Stiyl tiba-tiba terbelalak karena terkejut.
Setelah itu, Kamijou dengan jelas melihat wajah Stiyl yang menciut seperti anak kecil yang hampir menangis.
“...dunia ini bergerak sesuai dengan sistem yang Engkau ciptakan…”
Kamijou tidak ngeh.
Kamijou Touma tidak mengingat kata-kata ini.
Tapi.
Ketika Kamijou menatap mata pria itu, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
“Maka pertama, akanku hancurkan ilusi itu!!!”
Dbuk!!!
Tinju kanan Kamijou Touma pun mengenai tulang pipi Stiyl Magnus.
Trik Yang Tak Diinginkan
Open_Your_Lock.
Stiyl telah dikalahkan.
Dewa Sihir Nephthys dan Niang-Niang masih pingsan.
Tapi…
“Kita sudah membuat keributan besar. Kita tidak bisa tinggal di asrama ini.”
“?”
Alice kecil memiringkan kepalanya, lalu Kamijou melanjutkan.
“Tidak ada kabar dari Accelerator. Apa yang terjadi dengan Bio Secure? Mereka adalah sebuah organisasi dan tampaknya bos mereka Kihara Goukei sengaja melukai dirinya sendiri, jadi tidak ada yang tahu bagaimana cara menghentikan mereka. Semoga mereka tidak terus mengejarku tanpa henti dengan kekuatan penuh.”
Kamijou Touma masih hidup.
Setidaknya, dia bukan zombi atau mayat hidup.
Tapi setelah dipikir-pikir, bagaimana dia bisa membuktikannya? Hidup adalah asumsi mendasar yang tidak pernah dia pertimbangkan sebelumnya. Apa yang bisa dia lakukan jika mereka mencurigainya sebagai mayat yang terinfeksi meskipun dia memiliki denyut nadi dan gelombang otak?
Tidak mungkin jika harus membelah tubuhnya dan membedahnya secara seksama untuk bisa mengetahuinya.
Setelah berpikir sejenak, Kamijou pun kembali berbicara.
“Haruskah aku pergi ke dokter berwajah katak?”
“Hm?”
Kamijou tidak dapat membayangkan bagaimana hal itu dapat dilakukan, tapi dia merasa bahwa dokter tersebut akan dapat menyelamatkannya dari segala ancaman. Setidaknya jika menyangkut manusia yang masih hidup.
(Tapi jika aku pergi ke rumah sakit sambil dikejar Bio Secure, aku malah akan menarik musuh. Aku tak mau menimbulkan masalah untuk rumah sakit.)
Daripada pergi ke rumah sakit, mengapa tidak memanggil si dokter berwajah katak untuk janjian di suatu tempat?
Jadi rumah sakit tidak akan menjadi medan perang.
Masalahnya, bagaimana cara menyediakan zona aman di mana dokter berwajah katak dapat merasa nyaman memeriksa dan menguji si pasien. Akan sangat mengerikan jika segerombolan power suit yang membawa penyembur api datang menyerbu mereka saat si dokter tengah bekerja.
Kamijou juga khawatir dengan Index dan Othinus.
Mereka tidak berada di kamar asramanya. Lalu, di mana mereka sekarang? Apakah mereka berada di Inggris seperti yang Stiyl katakan? Tidak, mereka bahkan tidak memiliki tanda pengenal resmi. Kamijou ragu mereka bisa mendapat izin untuk meninggalkan kota dan naik pesawat dari bandara Distrik 23.
Bukankah mereka sedang terjebak?
Jika mereka tidak punya bukti identitas, maka mereka mungkin akan enggan menarik perhatian Anti-Skill seperti halnya Kamijou.
Stiyl telah menyebutkan tim lain di luar tembok, tapi jika Index dan Othinus diam-diam menghubungi kelompok asing itu, maka itu akan menyebabkan lebih banyak kesalahpahaman dengan Academy City. Mereka bahkan bisa ditangkap karena dicurigai sebagai mata-mata.
Ke mana mereka pergi?
Apakah mereka benar-benar memahami posisi mereka saat meninggalkan kamar asrama?
Bagaimana pun, Kamijou Touma masih hidup.
Kamijou perlu membuktikan kalau dia masih hidup secepatnya. Dia perlu menunjukkan bahwa dia adalah manusia normal yang hidup dan bukan makhluk abnormal yang kekal. Hal itu akan menunjukkan kepada Index dan Othinus bahwa mereka telah mengambil risiko yang tidak perlu.
“Alice.”
“Ya?”
“Aku ingin bantuan dokter berwajah katak itu untuk menyelamatkan Index dan Othinus. Ada banyak hal yang harus kulakukan. Tapi semua ini tidak akan menguntungkanmu sama sekali. Jadi, kau tidak perlu terus bersamaku jika kau—”
Sebuah tinju kecil menghantam Kamijou sebelum sempat selesai berbicara. Pukulan itu tepat mengenai perutnya.
“Sensei seharusnya lebih egois dalam menjalani hidup.”
“Ini bukan pertama kalinya aku diberitahu hal itu.”
Namun saat ini Kamijou masih harus memaksakan diri.
Kamijou telah hidup kembali, jadi dia harus menundukkan kepalanya untuk meminta maaf kepada setiap orang yang bersedih atau terganggu oleh kematiannya. Ini adalah kemewahan tertinggi yang tidak pernah diberikan kepada orang mati. Dan untuk melakukan hal itu, pertama-tama dia harus merebut kembali rumah bagi Index dan Othinus.
Asrama yang setengah hancur itu tidaklah cukup.
Guru-guru sekolah dan Anti-Skill mungkin tidak akan membantunya.
Kamijou butuh sesuatu.
Kamijou berpikir sebentar lalu matanya tertarik pada seseorang.
Kepada Alice Anotherbible yang menatapnya dengan polos.
Ya…
“Konsulat.”
“?”
“Bridge Builders Cabal punya konsulat di Academy City! Konsulat itu berada di Distrik 12 dan pihak sains tidak bisa menyentuhnya karena wilayahnya bersifat Ekstrateritorial. Selama aku bisa membuktikan bahwa aku masih hidup, aku bisa melindungi rumah bagi Index dan Othinus. Dan jika aku ingin mendapatkan bantuan dari dokter katak, memanggilnya ke konsulat akan menjadi pilihan terbaik, benar bukan?!”
“Tapi, sensei, bukankah konsulat itu sudah hancur total dalam pertempuran kita?”
Benarkah?
Mungkin begitu.
Kamijou tidak tahu mana dari Good Old Mary atau H.T. Trismegistus yang lebih bertanggung jawab.
Tapi tingkat kerusakannya sendiri tidak terlalu penting.
“Mungkin tempat itu sekarang hanyalah tumpukan puing, tapi di atas kertas, tempat itu seharusnya masih berfungsi sebagai konsulat. Lihatlah kota ini, Alice. Proses pemulihannya bahkan belum dimulai. Setelah dihantam gempuran pertempuran, para petinggi pun pasti mengalami gejolak. Jadi mereka tidak akan punya waktu untuk mengurusi dokumen untuk mencabut status konsulat dari tempat itu, serta mereka akan kesulitan menemukan dokumen yang mereka inginkan di antara tumpukan dokumen yang harus mereka kerjakan.”
Mungkin suatu saat akan ditutup, tapi hal itu belum terjadi saat ini.
Meski hanya sebentar, tempat itu bisa menjadi zona aman.
(Sekitar Tahun Baru, tempat itu adalah markas musuh. Setelah posisiku berubah, sekarang maknanya malah berubah total.)
Tapi apakah itu benar-benar sesuai dengan apa yang dia inginkannya?
Kamijou merasa takjub melihat betapa penuh perhitungannya dia.
Tapi itulah kenyataannya.
Kamijou tidak mau lagi menghabiskan waktunya untuk dikejar dan kabur. Dia masih punya banyak masalah yang harus diselesaikan, tapi dia bisa menyelesaikan banyak masalah jika dia punya waktu untuk menenangkan diri dan berpikir.
Kamijou tahu dia akan menemukan banyak cara untuk membuktikan bahwa dirinya adalah manusia hidup dan bukan bocah zombi misterius.
Christian Rosencreutz dan Anna Kingsford.
Para pakar itu telah bangkit dari kedalaman neraka, tempat kepura-puraan atau kata-kata manis tak akan berguna, tempat dosa-dosa, masa lalu, dan tempat semua hasrat terungkap. Mereka telah mengirimnya kembali ke alam kehidupan.
Kamijou telah kembali dari kematian.
Dia tidak akan membiarkan dirinya kembali terbunuh karena suatu kesalahan atau karena kebangkitannya menyebabkan kebingungan yang tidak perlu.
Alice kecil melompat-lompat di sampingnya.
“Baiklah, sensei, ayo pergi ke Distrik 12!”
“Ya… Aku tidak akan menemukan Index dan Othinus dengan berkeliling tanpa tujuan. Aku harus mendahului mereka. Kita perlu menyusun strategi untuk mempersempit pencarian kita.”
Dengan itu, Kamijou meninggalkan asrama yang setengah hancur dan mulai menuju stasiun kereta.
Tapi apakah dia lupa?
Kamijou Touma benar-benar dirundung kemalangan. Kapan rencananya pernah berjalan sesuai dengan yang dibayangkannya?
“?”
Grakkk!!!
Kamijou mendengar sesuatu benda keras yang hancur.
Terbaring di aspal basah adalah seorang wanita yang tampak seperti supermodel dengan rambut hitam panjang indah dan berkulit cokelat. Tapi, boneka bersendi bola yang diposisikan membelakangi dirinya hancur dengan bagian-bagian bodinya berserakan di sekitarnya.
“Vidhatri,” bisik Alice.
Kamijou tidak memiliki pengetahuan langsung tentangnya.
Namun Alice mengenalnya. Jika dia adalah seorang Transenden seperti Aradia dan Bologna Succubus, maka kekuatannya pastilah luar biasa. Dia akan menjadi monster yang mampu berperang sendirian dengan seluruh sisi sihir. Diperlukan kekuatan Alice untuk membunuh seorang Transenden, tapi mata gadis kecil itu kini terbelalak karena terkejut.
Karena.
Wanita itu telah dikalahkan dengan mudahnya?
“Lari… Alice…”
Ketika Vidhatri menyadari tatapan mata mereka berdua tertuju padanya, dia mengerang, tidak mampu berdiri di tengah hujan deras.
“Dia datang. Sejauh ini kami berhasil menahannya, tapi kami sudah mencapai batas. Ada yang aneh dengannya!!”
Kamijou awalnya tidak menyadarinya karena suara hujan.
Seseorang ada di sana.
Tapi ini bukan orang dewasa dari Anti-Skill.
Juga bukan Bio Secure dengan power suit dan penyembur api.
Kamijou tampak bingung.
“Aleister?”
Manusia itu tidak merespon.
Manusia itu bahkan tidak memegang payung.
Hanya suara hujan yang terus terdengar konstan.
Sekitar 10 detik sudah berlalu.
Waktu yang cukup untuk memadatkan atmosfer menjadi seperti jeli.
“…Kenapa?” tanya Aleister, dengan kepala tertunduk.
Suaranya yang dalam dan penuh kebencian seakan bergemuruh dari kedalaman bumi.
“Kenapa hanya kau, Kamijou Touma?”
Sekarang giliran Kamijou yang terdiam.
Awalnya, Kamijou tidak mengerti apa yang dimaksud Aleister.
Tapi setelah berpikir sejenak, dia mulai menebak dan mengandalkan pengetahuan yang dimilikinya.
“Karena kedua pakar itu telah—”
“Apa yang terjadi dengan Anna Kingsford?”
Aleister diam-diam mengangkat kepalanya.
Ada kemarahan dan kebencian yang terlihat jelas.
Kamijou belum pernah melihat Aleister Crowley seperti ini sebelumnya.
Jdeeer!!!
Kilatan putih meledak.
Petir buatan dari si orang nomor 1 Academy City telah menyambar.
Tapi, kilatan putihnya bukan dari situ. Tanpa mengayunkan lengannya pun, Aleister telah menyebarkan cahaya putih untuk menangkis serangan dari langit.
Dan tidak berhenti di situ.
Bahaya di dunia ini baru saja meningkat satu tingkat.
“Kupikir kau bisa melakukannya. Aku sudah menyerah, tapi kupikir kau bisa menciptakan keajaiban.”
“Tapi,” lanjutnya.
Manusia itu tidak merayakan.
Justru sebuah kata penolakan yang terucap.
“Oh, ya. Aku tahu. Aku tahu betul. Bahkan jika deduksiku benar dan jiwamu yang tak berwujud itu dipaksa pulih dengan neraka buatan, maka itu hanya bisa menyelamatkan satu orang saja. Jelas CRC tidak bisa dibiarkan bangkit kembali dan aku ragu Kingsford akan menyingkirkan seorang amatir sepertimu untuk merebut kembali hidupnya. Ya, itu adalah jalan alami yang harus ditempuh.”
Suaranya yang tidak stabil menunjukkan kebalikan dari penerimaan.
Begitulah cara dunia bekerja.
Apa boleh buat.
Sudah berkali-kali, manusia itu sudah melihat banyak nyawa melayang tanpa ampun karena alasan-alasan seperti itu. Jauh lebih banyak daripada Kamijou Touma.
“Tapi kau.”
Kamijou telah mengkhianati sesuatu.
Meskipun itu tidak disengaja.
Kamijou tahu dia berdiri di sini karena dia telah merenggut seseorang yang berharga bagi orang lain.
Meskipun Anna Kingsford sendiri menerimanya dengan senyuman.
Tapi.
“Kupikir Kamijou Touma akan menemukan cara untuk menyelamatkan lebih dari satu orang dalam situasi di mana hanya satu orang yang bisa diselamatkan. Aku percaya padamu…”
Anna Kingsford.
Kamijou Touma yang sudah meninggal bukanlah satu-satunya orang yang bergantung pada pakar baik hati itu.
Kamijou tidak tahu apa hubungan antara Aleister dan Kingsford.
Tapi Kingsford mampu membuat Aleister, si pembenci manusia, membuka hatinya dengan bimbang.
Apa pun alasannya, itu bukanlah sesuatu yang orang lain harus ganggu dan hancurkan.
“Kenapa hanya kau?”
Aleister meneteskan air mata darah.
Aleister mungkin membuka matanya dengan kekuatan sedemikian rupa sehingga dia secara fisik merobek sudut matanya.
“Kenapa kau menuruti perintahnya dan menaiki sekoci penyelamat? Kau sama saja menyiramkan air dingin pada orang yang memberimu tempat duduk. Kenapa kau tidak mempertanyakan kata-katanya meskipun kau bisa melihat raut kematian di wajahnya?”
Darah merah menetes ke wajahnya.
Dan Manusia Aleister meraung dengan suara yang bahkan lebih menyeramkan lagi.
“Kenapa kau meninggalkannya dan menurutinya begitu saja demi membangkitkan dirimu sendiriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii?!!”
“Hi hi.”
Tawa itu datangnya dari dalam dada Aliester.
Tidak, salah.
Bukankah Aleister sudah menjelaskan bahwa dia hanya meminjam tubuh itu?
Aleister Crowley sendiri sudah lama mati. Manusia itu berhasil terus beraktivitas meskipun dia telah membajak tubuh fisik Iblis Agung Coronzon.
Jadi, lebih tepat jika dikatakan bahwa semua sel tubuhnya berbisik.
“Hi hi… hi.”
Bagaimanapun juga, sesuatu yang tersegel di kedalaman terdalam telah bangkit kembali.
Segelnya telah hancur.
Alasannya jelas.
Nilainya 333, maknanya adalah dispersi.
Makhluk itu memerintah Sephirah yang lebih tinggi dan tak kasatmata dari Sephiroth dan duduk dengan acuh tak acuh di jalur evolusi untuk secara sengaja menghalangi pertumbuhan manusia.
Mathers menganggapnya sebagai kejahatan absolut dan Crowley berhipotesis bahwa dia adalah salah satu aspek kejahatan relatif.
Dan sekarang Makhluk itu berbisik.
“Merasa putus asa, Aleister?”
Cplooook!!!
Terdengar suara seperti balon air yang meletus.
Bagian belakang jubah biarawati berwarna krem itu terbelah dan sesuatu meledak keluar. Itu adalah sayap bercakar menyeramkan yang menyerupai sayap kelelawar, tapi jauh lebih besar.
Rambut pirang yang dipotong kasar hingga sebahu itu mulai tumbuh dengan cepat. Rambutnya kusut seperti jaring laba-laba yang menempel pada sayapnya yang menjijikkan.
Cahaya rambut emas membentuk wajah raksasa.
Tentunya disertai dengan tawa.
“Ah ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha!!!”
Wanita itu merentangkan tangannya lebar-lebar dan meraung ke langit.
Ini jelas bukan lagi Aleister.
Ini sesuatu yang lain.
Atau mungkin inilah momen kebangkitan kembali dari monster yang seharusnya tinggal di dalam tubuhnya.
“Sudah kutungu-tunggu. Menunggu saat di mana batinmu melemah!! Ki hii hi hi! Tidak ada yang bisa kulakukan di dalam, tapi aku tahu kalau dunia luar dibuat untuk menyiksamu! Hi hii hi hi hi hi gi hi!!!”
Iblis Agung Coronzon.
Musuh kemanusiaan yang telah ada di sana selama ini telah mendapatkan kembali kebebasannya.
Jika kalian membelinya satu per satu, selamat datang kembali. Jika kalian membelinya sekaligus, selamat datang.
Aku Kamachi Kazuma.
Anna Kingsford mengeluarkan sihir kebangkitan! Kamijou Touma dihidupkan kembali!!
…Tapi bagaimana reaksi orang lain melihat kejadian ini? Itulah inti dari GT12. Sudah lebih dari sehari sejak seorang dokter mengonfirmasi kematiannya…
Mereka menerima gagasan tentang infeksi teknologi di kota sains seperti Academy City, tapi aku pikir cara memprosesnya akan sangat bergantung pada orangnya. Ketika dihadapkan dengan situasi yang tidak dapat dipahami, bagaimana kita akan mengkategorikannya secara mental untuk membuat diri kita merasa tenang? Apakah kita akan menggunakan trik sulap fisik, apakah kita akan berpikir bahwa kita sudah salah melihat, atau apakah kita akan menggunakan kutukan atau keajaiban supranatural? Aku pikir pertanyaan itu menggali jauh ke dalam diri orang-orang.
Kematian bukan hanya perubahan bagi orang yang telah meninggal, kematian juga mengubah orang-orang di sekitar mereka. Hal ini berlaku sampai batas tertentu bagi siapa saja, bukan hanya kasus suksesi kerajaan atau pewarisan kekayaan. Namun, Kamijou mengguncang semua itu dengan kematian dan hidup kembali tanpa masa tenang, tapi apa yang tersisa baginya sekarang setelah dia hidup kembali dan peluang apa yang muncul dengan kematiannya? Dengan begitu banyak buku dalam seri ini, aku yakin kalian semua dapat memikirkan beberapa kemungkinan. Dan dalam hal ini, mungkin akan membuat kalian berpikir tentang kekuatan di tangan kanannya.
Selain itu, hal yang paling menarik dari yang satu ini mungkin adalah pertarungan pamungkas Transenden VS Dewa Sihir dan perjuangan Stiyl yang sama sekali tidak istimewa. Para penyihir di dunia ini adalah mereka yang tidak berbakat yang masih berjuang dan terus berjuang untuk mencapai puncak, jadi dia menunjukkan karakter penyihir yang khas. Ketika mereka kekurangan sesuatu dalam diri mereka, mereka menemukan sesuatu di luar diri mereka untuk menggantikannya. Semakin besar tekad mereka, semakin banyak trik yang mereka kembangkan untuk membalikkan segalanya. Baru-baru ini, kita telah melihat pertempuran yang dilakukan oleh para Transenden elit dan para pakar, tapi aku rasa penyihir yang lebih berantakan ini juga keren. Bagaimana menurut kalian?
Dia tidak peduli apa yang terjadi pada dunia yang lebih luas.
Dia hanya ingin melihat senyum semua orang yang dia kenal dan akan mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi dunia kecil itu.
Sementara itu, si manusia itu selalu melakukan kesalahan. Tapi, aku akan senang jika sebagian dari kalian dapat bersimpati atas tangisannya.
Dia tidak terbiasa dengan kebaikan, jadi apa yang terjadi jika dia terus kehilangan beberapa orang yang menunjukkan kebaikan kepadanya? Aku rasa, kehilangan ketenangan dan membuat keputusan yang salah juga membuatnya menjadi manusia yang keren.
Aku ucapkan terima kasih kepada ilustratorku Haimura-san dan Itou Tateki-san serta editorku Miki-san, Anan-san, Nakajima-san, dan Hamamura-san. Sebuah kota kelabu yang dipenuhi kehancuran, pemakaman, dan perjuangan yang tak kunjung berakhir. Pasti sulit untuk menangkap semua itu dalam sebuah ilustrasi. Sekali lagi terima kasih.
Dan aku ucapkan terima kasih kepada para pembaca. Aku pikir orang yang paling banyak menggunakan strategi "coba-coba" kali ini adalah Ketua Dewan yang masih pemula. Aku harap kalian akan mengawasi pertumbuhannya saat dia memilih jalan penebusan dosa di penjara tapi juga mengirimkan kekuatannya ke luar jeruji setiap kali si bodoh itu mendapat masalah. Terima kasih banyak!!
Sekarang saatnya menutup halaman-halaman ini sambil berdoa agar halaman-halaman buku berikutnya dibuka.
Dan kuletakkan penaku untuk saat ini.
Siswi 14 tahun dan pakaian berkabung? Kombinasi macam apa itu?
-Kamachi Kazuma
Satu apartemen berada jauh dari semua konflik di dunia.
Situasi berbagi kamar yang sama sekali tidak diinginkan membuat Hamazura Shiage hampir tidak pernah bisa berduaan dengan pacarnya, tapi Mugino Shizuri dan Kinuhata Saiai kebetulan keluar hari ini.
Yang berarti sudah waktunya untuk merayunya sepenuh hati.
Oh, betapa senangnya dia karena tidak menonjol! Dia muak dengan misteri global dan berjuang untuk menyelamatkan nyawa orang. Dia punya pacar yang luar biasa dan dia tidak butuh yang lain. Baginya, dia menang dalam hidup!!
“Ini adalah bagian terbaik dari acara belanja, jadi diamlah, Hamazura.”
“…”
Teguran tanpa ekspresi dari gadis dengan setelan olahraga Takitsubo Rikou membungkam Hamazura Shiage. Mata gadis berambut bob hitam itu terpaku pada TV tanpa melirik ke arah pacarnya.
Apakah gadis itu tidak menyukainya lagi?
“Apa yang membuatmu begitu fokus? … Mesin diet frekuensi tinggi? Ha ha ha. Alat itu mampu menghancurkan sel-sel lemak tubuhmu dengan arus listrik? Jika arusnya cukup kuat untuk melakukan itu, aku yakin diperlukan lisensi medis untuk mengoperasikannya, jadi ini tidak lebih dari sekedar penipuan!”
Komentarnya membuatnya ditimpuk di muka dengan bantal sofa persegi.
Berulang kali. Dengan bantal yang digenggam erat di tangan si gadis.
“Mh.”
“Kalau kau memang tidak membelinya, aku rasa kau tidak perlu semarah itu padaku!!"”
“Aku tidak suka spoiler, Hamazura.”
“Tentang produk kesehatan?!”
“Jika aku membelinya dan memakainya, impianku mungkin akan hancur. Cara terbaik mengagumi produk kesehatan seperti ini adalah dengan membayangkan diri kita berhasil setelah pakai produknya.”
“…Orang-orang yang mengatakan hal itu adalah orang-orang pertama yang memesan.”
Hamazura menyalahkan udara hangat dari AC karena membuat pacarnya yang biasanya baik menjadi seperti ini.
Di luar sedang hujan, tapi balkonnya beratap dan dia ragu hujan itu akan tertiup ke dalam ruangan.
Jadi Hamazura mencoba membuka tirai.
“Maaf, permisi.”
Seseorang tiba-tiba masuk dari balkon.
Di lantai yang tinggi ini.
Bagaimana bisa?
Mata Hamazura membelalak dan berteriak, tapi waktu masih terasa membeku baginya.
“Ahhhh!!”
Penyusup itu berambut merah pendek dan berkulit putih.
Penyusup itu mengenakan gaun putih mengembang yang membuatnya tampak seperti balerina atau atlet seluncur indah. Dan sebuah kotak hitam seukuran bola sepak melayang di sampingnya.
Dia adalah Dion Fortune.
“B-ba-ba-bagaimana kau bisa sampai di sini?”
“Asal kau tahu, aku adalah Uskup Agung Gereja Anglikan. Meski hanya sementara untuk mencegah kekacauan sampai pengganti yang tepat dapat dipilih, tapi meskipun hanya untuk pamer, wewenangku sangat nyata. Yang berarti aku dapat menjalin hubungan dengan para diplomat Academy City. Yah, bagaimanapun pemakaman Kamijou Touma diadakan hari ini.”
Hamazura tidak ingin mendengarnya.
Bisakah wanita ini berhenti bicara?
Setiap rahasia yang masuk ke telinganya membuatnya merasa seperti tenggelam semakin dalam ke dalam pasir hisap. Tapi pertanyaannya adalah masalah macam apa yang sedang menyeretnya!
“Aku tidak pernah menyangka Aleister, manusia paling mengerikan, mampu menekan Iblis Agung Coronzon dalam waktu lama.”
“Coronzon?”
Alisnya berkedut.
Sebagian besar hal yang berhubungan dengan sisi sihir bukanlah urusan Hamazura Shiage, tapi ada beberapa individu di sana yang punya hubungan dengannya.
Ini salah satunya.
Hamazura pernah bekerja dengannya di Inggris tapi akhirnya gagal menyelamatkannya. Entah apa yang akan terjadi pada Takitsubo Rikou, Dion Fortune, atau dirinya sendiri jika bukan karena dia.
Mungkin dia jahat.
Tapi Hamazura tetap tidak boleh menyerah begitu saja.
“Satuan besar Anglikan mendekati bagian luar tembok dengan bantuan dari Amakusa yang tahu banyak tentang negara kepulauan Timur ini, tapi siapa yang tahu seberapa besar bantuan yang akan mereka berikan. Jika Coronzon, sang dispersi 333, bersikap serius, aku rasa itu tidak akan menghasilkan apa-apa selain mengakibatkan banyak korban jiwa. Setidaknya itu yang akan terjadi jika mereka menggunakan metode biasa.”
Tunggu.
Tunggu sebentar.
“Itulah sebabnya aku butuh bantuanmu, Hamazura. Ini urusanmu dan juga urusanku. Aku ragu suara Kamijou Touma akan sampai ke Coronzon. Jadi. Bantuan kita dibutuhkan untuk mewujudkan keajaiban buatan manusia.”
Potongan-potongan puzzle tersebut berhasil disatukan.
Hamazura Shiage.
Dialah kemungkinan lain yang dapat menemukan keberhasilan di mana Kamijou Touma dan Accelerator tidak dapat menemukannya.
Hamazura punya firasat buruk tentang ini.
“Um.”
“Kenapa?”
Takitsubo diam-diam menyikutnya dari samping, tapi tidak ada gunanya.
Hamazura tahu mengajukan pertanyaan sama saja dengan mengakui kekalahan, tapi dia sangat takut untuk tidak bertanya.
Si bodoh itu takluk pada rasa takut yang membuncah dalam dirinya.
Hamazura Shiage membuka mulutnya sambil meneteskan keringat.
“M-menurutmu, apa yang harus kita lakukan?”
“Kita reuni☆”